Anda di halaman 1dari 25

STUDI KASUS TENTANG PERENCANAAN KARIR YANG RENDAH

PADA SISWA DAN PENANGANANNYA DI SMK ISLAM ANNUR


LOSARI

Oleh :
Nur Indah Yusuf
104404061

JURUSAN PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA (UNU) CIREBON
2016/2017

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang telah
memberikan karunia dan lindungan-Nya disertai keteguhan dan kesabaran hati,begitu besar
rasa syukur yang dirasakan, karena berkat Ridho-Nyalah sehingga akhirnya laporan studi
kasus ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Konseling Kelompok.
Laporan ini berisi hasil studi kasus yang dilakukan selama beberapa waktu di salah
satu SMK yang ada di Losari.
Dalam penulisan ini, penyusun menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dari semua
pihak tidak mungkin dapat diselesaikan. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang tak
terhingga penyusun sampaikan terutama kepada Segenap pihak dari SMK Islam Annur Losari
yang telah banyak membantu kelancaran studi kasus ini, juga kepada Dosen pembimbing
dalam mata kuliah Studi Kasus atas bimbingannya, beserta rekan-rekan sejawat yang telah
banyak berpartisipasi.
Dengan rasa rendah hati, Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari segi penyajian, penulisan, dan penggunaan tata bahasa. Oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perbaikkan dimasa
yang akan datang. Walaupun demikian penyusun mengharapkan laporan studi kasus ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Cirebon, 13 Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar.....i
Daftar Isiii

BAB I. PENDAHULUAN.1
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang..1
Tujuan1
Lokasi dan Waktu.2
Metode2

BAB II. PEMBAHASAN......3


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Identifikasi.....3
Diagnosis........9
Prognosis...........11
Treatment..12
Evaluasi..13
Tindak Lanjut...14

BAB III. PENUTUP........................................15


A. Kesimpulan15
B. Saran.............15
DAFTAR PUSTAKA....16
LAMPIRAN...17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap siswa yang ada tentunya mempunyai masalah dan akan sangat beragam.
Permasalahan yang ada dalam lingkungan siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau
karier. Oleh karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami
hambatan maka sebagai konselor yang berkompeten, sudah turut ambil andil di dalamnya
dalam penanganannya.
Konselor sekolah mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan dan membantu
siswa agar dapat mengembangkan potensinya secara utuh. Adapun salah satu cara yang dapat
di ambil untuk dapat membantu klien yang mengalami masalah adalah dengan menggunakan
studi kasus.
Studi kasus adalah suatu cara memperoleh data selengkap-lengkapnya tentang
individu. Data tersebut diolah dan dianalisis, kemudian hasilnya akan dapat digunakan untuk
menduga permasalahan dari individu, sehingga dapat di berikan layanan bimbingan
dan/konseling setepat mungkin. Melalui studi kasus ini seorang konselor akan dapat
memahami siswanya secara mendalam. Konselor akan mampu memperoleh informasi tentang
sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan langkah-langkah penanganan
terhadap masalah yang dialami siswa tersebut.
Berdasarkan dari pemaparan yang ada di atas maka dari itu dilakukan studi kasus
secara nyata di SMK Islam Annur Losari untuk mendalami suatu permasalahan dari siswa.
B. Tujuan
Tujuan yang yang ingin dicapai dari kegiatan studi kasus ini adalah:
1. Untuk Memperoleh gambaran tentang pelaksanaan studi kasus pada siswa yang di
lakukan di SMK Islam Annur Losari.
2. Untuk Memenuhi tugas mata kuliah Konseling Kelompok.

C. Lokasi dan waktu


Adapun lokasi dan waktu pelaksanaan praktek lapangan sebagai berikut :
1. Lokasi / Setting

Kegiatan ini berlangsung di SMK Islam Annur Losari, yang beralamat di Jl. KH.Wahid
Hasyim No.06 Karangjunti, Kec. Losari Kab. Brebes 52255 Jawa Tengah.
2. Waktu
Pelaksanaan studi ini dilaksanakan selama 1 bulan berturut-turut terhitung bulan
November 2016. Kegiatan dan waktu berkunjung di tentukan dari kesepakatan bersama
teman dan guru pamong berlatar BK.

D. Metode Pengumpulan Data


Dalam kegiatan studi kasus ini pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan metode pengumpulan data yakni melalui wawancara, angket, observasi,
dan problem check list dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu metode untuk mendapatkan data tentang anak atau
individu lain dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan (face
to face relation). Wawancara dalam studi kasus ini selain di lakukan dengan siswa
bersangkutan / konseli juga di lakukan dengan guru Bk .
2. Angket
Angket merupakan suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus
dijawab atau dikerjakan oleh orang yang ingin di selidiki, yang juga disebut
responden. Dalam hal ini di isi oleh konseli. Angket dalam hal ini berupa angket
kebiasaan belajar.
3. Daftar cek masalah
Daftar cek masalah adalah suatu jenis tes instrumentasi yang berupa statement tentang
masalah yang umumnya di alami oleh individu.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Identifikasi
Identifikasi kasus

Identifikasi kasus adalah menyangkut siapa individu atau sejumlah individu yang
dapat ditandai atau diduga bermasalah atau memerlukan layanan bantuan. Berikut
adalah siswa yang dijadikan siswa kasus / konseli.

Data berdasarkan biodata siswa


Keterangan Pribadi
1. Nama Lengkap

: SF ( Inisial)

2. Kelas

: XI Akuntansi A

3. Sekolah

: SMK Islam Annur Losari

4. Jenis Kelamin

: Perempuan

5. Tempat tanggal lahir

: Brebes, 13 April 2000

6. Agama

: Islam

7. Cita-Cita

: -

8. Hoby

: Bermain

9. Alamat Rumah

: Jl. Monumen Emmy Saelan III Losari

10. Suku

: Sunda

11. Kewarganegaraan

: Indonesia

12. Bahasa sehari hari

: Indonesia

Keadaan Jasmani
1.
2.
3.
4.
5.

Tinggi badan
Berat badan
Warna kulit
Warna rambut
Bentuk muka

:
:
:
:
:

145 cm
40 kg
Sawo matang kecoklatan
Hitam
Bulat

Keterangan Pendidikan
1. Taman Kanak-Kanak
Umur

- Tahun

Lama Belajar

- Tahun

Umur

7 Tahun

Lama Belajar

6 Tahun

2. Sekolah Dasar

Keterangan Keluarga
1. Ayah Kandung / Tiri / Angkat
Nama

: Rahman

Agama

: Islam

Umur

: -

Pendidikan Terakhir

: SD

Pekerjaan

: Buruh harian

Alamat

: Jl. Monumen Emmy Saelan III

Suku/ Kewarganegaraan

: Sunda / Indonesia

2. Ibu Kandung / Tiri / Angkat


Nama

: Ramlah

Agama

: Islam

Umur

: -

Pendidikan Terakhir

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Jl. Monumen Emmy Saelan III

Suku/Kewarganegaraan

: Sunda / Indonesia

3. Saudara
Anak ke

: 4

Jumlah Saudara

: 7

Laki-Laki

: 4 Kandung /

Tiri /

Angkat

Perempuan

: 3 Kandung /

Tiri /

Angkat

Keterangan Tempat Tinggal


1. Tinggal Dengan

: Orang tua.

2. Ke sekolah Dengan

: Jalan kaki atau kendaraan umum.

3. Jarak Rumah Dengan Sekolah : 1 km.


Keterangan Kesehatan
1. Penyakit Yang Pernah Diderita : Asma
Fasilitas Belajar dan Pendukung
1. Kelengkapan belajar
Buku paket

: Lengkap / Tidak lengkap

Buku catatan

: Lengkap / Tidak lengkap

Ruang belajar

: Punya / Tidak punya

2. Bimbingan
Dari ayah

: Selalu / Jarang / Tidak pernah

Dari ibu

: Selalu / Jarang / Tidak pernah

Dari saudara

: Selalu / Jarang / Tidak pernah

3. Waktu belajar
Waktu belajar siswa

: Teratur / Tidak teratur

Keterangan Lainnya
1. Penampilan

Ekspresi Wajah

: Datar dan

Kerapian

: Cukup dan perlu ditingkatkan.

Suara

: Pelan

2. Tipe Pergaulan

: Kelompok

3. Kegiatan Di Luar Sekolah

: -

Data berdasarkan angket kebiasaan belajar


Angket kebiasaan belajar merupakan sejumlah item atau pertanyaan yang yang
harus dijawab oleh siswa yang dapat memberikan keterangan tentang kebiasaan
dan sikap belajar. Berdasarkan angket kebiasaan belajar diperoleh hasil yakni :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1

5 5 5 3 3 1 3 1 1 1

No
.

Skor total angket kebiasaan belajar adalah 46


Analisis skor angket :
Setiap responden memiliki skor total yang diperoleh dengan menjumlahkan skor
setiap item soal.skor maksimal yaitu 19x2=38, sedangkan skor minimal 20x1.

setelah diperoleh skor dari responden, skor diubah kedalam lima kategori dengan
klasifikasi sebagai berikut:
1.

64-80

Sangat tinggi

2.

42-63

Tinggi

3.

32-41

Cukup tinggi

4.

16-31

Rendah

5.

0-5

Sangat rendah

Berdasarkan tabel diatas, nampak bahwa kebiasaan belajar berada pada kategori
42-63 yakni tinggi.

Data berdasarkan daftar cek masalah.


Dari daftar cek masalah, didapatkan data siswa sebagai berikut :
Kesehatan
1) Merasa terlalu kurus
2) Selalu kurang nafsu makan
3) Kurang makan sehingga sering merasa lapar
4) Sering merasa mengantuk
Keadaan penghidupan
1) Kekurangan buku karena tak mampu membeli
2) Banyak adik yang masih jadi tanggungan orang tua
3) Tidak tahu bagaimana menambah biaya Sekolah
4) Selalu jalan kaki ke sekolah meskipun jaraknya jauh
5) Tinggal dengan saudara yang penghasilannya pas-pasan
Rekreasi dan hobby / kegemaran
1) Keinginan untuk berekreasi selalu terhalang
2) Suka berolahraga tetapi tidak ada kesempatan
3) Kedatangan teman-teman sangat menggangu waktu belajar
Masa depan dan cita-cita
1) 1) Tidak tahu apa yang dilakukan setelah tamat sekolah

2) Ingin melanjutkan sekolah sambil bekerja


3) Ingin mengetahui bakat dan kemampuan sendiri
4) Cita-cita tidak sesuai dengan kemampuan
5) Cita-cita masih belum jelas
Analisis hasil dari daftar cek masalah dengan menggunakan rumus:
NM
X 100 %
N
Dimana :

NM : Jumlah butir yang dicek oleh siswa pada satu topik permasalahan
N : Jumlah item dari aspek masalah

Kemudian ditranformasikan kedalam predikat nila A,B,C,D, dan E sebagai berikut :


0%

: A (sangat baik)

1%-20%

: B (Baik)

21%-25%

: C (Cukup)

26%-50%

: D (Kurang)

51%-100%

: E (Kurang sekali)

Adapun hasil yang diperoleh dari item yang dicek pada setiap aspek masalah dari
problem cheklist yakni :
1.

Aspek Kesehatan
Persentase yang diperoleh adalah
4
X 100 %

= 20 %

20
Jadi predikat nilai yang diperoleh adalah B (Baik)

2.

Aspek Keadaan Penghidupan


Persentase yang diperoleh adalah
5
X 100 %

= 25 %

20
Jadi predikat nilai yang diperoleh adalah C (Cukup)
3.

Aspek Rekreasi dan Hoby


Persentase yang diperoleh adalah
5
X 100 %

= 29,4 %

17
Jadi predikat nilai yang diperoleh adalah D (Kurang)
4.

Aspek masa depan dan cita-cita


Persentase yang diperoleh adalah
5
X 100 %

= 50 %

10
Jadi predikat nilai yang diperoleh adalah D (Kurang)
Dari analisis daftar cek masalah di atas diperoleh bahwa aspek masa depan dan
cita-cita memiliki persentase yang tinggi di banding dengan aspek yang lainnya,
yakni sebesar 50 %. Dan jika di masukkan ke dalam predikat nilai maka aspek
masa depan dan cita-cita menempati nilai D yakni dengan kategori kurang . Jadi
siswa perlu mendapatkan perhatian yang lebih terhadap aspek ini.

Data berdasarkan

wawancara

Dari hasil wawancara dengan siswa / konseli di dapatkan informasi tentang


gambaran studi dan kehidupan keluarganya. Dari aspek studinya di ketahui bahwa
ia memiliki waktu belajar yang tidak teratur, sulit konsentrasi saat belajar, dan
tidak begitu percaya diri untuk memiliki sebuah cita-cita. Dari kehidupan
keluarganya, si konseli berasal dari keluarga yang kurang dengan dan banyak
anggota keluarga sehingga menurutnya ia senantiasa merasa ada kesulitan dalam

memenuhi kebutuhan sekolahnya, dan juga ia jarang berkomunikasi dengan


orangtua. Adapun berdasarkan wawancara dengan guru Bk di katakan bahwa anak
ini memiliki kecenderungan untuk malas ke sekolah.
Identifikasi masalah
Dari berbagai informasi yang telah diperoleh melalui pengumpulan data seperti,
angket kebiasaan siswa, daftar cek masalah, dan wawancara, maka gambaran umum
permasalahan yang diperoleh menyangkut pada bidang pendidikan (educational
problems)

dan

perencanaan

karir

jabatan

(vocational

problems).

Adapun

karakteristiknya di jabarkan sebagai berikut :


Ketidakpercayaan diri dalam menyusun cita-cita.
Malas/ membolos.
Kesulitan dalam belajar karena kurangnya fasilitas pelengkap belajar, dan waktu

belajar yang kurang teratur.


Keseringan/ banyak bermain.
Kehidupan keluarga yang kurang komunikasi dengan ekonomi rendah.

B. Diagnosis
Diagnosa merupakan kegiatan yang diambil untuk menetapkan faktor-faktor
penyebabnya berdasarkan hasil identifikasi masalah. Oleh karena itu, berikut akan dijabarkan
mengenai hasil dari diagnosa yang diperoleh yakni Perencanaan karir yang rendah dalam hal
ini dalam menentukan cita-cita.
Masa remaja adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan pada masa-masa
selanjutnya, karena masa remaja menjadi dasar berhasil atau tidaknya seseorang menjalani
kenyataan hidup pada masa selanjutnya. Pada masa ini remaja akan berusaha menemukan jati
diri, mencapai kemandirian emosional, kematangan hubungan social, dan mempersiapkan diri
meniti karir.
Pada masa-masa tertentu dalam kehidupannya, individu dihadapkan pada tugastugas perkembangan karir tertentu yang salah satunya yaitu perencanaan garis besar masa
depan antara 14-18 tahun, yang terutama bersifat kognitif dengan meninjau diri sendiri dan
situasi hidupnya (W.S. Winkel dan Sri Hastuti).
Perencanaan karir merupakan suatu perencanaan tentang kemungkinan-kemungkinan
seseorang meniti proses karir sesuai persyaratan dan kemampuannya. Perencanaan karir
adalah salah satu usaha yang menjadi rencana seluruh kehidupan.

Merencanakan karir adalah kegiatan membuat rencana masa depan, dimana


setelah memutuskan pilihan pekerjaan atau karir perlu melaksanakan suatu rencana yang
diprogramkan agar tercapai cita-cita karir yang diinginkan. Perencanaan karir adalah
pemikiran yang matang tentang tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh jangka waktu
pendek dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu panjang (W.S.
Winkel dan Sri Hastuti).
Bagi seorang siswa karir bukanlah hal yang mudah untuk ditentukan, namun hal itu
merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting di masa remaja untuk
mempersiapkan diri dalam karir. Kesulitan bagi siswa dalam memilih dan menentukan karir
tidak dapat dipungkiri, banyak siswa yang kurang memahami bahwa karir merupakan jalan
hidup dalam usaha menggapai kehidupan karir di masa mendatang.
Permasalahan karir yang terjadi diantaranya beban memiliki pemahaman yang mantap
tentang kelanjutan pendidikan setelah lulus, program studi yang dimasuki bukan pilihan
sendiri, belum memahami jenis pekerjaan yang cocok dengan kemampuan sendiri, masih
bingung untuk memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan, dan
merasa pesimis bahwa setelah lulus akan mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.
Berdasarkan teori perkembangan karir dari Donal E. Super, maka permasalahan karir
berakar pada masa orientasi karir. Oleh karenanya penting untuk memberi pengetahuan
orientasi karir pada remaja, utamanya pada siswa mengah atas (SMA)

karena dapat

memberikan kontribusi besar dalam perjalanan pendidikan dan pekerjaan nantinya.


Perencanaan karir yang rendah pada diri siswa dalam kasus ini terjadi di duga karena
siswa kurang memiliki kepercayaan diri dalam memupuk cita-citanya. Siswa juga merasa
kebingungan ketika ditanya masalah cita-cita dan akan ke mana setelah lulus. Mengingat
sebentar lagi siswa naik ke kelas tiga, seharusnya hal seperti ini tidak pelu terjadi.
Berdasarkan data yang ada hal ini muncul kurang lebih banyak di dasari oleh keadaan
kehidupan keluarga yang kurang mendukung. Komunikasi yang kurang efektif pun menjadi
permasalahan penting. Orang tua jarang memperhatikan atau mengawasi keadaan akademik
anaknya dan jarang memberi bimbingan dalam masalah studi sang anak. Selain itu keadaan
penghidupan yang disebabkan terhimpit ekonomi lemah membuat sang anak memberikan
kontribusi yang masuk akal untuk tidak terlalu mematok cita-cita ke depannya. Selain dari
keadaan keluarga. Hal ini terlihat dari masalah kesulitan belajar yang di alami siswa, seperti

kurangnya sarana pembelajaran yang di miliki dan motivasinya yang rendah dalam belajar
(sering kurang konsentrasi) serta malas ke sekolah berdasarkan sumber dari guru BK.
hakikat dari pola karir seseorang di tentukan oleh tingkat sosial ekonomi
orangtuanya, kemampuan mental, ciri-ciri kepribadian, dan oleh kesempatan-kesempatan
yang terbuka bagi dirinya (Teori jabatan Donal E. Super)
Jadi disimpulkan bahwa masalah yang di alami siswa / konseli di sebabkan faktor
antara lain yaitu :
1. Kepercayaan diri yang kurang pada klien dalam menyusun cita-cita.
2. Keadaan keluarga dan kurangnya perhatian orangtua pada akademik anak.
3. Kesulitan mengakses pembelajaran.
C. Prognosis
Prognosis merupakan estimasi alternatif pemecahan masalah yang mungkin di
lakukan berdasarkan hasil diagnosis.
Dari hasil diagnosis diatas, maka rencana bantuan/ treatmen yang dapat diberikan
kepada siswa / konseli dalam usaha untuk memecahkan masalahnya yaitu :
1. Pemberian bantuan konseling gestalt dengan teknik kursi kosong
2. Bimbingan karir.
Pengambilan bentuk treatmen di dasari pada beberapa landasan yang berkaitan
dengan permasalahan siswa / konseli. Pertama pemberian bantuan konseling gestalt dengan
teknik kursi kosong di dasari karena adanya unsur ketidakpercayaan diri yang di temukan
pada diri konseli yang menyebabkan ia bingung akan karir ke depannya. Konsep dari
pendekatan gestal dengan teknik kursi kosong sendiri adalah untuk membantu konseli dalam
memecahkan masalah-masalah interpersonal yang ada dalam dirinya, seperti rasa kurang
percaya diri tadi, sehingga konseli bisa memiliki kesadaran secara utuh akan dirinya, dan ia
akan mencari dan menemukan apa yang di perlukan untuk dirinya. Konseli akan menjadi
sadar akan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukan itu, dan bagaimana
mereka mengubah diri dan pada waktu yang sama untuk belajar menerima dan menghargai
diri mereka sendiri. Di harapkan mereka akan menyadari bahwa karir penting untuk
kehidupan mereka lebih baik ke depannya.
Kedua adalah pemberian bimbingan dan konseling karir. Bimbingan karir di lakukan
dalam bentuk pemberian layanan informasi tentang karir. Dengan pemberian layanan
informasi karir ini diharapkan akan mampu membantu siswa / konseli untuk memahami

dirinya dalam kaitannya dengan dunia kerja, pendidikan, sosial, dan masalah-masalah
kemasyarakatan lainnya.

D. Treatment
Treatment atau lazimnya disebut perlakuan merupakan tindakan menetapkan dan
melakukan cara yang tepat dalam mengatasi kesulitan atau masalah kasus dengan program
yang teratur dan sistematis.
Adapun treatment bantuan yang dapat di berikan kepada konseli yaitu :
1. Pemberian bantuan konseling gestalt dengan teknik kursi kosong, di gunakan untuk
membantu konseli dalam memecahkan masalah-masalah interpersonal yang ada
dalam dirinya.
Tahapan pemberian bantuan konseling gestalt dengan kursi kosong di laksanakan
sebagai berikut :
a. Praktikan memberitahukan bagaimana aturan main dari permainan peran ini.
b. Siswa diminta agar ia bisa menghadapkan suatu situasi, dimana, kapan ia harus
berperan sebagai top dog dan kapan ia harus memainkan peran sebagai under dog.
c. Saat ia bermain peran dalam teknik kursi kosong, siswa diminta agar benar-benar
memainkan perannya sesuai dengan kondisi sebenarnya (serius). Contoh saat ia
senang ia harus dapat mengungkapkan kegembiraannya tersebut begitu sebaliknya
saat ia sedang sedih ia harus dapat mengungkapkan perasaannya tersebut. Dalam
hal ini siswa perlu secara sungguh-sungguh memperlihatkan bagaimana keadaan
optimis dan pesimisnya akan masalah cita-citanya.
d. Setelah permainan peran berakhir siswa diminta untuk mendignosis akan
perasaan-perasaan yang dialaminya.
e. Mengevaluasi seberapa evektif akan keberhasilan dalam pengungkapan perasaan
siswa.
2. Bimbingan karir
Layanan informasi ini diberikan untukm membekali siswa dengan berbagai
pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna bagi individu siswa
sebagai penunjang karirnya ke depannya. Dalam bimbingan ini diberikan Informasi
tentang macam-macam karir yang ada di sekitar kita dan jenjang pendidikan yang
sesuai dengan karir tersebut. Layanan informasi yang diberikan pratikan berkaitan
dengan permasalahan yang dialami oleh klien yaitu pada masalah perencanaan karir

yang masih rendah. Untuk pelaksanaan layanan informasi, praktikan memberikan


layanan informasi secara individual. Adapun tujuan dari pemberian informasi ini
melihat dari permasalahan klien yang mengalami permasalahan karir yang rendah.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu cara yang ditempuh untuk melihat seberapa jauh efek atau
pengaruh yang diberikan bagi pemecahan masalah yang ada. Segi keberhasilan dan tidaknya
perlakuan yang telah diberikan dijabarkan sebagai berikut :
1. Dari sisi keberhasilan
a. Siswa bersangkutan mengetahui informasi tentang karir yang ada.
b. Siswa menyadari akan masalahnya.
2. Dari sisi ketidakberhasilan
a. Siswa masih belum menampakkan rasa percaya diri yang diharapkan.
b. Siswa kurang mau berpartisipasi dalam konseling yang dilakukan, akibatnya
proses konseling agak terhambat karena siswa begitu tak mau membuka diri.
F. Tindak Lanjut
Tindak lanjut (Follow Up) merupakan upaya yang dilakukan konselor untuk
mengikuti perkembangan klien selanjutnya. Tindak lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan dan kemajuan yang dialami klien atas bantuan yang telah diberikan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan ini antara lain :
1. Memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu giat belajar dan percaya sepenuhnya
pada kemampuan yang dimilikinya, sehingga ia mampu menata cita-citanya dengan
penuh percaya diri sesuai potensinya.
2. Menyarankan kepada guru pamong BK agar senantiasa memberikan perhatian kepada
siswanya, khususnya dalam belajar serta memberikan motivasi kepada siswa dalam
pembelajarannya.. Selain itu, orang tua juga perlu di beritahukan agar mendukung
keinginan siswa yang berhubungan dengan cita-citanya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil studi kasus yang dilaksanakan di SMK Islam Annur Losari
maka di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Studi kasus adalah suatu cara memperoleh data selengkap-lengkapnya tentang
individu, terdiri dari identifikasi, diagnosis, prognosis, treatmen, evaluasi, dan tindak
lanjut (follow up).
2. Masalah perencanaan karir yang rendah dari siswa di tengarai di sebabkan oleh
beberapa hal yakni : (1) Kepercayaan diri yang kurang pada klien dalam menyusun
cita-cita, (2) Keadaan keluarga dan kurangnya perhatian orangtua pada akademik
anak, dan (3) Kesulitan mengakses pembelajaran

3. Bantuan yang diberikan kepada siswa yang bertujuan membantu menyelesaikan


masalahnya yakni : (1) Pemberian bantuan konseling gestalt dengan teknik kursi
kosong, dan (2) Bimbingan karir.
B. Saran
Adapun berdasarkan dari studi kasus yang telah di lakukan, terdapat beberapa saran
antara lain :
1. Bagi konselor, sebaiknya lebih dalam memperhatikan perkembangan yang sedang
terjadi pada siswa. Jika memungkinkan di lakukan penindaklanjutan atas masalah
yang di alami siswa dalam kasus ini.
2. Bagi Orang tua siswa / konseli, hendaknya meningkatkan hubungan komunikasi
yang efektif dengan siswa sehingga siswa/konseli ini dapat berkembang secara
optimal.Orang tua juga

hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan siswa /

konseli terutama kebutuhan psikis dan fisiknya, sehingga didapat pemahaman


tentang siswa untuk mencegah permasalahan yang dialami siswa semakin
melebar.
3. Bagi siswa / konseli, Klien hendaknya lebih bisa kooperatif dengan praktikan,
konselor ataupun orang-orang yang dapat membantu pemecahan masalah klien
sehingga memudahkan proses penyelesaian masalah.
DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika
Aditama.
Daruma, A. Razak Dkk. 2002. Studi Kasus. Makassar : FIP Universitas Negeri Makassar.
Sukardi, Dewa ketut. 1984. Bimbingan Karir di Sekolah-sekolah. Jakarta : PT. Ghalia
Indonesia.
Teknik Kursi kosong. http://diocheetdya.blogspot.com/2010/04/teknik-kursi-kosong.html. Di
akses tanggal 8 Mei 2013.

L
A
M
P
I
R
A

VERBATIM WAWANCARA

Pertanyaan
Bagaimana sekolahnya hari ini ?

Jawaban
Maksud
Menyenangkan ji kak. Tak ada yang
( senyum-senyum)
mengganggu
Menurut kamu apakah sekolah Iya kak.
Baik-baik saja.
disini menyenangkan ?
Apakah semua teman-teman di Iya kak, semua baik Dia pikir semua
sini baik pada kamu ?
dan enak ditemani. temannya tak ada
(sambil mengangguk yang jahat dan
kecil)
berbuat
nakal
padanya.
Saya tadi bicara pada guru BK, Jarang ji kak..
Tidak sering
katanya adik malas ke sekolah
yaa..?
Kenapa biasa malas ke sekolah ? biasa kah sakit ki biasa Malas karena alas
atau biasa karena hujan an hujan atau
juga. ( sambil berbicara sedang sakit.
pela-pelan )
Di kelas pelajaran apa kita Ku sukai semua ji kak, Konseli menyukai

Coding
W.1.1
W.2.1

W.2.3

W.2.4

W.2.5
W.2.6

senangi atau kurang senangi ?

Cuma kalau kayak


matematika dan bahasa
inggris, tidak terlalu
kah susah di mengerti.

Kalau di rumah teratur ji kah Tidak kak. Kadangbelajarnya ?


kadang.
Berapa bersaudara ki kah ?
7 orang kak. saya anak
keempat.
Kerja semua atau sekolah ?

yang tua kerja, yang


dua tidak sekolah, yang
lain masih kecil.

Bagaimana orang tua ta sering Jarang kak. Bapak


ji na perhatikan atau kasi ki jarang, ibu juga sama
bimbingan ?
ji.

pelajarannya
di
kelas, terkecuali
matematika dan
bahasa
inggris
karena sulit di
pahami.
Belajar
tidak
teratur.
Konseli
anak
keempat dari 7
orang bersaudara.
Kakak
tertua
sudah
kerja,
kedua dan ketiga
putus sekolah, dan
lainnya
masih
kecil
Orangtua jarang
memberi
bimbingan/arahan
.

W.2.7
W.2.8

W.2.9

W.2.10

SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Topik permasalahan : Ragam karir


2. Bidang bimbingan

Karir

3. Jenis layanan :

Layanan informasi

4. Fungsi layanan

Fungsi pemahaman

5. Kompetensi dasar

Memiliki kesadaran dan

dorongan untuk mempersiapkan karir yang cocok bagi


dirinya dan mampu mengenal berbagai jenis karir.
6. Indikator

Melaksanakan

persiapan

karir

yang cocok bagi dirinya dan mampu mengklarifikasi


jenis karir.
7. Strategi

8. Deskripsi materi

Penyajian informasi tentang karir


:

Memotivasi dan semangat

untuk mempersiapkan arah karir yang cocok.

9. Sasaran layanan /semester

SF,

siswa

10. Tempat penyelenggaraan

Ruang kelas

11. Waktu penyelenggaraan

November 2016

12. Penyelenggara layanan

Praktikan

XI

Akuntansi A

selaku

mahasiswa UNU
13. Pihak-pihak yang dilibatkan :

14. Alat perlengkapan


yang digunakan

: Selebaran, pulpen, dan materi yang relevan.


15. Rencana penilaian

Penilaian jangka pendek

dan jangka panjang


16. Keterkaitan layanan ini
Dengan layanan /kegiatan lain : Layanan informasi
17. Catatan khusus

SKENARIO

1. Kegiatan Pembuka
a. Praktikan membuka kegiatan dengan sambutan.
b. Praktikan memberi penjelasan mengenai kegiatan dan tujuan yang ingin kita capai
dari pelaksanaannya.
2. Kegiatan Inti
a. Praktikan menjelaskan uraian tentang karir dan ragamnya.
b. Praktikan meminta umpan balik dari siswa atas apa yang di sampaikan.
c. Siswa di beri kesempatan untuk bertanya.
3. Kegiatan Penutup
a. Praktikan memberi kesimpulan atas hasil yang di peroleh.

SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

1.
2.
3.
4.
5.

Topik permasalahan
Bidang bimbingan
Jenis layanan
Fungsi layanan
Kompetensi dasar

: Tata karma dalam hubungan keluarga


: Sosial
: Layanan informasi
: Fungsi pemahaman dan pencegahan
: Agar siswa dapat memahami bagaimana tata karma
dalam bergaul baik dengan keluarganya sehingga terjalin

6. Indikator

yang harmonis.
: Memahami cara menjalin hubungan yang harmonis dan

selaras antar keluarga.


7. Strategi

: Penyajian informasi mengembangkan hubungan yang

baik dalam keluarga.


8. Deskripsi materi

: Memotivasi dan semangat untuk mengembangkan sikap

yang baik dalam mejalin hubungan baik.


9. Sasaran layanan /semester : SF
10. Tempat penyelenggaraan : Ruang BK.
11. Waktu penyelenggaraan : November 2016
12. Penyelenggara layanan
: Praktikan selaku mahasiswa UNU

13. Pihak-pihak yang dilibatkan :


14. Alat perlengkapan
15. yang digunakan
: Selebaran, pulpen, dan materi yang relevan.
16. Rencana penilaian
: Penilaian jangka pendek dan jangka panjang
17. Keterkaitan layanan ini
Dengan layanan /kegiatan lain :
Layanan informasi
18. Catatan khusus
:

SKENARIO

1. Kegiatan Pembuka
a. Praktikan memberi sambutan
b. Praktikan memberi pengantar mengenai materi yang akan di berikan
2. Kegiatan Inti
a. Praktikan menjelaskan uraian yang membahas mengenai materi inti yang ingin di
sampaikan mengenai bagaimana siswa perlu membangun hubungan yang baik
melalui sikap ataupun percakapan dengan orangtua dalam keluarga untuk
menciptakan keselarasan dan keharmonisan dalam keluarga.
b. Praktikan memberikan kesempatan kepada siswa untuk merespon dan bertanya.
3. Kegiatan Penutup
a. Praktikan menyimpulkan dari apa yang telah di bahas sebelumnya.