Anda di halaman 1dari 7

Tugas Kliping

KASUS PELANGGARAN HAM

Oleh

Muhammad Noerays Farhan Fadhilah

SMAN NEGERI 2 MAJALENGKA


2016/2017

Selesaikan Kasus HAM Masa Lalu,


Pemerintah Bentuk Tim Gabungan

Menkopolhukam Wiranto memberikan sambutan saat acara Pertemuan Nasional - 1


Legislatif dan Eksekutif Partai Golkar di Jakarta, Senin (26/9). Acara dihadiri tokoh golkar
Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Nurdin Halid. (Liputan6/JohanTallo)
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko
Polhukam) Wiranto mengatakan, pemerintah telah membentuk tim gabungan untuk
menyelesaikan dugaan pelangaran HAM berat masa lalu. Tim gabungan itu terdiri dari
sejumlah unsur.
"Ada unsur Kejaksaan Agung, Komnas HAM, TNI, Polri, para pakar hukum, dan
masyarakat," ujar Wiranto usai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Komplek
Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2016).
Wiranto mengatakan, pemerintah telah berdiskusi panjang dan membahas dari berbagai
pendekatan, serta mendengarkan aspirasi masyarakat. Karena itu untuk dugaan
pelanggaran berat masa lalu terkait peristiwa G 30 S/PKI, pemerintah telah menentukan
langkah penyelesaian.
Dia menjelaskan, dari pendekatan yudisial telah dilakukan pendalaman tentang peristiwa G
30 S/PKI. Dari kajian hukum pidana peristiwa tersebut termasuk dalam katagori "the
principles clear and present danger" atau negara dapat dinyatakan dalam keadaan bahaya

dan nyata. Maka dari itu tindakan yang terkait national security merupakan tindakan
penyelamatan.
"Dari peristiwa tersebut juga dapat berlaku adigium, bahwa tindakan darurat untuk kondisi
darurat atau abnormal yang dapat dibenarkan secara hukum dan tidak dapat dinilai dengan
karakter hukum masa sekarang," ujar dia.
Wiranto menuturkan, melalui konsultasi dan koordinasi bedah kasus antara penyelidik
Komnas HAM dan penyidik Kejaksaan Agung ditemukan hambatan yuridis. Terutama yang
menyangkut pemenuhan alat bukti yang cukup.
"Terdapat kesulitan untuk terpenuhinya standar pembuktian sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM," ujar dia.
Oleh karena itu, Wiranto menjelaskan, untuk menyelesaikan masalah ini, pemerintah
mengarahkan dengan cara-cara non yudisial. Cara ini diambil setelah pemerintah
mempertimbangan kepentingan nasional dan semangat kebangsaan yang membutuhkan
kebersamaan dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Penyelesaian dengan cara non yudisial dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal.
Pertama, tidak ada nuansa salah menyalahkan. Kedua, tidak lagi menyulut kebencian atau
dendam. Ketiga, sikap dan keputusan pemerintah dibenarkan oleh hukum dan dalam
pelaksanaannya tidak menimbulkan ekses negatif yang berkepanjangan.
Keempat, tergambar kesungguhan Pemerintah untuk menyelesaikan tragedi tersebut
dengan sungguh-sungguh. Kelima, pemerintah mengajak untuk menjadikan peristiwa
tersebut sebagai pembelajaran bagi bangsa Indonesia agar di masa kini dan masa depan
peristiwa semacam itu tidak terulang lagi.

Penyelesaian Kasus HAM di Era


Jokowi Tidak Jelas
Sindonews
JAKARTA - Janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuntaskan sejumlah kasus
pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat masa lalu belum penuhi selama dua tahun
jalannya pemerintahan ini.
Kasus HAM masa lalu itu adalah Kasus Trisakti atau Semanggi I tahun 1998 dan Semanggi
II 1999, kerusuhan Mei 1998, Wasior serta Wamena Papua, penghilangan orang secara

paksa 1997-1998, Talangsari, kasus 1965-1966 dan penembakan misterius 1982-1985.


Sedangkan, penuntasan kasus HAM masa lalu merupakan salah satu dari 42 agenda
prioritas reformasi hukum dan perlindungan HAM.
"Namun setelah dua tahun memimpin, tidak ada langkah serius Jokowi untuk menuntaskan
semua kasus-kasus tersebut," ujar Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani di
Kantornya, Jalan Hang Lekiu II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (23/10/2016).
Dia memberikan contoh kasus HAM misalnya, terkait kasus 1965-1966, inisiatif
penyelesaian dengan jalur nonyudisial juga tidak jelas konsep dan arahnya.
"Yang terjadi upaya-upaya kelompok-kelompok masyarakat untuk mengadvokasi
penuntasan kasus 1965 justru dikriminalisasi," tuturnya.
Dirinya membeberkan, setidaknya terdapat delapan pembubaran kegiatan kebebasan
berekspresi karena dianggap menyebarkan paham komunisme.
"Jokowi, melalui Sekretariat Negara bahkan tidak mampu menjaga dokumen yang sangat
berharga terkait pembunuhan Almarhum Munir," imbuhnya.
Melalui putusan Komisi Informasi Publik (KIP) diketahui, dokumen tim pencari fakta (TPF)
kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib yang sudah diserahkan ke Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dinyatakan hilang.
"Jangankan menuntaskan, menjaga dokumen saja, negara tidak mampu," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Jokowi menyadari penuh bahwa proses peradilan militer
adalah bentuk ketidakadilan dan perlakuan yang tidak setara di muka umum.
Sehingga, menjadi sarana impunitas dan immunitas bagi anggota militer yang melakukan
kejahatan umum maupun kejahatan perang.
Karena itu, Jokowi berjanji akan merevisi Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1997
tentang Peradilan Militer yang pada masa lalu merupakan salah satu sumber pelanggaran
HAM.
"Akan tetapi, dua tahun memimpin indikasi reformasi peradilan militer tersebut tidak pernah
terjadi," katanya.
Dia mengatakan, Jokowi justru melalui para menterinya memberi previlege militer dalam
berbagai kegiatan operasi militer, selain perang, melalui payung hukum, tercatat 35
kesepakatan bersama alias Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai

kementerian.
"Pelibatan semacam ini secara sistemik dapat merusak sistem keamanan dan penegakan
hukum," ujarnya.

Dua Anak Pengusaha Travel Haji


di Bogor Diculik Teman Ibu
BOGOR - Dua anak pengusaha travel haji yakni, Salwa (11), dan Salma (8) diduga diculik
oleh pembantu rumah tangganya berinisial RN. Kedua orang tua korban memercayakan RN
untuk mengantar sekolah Salwa dan Salma.
Dugaan penculikan anak pasangan suami istri Afifudin Abdul Jalil (37) dan Verawati Kurnia
(35) ini sudah dilaporkan ke petugas Polres Bogor. "Kedua putri kami, hilang dan diduga
diculik oleh RN, wanita yang kami percaya untuk mengantar dan menjemput mereka ke
sekolah, " kata Afifudin ayah korban, saat ditemui di rumahnya di Jalan Guru Muchtar, No 18
RT 02/16, Kelurahan Cimahpar, Bogor Utara, Kota Senin (12/9/2016).
Afif menjelaskan, kedua putrinya itu hilang diduga dibawa kabur oleh perempuan yang tidak
lain adalah teman lama istrinya, sejak hari Kamis, 8 September 2016 siang. Afif
melanjutkan, RN dipercaya bertugas merawat kedua anaknya sejak lima bulan lalu.
Jadi RN ini teman istri saya tinggalnya di Cileungsi. Sejak bercerai dengan suaminya, kami
sengaja memintanya untuk tinggal bersama. Kami kasihan kepada RN dari pada tidak
punya tempat tinggal," katanya.
RN dipercaya untuk rutin mengantarkan kedua anaknya ke sekolah menggunakan
kendaraan roda empat Honda Mobilio,"Setiap hari dia menjemput dan mengantar anak saya
menggunakan mobil saya," ujarnya.
Berdasarkan keterangan tetangga, sebelum membawa kabur kedua putrinya, RN sempat
pulang ke rumah, tapi tidak lama. Setelah itu RN kembali mengajak anak saya ke mobil
Avanza Putih yang sudah menunggu di depan rumah," ucapnya.
Kecurigaan kedua orang tua korban mengetahui anaknya diculik, lantaran saat pulang kerja
kondisi rumah kosong. "Saat saya periksa di kamar RN, semua bajunya sudah tidak ada,
bahkan obat anak saya pun hilang," jelasnya.

Kapolres Bogor AKBP Muhammad Darwis menuturkan, masih mendalami dan melakukan
penyidikan atas kasus dugaan penculikan tersebut. "Kami masih selidiki, dan mencari
keberadaan perempuan yang mengasuh kedua anak korban yang diduga menjadi pelaku,"
kata Darwis.
Hingga saat, penyidik baru memintai keterangan delapan orang saksi termasuk orang tua,
kakek dan nenek korban serta guru dan pedagang di sekolah.

Komnas temukan dugaan pelanggaran HAM kasus Papua di Jogja

Bbc indonesia
Komnas HAM menyatakan menemukan indikasi pelanggaran HAM dalam insiden di
Asrama Papua di Yogyakarta, Jumat (15/07), pekan lalu.
Hal tersebut disampaikan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, yang berkunjung ke
Yogyakarta, Rabu 20 Juli.
Salah satu indikasi pelanggaran hak asasi manusia adalah dugaan tindakan kekerasan yang
dilakukan aparat kepolisian terhadap mahasiswa Papua, seperti dilaporkan wartawan
setempat, Yaya Ulya, kepada BBC Indonesia.
Selama di Yogyakarta, Komnas HAM meminta keterangan sejumlah mahasiswa Papua,
Polda DIY, serta menemui Gubernur Provinsi DIY, Sultan Hamengkubowono X.
Ada indikasi telah terjadi pelanggaran HAM di enam variabel, kata Natalius Pigai saat
memberikan keterangan kepada wartawan.
Enam variabel yang dimaksud antara lain kebebasan menyampaikan pendapat di muka
umum terkait rencana aksi damai beberapa mahasiswa Papua pada Jumat pekan lalu
namun kemudian dilarang keluar asrama.
Aksi kekerasan
Kepolisian sempat menutup akses ke asrama mahasiswa asal Papua di Jalan
Kusumanegara, Yogyakarta, dan menangkap setidaknya tujuh mahasiswa di beberapa
tempat.
Negara hanya diberi kewenangan untuk menyiapkan ruang dan melakukan perlindungan
kepada setiap orang untuk menyampaikan pendapat, kata Natalius.
Dia menambahkan ada juga beberapa mahasiswa yang mengaku dipukul oleh aparat polisi.

Salah seorang korban aksi kekerasan tersebut adalah Obet Hisage, yang mengatakan
dipukul dengan gagang senjata.
Saat itu dia ingin masuk kembali ke asrama setelah membeli ubi namun disuruh berhenti
oleh polisi dan dipukul.
Distop Polisi, suruh turun lalu dipukul pakai gagang senjata, akunya.
Hasil penyelidikan Komnas HAM di Yogyakarta ini masih akan dianalisis lebih lanjut di
Jakarta sebelum menjadi sebuah laporan akhir.

Pasutri di Bandung Dihabisi


Tetangga
okezone
BANDUNG - Pasangan suami istri (pasutri) di Jalan Desa, Kelurahan Babakansari,
Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat, dihabisi oleh tetangganya, Minggu
(27/11/2016) pukul 07.40 WIB.
Dari informasi yang dihimpun, diketahui korban tewas adalah Ade Sumarna (34) dan Lina
Marlina (41). Keduanya tewas dengan sejumlah luka tusukan.
Ade Sumarna ditemukan tewas bersimbah darah di kamar kontrakannya. Sementara, sang
istri yakni Lina Marlina, tewas di perjalanan saat dilarikan ke rumah sakit.
Seorang yang memberikan keterangan ke pihak kepolisian menyebutkan, sebelum melihat
korban Lina tergeletak, sempat mendengar keributan di gang tempat korban tinggal.
"Ada juga yang melihat, setelah salah seorang yang diduga pelaku keluar dari rumah
kontrakan kedua korban dengan membawa pisau," kata anggota polisi yang enggan
disebutkan namanya.
Pelaku pembunuhan terhadap pasutri itu menyerahkan diri ke polisi. "Pelaku menyerahkan
diri tak lama setelah pelaku melakukan aksinya terhadap kedua pasangan suami istri
tersebut," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP M Joni, Minggu (27/11/2016).
Identitas pelaku adalah Ju (47), yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah kontrakan
korban. "Pelaku ini tetangga korban," jelasnya.
Saat disinggung tentang motif pelaku, pihak kepolisian masih belum dapat membeberkan
hal tersebut. Saat ini polisi melakukan pemeriksaan terhadap pelaku.