Anda di halaman 1dari 21

BLOK 1.

IKD- SISTEM TUBUH 2


MODUL 1. SISTEM SARAF

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1. ARISTO LAY (2012.07.0.0021)
2. LUTHVINA SEPTIAMI AZIZA (2012.07.0.0022)
3. EUGENIUS BRAMIANTA W (2012.07.0.0026)
4. DAFIQA NUR AMALIYA (2012.07.0.0033)
5. RICANA INDRAWAN (2012.07.0.0037)
6. ALBERT SUSANTO HANDOYO (2012.07.0.0043)
7. KRISTIN GABY ROSARI (2012.07.0.0058)
8. MICHELLE SUHARTONO (2012.07.0.0062)
9. SAFINA MAJDINA (2012.07.0.0066)
10. CAROLINE PRAJNAPARAMITA (2012.07.0.0067)
11. FATHORRAHMAN SOLEH (2012.07.0.0071)
12. ANYDYA PUTRI (2012.07.0.0075)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
KATA PENGANTAR
Salam sejahtera,
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pimpinan dan hikmat yang
Tuhan sudah berikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
tugas makalah tentang Sistem Saraf ini dengan baik.
Makalah ini tentu saja tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, tak lupa kami haturkan terima
kasih kepada:

Noengki Prameswari, drg., M.Kes selaku penanggung jawab,


Endah Wahjuningsih, drg., M.Kes
Soemartono, drg., Sp.BM

Semua pihak yang membantu penulis secara langsung maupun


tidak langsung

Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta memudahkan


pembaca untuk dapat mengenal lebih jauh tentang Metabolisme dan
Respirasi Sel. Apabila dalam pembuatan makalah ini ada hal yang kurang
tepat, penulis mohon agar mendapat masukkan sehingga penulis
mengetahui dan dapat memperbaikinya.

Surabaya, 03 Maret 2013

Tim Penyusu
DAFTAR ISI
Kata pengantar.............................................................................................i
Daftar isi.......................................................................................................ii
BAB I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang...3
1.2 Batasan Topik.3
1.3 Peta Konsep.......4
BAB II. Pembahasan
2.1 Sistem Saraf...........5
2.1.1 Sistem Saraf Pusat............5
2.1.2 Sistem Saraf Perifer..............6
2.2 Macam Sistem Saraf Pusat.7
2.2.1 Otak..7
2.2.2 Medula Spinalis.9
2.3 Mekanisme Sistem Saraf Pusat.10
2.4 Macam Sistem Saraf Perifer..11
2.4.1 Saraf Motorik...............................................................11
2.4.2 Saraf Sensorik......13
2.5 Persarafan Gigi....14
2.5.1 Nervus Cranialis14
2.5.2 Nervus Mndibulla.........14
2.5.3 Nervus Maxila15
2.6 Anastesi.16
2.6.1 Definisi16
2.6.2 Fungsi.16
2.6.3 Mekanisme.16
2.6.4 Anastesi Mandibulla.17
2.7 Ekstraksi Gigi Molar 3..18
2.8 Kebas.18
2.8.1 Definisi18
3

2.8.2 Penyebab.............................................................19
BAB III. Penutup
Daftar Pustaka.21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bagaimana kita bisa merasakan sakit ketika di cubit ? Bagaimana
terjadi reflek ketika tangan tersulut api ? Bagaimana kita melihat,
mendengar dan lain sebagainya ? Mungkin jawabannya ada dalam
pembahasan berikut, makalah ini akan membahas tentang sistem
saraf.
Sistem koordinasi merupakan suatu sistem yang mengatur kerja
semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem
koordinasi itu bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya dan
kemudian

meneruskannya

untuk

menaggapi

rangsangan.Setiap

rangsangan-rangsangan yang kita terima melalui indera kita, akan


diolah di otak. Kemudian otak akan meneruskan rangsangan tersebut
ke organ yang bersangkutan.
1.2 Batasan Topik
1. Sistem Saraf (Saraf Pusat &Saraf Perifer)
2. Macam Sistem Saraf Pusat (Otak & Medulla Spinalis)
3. Mekanisme Sistem Saraf Pusat
4. Macam Sistem Saraf Perifer (Motorik & Sensorik)
5. Persarafan Gigi ( N.Cranialis, N.Mandibulla, & N.Maxilla)
6. Anestesi (Definisi, Fungsi, Mekanisme, & Anestesi Mandibulla)
7. Ekstraksi Gigi Molar 3
8. Kebas (Definisi & Penyebab)
1.3 Peta Konsep
Sistem Saraf

Sistem Saraf Pusat


Otak

Sistem Saraf Perifer

Medulla Spinalis

Motorik

Sensorik
Otonom

Somatis

Persarafan Gigi

Anastesi

Ekstraksi Gigi Molar 3

Kebas

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Saraf
2.1.1 Sistem Saraf Pusat
a. Definisi: Sistem saraf pusat terdiri dari otak & sumsum tulang
belakang. Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan
fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain
tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3
lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka
akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi
esensial yaitu:
1. badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi
grissea)
2. serabut saraf yang membentuk bagian materi putih
(substansi alba)
3. sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara
sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi
sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak
di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di
tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa

materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks


berupa materi putih.
b. Fungsi:

- Menerima atau menangkap rangsangan


- Mengontrol gerakan-gerakan otot kerangka
- Otak sebagai pusat indera
- Otak besar sebagai pusat daya rohani yg tinggi
- Otak sebagai pengontrol pernapasan
- Otak sebagai peredaran darah

2.1.2 Sistem Saraf Perifer


a. Definisi: Sistem saraf dengan bagian dari sistem saraf yg terdiri
dari sel-sel yg membawa informasi ke (sel saraf sensorik) & dari (sel saraf
motorik) sistem saraf pusat. Sel-sel sistem saraf sensorik mengirim
informasi ke SSP dari organ-organ internal/ dari rangsangan eksternal.
Sel-sel sistem saraf motorik membawa informasi dari SSP ke organ, otot,
& kelenjar. Saraf perifer meliputi 12 saraf cranial, saraf tulang belakang, &

saraf otonom yg mengatur otot jantung, otot-otot di dinding pembuluh


darah, & kelenjar.
b. Fungsi: - Menerima rangsangan, menghantarkan info sensorik,
& membawa perintah motorik ke jaringan saraf perifer
- Berkas akson (serat saraf): membawa info sensorik &
perintah motorik
- Setiap berkas saraf berhubungan dengan pembuluh
darah & jaringan ikat > saraf tepi (nervus)
- Nervus yg keluar dari otak > saraf cranial
- Nervus yg keluar medulla spinallis > saraf spinal
2.2 Macam Sistem Saraf Pusat
2.2.1 Otak
a. Definisi: Pusat sistem saraf pada vertebrata dan banyak
invertebrata lainnya. Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang
memiliki volume kurang lebih 1350cc dan terdiri atas lebih dari 10 milyar
sel saraf/ neuron.

Bagian-bagian dari otak:


1. Otak besar (cerebrum)
Merupakan bagian paling besar dari otak. Terdiri dari 2
hemisphere yang dipisahkan oleh fissura cerebri longitudinalis,
dipisahkan oleh sekat yang terbentuk dari durameter dan disebut
falx cerebri. Masing-masing hemisphere terdiri dari 4 lobus yaitu,
Frontal, Parietal, Occipital dan Temporal. Masing-masing lobus
terdiri dari gyrus, contoh Gyrus frontalis superior, Gyrus frontalis
med, Gyrus frontalis inferior.
Antara lobus frontalis dan parietalis dengan lobus temporalis
dipisahkan oleh sulcus yang disebut fissura cerebri lateralis sylvii.
Antara lobus frontalis dan parietalis terdapat sulcus centralis
rollandi yang memisahkan gyrus precentralis (pusat gerakan
motorik) dan gyrus postcentralis (pusat gerakan sensorik).
2. Otak kecil (cerebellum)
Otak kecil banyak mengandung neurit & dendrit sehingga
berwarna putih. Mempunyai fungsi utama dalam koordinasi
gerakan otot yg terjadi secara sadar, keseimbangan, & posisi tubuh
3. Sumsum lanjutan (medulla oblongata)
Penghubung antara otak kecil & otak besar. Sumsum

lanjutan terletak di bagian bawah otak besar, di depan otak keci.


Berfungsi menghantar impuls yg datang dari medulla spinalis
menuju otak.
Sumsum lanjutan juga mempengaruhi jembatan, refleks
fisiologis seperti detak jantung, tekanan darah, volume & kecepatan

respirasi, gerak alat pencernaan, & sekresi kelenjar pencernaan.


Pelindung Otak:
1. Rambut, kulit, cranium
2. Sinus venosus (kumpulan vena seperti bantalan)
3. Meningen adalah selubung otak dan medula spinalis. Terdiri dari 3

bagian: Durameter, Arachnoid dan Piameter.


4. CLS ( Cairan Liquor Cerebrospinalis)
Struktur otak terdiri dari Cortex dan Medulla.
1. Cortex Cerebri
Berwarna abu-abu, sebagai tempat nukleus/ kumpulan neuron.
Cortex cerebri seperti:
Gyrus precentralis tempat nuclei motorik,
Gyrus postcentralis tempat nuclei sensorik,
Lobus temporalis tempat nuclei pendengaran,
Lobus occipitalis tempat nuclei penglihatan,
Lobus frontalis tempat nuclei penglihatan.
2. Medulla/ Corpus Medullare
Berwarna keputihan, mengandung serat-serat. Berfungsi sebagai
penghubung dari dan ke cortex, penghubung dari pusat gerakan/
penghantar rangsangan dari perifer ke pusat. Pada medulla
terdapat rongga yang disebut ventrikellateralis, berfungsi dalam
menghasilkan CLS.
b. Fungsi: - Pengendali aktivitas pasca indera
- Pengendali seluruh gerakan organ-organ tubuh &
motorik
- Pusat bahasa, pengatur emosi, penyimpan ingatan

2.2.2 Medulla Spinalis


a. Definisi: Medula spinalis atau sumsum tulang belakang terdiri
atas beberapa serabut saraf di sepanjang sumsum tulang belakang yang

berwarna putih. Bahan putih terdiri dari atas serabut saraf panjang yang
bermielin sepanjang serabut . bagian yang abu-abu penuh dengan badan
sel saraf dari interneuron dan neuron motoris . badan-badan sel saraf dari
neurosensoris membentuk massa kecil yang dinamakan ganglion di luar
sumsum tulang belakang . sumsum ini

mengantarkan rangsang dari

semua bagian tubuh ke otak dan membawa rangsang dari otak belakang
ke semua bagian tubuh di kembalikan lagi . sumsum tulang belakang ini
sangat lunak dan menabjukan , supaya tidak mudah rusak dilindungi oleh
tulang punggung ( columna vertebralis ).
b. Fungsi: - Sebagai pusat gerak refleks
- Menghantrkan rangsang ke otak/ dari otak
- Penghantar impuls sensorik dari alat indra ke otak
- Penghantar impuls motor dari otak ke otot tubuh

2.3 Mekanisme Sistem Saraf Pusat


Diawali dengan rangsang yang dicandra oleh reseptor. Di sel
reseptor ini akan terjadi proses transduksi yaitu terjadinya perubahan
9

berbagai bentuk energi rangsang menjadi energi listrik. Potensial listrik


yang timbul direseptor disebut sebagai potensial reseptor yang dapat
berupa depolarisasi atau hiperpolarisasi. Amplitudo potensial reseptor ini
berubah secara bergradasi bergantung kepada intensitas rangsang,
namun tetap tidak akan berupa potensial aksi. Reseptor mampu untuk
beradaptasi dengan 'mengendalikan' amplitudo potensial reseptor.
Dengan kata lain proses pengendalian saraf terhadap respon tubuh telah
dimulai dengan pengendalian reaksi reseptor terhadap rangsang.
Depolarisasi yang terjadi direseptor dapat memicu terbentuknya
potensial aksi di neuron sebagai impuls dengan frekuensi serta jenis irama
sebagai kode yang bergantung pada tinggi rendahnya potensial reseptor
serta jenis neuron yang dilaluinya. Neuron aferen ini bersinaps dengan
interneuron atau neuron motorik di saraf pusat. Melalui sinaps tersebut
terjadi proses penghantaran impuls. Impuls dari neuron pertama dapat
diteruskan tanpa perubahan, dapat ditingkatkan frekuensi maupun
amplitudonya oleh neuron berikutnya (neuron pasca sinaps) atau bahkan
dapat terjadi hambatan (inhibisi) penghantaran impuls. Dengan demikian
disinaps dapat terjadi proses pengendalian yang daapt berupa ekstraksi
maupun inhibisi.
Proses pengendalian di saraf pusat terjadi dengan lebih majemuk
karena hubungan antar neuron melalui sinaps yang sangat kompleks. Di
saraf pusat dapat terjadi ekstasi maupun inhibisi secara berurutan
(sequental) maupun serempak (simultan) bergantung kepada rangkaian
hubungan neuron serta jenis neurotransmitor yang dilepaskan serta durasi
dan saat penglepasannya. Secara ringkas di saraf pusat terjadi
pengendalian yang lebih cermat karena telah diolah bermacam informasi
yang masuk baik secara langsung dari reseptor maupun dari hasil umpan
balik. Pengendalian saraf pusat tersebut terus diserasikan dari waktu
untuk selalu menyelaraskan respons tubuh terhadap perubahan
lingkungan luar maupun lingkungan dalam tubuh.

10

2.4 Macam Sistem Saraf Perifer


2.4.1 Saraf Motorik
a. Definisi: Saraf motorik/eferen yaitu neuron yang berfungsi untuk
menghantarkan , impuls dari SSP menuju organ efektor.
b. Fungsi: Membawa informasi keluar SSP ke organ sasaran (sel
otot atau kelenjar)
c. Mekanisme: Mekanisme saraf motorik Korteks otak
mengahantarkan rangsangan yang telah ditanggapi tersebut kepada
medula oblongata, kemudian diteruskan melewati jalur saraf pada
sumsum tulang belakang, ujung-ujung tulang belakang inilah yang
menjadi jembatan pertautan saraf dengan organ-organ efektor,yaitu otot.

d. Macam saraf motorik:


1. Somatic (volunteer)

11

Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu
saraf-saraf yang keluar dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang,
yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
1. tiga pasang saraf sensori, yaitu saraf nomor 1, 2, dan 8
2. lima pasang saraf motor, yaitu saraf nomor 3, 4, 6, 11, dan 12
3. empat pasang saraf gabungan sensori dan motor, yaitu saraf nomor 5,
7, 9, dan 10.
Otak dilihat dari bawah menunjukkan saraf cranial. Saraf otak
dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang
melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus
vagus

membentuk

bagian

saraf

otonom.

Oleh

karena

daerah

jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut saraf pengembara


dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf
gabungan. Berdasarkan 8 asalnya, saraf sumsum tulang belakang
dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5
pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang saraf
ekor. Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang
disebut pleksus.
2. Otonom (involunter)
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari
otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang
bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masingmasing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk
ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat
saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat
saraf post ganglion.

12

Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan
sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan
parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai
ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada
sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat praganglion pendek,
sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat

pra ganglion

yang

panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu.


Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan
(antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan "nervus
vagus" bersama cabangcabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak
lain dan saraf sumsum sambung.
2.4.2 Saraf Sensorik
a. Definisi: Saraf sensorik/ aferen yaitu neuron yg berfungsi untuk
menghantarkan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat.
b. Fungsi: - Menghantarkan rangsangan dari reseptor sensorik ke
sistem saraf pusat
- Reseptor terhadap dendrite atau badan sel yg
menerima rangsangan fisik atau kimiawi
c. Mekanisme: Diawali dari sumsum tulang belakang, kemudian
diteruskan ke medula oblongata. Disana direspon dan ditanggapi untuk
diteruskan ke pons lalu dilanjutkan menuju thalamus(kapsula interna) dan
akhirnya berakhir di cortex sensorik pada sistem saraf pusat.

2.5 Persarafan Gigi


2.5.1 Nervus Cranialis

13

2.5.2 Nervus Mandibulla


Nervus terbesar dari ketiga divisi & terdiri atas 2 radiks: radiks
sensorik mayor keluar dari sudut inferior ganglion semilunar & radiks
motorik minor yg melewati di bawah ganglion & bersatu dengan radiks
sensorik, langsung setelah keluar dari foramen ovale. Selanjutnya, di

14

bawah basis cranium, nervus tersebut mengeluarkan dari sisi medial


cabang recurrent (nervus spinosus) & nervus yg mempersarafi
pterygoideus internus & kemudian terbagi menjadi 2 cabang: anterior &
posterior
1. Nervus spinosus (cabang meningeal/ recurrent)
> Memasuki cranium lewat foramen spinosum bersama dengan
arteri meningea media. Terbagi menjadi 2 cabang, anterior & posterior yg
berjalan bersam dengan divisi utama arteri & menginervasi durameter,
cabang posterior juga menginervasi lapisan mukosa yg ada pada cellula
mastoideus, divisi anterior berhubungan dengan cabang meningea nervus
maxillaries.
2. Nervus Pterygoideus internus
> Nervus ini merupakan cabang yg langsung memasuki
permukaan dalam otot, mempercabangkan 2 filamen menujun ganglion
oticum.

2.5.3 Nervus Maxilla


Merupakan divisi dua & merupakan nervus sensorik. Ukuran &
posisinya berada di tengah-tengah nervus opthalmicus & mandibullaris.
Maxillaris bermula dari pertengahan ganglion semilunar sebagai berkas
berbentuk pleksus, berjalan horizontal ke depan keluar dari cranium
menuju foramen rotundum yg kemudian bentuknya menjadi lebih silindris
& teksturnya menjadi lebih keras. Maxillaris lalu melewati fossa
15

pterygoipalatina, menuruni dinding lateral maxilla & memasuki cavum


orbital lewat fissure orbitalis inferior. Lalu melintasi fissue & canalis
infraorbitalis. Akhirnya sarafnya terletak di bawah musculus quadratus labil
superioris & terbagi menjadi serabut yg lebih kecil yg menginervasi
hidung, palpera bagian bawah & bibis superior bersatu dengan serabut
nervus facial.
2.6 Anatesi
2.6.1 Definisi
Berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit.
Anastesi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anastesi lokal dan anastesi
umum. Pada anastesi lokal hilangnya rasa sakit tanpa disertai hilangnya
kesadaran, sedangkan pada anastesi umum hilangnya rasa sakit disertai
hilangnya kesadaran.
2.6.2 Fungsi
- Bukan tarapetik/ diagnetik
- Memfasilitasi pembedahan & prosedur berbahaya
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Analgesik (penghilang nyeri)


Amnesia
Hilangnya kesadaran
Melemahkan semua otot skeletal (motionlessness)
Melemahkan respon otonom
Reversibel

2.6.3 Mekanisme Anastesi


1. Teori awal:Unitary Theory of amnesia

Aturan Meyer-Overton: potensi anestetik berhubungan

dengan kelarutan dalam octanol (olive oil).


Senyawa dengan kelarutan dalam lemak lebih tinggi
membutuhkan konsentrasi lebih rendah (MAC = Minimum
Alveolar Concentration)untuk menimbulkan efek anestesi
.

16

Teori ini disanggah oleh fakta bahwa tidak semua


senyawa larut lemak bisa member efek anesti: Saat ini
diketahui banyak protein target spesipik (reseptor) yang

berperan polaktivitas aneseti


Berbagai struktur kimia yang berbeda memberikan
respon yang sama menunjukan lebih dari satu target

kerja
Berbagai tingkat anestetik dicapai oleh aktivitas pada

reseptor yang berbeda


Reseptor GABAA
Glysine gated chlorine channels
Reseptor NMDA
Kanal kalium

2.6.4 Anestesi pada Mandibulla


Anestesi blok rahang bawah biasanya dilakukan apabila kita
memerlukan daerah yang teranestesi luas misalnya pada waktu
pencabutan gigi posterior rahang bawah atau pencabutan beberapa gigi
pada satu quadran. Saraf yang dituju pada anestesi blok teknik GowGates adalah N. Mandibularis sedangkan pada Teknik Akinosi dan Teknik
Fisher saraf yang dituju adalah :N. Alveolaris inferior dan N. Lingualis
Dengan teknik Gow- Gates daerah yang teranestesi adalah : Gigi
mandibula setengah quadran, mukoperiosteum bukal dan membrane
mukosa pada daerah penyuntikan , dua pertiga anterior lidah dan dasar
mulut, jaringan lunak lingual dan periosteum, korpus mandibula dan
bagian bawah ramus serta kulit diatas zigoma , bagian posterior pipi dan
region temporal. Sedangkan daerah yang teranestesi pada teknik Akinosi
dan Teknik Fisher adalah : gigi gigi mandibula setengah quadran, badan
mandibula dan ramus bagian bawah, mukoperiosteum bukal dan
membrane mukosa didepan foramen mentalis, dasar mulut dan dua
pertiga anterior lidah, jaringan lunak dan periosteum bagian lingual
mandibula. Karena N. Bukalis tidak teranestesi maka apabila diperlukan ,
harus dilakukan penyuntikan tambahan sehingga pasen menerima beban
rasa sakit. Pada Teknik modifikasi Fisher kita menambahkan satu posisi

17

lagi sebelum jarum dicabut sehingga tidak diperlukan penusukan ulang


yang menambah beban sakit pada pasien.
2.7 Ekstraksi Gigi Molar 3
Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari
alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan
perawatan lagi. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan
tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal
terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat
sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa
mendatang. Ekstraksi gigi dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu teknik
sederhana & teknik pembedahan. Teknik sederhana dilakukan dengan
melepaskan gigi dari perlekatan jaringan lunak menggunakan elevator
kemudian menggoyangkan & mengeluarkan gigi di dalam soket dari
tulang alveolar menggunakan tang ekstraksi. Sedangkan teknik
pembedahan dilakukan dengan pembuatan flep, pembuangan tulang
disekeliling gigi, menggoyangkan & mengeluarkan gigi di dalam soket dari
tulang alveolar kemudian mengembalikan flep ke tempat semula dengan
penjahitan.

2.8 Kebas
2.8.1 Definisi
Kebas

adalah

ketidakmampuan

tubuh

untuk

merasakan

rangsangdari luar. Kebas merupakan salah satu komplikasi yang dapat


terjadi akibat pembedahan /ondontektomi molar tiga bawah di karenakan
adanya trauma yang mengenai nervus alveolaris inferior, nervus lingualis,
nervus mentalis, nervus gukalis dan nervus milohyoideus. Cabang-cabang
saraf tersebut mempunyai fungsi sensorik. Apabila saraf-saraf tersebut
cedera, sulit untuk kita hindari, karena anatomi pembulu-pembulu saraf
tersebut dekat dengan bagian apical gigi molar tiga rahang bawah. Sarafsaraf tersebut merupakan sebagian dari nervus mandibularis .

18

Gejala klinis kebas antara lain berupa hilangnya sensai pada


bagian tertentu wajah. Biasanya pada bagian bibir atau dagu. Kebas
dapat di tangani dengan obat obatan neuropatik.
2.8.2 Penyebab
Kebas biasa disebabkan oleh anastesi lokal. Anastesi yg diberikan
pada saat akan dilakukan pembedahan akan mempengaruhi saraf
alveolar inferior & saraf lingualis. Anastesi diberikan agar dapat
memblokade rasa nyeri pada saat pembedahan berlangsung. Jarum
suntik yg masuk ke dalam gusi, apabila arahnya tidak tepat maka bisa
memutuskan saraf-saraf di bagian tersebut sehingga saraf tidak bisa
berfungsi sebagaimana mestinya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

19

Pada kasus ini, kebas terjadi berkelanjutan pada daerah pipi, bibir,
dan lidah setelah 3 minggu disebabkan oleh anastesi lokal dengan
teknik infiltrasi dan blok yang salah pada nervus mandibularis yang
melibatkan saraf alveolar inferior dan nervus lingualis.
3.3 Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Kami banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan
penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Ash M, Nelson S. 2003. Wheelers Dental Anatomy, Physiology and


Occlusion. 8th edition. Saunders

20

Ganong, W. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku


Kedokteran EGC. Edisi 17. Jakarta
Guyton, A & Hall, J. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC.
Edisi 9. Jakarta
http://pdfcast.net/sistem-sarafkranial/1.bp.blogspot.com*_50vCzxiO5Xo*TMoo_Xxd94I*AAAAAA
AAADA*J0oKROwuUV8*s1600*Sistem%20Saraf%20Kranial.JPG/
Brandt RG, 2010. Efficacy of Local Anaesthetic in Clinical Dentistry
Disertasi Master of Science endodontics University of Michigan.
Available
fromhttp://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/78276/
Brandt_Thesis_10-102010_DEEPBLUE.pdf;jsessionid=470737CAA98C062E463610B00
24256ED?sequence=14. Accessed in 21-2-2013
Blanton PL, Jeske AH. 2003. The Key to Profound Local
Anaesthesia.
JADA
Vol
134.
Available
from
http://www.eurodental1.com/anestesia.pdf. Accessed in 21-2-2013
Riawan L. 2002. Penanggulangan komplikasi pencabutan gigi.
Dipresentasikan di Dipresentasikan padaPembinaan Peningkatan
Dokter Gigi Melalui Quality Assurance. Unpad. Available at
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/10/pustaka_unpad_penanggulangan_komplik
asi_pencabutan_gigi.pdf . Accessed ini 20-2-2012
Robinson PP, Loescher AR, Smith KG. 2003, Nerve damage and
Third Molar Removal Dent Update 2003; 30: 375382. Available
from
http://exodontia.info/files/Dental_Update__Nerve_Damage_and_Third_Molar_Removal.pdf Accessed in 212-2013
Dower JS. 2003. A Review of paraesthesia in Associatio with
administration
of
Local
Anesthesia
.
Available
from
http://www.dentistrytoday.com/pain-management/anesthesia/266 .
Accessed at 21-2-2013

21