Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi :
ABSORBSI CO2 DENGAN LARUTAN NaOH
Oleh :
Arfieno Jefry Krisnanda

NIM 21030113120037

Febrina Faradhiba

NIM 21030113140190

Hikmah Olivia

NIM 21030113120091

LABORATORIUM PROSES KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi :
ABSORBSI CO2 DENGAN LARUTAN NaOH
Oleh :
Arfieno Jefry Krisnanda

NIM 21030113120037

Febrina Faradhiba

NIM 21030113140190

Hikmah Olivia

NIM 21030113120091

LABORATORIUM PROSES KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Nama/NIM

: Arfieno Jefry Krisnanda

/21030113120037

Nama/NIM

: Febrina Faradhiba

/21030113140190

Nama/NIM

: Hikmah Olivia

/21030113120091

Judul

: Absorbsi CO2 dengan Larutan NaOH

Semarang,

November 2015

Telah Menyetujui
Dosen Pembimbing

Asisten Pengampu

Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T.

Joe Epridoena Sinulingga

NIP. 197405231998021001

NIM. 21030112130118

ii

RINGKASAN

iii

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Proses Kimia yang
berjudul Absorbsi CO2 dengan Larutan NaOH dengan lancar.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak, maka
laporan ini tidak akan terselesaikan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing materi
Absorbsi CO2 dengan Larutan NaOH.
2. Minaco Rino selaku koordinator asisten Laboratorium Proses Kimia.
3. Joe Epridoena Sinulingga selaku asisten pengampu materi Absorbsi CO2 dengan
Larutan NaOH.
4. Segenap teman-teman yang telah memberikan dukungan baik materil maupun
spiritual.
Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi segenap
pembaca umumnya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk menuju kesempurnaan
laporan ini.

Semarang, Oktober 2015

Penulis

iv

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................................... ii
RINGKASAN............................................................................................................................iii
PRAKATA ................................................................................................................................ iv
DAFTAR ISI .............................................................................................................................. v
DAFTAR TABEL ..................................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ vii
DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah .......................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Percobaan ............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat Percobaan ........................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ 3
2.1 Absorbsi ............................................................................................................................ 3
2.2 Analisis Perpindahan Massa dan Reaksi dalam Proses Absorpsi Gas oleh Cairan .......... 4
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN .................................................................................. 7
3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan ...................................................................................... 7
3.2 Variabel Operasi ............................................................................................................... 8
3.3 Respon Uji Hasil ............................................................................................................... 8
3.4 Prosedur Percobaan ........................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 10

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Proses absorpsi dan desorpsi CO2 dengan pelarut MEA di pabrik ammonia. ...... 3
Gambar 2.2. Mekanisme absorpsi gas CO2 dalam larutan NaOH. ............................................. 4
Gambar 3. 1. Rangkaian Alat Utama

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hampir semua reaksi kimia yang diterapkan dalam industri kimia melibatkan bahan
baku yang berbeda wujudnya, baik berupa padatan, gas maupun cairan. Oleh karena itu, reaksi
kimia dalam suatu industri dapat terjadi dalam fase ganda atau heterogen, misalnya biner atau
bahkan tersier (Coulson, 1996). Walaupun terdapat perbedaan wujud pada bahan-bahan baku
yang direaksikan, namun terdapat satu fenomena yang selalu terjadi. Sebelum reaksi kimia
berlangsung. Maka salah satu atau lebih bahan baku (reaktan) akan berpindah dari aliran
utamanya menuju ke lapisan antarfase/batas atau menuju aliran utama bahan baku yang lain
yang berada di fase yang berbeda.
Absorpsi gas-cair merupakan proses heterogen yang melibatkan perpindahan komponen
gas yang dapat larut menuju penyerap yang biasanya berupa cairan yang tidak mudah menguap
(Franks, 1967). Reaksi kimia dalam proses absorpsi dapat terjadi di lapisan gas, lapisan
antarfase, lapisan cairan atau bahkan badan utama cairan, tergantung pada konsentrasi dan
reaktifitas bahan-bahan yang direaksikan. Untuk memfasilitasi berlangsungnya tahapantahapan proses tersebut, biasanya proses absorpsi dijalankan dalam reactor tangki berpengaduk
bersparger, kolom gelembung (bubble column) atau kolom yang berisi tumpukan partikel inert
(packed bed column). Proses absorpsi gas-cair dapat diterapkan pada pemurnian gas sintesis,
recovery beberapa gas yang masih bermanfaat dalam gas buang atau bahkan pada industri yang
melibatkan pelarutan gas dalam cairan, seperti H2SO4, HCl, HNO3, formadehid dll (Coulson,
1996). Absorpsi gas CO2 dengan larutan hidroksid yang kuat merupakan proses absorpsi yang
disertai dengan reaksi kimia order 2 antara CO2 dan ion OH- membentuk ion CO32-dan H2O.
Sedangkan reaksi antara CO2 dengan CO32- membentuk ion HCO3- biasanya diabaikan
(Danckwerts, 1970; Juvekardan Sharma, 1972). Namun, menurut Rehmet al. (1963) proses ini
juga biasa dianggap mengikuti reaksi order 1 jika konsentrasi larutan NaOH cukup rendah
(encer).
Perancangan reaktor kimia dilakukan berdasarkan pada permodelan hidrodinamika
reaktor dan reaksi kimia yang terjadi di dalamnya. Suatu model matematika merupakan bentuk
penyederhanaan dari proses sesungguhnya di dalam sebuah reaktor yang biasanya sangat rumit
(Levenspiel, 1972). Reaksi kimia biasanya dikaji dalam suatu proses batch berskala
laboratorium dengan mempertimbangkan kebutuhan reaktan, kemudahan pengendalian reaksi,
peralatan, kemudahan menjalankan reaksi dan analisis, dan ketelitian.
1

1.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap jumlah CO2 yang terserap
pada berbagai waktu reaksi?
2. Bagaimana pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap nilai tetapan perpindahan
massa CO2 fase gas (kGa)?
3. Bagaimana pengaruh laju alir NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO2 fase
cair (kLa)?
4. Bagaimana pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap nilai tetapan reaksi antara CO2
dan NaOH (k2)?

1.3 Tujuan Percobaan


Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa mampu menjelaskan mengenai beberapa
hal berikut:
1. Pengaruh laju alir NaOH terhadap jumlah CO2 yang terserap pada berbagai waktu reaksi.
2. Pengaruh laju alir NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO2 fase gas (kGa).
3. Pengaruh laju alir NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO2 fase cair (kLa).
4. Pengaruh laju alir NaOH terhadap nilai tetapan reaksi antara CO2 dan NaOH (k2).

1.4 Manfaat Percobaan


1. Mengetahui pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap jumlah CO2 yang terserap
pada berbagai waktu reaksi.
2. Mengetahui pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap nilai tetapan perpindahan
massa CO2 fase gas (kGa).
3. Mengetahui pengaruh laju alir NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO2
fase cair (kLa).
4. Mengetahui pengaruh laju alir NaOH (atau CO2) terhadap nilai tetapan reaksi antara
CO2 dan NaOH (k2).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Absorbsi
Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia dimana suatu
campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap tertentu sehingga satu atau lebih
komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Absorbsi dapat terjadi melalui dua mekanisme,
yaitu absorbsi fisik dan absorbsi kimia.
Absorbsi fisik merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas dalam
larutan penyerap, namun tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh proses ini adalah absorbsi
gas H2S dengan air, methanol, propilen karbonase. Penyerapan terjadi karena adanya interaksi
fisik. Mekanisme proses absorbsi fisik dapat dijelaskan dengan beberapa model, yaitu: teori dua
lapisan (two films theory) oleh Whiteman (1923), teori penetrasi oleh Dankcwerts dan teori
permukaan terbaharui.
Absorbsi kimia merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas dalam
larutan penyerap yang disertai dengan reaksi kimia. Contoh peristiwa ini adalah absorbsi gas
CO2 dengan larutan MEA, NaOH, K2CO3 dan sebagainya. Aplikasi dari absorbsi kimia dapat
dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik Amonia seperti yang terlihat pada
gambar 2.1.

Gambar 2. 1. Proses absorpsi dan desorpsi CO2 dengan pelarut MEA di pabrik ammonia.

Proses absorpsi dapat dilakukan dalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan
sparger, kolom gelembung (bubble column), atau dengan kolom yang berisi packing yang inert
3

(packed column) atau piringan (tray column). Pemilihan peralatan proses absorpsi biasanya
didasarkan pada reaktifitas reaktan (gas dan cairan), suhu, tekanan, kapasitas, dan ekonomi.

2.2 Analisis Perpindahan Massa dan Reaksi dalam Proses Absorpsi Gas oleh Cairan
Secara umum, proses absorpsi gas CO2 kedalam larutan NaOH yang disertai reaksi
kimia berlangsung melalui empat tahap, yaitu perpindahan massa CO2 melalui lapisan gas
menuju lapisan antarfase gas-cairan, kesetimbangan antara CO2 dalam fase gas dan dalam fase
larutan, perpindahan massa CO2 dari lapisan gas kebadan utama larutan NaOH dan reaksi antara
CO2 terlarut dengan gugus hidroksil (OH-). Skema proses tersebutdapatdilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Mekanisme absorpsi gas CO2 dalam larutan NaOH.

Laju perpindahan massa CO2 melalui lapisan gas:


= ( )

(1)

Kesetimbangan antara CO2 dalam fase gas dan dalam fase larutan :
= . (2)

(2)

dengan H pada suhu 30oC = 2,88 x 10-5 g mole/cm3. atm.


Laju perpindahan massa CO2 dari lapisan gas ke badan utama larutan NaOH dan reaksi antara
CO2 terlarut dengan gugus hidroksil:
= [ ] . 2 . [ ]

(3)

Keadaan batas:

(a)

.2 .[ ]

>>> 1

(b)

.2 .[ ]

<<<

[ ]
.

dengan z adalah koefisien reaksi kimia antara CO2 dan [OH-}, yaitu = 2.
Di fase cair,reaksi antara CO2 dengan larutan NaOH terjadi melalui beberapa tahapan proses:
NaOH(s)

Na+(l) + OH-(l)

(a)

CO2(g)

CO2(l)

(b)

CO2(l) + OH-(l)

HCO3-(l)

(c)

HCO3-(l) + OH-(l)

H2O(l) + CO32-(l)

(d)

CO32-(l) + Na+(l)

Na2CO3(l)

(e)

Langkah d dan e biasanya berlangsung dengan sangat cepat, sehingga proses absorpsi
biasanya dikendalikan oleh peristiwa pelarutan CO2 ke dalam larutan NaOH terutama jika CO2
diumpankan dalam bentuk campuran dengan gas lain atau dikendalikan bersama-sama dengan
reaksi kimia pada langkah c (Juvekar dan Sharma, 1973).
Eliminasi A* dari persamaan 1, 2 dan 3 menghasilkan :

... .2 .[ ]
1+

(4)

.. .2 .[ ]

Jika nilai kL sangat besar, maka:

.2 .[ ]

1, sehingga persamaan di atas


2

menjadi

... .2 .[ ]+

1+

(5)

...2 .[ ]+

Jika keadaan batas (b) tidak dipenuhi, berarti terjadi pelucutan [OH-] dalam larutan. Hal ini
berakibat:
.2 .[ ]

[ ]
.

(6)

Dengan demikian, maka laju absorpsi gas CO2 ke dalam larutan NaOH akan mengikuti
persamaan:

....
...

1+

(7)

Dengan adalah enhancement faktor yang merupakan rasio antara koefisien transfer massa
CO2 pada fase cair jika absorpsi disertai reaksi kimia dan tidak disertai reaksi kimia seperti
dirumuskan oleh Juvekar dan Sharma (1973):

1/2
[ ]
.2 .[ ] 1+ . .
[ [] ]

(8)

Nilai diffusivitas efektif (DA) CO2 dalam larutan NaOH pada suhu 30oC adalah 2.1 x 10-5
cm2/det (Juvekardan Sharma, 1973).
Nilai kGa dapat dihitung berdasarkan pada absorbsi fisik dengan meninjau perpindahan
massa total CO2 ke dalam larutan NaOH yang terjadi pada selang waktu tertentu di dalam alat
absorpsi. Dalam bentuk bilangan tak berdimensi, kGa dapat dihitung menurut persamaan
(Kumoro dan Hadiyanto, 2000):
.2

2 2 1.4003

= 4.0777 (

Dengan =

6(1)

2.

dan =

2 .

1/3

(9)

Secara teoritik, nilai kGa harus memenuhi persamaan:

(2 ,)

..

(32 )
..,

(10)
Jika tekanan operasi cukup rendah, maka plm dapat didekati dengan p = pin-pout. Sedangkan
nilai kla dapat dihitung secara empirik dengan persamaan (Zheng dan and Xu, 1992):
.

0.3

= 0.2258 (

0.5

(
)
.

(11)
Jika laju reaksi pembentukan Na2CO3 jauh lebih besar dibandingkan dengan laju difusi
CO2 ke dalam larutan NaOH, maka konsentrasi CO2 pada batas film cairan dengan badan cairan
adalah nol. Hal ini disebabkan oleh konsumsi CO2 yang sangat cepat selama reaksi sepanjang
film. Adapun, tebal film (x) dapat ditentukan persamaan:

.( )
(32 )..

(12)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan
1. Bahan yang digunakan
a. Kristal Natrium Hidroksida (NaOH)
b. Cairan Gas Karbondioksida (CO2) yang disimpan di tabung bertekanan
c. Udara
d. Aquadest (H2O)
e. Reagent untuk analisis yaitu larutan HCl 0,1 N dan indikator PP dan MO

2. Alat yang digunakan


Rangkaian alat praktikum absorbsi terlihat pada gambar 3.1

Gambar 3. 1. Rangkaian Alat Utama

3.2 Variabel Operasi


a. Variabel tetap
1. Tekanan CO2

2. Suhu

3. Laju alir NaOH

4. Konsentrasi NaOH

b. Variabel berubah
1. Laju alir NaOH

2. Konsentrasi NaOH

3.3 Respon Uji Hasil


Konsentrasi ion CO32- dalam larutan sampel dan CO2 yang terserap.

3.4 Prosedur Percobaan


1. Membuat larutan induk NaOH dengan konsentrasi sesuai variabel sebanyak 10 L

Menimbang massa NaOH sesuai variabel.

Dilarutkan dalam aquadest sebanyak 10 L.

Larutan NaOH ditampung dalam tangki untuk dioperasikan.

2. Menentukan fraksi ruang kosong pada kolom absorpsi

Pastikan kran di bawah kolom absorpsi dalam posisi tertutup.

Alirkan larutan NaOH dari bak penampung 2 ke dalam kolom absorpsi.

Hentikan jika tinggi cairan di dalam kolom tepat setinggi tumpukan packing.

Keluarkan cairan dalam kolom dengan membuka kran di bawah kolom, tampung
cairan tersebut dan segera tutup kran jika cairan dalam kolom tepat berada pada
packing bagian paling bawah.

Catat volume cairan sebagai volume ruang kosong dalam kolom absorpsi = Vvoid.

Tentukan volume total kolom absorpsi, yaitu dengan mengkur diameter kolom (D)
dan tinggi tumpukan packing (H), =

. 2 .
4

Fraksi ruang kosong kolom absorpsi = =

3. Operasi Absorbsi

NaOH dengan konsentrasi tertentu (sesuai variabel) dipompa dan diumpankan ke


dalam kolom melalui bagian atas kolom pada laju alir tertentu (sesuai variabel)
hingga keadaan mantap tercapai.
8

Mengalirkan gas CO2 melalui bagian bawah kolom. Ukur beda ketinggian cairan
dalam manometer 1 dan manometer 2 jika aliran gas sudah steady.

Mengambil 10 mL sampel cairan dari dasar kolom absorpsi tiap 1 menit selama 10
menit dan dianalisis kadar ion karbonat atau kandungan NaOH bebasnya.

Mengulangi percobaan untuk nilai variabel kajian yang berbeda.

4. Menganalisis sampel

Sebanyak 10 mL sampel cairan ditempatkan dalam gelas erlenmeyer 100 mL.

Menambahkan indikator fenolfthalein (PP) sampai merah jambu, dan titrasi sampel
dengan larutan HCl 0.1 N sampaiwarna merah hampir hilang (kebutuhan titran = a
mL), maka mol HCl = a x 0,1 mmol.

Menambahkan 2-3 tetes indikator metil jingga (MO), dan titrasi dilanjutkan lagi
sampai warna jingga berubah menjadi merah (kebutuhan titran=b mL), atau
kebutuhan HCl = b x 0.1 mmol.

Jumlah NaOH bebas = (2a-b) x 0.1 mmol di dalam 10 mL sampel.

Konsentrasi NaOH bebas = (2a-b) x 0.01 mol/L.

DAFTAR PUSTAKA
Coulson J M and Richardson J F 1996 Chemical Engineering: Volume 1: Fluid flow, heat
transfer and mass transfer (London: Butterworth Heinemann)
Danckwerts P V 1970 Gas Liquid Reactions (New York: McGraw-Hill Book Company, Inc)
Danckwerts P V and Kennedy B E 1954 Kinetics of liquid-film process in gas absorption.
Part I: Models of the absorption process Trans. Inst. Chem. Eng. 32 S4952
Franks R G E 1967 Mathematical modeling in chemical engineering (New York: John Wiley
and Sons, Inc)
Juvekar V A and Sharma M . 1972 Absorption of CO, in suspension of lime Chem. Eng. Sci.
28 82537
Kumoro and Hadiyanto 2000 Absorpsi Gas Karbondioksid dengan Larutan Soda Api dalam
Ungun Tetap 24 18695
Levenspiel O 1972 Chemical Reaction Engineering vol 19 (New York: John Wiley and Sons,
Inc) Online: http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/ie990488g
Rehm T R, Moll A J and Babb A L 1963 Unsteady State Absorption ofCarbon Dioxide by
Dilute Sodium Hydroxide Solutions Am. Inst. Chem. Eng. J. 9 7605
Zheng Y and Xu X 1992 Study on catalytic distillation processes. Part I. Mass transfer
characteristics in catalyst bed within the column 70 45964

10