Anda di halaman 1dari 12

Gerakan Tanah

Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang
terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis
seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian
longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu.
Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri,
sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material
tersebut. Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang
memengaruhi suatu lereng yang curam.

Gerakan massa dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :


1. Creeping (rayapan tanah), yaitu gerakan massa tanah sepanjang bidang
batas dengan batuan induknya, gerakannya sangat lambat, biasanya terjadi
di area yang sangat luas.
2. Mudflow (aliran lumpur), yaitu gerakan massa yang relatif cair, gerakannya
relatif cepat. Contohnya aliran lahar.
3. Debrisflow (aliran bahan rombakan), yaitu gerakan massa berupa tanah dan
batuan yang relatif kering dan lepas-lepas dan gerakannya relatif cepat.
4. Rockfall (jatuhan bahan rombakan), yaitu gerakan massa berupa batuan
yang jatuh bebas karena adanya tebing terjal menggatung (hanging clif),
gerakannya cepat.
5. Debris Fall (Jatuhan bahan rombakan), yaitu gerakan massa berupa tanah
dan batuan yang jatuh bebas karena adanya tebing terjal menggantung,
gerakannya cepat.
6. Rock Slide (luncuran batuan), yaitu gerakan massa berupa batuan yang
meluncur sepanjang bidang rata yang miring misalnya sepanjang bidang
perlapisan batuan yang gerakannya cepat.
7. Debris Slide (luncuran bahan rombakan), yaitu gerakan massa beruoa tanah
dan batuan yang meluncur sepanajng bidang perlapisan batuan, gerakannya
cepat.
8. Slump (nendatan), yaitu gerakan massa biasanya berupa tanah yang relatif
tebal yang bergerak melalui bidang lengkung, gerakannya realtif cepat.
9. Subsidence (amblesan), yaitu gerakan massa tanah dan batuan yang relatif
vertikal, gerakannya bisa lambat dan bisa cepat

Beberapa penyebab Gerakan

erosi yang disebabkan aliran air permukaan atau air hujan, sungaisungai atau gelombang laut yang menggerus kaki lereng-lereng bertambah
curam

lereng dari bebatuan dan tanah diperlemah melalui saturasi yang


diakibatkan hujan lebat

gempa bumi menyebabkan getaran, tekanan pada partikel-partikel mineral


dan bidang lemah pada massa batuan dan tanah yang mengakibatkan
longsornya lereng-lereng tersebut

gunung berapi menciptakan simpanan debu yang lengang, hujan lebat dan
aliran debu-debu

getaran dari mesin, lalu lintas, penggunaan bahan-bahan peledak, dan


bahkan petir

berat yang terlalu berlebihan, misalnya dari berkumpulnya hujan atau salju

Penanggulangan Gerakan Massa

Menghindari untuk mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian
atas di dekat pemukiman

Pembuatan metode terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila


membangun permukiman

Antisipasi jika terjadi retakan tanah dengan menutup dan dipadatkan agar air
tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.

Tidak melakukan penggalian di bawah lereng terjal.

Tidak menebang pohon di lereng.

Tidak membangun rumah di bawah tebing.

Memperhatikan geometri pemotongan tebing jalan.

Menghindari rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

Lapsing Bencana Gerakan Tanah Di Desa


Haurgeulis, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten
Majalengka, Provinsi Jawa Barat
1. Lokasi dan Waktu Kejadian :
Lokasi bencana gerakan tanah terletak di Blok Handarusa, Desa Haurgeulis,
Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Secara
geografis terletak pada koordinat 108o 17 2,58 BT dan 6o 56 49,62 LS. Gerakan
tanah terjadi pada hari sabtu 8 Maret 2014, gerakan tanah serupa pernah terjadi
sekitar 30 tahun yang lalu (informasi masyarakat setempat).

2. Dampak Gerakan Tanah :


Gerakan tanah menyebabkan :

Terjadi retakan dan amblesan di bukit Blok Handarusa, luas yang terancam
gerakan tanah sekitar 3,1 Hektar,

Beberapa segmen jalan desa retak dan ambles,

Sebagian kecil pemukiman bagian timur laut Kampung Haurgeulis terancam.

3. Kondisi Daerah Penyelidikan :

Lokasi bencana gerakan tanah terdapat pada morfologi dengan kemiringan


lereng landai agak terjal.

Batuan di lokasi bencana dan sekitarnya disusun oleh batuan Formasi


Cinambo (Tomcl) yang terdiri dari grewake, batupasir gampingan, tuf,
lempung, lanau (Peta geologi lembar Arjawinangun, Djuri, Puslitbang
Geologi, 1995). Bagian permukaan dari satuan batuan ini sudah mengalami
pelapukan berupa tanah lempung pasiran sampai lempung lanauan
berwarna coklat kemerahan, tebal 1 - 10 m, sangat lepas, dan porous
(mudah menyerap air), bagian bawahnya kontak dengan batu lempung,
bidang kontak merupakan bidang gelincir gerakan tanah.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Majalengka


(Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah
gerakan tanah termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah,

artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi


gerakan tanah. Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan
Tanah pada Bulan Maret 2014, Kabupaten Majalengka, daerah ini termasuk
kedalam Zona Potensi Terjadi Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, pada zona
ini sangat berpotensi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas
normal.

Tata guna lahan daerah bencana merupakan kebun campuran. Pemukiman


berada dibawahnya

4. Jenis Gerakan Tanah


Gerakan tanah yang terjadi termasuk kedalam gerakan tanah tipe rayapan.

5. Kondisi Gerakan Tanah :


Gerakan tanah berupa rayapan tanah yang bergerak lambat, mengakibatkan
retakan dan amblasan pada lahan diatas pemukiman, retakan mencapai 5 10 cm
dan amblasan mencapai kedalaman 50 cm, terjadi retakan dan amblesan kecil pada
beberapa segmen jalan desa. Apabila gerakan tanah ini tidak segera ditanggulangi
dapat menyebabkan bencana yang lebih besar, antara lain lingkungan rusak dan
sebagian pemukiman di Kampung Haurgeulis sebelah timur kemungkinan dapat
terlanda gerakan tanah.

6. Faktor penyebab terjadinya Gerakan tanah :

Curah hujan yang tinggi,

Sifat tanahnya yang lepas (gembur) sehingga tanah menjadi tidak stabil,

Kelerengan yang landai agak terjal dan adanya bidang kontak antara
lapuisan tanah dan lempung,

Saluran saluran air di wilayah ini tidak kedap air, maka air mudah meresap
ke dalam tanah, sehingga memperlemah daya ikat tanah, menyebabkan
tanah mudah bergerak,

Lahan pemukiman dibagian atas sangat basah.

7. Mekanisme Gerakan Tanah :

Bencana rayapan dipicu oleh curah hujan yang tinggi menjenuhi tanah yang
gembur (mudah menyerap air), dan didukung oleh kelerengan morfologi daerahnya
yang agak terjal serta adanya batuan lempung dibawah lapisan tanah, sehingga
batas keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah. Rayapan tanah akan
semakin berkembang karena adanya resapan air permukaan. Rayapan tanah
dikhawatirkan akan lebih berkembang apabila retakan tanah tidak ditutup, aliran air
permukaan tidak dikendalikan, saluran air tidak kedap air dan terjadi curah hujan di
atas normal.

Peta Kawan Rawan Bencana Geraka tanah Kabupaten Majalengka

Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Di Sibabangun,


Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera
Utara
1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:
Banjir bandang terjadi pada Sungai Sosopan di Desa Sibio-bio dan Desa Muara
Sibuntuon, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera
Utara dengan koordinat 01o 32' 46,8" LU dan 99o 00' 33,8" BT, 01o 32' 48,7" LU dan
99o 00' 55,4" BT, 01o 32' 54,5" LU dan 99o 00' 56,9" BT yang terjadi pada hari Jum'at
tanggal 21 November 2014 pukul 20.00 WIB, setelah terjadi hujan selama 3 hari
berturut-turut.

2.

Kondisi daerah bencana:

Morfologi:

Secara umum morfologi bagian atas merupakan perbukitan dengan kemiringan


agak terjal sampai terjal, sedangkan pada bagian bawah relative landai dimana
mengalir Sungai Sosopan. Daerah bencana berada pada ketinggian diatas 200
mdpl.

Geologi:

Berdasarkan Peta Geologi lembar Padangsidempuan dan Sibolga, Sumatera (J.A.


Aspden dkk, 1982), batuan pada daerah bencana tersusun oleh batuan dari Satuan
Batuan Vulkanik Angkola yang terdiri dari andesit hornblende, basalt, breksi
vulkanik dan aglomerat (Tmvak). Tanah pelapukan berupa lanau lempungan
berwarna coklat terang sampai coklat kemerahan.

Keairan:

Kondisi keairan di lokasi bencana berupa air permukaan dari Sungai Sosopan,
sedangkan air tanahnya berupa air tanah dangkal (3 - 5 m).

Tata guna lahan:

Tata guna lahan pada bagian atas berupa kebun campuran, hutan,pemukiman
sedangkan pada bagian bawah berupa pemukiman dan sawah.

Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan
November 2014 di Sumatera Utara (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah dan banjir bandang berada pada zona
kerentanan gerakan tanah menengah - tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi
gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang
berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami
gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

3. Kondisi bencana dan akibat yang ditimbulkan:


Banjir bandang yang diawali dengan beberapa tanah longsor di bangian hulu dan
beberapa titik pada Sungai Sosopan dengan panjang 2 - 15 m dan lebar 10 - 20 m
yang mengarah ke arah Sungai Sosopan dan menutupi jalan penghubung Desa
Muara Sibuntuon dan Desa Sibio-bio serta menutupi pinggir dari sungai Sosopan.
Banjir bandang mengalir hingga hilir dan meluap.

Dampak bencana:

5 (lima) orang dari Desa Muara Sibuntuon meninggal dunia.

2 (dua) rumah hanyut terbawa banjir bandang

3 (tiga) rumah rusak

Jalur jalan penghubung Desa Muara Sibuntuon dan Desa Siboa-boa tertutup
material longsoran.

Pada saat dilakukan pemeriksaan gerakan tanah bersama aparat pemerintahan dan
penduduk setempat, sedang dilakukan pembersihan jalan

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:


Secara umum gerakan tanah dan banjir bandang disebabkan oleh faktor-faktor
sebagai berikut:

Hujan yang turun dengan durasi lama terutama di daerah bagian hulu sungai.

Batuan penyusun yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air dan luruh
jika terkena air.

Kemiringan lereng yang agak terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

Longsoran tebing yang materialnya menutupi bagian sisi sungai yang


menghambat aliran sungai.

5. Mekanisme terjadi gerakan tanah


Gerakan tanah di lokasi ini adalah jenis longsoran bahan rombakan dan banjir
bandang. Dimulai dengan terjadinya longsoran-longsoran bahan rombakan pada
tebing di sepanjang Sungai Sosopan yang materialnya bersama batang-batang
pohon menutupi jalan serta aliran sungai. Akibat hujan yang terjadi secara terus
menerus mengakibatkan volume air sungai bertambah dengan arus sungai yang
kuat sehingga menghanyutkan rumah-rumah yang berada di sepanjang Sungai
Sosopan.

Daftar Pustaka
http://www.vsi.esdm.go.id/