Anda di halaman 1dari 16

TUGAS GEOFISIKA

Membuat Laporan Praktikum


PENERAPAN CARA-CARA MENGGUNAKAN ALAT GEOFISIKA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE 1D SCHLUMBERGER DAN 2D WENNER
Dosen : Ibu Annisa Rachmat
Oleh :
Budi Permadi
Ceria Zunena
Dylan Dwidi Yuniar
Iqbal Maulana Yusuf
Nanda Rizki Pratama
Natanael Oktaviano T
Putri Nofayanti
Roni Mukharom Putra
Akbar Fajar Rachmayanto
Indra Nathsir Idris

11051307
11051308
11051312
11051333
11051342
11051343
11051346
11051351
11051303
11051330

POLITEKNIK GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN MINERAL AGP


BANDUNG
Jl. Sulaksana No. 21 Bandung ( 022 7276638 )

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Geofisika adalah ilmu yang mempelajari bumi dengan menggunakan
metode fisika dan logika geologi untuk mempelajari struktur bawah
permukaan bumi. Dalam pengaplikasiannya metode geofisika dapat
menggunakan sumber-sumber pengukuran yang berbeda. Salah satu
sumber yang digunakan dapat berupa sumber kelistrikan. Metode yang
menggunakan sumber kelistrikan ini salah satunya adalah metode
resistivitas. Metode resistivitas adalah salah satu metode aktif geolistrik
yang digunakan untuk mengetahui nilai resistivitas dari lapisan atau batuan,
sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer, yaitu
lapisan batuan yang merupakan lapisan pembawa air. Umumnya lapisan
akifer yang dicari adalah yang diapit oleh lapisan batuan kedap air pada
bagian bawah dan bagian atas. Geolistrik sendiri dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya lapisan tambang yang mempunyai kontras resistivitas
dengan lapisan batuan pada bagian atas dan bawahnya. Selain itu, dapat
digunakan juga untuk mengetahui perkiraan kedalaman bedrock.
Untuk pondasi bangunan. Metode Geolistrik juga bisa untuk menduga
adanya panas bumi di bawah permukaan. Mengingat besarnya sumber
daya alam di Indonesia, rasanya sangat penting untuk memahami tentang
metode Geolistrik dan langkah-langkah dalam menggunakan metode ini.
Oleh karena itu makalah tentang Geolistrik ini dibuat.
Tujuan :
Percobaan ini dilakukan agar praktikan dapat:
1. Memahami konsep resistivitas dengan menggunakan konfigurasi
Wenner, Schlumberger, dan dipole-dipole.
2. Memahami cara pengambilan data di lapangan, pengolahan data, dan
interpretasi data.

Manfaat :
1. agar dapat mengetahui harga resistivitas batuan di tempat percobaan
dilaksanakan
2. dapat mengolah data yang didapatkan di lapangan dengan software
software geofisika.
3.serta dapat menginterpretasi dari hasil pengol ahan data.

Teori Dasar
Geolistrik merupakan salah satu metode Geofisika untuk mengetahui
perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan
cara mengalirkan arus listrik DC yang mempunyai tegangan tinggi ke
dalam tanah. Injeksi arus listrik ini menggunakan 2 buah elektroda arus A
dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin
panjang jarak elektroda AB akan meyebabkan aliran arus listrik bisa
menembus lapisan batuan lebih dalam. Dengan adanya aliran arus listrik
tersebut maka akan menimbulkan tegangan listrik dalam tanah. Tegangan
listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur dengan menggunakan
multimeter yang terhubung melalui 2 buah elektroda tegangan M dan N
yang jaraknya lebih pendek dari jarak elektroda AB. Bila posisi jarak
elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang terjadi
pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang
ikut terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih besar (Broto dan
Afifah, 2008).
Pengukuran menggunakan konfigurasi elektroda Wenner dan Schlumberger
dilakukan dengan memindahkan masing-masing elektroda sesuai dengan
aturan konfigurasi yang digunakan.

Dari pengukuran dapat diperoleh nilai resistivitas semua dengan melakukan


perhitungan menggunakan persamaan:
a =k
dimana k adalah faktor geometri, untuk konfigurasi Wenner dihitung
dengan persamaan:
k=2
sedangkan untuk faktor geometri konfigurasi Schlumberger dihitung
dengan persamaan:
k=
Pada konfigurasi elektroda Wenner, kedua elektroda arus diletakkan di luar
elektroda potensial. Jarak antar elektroda mempunyai jarak yang sama
panjang sebesar a. Sedangkan pada konfigurasi elektroda Schlumberger,
kedua elektroda aru diletakkan di luar elektroda potensial. Setengah jarak
antara 2 elektroda arus sebesar L, sedangkan setengah jarak antara 2
elektroda potensial l(Gokdi, 2012).
Metode resistivitas imaging juga biasa dikenal sebagai resistivitas
mapping-sounding. Hal ini terjadi karena pada metode ini bertujuan untuk
mempelajari variasi resistivitas di bawah permukaan bumi secara vertical
maupun secara horizontal. Metode resistivi tas imaging yang terkenal
adalah metode resistivitas konfigurasi Dipole-dipole, Wenner, Pole-dipole,
dan Pole-pole (Andriyani, 2010).

Datum point atau titik pengukuran di bawah permukaan lintasan


pengukuran merupakan titik tengah dari total spasi elektroda arus dan
tegangan. Besarnya nilai datum point dapat diperoleh dengan cara sebagai
berikut:

Metodologi
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 22 Desember 2015
tiga kali. yang bertempat di Lapangan Merah Universitas Padjajaran pada
pukul 09.00 12.0007.00 -10.30 WIB dilakukan percobaan dengan
konfigurasi Schlumberger dan Wenner. Pertemuan keduA pada hari rabu,
23 Desember 2015 di Gedung Fakultas Geologi UNPAD pukul 09.00-12.00
WIB membahas dan melakukan processing data dari data yang didapatkan
dari hasil praktikum dan pembelajaran software pengolah data berupa
Ip2win .

Peralatan
Pada praktikum ini peralatan yang digunakan ada , yaitu aki,
resistivitymeter, elektroda, palu, kabel penghubungkan (roll), meteran. Aki
digunakan sebagai sumber tegangan DC. Resistivitymeter adalah alat yang
digunakan untuk mengetahui nilai resistivitas lapisan atau batuan.
Elektroda digunakan sebagai elektroda arus dan elektroda potensial,
sebagai elektroda arus digunakan untuk menginjeksi arus ke dalam bumi
dan sebagai elektroda potensial digunakan untuk membaca beda
potensialnya. Palu digunakan untuk menancapkan elektroda ke tanah.
Kabel penghubung digunakan untuk menghubungkan 9 elektroda dan
resistivitymeter. Meteran digunakan untuk menentukan jarak elektroda
sesuai konfigurasi yang digunakan. Payung digunakan untuk menutupi
resistivitymeter dari sinar matahari agar angka yang terbaca oleh alat dapat
terlihat dengan jelas. Berikut gambar dari peralatan yang digunakan :

Gambar : Aki

Gambar : Kabel

Gambar : alat 2D

Gambar : Baterai.

Gambar : Sambungan kabel ke alat 2D agar data masuk ke laptop

Proses Akuisisi
Umumnya metoda geolistrik yang sering digunakan adalah yang
menggunakan 4 buah elektroda yang terletak dalamsatu garis lurus serta
simetris terhadap titik tengah, yaitu 2 buah elektroda arus (AB) di bagian
luar dan 2 buah elektroda tegangan (MN) di bagian dalam. Dengan asumsi
bahwa kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus oleh arus listrik ini
sama dengan separuh dari jarak elektroda arus (yang dimisalkan dengan
elektroda arus A dan elektroda arus B) dapat bernilai AB/2 (apabila
digunakan arus listrik DC murni). Sehingga dapat diperkirakan pengaruh
dari injeksi aliran arus listrik ini berbentuk setengah bola dengan jari-jari
AB/2 (Azhar, 2004) .
Kombinasi dari jarak AB/2, jarak MN/2, besarnya arus listrik yang
dialirkan serta tegangan listrik yang terjadi akan didapat suatu harga
tahanan jenis semu (Apparent Resistivity). Disebut tahanan jenis semu
karena tahanan jenis yang terhitung tersebut merupakan gabungan dari
banyak lapisan batuan di bawah permukaan yang dilalui arus listrik. Bila
satu set hasil pengukuran tahanan jenis semu dari jarak AB terpendek
sampai yang terpanjang tersebut digambarkan pada grafik logaritma ganda
dengan jarak AB/2 sebagai sumbu-X dan tahanan jenis semu sebagai
sumbu Y, maka akan didapat suatu bentuk kurva data geolistrik. Dari kurva
data tersebut bisa dihitung dan diduga sifat lapisan batuan di bawah
permukaan. dan kurva bantu sebagai acuan untuk mencari resisitivitas dan
kedalaman daerah penelitian.

1D Metode Schlumberger
Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,
sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan
kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak
MN hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar
dari 1/5 jarak AB. Kelebihan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah
kemampuan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan
pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu
ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2. Agar pembacaan tegangan
pada elektroda MN bisa dipercaya, maka ketika jarak AB relatif besar
hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar (Bisri, 1991).
proses akuisasi data resistivitas menggunakan konfigurasi Schlumberger
dengan teknik horizontal electrical sounding, sehingga akan diperoleh nilai
resistivitas lapisan-lapisan batuan bawah permukaan secara horizontall.
Pengukuran geolistrik dimulai dari titik tengah lintasan, yaitu dengan
menyusun empat buah elektroda dengan konfigurasi Schlumberger di
tengah-tengah lintasan dan mengatur posisi resistivity meter di pertengahan
lintasan. Setelah arus diinjeksikan ke dalam tanah melalui resistivity meter,
parameter yang diukur dan yang dicatat yaitu arus listrik (I) dan beda
potensial (V) yang terbaca dari resistivity meter. Untuk pengukuran
geolistrik selanjutnya, elektroda arus AB dipindahkan sesuai dengan jarak
yang telah ditentukan, sedangkan elektroda potensial MN tidak dipindah

dan hanya dipindahkan jika jarak MN/2 adalah 1/5 jarak AB/2. Data
lapangan yang diperoleh yaitu beda potensial (V), arus listrik (I) dan K.
Berikut ini adalah contoh rangkaian elektroda dan resistivity meter pada
pengukuran pertama, dimana elektroda beda potensial dilambangkan
dengan MN dan elektroda arus adalah AB, dengan AB/2 = 3 meter dan
MN/2 = 1 meter.

2D Metode Wenner
Pada praktikum ini digunakan metode geolistrik dengan konfigurasi
wenner, tepatnya konfigurasi wenner alpha dengan langkah kerja sebagai
berikut,dengan peralatan seperti yang tertera diatas. Kemudian meteran
dipasang pada daerah yang akan digunakan untuk eksperimen kemudian
dipatok setiap ujungnya. Setelah itu dipasang elektroda arus C1,C2 dan
elektroda potensial P1,P2 dengan spasi a= 5 meter, luas lapangan yang
akan disurvei sepanjang 155 meter dengan 32 elektroda.

PEMBAHASAN
Pengolahan Data Geolistrik Konfigurasi Shlumberger dengan menggunakan
IP2win

Software ip2win merupakan software yang digunakan untuk mengolah data


1D. software ini cocok digunakan untuk mengolah data schlumberger.
Selain IP2win software yang lain ialah progress. Alur pengolahan data
schlumberger menggunakan IP2win sebagai berikut :

Buka IP2win klik new kemudian masukan nilai AB/2 dan MN. Data
yang diperoleh dari lapangan ialah AB/2, MN/2 dan rho karena IP2win
meminta masukan MN maka nilai MN/2 dilapangan dikalikan 2.


Langkah ke 2 ialah memilih konfigurasi MN yang digunakan karena
menggunakan MN/2 maka gunakan nilai MN 2. Kurva warna hitam
merupakan data lapangan sedangkan kurva warna biru merupakan kurva
marge atau penyatuan. Kemudian klik oke.

Langkah ketiga Menentukan nilai rho dan ketebalan masing masing


layer. Gambar dibawah ini merupakan tampilan pengolahan data lapanagn
dengan kurva pendekatan secara komputasi. Gariswarna biru merupakan
nilai rho dari komputasi, kurva warna merah merupakan kurva sintesis dan
warna hitam merupakan data lapangan. Kolom sebelah kanan merupakan
nilai rho (), ketebalan (h) dan kedalaman (d) dan (alt) kedalaman namun
nilainya negatif. Langkah ini merupakan langkah yang penting dalam
menentukan ketebalan dan nilai rho. Jika pengeolahan dilakuakn dengan
baik maka akan menghasilkan nilai error yang kecil.


Langkah selanjunya menampilkan penampang dua dimensi. Langkah
ini memerlukan data VES (satu dimensi) lebih dari satu. Caranya klik fileadd file-pilih data ves yang digunakan-open save.

Gambar dibawah merupakan hasil dari penggabungan dua profil


cross section. Warna pada gamabr tersebut menunjukan nilai rho, sumbu
verikan menunjukan nilai kedalaman dan sumbu horizontal menunjukan
nilai jarak antar titik. Untuk melihat profil pseudo-section maka pilih
section-pseudo section. Jika ingin menampilkan cross section dan pseudo
section maka pilih both section.

PENUTUP
Kesimpulan
1. 1D Metode Schlumberger
Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,
sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan
kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak
MN hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar
dari 1/5 jarak AB. Kelebihan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah
kemampuan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan
pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu
ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2. Agar pembacaan tegangan
pada elektroda MN bisa dipercaya, maka ketika jarak AB relatif besar
hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar (Bisri, 1991).
2. 2D Metode Wenner
Pada praktikum ini digunakan metode geolistrik dengan konfigurasi
wenner, tepatnya konfigurasi wenner alpha dengan langkah kerja sebagai
berikut,dengan peralatan seperti yang tertera diatas. Kemudian meteran
dipasang pada daerah yang akan digunakan untuk eksperimen kemudian
dipatok setiap ujungnya. Setelah itu dipasang elektroda arus C1,C2 dan
elektroda potensial P1,P2 dengan spasi a= 5 meter, luas lapangan yang
akan disurvei sepanjang 155 meter dengan 32 elektroda.

3. Software ip2win merupakan software yang digunakan untuk mengolah


data 1D. software ini cocok digunakan untuk mengolah data schlumberger.