Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kolonoskopi saat ini merupakan salah satu alat diagnostik dan teraupetik yang
sangat penting untuk menangani pasien-pasien dengan penyakit saluran pencernaan
bagian bawah. Selain mempunyai kemampuan diagnostik visual, alat kolonoskopi bisa
digunakan untuk pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk konfirmasi histologis dan
juga bisa digunakan sebagai alat terapi pada kasus polip atau reseksi kanker secara dini
(Chan, 2011). Selain itu alat kolonoskopi telah mengalami perubahan dari yang tadinya
sangat kaku menjadi lebih lentur sehingga lebih nyaman bagi pasien. Oleh karena itu alat
kolonoskopi saat ini sudah mempunyai akurasi yang tinggi dalam mendeteksi awal suatu
penyakit saluran pencernaan bagian bawah terutama pada kasus keganasan (Simadibrata,
2008).
Kolonoskopi merupakan metode standar untuk memeriksa usus besar. Ketepatan
diagnostik dan keamanan terapi kolonoskopi sangat tergantung pada kualitas
pembersihan kolon atau persiapan usus. Persiapan usus yang kurang telah terbukti secara
signifikan menghalangi kemampuan diagnostik kolonoskopi standar. Penelitian telah
melaporkan bahwa deteksi tumor kecil atau polip berkurang secara signifikan pada
pasien dengan persiapan usus yang kurang bagus. Sementara beberapa penelitian lain
melaporkan bahwa persiapan usus kurang baik akan mengurangi deteksi tumor kolon
kecil (polip 9 mm). Oleh karena itu persiapan kebersihan usus yang baik merupakan
persyaratan untuk suksesnya tindakan kolonoskopi.
1.2 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Kolonoskopi
2. Untuk Mengetahui Indikasi Kolonoskopi
3. Untuk Mengetahui Kontraindikasi Kolonoskopi
4. Untuk Mengetahui Persiapan Tindakan Koloskopi
5. Untuk Mengetahui Prosedur Tindakan Koloskopi
6. Untuk Mengetahui Komplikasi Tindakan Kolonoskopi

BAB II
PEMBAHASAN
1

2.1 Pengertian
Kolonoskopi adalah suatu pemeriksaan kolon (usus besar) mulai dari anus, rectum,
sigmoid, kolon desendens, kolon transversum, kolon asendens, sampai dengan sekum
dan ileum terminale. Selama kolonoskopi dilakukan, tube kamera teleskop fleksibel yang
halus dimasukkan melalui anus dan masuk ke dalam menuju rektum dan kolon.
Kolonoskopi biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan rutin untuk kanker
kolorektum atau pada pasien yang memiliki riwayat kolorektal polip. Ini juga dilakukan
untuk mengevaluasi gejala masalah usus seperti perubahan kebiasaan buang air besar
atau pendarahan.
Tujuan pemeriksaan bagian dalam usus besar ini adalah bertujuan untuk
menegakkan diagnosa pemeriksaan sebelumnya. Meneliti suatu penyakit pada mukosa
kolon, rectum, polip di usus besar, atau follow up operasi atau evaluasi kanker pada usus
besar, menilai keganasan atau evaluasi polipektomi. Untuk mengevaluasi adanya
kelainan pada saluran cerna bagian bawah dan untuk pemeriksaan lebih lanjut adanya
perdarahan yang cukup lama dari anus.
2.2 Indikasi
a.
b.
c.
d.

Menyelidiki darah dalam tinja


Nyeri perut
Diare atau adanya perubahan kebiasaan BAB
Adanya suatu kelainan yang ditemukan pada sinar x kolon atau tomografi

terkomputerisasi ( CT-SCAN )
e. Pasien dengan riwayat polip atau kanker usus besar
f. Riwayat keluarga dengan beberapa jenis masalah kolon yang mungkin terkait dengan
kanker usus besar ( seperti ulcerative colitis dan polip kolon
g. Terapeutik seperti polipektomi, pengambilan benda asing

2.3 Kontraindikasi
a.
b.
c.
d.

Infark jantung dan kardiopulmoner berat


Penyakit anal atau perianal
Aneurisma aorta abdominal atau aneurisma iliakal
Nyeri perut demam, distensi perut dan adanya penurunan tekanan darah sewaktu
pembersihan kolon
2

e. Kehamilan trimester I, penyakit radang panggul


2.4 Persiapan
Kolonoskopi merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa kelainankelainan yang terjadi pada kolon. Persiapan yang dilakukan untuk tindakan kolonoskopi
adalah kolon harus bersih dari feses sehingga visualisai mukosa kolon dapat dilakukan
dengan baik dan menjadi hal yang harus diperhatikan karena dengan persiapan yang baik
akan menentukan kualitas kolonoskopi yang dilakukan. Persiapan kolon yang kurang
baik dapat menyebabkan hasil pemeriksaan yang kurang baik juga, terjadinya
pembatalan tindakan, waktu tindakan yang lebih lama, serta meningkatkan angka
terjadinya komplikasi.
Persiapan kolon yang ideal adalah pembersihan kolon dari materi feses dengan
cepat, mudah tanpa menyebabkan perubahan makroskopis dan mikroskopis mukosa
kolon, dapat dikonsumsi dan dievaluasi dalam waktu singkat, nyaman dan tidak
menyebabkan gangguan elektrolit (Simadibrata, 2011).
Secara umum klien diminta untuk diet rendah serat selama 1-2 hari sebelum
pemeriksaan, istilah yang sering digunakan adalah makan bubur kecap, malam sebelum
tindakan klien diberi obat laksan dan diberikan enema 1-2 jam sebelum tindakan
kolonoskopi.
a. Malam hari sebelum tindakan, makan malam terakhir jam 19.00 WIB (6 - 8 jam
sebelum tindakan dilakukan)
b. Jam 24.00 WIB minum Dulcolax 4 tablet
c. Pasien puasa, pada pagi hari sebelum tindakan, hanya boleh minum air putih saja atau
air manis
d. Tidak diperbolehkan minum air susu
e. Pagi hari buang air besar terlebih dahulu sebelum datang ke ruangan pemeriksaan
f. Sesuai jam perjanjian pasien datang ke Unit Endoskopi untuk minum cairan PEG
sebanyak 1 liter untuk membersihkan sisa kotoran yang masih ada di usus besar
g. Setelah minum cairan PEG pasien akan buang air besar, tunggu sampai 2 jam atau
sampai cairan feses berwarna sama dengan cairan PEG yang diminum. Untuk
menunjukkan daerah usus sudah bersih dari sisa-sisa kotoran.
2.5 Prosedur

Pada saat tindakan, dokter biasanya memberikan obat suntikan untuk relaksasi
untuk mengurangi rasa sakit tidak menyenangkan selama tindakan, yang kadang-kadang
hanya berupa rasa kembung, tekanan di perut atau kram perut ringan. Pasien
diinstruksikan untuk berbaring terlentang atau menghadap kesamping. Kemudian lensa
serat optic akan dimasukan perlahan-lahan kedalam usus besar melalui anus ( dubur )
yang sebelumnya diberi jelly bagian luar scope.
Bagian dalam saluran usus besar akan terpantau secara jelas dan cermat oleh
kamera pada ujung serat optic, yang akan menyalurkan gambar hasil pemeriksaan ke
layar monitor untuk dianalisa oleh dokter dan gambar daapat direkam dalam rekaman
video tape. Prosedur ini biasanya memakan waktu sekitar 20 menit atau bias lebih
dilanjutkan dengan tindakan pengangkatan polip. Bila dalam pemeriksaan ditemukan
adanya polip atau bagian usus besar yang harus diperiksa lebih detail, dokter akan
melakukan pengambilan polip atau contoh jaringan pada bagian yang dicurigai adanya
kelainan tersebut, dengan menggunakan alat yang sama. Contoh jaringan, selanjutnya
akan diperiksa di laboratorium patologi-anatomi untuk menentukan ada tidaknya sel-sel
ganas.
Setelah tindakan Pasien diistirahatkan/ berbaring 1 jam untuk menghilangkan
pengaruh obat penenang yang diberikan. Kemudian dokter akan menerangkan Hasil
pemeriksaan secara jelas dengan menggunakan foto atau hasil rekaman Video Tape.
Dianjurkan pasien waktu pulang tidak sendiri (ditemani anggota keluarga atau orang
lain), terutama jangan mengemudikan kendaraan bermotor dalam waktu 4 jam setelah
tindakan Kolonoskopi. Setelah 2 jam kemudian pasien bisa segera makan. Selain itu
aktifitas dan diet diatur, bila saat dilaksanakan tindakan Kolonoskopi dilakukan juga
pengangkatan jaringan atau Polip (Polipektomi).

2.6 Komplikasi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Gangguan kardiovaskuler dan pernafasan


Perforasi kolon
Perdarahan
Reaksi vasovagal
Distensi pasca kolonoskopi
Phlebitis
Infeksi
4

h. Volvulus

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kolonoskopi adalah suatu pemeriksaan kolon (usus besar) mulai dari anus, rectum,
sigmoid, kolon desendens, kolon transversum, kolon asendens, sampai dengan sekum
5

dan ileum terminale. Selama kolonoskopi dilakukan, tube kamera teleskop fleksibel yang
halus dimasukkan melalui anus dan masuk ke dalam menuju rektum dan kolom.
Kolonoskopi biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan rutin untuk kanker
kolorektum atau pada pasien yang memiliki riwayat kolorektal polip. Ini juga dilakukan
untuk mengevaluasi gejala masalah usus seperti perubahan kebiasaan buang air besar
atau pendarahan.

DAFTAR PUSTAKA

Bartiansyah, Eko. 2008. Panduan Lengkap : Membaca Tes Kesehatan. Jakarta : Penebar
Plus
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Alih bahasa

Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik
dengan Implikasi Keperawatan. Alih bahasa Easter
Priyanto, Agus dan Sri, Lestari. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta : Salemba
Medika