Anda di halaman 1dari 7

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI

KETIDAKPASTIAN DAN BERESIKO


Keputusan adalah suatu kesimpulan dari suatu proses untuk memilih tindakan yang
terbaik dari sejumlah alternatif yang ada. Sedangkan pengambilan keputusan adalah proses
yang mencakup semua pemikiran dan kegiatan yang dipadukan guna membuktikan dan
memperlihatkan pilihan terbaik tersebut. Oleh karena itu teori keputusan adalah suatu teknik
analisis yang berkaitan dengan pengambilan keputusan melalui bermacam-macam model.
Secara khusus pengambilan keputusan menghendaki sejumlah sasaran dan tujuan,
sejumlah alternatif tindakan, resiko atau perolehan dan tiap alternatif yang berlainan dan
kriteria pemilihan yang dapat memperhatikan tindakan yang terbaik.
Teknik pengambilan keputusan dapat diklasifikasikan dengan cara melihat kondisi atau
situasi yang ada pada saat keputusan itu diambil. Berdasarkan metode ini pengambilan
keputusan dapat dibedakan menjadi empat model, yaitu:
Model pengambilan keputusan dalam Kondisi Pasti. Model ini adalah model yang paling
dasar biasanya disebut dengan model deterministik, mengasumsikan bahwa kejadiankejadian yang akan datang disamping datanya dapat ditentukan dengan pasti juga
terjadinya tidak akan menyimpang dari apa yang diperkirakan. Pengambilan keputusan
ini diasumsikan juga berlaku atas perkiraan tentang apa yang dihasilkan atau diakibatkan
oleh masing-masing alternatif pengambilan keputusan
Model pengambilan keputusan dalam Kondisi Resiko adalah setiap alternatif
pengambilan keputusan memiliki kemungkinan kejadian yang lebih dari satu. Banyaknya
kemungkinan kejadian hasil atau akibat dari pelaksanaan masing-masing alternatif
pengambilan keputusan tersebut pada umumnya ditimbulkan oleh adanya
ketidaksempurnaan data yang dipergunakan sebagai dasar analisis. Perlu diperhatikan
bahwa untuk bisa dikatagorikan sebagai model pengambilan keputusan dengan resiko
besarnya probabilitas kemungkinan kejadian dari satu alternatif pengambilan keputusan
harus diketahui.
Model pengambilan keputusan dalam Kondisi Tidak Pasti adalah setiap alternatif
pengambilan keputusan memiliki kemungkinan kejadian lebih dari satu. Perbedaan
model pengambilan keputusan dengan ketidak pastian terhadap model dengan resiko
terletak pada probabilitas kejadian dari setiap alternatif pengambilan keputusan. Model
pengambilan keputusan dengan resiko, probabilitas dari setiap kemungkinan kejadian
untuk setiap alternatif pengambilan keputusan dapat diketahui. Sebaliknya dalam model
pengambilan keputusan dengan ketidakpastian besarnya probabilitas kejadian tidak
diketahui.
Model pengambilan keputusan dengan Kondisi Konflik adalah model pengambilan
pengambilan keputusan dimana pengambil pengambilan keputusan lebih dari satu.
Dengan kata lain ada pihak lain yang memiliki kepentingan yang berlawanan. Dalam hal
ini pengambil pengambilan keputusan perlu memperhatikan reaksi pihak lain terhadap
pengambilan keputusan yang dibuatnya. Yang dimaksud pihak lain dalam model
pengambilan keputusan ini adalah para pemegang saham, serikat kerja, pesaing,
distributor perusahaan yangsifatnya dominan dan sebagainya.

Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

Model pengambilan keputusan yang ditekankan pada pembahasan disini adalah model
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kondisi pengambilan keputusan dalam
ketidakpastian dan resiko.

A. Pengambilan keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian


Pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian disebut pula dengan model
Keputusan Tanpa Probabilitas. Sebuah kondisi pengambilan keputusan mengandung
beberapa komponen, yaitu keputusan itu sendiri dan kejadian yang dapat terjadi dimasa
yang akan datang, dikenal sebagai Kondisi Dasar (State of Nature).Pada pengambilan
keputusan dengan kondisi ketidakpastian terdapat hal-hal dimana:
Si-pengambil keputusan tidak dapat menentukan probabilitas
Tidak dapat membuat prediksi berapa besar probabilitas hasil
Tidak mempunyai pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya
bermacam-macam keadaan
Belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya
Contoh Model Keputusan Dalam Kondisi Ketidakpastian.
Bapak Ramadhan adalah seorang investor. Ia ingin membeli salah satu dari tiga jenis
perumahan. Ia harus memutuskan antara sebuah Apartemen, Villa, dan Ruko. Kondisi
dasar di masa yang akan datang akan menentukan besarnya laba yang akan diperoleh
Bapak Ramadhan adalah keadaan ekonomi yang baik dan keadaan ekonomi yang buruk.
Laba yang akan dihasilkan dari masing-masing keputusan dalam tiap kondisi dasar yang
terjadi ditunjukkan dalam tabel berikut:
Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi Baik

Kondisi Ekonomi Buruk

Apartemen

Rp. 50.000.000

Rp.

30.000.000

Villa

Rp. 100.000.000

Rp. - 40.000.000

Ruko

Rp. 30.000.000

Rp.

10.000.000

Contoh 1.1

Kriteria pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian meliputi:


a)
b)
c)
d)

Kriteria Maximax
Kriteria Maximin
Kriteria Minimax
Kriteria Laplace (Equal Likelihood)

Kadangkala kriteria tersebut menghasilkan keputusan yang sama, namun sering


menghasilkan keputusan yang berbeda. Pengambil keputusan harus memilih kriteria
atau kombinasi yang paling dapat memenuhi kebutuhannya.

a) Kriteria Maximax
Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

Pengambil keputusan memilih keputusan yang memberikan nilai paling


maksimum dari hasil-hasil yang maksimum. Pada kriteria ini pengambil keputusan
merasa optimis. Pengambil keputusan mengasumsikan bahwa kondisi dasar yang
paling menguntungkan dari setiap alternatif keputusan akan terjadi.
Berdasarkan Contoh 1.1 maka pertama-tama pengambil keputusan akan
menentukan nilai maksimum dari alternatif keputusan dengan cara sebagai berikut.
Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi
Baik

Kondisi Ekonomi
Buruk

Nilai Maksimum

Rp.

Rp. 50.000.000

Apartemen

Rp. 50.000.000

30.000.000

Villa

Rp. 100.000.000

Rp. - 40.000.000

Rp. 100.000.000

Ruko

Rp. 30.000.000

Rp.

Rp. 30.000.000

10.000.000

Contoh 1.2

Dari nilai maksimum tersebut dipilih nilai yang tertinggi, yaitu Rp. 100.000.000
sebagai nilai Maximax, karena nilai tersebut menggambarkan laba yang diterima oleh
perusahaan tertinggi dari alternatif investasi yang tersedia.

b) Kriteria Maximin
Pengambil keputusan memilih keputusan yang memberikan nilai paling
maksimum dari hasil-hasil yang minimum. Pada kriteria ini pengambil keputusan
merasa pesimis dan konservatif. Pengambil keputusan mengasumsikan bahwa
kondisi dasar yang minimum dari setiap alternatif keputusan akan terjadi.
Berdasarkan Contoh 1.1 maka pertama-tama pengambil keputusan akan
menentukan nilai minimum dari alternatif keputusan dengan cara sebagai berikut.
Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi
Baik

Kondisi Ekonomi
Buruk
Rp.

30.000.000

Nilai Minimum

Apartemen

Rp. 50.000.000

Villa

Rp. 100.000.000

Rp. - 40.000.000

Rp. - 40.000.000

Ruko

Rp. 30.000.000

Rp.

Rp.

10.000.000

Rp.

30.000.000
10.000.000

Contoh 1.3

Dari nilai minimum tersebut dipilih nilai yang tertinggi, yaitu Rp. 30.000.000
sebagai nilai Maximin. Keputusan tersebut lebih bersifat konservatif karena alternatif
yang masuk dalam pertimbangan hanyalah hasil-hasil terburuk yang mungkin terjadi.

c) Kriteria Minimax

Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

Pengambil keputusan memilih keputusan untuk menghindari penyesalan


yang timbul setelah memilih alternatif keputusan yang meminimumkan
maksimum penyesalan / keputusan yang menghindari kekecewaan terbesar, atau
memilih nilai minimum dari regret maksimum, dimana:
Jumlah regret / opportunity loss = Pay off max pay off alternatif pada
peristiwa tertentu
Untuk menggunakan kriteria minimax, pengambil keputusan pertama-tama
memilih hasil maksimum dari setiap kondisi dasar. Dalam contoh 1.1, hasil
maksimum dalam kondisi yang baik adalah Rp. 100.000.000 dan hasil maksimum
dalam keadaan ekonomi buruk adalah Rp. 30.000.000. Hasil-hasil yang lain dalam
setiap keadaan ekonomi kemudian dikurangkan dari jumlah nilai maksimum, seperti
ditunjukkan dalam perhitungan berikut:
Kondisi Ekonomi Baik

Kondisi Ekonomi Buruk

Rp. 100.000.000 - Rp. 50.000.000 =


Rp. 50.000.000

Rp. 30.000.000 Rp. 30.000.000 =


Rp. 0

Rp. 100.000.000 Rp. 100.000.000 =


Rp. 0

Rp. 30.000.000 (Rp. - 40.000.000) =


Rp. 70.000.000

Rp. 100.000.000 - Rp. 30.000.000 =


Rp. 70.000.000

Rp. 30.000.000 - Rp. 10.000.000 =


Rp. 20.000.000

Nilai di atas menggambarkan penyesalan yang mungkin dialami oleh


pengambil keputusan jika keputusan yang dihasilkan meberikan hasil di bawah hasil
maksimum. Nilai tersebut jika dirangkum dalam suatu tabel hasil pertukaran yang
dimodifikasi dan dikenal sebagai tabel penyesalan nampak sebagai berikut:

Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi
Baik

Kondisi Ekonomi
Buruk

Nilai Maksimum

Apartemen

Rp. 50.000.000

Rp. 0

Rp. 50.000.000

Villa

Rp. 0

Rp. 70.000.000

Rp. 70.000.000

Ruko

Rp. 70.000.000

Rp.

Rp. 70.000.000

20.000.000

Contoh 1.4

Untuk mengambil keputusan berdasarkan kriteria Minimax, dipilih nilai


maksimum dari penyesalan setiap alternatif keputusan. Keputusan yang dipilih adalah
yang merupakan nilai minimum dari maksimum penyesalan yang ada.
Berdasarkan kriteria Minimax yang dipilih adalah investasi pada Apartemen,
karena investor akan mengalami penyesalan dalam jumlah yang terkecil jika ia
membeli Apartemen.

d) Kriteria Laplace (Equal Likelihood)


Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

Kriteria ini dikemukakan oleh Laplace, yang memberikan bobot yang sama
untuk setiap kondisi dasar. Jadi diasumsikan bahwa setiap kondisi dasar memiliki
kemungkinan yang sama untuk terjadi.
Karena dalam contoh 1.1 terdapat dua kondisi dasar (kondisi ekonomi baik
dan kondisi ekonomi buruk) , maka diberikan bobot yang sama, yaitu 0,50 untuk
setiap kondisi dasar yang ada. Kemudian bobot tersebut dikalikan dengan hasil dari
setiap alternatif keputusan. Keputusan yang dipilih adalah yang memberikan nilai
tertimbang yang maksimum (tertinggi).

Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi Baik

Kondisi Ekonomi Buruk

( 0,5 )

( 0,5 )

Apartemen

Rp. 50.000.000

Rp.

30.000.000

Villa

Rp. 100.000.000

Rp. - 40.000.000

Ruko

Rp. 30.000.000

Rp.

10.000.000

Contoh 1.5

Aparteme n=0,5 ( Rp .50.000 .000 ) +0,5 ( Rp .3 0.000 .000 )


Rp. 25.000 .000+ Rp. 15.000 .000

Rp. 40.000 .000


Villa=0,5 ( Rp .10 0.000 .000 ) +0,5 ( Rp .4 0.000 .000 )
Rp. 50.000 .000Rp .20.000 .000
Rp. 30.000 .000

Ruko=0,5 ( Rp .3 0.000 .000 ) +0,5 ( Rp .1 0.000 .000 )


Rp. 15.000 .000+ Rp. 5.000 .000

Rp. 20.000 .000


Berdasarkan hasil perhitungan 1.5 nilai tertimbang maksimum adalah
Apartemen, sehingga apartemen yang dipilih sebagai alternatif investasi yang paling
menguntungkan.

Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

B. Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Beresiko


Pengambilan keputusan dalam kondisi resiko adalah pengambilan keputusan di mana
terjadi hal-hal sebagai berikut :
Alternatif yang harus dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
Pengambil keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi
terhadap berbagai tindakan dan hasil.
Resiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan
pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak pasti, bedanya dalam
kondisi ini, ada informasi atau data yang akan mendukung dalam membuat keputusan
berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
Untuk mengambil keputusan dalam kondisi resiko kreiteria yang digunakan adalah :

Kriteria Nilai Harapan ( Expected Value )


EV a ij. P j
Nilai harapan adalah jumlah dari nilai-nilai kemungkinan yang
diharapkan terjadi terhadap probabilitas masing-masing dari suatu kejadian yang tidak
pasti. Nilai Harapan dihitung dengan mengalikan setiap hasil (dari keputusan)
dengan probabilita kejadian kemudian hasilnya dijumlahkan. Jika menggunakkan
rumus :
Untuk mengaplikasikan konsep nilai harapan, pengambil keputusan pertamatama harus memperkirakan probabilitas kejadian untuk masing-masing kondisi dasar.
Jika perkiraan ini telah dibuat, nilai harapan untuk setiap alternatif keputusan dapat
dihitung. Contoh berikut dapat digunakan untuk menggambarkan nilai harapan:

Keputusan
(untuk membeli)

Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi Baik

Kondisi Ekonomi Buruk

( 0,6 )

( 0,4 )

Apartemen

Rp. 50.000.000

Rp.

Villa

Rp. 100.000.000

Rp. - 40.000.000

Ruko

Rp. 30.000.000

Rp.

Contoh 1.6

EV . Aparteme n=0,6 ( Rp . 50.000.000 )+ 0,4 ( Rp. 3 0.000 .000 )


Rp. 30.000 .000+ Rp. 12.000 .000

Rp. 42 .000 .000


Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko

30.000.000
10.000.000

EV . Villa=0,6 ( Rp . 10 0.000.000 )+ 0,4 ( Rp .4 0.000 .000 )


Rp. 60.000 .000Rp . 16.000.000

Rp. 44 .000.000
EV . Ruko=0,6 ( Rp . 3 0.000.000 )+ 0,4 ( Rp. 1 0.000.000 )
Rp. 18.000 .000+ Rp. 4.000 .000
Rp. 22 .000.000

Keputusan yang terbaik adalah alternatif yang memiliki nilai ekspektasi


terbesar. Alternatif lain, jika hasil yang terjadi dinyatakan dalam biaya, keputusan
yang memiliki nilai ekspektasi terendah.
Pada contoh 1.6 keputusan yang dipilih adalah Villa karena memiliki Expected
Value terbesar, yaitu Rp. 44.000 .000 .
Untuk hal-hal yang sifatnya menguntungkan, seperti laba, hasil penjualan,
penerimaan dsb, EV dinyatakan dengan Expected Pay-Off (EP).
Untuk hal-hal yang sifatnya merugikan, seperti : pengeluaran, kekalahan, dsb,
EV dinyatakan dengan Expected Loss (EL).
Dalam pengambilan keputusannya, selalu diusahakan untuk memilih
keputusan dengan nilai harapan yang maksimum, dalam prakteknya dinyatakan
dengan besarnya nilai uang, yaitu Expected Monetary Value (EMV).

Riset Operasi - Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian dan Beresiko