Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
SWOT adalah singkatan dari Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats (kekuatan,
kelemahan,peuang, ancaman). Analisis SWOT sudah menjadi alat yang umum digunakan
dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan alat yang efektif dalam
menempatkan potensi intitusi. SWOT dapat dibagi kedalam dua elemen, analisa internal yang
berkonsentrasi pada prestasi institusi itu sendiri, dan analisa lingkungan. Uji kekuatan dan
kelemahan pada dasarnya merupakan audit internal tentang seberapa efektif performa
institusi. Sementara peluang dan ancaman berkonsentrasi pada konteks eksternal atau
lingkungan tempat sebuah institusi beroperasi. Analisa SWOT bertujuan untuk menemukan
aspek-aspek penting dari hal-hal tersebut di atas: Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan
Ancaman. Tujuan pengujan ini adalah untuk memaksimalkan kekuatan, meminimalkan
kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun peluang. Aktivitas SWOT dapat diperkuat
dengan menjamin analisa tersebut berfokus pada kebutuhan pelanggan dan konteks
kompetitif tempat institusi beroperasi. Ini adalah dua variabel kunci dalam membangun atau
2 mengembangkan strategi jangka panjang institusi. Strategi ini harus dikembangkan dengan
berbagai metode yang dapat memungkinkan institusi mampu mempertahankan diri dalam
menghadapi kompetisi serta mampu memaksimalkan daya tariknya bagi para pelanggan. Jika
pengujian tersebut dipadukan dengan pengujian misi dan nilai, maka akan ditemukan sebuah
identitas institusi yang berbeda dari para pesaingnya. Begitu sebuah identitas distingtif mampu
dikembangkan dalam sebuah institusi, maka karakteristik mutu dalam institusi tersebut akan
menjadi lebih mudah diidentifikasi.
.Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) telah menjadi
salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian tidak menutup
kemungkinan untuk digunakan sebagai aplikasi alat bantu pembuatan keputusan dalam
pengenalan program-program baru di lembaga pendidikan. Proses penggunaan manajemen
analisis SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan
weaknesses (kelemahan) program, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan
threats (peluang/kesempatan). Pengujian eksternal dan internal yang terstruktur adalah
sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan kurikulum lembaga
pendidikan.
Lingkungan eksternal mempunyai dampak yang sangat berarti pada sebuah lembaga
pendidikan. Selama dekade terakhir abad ke dua puluh, lembaga-lembaga ekonomi,
masyarakat, struktur politik, dan bahkan gaya hidup perorangan dihadapkan pada perubahan-

perubahan baru. Strategi-strategi baru yang inovatif harus dikembangkan untuk memastikan
bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat mendatang khususnya pada abad 21 dan setelahnya.
Di dalam makalah ini akan dikupas beberapa hal mengenai SWOT antara lain:
pengertian SWOT, faktor-faktor SWOT, kegunaan SWOT, hubungan SWOT, dan contoh
aplikasi SWOT.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu analisis SWOT?
2. Apa faktor-faktor Analisis SWOT?
3. Apa kegunaan Analisis SWOT?
4. Bagaimana hubungan antara Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats dalam
analisis SWOT?
5. Bagaimana contoh aplikasi SWOT itu?
1.
2.
3.
4.

C. Tujuan Penulisan
Mengetahui pengertian SWOT secara umum dan mampu menjelaskannya.
Mengetahui faktor-faktor dalam Analisis SWOT.
Mengetahui kegunaan Analisis SWOT.
Mampu menjelaskan hubungan antara Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats

dalam analisis SWOT.


5. Mampu menyebutkan contoh aplikasi SWOT.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk
mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan
ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang
membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini
melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam
mencapai tujuan tersebut.
Menurut Daniel Start dan Ingie Hovland dalam http://subliyanto.wordpress.
com/2012/12/13/analisis-swot/, analisis SWOT adalah instrumen perencanaaan strategis yang
klasik dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan serta kesempatan
ekternal dan ancaman. Instrumen ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara
terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa
yang bisa dicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka.
Metode SWOT pertama kali digunakan oleh Albert Humphrey yang melakukan
penelitian di Stamford University pada tahun 1960-1970 dengan analisa perusahaan yang
bersumber dalam Fortune500. Meskipun demikian, jika ditarik lebih ke belakang analisa ini
telah ada sejak tahun 1920-an sebagai bagian dari Harvard Policy Model yang dikembangkan
di Harvard Business School. Namun, pada saat pertama kali digunakan terdapat
beberapa kelemahan utama di antaranya analisa yang dibuat masih bersifat deskriptif serta
belum

bahkan

tidak

menghubungkan

dengan

strategi-strategi

yang

mungkin

bisa dikembangkan dari analisis kekuatan-kelemahan yang telah dilakukan.


Hasil analisis biasanya adalah arahan/rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan
dan menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi kekurangan dan
menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar, analisis SWOT akan membantu kita
untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidak terlihat selama ini.
Analisis ini bersifat deskriptif dan terkadang akan sangat subjektif, karena bisa jadi dua
orang yang menganalisis sebuah organisasi akan memandang berbeda keempat bagian
tersebut. Hal ini wajar terjadi, karena analisis SWOT adalah sebuah analisis yang akan

memberikan output berupa arahan dan tidak memberikan solusi ajaib dalam sebuah
permasalahan.
Analisa SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal
yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik
SWOT, di mana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil
keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi
kelemahan

(weaknesses)

yang

mencegah

keuntungan

(advantage)

dari

peluang

(opportunities) yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi


ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagimana cara mengatasi kelemahan
(weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan
sebuah ancaman baru.
Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap
fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah
ditetapkan. Oleh karena tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masingmasing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap
keseluruhan faktor dalam setiap fungsi tersebut, baik faktor internal maupun eksternal.
Dalam melakukan analisis terhadap fungsi-fungsi dan faktor-faktornya, maka berlaku
ketentuan berikut: untuk tingkat kesiapan yang memadai, artinya, minimal memenuhi kriteria
kesiapan yang diperlukan untuk mencapai sasaran, dinyatakan sebagai kekuatan bagi faktor
internal atau peluang bagi faktor eksternal. Sedangkan tingkat kesiapan yang kurang
memadai, artinya, tidak memenuhi kriteria kesiapan minimal, dinyatakan sebagai kelemahan
bagi faktor internal atau ancaman bagi faktor eksternal.
Untuk menentukan kriteria kesiapan, diperlukan

kecermatan,

kehati-hatian,

pengetahuan, dan pengalaman yang cukup agar dapat diperoleh ukuran kesiapan yang tepat.
Kelemahan atau ancaman yang dinyatakan pada faktor internal dan faktor eksternal yang
memiliki tingkat kesiapan kurang memadai, disebut persoalan. Selama masih adanya fungsi
yang tidak siap atau masih ada persoalan, maka sasaran yang telah ditetapkan diduga tidak
akan tercapai. Oleh karena itu, agar sasaran dapat tercapai, perlu dilakukan tindakan-tindakan
untuk mengubah fungsi tidak siap menjadi siap. Tindakan yang dimaksud disebut langkahlangkah pemecahan persoalan, yang pada hakekatnya merupakan tindakan mengatasi
kelemahan atau ancaman agar menjadi kekuatan atau peluang.
Setelah diketahui tingkat kesiapan faktor melalui analisis SWOT, langkah selanjutnya
adalah memilih alternatif langkah-langkah pemecahan persoalan, yakni tindakan yang
diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap dan
mengoptimalkan fungsi yang telah dinyatakan siap.

Oleh karena kondisi dan potensi sekolah berbeda-beda antara satu dengan lainnya,
maka alternatif langkah-langkah pemecahan persoalannya pun dapat berbeda, disesuaikan
dengan kesiapan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya di sekolah tersebut. Dengan
kata lain, sangat dimungkinkan suatu sekolah mempunyai langkah pemecahan yang berbeda
dengan sekolah lain untuk mengatasi persoalan yang sama.
B. Faktor-faktor Analisis SWOT
Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu:
1. Strengths (kekuatan)
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau
keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif
lembaga pendidikan tersebut. Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus
memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik atau
hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang dapat membuat sekolah tersebut unggul
dari pesaing-pesaingnya serta dapat memuaskan steakholders maupun pelanggan (peserta
didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Sebagai contoh dari bidang keunggulan, antara lain kekuatan pada sumber keuangan, citra
yang positif, keunggulan kedudukan di masyrakat, loyalitas pengguna dan kepercayaan
berbagai pihak yang berkepentingan. Sedangkan keunggulan lembaga pendidikan di era
otonomi pendidikan atara lain yaitu sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar,
hanya saja perlu pembenahan dari kualitas. Selain itu antusiasme pelaksanaan pendidikan
yang sangat tinggi, didukung dengan sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Hal
lain dari faktor keunggulan lembaga pendidikan adalah kebutuhan masyarakat terhadap yang
bersifat transendental sangat tinggi, dan itu sangat mungkin diharapkan dari proses
pendidikan lembaga pendidikan yang agamis.
Bagi sebuah lembaga pendidikan untuk mengenali kekuatan dasar lembaga tersebut
sebagai langkah awal atau tonggak menuju pendidikan yang berbasis kualitas tinggi
merupakan hal yang sangat penting. Mengenali kekuatan dan terus melakukan refleksi adalah
sebuah langkah besar untuk menuju kemajuan bagi lembaga pendidikan.
2. Weakness (kelemahan)
Kelemahan adalah hal yang wajar dalam segala sesuatu tetapi yang terpenting adalah
bagaimana sebagai penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisasi
kelemahan-kelemahan tersebut atau bahkan kelemahan tersebut menjadi satu sisi kelebihan
yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Kelemahan ini dapat berupa kelemahan
dalam sarana dan prasarana, kualitas atau kemampuan tenaga pendidik, lemahnya
kepercayaan masyarakat, tidak sesuainya antara hasil lulusan dengan kebutuhan masyarakat
atau dunia usaha dan industri dan lain-lain

Oleh karena itu, ada beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para
pengelola pendidikan, antara lain yaitu:
a. Lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan
b. Sarana dan prasarana yang masih sebatas pada sarana wajib saja
c. Lembaga pendidikan swasta yang pada umumya kurang bisa menangkap peluang, sehingga
mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini.
d. Output pada lembaga pendidikan yang belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga
pendidikan yang lain dan sebagainya.
3. Opportunities (peluang)
Peluang adalah suatu kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi
formulasi dalam lembaga pendidikan. Situasi lingkungan tersebut misalnya:
Kecenderungan penting yang terjadi dikalangan peserta didik.
Identifikasi suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian.
Perubahan dalam keadaan persaingan.
Hubungan dengan pengguna atau pelanggan dan sebagainya.
Peluang pengembangan dalam lembaga pendidikan dapat dilakukan antara lain yaitu:
a. Di era yang sedang krisis moral dan krisis kejujuran seperti ini diperlukan peran serta
a.
b.
c.
d.

pendidikan agama yang lebih dominan.


b. Pada kehidupan masyarakat kota dan modern yang cenderung konsumtif dan hedonis,
membutuhkan petunjuk jiwa, sehingga kajian-kajian agama berdimensi sufistik kian
menjamur. Ini menjadi salah satu peluang bagi pengembangan lembaga pendidikan ke depan.
c. Secara historis dan realitas, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, bahkan
merupakan komunitas muslim terbesar di seluruh dunia. Ini adalah peluang yang sangat
strategi bagi pentingnya manajemen pengembangan lembaga pendidikan.
4. Threats (ancaman)
Ancaman merupakan kebalikan dari sebuah peluang, ancaman meliputi faktor-faktor
lingkungan yang tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah
ancaman tidak ditanggulangi maka akan menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi
maju dan peranannya sebuah lembaga pendidikan itu sendiri. Contoh ancaman tersebut
adalah minat peserta didik baru yang menurun, motivasi belajar peserta didik yang rendah,

1.
2.
3.
4.
5.
6.

kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut dan lain-lain.


C. Kegunaan Analisis SWOT
Secara umum, analisis SWOT dipakai untuk:
Menganalisis kondisi diri dan lingkungan pribadi
Menganalisis kondisi internal lembaga dan lingkungan eksternal lembaga
Menganalisis kondisi internal perusahaan dan lingkungan eksternal Perusahaan
Mengetahui sejauh mana diri kita di dalam lingkungan kita
Mengetahui posisi sebuah lembaga diantara lembaga-lembaga lain
Mengetahui kemampuan sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnisnya dihadapkan
dengan para pesaingnya.

D. Hubungan antara Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Treaths dalam Analisis


SWOT
Sebuah lembaga pendidikan akan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan ketika
kekuatan lembaga pendidikan melebihi kelemahan yang dimiliki. Oleh karena itu lembaga
pendidikan harus mampu memperdayakan potensi yag dimiliki secara maksimal, mengurangi
resiko yang terjadi. Jadi, tercapai atau tidaknya tujuan lembaga pendidikan yang telah
ditetapkan merupakan tanggung jawab lingkungan manajemen lembaga pendidikan. Jika
analisis SWOT dilakukan dengan tepat, maka upaya untuk memilih dan menentukan strategi
yang efektif akan membuahkan hasil yang diinginkan.
Analisis SWOT dalam program sekolah dapat dilakukan dengan melakukan matrik
SWOT, matrik ini terdiri dari sel-sel daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam
penyelenggaraan program sekolah, untuk memperoleh mutu sekolah dapat dilakukan strategi
SO (menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang), strategi WO (memperbaiki
kelemahan dan mengambil manfaat dari peluang), strategi ST (menggunakan kekuatan dan
menghindari ancaman), strategi WT (mengatasi kelemahan dan menghindari ancaman).
Menurut Afhie, 2012 dalam http://afhie-cirebon.blogspot.com/2012/ 12/penerapananalisis-swot-pada-lembaga.html hubungan antara Strength, Weaknesses, Opportunities, dan
Treaths dalam analisis SWOT dapat digambarkan melalui bagan berikut ini
HUBUNGAN
O (PELUANG)

S (KEKUATAN)
W (KELEMAHAN)
Sebuah lembaga pendidikan Peluang digunakan untuk
harus

dapat

menggunakan menekan

kekuatan

berbagai

untuk kelemahan-kelamahan

macam
yang

memanfaatkan peluang dan ada atau dengan kata lain


sebaliknya

memanfaatkan menghilangkan

peluang dan menjadikannya dengan


sebagai
T (ANCAMAN)

sebuah

(Strength).
Menggunakan

kelemahan
memanfaatkan

kekuatan peluang
kekuatan Suatu lembaga pendidikan,

untuk menghindari ancaman.

sebelum datangnya sebuah


ancaman lembaga pendidikan
tersebut harus bisa menutupi
kelemahan-kelemahan
ada

pada

dirinya

kekuatan dan peluang.

yang
dengan

Sedangkan menurut Said, 2013 dalam http://saidsite.blogspot.com/2011/05/ analisaswot.html menggambarkan hubungan antara Strength, Weaknesses, Opportunities, dan
Treaths dalam analisis SWOT adalah sebagai berikut
1. Kekuatan dan Kelemahan.
Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk
menggerakkan institusi ke depan. Suatu kekuatan (strenghth) atau distinctive competence
hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut
terkait dengan lingkungan sekitarnya, misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa
mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Jika pada institusi lain juga terdapat kekuatan yang
memiliki core competence yang sama, maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan
relatif suatu institusi tersebut dibandingkan dengan institusi yang lain. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa

tidak

semua

kekuatan

yang

dimiliki

institusi

harus

dipaksa

untuk dikembangkan karena ada kalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari
lingkungan yang lebih luas.
Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Sehingga sama dengan
kekuatan, tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk
hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.
2. Peluang dan Ancaman.
Peluang adalah faktor yang didapatkan dengan membandingkan analisis internal yang
dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisis internal dari kompetitor
lain. Sebagaimana kekuatan, peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility,
sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi.
Peluang dapat dikategorikan dalam tiga tingkatan yaitu:
a. Low, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapaiannya juga kecil.
b. Moderate, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil
atau sebaliknya.
c. Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar.
Sedangkan, ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend
perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari
tingkat keparahan pengaruhnya (seriousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of
occurance). Sehingga ancaman tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Ancaman utama (Major Threats) adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan
dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa planning yang harus
dilakukan institusi untuk mengantisipasi.
b. Ancaman tidak utama (Minor Threats) adalah ancaman yang dampaknya kecil dan
kemungkinan terjadinya kecil
c. Ancaman moderate (Moderate Threats) berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi
namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan beberapa kategori situasi institusi dilihat dari
keterkaitan antara peluang dan ancamannya, yaitu sebagai berikut:
a. Suatu institusi dikatakan unggul jika memiliki major opportunity yang besar dan major
threats yang kecil.
b. Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang
sama.
c. Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan low threat.
d. Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats.
Tidak ada satu cara terbaik untuk melakukan analisis SWOT. Yang paling utama adalah
membawa berbagai macam pandangan/perspektif bersama-sama sehingga akan terlihat
keterkaitan baru dan implikasi dari hubungan tersebut.
E. Contoh Aplikasi Analisis SWOT
Sebagai contoh, untuk sasaran pertama, yaitu rata-rata GSA mencapai minimal +0,40
maka harus ditentukan fungsi-fungsi apa saja berikut faktor-faktornya yang berperan penting
dalam mencapai sasaran tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi diri dan pengalaman
sebelumnya, diidentifikasi bahwa fungsi yang berperan untuk meningkatkan GSA adalah
fungsi proses belajar mengajar yang didukung oleh fungsi ketenagaan, dan fungsi sarana
belajar.
Berdasarkan pada fungsi-fungsi yang telah diidentifikasi, maka perlu ditemukan faktor
apa saja yang berpengaruh, baik faktor internal maupun eksternal dalam fungsi tersebut dan
kemudian masukkan ke dalam tabel analisis SWOT. Oleh karena sekolah memiliki lebih dari
satu sasaran, maka setiap sasaran yang telah ditentukan harus dianalisis melalui analisis
SWOT.
Berikut dijelaskan dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Buku 5
Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual, contoh melakukan analisis SWOT untuk dua
sasaran pertama yang ditentukan sekolah X pada tahun 2002/2003 serta fungsi dan faktorfaktornya yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Analisis SWOT untuk sasaran-1, yaitu
peningkatan GSA minimal +0,40 ditunjukkan pada Tabel-1, sedangkan untuk sasaran-2, yaitu
menjadi finalis pada turnamen bola voli tingkat Kota ditunjukkan pada Tabel-2.
Tabel-1. Analisis SWOT untuk Sasaran-1:
Peningkatan GSA minimal +0,40
Fungsi dan

Kondisi Kesiapan

Faktornya

(Kondisi Ideal)

Kondisi Nyata

Tingkat
Kesiapan
Faktor

Siap
A. Fungsi Proses
Belajar Mengajar (PBM)
1. Faktor Internal
a.
Motivasi belajar Tinggi
siswa
b. Perilaku siswa

Tidak

60% siswa memiliki


motivasi tinggi
Kurang disiplin dan
Disiplin dan tertib kurang tertib

di dalam kelas

Tinggi
Cukup tinggi
c. Motivasi guru

Guru mampu Kurang mampu


d. Pemberdayaan siswa
memberdayakan
siswa

e.

f.

2.
a.
b.
c.
d.

Keragaman metode

mengajar
Penggunaan waktu
belajar

Faktor eksternal
Kesiapan siswa
menerima pelajaran
Dukungan orangtua
Lingkungan sosial
sekolah
Lingkungan fisik
sekolah

Bervariasi

1.
a.
b.

Tidak banyak variasi


Kurang efektif

Efektif

100%

50%

Tinggi

Tinggi

Kondusif

B.

Kurang kondusif
Gaduh/ramai

Nyaman/tenang
Fungsi Pendukung PBMKetenagaan
Faktor Internal
Jumlah guru
Cukup
Cukup
Kualifikasi
Semua
guru 60% minimal D-3
pendidikan
guru pendidikan
guru
minimal D-3
minimal D-3

Kesesuaian ijazah
dengan
mata
100% sesuai
pelajaran
yang
diampu guru
d.
Beban mengajar
guru

c.

70% sesuai\

Rata-rata 22 JP

Rata-rata 18 JP

2. Faktor eksternal
a.
Pengalaman
mengajar guru
Rata-rata 6 tahun
b. Kesiapan mengajar Rata-rata 2-5 tahun
guru
c.
Fasilitas
80%
pengembangan diri 100%
Tersedia
C. Fungsi Pendukung PBMSarana Belajar

1.
a.
b.
c.
d.

e.
f.

Kurang lengkap

Cukup dan lengkap


Faktor internal
Cukup dan lengkap
Buku setiap mata Cukup

pelajaran
Jumlah
buku Bersih dan rapih
penunjang
Jumlah lemari dan

rak buku
Kebersihan dan
Ada dan mampu
kerapihan
ruang
perpustakaan
Tersedia dan cukup
Pengelola
perpustakaan

Dana
pengembangan
Mendukung
perpustakaan

Kurang lengkap

Kurang lengkap

Kurang
Cukup

Kurang mampu
Tidak tersedia

2. Faktor eksternal
a. Dukungan orangtua
Mendukung
dalam melengkapi
Ada kerjasama
perpustakaan
b. Kerjasama dengan
perpustakaan
lain
yang lengkap
Tidak ada
c. Kesesuaian buku
Tinggi tingkat
penunjang dengan kesesuaiannya
potensi daerah dan
perkembangan iptek

Rendah
tingkat
kesesuaiannya

Tabel-2. Analisis SWOT untuk Sasaran-2:


Menjadi finalis turnamen bola voli tingkat Kota
Tingkat
Fungsi dan

Kondisi Kesiapan

Faktornya

(Kondisi Ideal)

A. Faktor Ketenagaan
1. Faktor Internal
a.
Jumlah
guru Cukup
olahraga
b. Kemampuan guru Tinggi
olahraga dalam bola
voli
c. Motivasi guru
Tinggi
2. Faktor eksternal
a. Pengalaman sebagai
pelatih
b. Dukungan orangtua Cukup
c.
Fasilitas
pengembangan diri Tinggi
Ada
B. Fungsi Prasarana
1. Faktor Internal
a. Lapangan bola voli
di sekolah
b.
Alat pendukung
olahraga bola voli
(net, bola)
c. Perawatan prasarana

dan sarana
2. Faktor eksternal
a. Dukungan orangtua
siswa
dalam
peningkatan
mutu
lapangan voli
b. Lapangan bola voli
di
tingkat
Kota/Kecamatan

Kesiapan

Kondisi Nyata

Faktor
Siap Tidak
Cukup

Tinggi

Cukup tinggi

Kurang
Tinggi
Tidak ada

Tersedia dan layak Tersedia dan kurang


layak pakai
pakai
Tersedia dan layak Tersedia dan kurang
layak

Terawat dengan
Terawat baik
baik

Tinggi
Cukup

Tersedia dan layak Tersedia dan kurang


pakai
layak pakai
C. Fungsi Siswa
1. Faktor internal

Guru mampu Cukup mampu


a.
Pemberdayaan memberdayakan
siswa
siswa
3x seminggu
Alokasi
waktu
pelatihan
Efektif
c. Penggunaan waktu
latihan
b.

2. Faktor eksternal
a. Kesiapan siswa
dalam
menerima
pelatihan
b.
Pelatih
yang
berpengalaman

c. Uji tanding dengan


sekolah lain
d. Dukungan orangtua
siswa
dalam
pelatihan

100%

Kurang 1x seminggu
Kurang efektif

80%

Tidak ada
Tersedia

1x sebulan
Tinggi

Tidak pernah
Tinggi

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan untuk sasaran pertama, maka dapat
diidentifkasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi oleh sekolah pada hampir semua fungsi
yang diberikan. Pada fungsi PBM yang menjadi kelemahan adalah siswa kurang disiplin,
guru kurang mampu memberdayakan siswa dan umumnya tidak banyak variasi dalam
memberikan bahan pelajaran di kelas serta waktu yang digunakan kurang efektif, sedangkan
yang menjadi ancaman adalah kurang siapnya siswa dalam menerima pelajaran, terutama
pada pagi dan siang hari menjelang pulang. Di samping itu, suasana lingkungan sekolah yang
kurang kondusif dan ramai karena berdekatan dengan pusat keramaian kota.
Selanjutnya untuk mengatasi kelemahan atau ancaman tersebut, sekolah mencari
alternatif-alternatif langkah-langkah memecahkan persoalan, sebagai berikut:
1. Pengaktifan kegiatan MGMP sekolah
Berdasarkan pada hasil analisis, disebutkan bahwa jumlah guru cukup tetapi suasana
belajar belum cukup kondusif akibat metode mengajar guru kurang bervariasi. Melalui
MGMP sekolah diharapkan dapat mengatasi persoalan, termasuk bagaimana menyiasati
kurikulum yang padat dan mencari alternatif pembelajaran yang tepat serta menemukan

berbagai variasi metode dalam mengajarkan setiap mata pelajaran yang diajarkan. Kegiatan
ini di bawah koordinasi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum dan untuk setiap
matapelajaran dipimpin oleh guru senior yang ditunjuk oleh Kepala Sekolah. MGMP
minimal bertemu satu kali per minggu guna menyusun strategi pengajaran dan mengatasi
masalah yang muncul.
MGMP sekolah juga menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan belajar
sekolah. Evaluasi kemajuan dilakukan secara berkala dan hasilnya digunakan untuk
menyempurnakan rencana berikutnya. Kegiatan MGMP sekolah yang dilakukan dengan
intensif, dapat dijadikan sebagai wahana pengembangan diri guru untuk meningkatkan
kapasitas dan kemampuan guru serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam bidang
yang diajarkan, terutama ditujukan untuk guru-guru yang mengajar bukan bidangnya
(teacher mismatch).
2. Pengiriman guru mengikuti pelatihan
Sebagai alternatif, sekolah dapat mengirimkan guru-guru secara bergiliran untuk
mengikuti pelatihan pada lembaga yang dianggap potensial dan berpengalaman. Pengiriman
guru ini, dimaksudkan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan guru,
baik dalam bidang keahlian/substansi, metode pengajaran, maupun berbagai metode evaluasi,
setelah melalui proses identifikasi kebutuhan yang dilakukan secara cermat oleh sekolah.
Program ini dapat mendorong sekolah untuk mengalokasikan sebagian anggarannya untuk
peningkatan SDM, yang selama ini belum secara optimal dilakukan.
Selain itu, untuk mengatasi kelemahan tersebut, sekolah melalui kegiatan MGMP dapat
mengundang ahli dari luar, baik ahli substansi mata pelajaran untuk membantu guru dalam
memahami materi yang masih dianggap sulit atau membantu memecahkan masalah yang
muncul di kelas, maupun berbagai metode pengajaran untuk menemukan cara yang paling
sesuai dalam memberikan materi mata pelajaran tertentu.
3. Peningkatan disiplin siswa
Berdasarkan hasil analisis, dinyatakan bahwa disiplin siswa sangat rendah, baik dalam
mengikuti aturan dan tata tertib sekolah, maupun dalam mengikuti pelajaran dan
mengakibatkan lingkungan sosial sekolah menjadi kurang kondusif. Diperlukan adanya
peningkatan disiplin siswa untuk menciptakan iklim sekolah yang lebih kondusif dan dapat
memotivasi siswa dalam belajar.
Adanya dukungan guru yang cukup, sekolah dapat membuat aturan dan tata tertib yang
baik dan memadai. Tata tertib yang dibuat dan disepakati tersebut harus ditaati, khususnya
oleh siswa dan warga sekolah lainnya, termasuk guru, karyawan, dan juga kepala sekolah.
Aturan tersebut dapat meliputi tata tertib waktu masuk dan pulang sekolah, kehadiran di

sekolah dan di kelas serta mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung, dan tata tertib
sekolah lainnya.
Dengan meningkatnya disiplin siswa, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas jam
belajar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan meningkatkan iklim belajar yang lebih
kondusif untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
4. Pembentukan kelompok diskusi terbimbing
Kelompok diskusi terbimbing ini dibentuk untuk mengatasi siswa yang kurang persiapan
untuk belajar di sekolah. Kegiatan diskusi ini, minimal 1 kali per minggu untuk setiap mata
pelajaran di luar jam pelajaran sekolah. Pembentukan kelompok dilakukan oleh siswa dan
dibimbing oleh guru. Dalam setiap kegiatan diskusi dapat dihadirkan narasumber yang
berasal dari guru, alumni, atau orang lain yang dianggap ahli dalam mata pelajaran yang
berkaitan dan bertempat tinggal di sekitar kelompok tersebut berada.
Adanya dukungan orangtua dalam meningkatkan motivasi belajar, memberikan peluang
dan kesempatan melaksanakan kegiatan kelompok diskusi, yaitu setiap kali pertemuan dapat
menggunakan rumah anggota kelompok secara bergiliran. Setiap kelompok diskusi menunjuk
pemimpin kelompok dan guru pembimbingnya.
Untuk keperluan pengembangan materi pada MGMP sekolah, setiap guru pembimbing
dapat menyampaikan hasil diskusi kelompok, sehingga terjadi saling tukar pengalaman dan
saling membantu bila terjadi kesulitan. Kelompok diskusi terbimbing ini, sebaiknya
melibatkan guru pembimbing (BK), khususnya untuk meningkatkan motivasi siswa serta
membimbing siswa untuk menghindari pengaruh pergaulan sosial yang negatif.
5. Peningkatan pengadaan buku
Dari hasil analisis, ternyata sekolah masih memerlukan buku-buku bacaan wajib maupun
penunjang untuk mendukung kegiatan belajar siswa. Pengadaan buku pustaka diarahkan
untuk mendukung kegiatan guru mengajar, termasuk kegiatan MGMP sekolah dan
mendukung belajar siswa. Untuk mendukung kegiatan guru, diadakan buku-buku pedangan
guru dari sumber yang relevan. Sedangkan untuk mendukung belajar siswa, diadakan bukubuku yang diperlukan siswa untuk pendalaman materi ebtanas.
Pengadaan buku-buku tersebut hendaknya dimulai dengan melakukan identifikasi bukubuku yang dibutuhkan oleh guru dan siswa dan mencatat buku-buku yang tidak ada atau tidak
mencukupi kebutuhan sekolah. Berbagai cara dapat dilakukan untuk memenuhi kekurangan
buku-buku tersebut, antara lain dengan mengadakan kerjasama dengan perpustakaan pada
instansi lain yang mempunyai potensi untuk membantu pengadaan buku sekolah, atau
sekolah dapat membeli buku-buku tersebut secara langsung apabila tersedia dana untuk
pengembangan perpustakaan.
6. Peningkatan layanan perpustakaan

Di samping pengadaan buku-buku, perlu diupayakan peningkatan pengetahuan dan


keterampilan pengelola perpustakaan untuk meningkatkan layanan perpustakaan. Apabila
dimungkinkan, sekolah dapat memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan singkat
bagi pengelola perpustakaan. Hal yang lebih penting sekolah memperhatikan peningkatan
dan pengembangan perpustakaan untuk dapat menyediakan buku-buku yang sesuai dengan
kebutuhan siswa dan keperluan guru dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
Hal ini dapat berarti sekolah memiliki kewajiban untuk memperhatikan penyediaan anggaran
perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki sekolah.
Pada sasaran kedua, sekolah mengidentifikasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi
untuk mencapai sasaran menjadi finalis pada tingkat Kota/Kabupaten dalan bidang olahraga
bola voli, yaitu waktu pelatihan yang kurang intensif dan tidak ada pengalaman guru dalam
melatih bola voli secara profesional serta sekolah tidak pernah melakukan uji-tanding ke
sekolah lain. Di samping itu, terbatasnya fasilitas pengembangan olahraga bola voli pada
tingkat Kecamatan maupun Kota dan kondisi lapangan bola voli di sekolah dalam keadaan
rusak sebagian. Berbagai peralatan olahraga voli yang dimiliki sekolah juga masih kurang,
termasuk bola voli. Selanjutnya, untuk mengatasi kelemahan atau ancaman tersebut, sekolah
melakukan beberapa langkah sebagai alternatif untuk memecahkan persoalan, sebagai
berikut:
1. Pengaktifan tim bola voli sekolah
Hasil analisis menyebutkan bahwa minat siswa terhadap olahraga bola voli cukup tinggi,
ditandai dengan cukup banyak siswa (hampir 80%) yang siap mengikuti pelatihan olahraga
ini. Sementara latihan yang diadakan sekolah kurang dari 1x seminggu atau bahkan tidak ada
latihan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah kurang memberi perhatian yang
tinggi terhadap olahraga bola voli, walaupun banyak siswa yang berminat untuk
mengikutinya.
Untuk itu, diperlukan penggalakan kegiatan olahraga bola voli dengan mengaktifkan
kembali tim voli pada tingkat sekolah, melalui sosialisasi dan pembentukan tim kelas atau
gabungan beberapa kelas dengan harapan memperoleh bibit pemain yang baik.
2. Peningkatan prasarana dan sarana olahraga bola voli
Hasil analisis menyebutkan bahwa lapangan yang ada kondisinya sudah sangat jelek dan
memerlukan perbaikan atau renovasi, termasuk penambahan sejumlah alat pendukung
lainnya, seperti tiang, net, dan bola. Lapangan olahraga sebagai salah satu unsur penting
dalam peningkatan prestasi perlu mendapat perhatian sekolah secara sungguh-sungguh.
Dengan lapangan yang memadai dan bentuk yang standar akan lebih menarik minat siswa
untuk mengikuti latihan yang diadakan oleh sekolah dan juga dapat menjadikan siswa bangga
memiliki sekolah dengan lapangan olahraga yang baik. Untuk itu sekolah perlu memberikan

porsi anggaran yang cukup dalam rangka melakukan renovasi lapangan dan mengalokasikan
anggaran untuk membeli peralatan yang kurang atau tidak ada sebelumnya, tetapi sangat
diperlukan.
3. Peningkatan waktu latihan dan uji-tanding
Pada fungsi pelatihan, terdapat banyak kelemahan dan tantangan untuk menjadikan tim
bola voli sekolah masuk menjadi finalis pada tingkat Kota/Kabupaten, diantaranya adalah
waktu latihan yang kurang banyak dan tidak efektif, karena pelatihan selama ini hanya
sekedar memenuhi kegiatan rutin dan tidak memiliki target mutu. Untuk itu, program latihan
perlu ditingkatkan lebih intensif lagi, misalnya dengan meningkatkan latihan menjadi 3x
dalam seminggu dan menyusun program uji-tanding dengan sekolah lain sebanyak 1x
sebulan. Uji-tanding dengan sekolah lain yang telah memiliki tim yang kuat, dapat
memberikan pengalaman dan memupuk keberanian tim sekolah saat nanti mengikuti
turnamen yang sebenarnya.
4. Pelatih dari luar sekolah
Hasil analisis menyebutkan bahwa sekolah tidak memiliki pelatih yang memabg
berpengalaman dalam cabang olahraga bola voli. Pelatih yang ada hanya guru olahraga yang
secara rutin memberikan latihan dengan teknik yang masih konvensional dan belum
mempunyai pengalaman bertanding di luar daerah. Hal itu dapat dipahami, karena tidak
semua guru olahraga dapat menjadi pelatih yang baik untuk satu cabang olahraga tertentu.
Untuk itu, dirasa perlu untuk mendatangkan pelatih dari luar yang memiliki pengalaman
bertanding dan mampu memberikan cara-cara terbaik dalam bermain bola voli.
F. Studi Kasus
SD XXX merupakan salah satu SD Negeri di kota XXX. Sejak didirikannya SD XXX
sekitar 30 tahun yang lalu, sekolah tersebut merupakan sekolah yang sangat diperhitungkan
dan menjadi incaran oleh orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi, sejak lima
tahun terakhir ini prestasi sekolah tersebut mulai menurun. Semakin lama keberadaan sekolah
tersebut semakin menghilang dari berbagai ajang kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler
di kota XXX. Hubungan antarguru kurang harmonis bahkan muncul kecurigaan baik di
antara kepala sekolah dengan guru maupun guru dengan guru. Sebagian orang tua menarik
anaknya dari sekolah tersebut dan memindahkan ke sekolah lain.
Sebagai seorang yang memahami entrepreneurship di bidang pendidikan, misalkan
saya direkrut oleh Dinas Pendidikan Kota XXX sebagai konsultan untuk membenahi
sekolah tersebut maka saran-saran untuk memperbaiki SD XXX tersebut dapat diberikan
melalui analisis dan penjelasan singkat berikut ini.

Berdasarkan kasus yang dikemukakan di atas, sebagai seorang konsultan akan


memberikan berbagai saran/masukan demi pembenahan dan pemulihan kualitas sekolah
tersebut. Kapasitas sebagai konsultan yang dimaksud di sini adalah seorang profesional yang
ahli dalam bidang manajemen pendidikan, khususnya untuk terapi penurunan kualitas
sebuah institusi pendidikan. SD XXX adalah sekolah yang secara sosiogeografis berada di
sebuah perkotaan, tentu saja kota besar. Jika jumlah sekolah mencapai 74, umumnya hanya
ada di kota besar. Berbagai saran yang diberikan oleh konsultan ke depan harus selalu
mempertimbangkan sekolah tersebut sebagai salah satu sekolah di kota modern. Selain itu,
SD XXX juga merupakan sekolah tua. Konsultan perlu mempertimbangkan para alumni yang
tersebar di berbagai pelosok untuk mengembalikan kualitas sekolah tersebut seperti sedia
kala.
SD XXX di Kota XXX adalah sebuah sekolah yang memiliki permasalahan serius,
terutama dalam hal perilaku kepala sekolah, guru, dan siswa. Berbagai perilaku negatif ini
dapat diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak baik dalam tataran manajemen sekolah.
Beberapa hal yang dapat disarankan adalah sebagai berikut.
1. Sebagai konsultan resmi yang ditunjuk harus mencari dokumen resmi dan memahami dengan
baik sejarah sekolah, riwayat prestasi sekolah, dan melakukan berbagai analisis SWOT dari
sekolah tersebut selama 30 tahun terakhir. Hasil dari observasi dan analisis ini akan menjadi
dasar bagi konsultan untuk memetakan perubahan sekolah tersebut menuju kualitas yang
lebih baik.
2. Melakukan konsultasi manajemen pendidikan dengan pihak dinas pendidikan dalam upaya
perubahan sistem manajemen dan struktur di sekolah tersebut. Jika kepala sekolah (sebagai
manajer) saja sudah tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang yang dipimpinnya
(bawahannya), maka ini adalah pertanda manajemen yang tidak harmonis. Penggantian
kepala sekolah perlu segera dilakukan untuk memperoleh manajer yang lebih muda dan
3.

memiliki semangat dan visi yang jelas.


Mengupayakan adanya keterlibatan para alumni untuk kembali memperhatikan
almamaternya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa SD XXX telah terpuruk, publik sudah
mengetahuinya bahwa kualitas sekolah tersebut semakin menurun. Dari berbagai informasi
media, banyaknya orangtua yang menarik anaknya dari sekolah itu, tentu suatu hal yang tidak
perlu dirahasiakan lagi. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk menjaring
saran dan keterlibatan para alumni sekarang ini amat mudah dilakukan. Jejaring sosial yang
banyak digandrungi orang dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun komunikasi

dengan para alumni. Tetapi untuk menjaga privasi sekolah, tetap saja model grup tertutup
yang dianjurkan untuk digunakan.
4. Meningkatkan upaya untuk menjamin keamanan, keselamatan dan visi yang jelas untuk masa
depan para peserta didik. Dari upaya ini akan mengembalikan kepercayaan para orang tua
sehingga turn over dapat dihindari. Turn over yang tinggi juga terjadi di perusahaanperusahaan besar dan salah satu penyebabnya adalah tidak adanya jaminan keamanan untuk
masa depan

1.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman

2.

(threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.


Faktor-faktor analisis SWOT ada empat yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses),

3.

peluang (opportunities), dan ancaman (threats).


Analisis SWOT dipakai untuk: menganalisis kondisi diri dan lingkungan pribadi,
menganalisis kondisi internal lembaga dan lingkungan eksternal lembaga, menganalisis
kondisi internal perusahaan dan lingkungan eksternal Perusahaan, mengetahui sejauh mana
diri kita di dalam lingkungan kita, mengetahui posisi sebuah lembaga diantara lembagalembaga lain, dan mengetahui kemampuan sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnisnya
dihadapkan dengan para pesaingnya.

4.

Analisis SWOT dalam program sekolah dapat dilakukan dengan melakukan matrik SWOT,
matrik ini terdiri dari sel-sel daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam
penyelenggaraan program sekolah, untuk memperoleh mutu sekolah dapat dilakukan strategi
SO (menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang), strategi WO (memperbaiki
kelemahan dan mengambil manfaat dari peluang), strategi ST (menggunakan kekuatan dan

5.

menghindari ancaman), strategi WT (mengatasi kelemahan dan menghindari ancaman).


Analisis SWOT sangat penting perannya dalam meningkatkan mutu pendidikan karena
analisis dan gambaran yang diberikan merupakan tolok ukur dalam mengembangkan
lembaga/satuan pendidikan lebih lanjut. Setelah analisis, perlu dirumuskan visi,misi, tujuan,
dan program kerja yang lebih konkret untuk memperbaiki program sebelumnya.

1.

B. Saran
Guru perlu memahami analisis SWOT secara mendalam agar nantinya dapat melakukan
analisis SWOT sebagai bentuk dukungan/partisipasi terhadap program manajemen berbasis

2.

sekolah.
Guru harus memperhatikan faktor-faktor dalam analisis SWOT agar dapat memformulasikan

3.
4.

analisis SWOT dengan baik dan mencapai sasaran/tujuan yang diharapkan.


Guru harus dapat memfungsikan analisis SWOT sesuai kegunaannya dengan tepat.
Guru harus dapat memahami hubungan dari faktor-faktor SWOT (kekuatan, kelemahan,
peluang, ancaman) agar dapat memanfaatkan faktor-faktor kekuatan dan peluang untuk

5.

mengatasi kelemahan dan menghindari ancaman.


Guru harus dapat memahami contoh aplikasi SWOT agar di kemudian hari dapat
mengaplikasikan SWOT dalam program manajemen berbasis sekolah.