Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pengawasan merupakan salah satu fungsi dalam manajemen suatu
organisasi. Dimana memiliki arti suatu proses mengawasi dan
mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu pengawasan dikatakan penting
karena tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan
tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri
maupun bagi para para pekerjanya. Di dalam suatu organisasi terdapat
tipe-tipe pengawasan yang digunakan, seperti pengawasan pendahuluan
(preliminary control), pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent
control), pengawasan feed back (feed back control). Di dalam proses
pengawasan juga diperlukan tahap-tahap pengawasan tersebut terdiri
dari beberapa macam,yaitu tahap penetapan standar,tahap penentuan
pengukuran pelaksanaan kegiatan, tahap pembandingan pelaksanaan
dengan standar dan analisa penyimpangan dan tahap pengambilan
tindakan koreksi
Suatu organisasi juga memiliki perancangan proses pengawasan, yang
berguna untuk merencanakan secara sistematis dan terstruktur agar
proses pengawasan berjalan sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau
direncanakan. Untuk menjalankan proses pengawasan tersebut
dibutuhkan alat bantu manajerial dikarenakan jika terjadi kesalahan dalam
suatu proses dapat langsung diperbaiki.selain itu, pada alat-alat bantu
pengawasan ini dapat menunjang terwujudnya proses pengawasan yang
sesuai dengan kebutuhan. Pengawasan juga meliputi bidang-bidang
pengawasan yang menunjang keberhasilan dari suatu tujuan organisasi.

B. Rumusan masalah
Apa pengertian dari pengawasan?
Apa saja tipe-tipe dari pengawasan?
Bagaimana tahap-tahap dalam proses pengawasan?
Apa yang menjadi alasan pentingnya pengawasan?
Bagaimanakah perencanaan dalam proses pengawasan?
Apa saja yang menjadi bidang-bidang pengawsan strategik?
Apa saja alat bantu yang terdapat dalam pengawasan manajerial?
Bagaimanakah karakteristik pengawasa yang efektif dalam pengawasan?
C. Tujuan Penulisan
Untuk memahami pengetian dari pengawasan
Untuk memahami tipe-tipe apa saja yang ada pada pengawasan
Untuk mengetahui tahap-tahap yang terdapat dalam proses pengawasan
Untuk mengetahui pentingnya pengawasan
Untuk mengetahui perencanaan proses apa saja yang terdapat dalam
pengawasan
1

Untuk memahami bidang-bidang yang terdapat dalam pengawasan


strategik
Untuk mengetahui alat bantu yang tedapat pada pengawasan manajerial
Untuk memahami karakteristik pengawasan manajerial yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1

DEFINISI PENGAWASAN

Pengawasan secara umum dapat didefinisikan sebagai cara suatu


organisasi mewujudkan kinerja yang efektif dan efisien, serta lebih jauh
mendukung terwujudnnya visi dan misi organisasi. Menurut pendapat
para ahli tentang pengawasan adalah sebagai berikut :
a. Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig : pengawasan adalah tahap
proses manajerial mengenai pemeliharaan kegiatan organisasi dalam
batas-batas yang diizinkan yang diukur dari harapan-harapan. Lebih jauh
Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig mengatakan bahwa, teori
pengawasan itu sperti halnya teori umum lainnya, lebih banyak
merupakan keadaan pikiran (State of mind) daripada gabungan spesifik
dari metode matematis, ilmiah atau teknologis
b. G. R. Terry : Controlling can be difined as the process of determining what
is to be accomplished, that is the standard; what is being accomplished,
that is performance, evaluating the performance take place according to
plans, that is, in conformity with the standard ( pengawasan dpat
didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yaitu
standar apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai
pelaksanaan, dan apabila perlu dilakukan perbaikan perbaikan, sehingga
pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar).
c. T. Hani Handoko : pengawasan dapat didefinisikan sebgai proses untuk
menjamin bhawa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai
d. Hadibroto mengatakan bahwa pengawasan adalah kegiatan penilaian
terhadap organisasi/ kegiatan dengan tujuan agar organisasi/kegiatan
tersebut melaksankan funngsinya dengan baik dan dapat memnuhi
tujuannya yang telah ditetapkan.

e. Brantas : pengawasan ialah proses pemantauan, penilaian, dan pelaporan


rencana atas pencapaian tujuan yang telah di tetapkan untuk tindakan
korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.
2.3

TIPE-TIPE PENGAWASAN

Terdapat tiga tipe pengawasan manajemen: (1) pra-pengawasan, (2)


pengawasan yang bersamaan (concurent), dan (3) pengawasan umpan
balik. Tiap-tiap jenis terutama ditentukan oleh periode waktu dimana
pengawasan

ditekankan

dalam

hubungannya

dengan

kerja

yang

dilaksanakan.
(1) Pra-pengawasan
Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan dinamakan prapengawasan

atau

pengawasan

kedepan

(feed-forward

control).Pra-

pengawasan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang


diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan, prosedur-prosedur,
dan aturan-aturan yang ditujukan pada dihilangkannya perilaku yang
menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan dimasa depan.
(2) Pengawasan yang Bersamaan dengan Pelaksanaan Kegiatan
Pengawasan

yang

terjadi

ketika

pekerjaan

sedang

dilaksanakan

dinamakan Pengawasan "concurrent". Pengawasan concurrent tidak


hanya berhubungan dengan kinerja kemanusiaan saja tetapi juga pada
bidang-bidang seperti kinerja peralatan-peralatan atau penampakan
departemen. Contoh, sebagian besar toko grosir mempunyai aturan ketat
mengenai jumlah stok yang harus ditempatkan pada lantai penjualan.
Pada umumnya, toko grosir yang ada ingin meletakkan sejumlah besar
produk pada rak-rak, dengan tanpa "lubang stok" atau ruangan kosong.
(3) Pengawasan Umpan Balik
Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu
dinamakan

pengawasan

umpan

balik.
3

Ketika

menggunakan

tipe

pengawasan ini, wirausahawan sesungguhnya berusaha untuk mengambil


tindakan

koreksi

dalam

organisasi

dengan

melihat

pada

sejarah

organisasional selama periode waktu tertentu. Sejarah ini bisa dipusatkan


pada hanya satu faktor, seperti tingkat persediaan, atau pada hubungan
antara banyak faktor, seperti pendapatan bersih sebelum pajak, volume
penjualan, dan biaya-biaya pemasaran.

2.3 TAHAP - TAHAP DALAM PROSES PENGAWASAN


Proses pengawasan biasanya terdiri paling sedikit 5 tahap (langkah),
Tahap-tahap pengawasan sebagai berikut :
1. Penetapan Standar Pelaksanaan (Perencanaan)
Tahap pertama dalam pengawasan adalah penetapan standar
pelaksanaan. Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran
yang dapat digunakan sebagai patokan. Untuk penilaian hasil-hasil.
Tujuan, sasaran kuota dan target pelaksanaan dapat digunakan sebagai
standar.
Tiga bentuk standar yang umum adalah :
a) Standar-standar fisik, meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah
langganan, atau kualitas produk.
b) Standar-standar moneter, yang ditujukan dalam rupiah dan mencakup
biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan,
dan sejenisnya.
c) Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu
suatu pekerjaan harus diselesaikan.
Setiap tipe standar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk
hasil

yang

dapat

dihitung.

Ini
4

memungkinkan

manajer

untuk

mengkomunikasikan pelaksanaan kerja yang diharapkan kepada para


bawahan secara lebih jelas dan tahapan-tahapan lain dalam proses
perencanaan

dapat

ditangani

dengan

lebih

efektif.

Standar

harus

ditetapkan secara akurat dan diterima mereka yang bersangkutan.


Standar-standar yang tidak dapat dihitung juga memainkan peranan
penting dalam proses pengawasan. Pengawasan dengan standar kualitatif
lebih

sulit

dicapai

tetapi

hal

ini

tetap

penting

untuk

mencoba

mengawasinya. Misal, standar kesehatan personalia, promosi karyawan


yang terbaik, sikap kerjasama, berpakaian yang pantas dalam bekerja dan
sebagainya.
2. Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Penetapan stsandar adalah sia-sia bila tidak disertai berbagai cara
untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap
kedua dalam pengawasan adalah menentukan pengukuran pelaksanaan
kegiatan secara tepat.
3. Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan,
pengukuran pelaksanaan dilakukan sebagai proses yang berulang - ulang
dan terus-menerus. Ada berbagai cara untuk melakukan pengukuran
pelaksanaan yaitu
a. Pengamatan (observasi)
b. Laporan-laporan, baik lisan dan tertulis,
c. Metode-metode otomatis dan,
d. Inspeksi, pengujian (test), atau dengan pengambilan sampel. Banyak
perusahaan sekarang

mempergunakan pemeriksa intern (internal

auditor) sebagai pelaksana pengukuran.


4.

Pembandingan

Pelaksanaan

dengan

Standar

dan

Analisis

Penyimpangan
Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan
pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan yang direncanakan atau standar
yang telah ditetapkan. Walaupun tahap ini paling mudah dilakukan, tetapi
kompleksitas

dapat

terjadi

pada

saat
5

menginterpretasikan

adanya

penyimpangan (deviasi). Penyimpangan-penyimpangan harus dianalisis


untuk menentukan standar tidak dapat dicapai.
5. Pengambilan Tindakan Koreksi Bila Diperlukan
Bila hasil analisis menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan
ini harus diambil. Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk.
Standar

mungkin

diubah,

pelaksanaan

diperbaiki,

atau

keduanya

dilakukan bersamaan.
Tindakan koreksi berupa :
1. Mengubah standar mula-mula (barangkali terlalu tinggi atau terlalu
rendah).
2.

Mengubah

pengukuran

pelaksanaan

(inspeksi

terlalu

sering

frekuensinya atau kurang atau bahkan mengganti sistem pengukuran itu


sendiri).
3.

Mungubah

cara

dalam

menganalisis

dan

menginterpretasikan

penyimpangan-penyimpangan (Imam dan Siswandi, 2007).

Penetapan
Standar
Pelaksanaan

Penentuan
Pengukuran
Pelaksanaan
Kegiatan

Pengukuran
Pelaksanaan
Kegiatan

Perbandingan
dengan standar
evaluasi

Pengambilan
Tindakan Koreksi
Bila Perlu

Tahap-Tahap Pengawasan

2.4

PENTINGNYA PENGAWASAN
Ada

berbagai

faktor

yang

membuat

pengawasan

semakin

diperlukan oleh setiap organisasi. Faktor-faktor adalah:


1. Perubahan Lingkungan Organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus menerus dan tak
dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru,
diketemukannya bahan baku baru, adanya peraturan pemerintah baru,
dan

sebagainya.

Melalui

perubahan-perubahan

fungsi

yang

pengawasan

berpengaruh

manajer

pada

barang

mendeteksi
dan

jasa

organisasi, sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan


kesempatan yang diciptakan perubahan-perubahan yang terjadi.
2. Peningkatan Kompleksitas Organisasi
Semakin besar organisasi semakin memerlukan pengawasan yang lebih
formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin
bahwa kualitas dan profitabilitas tetap terjaga, penjualan eceran pada
para penyalur perlu dianalisa dan dicatat secara tepat: bermacam-macam
pasar

organisasi,,

luar

dan

dalam
7

negeri,

perlu

selalu

dimonitor.

Disamping itu organisasi sekarang lebih bercorak desentralisai, dengan


banyak agen-agen atau cabang-cabang penjualan dan kantor-kantor
pemasaran, pabrik-pabrik yang terpisah secara geografis, atau fasilitasfasilitas

penelitian

yang

tersebar

luas.

Semuanya

memerlukan

pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan lebih efektif.


3. Kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak pernah membuat kesalahan, manajer dapat
secara sedehana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan
anggota

organisasi

sering

membuat

kesalahan-kesalahan

seperti

memesan barang atau komponen yang salah, membuat penentuan harga


yang terlalu rendah, masalah-masalah didiagnosa secara tidak tepat.
Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahankesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4. Kebutuhan Manajer untuk Mendelegasikan Wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewnang kepada bawahannya tanggung
jawab atasan itu tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat
menentukan apakah bawahan telah melakukan tugas-tugas yang telah
dilimpahkan kepadanya adalah dengan mengimplementasikan system
pengawasan. Tanpa sistem tersebut, manajer tidak dapat memeriksa
pelaksanaan tugas bawahan.
Kata

pengawasan

sering

mempunyai

konotasi

yang

tidak

menyenangkan, karena dianggap akan mengancam kebebasan dan


ekonomi pribadi. Padahal organisasi sangat memerlukan pengawasan
untuk menjamin tercapainya tujuan. Sehingga tugas manajer adalah
menemukan keseimbangan antara pengawasan organisasi dan kebebasan
pribadi atau mencari tingkat pengawasan yang tepat. Pengawasan yang
berlebihan akan menimbulkan birokrasi, mematikan kreatifitas, dan
sebagainya, yang akhirnya merugikan organisasi sendiri. Sebaliknya
pengawasan yang tidak mencukupi dapat menimbulkan pemborosan
sumber daya dan membuat sulit pencapaian tujuan.

2.5

PERENCANAAN DALAM PROSES PENGAWASAN


8

Dalam melakukan pengawasan terhadap bawahan yang dilakukan


oleh manajer ataupun atasan maka perIu dilakukan tahapan atau proses
pengawasan. Menurut Kadar man langkah-langkah proses pengawasan
yaitu:
A. Menetapkan Standar
Karena

perencanaan

merupakan

tolak

ukur

untuk

merancang

pengawasan, maka secara logis hal ini berarti bahwa langkah pertama
dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan yang
dimaksud disini adalah menentukan standar.
B. Mengukur Kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi
kinerja yang dicapai terhadap standar yang telah ditentukan.
C. Memperbaiki Penyimpangan
Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan
terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Sedangkan menurut G. R. Terry

proses pengawasan terbagi atas 4

tahapan, yaitu:
1.
2.
3.

Menentukan standar atau dasar bagi pengawasan.


Mengukur pelaksanaan
Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan temukanlah
perbedaan
jika ada.

4.

Memperbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat.


Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa proses pengawasan
dilakukan berdasarkan beberapa tahapan yang harus dilakukan. Hal
pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan standar perencanaan
sehingga dalam melakukan pengawasan manajer mempunyai standar
yang jelas.
Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengukur kinerja
pegawai, sejauh mana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang
telah dibuat atau ditetapkan perusahaan sehingga perusahaan dapat
mencapai tujuannya secara optimal. Kemudian setelah menetapkan
standar dan mengukur kinerja maka hal yang perlu dilakukan adalah
9

membandingkan

pelaksanaan

dengan

standar

yang

telah

membandingkan pelaksanaan dengan standar yang telah ditetapkan. Dan


yang terakhir adalah melakukan perbaikan jika ditemukan penyimpanganpenyimpangan yang terjadi.
2.6

BIDANG-BIDANG PENGAWASAN STRATEGIK

Bidang strategik yang dapat membuat organisasi secara keseluruhan


mencapai sukses yaitu :
1.

Transaksi Keuangan
a. Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh
pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan
dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu,
dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling
mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa
mendatang.

b. Manajemen Kas (Cash Management)


c. Pengelolaan Biaya (Cost Control)
2. Hubungan Manajer dan Bawahan
Hubungan antara manager dan bawahan juga harus baik dan terjaga.
Sebisa mungkin ada hubungan 2 arah antara manager dan bawahan,
bukan hubungan searah dimana manager terus-terusan memberi perintah
kepada

bawahan

tanpa

mau

mendengar

keluhan

dan

perasaan

bawahannya. Bila ada hubungan harmonis seperti keluarga dalam suatu


perusahaan maka akan tercipta team kerja yang solid dan kuat dalam
menjalankan perusahaan.
3. Operasi-operasi Produktif
2.7

ALAT BANTU PENGAWASAN MANAJERIAL

Alat-alat pengawasan yang paling dikenal dan paling umum digunakan


adalah :
1) Manajemen Pengecualian (Management by Exception)

10

Manajemen pengecualian adalah teknik pengawasan yang memungkinkan


hanya penyimpangan kecil antara yang direncanakan dan kinerja aktual
yang

mendapatkan

perhatian

dari

wirausahawan.

Manajemen

penegecualian didasarkan pada prinsip pengecualian, prinsip manajemen


yang muncul paling awal pada literatur manajemen. Prinsip pengecualian
menyatakan

bahwa

organisasional,

bawahan

sementara

menangani

semua

wirausahawan

persoalan

menangani

rutin

persoalan

organisasional non rutin atau diluar kebiasaan.


2) Management Information System (MIS)
MIS yaitu suatu metoda informal pengadaan dan penyediaan bagi
manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu
untuk membantu proses pembuatan keputusan dan memungkinkan
fungsi-fungsi perencanaan, pengawasan dan operasional organisasi yang
dilaksanakan secara efektif.
3) Analisa Rasio
Rasio adalah hubungan antara dua angka yang dihitung dengan membagi
satu

angka

dengan

angka

lainnya.

Analisa

rasio

adalah

proses

menghasilkan informasi yang meringkas posisi financial dari organisasi


dengan menghitung rasio yang didasarkan pada berbagai ukuran finansial
yang muncul pada neraca dan neraca rugi-laba organisasi.
4) Penganggaran
Anggaran dalam organisasi ialah rencana keuangan yang menguraikan
bagaimana dana pada periode waktu tertentu akan dibelanjakan maupun
bagaimana dana tersebut akan diperoleh. Anggaran juga merupakan
laporan resmi mengenai sumber-sumber keuangan yang telah disediakan
untuk membiayai pelaksanaan aktivitas tertentu dalam kurun waktu yang
ditetapkan.

Disamping

sebagai

rencana

keuangan,

anggaran

juga

merupakan alat pengawasan.


Anggaran adalah bagian fundamental dari banyak program pengawasan
organisasi. Pengawasan anggaran atau Budgetary Control itu sendiri
merupakan suatu sistem sasaran yang telah ditetapkan dalam suatu
anggaran

untuk

mengawasi

kegiatan-kegiatan

manajerial,

dengan

membandingkan pelaksanaan nyata dan pelaksanaan yang direncanakan.


11

2.8

KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK PENGAWASAN YANG

EFEKTIF
Adapun karakteristik pengawasan yang efektif harus memenuhi :
1. Ada unsur keakuratan, dimana data harus dapat dijadikan pedoman
dan valid.
2. Tepat waktu, yaitu dikumpulkan, disampaikan dan di evaluasi secara
cepat dan tepat dimana kegiatan perbaikan perlu dilaksanakan.
3. Objektif dan menyeluruh, dalam arti mudah dipahami.
4. Terpusat, dengan memusatkan pada bidang-bidang penyimpangan
yang paling sering terjadi.
5. Realistik secara ekonomis, dimana biaya system pengawasan harus
lebih rendah atau sama dengan kegunaan yang didapat.
6. Realistik secara organizacional, yaitu cocok dengan kenyataan yang
ada di organisasi.
7. Terkoordinasi dengan aliran kerja, karena dapat menimbulkan sukses
atau gagalnya operasi serta harus sampai pada karyawan yang
memerlukannya.
8. Fleksibel, harus dapat menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi,
sehingga tidak harus buat sistem baru bila terjadi perubahan kondisi.
9. Sebagai petunjuk dan operasional, dimana harus dapat menunjukan
debais estndar sehingga dapat menentukan koreksi yang diambil.
10. Diterima para anggota organisasi, mampu mengarahkan
pelaksanaan verja anggota organisasi dengan mendorong perasaan
ekonomi, tanggung jawab dan prestasi.

12

BAB III PENUTUP


3.1

Simpulan
Pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan

standar

pelaksanaan

tujuan

denagn

tujuan-tujuan

perencanaan,

merancang system informasi umpan balik, membandingkan kegiatan


nyata dengan standar yang telah di tetapkan sebelumnya, menentukan
dan mengukur penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang di
perlukan.
Tipe-tipe pengawasan yaitu: pengawasan pendahuluan (preliminary
control), pengawasan pada saat kerja berlangsung (concurrent control),
pegawasan feedback (feedback control). Tahap proses pengawasan yaitu:
menetepkan standar pelaksanaan, penentuan pengukuran pelaksanaan
kegiatan, pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan
13

penganalisa

penyimpangan-penyimpangan,

pengambilan

tindakan

koreksi.
3.2

Saran
Pengawasan dirasa sangat di butuhkan dalam suatu organisasi.

Karena

jika

tidak

ada

pengawasan

dalam

suatu

organisasi

akan

menimbulkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi baik yang


berasal dari bawahan maupun lingkungan.
Pengawasan menjadi sangat dibutuhkan karena dapat membangun
suatu komunikasi yang baik antara pemimpin organisasi dengan anggota
organisasi.

Serta

pengawasan

dapat

memicu

terjadinya

tindak

pengoreksian yang tepat dalam merumuskan suatu masalah.


Pengawasan lebih baik dilakukan secara langsung oleh pemimpin
organisasi. Di sebabkan perlu adanya hak dan wewenang ketegasan
seorang pemimpin dalam suatu organisasi.pengawasan di sarankan
dilakukan secara rutin karena dapat merubah suatu lingkungan organisasi
dari yang baik menjadi lebih baik. Sesuai Firman Allah SWT:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah


dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18)

Daftar Pustaka
1. Fahmi, Irham. 2012. MANAJEMEN Teori, kasus, dan solusi. Bandung :
ALFABETA, cv
2. Handoko, T. Hani. 1986. Manajemen edisi kedua.Yogyakarta.Yogyakarta : BPFE
3. Daft, Richard L. 2010. MANAJEMENT. Boston: McGraw-Hill
14

4. Kast, Fremont E. & James E.Rosenzweig. 2002. Organisasi dan Manajemen, jilid 2.
Jakarta: Bumi Aksara
5. Sule, Ernie Tisnawati, Kurniawan Saefullah. 2005. PENGANTAR MANAJEMEN.
Jakarta: Prenada Media Group
6. Jayanti, Linda. Bidang-Bidang Pengawasan Strategik. 22 Mei 2014.
http://lindajayanti98.wordpress.com/2013/01/11/5-bidang-bidang-pengawasanstrategik/
7. Firman, Faturrozi. Alat Bantu Pengawasan Manajerial. 22 Mei 2014.
http://faturrozifirman.blogspot.com/2012/01/alat-bantu-pengawasan-manajerial.html
8. Ramadhani, Raden N. Pengawasan. 22 Mei 2014.
http://rnurinaramadhani.blogspot.com/2011/01/pengawasan-pengawasan-diciptakankarena.html.
9. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/kewirausahaan/bab18-pengawasan.pdf
Diakses pada hari Kamis tanggal 22 Mei 2014 pukul 21.37 WIB
10. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38093/4/Chapter%20II.pdf Diakses
pada hari Kamis tanggal 22 Mei 2014 pukul 19.29

15