Anda di halaman 1dari 6

Permasalahan penyakit Vektor Dan upaya Pengendalian

Lalat (Musca domestica Linn.) sebagai vektor penyakit


Luriyona Rahayu
Program studi S1 Ilmu kesehatan masyarakat
STIKes Dharma Husada bandung

A. Tinjauan tentang lalat


Penyakit parasit disebabkan oleh cacing, protozoa, dan serangga
parasit, banyak terjadi di negara berkembang serta di daerah tropis termasuk
Indonesia. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mendukung untuk hidup dan
berkembang biaknya parasit seperti lingkungan, iklim, suhu, kelembaban, dan
juga gaya hidup masyarakat yang akan sangat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan parasit di Indonesia.1 Lalat merupakan salah satu serangga
parasit yang hidup berdampingan dengan manusia dan sebagai vektor penyakit
yang memberi dampak merugikan bagi manusia karena memiliki peran pembawa
mekanik patogen terhadap makanan manusia.2 Musca domestica atau lalat
rumah atau sering disebut housefly merupakan salah satu spesies serangga
yang banyak terdapat di seluruh dunia. Sebagian besar (95%) dari berbagai jenis
lalat yang dijumpai di sekitar rumah dan kandang, adalah lalat jenis ini. 3
M. domestica umumnya berkembang dalam jumlah besar pada tempattempat kotor dan sekitar kandang. Hal ini merupakan permasalahan serius yang
memerlukan pengendalian. Pengendalian M. domestica sangat penting bagi
kesehatan baik untuk manusia maupun ternak4
Organisme yang disebarkan M. domestica kurang lebih ada 100 jenis
yang bersifat patogen terhadap manusia dan hewan. Lalat ini membawa agen
penyakit yang diperoleh dari sampah, limbah buangan rumah tangga dan sumber
kotoran lainnya. Agen penyakit ditularkan dari mulut melalui vomit drops, feses
dan bagian tubuh lainnya yang terkontaminasi dan dipindahkan pada makanan
manusia atau pakan hewan/ternak5

Djaenudin Natadisastra 2009. Parasitologi Klinik di Indonesia. Dalam: parasitologi Kedokteran Ditinjau dari organ Tubuh yang diserang.

Edisi 1 . Jakarta: EGC. Hal:60-61


2
3
4

Sembel DT, 2009. Entomologi Kedokteran. Penerbit ANDI, Yogyakarta


Fotedar R. Vector Potensial of Houseflies (M. domestica) in Tranmission of Vibrio cholera in India. Acta Tropica. 2000; 78 (220): 31-34.
Hastutiek Poedji , Loeki Enggar Fitripotensi Musca Domestica Linn. SEBAGAI VEKTOR BEBERAPA PENYAKIT, Jurnal Kedokteran

Brawijaya, Vol. XXIII, No. 3, 2007


5

Sigit HS, FX Koesharto, UK Hadi, DJ Gunandini dan S Soviana. Hama Pemukiman Indonesia, Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. Unit

Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP), Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 2006.

B. Siklus hidup lalat


Pada umumnya siklus hidup lalat melalui 4 stadium yaitu :
Telur

Larva

Pupa

Lalat Dewasa

Pada beberapa jenis lalat telur-telur tetap dalam tubuh lalat dewasa
sampai menetap dan baru kemudian dilahirkan larva. Lamanya siklus hidup dan
kebiasaan tempat bertelur bisa berbeda antara berbagai jenis lalat. Demikian
pula terdapat perbedaanperbedaan dalam hal suhu dan tempat hidup yang
biasanya untuk masing-masing jenis lalat.6
C. Ketahanan hidup lalat
Ketahanan Hidup Tergantung pada musim dan temperatur: Lalat dewasa
hidup 2-4 minggu pada musim panas dan lebih lama pada musim dingin yaitu
bisa mencapai 3 bulan, mereka paling aktif pada suhu 32,50C dan akan mati
pada suhu 450C. Lalat melampaui musim dingin (over wintering) sebagai lalat
dewasa, dan berkembang biak di tempat-tempat yang relatif terlindung seperti
kandang ternak dan gudang-gudang. Pada stadium telur biasanya tidak tahan
terhadap suhu yang ekstrim dan akan mati bila berada dibawah 5 0C dan di atas
400C. Lamanya tahap instar larva sangat tergantung pada suhu dan kelembaban
lingkungan.Pada suhu -20C larva dapat bertahan beberapa hari , di bawah suhu
100C larva tidak dapat berkembang menjadi pupa.7
Lalat berkembang biak pada media berupa tinja atau feses, karkas,
sampah, kotoran hewan dan limbah buangan yang banyak mengandung agen
penyakit, dengan demikian lalat mudah tercemari oleh agen penyakit baik di
dalam perut, bagian mulut dan kaki. Kontaminasi terjadi pada bagian mulut atau
bagian tubuh lalat yang lain seperti kaki, ketika lalat tersebut makan feses yang
mengandung agen penyakit, kemudian terbang dan hinggap pada makanan
sehat sambil memindahkan agen penyebab penyakit.8 Transmisi mekanis
patogen biasanya harus terjadi dalam beberapa jam agar dapat dengan efektif
menginfeksi karena daya tahan sebagian agen penyebab penyakit ketika berada
dalam vektor pembawa sangat singkat.9

D. Lalat sebagai vektor penularan penyakit

6
7
8

Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman (Dipublikasikan)
Mokosuli Yermia S, entomologi kesehtan lalat tungaU DAN CAPLAK SEBAGAI VEKTOR
Sigit HS, FX Koesharto, UK Hadi, DJ Gunandini dan S Soviana. Hama Pemukiman Indonesia, Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. Unit

Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP), Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 2006.
9

Hastutiek poedji , Loeki Enggar FitriPOTENSI Musca domestica Linn. SEBAGAI VEKTOR BEBERAPA PENYAKIT, Jurnal Kedokteran

Brawijaya, Vol. XXIII, No. 3, 2007

Berbagai penyakit penting yang dapat ditularkan oleh lalat antara lain
penyakit viral seperti poliomielitis, hepatitis, trakhoma, coxsackie dan infeksi
ECHO virus. Berbagai jenis bakteri enteropatogen yang berhasil diisolasi dari M.
domestica yang dikoleksi dari tempat sampah dan kandang ayam antara lain
adalah

Acinetobacter

sp,

Cirtobacter

freundii,

Enterobacter

aerogenes,

Enterobacter aggolerans, Escherichia coli, Hafnia alvei, Klebsiella pneumoniae,


Morganella morganii, Proteus vulgaris, Pseudomonas sp dan Salmonella sp.,10.
Graczyck et al., (1999) menyatakan M. domestica juga berperan sebagai inang
transport (pembawa) Staphylococcus sp dan Pseudomonas sp11
Penyakit lambung dan usus (enterogastrik) pada manusia seperti
bacillary disentri, salmonellosis (thypoid, parathypoid fever), enteritis, keracunan
makanan dan cholera juga ditularkan oleh lalat rumah . ada beberapa kasus,
lalat rumah juga bertindak sebagai vektor penyakit kulit seperti lepra dan yaws
(frambusi atau patek) juga vektor untuk wabah sakit mata (epidemic
conjunctivitis)12
Lalat rumah juga berperan sebagai vektor biologis cacing Habronema muscae.13
Penyakit yang ditularkan oleh lalat hijau adalah penyakit yang
berhubungan dengan saluran pencernaan misalnya, typus abdominalis, kolera,
diare, disentri, dan lain-lain14
E. Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat

Pada lingkungan yang tergolong kotor, sangat banyak dikerumuni lalat.


Untuk meminimalisir pembiakkan lalat perlu diadakan upaya pengendalian
lalat. Berdasarkan Depkes RI (1991) bahwa: Sebelum melakukan
pengendalian, perlu dilakukan pengukuran tingkat kepadatan lalat dimana
data ini dapat dipakai untuk merencanakan upaya pengendalian, yaitu
tentang kapan, dimana dan bagaimana pengendalian yang akan
dilakukan. Selain itu pengukuran tingkat kepadatan lalat diperlukan untuk
menilai keberhasilan pengendalian sebelum dan sesudah dilakukan
penanganan.15
F. Pengendalian vektor lalat
10

Sigit HS, FX Koesharto, UK Hadi, DJ Gunandini dan S Soviana. Hama Pemukiman Indonesia, Pengenalan, Biologi dan Pengendalian.

Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP), Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 2006.
11

Amado S, CG Gomes and EMVM Azevedo. Longevity of Musca domestica L. (Diptera: Muscidae) Parasitized by Habronema muscae

Carter (Nematoda: Habronematidae). Parasitol. Dav. 2000; 24:1-2.


12

Hastutiek poedji , Loeki Enggar FitriPOTENSI Musca domestica Linn. SEBAGAI VEKTOR BEBERAPA PENYAKIT, Jurnal Kedokteran

Brawijaya, Vol. XXIII, No. 3, 2007


13

Sales MSN, GL Costa and VREP Bittencourt. Isolation of Fungi in Musca domestica Linnaeus, 1758 (Diptera: muscidae) Captured at Two

Natural Breeding Ground in the Municipality of seropedica, Rio de Janeiro, Brazil. Mem inst Oswaldo Cruz, rio de Janeiro, 2002; 97 (8): 11071110.
14

Maryantuti. 2007. Bakteri Patogen yang Disebabkan oleh Lalat Rumah (Musca domestica, L) di rumah Sakit Kota Pekan Baru.

Metode membunuh telur, larva, maupun lalat dewasa secara langsung


dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Metode fisik merupakan metode yang murah, mudah dan aman tetapi
kurang efektif apabila digunakan pada tempat dengan kepadatan lalat yang
tinggi. Cara ini hanya cocok digunakan pada skala kecil seperti dirumah sakit,
kantor, hotel, supermarket dan pertokoan lainnya yang menjual daging, sayuran,
atau buahbuahan (DEPKES, 1992)
1).Fly traps Metode ini terdiri dari dua bagian, yang pertama merupakan
kontainer/kaleng tempat umpan (bait) dengan volume 18 liter. Bagian kedua
terdiri dari sangkar tempat lalat terperangkap berbentuk kotak dengan ukuran :
30 cm x 30 cm x 45 cm. Dua bagian tersebut disusun dengan sangkar berada
diatas, jarak antara dua bagian tersebut diberi sekat berlubang 0,5 cm sebagai
jalan masuk lalat ke dalam perangkap . Kontainer/kaleng harus terisi setengah
dengan umpan yang akan membusuk di dalam kontainer/kaleng tersebut. Perlu
diperhatikan bahwa jangan sampai ada air tergenang dibagian bawah kotainer
tersebut. Dekomposisasi sampah basah dari dapur seperti sayuran hijau, sereal,
dan buah-buahan merupakan umpan yang paling baik

16

. Model ini bisa

digunakan selama 7 hari setelah itu umpan dibuang dan diganti. Fly traps dapat
menangkap lalat dalam jumlah besar dan cocok untuk penggunaan diluar rumah,
diletakkan pada udara terbuka, tempat yang terang dan terhindar dari bayangbayang pohon17 .
2) Sticky tapes Alat ini berupa tali/pita yang dilumuri larutan gula sehingga lalat
akan lengket dan terperangkap. Bila tidak tertutup debu alat sticky tapes bisa
bertahan selama beberapa minggu. Cara pemasangannya adalah dengan
menggantungkannya dekat atap rumah (HAKLI, 2009). Insektisida juga bisa
ditambahkan untuk mematikan lalat yang telah menempel pada perangkap
tersebut. Insektisida yang biasa dipakai antara lain adalah diazinon, malathion,
ronnel, DDVP, dibrom, dan bayer L 13/59 18.
3) Light trap with electrocutor Prinsip alat ini adalah membunuh lalat dengan
listrik. Lalat yang hinggap pada lampu akan kontak dengan electrocuting grid
yang

membingkai lampu dengan cahaya

blue atau ultraviolet. Dalam

penggunaannya perlu diujicoba terlebih dahulu karena tidak semua lalat tertarik

15

Depkes RI. 1991. Petunjuk Teknis Tentang Pemberantasan Lalat. Jakarta Dirjen PPM dan PLP Departemen Kesehatan Republik

Indonesia.
16

Depkes RI. 1992. Petunjuk Teknis Tentang Pemberantasan Lalat. Jakarta Dirjen PPM dan PLP Departemen Kesehatan Republik

Indonesia.
17
18

HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat. http://www.hakli.org.


Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman (Dipublikasikan)

dengan alat ini. Alat ini banyak dipakai di dapur rumah sakit, restoran, lokasi
penjualan buah supermarket 19.
4) Pemasangan kawat/plastik kasa pada pintu dan jendela serta lubang
angin/ventilasi
5) Membuat pintu dua lapis, daun pintu pertama kearah luar dan lapisan kedua
merupakan pintu kasa yang dapat membuka dan menutup sendiri (DEPKES,
1992).
Penggunaan insektisida kimia sintetik tersebut memiliki banyak efek
samping pada manusia yang dapat menimbulkan keracuanan akibat tertelan
atau terhirup maupun kontak langsung melalui kulit 20, pada lingkungan dapat
terkontaminasi dengan air, tanah,dan udara21 dan perkembangan hama lebih
resisten dan toleran terhadap insektisida kimia sintetik.22
Salah satu alternatif ramah lingkungan yang dapat dilakukan yaitu dengan
cara memanfaatkan insektisida kimia alami. Ada beberapa tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai insektisida kimia alami, salah satunya adalah biji jintan
hitam (Nigella sativa). Biji jintan hitam (Nigella sativa) memiliki kandungan
senyawa asam lemak dan senyawa minyak esensial. Biji jintan hitam (Nigella
sativa) diketahui memiliki kadungan fenol. Fenol memiliki efek yang luas, salah
satunya yaitu efek antiparasit. secara hipotesis membuat biji jintan hitam (Nigella
sativa) dapat digunakan menjadi alternatif efisien insektisida kimia alami,
sehingga insektisida alami dengan menggunakan minyak esensial dari jintan
hitam (Nigella Sativa) ditemukan bahwa minyak esensial tersebut dapat
menghambat pertumbuhan serangga dari larva, pupa, dan dewasa

19
20

23

HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat. http://www.hakli.org.


Xu, Ting,. Jun, Wang,. Xintong, Wang,. Richard, Slawecki,. Fernando, Rubio,. Ji, Li,. Qing X. Lib. 2012. Comparison of Four Commercial

Enzymatic Assay Kits for the Analysis of Organophosphate and Carbamate Insecticides in Vegetables. Food Control.
21

Pauley, Luke R., Julia E. Earl, and Raymond D. 2014. Ecological Effects and Human Use of Commercial Mosquito Insecticides in Aquatic

Communities. Journal of Herpetology In-Press.


22

Geiger, Flavia. 2010. Persistent Negative Effects of Pesticides on Biodiversity and Biological Control Potential on European Farmland.

Basic and Applied Ecology


23
Chaubey, M. K., 2007. Insecticidal activity of Trachyspermum ammi (Umbelliferae), Anethum graveolens (Umbelliferae) and Nigella sativa
(Ranunculaceae) essential oils against stored-product beetle Tribolium castaneum Herbst (Coleoptera: Tenebrionidae). African Journal of
Agricultural Research Vol. 2 (11), Department of Zoology, Deen Dayal Upadhyay Gorakhpur University, Gorakhpur. pp. 596-600.