Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Human Immunodeficiency Virus (HIV) Pada Kehamilan

2.1.1 Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sebuah retrovirus yang
memiliki genus lentivirus yang menginfeksi, merusak, atau menggangu fungsi sel
sistem kekebalan tubuh manusia sehingga menyebabkan sistem pertahanan tubuh
manusia tersebut menjadi melemah.1 Virus HIV menyebar melalui cairan tubuh
dan memiliki cara khas dalam menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia
terutama sel Cluster of Differentiation 4 (CD4) atau sel-T. HIV menyerang sel sel sistem kekebalan tubuh manusia terutama sel-T CD4+ dan makrofag yang
merupakan sistem imunitas seluler tubuh.11,

12

Infeksi dari virus ini akan

menyebabkan kerusakan secara progresif dari sistem kekebalan tubuh,


menyebabkan defisiensi imun sehingga tubuh tidak mampu melawan infeksi dan
penyakit. Seiring dengan berjalannya waktu, HIV dapat merusak banyal sel CD4
sehingga kekebalan tubuh semakin menurun dan tidak dapat melawan infeksi dan
penyakit sama sekali, infeksi ini akan berkembang menjadi Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS).13
AIDS merupakan tahap infeksi yang terjadi akibat menurunnya kekebalan
tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. AIDS merupakan stadium ketika sistem imun
penderita jelek dan penderita menjadi rentan terhadap infeksi dan kanker terkait

10

infeksi yang disebut infeksi oportunistik.12, 14 Infeksi oportunistik adalah infeksi


yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang menurun dan dapat terjadi
penyakit yang lebih berat dibandingkan pada orang yang sehat. Seseorang dapat
didiagnosis AIDS apabila jumlah sel CD4 turun di < 200 sel/mm 3 darah, selain itu
seseorang dapat terdiagnosis dengan AIDS jika menderita lebih dari satu infeksi
oportunistik atau kanker yang berhubungan dengan HIV dan perlu waktu 10-15
tahun bagi orang yang sudah terinfeksi HIV untuk berkembang menjadi AIDS.1

2.1.2 Epidemiologi HIV


Sindrom HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh Michael Gottlieb pada
pertengahan tahun 1981 pada lima orang penderita homoseksual dan pecandu
narkotika suntik di Los Angeles, Amerika Serikat. Sejak penemuan pertama
inilah, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita dengan sindrom
yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lain. Penyakit ini telah menjadi
pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia dan menjadi masalah global.15
UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS saat ini sekitar 60 juta
orang telah tertular HIV dan 26 juta telah meninggal karena AIDS, sedangkan
saat ini orang yang hidup dengan HIV sekitar 34 juta orang. Di Asia terdapat 4,9
juta orang yang terinfeksi HIV, 440 ribu diantaranya adalah infeksi baru dan telah
menyebabkan banyak kematian pada penderitanya. Cara penularan di Asia
bervariasi, namun tiga perilaku yang beresiko tinggi menularkan adalah berbagi
alat suntik di kalangan pengguna napza, seks yang tidak terlindungi dan lelaki
seks dengan lelaki yang tidak terlindung.15, 16

11

Berdasarkan data dari UNAIDS, diperkirakan 34 juta orang terinveksi HIV


diseluruh dunia. Pada Asia Tenggara dan Selatan terdapat 4 juta orang dewasa dan
anak anak yang terinveksi HIV, diantaranya kematian orang dewasa dan anakanak karena AIDS sebesar 250.000 orang dan 280.000 orang adalah penderita
infeksi HIV baru.16

Gambar 1. Perkiraan jumlah orang dewasa dan anak anak dengan HIV secara
global.17
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit (Ditjen PP) dan Penyehatan
Lingkungan (PL) Kementrian Kesehatan RI melaporkan bahwa kasus HIV di
Indonesia secara kumulatif sejak 1 April 1987 - 30 September 2014 sebanyak
150.296 jiwa, sedangkan untuk kasus AIDS berjumlah 55.799 jiwa. Jumlah
infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta berjumlah 32.782 jiwa, Jawa Tengah
masuk dalam peringkat ke 6 dengan jumlah penderita HIV sebanyak 9.032 jiwa.
Kasus AIDS terbanyak yaitu di Papua berjumlah 10.184 jiwa dan Jawa Tengah
menduduki peringkat ke 6 dengan jumlah 3.767 jiwa.3 Namun, saat ini sudah
diwaspadai telah terjadi penularan HIV yang meningkat melalui jalur parenteral

12

(ibu kepada anaknya), terutama di beberapa ibu kota provinsi. Jumlah kumulatif
kasus AIDS di Indonesia dari transmisi perinatal sebanyak 1.506 jiwa, jumlah
tersebut berasal dari data kumulatif wanita sebanyak 16.149 yang terinfeksi AIDS.
Kondisi ini menunjukan terjadi feminisasi epidemik HIV di Indonesia.3, 6
Perkembangan HIV positif sampai tahun 2013 disajikan pada Gambar 2 berikut
ini.

Gambar 2. Jumlah kasus baru HIV positif di Indonesia sampai tahun 2013.3
Setelah tiga tahun berturut-turut (2010-2012) cukup stabil, perkembangan
jumlah kasus baru HIV positif pada tahun 2013 kembali mengalami peningkatan
secara signifikan, dengan kenaikan mencapai 35% dibanding tahun 2012.18

13

Gambar 3. Jumlah kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terdeteksi dari
berbagai sarana kesehatan di Indonesia sampai tahun 2013.3
Adanya kecenderungan peningkatan penemuan kasus baru sampai tahun
2012. Namun pada tahun 2013 terjadi penurunan kasus baru AIDS menjadi
sebesar 5.608 kasus. Secara kumulatif, kasus AIDS sampai dengan tahun 2013
sebesar 52.348 kasus.18
Jawa Tengah menduduki peringkat 6 dari keseluruhan data kumulatif
HIV/AIDS di Indonesia.19

14

Gambar 4. Kumulatif Kasus AIDS Kota Semarang 1998 201319

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui pada tahun 2013 jumlah kasus
AIDS di Kota Semarang yaitu sebanyak 75 kasus, menurun dibandingkan tahun
2012 sebesar 104 kasus, dan meninggal sebanyak 12 orang. Dapat diketahui
jumlah kematian akibat AIDS pada tahun 2013 mengalami penurunan yaitu 7
orang, dibanding tahun 2012.19

Gambar 5. Grafik Kasus HIV Berdasar Kelompok Umur.19

15

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui selama tahun 2010 2013.


kelompok umur 25 - 49 tahun paling besar terinfeksi HIV dengan total sebanyak
1.122 kasus dan yang terendah adalah kelompok umur 5 - 14 tahun. Data dari
profil kesehatan Kota Semarang juga menunjukan data tentang perbandingan atara
penderita HIV pada laki-laki dan perempuan. Dari data yang di dapat di Kota
Semarang laki-laki dan perempuan yang terinfeksi HIV perbandingannya adalah
55% dan 45%. Artinya bahwa kasus HIV juga sudah banyak menyerang kaum
perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga di Kota Semarang ini, sehingga perlu
perhatian khusus karena ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan kepada
anaknya.19

2.1.3

Struktur Virus HIV


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus sitopatik yang secara

virologi termasuk dalm famili Retroviridae sub famili Lentivirinae, genus


Lentivirus. Berdasarkan strukturnya HIV termasuk famili Retrovirus, termasuk
virus RNA dengan berat molekul 9.7 kb (kilobase). Virus RNA ini mampu
membuat DNA dari RNA dengan pertolongan enzim reserve transcription yang
kemudian disisipkan dalam DNA sel hospes sebagai mesin genetik, sehingga
virus mampu untuk menggunakan mesin replikatif sel hospes menjadi sel
malignant. Sub familia Lentivirus mempunyai sifat dapat menyebabkan infeksi
laten, mempunyai efek sitopatik yang cepat, perkembangan penyakit lama dan
dapat fatal.5, 20

16

Gambar 6. Stuktur HIV.21

Pemeriksaan dengan mikroskop elektron memperlihatkan bahwa HIV


memiliki banyak tonjolan eksternal yang dibentuk oleh dua protein utama
envelope virus, gp120 di sebelah luar dan gp41 yang terletak di transmembran.
Gp120 memiliki afinitas tinggi terutama region V3 terhadap reseptor CD4
sehingga bertanggungjawab pada awal interaksi dengan sel target. Sedangkan
gp41 bertanggungjawab dalam proses internalisasi atau adsorpsi.5
Dari perangkat untaian RNA HIV, tiap untaian memiliki Sembilan genes
(gag, pol, vif, vpr, vpu, env, rev, tat, nef) yang mengatur proses reproduksi virus.
RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 2000 kopi p24
protein virus. Dikelilingi oleh kapsid selubung virus (envelope). Selubung virus
terdiri atas dua lapisan lipid. Masing - masing subunit selubung virus terdiri atas
dua non-kovalen rangkaian protein membrane glycoprotein 120 (gp120),protein
membran luar, dan glycoprotein 41 (gp41). Kedua glikoprotein tersebut adalah
bagian paling infeksius dari HIV dan berperan dalam perlekatan virus dengan sel
hospes pada proses infeksi.5

17

Genom HIV mengandung gen env yang mengkode selubung glikoprotein,


gen gag yang mengkode protein core yang terdiri dari protein p17 dan p24 dan
gen pol yang mengkode beberapa enzim yaitu: reserve transcriptase, integrase
dan protease. Enzim enzim tersebut dibutuhkan dalam proses replikasi. Partikel
HIV terdiri atas inner core yang mengandung 2 untai DNA identik yang
dikelilingi oleh selubung fosfolipid. Bagian paling infeksius dari HIV adalah
selubung glikoprotein gp120 dan gp41. Kedua glikoprotein tersebut berperan pada
perlekatan virus dengan sel hospes pada proses infeksi.20
Sampai dengan saat ini dikenal dua serotip HIV yang menginfeksi
manusia, yaitu HIV tipe1 (HIV-1) dan HIV tipe 2 (HIV-2). HIV-1 lebih
mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh.22
HIV-1 maupun HIV-2 mempunyai struktur yang hamper sama, HIV-1
mempunyai gen vpu tetapi tidak mempunyai vpx, sedangkan sebaliknya HIV-2
mempunyai vpx tetapi tidak mempunyai vpu. Perbedaan struktur genom ini
walaupun sedikit,

diperkirakan mempunyai

peranan dalam

menentukan

patogenitas dan perbedaan perjalanan penyakit diantara kedua tipe HIV tersebut,
karena HIV-1 yang lebih sering ditemukan, maka penelitian penelitian klinis
dan laboratoris lebih sering dilakukan terhadap HIV-1.22

2.1.4 Virologi dan Patogenesis Infeksi HIV


Virus HIV termasuk kedalam famili Retrovirus sub famili Lentivirinae.
Virus famili ini mempunyai enzim yang disebut reverse transcriptase. Enzim ini
menyebabkan retrovirus mampu mengubah informasi genetiknya kedalam bentuk

18

yang terintegrasi di dalam informasi genetik dari sel yang diserangnya. Jadi setiap
kali sel yang dimasuki retrovirus membelah diri, informasi genetik virus juga ikut
diturunkan.23
Virus HIV akan menyerang Limfosit T yang mempunyai marker
permukaan seperti sel CD4+, yaitu sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer
cell, dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel CD4+ adalah reseptor
pada limfosit T yang menjadi target utama HIV. HIV menyerang CD4+baik
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul HIV yang
mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T. secara tidak langsung,
lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp120 dan anti p24 berinteraksi
dengan

CD4+

yang

kemudian

akan

menghambat

aktivasi

sel

yang

mempresentasikan antigen.24
Setelah HIV mengifeksi seseorang, kemudian dimulailah infeksi HIV
asimptomatik yaitu masa tanpa gejala. Dalam masa ini terjadi penurunan CD4+
secara bertahap. Mula - mula penurunan jumlah CD4+ sekitar 30-60 sel/tahun,
tetapi pada 2 tahun berikutnya penurunan menjadi cepat, 50-100 sel/tahun,
sehingga tanpa pengobatan, rata-rata masa dari infeksi HIV menjadi AIDS adalah
8-10 tahun, dimana jumlah CD4+akan mencapai < 200 sel/mm3.25

19

Jumlah limfosit T CD4+ (sel/mm3)


Jumlah RNA HIV pe mL Plasma
Gambar 7. Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4+ pada
rata rata infeksi HIV yang tidak ditangani.26

Dalam tubuh Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), partikel virus bergabung
dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur
hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian
berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi
penderita AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang
yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal.
Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai
dengan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.23

20

2.1.5 Penularan Virus HIV


Secara umum, HIV dapat ditularkan melalui 3 cara yakni:27, 28
a. Melalui hubungan seksual.
Merupakan jalur utama penularan HIV/AIDS yang paling umum
ditemukan. Virus dapat ditularkan dari seseorang yang sudah terkena
HIV kepada mitra seksualnya (pria ke wanita, wanita ke pria, pria ke
pria) melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom).
b. Parenteral (produk darah)
Penularan dapat terjadi melalui transfusi darah atau produk darah, atau
penggunaan alat alat yang sudah dikotori darah seperti jarum suntik,
jarum tato, tindik, dan sebagainya.
c. Perinatal
Lebih dari 90% anak yang terinfeksi HIV didapat dari ibunya,
penularan melalui ibu kepada anaknya. Transmisi vertikal dapat terjadi
secara transplasental, antepartum, maupun postpartum. Mekanisme
transmisi

intauterin

diperkirakan

melalui

plasenta.

Hal

ini

dimungkinkan karena adanya limfosit yang terinfeksi masuk kedalam


plasenta. Transmisi intrapartum terjadi akibat adanya lesi pada kulit
atau mukosa bayi atau tertelannya darah ibu selama proses kelahiran.
Beberapa faktor resiko infeksi antepartum adalah ketuban pecah dini,
lahir per vaginam. Transmisi postpartum dapat juga melalui ASI yakni
pada usia bayi menyusui, pola pemberian ASI, kesehatan payudara ibu,
dan adanya lesi pada mulut bayi. Seorang bayi yang baru lahir akan

21

membawa antibodi ibunya, begitupun kemungkinan positif dan


negatifnya bayi tertular HIV adalah tergantung dari seberapa parah
tahapan perkembangan AIDS pada diri sang ibu.

2.1.6 Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke anak
Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke
anak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.28
1. Faktor Ibu
a. Jumlah virus (viral load)
Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat
persalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui
bayinya sangat mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak.
Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah
(kurang dari 1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar HIV di atas
100.000 kopi/ml.
b. Jumlah Sel CD4
Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan
HIV ke bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan
HIV semakin besar.
c. Status gizi selama hamil
Berat badan rendah serta kekurangan asupan seperti asam folat,
vitamin D, kalsium, zat besi, mineral selama hamil berdampak bagi
kesehatan ibu dan janin akibatntya dapat meningkatkan risiko ibu

22

untuk menderita penyakit infeksi yang dapat meningkatkan jumlah


virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
d. Penyakit infeksi selama hamil
Penyakit infeksi seperti sifilis, infeksi menular seksual,infeksi
saluran reproduksi lainnya, malaria,dan tuberkulosis, berisiko
meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
e. Gangguan pada payudara
Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis,
abses, dan luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko
penularan HIV melalui ASI sehingga tidak sarankan untuk
memberikan ASI kepada bayinya dan bayi dapat disarankan
diberikan susu formula untuk asupan nutrisinya.
2. Faktor Bayi
a. Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir
Bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih
rentan tertular HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan
tubuhnya belum berkembang dengan baik.
b. Periode pemberian ASI
Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi akan
semakin besar.
c. Adanya luka dimulut bayi
Bayi dengan luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV ketika
diberikan ASI.

23

3. Faktor obstetrik
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir.
Faktor obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu
ke anak selama persalinan adalah
a. Jenis persalinan
Risiko penularan persalinan per vagina lebih besar daripada
persalinan melalui bedah sesar (seksio sesaria).
b. Lama persalinan
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV
dari ibu ke anak semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya
kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu.
c. Ketuban pecah lebih dari 4 Jam sebelum persalinan meningkatkan
risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban
pecah kurang dari 4 jam.
d. Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forceps meningkatkan
risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu
Tabel 2. Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi.28
Faktor Ibu
Kadar HIV (Viral Load)
Kadar CD4
Status gizi hamil
Penyakit infeksi saat
hamil
Masalah dipayudara (jika
menyusui)

Faktor Bayi
Prematuritas dan berat
bayi saat lahir
Lama menyusu
Lama di mulut bayi (jika
bayi menyusu)

Faktor Obstetrik
Janis persalinan
Lama persalinan
Adanya ketuban pecah
dini
Tindakan episiotomi,
ekstraksi vacum dan
forceps

24

2.1.7 Waktu dan resiko penularan HIV dari ibu ke Anak


Pada saat hamil, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu dipisahkan
oleh beberapa lapis sel yang terdapat di plasenta. Plasenta melindungi janin dari
infeksi HIV. Tetapi, jika terjadi peradangan, infeksi ataupun kerusakan pada
plasenta, maka HIV bisa menembus plasenta, sehingga terjadi penularan HIV dari
ibu ke anak. Penularan HIV dari ibu ke anak pada umumnya terjadi pada saat
persalinan dan pada saat menyusui. Risiko penularan HIV pada ibu yang tidak
mendapatkan penanganan PPIA saat hamil diperkirakan sekitar 15-45%. Risiko
penularan 15-30% terjadi pada saat hamil dan bersalin, sedangkan peningkatan
risiko transmisi HIV sebesar 10-20% dapat terjadi pada masa nifas dan
menyusui.28
Tabel 3. Waktu dan risiko penularan HIV dari ibu ke anak.33
Waktu
Selama hamil
Bersalin
Menyusui (ASI)
Resiko penularan keseluruhan

Risiko
5 10 %
10 20 %
5 20 %
20 50 %

Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi 2030% dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan anti retrovirus (ARV).
Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif memiliki risiko penularan HIV
sebesar 15-25% dan risiko penularan sebesar 5-15% apabila ibu tidak menyusui.
Akan tetapi, dengan terapi antiretroviral jangka panjang, risiko penularan HIV
dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui
secara eksklusif memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya

25

dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Dengan pelayanan PPIA yang
baik, maka tingkat penularan dapat diturunkan menjadi kurang dari 2%.28

Tabel 4. Resiko penularan HIV dari ibu ke anak saat hamil, bersalin dan
menyusui.28
Masa kehamilan
0-14
minggu

14-16
minggu

1%

4%

Persalinan
36 minggu

kelahiran
12%

Selama
persalinan
8%

Postpartum melalui ASI


0-6 bulan
7%

6-24 bulan
3%

2.1.8 Manifestasi Klinis HIV


Manifestasi klinis infeksi HIV merupakan gejala dan tanda pada tubuh
host akibat intervensi HIV. Manifestasi ini dapat merupakan gejala dan tanda
infeksi virus akut, keadaan asimptomatis berkepanjangan, hingga manifestasi
AIDS berat. Manifestasi gejala dan tanda dari HIV dapat dibagi menjadi 4 tahap.5
Pertama merupakan tahap infeksi akut, pada tahap ini muncul gejala tetapi
tidak spesifik. Tahap ini muncul 6 minggu pertama setelah paparan HIV dapat
berupa demam, rasa letih, nyeri otot dan sendi, nyeri telan, dan pembesaran
kelenjar getah bening di leher.5, 29
Kedua merupakan tahap asimptomatik, pada tahap ini gejala dan keluhan
hilang. Tahap ini berlangsung 6 minggu hingga beberapa bulan bahkan tahun
setelah infeksi. Pada stadium ini terjadi perkembangan jumlah virus disertai makin
berkurangnya jumlah sel CD-4. Pada tahap ini aktivitas penderita masih normal.5

26

Ketiga merupakan tahap simptomatis pada tahap ini gejala dan keluhan
lebih spesifik dengan gradasi sedang samapi berat. Berat badan menurun tetapi
tidak sampai 10%, pada selaput mulut terjadi sariawan berulang, terjadi
peradangan pada sudut mulut, dapat juga ditemukan infeksi bakteri pada saluran
napas bagian atas namun penderita dapat melakukan aktivitas meskipun
terganggu. Penderita lebih banyak di tempat tidur meskipun kurang 12 jam per
hari dalam bulan terakhir.5
Keempat merupakan pasien dengan jumlah sel CD4 < 200 sel/ul
merupakan pasien dikategorikan pada tahap yang lebih lanjut atau tahap AIDS.
Pada tahap ini terjadi penurunan berat badan lebih dari 10%, diare lebih dari 1
bulan, panas yang tidak diketahui sebabnya lebih dari satu bulan, kandidiasis oral,
oral hairy leukoplakia, tuberkulosis paru dan pneumonia bakteri. Penderita
berbaring di tempat tidur lebih dari 12 jam dalam sehari selama sebulan terakhir.5
Hampir 90% kasus infeksi HIV pada anak disebabkan oleh transmisi
perinatal. Transmisi perinatal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen. Beberapa
penelitian melaporkan tingginya kasus terjadi akibat terpaparnya intrapartum
terhadap darah maternal seperti pada kasus episiotomi, laserasi vagina atau
persalinan dengan forsep, sekresi genital yang terinfeksi dan ASI. Frekuensi ratarata transmisi vertikal dari ibu ke anak dengan infeksi HIV mencapai 25 - 30%.
Faktor lain yang meningkatkan resiko transmisi ini, antara lain jenis HIV tipe 1,
riwayat anak sebelumnya dengan infeksi HIV, ibu dengan AIDS, lahir prematur,
jumlah CD4 maternal rendah, viral load maternal tinggi, korioamnionitis,
persalinan pervaginam dan pasien HIV dengan koinfeksi.30

27

Interpretasi kasus sering menjadi kendala karena pasien yang terinfeksi


HIV adalah karier asimptomatik dan mempunyai kondisi yang memungkinkan
untuk memperburuk kehamilannya. Kondisi tersebut termasuk ketergantungan
obat, nutrisi buruk, akses terbatas untuk perawatan prenatal, kemiskinan dan
adanya penyakit menular seksual. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah bayi
lahir prematur, premature rupture of membran (PROM), berat bayi lahir rendah,
anemia, restriksi pertumbuhan intrauterus, kematian perinatal dan endometritis
postpartum.30
Saat ini terdapat dua sistem klasifikasi utama yang digunakan, yaitu :
sistem klasifikasi menurut the U.S. Centers for Disease Control and Prevention
(CDC), dan sistem klasifikasi stadium klinis dan penyakit menurut organisasi
kesehatan dunia WHO.31

2.1.9 Klasifikasi HIV


Klasifikasi HIV menggunakan beberapa sistem klasifikasi, klasifikasi
berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) jarang digunakan
dalam pengelolaan rutin pasien HIV secara klinis, sistem CDC lebih sering
digunakan dalam penelitian klinis dan epidemiologi.31
CDC mengklasifikasikan HIV/AIDS yaitu dengan melihat jumlah
kekebalan tubuh yang dialami pasien serta stadium klinis. Jumlah kekebalan
tubuh ditunjukan oleh limfosit T Helper. Sistem ini terdiri dari tiga kategori
yaitu:5

28

Tabel 5. Sistem Klasifikasi klinis dan CD4 untuk dewasa dan remaja menurut
CDC.5

Limfosit CD4
>500 sel/ml
200-499 sel/ml
<200 sel/ml

Kategori A
(asimtomatis,
Infeksi akut)

Kategori B
(Simtomatis)

Kategori C
(AIDS)

A1
A2
A3

B1
B2
B3

C1
C2
C3

Kategori:
A : Sindrom retroviral akut, limfadenopati generalisata.
B : AIDS related complex, kandidiasis oral, kelemahan umum, herpes zoster,
neuropati perifer.
C : Kandidiasis esophagus dan pulmonal, karsinoma serviks, coccidioidomycosis,
infeksi sitomegalovirus, ensefalopati HIV, isosporiosis, sarcoma jerovici, limfoma
maligna, tuberculosis, pneumonia pneumokistik karinii, salmonellosis.

Klasifikasi menurut WHO digunakan pada beberapa Negara yang


pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia. Menurut WHO, stadium klinis
HIV/AIDS dibedakan menjadi 4 stadium, yaitu:
Tabel 6. Stadium HIV menurut WHO.5, 32
Stadium Klinis 1
a. Asimtomatis
b. Limfadenopati persisten generalisata
c. Tidak ada penurunan berat badan
d. Penampilan/aktivitas fisik skala I: Asimtomatis, aktivitas normal
Stadium Klinis II
a. Penurunan berat badan, tetapi <10% dari berat badan sebelumnya

29

b. Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seboroik, prurigo, infeksi


jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, infeksi atau luka di sudur
mulut)
c. Herpes zoster, dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (missal: sinusitis bakterial)
e. Dengan penampilan/aktivitas fisik skala II: simtomatis, aktivitas normal
Stadium Klinis III
a. Penurunan berat badan >10%
b. Diare kronis dengan penyebab tidak jelas, > 1 bulan
c. Demam dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau tetap), > 1 bulan
d. Kandidiasis oris
e. Oral hairy leukoplakia
f. TB Pulmoner, dalam satu tahun terakhir
g. Infeksi bacterial berat (missal: pneumonia, piomiositis)
h. Dengan penampilan/aktivitas fisik skala III: Lemah, berada di tempat
tidur, <50% per hari dalam bulan terakhir
Stadium Klinis IV
a. HIV wasting syndrome
b. Ensefalitis Toksoplasmosis
c. Diare karena Cryptosporidiosis, > 1 bulan
d. Cryptococcosis ekstrapulmoner
e. Infeksi virus Sitomegalo
f. Infeksi Herpes simpleks > 1 bulan
g. Berbagai infeksi jamur berat (histoplasma, coccidioidomycosis)
h. Kandidiasis esophagus, trachea atau bronkus
i. Mikobakteriosis atypical
j. Salmonelosis non tifoid disertai setikemia
k. TB, Ekstrapulmoner
l. Limfoma maligna
m. Sarkoma Jerovici
n. Ensefalopati HIV
o. Dengan penampilan/aktivitas fisik skala IV: sangat lemah, selalu berada di
tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir

Tahap klinis dikategorikan menjadi 1 sampai 4, mengikuti perkembangan


infeksi HIV primer menjadi HIV tahap lanjut/AIDS. Tahap tahap ini ditentukan
oleh kondisi klinis atau gejala tertentu. Untuk tujuan dari sistem klasifikasi WHO,

30

remaja dan orang dewasa didefinisikan sebagai individu yang berusia > 15
tahun.29
2.1.10 Diagnosis Infeksi HIV
Langkah pertama untuk mendiagnosis HIV/AIDS adalah anamnesis secara
keseluruhan kemudian dilakukan pemeriksaan diagnostik infeksi HIV dapat
dilakukan secara virologis (mendeteksi antigen DNA atau RNA) dan serologis
(mendeteksi antibodi HIV) pada spesimen darah. Pemeriksaan diagnostik infeksi
HIV yang dilakukan di Indonesia umumnya adalah pemeriksaan serologis
menggunakan tes cepat (Rapid Test HIV) atau ELISA. Pemeriksaan diagnostik
tersebut dilakukan secara serial dengan

menggunakan tiga reagen HIV yang

berbeda dalam hal preparasi antigen, prinsip tes, dan jenis antigen, yang
memenuhi kriteria sensitivitas dan spesifitas.18, 33
Tabel 7. Tes diagnostik untuk infeski HIV.5
Skrening
ELISA unutk HIV-1, HIV-2, atau keduanya
Aglutinasi latek untuk HIV-1
Konfirmasi
Wastern blot (WB) untuk HIV-1 dan HIV-2
Indirect immunofluorescence antibody assay (IFA) untuk HIV-1
Radioimmunoprecipitation antibody assay (RIPA) untuk HIV-1
Lain-lain
ELISA untuk HIV-1 p24 antigen
Polymerase chain reaction (PCR) untuk HIV-1

31

Gambar 8. Alur Diagnosis HIV18


Hasil pemeriksaan dinyatakan reaktif jika hasil tes dengan reagen 1 (A1),
reagen 2 (A2), dan reagen 3 (A3) ketiganya positif. Untuk ibu hamil dengan faktor
risiko yang hasil tesnya indeterminate, tes diagnostik HIV dapat diulang dengan
bahan baru yang diambil minimal 14 hari setelah yang pertama dan setidaknya tes
ulang menjelang persalinan (32-36 minggu).33, 34
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Indonesia menetapkan untuk
mendiagnosis AIDS dengan kriteria WHO digunakan untuk keperluan surveilans
epidemiologi. Dalam hal ini seseorang dapat didiagnosis berdasarkan gejala klinis,
yang terdiri dari gejala mayor dan minor. Pasien yang dikatakan AIDS jika
menunjukan hasil tes HIV positif disertai minimal terdapat 2 gejala mayor atau
terdapat 2 gejala minor dan 1 gejala mayor. Pemeriksaan jumlah sel CD4 dapat

32

segera di lakukan setelah pertama kali dinyatakan positif HIV dan saat akan
melahirkan menggunakan spesimen darah.35
Tabel 8. Gejala mayor dan minor HIV/AIDS.36
Gejala Mayor
Berat badan turun >10% dalam 1
bulan
Diare kronik,
berlangsung > 1 bulan
Demam berkepanjangan > 1 bulan
Penurunan Kesadaran
Demensia/HIV ensefalopati

Gejala Minor
Batuk menetap > 1 bulan
Dermatitis generalisata
Herpes Zooster multisegmental dan
berulang
Kandidiasis orofaringeal
Herpes simpleks kronis progresif
Limfadenopati generalisata
Infeksi jamur berulang pada alat
kelamin wanita
Retinitis Cytomegalovirus

2.1.11 Pemberian Terapi Antiretroviral


Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV-AIDS,
namun dengan terapi antiretroviral, jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan
sangat rendah, sehingga ODHA dapat tetap hidup layaknya orang sehat.

Terapi ARV bertujuan untuk:18


a. Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat,
b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan
HIV,
c. Memperbaiki kualitas hidup ODHA,
d. Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh, dan
e. Menekan replikasi virus secara maksimal.

33

Cara paling efektif untuk menekan replikasi HIV adalah dengan memulai
pengobatan dengan kombinasi ARV yang efektif. Semua obat yang dipakai harus
dimulai pada saat yang bersamaan pada pasien baru. Terapi kombinasi ARV harus
menggunakan dosis dan jadwal yang tepat. Obat ARV harus diminum terus
menerus secara teratur untuk menghindari timbulnya resistensi. Diperlukan peran
serta aktif pasien dan pendamping/ keluarga dalam terapi ARV. Di samping ARV,
timbulnya infeksi oportunistik harus mendapat perhatian dan tatalaksana yang
sesuai. Pilihan terapi yang direkomendasikan untuk ibu hamil dengan HIV adalah
terapi menggunakan kombinasi tiga obat (2 NRTI + 1 NNRTI). Seminimal
mungkin hindari triple nuke (3 NRTI).18

Gambar 9. Rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV dan ARV profilaksis
pada bayi.18

34

Gambar 10. Alur pemberian terapi antiretroviral pada ibu hamil.18

2.2 Manajemen Persalinan


2.2.1 Tata Laksana Persalinan
Sebagian besar bayi tertular infeksi HIV pada saat persalinan, maka cara
persalinan bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV sangat menentukan terjadinya
penularan vertikal. Adanya trauma dan kerusakan pada jaringan tubuh ibu maupun
bayi akan mengakibatkan terjadinya penularan vertikal. Untuk menghindari
penularan vertikal, maka pecah ketuban dini dan penggunaan elektrode kepala
perlu dihindari. Selain itu, jangan melakukan pertolongan persalinan yang
mengakibatkan trauma seperti menggunakan forsep atau vakum untuk persalinan
lama dengan penyulit.37
Cara persalinan harus ditentukan sebelum umur kehamilan 38 minggu
untuk meminimalkan terjadinya komplikasi persalinan. Sampel plasma viral load
dan jumlah CD4 harus diambil pada saat persalinan. Pasien dengan HAART harus
mendapatkan obatnya sebelum persalinan, jika diindikasikan, sesudah persalinan.

35

Semua ibu hamil dengan HIV positif disarankan untuk melakukan persalinan
dengan seksio sesaria.
Operasi seksio sesarea pada usia kehamilan 38 minggu sebelum onset
persalinan atau mencegah ketuban pecah dini direkomendasikan untuk wanita
yang telah mendapatkan terapi HAART dengan kadar viral load yang masih >
1000 kopi/ml, wanita yang mendapatkan monoterapi alternative dengan
zidovudin.14, 37
Operasi seksio sesarea elektif dapat dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut:
a. Pemberian zidovudin intravena diberikan sesuai indikasi, dimulai 4 jam
sebelum operasi dimulai sampai dengan pemotongan tali pusat.
b. Sedapat

mungkin meminimalisir perdarahan

selama operasi

dan

diusahakan kulit ketuban dipecah sesaat sebelum kepala dilahirkan


c. Antobiotika spectrum luas diberikan sebelum operasi sebagaimana
umumnya.
Persalinan pervaginam yang direncanakan hanya boleh dilakukan oleh
wanita yang mengkonsumsi HAART dengan viral load <50 kopi/mL. Pada
persalinan pervaginam, amniotomi harus dihindari, tetapi tidak jika proses
kelahiran kala 2 memanjang. Jika terdapat indikasi alat bantu persalinan, forsep
dengan kavitas rendah lebih disarankan untuk janin karena insiden trauma fetal
lebih kecil.34, 38

36

Gambar 11. Alur pemberian terapi antiretroviral pada ibu hamil.18

2.2.2 Tatalaksana Postnatal


Setelah melahirkan, ibu sebaiknya menghindari kontak langsung dengan
bayi. Dosis terapi antibiotik profilaksis, ARV dan imunosuportif harus diperiksa
kembali. Indikasi penggunaan infus ZDV adalah kombinasi single dose NVP 200
mg dengan 3TC 150 mg tiap 12 jam, dan dilanjutkan ZDV/3TC kurang lebih
selama 7 hari pospartum untuk mencegah resistensi NVP. Imunisasi MMR dan
varicella zoster juga diindikasikan, jika jumlah limfosit CD4 diatas 200 dan 400.
Ibu disarankan untuk menggunakan kontrasepsi pada saat berhubungan seksual.39
Secara teori, ASI dapat membawa HIV dan dapat meningkatkan transmisi
perinatal. Oleh karena itu, WHO tidak merekomendasikan pemberian ASI pada
ibu dengan HIV positif dengan stadium kronik, meskipun mereka mendapatkan
terapi ARV. Saran suportif mengenai susu formula pada bayi sangat diperlukan
untuk mencegah gizi buruk pada bayi.38

2.2.3 Tatalaksana Neonatal


Semua bayi harus diterapi dengan ARV < 4jam setelah lahir. Kebanyakan
bayi diberikan monoterapi ZDV 2x sehari selama 4 minggu. Jika ibu resisten
terhadap ZDV, obat alternatif bisa diberikan pada kasus bayi lahir dari ibu HIV

37

positif tanpa indikasi terapi ARV. Tetapi untuk bayi beresiko tinggi terinfeksi
HIV, seperti anak lahir dari ibu yang tidak diobati atau ibu dengan plasma viremia
>50 kopi/mL, HAART tetap menjadi pilihan utama.
Pemberian antibiotik profilaksis, cotrimoxazole terhadap PCP wajib
dilakukan. Tes IgA dan IgM, kultur darah langsung dan deteksi antigen PCR
merupakan serangkaian tes yang harus dijalankan oleh bayi pada umur 1 hari, 6
minggu dan 12 minggu. Jika semua tes ini negatif dan bayi tidak mendapat ASI,
orang tua dapat menyatakan bahwa bayi mereka tidak terinfeksi HIV. Konfirmasi
HIV bisa dilakukan lagi saat bayi berumur 18 sampai 24 bulan.38

2.2.4 Tatalaksana Komplikasi Obstetrik


Komplikasi yang berhubungan dengan HIV sebaiknya dianggap sebagai
penyebab dari penyakit akut pada ibu hamil dengan status HIV tidak diketahui.
Pada keadaan ini, tes diagnostik HIV harus segera dikerjakan. HAART dapat
meningkatkan resiko lahir prematur. Oleh sebab itu, pemilihan dan penggunaan
terapi ARV yang tepat berperan penting dalam hal ini. Wanita yang terancam lahir
prematur baik dengan atau tanpa PROM harus melakukan skrining infeksi,
khususnya infeksi genital sebelum persalinan. Bayi prematur <32 minggu tidak
dapat mentoleransi medikasi oral, sehingga pemberian terapi ARV pada ibu
sesudah dan saat persalinan akan memberikan profilaksis pada janinnya. Apabila
bayi lahir prematur dengan PROM terjadi pada umur kehamilan >34 minggu,
persalinan harus dipercepat. Augmentation dapat dipertimbangkan jika viral load
<50 kopi/mL dan tidak ada kontraindikasi obstetrik. Pertimbangan tersebut

38

termasuk pemberian antibiotik intravena spektrum luas, jika pasien terbukti ada
infeksi genital atau korioamnionitis. Lain halnya pada umur kehamilan <34
minggu, penatalaksanaannya sama tetapi obat antibiotik oral yang diberikan
adalah eritromisin. Semua ibu hamil, baik yang terinfeksi HIV maupun tidak
sangat memungkinkan untuk menderita anemia. Untuk itu pemeriksaan darah
lengkap wajib dikerjakan.18, 34

2.3

Luaran Maternal

2.3.1 Ketuban Pecah Dini


Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan atau dimulainya tanda inpartu. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum
usia kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur.
Resiko akan lebih besar terjadi pada ibu yang mengalami infeksi sebelum proses
persalinan berlangsung. Infeksi intrauterin asimptomatik merupakan prekursor
tersering terjadinya pecah ketuban.7
Selaput ketuban pecah

karena hilangnya elastisitas pada daerah tepi

robekan selaput ketuban. Hilangnya elastisitas selaput ketuban ini berkaitan


dengan penipisan jaringan kolagen oleh infeksi atau rendahya kadar kolagen.
Kolagen pada selaput ketuban terdapat pada amnion di daerah lapisan kompakta,
fibroblast serta pada korion di daerah lapisan kutikuler dan trofoblas dimana
sebagian besar jaringan kolagen terdapat pada lapisan penunjang. Pecahnya
selaput ketuban intrapartum disebabkan melemahnya ketegangan selaput ketuban
akibat kontraksi uterus dan regangan yang berulang - ulang. Selaput ketuban yang

39

mengalami ruptur dini lebih menggambarkan adanya gambaran fokal abnormal


dari melemahnya

ketegangan selaput ketuban. Kekuatan selaput ketuban

ditentukan oleh keseimbangan sintesa dan degradasi matriks ekstraseluler. Bila


terjadi perubahan di dalam selaput ketuban, seperti penurunan kandungan
kolagen, perubahan sruktur kolagen dan peningkatan aktivitas kolagenolitik.
Infeksi urogenetalia juga menyebabkan terjadinya ruptur selaput ketuban pada
manusia.40
Infeksi intrauterin akan memicu degradasi matriks ekstraseluler oleh
protease yang melemahkan selaput ketuban dan menimbulkan respon imflamasi
dari host. maka terjadilah ketuban pecah dini.40

2.3.2 Prematuritas
Persalinan prematur adalah suatu persalinan yang tidak normal dari segi
umur kehamilan. Bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan
minggu ke 37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir) dan sebagian besar bayi
prematur lahir dengan berat badan kurang 2500 gram. Faktor predisposisi
terjadinya kelahiran prematur diantaranya:7
a. Faktor

ibu,

riwayat

kelahiran

prematur

sebelumnya,

perdarahan

antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidromion, penyakit jantung/


penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi,
trauma, kebiasaan, yaitu pekerjaan yang melelahkan, merokok.

40

b. Faktor janin, cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramion,ketuban pecah


dini
c. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
HAART dapat meningkatkan resiko lahir prematur. Oleh sebab itu,
pemilihan dan penggunaan terapi ARV yang tepat berperan penting dalam hal ini.
Wanita yang terancam lahir prematur baik dengan atau tanpa PROM harus
melakukan skrining infeksi, khususnya infeksi genital sebelum persalinan. Bayi
prematur <32 minggu tidak dapat mentoleransi medikasi oral, sehingga pemberian
terapi ARV pada ibu sesudah dan saat persalinan akan memberikan profilaksis
pada janinnya. Apabila bayi lahir prematur dengan PROM terjadi pada umur
kehamilan >34 minggu, persalinan harus dipercepat.7

2.3.3 Perdarahan post partum


Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan yang terjadi sesudah sesaat
proses persalinan berlangsung dengan volume perdarahan melebihi dari 500 ml
pada pervaginal dan 1000 ml pada section sesarea. Kondisi dalam persalinan
menyebabkan kesulitan untuk menentukan volume perdarahan yang terjadi karena
tercampur dengan air ketuban, dan serapan pakaian atau kain alas tidur. Oleh
sebab itu operasional untuk periode pasca persalinan adalah setelah bayi lahir.
Sedangkan tentang jumlah perdarahan, disebutkan sebagai perdarahan yang lebih
dari normal dimana dapat menyebabkan perubahan tanda vital, seperti; pasien
mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik <90

41

mmHg, nadi >100 x/menit, dan kadar Hb <8 g% dan perdarahan yang secara kasat
mata mencapai 1000 ml harus segera ditangani secara serius.39
Berdasarkan waktu kejadiannya perdarahan pasca persalinan dibagi
dua bagian, yaitu:39
a. Perdarahan pasca persalinan dini (perdarahan pasca persalinan primer, atau
perdarahan pasca persalinan segera). Perdarahan pasca persalinan primer
terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan
primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan lahir.
b. Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau
perdarahan pasca persalinan lambat, atau Late PPH). Perdarahan pasca
persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca
persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang
tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.
Telah disebutkan bahwa kehamilan dengan infeksi meningkatkan risiko
komplikasi dalam kehamilan maupun saat persalinan dalam hal ini terkait infeksi
HIV maka risiko terjadinya perdarah post partum pun akan semakin meningkat.39

2.3.4

Infeksi Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada
traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu 38C atau

42

lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan


mengecualikan infeksi 24 jam pertama.41

2.3.5 Kematian Maternal

Kematian maternal adalah kematian wanita yang terjadi pada saat


kehamilan, atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung
dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan
dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau
penanganannya, tetapi bukan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan.42

2.4

Luaran Neonatal

2.4.1 Asfiksia Neonatal


Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin meningkatkan
karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.43
Skor APGAR ialah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya asfiksia janin. Penilaian APGAR dilakukan pada menit ke-1 dan menit
ke-5 setelah bayi lahir lengkap dan jalan nafasnya telah dibersihkan.43
Tabel 9. Klasifikasi Skor APGAR.42

Tanda
Nafas
Denyut jantung
Warna kulit

0
Tidak ada
Tidak ada
Biru atau pucat

Gerakan/tonus otot
Reflex (menangis)

Tidak ada
Tidak ada

1
Tidak teratur
<100
Tubuh merah
jambu dan kaki,
tangan biru
Sedikit fleksi
Lemah/lambat

2
Teratur
>100
Merah jambu

Fleksi
Kuat

43

Berdasarkan nilai APGAR diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:42


1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit,
tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang- kadang pucat, reflex iritabilitas
tidak ada.
2.Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari dari 100/menit,
tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflex iritabilitas tidak ada.
3.Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9

2.4.2 Berat Bayi Lahir


Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan berat lahir antara
2500-4000 gram, cukup bulan, ketika lahir langsung menangis dan tidak ada
kelainan kongenital.41
Sebagian besar bayi baru lahir yang terlahir dari ibu yang bermaslah
dalam menderita suatu penyakit, tidak menunjukan gejala sakit pada saat
dilahirkan atau beberapa waktu setelah lahir. Bukan berarti bayi lahir tersebut
aman dari gangguan akibat dari penyakit yang di derita ibu. Hal tersebut dapat
menimbulkan akibat yang merugikan

bagi bayi baru lahir dan dapat

meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi. Dalam hal ini infeksi HIV yang
diderita ibu berdampak pada berat badan bayi yaitu

berat

badan bayi

berkemungkinan bayi yang lahir dari ibu yang memakai ART dilahirkan secara
prematur atau memiliki berat badan rendah, tidak lebih tinggi dibandingkan bayi

44

yang lahir dari ibu yang tidak memakai ART selama kehamilan. Namun, ibu yang
HIV-positif dua kali lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan rendah
dibandingkan ibu pada populasi umum.41

2.4.3 Kematian Neonatal


Kematian neonatal dibagi menjadi 2 yaitu:41
a. Kematian Neonatal Dini
Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam waktu 7 hari
setelah kelahirannya.
b. Kematian Neonatal Lanjut
Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup setelah 7 - 29 hari
setelah kelahirannya.
Kematian neonatal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kematian neonatal
yang terjadi selama ibu masih menjalani rawat inap di RSUP. Dr. Kariadi
Semarang setelah menjalani persalinan.43