Anda di halaman 1dari 11

LP MIOMA UTERI

A. Pengertian Mioma Uteri


Mioma uteri adalah suatu neoplasma jinak dari lapisan miometrium atau otot rahim yang
bersifat konsistensi padat dan kenyal serta berbatas tergas dan mempunyai pseudokapsul (Hanifa
Wignyo Sastro, 1994).
B. Etiologi
Walaupun mioma uteri terjadi banyak tanpa penyebab, namun dari hasil penelitian Miller
dan Lipschultz yang mengutarakan bahwa terjadi mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur
yang terdapat pada Cell Nest yang selanjutnya dapat dirangsang, terus menerus oleh estrogen.
(Prawirohardjo, Sarwono 1994 ; 282 ).
Namun demikian, beberapa factor yang dapat menjadi factor pendukung terjadinya
mioma adalah : wanita usia 35-45 tahun, hamil pada usia muda, genetik, zat-zat karsinogenik,
sedangkan yang menjadi factor pencetus dari terjadinya myoma uteri adalah adanya sel yang
imatur dan terjadi pada grandemultipara.
C. Jenis Mioma Uteri
Berdasarkan posisi mioma terhadap lapisan-lapisan uterus dapat di bagi menjadi tiga
jenis yaitu :
1. Mioma Submukosum
Mioma ini berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Mioma
submukosum dapat tumbuh bertangkai dan menjadi polip, kemudian dapat dilahirkan melalui
saluran serviks ( Myoma geburt).
2. Mioma Intramural
Yaitu mioma yang berada di dinding uterus di antara serabut miometrium
3. Mioma Subserosum
Mioma jenis ini tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus dan
diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain

misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari urerussehingga
sering disebut sebagai mioma wondering/ Parasitic Fibroid.
Jarang sekali ditemukan hanya satu macam mioma saja dalam uterus. Mioma yang tumbuh pada
serveks uteri dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga ostium uteri nampak berbentuk
bulan sabit.
D. Manifestasi Klinis
Adanya myoma tidak selalu memberikan gejala karena itu myoma sering ditemukan
tanpa disengaja, yaitu pada saat pemeriksaan ginekologik. Gejala yang ditemukanpun sangat
tergantung pada tempat sarang myoma itu berada, besarnya tumor, perubahan dan komplikasi
yang terjadi ( Sarwono, 1999 ).
Adapun tanda-tanda yang umumnya terjadi adalah :
1. Tumor massa, dibawah perut
Sering kali penderita pergi ke dokter oleh karena adanya gejala ini.
2. Perdarahan yang abnormal

a.
b.
c.
d.

Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenorea, menorragi, dan dapat juga
terjadi metroragia. Beberapa factor yang menjdi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah :
Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma
endometrium.
Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa.
Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut
miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
3. Rasa Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada
sarang myoma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan
4. Gejala dan Tanda penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat moma uteri. Penekanan pada kandung kemih
akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat menyebabkan obstipasi dan
tenesia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema
tungkai dan nyeri panggul.
5. Infertilitas dan Abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan atau menutup pars
interstitial tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh
karena distorsi rongga uterus.

E. Penatalaksanaan
Rawat inap darurat diindikaikan apabila perdarahan mengancam jiwa atau nyeri akut
abdomen. Perencanaan tata laksana harus disesuaikan dan spesifik atas pertimbangan : keparahan
gejala, keinginan mempunyai anak di kemudian hari, dan ukuran tumor.
1. Kuretagge endometrium
Dapat mengidentifikasi kelainan pada endometrium dan menyingkirkan kemungkinan keganasan
endometrium. Apabila leiomioma ukurannya kecil, tidak mengubah rongga endometrium dan
apabila endometrium menunjukkan perdarhan anvoluntair maka dapat dipertimbangkan untuk
menekanovarium dengan tablet kombinasi estrogen-progestrin. Hormon _ystem_ tersebut
harus digunakan dengan hati-hati, karena dapat membangkitkan leiomioma yang sudah ada.
2. Pengobatan operatif ( Miomektomi dan Histerektomi )
Miomektomi dianjurkan apbila pasien hendak mempertahankan atau meninkatkan potensinya
untuk hamil.
Histerektomi merupakan pengobatan definitive untuk gejala yang persisten. Namun, hiterektomi
dianjurkan bagi pasien-pasien simptomatik yang tidak lagi menghendaki anak di kemudian hari.
3. Radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami
menopause. Radioterapi ini umumnya hanya dikerjakan kalau terdapat kontra indikasi untuk
tindakan operatif.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
Haemoglobin, Lekosit, Eritrosit, Albumin.
2. USG.
Terlihat massa pada daerah uterus.
3. Vaginal Toucher
Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
4. Sitologi
Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,
5. Rontgen
Untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.
6. ECG
Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.
G. Komplikasi
1. Pertumbuhan leimiosarkoma.
Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, menjadi besar
apabila hal itu terjadi sesudah menopause
2. Torsi (putaran tangkai )

Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi
mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan
tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
3. Nekrosis dan Infeksi
Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis
servikalis dan dilahirkan bari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat
nekrosis dan infeksi sekunder.
H. Patofisiologi
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak disbanding miometrium normal.
Seringkali penderita mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah.
Pemeriksaan humanual akan mengungkapkan tumor pada uterus, yang umumnya terletak digaris
tengah ataupun agak kesamping, seringkali teraba berbenjol-benjol. Menurut letaknya mioma
terdiri dari :
1. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubungan dengan uterus
2. Mioma intramural akan menyebabkan kavum uteri menjadi luas, yang ditegakkan dengan
pemeriksaan dengan uterus sonde
3. Mioma submukosum kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk kedalam kanalis
servikalis dan tersanya benjolan pada permukaan kavum uteri.
Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara, factor keturunan juga berperan. Mioma
uteri terdiri dari otot [olos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul.
Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifat degeneratif karena berkurangnya
aliran darah ke mioma uteri. Perubahan sekunder meliputi : atrofi, degenerasi membatu, degenari
merah, degenerasi kestik, dan degenerasi lemak.
I.

Pathways

J. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d luka operasi atau tindakan invasif.

a.

b.
c.
d.
e.
f.

g.

h.

Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
Mengatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol
Klien merasa nyeri berkurang atau hilang
Klien dapat istirahat dengan tenang dan tampak rileks
Tanda fisik nyeri tidak ada
Intervensi :
Kaaji derajat ketidaknyamanan melalui isyarat verbal dan non verbal, perhatikan pengaruh
budaya dan respon nyeri.
R/ : tindakan dan reaksi nyeri adalah individual dan berdasarkan pengalaman masa lalu,
memahami perubahan fisiolagis dan latar belakang budaya
Catat karakteristik, lokasi dan intensitas nyeri.
R/ : untuk kebutuhan atau efektifitas intervensi
Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardi, peningkatan pernapasan, bahkan jika pasien
menyangkal adanya rasa sakit.
R/ : dapat mengidentifikasi rasa sakit akut dan ketidaknyamanan
Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi
R/ : ketidaknyamanan mungkin disebabkan atau diperburuk dengan penekanan pada pemasangan
kateter, pemasangan infuse.
Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan.
R/ : pahami penyebab ketidaknyamanan
Lakukan posisi sesuai petunjuk misalnya, semifowler atau miring
R/ : mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi fowler dapat
mengurangi tegangan otot abdominal dan otot punggung atritis, sedangkan miring mengurangi
tekanan dorsal.
Dorong menggunakan teknik relaksasi, misalnya latihan napas dalam, bimbingan imajinasi,
visualisasi.
R/ : lepaskan tegangan otot, tingkatkan perasaan control yang mungkin dapat meningkatkan
kemampuan koping.
Berikan obat analgesik sesuai petunjuk
R/ : analgesik akan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilangan yang lebih
efektif.

2. Resiko gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d pembatasan pemasukan
peroral.

a.
b.
c.
d.
e.

Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3x24 jam volume cairan
terpenuhi
Kriteria hasil : Mempertahankan atau menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan
oleh keluaran urine yang adekuat, tanda-tanda vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit
baik.
Intervensi :
Awasi tanda vital, pengisian kapiler, status membrane mukosa, turgor kulit.
R/ : indikasi keadekuatan volume sirkulasi. Hipotensi ortostatikdapat terjadi dengan resiko jatuh
atau cidera segera setelah perubahan posisi.
Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. Ukur haluaran urine dengan akurat.
R/ : pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti
cairan untuk masukan kaloriyang berdampak pada keseimbangan elektrolit.
Identifikasi rencana untuk meningkatkan atau mempertahankan kesimbangan cairan optimal
misalnya jadwal masukan cairan.
R/ : melibatkan pasien dalam rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan.
Kaji hasil tes elektrolit
R/ : perpindahan cairan elektrolit, penurunan fungsi ginjal dapat meluas mempengaruhi
penyembuhan pasien atau prognosis dan memerlukan intervensi tambahan.
Berikan atau awasi hiperaligmentasi IV
R/ : tindakan darurat untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairn atau elektrolit.
3. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
masukan makanan tidak adekuat.

Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria hasil : pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk meningkatkan atau
mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi
:
a. Kaji peristaltik usus halus klien
R/ : kembalinya peristaltik usus menandakan keadekuatan system gastrointestinal setelah
diistirahatkan karena anestesi.
b. Pantau keadekuatan intake perparenteral
R / : pengganti masukan peroral melalui perparenteral selama bising usus belum kembali normal
c. Berikan masukan peroral bila peristaltik baik dan tidak ada kontra indikasi
R / : latihan dimulai dari yang halus sampai akhirnya yang lebih kasar
4. Resiko terhadap infeksi b.d kerusakan kulit akibat pembedahan.
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam infeksi dapat teratasi.
Kriteria hasil : meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi / inflamasi.

a.
b.
c.
d.

Intervensi
:
Kaji tanda dan gejala infeksi
R/
: untuk menegakkan suatu intervensi
Rawat luka dengan prosedur aseptic
R/
: menurunkan resiko infeksi
Awasi tanda-tanda vital. Perhatikan demam,menggigil dan lain-lain.
R/
: dugaan adanya infeksi
Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai indikasi
R/
: untuk menurunkan penyebaran infeksi
5. Risiko tinggi gangguan perfusi jaringan b.d perdarahan pasca operasi

a.
b.
c.
d.
e.
f.

g.

Tujuan
:setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam perfusi jaringan
adekuat
Kriteria hasil : tanda-tanda vital stabil, adanya denyut nadi perifer yang kuat, kulit hangat,
kesadaran normal.
Pantau tanda vital
R/ : indicator keadekuatan perfusi sistemik, kebutuhan cairan atau darah.
Inspeksi balutan dan pembalut perineal, perhatikan warna dan jumlahnya.
R/ : memperkirakan pembalut darah besar untuk sisi operasi dan atau potensial perubahan
mekanisme pembekuan.
Ubah posisi secara perlahan ditempat tidur dan pada saat pemindahan
R/ : mekanisme vasokonstriksi ditekan dan akan bergerak dengan cepat pada kondisi hipotensi
Bantu dengan ambulasi awal
R/ : meningkatkan sirkulasi dan mengembalikan fungsi normal organ
Cegah dengan menggunakan bantal yang diletakkan dibawah lutut. Ingatkan pasien agar tidak
menyilangkankaki atau duduk dengan kaki tergantung lama
R/ : mencegah terjadinya sirkulasi vena statis dan menurunkan risiko tromboflebitis
Kaji ekstremitas bagian bawah seperti adanya eritema, tanda Homan positif
R/ : sirkulasi mungkin harus dibatasi untuk beberapa posisi selama proses operasi, sementara itu
obat-obatan anestesi dan menurunkanaktivitas dengan mengganggu tojisitas vasomotor,
kemungkinan bendungan vaskuler dan peningkatan risiko pembentukan thrombus.
Kolaborasi pemberian cairan IV atau produk-produk darah sesuai kebutuhan.
R/ : mempertahankan volume sirkulasi mendukung terjadinya perfusi jaringan.
6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya interupsi mekanis pada kulit tau
jaringan.

Tujuan
: seterlah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam integritas kulit dapat
teratasi
Kriteria hasil : Terjadi penyembuhan luka Mendemonstrasikan tingkah laku / teknik untuk
meningkatkan kesembuhan dan untuk mencegah koplikasi.
Intervensi
:
a. Beri penguatan pada balutan awal/penggantian sesuai indikasi. Gunakan teknik aseptic yang
ketat.

b.
c.

d.

e.
f.

g.

h.
i.
j.
k.

l.
m.
n.
o.

R/ : Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi. Mencegah akumulasi cairan yang
dapat menyebabkan ekskoriasi.
Secara hati-hati lepaskan perekat (sesuai arah pertumbuhan rambut) dan pembalut padawaktu
mengganti.
R/ : Mengurangi risiko trauma kulit dan gangguan pada luka
Gunakan sealant/barier kulit sebelum perekat jika diperlukan. Gunakan perekat yang halus/ silk
(hipoalergenik) untuk membalut luka yang membutuhkan pergantian balutan yang sering.
R/ : Menurunkan resiko terjadinya trauma kulit atau abrasi dan memberikan perlindungan
tambahan untuk kulit atau jaringan yang halus.
Periksa tegangan balutan. Beri perekat pada pusat incisi menuju ke tepi dati balutan luka. Hindai
menutup pada seluruh ekstremitas.
R/ : Dapat mengganggu atau membendung sirkulasi pada luka sekaligus bagian distal dari
ekstremitas.
Periksa luka secara teratur, catat karakteristik dan integritas kulit.
R/ : Pengenalan akan adanya kegagalan proses penyembuhan luka/berkembangnya komplikasi
secara dini dapat mencegah terjadinya kondisi yang lebih serius
Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.
R/ : Menurunnya cairan menandakan adanya evolusi dari proses penyembuhan, apabila
pengeluaran cairan terus menerus atau adanya eksudat yang bau menunjukkan terjadinya
komplikasi
Pertahankan ketepatan salran pengeluaran cairan, berikan kantong penampung cairan pada
drain/insisi yang mengalami pengeluaran yang berbau.
R/ : Failitasi letak kantong dekat luka, menurunkan risiko terjadinya infeksi dan kecelakaan
secara kimiawi pada jaringan / kulit
Tinggikan daerah opersi sesuai dengan kebutuhan.
R/ : Meningkatkan pengembalian aliran vena dan menurunkan pembentukan edema.
Tekan arealatau insisiabdominal dan dada dengan menggunakan bantal selama batuk atau
bergerak.
R/ : Menetralisasi tekanan pada luka, meminimalkan risiko terjadinya ruptur/dehidens
Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka
R/ : Mencegah kontaminasi luka
Biarkan terjadi kontak antara luka dengan udara sesegera mungkin tutup dengan kain kasa
tipis/bantalan sesuai kebutuhan.
R/ : Membantu mengeringkan luka dan memfasilitasi proses penyembuhan luka. Pemberian
cahaya mungkindiperlukan untuk mencegah iritasi bila tepi luka/sutura bergesekan dengan
pakaian/linen.
Bersihkan permukaan kulit dengan menggunakan hidogen peroksida atau dengan air yang
mengalir dan sabun lunak setelah daerah insisi ditutup.
R/ : Menurunkan kontaminasi kulit, membantu dalam membersihkan eksudat.
Berikan es pada daerah luka jika dibutuhkan.
R/ : Menurunkan pembentukan edema yang mungkin menyebabkan tekanan yang tidak dapat
diidentifikasi pada luka selama periode pasca opersi tertentu.
Gunakan korset pada abdomen bila dibutuhkan.
R/ : Memberi pengencangan tambahan pada insisi yang berisiko tinggi ( misalnya pada pasien
yang obesitas
Iriigasi luka dengan menggunkana debridement sesuai kebutuhan.

R/ : Membuang jaringan nekrotik/luka eksudat untuk meningkatkan penyembuhan.


p. Tingkatkan tirah baring atau duduk. Berikan lingkungan yang tenang. Batasi pengunjung sesuai
keperluan.
R/ :Meningkatkan ketenagan dan istirahat. Menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan.
q. Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
R/ : Meingkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan risiko kerusakan jaringan.
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 3x24 jam tidak terjadi intoleransi
aktifitas
Kriteria hasil : Menunjukkan teknik/ perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas,
melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas
Intervensi
:
a. Tingkatkan tirah baring atau duduk. Berikan lingkungan yang tenang. Batasi pengunjung sesuai
keperluan.
R/ :Meningkatkan ketenagan dan istirahat. Menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan.
b. Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
R/ : Meingkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan risiko kerusakan jaringan.
c. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif
R/ : Meningkatkan ketenagan dan istirahat. Menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan.
8. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketidakmampuan mempunyai anak.
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam harga diri meningkat
Kriteria hasil : Menyatakan penerimaan diri pada situasi dan adaptasi terhadap perubahan pada
citra tubuh
Intervensi
:
a. Dorong penggunaanteknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan
imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat, contohnya menonton TV, mendengarkan radio
atau membaca.
R/ : Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kemabali perhatian dan dapt
meningkatkan koping.
b. Berikan waktu untuk mendengarkanmasalah dan ketakutan pasien dan orang terdekat.
Diskusikan persepsi diri pasien sehubungan denganantisipasi perubahan dan pola hidup khusus.
R/ : Memberikan minat dan perhatian; memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahn
konsep, contoh wanita tajut kehilangan kewanitaannya dan seksualitasnya, peningkatan berat
badan dan perubahan tkarena menopause.
c. Kaji strss emosi klien. Identifikasi kehilangan pada klien / orang terdekat. Dorong klien untuk
mengekspresikan dengan tepat.

d.
e.
f.
g.
h.

R/ : Perawat perlu menyadari apakah arti tindakan ini terhadap pasien untuk menghindari
tindakan kurang hati-hati atau terlalu menyendiri. Wanita merasa takut akan ketidakmampuan
memenuhi peran reproduksi dan mengalami kehilangan.
Berikan informasi akurat, kuatkan informasi yang didapat sebelumnya.
R/ : Memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya dan mengasimilasi informasi.
Ketahui kekuatan individu, dan identifikasi perilaku koping positif sebelumnya.
R/ : Membantu dalam membuat kekuatan yang telah ada bagi klien untuk digunakan dalam
situasisaat ini.
Berikan lingkungan terbuka pada klien untuk mendiskusikan masalah seksualitas.
R/ : Meningkatkan saling berbagi keyakinan / nilai tentang subyek sensitive dan mengidentifikasi
kesalahan konsep/ mitos yang dapt mempengaruhi penilaian situasi
Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan penolakan atau terlalu
memasalahkan perubahan actual/ yang ada.
R/ : Mengidentifikasi tahap kehilangan/ kebutuhan intervensi.
Rujuk konseling ke professional sesuai kebutuhan ( kolaborasi
R / : Mungkin memerlukan bantuan tambahan untuk mengatasi perasan kehilangan.