Anda di halaman 1dari 13

MODUL PERKULIAHAN

BAHASA INDONESIA

POKOK BAHASAN :
Ragam Bahasa Indonesia

Fakultas
Ekonomi dan
Bisnis

201
3

Program
Studi
Akuntansi

Tatap
Muka
04

Kode
MK

Disusun
Oleh

90008

Sri Rahayu Handayani,


S.Pd. MM

Abstract

Kompetensi

Ragam Bahasa merupakan variasi bahasa


menurut pemakaian, yang berbeda-beda
menurut topik yang dibicarakan,hubungan
pembicara, kawan bicara, orang yang

Mahasiswa mampu memahami berbagai


ragam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

dibicarakan, serta medium pembicara

I.

Pendahuluan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari bangsa Indonesia yang sudah dipakai oleh
masyarakat Indonesia sejak dahulu jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, namun tidak
semua orang menggunakan tata cara atau aturan-aturan yang benar, salah satunya pada
penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak sesuai dengan Ejaan maupun Kamus
Besar Bahasa Indonesia oleh karena itu pengetahuan tentang ragam bahasa cukup penting
untuk mempelajari bahasa Indonesia secara menyeluruh yang akhirnya bisa diterapkan dan
dapat digunakan dengan baik dan benar sehingga identitas kita sebagai bangsa Indonesia tidak
akan hilang.
Bahasa Indonesia perlu dipelajari oleh semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pelajar dan
mahasiswa saja, tetapi semua warga Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam
bahasan bahasa Indonesia itu ada yang disebut ragam bahasa. Dimana ragam bahasa
merupakan variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda. Ada ragam bahasa lisan dan
ada ragam bahasa tulisan. Disini yang lebih lebih ditekankan adalah ragam bahasa lisan,
karena lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ngobrol, puisi,
pidato,ceramah,dll.
Pidato sering digunakan dalam acara-acara resmi. Misalnya pidato pesiden, pidato dari ketua
OSIS, ataupun pidato dari pembina upacara. Sistematika dalam pidato pun hendaklah dipahami
betul-betul. Agar pidato yang disampaikan sesuai dengan kaidah yang benar. Pidato sama
halnya dengan ceramah. Hanya saja ceramah lebih membahas tentang keagamaan.kalau
pidato lebih umum dan bisa digunakan dalam banyak acara.
Ragam bahasa indonesia terbagi atas lima bagian, yaitu :

Tempat : Dialek Jakarta, dialek Manado, dsb.

Penutur : Golongan Cendekiawan dan bukan golongan Cendekiawan.

Sarana : Ragam Lisan dan Ragam Tulisan.

201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Bidang Penggunaan : Ragam Ilmu, Ragam Surat Kabar, dsb.

Suasana Penggunaan : Ragam Resmi dan Ragam Santai.

II. Ragam Bahasa


Seiring dengan perubahan masyarakat, bahasa pun mengalami perubahan. Perubahan itu
berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya. Agar banyaknya variasi tidak
mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul
mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut
ragam standar (Subarianto, 2000). Bahasa Indonesia memang banyak ragamnya. Hal Ini
karena bahasa Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam
penuturnya. Oleh karena itu, penutur harus mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan
dengan keperluannya, apapun latar belakangnya.
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik
yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta
menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap
sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan
terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana
resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku
atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia,
timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam
situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa
baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut
menggunakan bahasa baku.
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa
terdiri dari:
201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

1. Ragam bahasa lisan


2. Ragam bahasa tulis
Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar
dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan
tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam
ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan
dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua
jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf,
melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa
lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi sistem
bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula
kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing
memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman bahasa, diantaranya :

Faktor Budaya atau letak Geografis

Faktor Ilmu pengetahuan

Faktor Sejarah

Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu berdasarkan
media, berdasarkan cara pandang penutur dan berdasarkan topik pembicaraan.
A. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
1. Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar
terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun
demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di
dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam
ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam
memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.

201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan
pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan,
ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam
lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciricirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis,
ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masingmasing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Ciri-ciri ragam lisan:

Memerlukan orang kedua/teman bicara;


Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
Berlangsung cepat;
Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

Contoh ragam lisan adalah Sudah saya baca buku itu.


2. Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak
ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang
diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi
pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis
diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan,
struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam
struktur kalimat.
Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia baku adalah sebagai berikut.
1) Pemakaian awalan me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
2) Pemakaian fungsi gramatikal (subyek, predikat, dan sebagainya secara eksplisit dan
konsisten
3) Pemakaian fungsi bahwa dan karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten
(pemakaian kata penghubung secara tepat dan ajeg)
4) Pemakaian pola frase verbal aspek + agen + verba (bila ada) secara konsisten
(penggunaan urutan kata yang tepat)
201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

5)
6)
7)
8)
9)

Pemakaian konstruksi sintesis (lawan analitis)


Pemakaian partikel kah, lah, dan pun secara konsisten
Pemakaian preposisi yang tepat
Pemakaian bentuk ulang yang tepat menurut fungsi dan tempatnya
Pemakaian unsur-unsur leksikal berikut berbeda dari unsur-unsur yang menandai

bahasa Indonesia baku


10) Pemakaian ejaan resmi yang sedang berlaku (EYD)
11) Pemakaian peristilahan resmi
Ciri-ciri ragam tulis :

Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;


Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
Harus memperhatikan unsur gramatikal;
Berlangsung lambat;
Selalu memakai alat bantu;
Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda
baca.
Contoh ragam tulis adalah Saya sudah membaca buku itu.

Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan
kosa kata):
Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)
a. Ragam Bahasa Lisan:
1) Nia sedang baca surat kabar.
2) Ari mau nulis surat.
3) Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
4) Mereka tinggal di Menteng.
5) Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
6) Saya akan tanyakan soal itu.
b. Ragam Bahasa Tulis:
1) Nia sedangmembaca surat kabar.
2) Ari mau menulis surat.
3) Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
4) Mereka bertempat tinggal di Menteng.
5) Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
6) Akan saya tanyakan soal itu.

Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata:
1. Ragam Lisan
201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

1) Ariani bilang kalau kita harus belajar


2) Kita harus bikin karya tulis
3) Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
2. Ragam Tulis
1) Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
2) Kita harus membuat karya tulis.
3) Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan
(EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu
mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan
sebagaimana pedoman yang ada.
Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi
standar dan nonstandar. Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan
aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes
sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan
perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan:
1. Topik yang sedang dibahas,
2. Hubungan antarpembicara,
3. Medium yang digunakan,
4. Lingkungan, atau
5. Situasi saat pembicaraan terjadi
Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandard adalah sebagai
berikut:

201
3

Penggunaan kata sapaan dan kata ganti,


Penggunaan kata tertentu,
Penggunaan imbuhan,
Penggunaan kata sambung (konjungsi), dan
Penggunaan fungsi yang lengkap.

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam
nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung
menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita,
dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar,
kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar
dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk
baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam
standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda
lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang
kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar.
Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup
mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat
dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya,
Hai, Ida, mau ke mana? Pulang. Sering kali juga kita menjawab Tau. untuk menyatakan
tidak tahu. Sebenarnya, pmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas
adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan
tidak terwujud dalam ragam tulis.
B. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam
terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.
Contoh ragam dialek adalah Gue udah baca itu buku.
Contoh ragam terpelajar adalah Saya sudah membaca buku itu.
Contoh ragam resmi adalah Saya sudah membaca buku itu.
Contoh ragam tak resmi adalah Saya sudah baca buku itu.

201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

C. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan


Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum,
ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah:

Bahasa Indonesia ragam baku;


Penggunaan kalimat efektif;
Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata

dan istilah yang bermakna kias;


Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:


1)
2)
3)
4)
5)

Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)


Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)

Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku tulis dan ragam bahasa baku lisan.
III. Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia
Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering
dijumpai penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan
yang disampaikan. Penyimpangan / kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Hiperkorek
Hiperkorek adalah kesalahan berbahasa karena membetulkan bentuk yang sudah
benar sehingga menjadi salah.
Contoh:

insaf (betul) menjadi insyaf (hiperkorek)


pihak (betul) menjadi fihak (hiperkorek)
asas (betul) menjadi azas (hiperkorek)

2. Pleonasme
201
3

Bahasa Indonesia

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Pleonasme adalah kesalahan berbahasa karena kelebihan dalam pemakaian kata yang
sebenarnya tidak diperlukan.
Pleonasme ada tiga macam :
1) Penggunaan dua kata yang bersinonim dalam satu kelompok kata
zaman dahulu (benar)
dahulu kala (benar)
zaman dahulu kala (pleonasme)
2) Bentuk jamak dinyatakan dua kali
ibu-ibu (benar)
para ibu (benar)
para ibu-ibu (pleonasme)
3) Penggunaan kata tugas (keterangan) yang tidak diperlukan karena pernyataannya
sudah cukup jelas
maju ke depan
kambuh kembali
3. Kontaminasi
Istilah kontaminasi dipungut dari bahasa Inggris contamination (pencemaran). Dalam ilmu
bahasa, kata itu diterjemahkan dengan kerancuan. Rancu artinya kacau dan kerancuan
artinya kekacauan. Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat,
seperti morfem dan kata.
Morfem-morfem

yang

salah

disusun

menimbulkan

kata

yang

salah

bentuk.

Kata yang salah disusun menimbulkan frase yang kacau atau kalimat yang kacau.
Kontaminasi terjadi karena salah nalar, penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi
suatu

hal

yang

tumpang

(meng+kesamping+kan)

tindih.Contoh

(men+samping+kan)

kontaminasi

mengesampingkan

imbuhan:
(benar)

menyampingkan

(benar)

mengenyampingkan
(kontaminasi)
Contoh kontaminasi frase:

201
3

Kadang-kadang (benar)
Ada kala(nya) (benar)
Kadang kala (kontaminasi)
Berulang-ulang (benar)
Berkali-kali (benar)
Bahasa Indonesia

10

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Berulang kali (kontaminasi)

Contoh kontaminasi kalimat:

Rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (benar)


Dalam rapat itu, hadir para pejabat setempat. (benar)
Dalam rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (kontaminasi)

4. Perombakan Bentuk Pasif


Perombakan bentuk pasif ada tiga :
a. Pemakaian awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya tidak berawalan diContoh:

Buku itu dibaca oleh saya. (tidakbaku)


Buku itu saya baca. (baku)

b. Penghilangan awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan


diContoh:

Buku itu dibaca oleh mereka. (baku)


Buku itu mereka baca. (tidakbaku)

c. Penyisipan kata diantara dua kata dari sebuah frase terikat


Contoh:

Buku itu saya akan baca. (tidakbaku)


Buku itu akan saya baca. (baku)

5.Kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan pemakaian / penghilangan


kata tugas Kesalahan pemakaian kata tugas dalam berbahasa Indonesia ada tiga
macam :
a. Ketidak tepatan kata tugas yang digunakan
Contoh :

Hasil dari pada penelitian itu sangat memuaskan.(tidak tepat)


Hasil penelitian itu sangat memuaskan. (baku).

b.Pemakaian kata tugas yang tidak diperlukan


Contoh :

201
3

Bahasa Indonesia

11

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Kepada mahasiswa yang terlambat tidak diizinkan mengikuti kuliah. (tidak

baku)
Mahasiswa yang terlambat tidak diizinkan mengikuti kuliah. (baku)

c.Penghilangan kata tugas yang diperlukan


Contoh :

Dia bekerja sesuai peraturan yang berlaku. (tidakbaku)


Dia bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku. (baku)

6.Pengaruh bahasa daerah


Pengaruh bahasa daerah yang menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia
ada dua macam:
a. Pengaruh dalam pembentukan kata, yaitu pemakaian awalan ke- (yang
seharusnya awalan ter-) dan penghilangan imbuhan.
Contoh pemakaian awalan ke- :

ketabrak, kepukul (tidakbaku)


tertabrak, terpukul (baku)

Contoh penghilangan imbuhan:

Hasil penelitiannya beda dengan hasil penelitian saya. (tidakbaku)


Hasil penelitiannya berbeda dengan hasil penelitian saya. (baku)

b. Pengaruh dalam susunan kalimat, penggunaan akhiran nya


Contoh :

Rumahnya Pak Ahmad sangat besar. (tidakbaku)


Rumah Pak Ahmad sangat besar. (baku)

7.Pengaruh bahasa asing


Pengaruh bahasa asing yang menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia
ialah pemakaian kata tugas (kata ganti penghubung) seperti: yang mana, dimana,
kepada siapa.
Contoh :

201
3

Baju yang mana baru saya beli, telah sobek. (tidakbaku)


Baju yang baru saya beli, telah sobek. (baku)
Bandung dimana saya dilahirkan sekarang sangat panas. (tidakbaku)
Bandung tempat saya dilahirkan sekarang sangat panas. (baku)
Orang kepada siapa ia berlindung, kemarin meninggal dunia.(tidakbaku)

Bahasa Indonesia

12

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Orang tempat ia berlindung, kemarin meninggal dunia.(baku)

Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress.
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Keraf, Gorys. 1993. Komposisi. Ende: Nusa Indah.
Satata, Sri, Devi S, dan Dadi W. 2012. Bahasa Indonesia, Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadianional. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Solihin, dkk. 2003. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: Uhamka Press.

201
3

Bahasa Indonesia

13

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

Sri Rahayu Handayani, SPd.


MM

http://www.mercubuana.ac.id

Beri Nilai