Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suhu Tubuh


2.1.1

Pengaturan Suhu Tubuh


Suhu tubuh dipertahankan tetap konstans dalam kisaran sekitar 1oF
(0,6oC) dari hari ke hari. Suhu tubuh normal rata-rata antara 98,0 oFdan 98,6oF
bila diukur per oral, dan kira-kira 1oF lebih tinggi bila diukur per rektal. (Gyton
dan Hall 2007)
Pengaturan suhu tubuh dipengaruhi oleh keseimbangan antara
pembentukan panas dan kehilangan panas. Suhu tubuh akan meningkat bila laju
pembentukan panas didalam tubuh lebih besar dari pada laju hilangnya panas,
sebaliknya bila kehilangan panas lebih besar, suhu tubuh akan menurun (Guyton
dan Hall, 2007). Menurut Guyton dan Hall (2007) panas dihasilkan oleh laju
metabolisme tubuh dan faktor-faktor yang menentukan laju pembentukan panas
antara lain: 1) Laju metabolisme basal semua sel tubuh; 2) Laju metabolisme
tambahan yang disebabkan oleh aktifitas otot; 3) Metabolisme tambahan yang
disebabkan oleh pengaruh tiroksin; 4) Metabolisme tambahan yang disebabkan
oleh pengaruh epinefrin,norepinefrin dan rangsangan simpatis terhadap sel; 5)
Metabolisme tambahan yang disebabkan meningkatnya aktivitas kimiawi di
dalam sel sekaligus diperlukan untuk pencernaan, absorpsi dan penyimpanan
makanan. Panas dikeluarkan dari tubuh melalui radiasi, konduksi (hantaran) dan
penguapan air disaluran nafas dan kulit. Sejumlah kecil panas dikeluarkan
melalui urin dan feses (Ganong, 2008).

Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back)
yang diperankan oleh hipotalamus sebagai termostat tubuh (Sherwood, 2001).
Suhu kritis yang disebut set-point sekitar 37,1oC ( 98.8oF) akan menyebabkan
perubahan dratis kecepatan kehilangan panas dan pembentukan panas. (Guyton
dan Hall, 2007). Set-point ditentukan oleh derajat aktifitas reseptor panas pada
area preoptik-hipotalamus anterior yang mengandung banyak neuron yang
berfungsi sebagai sensor sensor suhu untuk mengontrol suhu tubuh. Walaupun
sinyal yang ditimbulkan oleh reseptor suhu di hipotalamus sangat kuat dalam
mengatur suhu tubuh, reseptor suhu di kulit, medulla spinalis, di organ dalam
abdomen, dan di sekitar vena-vena besar di abdomen bagian atas dan rongga
dada mempunyai peranan tambahan dalam pengaturan suhu (Guyton dan Hall,
2007).
2.1.2

Pengaturan Suhu Tubuh Dalam Keadaan Panas


Penurunan suhu tubuh ketika suhu tubuh diatas normal atau terlalu panas oleh
sistem pengaturan suhu dengan menggunakan mekanisme antara lain:
2.1.2.1 Vasodilatasi pembuluh darah kulit
Pembuluh darah kulit berdilatasi dengan kuat disebabkan oleh hambatan
pusat

simpatis

di

hipotalamus

posterior

yang

menyebabkan

vasokontriksi. Vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan


pemindahan panas ke kulit sebanyak delapan kali lipat.
2.1.2.2 Berkeringat
Rangsangan area preopti-hipotalamus anterior yang berlebihan di
hantarkan melalui jaras otonom ke medula spinalis dan kemudian
melalui jaras simpatis mengalir kekulit di seluruh tubuh menyebabkan
berkeringat.

Peningkatan suhu tubuh tambahan 1oC diatas suhu normal, menyebabkan


pengeluaran keringat yang cukup banyak untuk membuang sepuluh kali
kecepatan pembentukan panas suhu basal.
2.1.2.3 Penurunan pembentukan panas
Mekanisme yang menyebabkan pembentukan panas yang berlebihan,
akan dihambat dengan kuat seperti dengan menggigil dan termogenesis
kimia. (Guyton dan Hall, 2007)
2.1.3

Pengaturan Suhu Tubuh Dalam Keadaan Dingin


Ketika tubuh terlalu dingin, sistem pengaturan suhu mengadakan mekanisme
peningkatan suhu, yaitu :
2.1.3.1 Vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh
Hal ini disebabkan untuk mengurangi pengeluaran panas oleh
rangsangan dari pusat simpatis hipotalamus posterior.
2.1.3.2 Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot arektor pili yang melekat ke
folikel rambut berkontraksi atau berdiri. Hal ini penting pada binatang,
berdirinya rambut berfungsi sebagai isolator terhadap lingkungan.
2.1.3.3 Peningkatan termogenesis (pembentukan panas)
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkatkan dengan
memacu terjadinya menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan
simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin. (Guyton dan Hall, 2007)

2.2 Demam
2.2.1 Definisi
Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal dengan suhu oral
normal antara 36,5 37,2oC (Guyton & Hall, 2007). Derajat suhu dikatakan demam

dengan suhu rectal 38oC atau suhu oral 37,5oC atau suhu axilla 37,2oC (Kaneshiro
& Zieve, 2010).
Demam dapat diartikan peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal
sehari-hari yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus
(Dinarello & Gelfand, 2005). Demam (pireksia) adalah keadaan suhu tubuh diatas
normal sebagai akibat peningkatan pusat pengaturan suhu di hipotalamus yang
mempengaruhi oleh IL-1 (Sarwono dkk, 2008).
2.2.2

Etiologi
Demam dapat disebabkan oleh kelainan didalam otak sendiri atau oleh bahanbahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu (Gyton & Hall,2007).
Demam bisa juga disebabkan oleh paparan panas yang berlebihan (overhating),
dehidrasi atau kekurangan cairan, alergi maupun dikarenakan gangguan sistem imun
(Lubis, 2009). Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi maupun faktor non
infeksi. Demam akibat infeksi disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, maupun
parasit. Sedangkan demam akibat faktor non infeksi disebabkan oleh faktor
lingkungan ( suhu lingkungan yang terlalu tinggi), penyakit autoimun ( arthritis, SLE,
vaskulitis, dll), keganasan dan pemakaian obat-obatan (antibiotik, anti histamin, dan
defenilhidantonin) 2oC (Kaneshiro & Zieve, 2010).
Toksik liposakarida yang disekresi oleh membran bakteri, dapat menyebabkan
peningkatan set-point pada termostat hipotalamus, zat tersebut dinamakan pirogen.
Pirogen yang dilepaskan dari bakteri toksik atau pirogen yang dilepaskan dari
degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit. Hasil
pemecahan bakteri terdapat di dalam jaringan atau dalam darah, keduanya akan
difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan dan limfosit pembunuh
bergranula

besar, dan

selanjutnya

melepaskan

zat

interleukin-1

kemudian

mengaktifkan proses yang menimbulkan demam di hipotalamus. (Guyton & Hall,


2007).
Pirogen adalah substansi yang menyebabkan demam dan berasal dari eksogen
maupun endogen. Pirogen eksogen adalah mikroorganisme, produk mereka, atau
toksik. Penyebab eksogen demam antara lain bakteri, jamur, virus dan produk-produk
yang dihasilkan oleh agen-agen tersebut misal endotoksin. Kerusakan jaringan oleh
sebab apapun dapat menyebabkan demam. Faktor-faktor imunogenik seperti
kompleks imun dan limfokin menimbulkan demam pada penyakit vaskular kolagen
dan keadaan-keadaan hipersensitifitas. Seluruh substansi diatas menyebabkan sel-sel
fagosit mononuklear membuat pirogen endogen.Sedangkan pirogen endogen adalah
polipeptida yang dihasilkan oleh jenis sel pejamu, terutama monosit/makrofag
(Harrison, 2009 ).

2.2.3

Mekanisme demam
Pirogen bekerjalangsung pada pusat pengaturan suhu hipotalamus untuk
meningkatkan set point. Endotoksin dari bakteri gram negatif, pirogen tidak berfungsi
langsung atau membutuhkan periode laten untuk menimbulkan efek (Guyton & Hall,
2007).
Respon terhadap rangsangan pirogenik, maka monosit, makrofag, dan sel-sel
Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen IL1(interleukin 1), TNF (Tumor Necrosis Factor ), IL-6 (interleukin 6), dan INF
(interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan
patokan termostat. Pirogen endogen ini akan bekerja pada sistem saraf pusat tingkat
OVLT (Organum Vasculosum Laminae Terminalis) yang dikelilingi oleh bagian
medial dan lateral nukleus preoptik, hipotalamus anterior, dan septum palusolum.

Sebagai respon terhadap sitokin tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis
prostaglandin, terutama prostaglandin E2 melalui metabolisme asam arakidonat jalur
COX-2 (cyclooxygenase 2), dan menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama
demam (Nelwan dalam Sudoyo, 2006).
Prostaglandin adalah senyawa kimia derivate asam lemak yang mempunyai
kegiatan biologi seperti hormone, yaitu sebagi zat pengatur metabolisme. Biosintesis
prostaglandin yang secara keseluruhan dikatalisis oleh system enzim kompleks
prostaglandin sintetase yang terikat pada membrane sel, dimulai dengan pembentukan
asam lemak beratom 20, asam arakidonat dari asam lemak hakiki, asam linoleat. Pada
umumnya, asam linoleat berasal dari fosfolipid dalam membrane sel yang mengalami
hidrolsis dengan enzim fosfolipase. Tahap reaksi berikutnya adalah proses oksigenasi
dan siklisasi asam arakidonat menghasilkan senyawa prostaglandin PGG2. Reaksi ini
dikatalisis oleh enzim siklooksigenase. Akhirnya PGG2 diubah menjadi PGE2 melalui
pembentukan 15- hidroksi- PGE2, dikatalisis oleh enzim endoperoksida isomerase
dan peroksidase. Disamping itu PGG2 dapat pula diubah menjadi senyawa
prostaglandin PGF2 melalui pembentukan PGH2, dikatalisis oleh enzim peroksidase
dan endoperoksida reduktase. Sedangkan enzim endoperoksida isomerase dapat
mengubah PGH2 menjadi PGE2. Beberapa prostaglandin (PGE1 dan PGE 2) berperan
merangsang pengaliran darah dengan memperbesar pembuluh darah sehingga
menurunkan tekanan dalam pembuluh darah, mempengaruhi proses penggumpalan
darah, merangsang pengguguran kandungan, dan ikut dalam proses terjadinya
kekebalan (Harrison, 2009).
2.2.4

Macam-macam Demam
Beberapa tipe demam yang mungkin dijumpai antara lain:
1. Demam septik

Pada tipe demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi
sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi
hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi
tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Pada tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
mencapai suhu badan normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat
mencapai 2oC dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam
septik.
3. Demam intermiten
Pada tipe Demam intermiten, suhu badan dapat turun ketingkat yang normal
selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua
hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari bebas demam diantara dua
serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari 1
o

C. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

5. Demam siklik
Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti
oleh kenaikan suhu seperti semula (Nelwan, 2006).

2.3 PROPOLIS
2.3.1

Definisi
Propolis adalah bahan resin dari berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang

melekat pada bunga, pucuk dan kulit kayu yang didapatkan lebah madu yang telah
diolah dengan enzin dari air liur lebah dan mencampurnya dengan lilin yang ada di
dalam sarang. Sifatnya pekat, bergetah, berwarna coklat kehitaman, mempunyai bau
yang khas, dan rasa pahit. Lebah menggunakan bahan propolis untuk pertahanan
sarang, mengkilatkan bagian dalam sarang dan menjaga suhu lingkungan (Toprakci,
2005).
Propolis mengandung resin dan balsam yang terdiri atas 55% flavonoid, asam
fenolat dan esternya, 30% lilin lebah (wax), asam lemak dan zat lain, 10% minyak
esensial dan minyak aromatis, 5% pollen (protein /16 asam amino bebas, >1%,
arginin, dan prolin) dan senyawa organik serta mineral sebesar 5% (Farre et al.,
2004:24). Mineral dan senyawa organik lain berupa Zn, Fe, vitamin B3, fruktosa
(Winingsih, 2008), keton, lakton, quinon, steroid, asam benzoik (Franz, 2008).
Komponen utama propolis adalah komponen fenol (flavanoid, asam aromatik, dan
benzopiren), diterpen, triterpen, dan minyak esensial (Bankova, 2005).

Gambar. Chemical structures of the most important flavonoids found in honey


and propolis (Viuda et al., 2008)
2.3.2

Fungsi Propolis

Flavonoid merupakan suatu zat yang banyak terdapat pada tumbuhan, tetapi dalam
propolis berada dalam bentuk terkonsentrasi, selain itu kandungan flavonoid lainnya
pada EEP (Ethanolic Extract of Propolis) yaitu betulinol, quersetin, isovanilin,
galangin, isalpinin, kaemferol, rhamnetin, isohmnetin, pinocembrin, pinostrobin, dan
pinobaksin (Winingsih, 2008).
Propolis mempunyai kandungan flavonoid, yaitu bahan aktif yang berfungsi
sebagai antiperadangan dan berperan ganda sebagai antivirus. Kelebihan lain yaitu
tidak menimbulkan resistensi, bakteri ataupun virus tidak bisa menjadi kebal terhadap
propolis selain itu, propolis memiliki selektifitas yang tinggi. Propolis hanya
membunuh kuman penyebab penyakit saja sedangkan mikroba yang berguna seperti

flora usus tidak terganggu oleh propolis. Propolis efektif terhadap bakteri gram positif
dan negatif (Winingsih, 2008). Propolis dapat merangsang sistem kekebalan secara
langsung dan melepaskan unsur yang merespon imunitas seluler melalui mekanisme
fagositosis (Wade, 2005). Manfaat propolis selain merangsang sistem imun adalah
antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antiviral, hepatoprotektif, antitumor, mencegah
terjadinya ulkus dan vasodilator (Viuda et al., 2008; Nakajima et al., 2009).
Propolis jarang menimbulkan efek samping, satu-satunya efek samping yang
terjadi dan itu pun jarang yaitu timbulnya reaksi alergi bila digunakan secara lokal dan
bila diberikan peroral tidak ada efek samping yang terjadi. Uji toksisitas membuktikan
bahwa propolis sangat aman dikonsumsi berulang. Dalam uji praklinis, LD50 propolis
mencapai lebih dari 10.000 mg. LD50 adalah lethal dosage, yaitu dosis yang
mematikan separuh hewan percobaan. Jika dikonversi, dosis itu setara 7 ons sekali
konsumsi untuk manusia dengan berat badan 70 kg. Faktanya, dosis konsumsi
propolis di masyarakat sangat rendah, hanya 1-2 tetes dalam segelas air minum. Efek
konsumsi jangka panjang, tidak menimbulkan kerusakan pada darah, organ hati, dan
ginjal. Penentuan toksisitas subkronik pada 21 ekor mencit menunjukkan pemberian
propolis dosis 5.000 mg/kgbb dan 10.000 mg/kgbb setiap hari selama 30 hari, tidak
menimbulkan kematian mencit, tidak mempengaruhi berat badan, tidak mengganggu
jumlah sel-sel darah dan kadar hemoglobin, tidak mengganggu fungsi hati dan ginjal
(tidak mempengaruhi kadar SGOT, SGPT, kreatinin dan asam urat), tidak
mempengaruhi kualitas sel-sel hati, ginjal dan lambung (Sarto and Saragih, 2009).

2.4 Hubungan antara propolis dengan efek antipiretik


Adanya kandungan flavonoid di dalam Propolis. Flavonoid merupakan
golongan senyawa fenol terbesar sebagai kandungan khas tumbuhan hijau.
Flavonoid bermanfaat sebagai antiinflamasi, flavonoid bekerja melalui mekanisme
penghambatan mediator inflamasi seperti histamin, bradikinin, prostaglandin dengan

cara penghambatan siklooksigenase dan lipooksigenase sehingga terjadi pembatasan


jumlah sel inflamasi (makrofag dan neutrofil) ( Prasetyo, 2013 ). Flavonoid
mempunyai struktur yang mirip dengan asetaminofen, yaitu sama-sama merupakan
golongan senyawa fenol dan memiliki cincin benzen. Flavonoid memiliki efek
antipiretik dan dapat menghambat reaksi biosintesis prostaglandin melalui
mekanisme penghambatan enzim siklooksigenase 2 (COX-2). Hal ini yang diduga
membuat efek antipiretik flavonoid lebih baik daripada obat-obatan antipiretik
sintesis yang cara kerjanya dengan menghambat enzim siklooksigenase 1
(Litbangkes, 2006).
2.5 Pengukuran Suhu Tubuh
2.5.1

Definisi Termometer
Termometer adalah alat untuk mengukur panas atau suhu. Pada umumnya,
termometer terbuat dari tabung kaca yang diisi zat cair termometrik.
Termometer berasal dari bahasa Latin thermo, yang artinya panas, dan meter,
yang artinya untuk mengukur. Zat cair termometrik adalah zat cair yang mudah
mengalami perubahan fisis jika dipanaskan atau didinginkan, misalnya air raksa
dan alkohol.

2.5.2

Jenis - jenis Termometer


2.5.2.1 Termometer ketiak
Pengukuran suhu ketiak (aksila) sesungguhnya tidak seakurat
pegukuran suhu di mulut (oral), atau rectal. Temperatur yang di
hasilkan 1oC lebih rendah di bandingkan pengukuran oral. Pengukuran
memerlukan waktu yang lama selama 10 menit untuk hasil yang lebih
baik (Engel, 2009).
2.5.2.2 Termometer mulut

Pengukuran suhu melalui mulut lebih akurat dibandingkan pengukuran


suhu lewat ketiak. Pengukuran didalam mulut dilakukan selama 3-4
menit (Engel, 2009).
2.5.2.3 Termometer rektal
Suhu yang terbaca umumnya lebih tinggi 1oC dibanding pengukuran
suhu melalui mulut (oral). Cara ini merupakan cara yang paling baik.
Termometer ini dimasukkan dalam anus selama paling sedikit 3 menit
(Engel, 2009).
2.5.2.4 Termometer telinga
Termometer telinga digunakan suhu gendang telinga. Pada orang dewasa
pengukuran suhu ini berlangsung lebih cepat dan akurat, hanya
memerlukan waktu 1-3 detik saja akan tetapi tidak dianjurkan untuk
anak usia kurang dari 3 tahun (Engel, 2009).
2.5.2.5 Termometer basal
Termometer basal merupakan termometer yang sangat sensitif yang
digunakan untuk menilai perubahan temperatur yang sedikit. Cara
pengukurannya melalui mulut atau rectal. Pengukuran yang dilakukan
pada pagi hari karena yang diukur adalah suhu basal (Engel, 2009).

2.5.2.6 Termometer digital


Termometer digital memiliki kelebihan diantaranya lebih praktis. Dapat
membaca suhu tubuh dengan cepat dan lebih akurat karena
memperlihatkan

angka

sampai

bilangan

yang

terkecil.

Cara

penggunaannya relatif lebih mudah tingkat akurasinya dapat diandalkan


(tingkat ketelitiannya 0,1o dalam skala oC), aman untuk anak kecil

(dianjurkan untuk anak > 4 tahun, karena lebih dapat diajak kerja sama
dan tidak membrontak saat di ukur) dan mempunyai respon yang lebih
cepat (Engel, 2009).
2.6 Antipiretik
Parasetamol atau asetaminofen adalah derivat para amino fenol yang
memiliki efek antipiretik. Golongan enzim ini menghambat siklooksigenase
sehingga konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu (Ganiswara
dkk, 2007). Parasetamol memiliki rumus bangun sebagai berikut :

Rumus parasetamol (Katzung, 2004)


Efek samping tak jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan
kelainan darah. Overdosis bisa menimbulkan antara lain mual, muntah dan anoreksia
(Katzung, 2004).
Parasetamol diabsorpsi dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi

tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu

1
2 jam dan masa paruh plasma antara

1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol
terikat protein plasma. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian
asetaminofen (80%) dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya
dengan asam sulfat. Selain itu obat ini juga bisa mengalami hidroksilasi. Metabolit
hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis

eritrosit. Obat ini dieksresi melalui ginjal, sebagian kecil (3%) berupa parasetamol
dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi (Ganiswara dkk, 2007).
Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500 mg atau
sirup yang mengandung 120 mg/5ml. Dosis parasetamol untuk dewasa 300 mg -1
gr/kali, dengan maksimum 4 gr/hari; untuk anak 6-12 tahun 150-300 mg/kali,
dengan maksimum 1,2 gr/hari. Untuk anak 1-6 tahun 60-120mg/kali dan bayi
dibawah 1 tahun 60 mg/kali, pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari
(Katzung, 2004).
2.7 Vaksin DPT
Vaksin bakterial seluruh sel bersifat reaktogenik dan menyebabkan paling
banyak reaksi ikutan atau efek samping. Ini di sebabkan oleh respon komponenkomponen sel yang tidak diperlukan untuk perlindungan misalnya vaksin pertusis
whole-cell yang merupakan suspensi kuman B. Pertusis yang mati kemudian
dikombinasikan dengan toksoid difteri dan tetanus. Vaksin tersebut jika dengan
menggunakan fraksi sel yang bila dibandingkan dengan whole-cell ternyata
memberikan reaksi lokal dan demam yang lebih ringan. Akibat dikeluarkannya
endotoksin dan debris
( Ranuh, 2001).
Vaksin DPT (defteri, pertusis,tetanus) sangat peka terhadap temperatur, obat ini
dapat stabil pada suhu 2-8oC. Untuk menjadi suatu vaksin, obat ini harus memenuhi
syarat yaitu bisa menimbulkan kekebalan, aman, tidak menimbulkan efek samping
yang berbahaya. Juga adanya keseimbangan antara pembentukan kekebalan dan
reaksi samping vaksin (Dwijodarmanto, 2003). Berdasarkan IDAI vaksin DPT
mengandung bakteri Clostridium tetani, Corynebacterium dipteriae dan Bordetella
pertusis yang telah diinaktifkan sehingga mekanisme kerjanya dapat merangsang
tubuh membentuk antibodi terhadap penyakit dipteri, tetanus, dan pertusis. IDAI

vaksin jerap Dipteri-Tetanus-Pertusis (DPT) yang telah dilakukan uji pada tikus dan
marmot tiap dosis (0,5 ml) dapat menaikkan suhu tubuh sampai 38 oC setelah tiga
jam penyuntikan. Suntikan diberikan secara intramuscular atau subkutan yang dalam,
dengan menggunakan alat suntik steril sekali pakai. Efek samping yang biasanya
terjadi adalah demam tinggi dan gejala ringan yang bersifat sementara seperti
kemerahan dan bengkak pada lokasi suntikan (Markum, 2002).
2.8 Uraian Hewan Coba
Subjek penelitian tikus putih dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kelas

: mamalia

Ordo

: dentia

Familia

: muridae

Subfamili

: murince

Genus

: ratus

Spesies

: ratus norvegicus

(Anonim, 2001)
Tikus putih galur wistar berbeda dengan tikus liar. Tikus putih galur wistar lebih
cepat dewasa dan lebih cepat berkembang biak. Umur dewasa 3 sampai 4 bulan. Berat
jantan dewasa 200-250 gram berat sedangkan betina dewasa 180-220 garam. Suhu
untuk perektal 37 oC 39oC (Fransisca,1991)
Penelitian ini menggunakan tikus jantan karena jika menggunakan tikus betina
akan terjadi siklus berahi (estrus) yang dapat mempengaruhi peningkatan suhu
( Freddy, 1999).
2.9 Hal-hal yang dapat mempengaruhi suhu tubuh

a. Faktor fisiologis
Suhu tubuh bervariasi dalam setiap jenis pemeriksaan, dimana suhu inti
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu diperifer. Metode pengukuran suhu
dapat dibagi menjadi dua yaitu invasive dan non invasive. Suhu inti dapat
diukur dengan metode invasif melalui kateter arteri pulmoner. Beberapa
metode pengukuran suhu tubuh non invasis juga dapat dilakukan, dimana
tempat yang ideal adalah:
Tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
Sensitif terhadap perubahan fisiologis dan patologis
Nyaman.
Bebas dari rasa nyeri
Responsif terhadap perubahan suhu inti.
Berada dalam rentang normal.
Belum ada pengukuran non invasif yang tepat dalam melakukan pengukuran
suhu baik melalui mulut, telinga, ketiak, dahi dan rektum. Pada gambar
dapat dilihat bahwa suhu tubuh dapat dipengaruhi secara fisiologis oleh
tempat pengukuran, waktu pengukuran, aktivitas, jenis kelamin dan umur.
b. Usia

Pada saat bayi lahir meninggalkan lingkungan yang hangat, relatif konstan,
masuk ke dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi cepat, sedangkan
mekanisme kontrol suhu masih imatur.
c. Olah raga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan pemecahan
karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan
produksi panas. Segala jenis olahraga dapat meningkatkan produksi panas,
akibatnya meningkatkan suhu tubuh.
d. Kadar hormon
Wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh lebih besar dibandingkan pria.
Variasi hormonal selama siklus mentruasi menyebabkan fluktuasi suhu
tubuh. Selama ovulasi, jumlah progesteron yang lebih besar memasuki
sistem sirkulasi dan peningkatan suhu tubuh sampai kadar batas atau lebih
tinggi.
e. Irama sirkadian
Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 1oC selama periode 24 jam. Suhu
tubuh paling rendah biasanya antara pukul 01:00-04:00 dini hari. Kemudian
sepanjang hari suhu tubuh naik, sampai sekitar pukul 18:00 dan kemudian
turun sampai dinihari.
f. Stress
Stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal
dan persarafan. Perubahan fisiologi tersebut dapat meningkatkan panas.
g. Lingkungan

Jika seseorang berada di lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh
mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas
yang konduktif (Zian, 2010)

2.10 Kerangka Teori

VAKSIN DPT

PARASETAMOL

INFUSA TEMU PUTIH

FLAVONOID
IL-1

IL-6

TNF

HIPOTALAMUS

ASAM
ARACHIDONAT

INF

ENZIM
SIKLOOKSIGENASI

PROSTAGLANDIN E2

HIPOTALAMUS
PREOPTIK /
ANTERIOR

SET POINT MENINGKAT

Ket :

DEMAM

Menghambat
Meningkatkan
Umpan balik

2.11 Kerangka Konsep

SUHU TUBUH

Faktor mempengaruhi suhu tubuh :


1.
2.
3.
4.
5.

Usia
Kadar hormon
Irama sirkadian
Olah raga
Stres
6. Lingkungan

PROPOLIS
SUHU TUBUH
2.12 Hipotesis
Propolis mempunyai efek antipiretik yang dapat mempengaruhi suhu
tubuh tikus putih jantan galur wistar yang telah diinduksi DPT.