Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MORBILI PADA ORANG TUA


ANAK DI RUANG BOUGENVILLE RSUD Dr. HARYOTO LUMAJANG

disusun guna memenuhi tugas praktik Pendidikan Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Anak

oleh:
Yulfa Intan Lukita, S.Kep
Dwi Nida Dzusturia, S.Kep
Afiq Zulfikar Zulmi, S.Kep
Riski Dafianto, S.Kep
Agustin Dian Ratnaari, S.Kep
Cholil Albarizi, S.Kep
Fina Fitriani, S. Kep
Nur Fajar Islamiyah, S.Kep

122311101034
122311101045
122311101049
122311101052
122311101063
122311101068
122311101078
142311101158

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan
Sasaran
Bougenville
Target
Waktu
Hari/Tanggal
Tempat

: Pencegahan Morbili
: Orang tua dari anak yang dirawat inap di Ruang
: 5 orang
: 08.00 s/d 09.30 WIB
:
, Desember 2016
: di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang

A. LATAR BELAKANG
Morbili/campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak
yang
sangat
menular
pada
anak-anak,ditandai
dengan
panas,batuk,pilek,konjungtivitis dan ditemukan spesifik enantem (Kopliks
spot) ,diikuti dengan erupsi makulopapular yang menyeluruh (Hadinegoro,
2008). Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rubella,
oleh karena itu campak juga sering disebut demam rubella. Virus penyebab
campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan.
Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir
tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus
campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama
orang/orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang
terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara.
Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan
mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung
virus.Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau
memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung
atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul
sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul. Di RSUD dr. Haryoto
Lumajang diketahui bahwa angka kejadian morbili pada anak tinggi. Pada
tanggal 19 sampai 29 Desember 2016 diketahui angka kajadian morbili pada
anak di ruang Boungenvile mencapai 3 anak. Berdasarkan hasil pengkajian
diketahui kebanyakan orang tua anak yang mengalami morbili tidak
mengetahui faktor risiko terjadinya morbili, sehingga kebanyakan dari
mereka tidak melakukan pencegahan pada kesehariannya. Oleh karena itu
pemberian penyuluhan terkait pencegahan morbili di ruang rawat inap anak
Bougenville menjadi sangat penting diberikan pada orang tua untuk
mengurangi risiko serta kejadian morbili pada keluarga khusunya pada anak.

B. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU) / Standart Kompetensi


Setelah diberikan penyuluhan tentang pencegahan morbili diharapkan orang
tua mampu menerapkan cara-cara pencegahan morbili pada keluarga khususnya
pada anaknya untuk mengurangi resiko terpajannya anak terhadap penyakit
morbili sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesehatan anak.
C. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)/ Kompetensi Dasar

Setelah diberikan penyuluhan tentang pencegahan morbili selama 30 menit,


orang tua anak diharapkan:
1. Mengetahui dan menjelaskan pengertian morbili
2. Mengetahui dan menjelaskan penyebab terjadinya morbili
3. Mengetahui dan menjelaskan tanda dan gejala morbili
4. Mengetahui dan menjelaskan cara pencegahan morbili
D. GARIS BESAR MATERI
Pendidikan kesehatan tentang pencegahan morbili pada anak

E. METODE
Ceramah dan Tanya Jawab
F. MEDIA
Power Ponit
Leaflet

G. PENGORGANISASIAN
1. Penanggung jawab
: Afiq Zulfikar Zulmi, S.Kep
2. Penyaji
:
a. Yulfa Intan Lukita, S.Kep
b. Fina Fitriani, S.Kep
3. Moderator
:
a. Cholil Albaizi, S.Kep
b. Riski Dafianto, S.Kep
4. Fasilitator
:
a. Dwi Nida Dzusturia, S.Kep
b. Agustin Dian Ratnasari, S.Kep
c. Nur Fajar Islamiyah, S.Kep

H. PROSES KEGIATAN
Proses

Tindakan

Waktu

Kegiatan Penyuluh
Pendahuluan

Penyajian

Kegiatan Peserta

a. Memberikan salam,
memperkenalkan diri, dan
membuka penyuluhan.
b. Menjelaskan materi secara umum
dan
c. Menjelaskan tentang TIU dan
TIK.

Memperhatikan
dan menjawab
salam

a.
b.
c.
d.
e.

Memperhatikan

Menjelakan pengertian morbili


Menjelaskan penyebab morbili
Menjelaskan penularan morbili
Menjelaskan pencegahan morbili
Menjelaskan penanganan morbili

5 menit

Memperhatikan
Memperhatikan

35 menit

Memberikan
pertanyaan
Memperhatikan
dan memberi
tanggapan
Menjelaskan

Penutup

a. Menutup pertemuan dengan


memberi kesimpulan dari materi
yang disampaikan.
b. Mengajukan pertanyaan
c. Mendiskusikan bersama jawaban
dari pertanyaan yang telah
diberikan
d. Menutup pertemuan dan memberi
salam.

Memperhatikan

Memberi saran
Memberi komentar
dan menjawab
pertanyaan
bersama
Memperhatikan
dan membalas
salam

I. EVALUASI
1. Apa pengertian dari morbili?
2. Apakah penyebab dari morbili?
3. Bagaimana tanda-tanda dari morbili?
4. Bagaimanakah cara penyegahan morbili?
J. DAFTAR PUSTAKA
Anies. 2005. Pencegahan Dini Gangguan Kesehatan. Jakarta : Elex Media
Komputindo
Hidayat,A. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta : Salemba Medika.

menit

Meadow &Newel. 2008. Pediatrika: Edisi Ketujuh. Jakarta : Erlangga.

Lampiran 1 : Materi
MATERI MORBILI
a) Pengertian
Morbili adalah penyakit virus aku dengan demam, radang selaput lendir dan
timbulnya erupsi kulit berupa bercak dan bintik merah, disusul pengelupasan.

Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh 3 stadium yaitu
stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi.
Morbili juga dikenal dengan nama campak. Campak adalah penyakit infeksi
yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan gejala-gejala eksantem
akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala-gejala
mata, kemudian diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri
dengan deskuamasi dari kulit (Anies, 2005)
b) Penyebab
Penyebab morbili adalah virus morbili yang berasal dari sekret saluran
pernafasan, darah dan urine dari yang terinfeksi. Penyebaran infeksi melalui
kontak langsung dengan droplet dari orang yang terinfeksi. Masa inkubasi selama
10 20 hari, dimana periode yang sangat menular adalah dari hari pertama hingga
hari keempat setelah timbulnya rash (Hidayat, 2008).
c)

Tanda dan Gejala


1) Stadium Prodromal (kataral)
Demam, malaise, batuk, konjungtivitis, coryza terdapat bercak koplik
berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dikelilingi oleh eritema
terletak di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah, timbul dua
hari sebelum munculnya rash. Stadium ini berlangsung selama 4 5 hari.
2) Stadium Erupsi
Coryza dan batuk bertambah, terjadi eritema yang berbentuk makula
popula disertai meningkatnya suhu tubuh. Mula-mula eritema terletak di
belakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut, dan
bagian belakang bawah. Kadang terdapat pendarahan ringan di bawah
kulit. Pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah
belakang leher.
3) Stadium konvalensi
Erupsi berkurang dan meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang akan menghilang dengan sendirinya. Selanjutnya
diikuti gejala anorexia, malaise, limfedenopati (Anies, 2005).
d) Pencegahan
1) Pencegahan Tingkat Pertama
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah
seseorang terkena penyakit campak, yaitu :
a) Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya
pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.
b) Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang
diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena
dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.
c) Memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan
bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh
2) Pencegahan Tingkat Kedua

Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini


mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
a) Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan
fisik atau darah.
b) Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan
masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash.
Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di
rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium
kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya
rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien pasien dengan risiko
tinggi lainnya.
c) Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita
yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk.
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk
mencegah komplikasi.
d) Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi
terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media,
pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel
(Meadow &Newel. 2008).
3) Pencegahan Tingkat Ketiga
Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada
pencegahan tertier yaitu :
a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.
b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan

turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan
menurunkan imunitas mereka.

e)

Penanganan

Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. Tidak ada obat yang
secara langsung dapat bekerja pada virus Campak. Anak memerlukan istirahat di
tempat tidur, kompres dengan air hangat bila demam tinggi. Anak harus diberi
cukup cairan dan kalori, sedangkan pasien perlu diperhatikan dengan
memperbaiki kebutuhan cairan, diet disesuaikan dengan kebutuhan penderita dan
berikan vitamin A 100.000 IU per oral satu kali. Apabila terdapat malnutrisi
pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU tiap hari. Dan bila terdapat

komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi yang timbul


seperti :
a) Otitis media akut, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder,
maka perlu mendapat antibiotik kotrimoksazol-sulfametokzasol.
b) Ensefalitis, perlu direduksi jumlah pemberian cairan kebutuhan untuk
mengurangi oedema otak, di samping peomberian kortikosteroid, perlu
dilakukan koreksi elektrolit dan ganguan gas darah.
c) Bronchopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari
dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum
obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda
d) Enteritis, pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairan
intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan
dehidrasi. (Anies, 2005)

Lampiran 2. Leaflet

BERITA ACARA

Pada hari ini, . Tanggal . Bulan Desember Tahun 2016 pukul .. WIB
s/d selesai bertempat di Ruang Rawat Inap Anak Bougenvile RSUD dr. Haryoto
Lumajang Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur telah dilaksanakan kegiatan
pendidikan kesehatan tantang pencegahan morbili pada anak. Kegiatan ini diikuti
oleh . orang (daftar hadir terlampir).

Lumajang, . Desember 2016

Mengetahui,
Pembimbing Klinik

Mahasiswa Profesi

____________________________

________________________

DAFTAR HADIR

Pendidikan kesehatan tentang pencegahan morbili pada anak: Hari .., tanggal
. Bulan Desember Tahun 2016 pukul . WIB Tempat: di Ruang Anak
Bougenvile RSUD dr. Haryoto Lumajang Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa
Timur.

No
1

Nama

Alamat

Tanda Tangan
1.

2
3

2.
3.

4
5

4.
5.

6
7

6.
7.

8
9

8.
9.

10
11

10.
11.

12
13

12.
13.

14
15

14.
15.

Lumajang, . Oktober 2016

Mengetahui
Pembimbing Klinik

_______________________

DAFTAR HADIR

Pendidikan kesehatan tentang morbili pada anak: Hari .., tanggal . Bulan
Desember Tahun 2016 pukul . WIB Tempat: di Ruang Anak Bougenvile
RSUD dr. Haryoto Lumajang Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

No

Nama

Alamat

Tanda Tangan

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Lumajang, . Desember 2016


Mengetahui
Pembimbing Klinik

________________________