Anda di halaman 1dari 3

RESUME KEPERAWATAN

PRAKTIK PROFESI NERS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. W DENGAN DIAGNOSA
MEDIS DM DI RUANG TULIP RSUD DR. SOEHADI PRIJINEGORO
SRAGEN

Tanggal/Jam Pengkajian

: 5-12-2016/14.00 WIB

Diagnosa Medis

: DM

No. Registrasi

: 359XXX

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
a. Nama
: Ny. W
b. Alamat
: Karangmalang, Sragen
c. Umur
: 47 Tahun
d. Pendidikan
: SLTA
2. Riwayat Keperawatan
a. Keluhan Utama
Nyeri luka ulkus tumit kaki kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dari IGD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada
tanggal 4-16-2016 Jam 06.45 WIB terdapt luka ulkus pada tumit kaki kiri.
Pada saat pengkajian tanggal 5-12-2016 jam 14.00 WIB pasienmengatakan
nyeri luka ulkus pada tumit kaki kiri, skala 5, secara intermiten, seperti
terbakar, klien tampak merintih kesakitan, klien mengatakan mempunyai
riwayat penyakit DM sejak 5 tahun. Klien bertanya tentang keadaan luka
dikakinya apakah dapat sembuh, klien mengatakan baru sekali ini terdapat
luka di tumit kakinya, klien tampak khawatir dengan luka di kakinya. T :
130/80 mmHg, N : 84 x/menit, S : 37,5 C, R : 20 x/menit. Mendapat terapi
infus RL 20 tpm, injeksi ceftriaxon 1 gr/ 24 jam, injeksi ranitidin 1 amp/12
jam, injeksi novorapid 3 x 8 ui. Hasil GDS : 235 mg/dl.

B. RESUME ASUHAN KEPERAWATAN


No

Diagnosa
Keperawatan

DAR
(Data, Action, Response)

Nyeri
Akut
berhubungan
dengan agen
injury : fisik;
Ulkus DM di
kaki
dan
tindakan
nekrotomi

Ansietas
berhubungan
dengan
prognosis
penyakit.

DATA
DS : Klien mengeluh nyeri luka ulkus tumit kaki kiri
P : Fisik
Q : Terbakar
R : Tumit kaki kiri
S:5
T : Intermiten
DO : Klien tampak merintih kesakitan
ACTION
Melakukan pengkajian nyeri PQRST.
Berikan posisi yang nyaman.
Mengajarkan teknik nonfarmakologi relaksasi nafas dalam
Kolaborasi pemberian analgetik jika diperlukan
RESPONSE
DS : Klien melaporkan nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
P : Fisik
Q : Terbakar
R : Tumit kaki kiri
S:3
T : Intermiten
DO : Klien tampak lebih rilek, lebih nyaman.
DATA
DS : Klien bertanya tentang luka dikakinya apakah dapat sembuh
DO : Klien tampak khawatir
ACTION
Observasi tingkat kecemasan pasien
Mendengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian
Menjelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur.
Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam.
RESPONSE
DS : Klien mengatakan belum dapat mengungkapkan dan
menunjukan teknik untuk mengontrol cemas.
DO : Klien tampak masih khawatir, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas belum menunjukan berkurangnya kecemasan.

C. PEMBAHASAN
Pembahasan yang ditemukan pada pasien Ny. W. Adapun Permasalahan
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Diagnosa 1
Nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik. Adalah pengalaman
sensorik dan emosional yang tidak menyenagkan dan muncul akibat kerusakan
jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan

sedemikian rupa (interentional assosiation for the study of pain), awitan yang
tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir dapat
diantisipasi atau diprediksi dengan berlangsung kurang dari 6 bulan. Dari data
tersebut dan berdasarkan keluhan pasien, penulis memunculkan diagnosa nyeri
akut, ini karena sesuai denngan tandadan gejala serta skala nyeri yang pasien
rasakan (NANDA, 2015). Diagnosa ini ditegakkan karena tanda-tanda
Insomnia, Gelisah, Gerakan tidak teratur, Pikiran tidak terarah, Raut wajah
kesakitan, Gerakan berhati - hati pada daerah nyeri, Pucat, Keringat berlebih
(Amir Huda Nurarif & Hadhi Kusuma, 2013). Setelah dilakukan pengkajian
pada Ny. W didapatkan data klien mengatakan nyeri luka ulkus kaki kiri, klien
merintih kesakitan.
Diagnosa ini penulis prioritaskan pada urutan pertama karena berdasarkan
hirarki maslow pada keluhan utama yang dirasakan oleh pasien dan kondisi ini
harus segera ditangani, apabila kondisi ini tidak segera ditangani akan
mengakibatkan ketidaknyamanan bagi pasien.
2. Diagnosa 2
Ansietas berhubungan dengan prognosis penyakit. Adalah satu keadaan yang
ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan
suatu kegiatan berlebihan dari susunan Saraf Autonomic (SSA). Ansietas
merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu
fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi
manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala
penyertanya termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh
diri (NANDA, 2015). Diagnosa ini ditegakkan karena tanda-tanda gejala fisik
dan psikologik seperti gemetar, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala,
ketegangan otot, napas pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas
autonomik seperti wajah merah dan pucat, berkeringat, tangan rasa dingin,
diare, mulut kering, sering kencing, rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia,
libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya
(Amir Huda Nurarif & Hadhi Kusuma, 2013). Setelah dilakukan pengkajian
pada Ny. W didaptkan data klien bertanya tentang luka dikakinya apakah dapat
sembuh, klien tampak khawatir
Diagnosa ini penulis prioritaskan pada urutan kedua karena berdasarkan
hirarki maslow pada keluhan utama yang dirasakan oleh pasien dan kondisi ini
harus segera ditangani, apabila kondisi ini tidak segera ditangani akan
mengakibatkan motivasi individu pada keseharian dalam batas kemampuan
untuk melakukan dan memecahkan masalah meningkat.