Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

Seorang Laki- laki 23 Tahun dengan Faringitis akut


et cause infeksi bakteri
I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama
: Tn. AF
Umur
: 23 tahun
Agama : Islam
Alamat : Tembalang, Jawa Tengah
Pekerjaan : Mahasiswa
No. CM : 179822
Masalah Aktif

1. Nyeri tenggorok

2. Batuk berdahak

3. Demam

Masalah Pasif

4. Pemeriksaan fisik pada mukosa faring


posterior didapatkan adanya granulasi (+)
dan hiperemis (+)

5. Faringitis akut
II. ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 24 Maret 2016 pukul 10.45 WIB di Poliklinik THT-KL
BKIM Semarang
Keluhan Utama

: Nyeri tenggorok

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poliklinik THT-KL BKIM Semarang dengan keluhan nyeri
tenggorok sejak + 3 minggu yang lalu, nyeri tenggorok membuat pasien merasa sulit
menelan. Nyeri dirasakan hilang timbul dan merasa bertambah nyeri bila makan dan
minum.
Gejala lain seperti pilek (-), bersin-bersin (-), demam nglemeng (+), batuk berdahak
(+) warna kuning, suara serak (+), sering berdehem (-), sulit menelan (+), terasa adanya
lendir di tenggorok (+), tenggorok terasa panas (+), tenggorok terasa gatal (-), rasa
mengganjal tenggorok (+), batuk setelah makan/berbaring (-), kesukaran bernapas atau
tersedak (-), nyeri dada atau rasa asam naik ke tenggorok (-), nyeri gigi (-), gusi bengkak

(-). Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum dan diberi obat batuk dan obat penurun
panas namun keluhan tidak membaik.
-

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat maag disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat alergi makanan disangkal
Riwayat batuk lama disangkal
Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat maag disangkal


Riwayat asma disangkal
Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat alergi makanan disangkal
Riwayat batuk lamadisangkal
Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi :


-

Pasien tinggal dengan orang tua dan dua orang adik. Pasien berstatus sebagai mahasiswa.
Biaya pengobatan mandiri.
Kesan : sosial ekonomi cukup

Lain-lain : PEMERIKSAAN FISIK


(Tanggal 24 Maret 2016, pukul 10.45 di Poliklinik THT-KL BKIM Semarang)
Status Praesen
Keadaan umum : Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
: TD : 110/70 mmHg
Suhu : 36,8 C
Nadi : 84 x/menit
RR
: 20 x/menit
VAS : 3
Pemeriksaan fisik : Kepala
: mesosefal
Thoraks
: Cor : tidak diperiksa
Paru : tidak diperiksa
Abdomen : tidak diperiksa
Ekstremitas : tidak diperiksa

Status Lokalis:
Telinga:
Gambar :

Bagian Telinga

Telinga kanan
Hiperemis (-), edema (-),

Telinga kiri
Hiperemis (-), edema (-),

Daerah preaurikula

fistula (-), abses (-), nyeri

fistula (-), abses (-), nyeri

tekan tragus (-)


Normotia, hiperemis (-),

tekan tragus (-)


Normotia, hiperemis (-),

edema (-), nyeri tarik (-),

edema (-), nyeri tarik (-),

nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), edema (-),

nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), edema (-),

fistula (-), abses (-), nyeri

fistula (-), abses (-), nyeri

tekan (-)
Nyeri tekan (-), nyeri

tekan (-)
Nyeri tekan (-), nyeri

ketok (-), fistel (-)


Serumen minimal, edema

ketok (-), fistel (-)


Serumen (-), edema (-),

(-), hiperemis (-), furunkel

hiperemis (-), furunkel (-),

(-), discaj (-)


Putih mengkilat (+), reflek

discaj (-)
Putih mengkilat (+), reflek

cahaya (+), posisi jam 5,

cahaya (+), posisi jam 7,

retraksi (-), perforasi (-)

retraksi (-), perforasi (-)

Aurikula

Daerah retroaurikula

Mastoid

CAE / MAE

Membran timpani

Hidung:
Gambar :

Pemeriksaan Hidung
Hidung Luar

Sinus
Rinoskopi Anterior
Discaj

Hidung Kanan
Hidung Kiri
Inspeksi : Bentuk (N), simetris, deformitas (-),
benjolan (-), warna kulit sama dengan kulit sekitar,
allergic crease (-), nasal salut (-)
Palpasi : os nasal : krepitasi (-/-), nyeri tekan (-/-)
Maxillaris : Nyeri tekan (-/-), Nyeri ketok (-/-)
Frontalis : Nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-)
(-)

(-)

Hiperemis (-), livid (-), Hiperemis (-), livid (-),

Mukosa

edema (-)
Mukosa hiperemi (-),

edema (-)
Mukosa hiperemi (-),

Konka

livid (-), hipertrofi (-),

livid (-), hipertrofi (-),

Tumor

atrofi (-)
Massa (-)
Deviasi (-), benda asing

atrofi (-)
Massa (-)
Deviasi (-), benda asing

(-), perdarahan (-),

(-), perdarahan (-),

perforasi (-)
(+)

perforasi (-)
(+)

Septum nasi
Palatal Phenomena
Tenggorok:
Gambar :

Bagian (Orofaring)
Palatum
Arkus Faring
Mukosa
Mukosa Faring
Posterior
Tonsil
Peritonsil
Nasofaring

Keterangan
Bombans (-), hiperemis (-)
Simetris, uvula ditengah, reflek muntah (+) normal
Hiperemis (+), Post nasal drip (-)
Granulasi (+)
Ukuran T1
Ukuran T1
Edema (-), hiperemis (-), fluktuasi (-)

tidak dilakukan

Laringofaring:

tidak dilakukan

Laring

tidak dilakukan

Supraglotis

tidak dilakukan

Glotis

tidak dilakukan

Subglotis

tidak dilakukan

Kepala dan Leher :


Kepala
: mesosefal
Mata
: allergic shinner (-)
Wajah
: simetris, perot (-), deformitas (-)

Leher anterior : pembesaran nnll (-)


Leher lateral : pembesaran nnll (-)
Lain-lain
: (-)
Gigi dan Mulut
Gigi geligi
: karies (-), plak (-), gigi goyang (-)
Lidah
: simetris, tidak ada deviasi
Palatum
: bombans (-)
Pipi
: mukosa buccal : hiperemis (-), stomatitis (-)

RINGKASAN
Seorang laki-laki, 23 tahun datang dengan keluhan nyeri tenggorok sejak + 3 minggu
yang lalu, nyeri dirasakan hilang timbul dan merasa bertambah nyeri bila makan dan
minum. Sebelumnya pasien pernah berobat ke dokter umum, diberikan obat batuk dan
obat penurun panas, namun keadaan tidak membaik. Gejala lain yang didapatkan
yaitu demam nglemeng, batuk berdahak, terasa adanya lendir di tenggorok, tenggorok
terasa panas, rasa mengganjal di tenggorok.
Pada pemeriksaan fisik pada mukosa faring posterior didapatkan adanya granulasi (+)
dan mukosa hiperemis (+)

DIAGNOSIS BANDING :
Faringitis akut akut et causa infeksi bakteri
Faringitis akut akut et causa infeksi viral

DIAGNOSIS KERJA:
Faringitis akut et causa infeksi bakteri

RENCANA PENGELOLAAN :
1. Pemeriksaan Diagnostik
S:O : Swab tenggorok, skin prick test
2. Terapi :
Methylprednisolone 4mg/ 12 jam p.o
Cefadroxil 500mg/ 12 jam p.o
Ambroxol 30mg/ 12 jam p.o
3. Pemantauan
Keadaan umum, tanda vital, keluhan pasien, progresivitas penyakit, respon
terapi dan efek samping terapi
4. Edukasi :

Pasien diberitahu bahwa pasien mengalami radang tenggorok yang disebabkan

oleh bakteri.
Pasien diedukasi untuk menghindari makanan dan minuman yang bersifat
iritatif seperti makanan pedas, makanan dan minuman terlalu panas, alkohol

dan rokok.
Pasien diinformasikan untuk minum obat secara teratur, dan kontrol apabila
obat habis.

5. Prognosis :
Quo ad Sanam : dubia ad bonam
Quo ad Vitam : ad bonam
Quo ad Fungsionam : ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Anatomi Faring
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk seperti corong dengan

bagian atas yang besar dan bagian bawah yang sempit. Faring merupakan ruang utama traktus

resporatorius dan traktus digestivus. Kantong fibromuskuler ini mulai dari dasar tengkorak
dan terus menyambung ke esophagus hingga setinggi vertebra servikalis ke-6.8
Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa 14 cm dan bagian ini
merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh selaput
lendir, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal.
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan memanjang
(longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari M.Konstriktor faring superior, media dan
inferior. Otot-otot ini terletak ini terletak di sebelah luar dan berbentuk seperti kipas dengan
tiap bagian bawahnya menutupi sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di sebelah
depan, otot-otot ini bertemu satu sama lain dan di belakang bertemu pada jaringan ikat. Kerja
otot konstriktor ini adalah untuk mengecilkan lumen faring dan otot-otot ini dipersarafi oleh
Nervus Vagus.1,8

Gambar 2.1. Otot-otot Faring dan Esofagus


Berdasarkan letaknya maka faring dapat dibagi menjadi Nasofaring, Orofaring dan
Laringofaring (Hipofaring).

Gambar 2.2. Anatomi Nasofaring, Orofaring dan Hypoparing


Nasofaring merupakan bagian tertinggi dari faring, adapun batas-batas dari nasofaring
ini antara lain :
- batas atas : Basis Kranii
- batas bawah : Palatum mole
- batas depan : rongga hidung
- batas belakang : vertebra servikal
Nasofaring yang relatif kecil mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa
struktur penting seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan resesus
faring yang disebut fossa Rosenmuller, kantong ranthke, yang merupakan invaginasi struktur
embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan
kartilago

tuba

Eustachius,

koana,

foramen

jugulare,

yang

dilalui

oleh

Nervus

Glossopharyngeus, Nervus Vags dan Nervus Asesorius spinal saraf cranial dan vena jugularis
interna, bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum dan muara tuba Eustachius. 1,8
Orofaring disebut juga mesofaring, karena terletak diantara nasofaring dan
laringofaring. Dengan batas-batas dari orofaring ini antara lain, yaitu :

batas

atas

palatum mole
- batas bawah : tepi atas epiglottis
- batas depan : rongga mulut
- batas belakang : vertebra
servikalis

Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil
palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen
4

sekum.

Laringofaring (hipofaring) merupakan bagian terbawah dari faring. Dengan batasbatas dari laringofaring antara lain, yaitu : - batas atas : epiglotis
- batas bawah : kartilago krikodea
- batas depan : laring
- batas belakang : vertebra servikalis
B. Fisiologi Faring
Fungsi faring yang terutama adalah ialah untuk respirasi, pada waktu menelan,
resonansi suara dan artikulasi. 9
1. Fungsi Menelan
Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan
makanan kedalam tubuh melalui mulut the process of taking food into the body through the
mouth.
Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang
berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini
diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30
pasang otot menelan.
Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam
lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi
kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung. 9

Gambar 2.3. Proses Menelan


2. Fungsi Faring Dalam Proses Bicara
Percakapan digunakan untuk berkomunikasi antar individu Untuk menyempurnakan
proses percakapan ini, diperlukan aktivitas otot. Bagian penting dalam percakapan dan
bahasa adalah cerebral cortex yang berkembang sejak lahir dan memperlihatkan perbedaan
pada orang dewasa. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pengalaman phonetic bukan hal
yang perlu untuk perkembangan area pusat saraf dalam sistem percakapan.
Otot-otot yang mengkomando organ bicara diatur oleh motor nuclei di otak, dengan
produksi suara diatur oleh control pusat di bagian rostral otak.
Respirasi. Proses bicara diawali oleh sifat energi dalam aliran dari udara. Pada bicara yang
normal, aparatus pernapasan selama ekshalasi menyediakan aliran berkesinambungan dari
udara dengan volume yang cukup dan tekanan (di bawah kontrol volunteer adekuat) untuk
phonasi. Aliran dari udara dimodifikasi dalam fungsinya dari paru-paru oleh fasial dan
struktur oral dan memberikan peningkatan terhadap simbol suara yang dikenal sebagai bicara.
9

C. Faringitis
Faringitis adalah peradangan dinding faring yang dapat disebabkan akibat infeksi
maupun non infeksi. 1
1. Etiologi
Banyak microorganism yang dapat menyebabkan faringitis, virus (40-60%) bakteri
(5-40%). Respiratory viruses

merupakan penyebab faringitis yang paling banyak

teridentifikasi dengan Rhinovirus (20%) dan coronaviruses (5%). Selain itu juga ada
Influenza virus, Parainfluenza virus, adenovirus, Herpes simplex virus type 1&2, Coxsackie
virus A, cytomegalovirus dan Epstein-Barr virus (EBV). Selain itu infeksi HIV juga dapat
menyebabkan terjadinya faringitis. 1
Faringitis yang disebabkan oleh bakteri biasanya oleh grup S.pyogenes dengan 5-15%
penyebab faringitis pada orang dewasa. Group A streptococcus merupakan penyebab
faringitis yang utama pada anak-anak berusia 5-15 tahun, ini jarang ditemukan pada anak
berusia <3tahun. Bakteri penyebab faringitis yang lainnya (<1%) antara lain Neisseria
gonorrhoeae, Corynebacterium diptheriae, Corynebacterium ulcerans, Yersinia eneterolitica
dan Treponema pallidum, Mycobacterium tuberculosis. 1

Faringitis dapat menular melalui droplet infection dari orang yang menderita
faringitis. Faktor resiko penyebab faringitis yaitu udara yang dingin, turunnya daya tahan
tubuh, konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan.
2. Insidens

Di USA, faringitis terjadi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada pada

dewasa. Sekitar 15 30 % faringitis terjadi pada anak usia sekolah, terutama


usia 4 7 tahun, dan sekitar 10%nya diderita oleh dewasa. Faringitis ini jarang
terjadi pada anak usia <3 tahun.
Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu streptokokus grup A, karena itu sering
disebut faringitis GAS (Group A Streptococci). Bakteri penyebab tersering yaitu
Streptococcus pyogenes. Sedangkan, penyebab virus tersering yaitu rhinovirus
dan adenovirus. Masa infeksi GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur
hingga awal musim semi.

3. Patogenesis
Bakteri S. Pyogenes memiliki sifat penularan yang tinggi dengan droplet udara yang
berasal dari pasien faringitis. Droplet ini dikeluarkan melalui batuk dan bersin. Jika bakteri
ini hinggap pada sel sehat, bakteri ini akan bermultiplikasi dan mensekresikan toksin. Toksin
ini menyebabkan kerusakan pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil.
Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada faring.10 Periode
inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu sekitar 24 72 jam.11
Beberapa strain dari S. Pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang
menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada leher, dada, dan lengan.
Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh
darah yang rusak akibat pengaruh toksin.10
Faktor risiko dari faringitis yaitu:12

Cuaca dingin dan musim flu

Kontak dengan pasien penderita faringitis karena penyakit ini dapat


menular melalui udara

Merokok, atau terpajan oleh asap rokok

Infeksi sinus yang berulang

Alergi

4. Klasifikasi Faringitis
4.1. Faringitis Akut
Faringitis akut adalah inflamasi febris tenggorok yang disebabkan oleh organism
virus hamper 70%. Streptokokus group A adalah organism bakteri paling umum yang
berkenaan dengan faringitis akut, yang disebut sebagai strep throat. (Brunner &
Suddarth, 2001 : 548 )
Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus atau bakteri,
yang ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan, faring eksudat dan hiperemis, demam,
pembesaran limfonodi leher dan malaise.(Vincent,2004)
a. Faringitis Viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan
menimbulkan faringitis. Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorokan dan sulit menelan.
Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, Coxsachievirus, dan
cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi
vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. 1

Gambar 2.4. Viral Pharyngitis


Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala
konjungtivitis terutama pada anak. Epstein-Barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang
disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di
seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan
HIV menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual dan demam. Pada
pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan
pasien tampak lemah. 1
b. Faringitis Bakterial
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang
tinggi dan jarang disertai dengan batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring
dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul

bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal
dan nyeri pada penekanan. 1
Gambar
2.4.

Streptococcal Pharyngitis
Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan
menggunakan Centor criteria, yaitu : - demam
- Anterior Cervical lymphadenopathy
- Tonsillar exudates
- absence of cough
Tiap kriteria ini bila dijumpai diberi skor 1. bila skor 0-1 maka pasien tidak mengalami
faringitis akibat infeksi streptococcus group A, bila skor 1-3 maka pasien memiliki
kemungkian 40% terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien memiliki
kemungkinan 50% terinfeksi streptococcus group A.5
c. Faringitis Fungal
Keluhan nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak putih
di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis. 1
Tabel. Klasifikasi Faringitis
Faringitis Virus
Biasanya tidak

ditemukan

nanah

Faringitis Bakteri
di Sering ditemukan nanah di

tenggorokan
tenggorokan
Demam, biasanya tinggi.
Demam.
Jumlah sel darah putih normal atau agak Jumlah sel
meningkat

putih

meningkat ringan sampai

sedang
Kelenjar getah bening normal atau sedikit Pembengkakan
membesar

darah

ringan

sampai sedang pada kelenjar

getah bening
Tes apus tenggorokan memberikan hasil Tes
apus
negative

memberikan

tenggorokan
hasil

positif

untuk strep throat


Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh Bakteri tumbuh pada biakan
bakteri

4.1.1

di laboratorium

Patofisiologi Faringitis Akut


Pada infeksi faringitis, virus atau bakteri secara langsung menginvasi mucosa pada

rongga tenggorokan, menyebabkan suatu respon inflamasi lokal. berbeda halnya dengan
virus, seperti rhinovirus,dapat mengiritasi mukosa rongga tenggorokan. Streptococcal
infeksi/peradangan ditandai oleh pelepasan dan invasi toksin ekstra seluler lokal dan
proteases (Kazzi, et.al.,2006) .

4.1.2

Manifestasi Klinis Faringitis Akut


Tanda dan gejala faringitis akut termasuk membrane mukosa sangat merah dan tonsil

berwarna kemerahan; folikel limfoid membengkak dan dipenuhi dengan eksudat; dan
perbesaran serta nyeri tekan nodus limfe servikal. Demam, malaise, dan sakit tenggorok juga
bisa timbul. Serak, batuk, dan rhinitis bukan hal yang tidak umum.
Infeksi virus tidak terkomplikasi biasanya hilang dengan segera, dalam 3 sampai 10
hari setelah awitan. Namun faringitis yang disebabkan oleh bakteri yang lebih virulen
sepertistreptokokus Group A adalah penyakit yang lebih parah selama fase akut, dan jauh
lebih penting karena insiden dari bahaya komplikasi. Komplikasi ini termasuk sinusitis, otitis
media, abses peritonsilar, mastoiditis, adenitis servikal, demam reumatik, dan nefritis. Kultur
tenggorok merupakan cara utama dalam menentukan organism penyebab setelah diresepkan
terapi yang sesuai. Usap nasal dan kultur darah mungkin juga dilakukan untuk
mengidentifikasi organisme. (Brunner & Suddarth, 2001 : 548 )
Gejala dan tanda faringitis akut adalah nyeri tenggorok, sulit menelan, demam, mual
dan kelenjar limfe leher membengkak.Pada pemeriksaan tampak hiperemis, udem dan
dinding posterior faring bergranular . (Rusmarjono,et.al.,2001).
Streptococcus group A merupakan bakteri penyebab faringitis akut yang paling sering,
kira-kira 15 sampai 30 % kasus pada anak-anak, dan 5 sampai 10 % pada oang dewasa.
Biasanya terdapat riwayat infeksi tenggorokan oleh bakteri Streptococcus sebelumnya.
Insidensi faringitis yang disebabkan oleh streptococcus meningkat pada musim dingin. Gejala

dapat berupa rasa sakit pada tenggorokan, nyeri saat menelan, demam, pusing, nyeri perut,
mual dan muntah. Sedangkan tanda-tanda yang dapat dilihat yaitu adanya eritema faring dan
tonsil, eksudat pada faring dan tonsil, petechiae palatine, edema uvula, limfadenopati
servikalis anterior. Tidak semua pasien didapati dengan semua gejala tersebut, banyak pasien
datang dengan gejala yang ringan dan tanpa eksudatif. Anak-anak dibawah tiga tahun dapat
disertai coryza dan krusta hidung. Faringitis dengan eksudat jarang terjadi pada umur ini.
(Alan, et.al.,2001).
Pada infeksi virus, gejala disertai dengan konjungtivitis, coryza, malaise, fatigue,
serak, dan demam yang tidak tidak terlalu tinggi (low-grade fever). Faringitis pada anak
dapat disertai dengan diare, nyeri perut, dan muntah (Vincent, et.al., 2006).
4.1.3

Komplikasi
Komplikasi infeksi GABHS dapat berupa demam reumatik, dan abses peritonsiler.
Abses peritonsiler terjadi:
a. Komplikasi umum faringitis terutama tampak pada faringitis karena bakteri
yaitu : sinusitis, otitis media, epiglotitis, mastoiditis, dan pneumonia.
Kekambuhan biasanya terjadi pada pasaien dengan pengobatan yang tidak
b.

tuntas pada pengobatan dengan antibiotik, atau adanya paparan baru.


Demam rheumatic akut (3-5 minggu setelah infeksi), poststreptococcal

c.

glomerulonephritis, dan toxic shock syndrome, peritonsiler abses,


Komplikasi infeks mononukleus meliputi: ruptur lien, hepatitis, Guillain Barr
syndrome, encephalitis, anemia hemolitik, myocarditis, B-cell lymphoma, dan
karsinoma nasofaring (Kazzi,at.al.,2006).

4.1.4

Penatalaksanaan/Terapi Faringitis Akut


Jika diduga atau ditunjukkan adanya penyebab bacterial, pengobatan dapat
mencakup pemberian agens antimicrobial. Untuk streptokokus group A, penisilin
merupakan obat pilihan. Untuk pasien yang alergi terhadap penisilin atau yang
mempunyai organism resisten terhadap eritromisin (seperlima organism streptokokus
group A dan kebanyakan S, aureus resisten terhadap penisilin dan eritromisin),
digunakan sefalosporin. AntibiotiK diberikan selama sedikitnya 10 hari untuk
menghilangkan streptokokus group A dari orofaring.
Diet cair atau lunak diberikan selama tahap akut penyakit, tergantung pada
napsu makan pasien dan tingkat rasa tidak nyaman yang terjadi bersama proses
menelan. Kadang, tenggorok sakit sehingga cairan tidak dapat diminum dalam jumlah
yang cukup dengan mulut. Pada kondisi yang parah, cairan diberikan secara intravena.

Sebaliknya, pasien didorong untuk memperbanyak minum sedapat yang ia lakukan,


dengan minimal 2 sampai 3 liter sehari. (Brunner & Suddarth, 2001 : 549 )
1. Keperawatan
1) Istirahat di tempat tidur sampai demam hilang
2) Diet makanan lunak
3) Banyak minum
4) Kompres leher dengan es bisa digunakan meredakan rasa sakit
(Keperawatan Medikal Bedah, Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin. Lockhart)
2. Medik
1) Pemberian antibiotik golongan penisilin atau sulfonanida selama lima hari
2) Antipiretik
3) Obat kumur atau obat hisap dengan desinfektan
4) Bila alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamisin
(Kapita Selekta Kedokteran, 1999)
4.2

Faringitis Kronik
Faringitis kronik adalah suatu kondisi infeksi (bakteri atau virus) atau iritasi (kimia atau

fisik) yang melibatkan inflamasi pada mukosa faring menetap selama minimal satu tahun,
selama lebih dari enam jam sehari, selama lebih dari dua minggu bulan, selama lebih dari tiga
bulan dalam setahun. 4
Faktor-faktor predisposisi terjadinya faringitis kronik : 1
1) Infeksi persisten pada daerah sekitar faring
Pada rinitis dan sinusitis kronik, discarj purulen dapat mengalir turun menuju faring
sehingga selalu menjadi sumber infeksi. Hal ini menyebabkan hipertrofi pada lateral
band faring. Sama halnya dengan tonsilitis kronik dan infeksi pada gigi dapat
menyebabkan faringitis kronik dan sakit tenggorok yang rekuren.
2) Napas lewat mulut
Bernapas melalui mulut dapat membuat faring kontak dengan udara yang belum disaring,
dilembabkan dan disesuaikan dengan suhu tubuh sehingga membuatnya lebih rentan
terhadap infeksi. Pernapasan mulut dapat disebabkan :
Obstruksi pada cavum nasi seperti : polip , rhinitis alergi atau vasomotor, hipertrofi
konka, septum deviasi atau tumor.
Obstruksi pada nasofaring, misalnya adenoid atau tumor.
Gigi yang menonjol sehingga menyebabkan maloklusi
Kebiasaan tanpa adanya gangguan secara anatomis
3) Iritasi kronik
Merokok berlebihan, mengunyah tembakau, minuman alkohol, makanan yang sangat
pedas dapat menyebabkan faringitis kronis.
4) Polusi dari lingkungan
Lingkungan yang berasap atau berdebu dan asap industri mungkin juga dapat
menyebabkan faringitis kronis.

Tingkat keparahan gejala pada faringitis kronik bervariasi pada individu. Gejala yang
mungkin dapat timbul yaitu : 1
1.
2.
3.
4.

Rasa tidak nyaman atau nyeri di tenggorok


Rasa mengganjal pada tenggorok
Tidak dapat berbicara lama dikarenakan nyeri
Batuk
Terdapat dua bentuk faringitis kronik yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis

kronik atrofi. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring adalah rhinitis kronik,
sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa
faring dan debu. Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah pasien yang
bernafas melalui mulut karena hidungnya tersumbat. 5
a. Faringitis Kronik Hipertrofi
Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang berdahak.
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring.
Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan
tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan berglanular. 5
Gambar 4.
Granulasi pada
mukosa faring
posterior 2
Gambar 5.
Granulasi pada
mukosa faring
posterior 1

Gambar 6. Faringitis kronik e.c iritasi kronik 6


Terapi lokal dengan menggunakan kaustik faring dengan memakai zat kimia larutan
nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter). Pengobatan simptomatis diberikan obat
kumur atau tablet isap. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspektoran.
Penyakit di hidung dan sinus paranasal harus diobati.5
Terapi faringitis kronik tipe hipertrofi yaitu : 1
1) Faktor-faktor penyebab harus dihindari
2) Kumur dengan larutan saline hangat pada pagi hari dapat meredakan rasa nyeri di
tenggorok
3) Kauter granulasi limfoid disarankan. Tenggorokan disemprot dengan anestesi lokal
dan jaringan granulasi diberi perak nitrat 10-25%. Elektrokauter atau diathermy nodul
mungkin memerlukan anestesi umum
b. Faringitis Kronik Atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis
atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembabannya sehingga menimbulkan
rangsangan serta infeksi pada faring. Pasien umumnya mengeluhkan tenggorokan kering dan
tebal serta mulut berbau. Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang
kental dan bila diangkat tampak mukosa kering. 5
Pengobatan ditujukan pada rinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atrofi
ditambahkan dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut. 5 Kalium iodida 325 mg,
diberikan secara oral selama beberapa hari membantu untuk merangsang sekresi dan
mencegah pengerasan kulit.1

PEMBAHASAN
Seorang laki-laki berusia 23 tahun datang dengan keluhan nyeri tenggorok sejak + 3
minggu yang lalu, nyeri dirasakan hilang timbul dan merasa bertambah nyeri bila makan dan
minum.Sebelumnya pasien pernah berobat ke dokter umum, diberikan obat batuk dan obat
penurun panas, namun keadaan tidak membaik. Gejala lain yang didapatkan yaitu demam
nglemeng, batuk berdahak, terasa adanya lendir di tenggorok, tenggorok terasa panas, rasa
mengganjal di tenggorok
Dari hasil pemeriksaan fisik, status lokalis berupa telinga hidung, gigi dan mulut, kepala
dan lehert tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan status lokalis tenggorok ditemukan
mukosa hiperemis dan adanya granulasi pada mukosa faring posterior.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien ini didiagnosis sebagai faringitis
akut et causa infeksi bakteri. Untuk tatalaksana dilakukan pemeriksaan swab tenggorok
sebagai

tatalaksana

awal

dan

merupakan

gold

standard

dalam

penegakkan

diagnosa.Tatalaksana berikutnya dilakukan skin prick test untuk uji alergi.Selanjutnya dalam
tatalaksana terapi pasien diberikan Methylprednisolone 4mg/ 12 jam p.o, Cefadroxil 500mg/
12 jam p.o, Ambroxol 30mg/ 12 jam p.o.Setelah diberikan terapi pasien dijelaskan mengenai
penyakit yang diderita, pasien diedukasi untuk untuk menghindari makanan dan minuman
yang bersifat iritatif seperti makanan pedas, makanan dan minuman terlalu panas, alkohol dan
rokok, serta minum obat secara teratur.