Anda di halaman 1dari 6

Economic Attributes Framework

PT Intiland Development Tbk (DILD)


1. Demand
a. Are customers highly price-sensitive or relatively insensitive?
Permintaan customer yang tinggi terhadap property menjadikan permintaan tersebut
highly senstitive to price. Hal ini menjadikan harga properti selalu tinggi bahkan
berangsur-angsur meningkat dari waktu ke waktu, bahkan kenaikan harga tersebut sampai
pada tingkat yang tidak terjangkau bagi golongan tertentu.
b. Is demand growing rapidly or is the industry relatively mature?
Permintaan akan property bertumbuh dengan sangat cepat terkait dengan banyaknya
investasi di bidang perumahan dan perkembangan pembangunan yang pesat di Indonesia.
c. Does demand move with the economic cycle or is it insensitive to it?
Permintaan akan perumahan/properti bergerak secara cepat beriringan dengan
perkembangan siklus ekonomi menuju persaingan bebas, dimana setiap perusahaan
berlomba-lomba berinovasi dalam menyediakan keinginan pasar yang terus meningkat.
d. Does demand vary with the seasons or is it relatively stable throughout the year?
Permintaan terhadap properti biasanya relatif stabil untuk properti untuk kalangan
menengah ke atas, meskipun pada tahun 2015 perekonomian sempat mengalami
kelesuan. Namun, untuk properti kelas perumahan terutama ukuran keluarga kecil
mengalami kelesuan selama tahun 2015, tetapi diprediksikan akan kembali meningkat
pada tahun 2016.
2. Supply
a. Are suppliers offering similar or unique products?
Supplier untuk jenis usaha properti memiliki karakteristik barang yang mirip satu sama
lain (similar product), artinya memang untuk industri properti membutuhkan pasokan
barang yang banyak tersedia di pasaran (bukan unique product) dan relatif dapat dengan
mudah menemukan supplier. Keadaan ini menguntungkan karena supplier power menjadi
low dan juga perusahaan dapat mencari pengganti supplier dengan mudah apabila rantai
pasokan dari satu supplier mengalami permasalahan.
b. Are there high barriers to entry?

Untuk masuk ke dalam / menjadi supplier relatif mudah karena barang yang dijual
banyak tersedia di pasar. Hanya saja untuk masuk menjadi supplier harus dengan cermat
memperhitungkan harga jual dan nilai tambah karena karakteristik komoditi yang similar
product membuka peluang untuk menemukan persaingan yang kompetitif.
c. Are there high barriers to exit, such as environment cleanup costs
Apabila sebuah perusahaan akan keluar dari supplier industri properti memang secara
umum tidak ada halangan / batasan (high barrier) namun demikian karena komoditi yang
dijual kebanyakan adalah mengolah dari alam maka tetap harus mempertimbangkan
dampak ke lingkungan.
3. Value Creation
Proses pembentukan nilai yang didasarkan pada Simatupang dan Pramudito (2006) adalah
sebagai berikut:

Jika value creation yang didasarkan hasil peneilitan Simatupang dan Pramudito yang
kemudian kita terapkan di PT Intiland Development Tbk. ini maka penciptaan nilai terjadi
karne PT Intiland Development Tbk. mampu menciptakan lingkungan yang baik, baik secara
internal maupun eksternal, menciptakan lingkungan yang baik di tubuh internal mampu

meningkatkan Economic Value Added, serta menjalin hubungan yang baik dengan pihak
eksternal mampu meningkatkan Market Value Added.
Namun proses penciptaan nilai tidak berhenti sampai disitu, tetapi nilai terbentuk pada
dasarnya terletak pada pikiran manusinya itu sendiri. Artinya nilai yang terbentuk didasarkan
pada SDM yang dimiliki oleh Perusahaan. Dalam proses penciptaanya maka diperlukan dua
faktor yang mampu menciptakan proses pembentukan nilai yang berasal dari pemikiran
SDM didalamnya, yaitu Kreativitas dan Inovasi.
PT Intiland Development Tbk. sampai saat ini tidak pernah berhenti memberikan inovasiinovasi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan para customer. Terbukti berbagai
macam produk yang dihasilkan menjadi daya tawar yang baik bagi masyarakat/customer.
4. Marketing
Mengingat pentingnya aspek pemasaran terhadap roda Perseroan dalam menjalankan
bisnisnya, maka divisi Corporate Marketing (CM) mengambil langkah-langkah strategis dan
fokus dalam memasarkan produk-produk Perseroan.
Dalam menghadapi kondisi makro ekonomi yang kurang kondusif terhadap pertumbuhan
sektor properti, CM berupaya meningkatkan kinerja dan hasil penjualan, khususnya dari
proyek-proyek yang baru dikembangkan.
Selain itu juga meningkatkan market share dan brand awareness Intiland melalui kegiatan
promosi terpadu dan penyelenggaraan beragam kegiatan. Salah satunya dilakukan melalui
optimalisasi budget promosi dalam rangka meningkatkan brand Intiland di masyarakat.
Selain itu juga meningkatkan market share dan brand awareness Intiland melalui kegiatan
promosi terpadu dan penyelenggaraan beragam kegiatan. Salah satunya dilakukan melalui
optimalisasi budget promosi dalam rangka meningkatkan brand Intiland di masyarakat.
Sepanjang 2014, Perseroan berupaya meningkatkan brand awareness dari proyek-proyek
yang sedang dikembangkan dan dijalankan, melalui promosi dan pameran.
Di tengah-tengah kondisi perekonomian yang melambat, Perseroan tetap berhasil
meluncurkan proyek-proyek baru, di antaranya adalah Regatta tahap 2 untuk tower London
& New York; klaster Ventura di proyek kawasan perumahan Serenia Hills; Technopark,
gudang multi fungsi di Aeropolis; dan Spazio Tower Surabaya.
Guna memperkuat dan membesarkan jaringan pemasaran, Perseroan bermitra dengan
perusahaan agen properti melalui Intiland Business Club (IBClub) serta memperkuat

kualitas dan kuantitas armada penjualan. Untuk itu, Perseroan memperkuat konsep produk
dan memperbesar pasar konsumen dengan fokus pada pengembangan superblok dan mixeduse. Selain itu, Perseroan juga memperkuat jaringan anchor tenant untuk pasar perkantoran
terutama dari perusahaan multi-nasional.
Perseroan juga memperkuat kontribusi pendapatan yang bersumber dari recurring income.
Strategi ini ditempuh seiring dengan bertambahnya jumlah properti investasi yang dimiliki
Perseroan, antara lain dari Intiland Tower Jakarta dan Surabaya, South Quarter, dan Spazio.
Loyalitas konsumen merupakan aspek penting dalam rangka menjaga pertumbuhan usaha
perusahaan. Oleh sebab itu, Perseroan juga memperkuat jaringan dan keterlibatan konsumen
melalui customer relationship management (CRM). Upaya ini dalam rangka peningkatkan
loyalitas konsumen sehingga menjadi brand advocate. Salah satu upaya yang ditempuh
yakni meningkatkan peran dan fungsi CRM dan Intiland Circle, meningkatkan kualitas dan
kuantitas database konsumen. Upaya lain yang juga penting yaitu meningkatkan
pengetahuan mengenai figur konsumen Perseroan dan meningkatkan kualitas pelayanan
konsumen di setiap proyek.
5. Investing and Financing
Pertumbuhan investasi dalam pembangunan infrastruktur di banyak daerah sedang
berkembang pesat. Dalam rangka mengawasi modal kerja dan neraca untuk menjaga
fleksibilitas keuangan dan cadangan untuk pengembangan saat ini maupun pertumbuhan di
masa mendatang dilakukan secara terus menerus ekplorasi peluang-peluang untuk
meningkatkan kemampuan pendanaan, seperti meningkatkan partisipasi komunitas sumber
pendanaan global.
Struktur permodalan perseroan dan susunan pemegang saham perseroan berdasarkan daftar
pemegang saham yang dikeluarkan oleh Biro Administrasi Efek PT EDI Indonesia per
tanggal 31 Desember 2014 adalah sebagai berikut:

Adapun Pemegang Saham yang memiliki kurang dari 5% saham per 31 Desember 2014
terdiri atas:

Pemodal Nasional
a. Perorangan Indonesia 4,67%
b. Yayasan Dana Pensiun 0,18%
c. Asuransi 3,15%
d. Perseroan Terbatas 4,64%
e. Lain-lain 9,14%

Pemodal Asing
a. Perorangan Asing 0,05%
b. Badan Usaha Asing 36,02%

Kajian atas investasi dilaksanakan oleh divisi Capital & Investment Management (CIM)
yang bertanggung jawab untuk mengelola modal dan menetapkan strategi investasi. Secara
operasional CIM berupaya untuk meningkatkan nilai aset dan mencari alternaatif sumber
pendanaan secara efisien, baik dari sektor pasar modal maupun perbankan. CIM

menjalankan fungsi keuangan perusahaan (corporate finance) dan hubungan investor


(investor relations).
Perseroan malakukan penilaian atas aset Perseroan melalui perusahaan independen agar
dapat dikomunikasikan kepada para investor dan analisis sebagai dasar perhitungan nilai
wajar saham Perseroan. Pada tahun 2015 Perseroan terus megatur secara hati-hati agar
pembiayaan dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai kebijakan Perseroan. Dalam lima tahun
ke depan resiko bisnis yang dihadapi masih tinnggi dan di sisi lain faktor biaya produksi
yang semakin meningkat akibat risiko penurunan nilai tukar mata uang. Dengan adanya
resiko tersebut, Intiland melakukan mitigasi atas resiko-resiko untuk melakukan optimalisasi
biaya agar efisien dan efektif sehingga operasional Perseroan dapat berjalan baik.