Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Motor listrik AC/DC (electric motor) merupakan salah satu mesin listrik yang digunakan dalam
sistem proses produksi di industri. Motor listrik tersebut antara lain digunakan untuk
menggerakkan beban-beban mekanis seperti konveyor, pompa-pompa, mixer dan beban mekanis
lainnya.

Peralatan kontrol dengan didesain sedemikian rupa sangat diperlukan untuk menggerakkan
motor listrik sesuai dengan kebutuhan beban-beban mekanis. Fungsi peralatan kontrol antara lain
untuk menjalan motor secara langsung (DOL System), kontrol kecepatan rotor motor
(VSD=Variable Speed Drive), Positioning Motor with encoder, pengaturan torsi motor, dan
fungsi-fungsi lainnya.

Komponen utama kontrol yang digunakan untuk sistem pengontrolan motor listrik di industri
antara lain relay-relay, magnetic contactor, timer & counter.

Prinsip Dasar dan Pengertian Semikonduktor Kata Semikonduktor sangat identik


dengan peralatan Elektronika yang kita pakai saat ini. Hampir setiap peralatan Eletronika
canggih seperti Handphone, Komputer, Televisi, Kamera bahkan Lampu penerang LED
juga merupakan hasil dari Teknologi Semikonduktor. Komponen-komponen penting yang
membentuk sebuah Peralatan Elektronika seperti Transistor, Dioda dan Integrated Circuit
(IC) adalah komponen elektronika aktif yang terbuat bahan semikonduktor. Oleh karena
itu, bahan Semikonduktor memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan
Teknologi Elektronika.
Bahan Semikonduktor (Semiconductor) adalah bahan penghantar listrik yang tidak sebaik
Konduktor (conductor) akan tetapi tidak pula seburuk Insulator (Isolator) yang sama
sekali tidak menghantarkan arus listrik. Pada dasarnya, kemampuan menghantar listrik
Semikonduktor berada diantara Konduktor dan Insulator. Akan tetapi, Semikonduktor
berbeda dengan Resistor, karena Semikonduktor dapat dapat menghantarkan listrik atau
berfungsi sebagai Konduktor jika diberikan arus listrik tertentu, suhu tertentu dan juga
tata cara atau persyaratan tertentu.

Proses Doping pada Semikonduktor

Sebenarnya banyak bahan-bahan dasar yang dapat digolongkan sebagai bahan


Semikonduktor, tetapi yang paling sering digunakan untuk bahan dasar komponen
elektronika hanya beberapa jenis saja, bahan-bahan Semikonduktor tersebut diantaranya
adalah Silicon, Selenium, Germanium dan Metal Oxides. Untuk memproses bahan-bahan
Semikonduktor tersebut menjadi komponen elektronika, perlu dilakukan proses Doping
yaitu proses untuk menambahkan ketidakmurnian (Impurity) pada Semikonduktor yang
murni (semikonduktor Intrinsik) sehingga dapat merubah sifat atau karakteristik
kelistrikannya. Beberapa bahan yang digunakan untuk menambahkan ketidakmurnian
semikonduktor antara lain adalah Arsenic, Indium dan Antimony. Bahan-bahan tersebut
sering disebut dengan Dopant, sedangkan Semikonduktor yang telah melalui proses
Doping disebut dengan Semikonduktor Ekstrinsik.

Tipe atau Jenis Semikonduktor


Semikonduktor yang telah dilalui proses Doping yaitu Semikonduktor yang Impurity
(ketidakmurnian) atau Semikonduktor Ekstrinsik yang siap menjadi Komponen
Elektronika dapat dibedakan menjadi 2 Jenis yaitu :

1. N-type Semikonduktor
Dikatakan N-type karena Semikonduktor jenis ini pembawa muatannya (Charge Carrier)
adalah terdiri dari Elektron. Elektron adalah bermuatan Negatif sehingga disebut dengan
Tipe Negatif atau N-type.
Pada Semikonduktor yang berbahan Silicon (Si), Proses Doping dengan menambahkan
Arsenic atau Antimony akan menjadikan Semikonduktor tersebut sebagai N-type
Semikonduktor.
Terdapat 2 (dua) pembawa muatan atau charge Carrier dalam N-type Semikonduktor
yakni Elektron sebagai Majority Carrier dan Hole sebagai Minority Carrier.

2. P-Type Semikonduktor
Dikatakan P-type karena Semikonduktor jenis ini kekurangan Elektron atau disebut
dengan Hole. Ketika pembawa muatannya adalah Hole maka Semikonduktor tersebut

merupakan Semikonduktor bermuatan Positif.


Pada Semikonduktor yang berbahan Silicon (Si), Proses Doping dengan menambahkan
Indium akan menjadikan Semikondukter tersebut sebagai P-type Semikonduktor.
2 (dua) pembawa muatan yang terdapat dalam P-type Semikonduktor adalah Hole
sebagai Majority Carrier dan Elektron sebagai Minority Carrier).
Komponen-komponen Elektronika Aktif yang bahan dasarnya terbuat dari
Semikonduktor diantaranya adalah :
Integrated Circuit
Transistor
Dioda
Komponen-komponen Elektronika yang terbuat dari Semikonduktor merupakan
komponen Elektronika yang sangat sensitif dengan ESD (Electro Static Discharge). Oleh
karena itu, perlu penanganan khusus dalam produksi terhadap Komponen-komponen
tersebut.

TEORI SEMIKONDUKTOR
Bahan semikonduktor merupakan bahan yang dipakai dalam pembuatan komponen
elektronika seperti resistor, dioda, transistor, kapasitor, dan lain sebagainya. Antara bahan yang
satu dengan yang lainnya mempunyai sifat dasar dan karakteristik yang berbeda. Sebelum mulai
mempelajari komponen elektronika terlebih dahulu akan dipelajari tentang sifat dasar bahan
semikonduktor sebagai berikut.
A. STRUKTUR ATOM BAHAN SEMIKONDUKTOR
Bahan semikonduktor murni akan menjadi isolator pada suhu mutlak (-273C), hal ini
dikarenakan elektron valensi terikat erat pada tempatnya. Elektron valensi adalah elektronelektron yang terletak di kulit terluar sebuah unsur.
Susunan elektron pada beberapa atom:

NAMA UNSUR LINGKARAN ORBIT JUMLAH ELEKTRON ELEKTRON VALENSI


KLMNOPQ
born
2 3 - - - - - --- 5 3
alumunium
2 8 3 - - - - -- 13 3
silikon
2 8 4 - - - - --- 14 4
fosfor
2 8 5 - - - - --- 15 5
galium
2 8 18 3 - - - - 31 3
germanium
2 8 18 4 - - - -- 32 4
arsenikum
2 8 18 5 - - - -- 33 5
indium
2 8 18 18 3 - - 49 3
antimon
2 8 18 18 5 - - 51 5
barium
2 8 18 18 8 2 - 56 2
Silikon dan Germanium adalah bahan semikonduktor yang paling banyak digunakan dalam
pembuatan komponen elektronika. Silikon lebih banyak digunakan daripada Gemanium karena
sifatnya yang lebih stabil pada suhu tinggi. Silikon adalah material dengan struktur pita energi
tidak langsung (indirect bandgap), di mana nilai minimum dari pita konduksi dan nilai
maksimum dari pita valensi tidak bertemu pada satu harga momentum yang sama. Ini berarti
agar terjadi eksitasi dan rekombinasi dari pembawa muatan diperlukan perubahan yang besar
pada nilai momentumnya atau dapat dikatakan dibutuhkan bantuan sebuah partikel dengan
momentum yang cukup (seperti phonon) untuk mengkonservasi momentum pada semua proses
transisi. Dengan kata lain, silikon sulit memancarkan cahaya. Sifat ini menyebabkan silikon tidak
layak digunakan sebagai piranti fotonik/optoelektronik.
B. SEMIKONDUKTOR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK
Suatu kristal Silikon yang murni, dimana setiap atomnya adalah atom Silikon saja,
disebut sebagai semikonduktor intrinsik. Untuk kebanyakan aplikasi, tidak terdapat pasangan
elektron-hole yang cukup banyak didalam suatu semikonduktor intrinsik untuk dapat
menghasilkan arus yang berguna. Doping adalah penambahan atom-atom impuritas pada suatu
kristal untuk menambah jumlah elektron maupun hole. Suatu kristal yang telah di-dop disebut
semikonduktor ekstrinsik. Untuk memperoleh tambahan elektron pada jalur konduksi, diperlukan
atom pentavalent. Atom pentavalen ini juga disebut sebagai atom donor. Setelah membentuk
ikatan kovalen dengan tetangganya, atom pentavalen ini mempunyai kelebihan sebuah elektron,
yang dapat beredar pula pada jalur konduksi, seperti pada Gambar 9. Sehingga terbentuk jumlah
elektron yang cukup banyak dan jumlah hole yang sedikit. Keadaan ini diistilahkan dengan

elektron sebagai pembawa mayoritas dan hole sebagai pembawa minoritas. Semikonduktor yang
di-doping seperti ini disebut dengan semikonduktor type-n.

Gambar. Ikatan Kovalen Silicon Dalam Dua Dimensi

Semikonduktor N
Tipe-N
Misalnya pada bahan silikon diberi doping phosphorus atau arsenic yang pentavalen yaitu
bahan kristal dengan inti atom memiliki 5 elektron valensi. Dengan doping, Silikon yang tidak
lagi murni ini (impurity semiconductor) akan memiliki kelebihan elektron. Kelebihan
elektron membentuk semikonduktor tipe-n. Semikonduktor tipe-n disebut juga donor yang siap
melepaskan elektron. Semikonduktor jenis-n jika bertemu pengotor dari golongan VA,
electron sebagai pembawa mayoritas. Ada electron donor yang dekat dengan pita konduksi (di
bawah sedikit).
Gambar 9. Semikonduktor type - N

Demikian pula jika semikonduktor di-doping bahan trivalent, atau atom akseptor, akan terbentuk
jumlah hole pada jalur valensi yang banyak. Maka, akan terbentuk keadaan dimana hole menjadi
pembawa mayoritas dan elektron menjadi pembawa minoritas. Semikonduktor ini disebut

semikonduktor type-p. Gambar 10. memperlihatkan struktur semikonduktor type-p dengan


akseptornya
Semikondukto P
Tipe - P
Kalau silikon diberi doping Boron, Gallium atau Indium, maka akan didapat
semikonduktor tipe-P. Untuk mendapatkan silikon tipe-p, bahan dopingnya adalah bahan
trivalen yaitu unsur dengan ion yang memiliki 3 elektron pada pita valensi. Karena ion silikon
memiliki 4 elektron, dengan demikian ada ikatan kovalen yang bolong (hole). Hole ini
digambarkan sebagai akseptor yang siap menerima elektron. Dengan demikian, kekurangan
elektron menyebabkan semikonduktor ini menjadi tipe-p.
Semikonduktor jenis-p jika bertemu pengotor dari golongan IIIA, lubang sebagai pembawa
mayoritas. Ada lubang akseptor yang dekat (di atas sedikit) dari pita valensi.

Gambar 10. Semikonduktor type P


C.

SIFAT

PEMBUATAN

KONDUKTOR,

ISOLATOR,

DAN

SEMIKONDUKTOR

PADA

KOMPONEN ELEKTRONIKA

Konduktor adalah bahan yang konduktivitasnya tinggi sehingga dapat mengalirkan listrik
dengan baik. Konduktor sering disebut dengan penghantar karena dapat menghantarkan arus
listrik. Contoh, tembaga, seng, alumunium, baja, dsb.
Isolator adalah bahan yang tidak dapat menghantarkan listrik karena konduktivitasnya
rendah. Contoh, plastik, kayu kering, karet, kain, dll.
Semikonduktor adalah bahan yang terletak di antara konduktor dan isolator. Contoh,
silikon, germanium, antimon, dll.
Sifat bahan, baik konduktor, isolator, maupun semikonduktor terletak pada struktur jalur
atau pita energi atom-atomnya. Pita energi adalah kelompok tingkat energi elektron dalam
kristal. Sifat-sifat kelistrikan sebuah kristal tergantung pada struktur pita energi dan cara elektron
menempati pita energi tersebut. Pita energi dibedakan menjadi 3, yaitu:

1. jalur valensi
Penyebab terbentuknya jalur valensi adalah adanya ikatan ato-atom yang membangun
kristal. Pada jalur ini elektron dapat lepas dari ikatan atomnya jika mendapat energi.
2. jalur konduksi
Jalur konduksi adalah tempat elektron-elektron dapat bergerak bebas karena pengaruh
gaya tarik inti tidak diperhatikan lagi. Dengan demikian elektron dapat bebas menghantarkan
listrik.
3. jalur larangan
Jalur larangan adalah jalur pemisah antara jalur valensi dengan jalur konduksi.Yang
membedakan apakah bahan itu termasuk konduktor, isolator, atau semikonduktor adalah energi
Gap (Eg). Satuan energi gap adalah elektron volt (eV). Satu elektron volt adalah energi yang
diperlukan sebuah elektron untuk berpindah pada beda potensial sebesar 1 volt. Satu elektron
volt setara dengan 1,60 x 10-19 Joule.
Energi gap adalah energi yang diperlukan oleh elektron untuk memecahkan ikatan
kovalen sehingga dapat berpindah jalur dari jalur valensi ke jalur konduksi. Energi gap
germanium pada suhu ruang (300K) adalah 0,72 eV, sedangkan silikon adalah 1,1 eV. Bahanbahan semikonduktor dengan energi gap yang rendah biasanya dipakai sebagai bahan komponen
elektronika yang dioperasikan pada suhu kerja yang rendah pula.
D. ARUS PADA SEMIKONDUKTOR
Pada semikonduktor dikenal dua macam arus, yaitu arus drift dan arus difusi. Arus drif
adalah arus yang ditimbulkan oleh mengalirnya muatan-muatan yang disebabkan oleh perbedaan
potensial. Contohnya adalah arus yang terjadi pada bahan resistif yang dipasang pada suatu
tegangan listrik. Arus difusi adalah arus yang tidak disebabkan oleh adanya perbedaan tegangan,
melainkan akibat gerak random dari pertikel-partikel bermuatan yang disebabkan oleh energi
panas. Contohnya adalah elektron mengalir dari suatu tempat yang padat ke tempat yang sedikit
sampai dicapainya suatu keseimbangan.
E. DOPING
Pemberian doping dimaksudkan untuk mendapatkan elektron valensi bebas dalam jumlah
lebih banyak dan permanen, yang diharapkan akan dapat menghantarkan listrik. Energy yang
diperlukan untuk memutus sebuah ikatan kovalen adalah sebesar 1,1 eV untuk silicon dan 0,7 eV

untuk germanium. Pada temperature ruang (300K), sejumlah electron mempunyai energy yang
cukup besar untuk melepaskan diri dari ikatan dan tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi
menjadi electron bebas. Besarnya enrgi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari pita
valensi ke pita konduksi ini disebut energy terlarang (energy gap). Jika sebuah ikitan kovalen
terputus,maka akan terjadi kekosongan lubang (hole). Pada daerah dimana terjadi kekosongan
akan terdapat kelebihan muatan positif, dan daerah yang ditempati electron bebaas mempunyai
kelebihan muatan negative. Kedua muatan inilah yang memberikan kontribusi adanya aliran
listrik pada semikonduktor murni. Jika elektron valensi dari ikatan kovalen yang lain mengisi
lubang tersebut maka akan terjadi lubang baru di tempat yang lain dan seolah-olah sebuah
muatan positf bergerak dari lubang yang lama ke lubang baru.

http://situsresmierzadiego.blogspot.co.id/2012/01/teori-semikonduktor.html