Anda di halaman 1dari 7

KESIMPULAN

Mataram merupakan sebuah kerajaan Islam yang letaknya berada di pedalaman. Mataram
pada mulanya merupakan sebuah hutan di wilayah kerajaan Pajang. Mataram diberikan kepada
Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam pembunuhan Sunan Prawoto. Oleh Ki Ageng
Pemanahan, mataram dibangun menjadi sebuah Kadipaten.
Oleh Sutawijaya, Mataram dibangun menjadi sebuah kerajaan yang besar. Menggantikan
kerajaan Pajang yang berhasil dikalahkan. Sutawijaya bergelar penembahan Senopati ing Alaga.
Senopati berhasil meluaskan wilayah Mataram hingga hampir seluruh Jawa.
Sultan Agung mempersiapkan pasukan, persenjataan, dan armada laut serta
penggemblengan fisik dan mental. Usaha Sultan Agung akhirnya berhasil pada tahun 1625 M.
Kerajaan Mataram berhasil menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, Cirebon, dan
Blambangan. Untuk menguasai seluruh Jawa, Sultan Agung mencoba merebut Batavia dari
tangan Belanda. Namun usaha Sultan selama dua kali untuk mengempung Batavia mengalami
kegagalan.
Mataram runtuh akibat adanya pengaruh VOC sejak zaman pemerintahan Amangkurat 1.
Serta adanya dualisme kepemimpinan dalam Mataram sejak diangkatnya Pakubuana 1. Sehingga
Mataram memiliki dua raja.
Oleh karena itu, pada perjanjian Giyanti, Mataram dibagi menjadi dua wilayah yaitu
Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunan Surakarta. Berdasarkan perjanjian Giyanti wilayah
Mataram terbagi menjadi dua, wilayah disebelah timur kali Opak dikuasai oleh pewaris tahta
Mataram yaitu Sunan Pakubuwana III dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah
disebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi sekaligus ia diangkat menjadi Sultan
Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta

Sejarah Kerajaan Mataram Islam - Kesultanan Mataram ( Kerajaan mataram yang


bercorak islam ) tidak ada hubungannya sama sekali dengan kerajaan mataram
hindu. Kebetulan nama yang digunakan sama. Pemindahan pusat pemerintahan
dari pajang ke mataram pada tahun 1586 M di lakukan oleh Sutowijaya menandai
berdirinya kesultanan mataram. Pusat pemerintahannya berada di kota gede
yogyakarta. Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam yang berada di Pulau
Jawa yang berdiri pada tahun 1586 M sampai tahun 1755 M. Kerajaan ini di pimpin
oleh keturunan-keturunan dari Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang
dipercaya masih mempunyai keturunan dari penguasa Kerajaan Majapahit. Kerajaan
ini berawal dari sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, yang
berada di Bumi Mentaok yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh Raja
Pajang sebagai hadiah atas jasanya mengalahkan arya panangsang. Raja pertama
yang memimpin adalah Sutawijaya ( ia mempunyai gelar Panembahan Senopati ing
Alaga Sayidin Panatagama ), yang merupakan anak dari Ki Ageng Pemanahan.
Berdirinya Kerajaan Mataram islam
Kerajaan ini berawal dari sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang,
yang berada di Bumi Mentaok yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh
Raja Pajang Jaka Tingkir sebagai hadiah atas jasanya mengalahkan arya

panangsang dari jipang. Ki Ageng Pemanahan sebagai bupati di Mataram ia


mempunyai seorang anak yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya sendiri merupakan
yang membunuh arya panangsang sangat berbakat di bidang militer. Ia kemudian
diangkat menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya ( Jaka Tingkir ) dan ia dijadikan
saudara dengan putra mahkota yaitu Pangeran Benawa. Pada tahun 1575 M, Ki
Ageng Pemanahan wafat. Oleh Raja Pajang kemudian Sutawijaya di angkat sebagai
Bupati Mataram menggantikan ayahnya. Dibawah kepemimpinannya mataram
semakin pesat berkembang.
Di tahun 1582, Sultan Hadiwijaya atau Jaka tingkir Raja Pajang meninggal dunia.
Arya Panggiri yang saat itu menjadi adipati di Demak merebut Pajang. Putra Sultan
Hadiwijaya yang bernama Pangeran Benawa dapat ia singkirkan. Kemudian Arya
Panggiri naik takhta menjadi Raja Pajang untuk melanjutkan darah dari keturunan
Demak. Dalam masa kepemimpinannya Arya Panggiri kurang disukai oleh rakyat
Pajang. Melihat hal tersebut, pangeran Benawa berniat untuk merebut kembali
kekuasaannya. Dengan bantuan dari bupati mataram yaitu Sutawijaya, Arya
Panggiri bisa dikalahkan. Kemudian di tahun 1586 M, Pajang diambil alih oleh
Sutawijaya karena tidak ada putra mahkota yang menggantikan kepemimpinan
pangeran benawa dan pusat pemerintahan pajang kemudian di pindahkan ke
Mataram. Pemindahan pusat pemerintahan dari pajang ke mataram sekaligus
menandai berdirinya Kesultanan Mataram.
Kejayaan Kerajaan Mataram Islam
Mataram mencapai masa kejayaannya pada saat di pimpin oleh Mas Rangsang yang
bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo tetapi ia lebih di kenal dengan Sultan
Agung. Sultan agung di kenal mempunyai pribadi yang ulet, kuat dan berani, ia
mempunyai cita-cita menyatukan pulau jawa di bawah kekuasaan mataram. Pada
tahun 1615 M sultan agung memulai ekspedisinya dengan menyerang para bupati
didaerah pesisir utara yang tidak mau tunduk pada mataram. Seperti Bupati Pati,
Bupati Lasem, Bupati Tuban, Bupati Madura. Kemudian ia juga berhasil menguasai
wilayah surabaya, madiun, ponorogo, blora dan bojonegoro.

Nama Raja-Raja di Kerajaan Mataram


Yaitu kelompok raja-raja mataram sebelum terpecah:
1. Sanna.
2. Sanjaya, bergelar Rakai Mataram Ratu Sanjaya.
3. Raja Panangkaran, bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.
Kemudian di didalam sejarah disebutkan bahwa kerajaan Mataram mengalami perpecahan.
Namun pada akhir mereka bersatu kembali, dan setelah bersatu ini adalah daftar nama rajarajanya yang pernah berkuasa:
1. Rakai Pikatan.

2. Balitung, bergelar Rakai Watukura.


3. Daksa.
4. Tulodong.
5. Wawa.
6. Empu Sendok.
Dan daftar nama berikut dibawah ini adalah raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan Mataram
Baru:
1. Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
2. Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 - 1601), menjadikan Mataram sebagai
kerajaan merdeka.
3. Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang) (1601 - 1613)
4. Adipati Martapura (1613 selama satu hari)
5. Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu Hanyakrakusuma) (1613 - 1645)
6. Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) (1645 - 1677)

Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno


Selama berdiri, Kerajaan Mataram Kuno pernah dipimpin oleh raja-raja dinataranya sebagai
berikut:
1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram Kuno
2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra
3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
4. Rakai Warak alias Samaragrawira
5. Rakai Garung alias Samaratungga
6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
8. Rakai Watuhumalang
9. Rakai Watukura Dyah Balitung
10.Mpu Daksa
11.Rakai Layang Dyah Tulodong

1. Rakai Sumba Dyah Wawa


2. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
3. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
4. Makuthawangsawardhana
5. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Mataram Kuno berakhir

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno


Hancurnya Kerajaan Mataram Kuno dipicu permusuhan antara Jawa dan Sumatra yang dimulai
saat pengusiaran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang kemudian menjadi
Raka Sriwijaya menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini
berkembang menjadi permusuhan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang
dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.
Rasa permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa Isana
berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang
menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur)
yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.
Runtuhnya Kerajaan Mataram ketika Raja Dharmawangsa Teguh yang merupakan cicit Mpu
Sindok memimpin. Waktu itu permusuhan antara Mataram Kuno dan Sriwijaya sedang
memanas. Tercatat Sriwijaya pernah menggempur Mataram Kuno tetapi pertempuran tersebut
dimenangkan oleh Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah melayangkan serangan ke ibu
kota Sriwijaya. Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta
perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang
diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa
tewas.
A. Kehidupan Politik
Sutowijoyo mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan
Senopati (1586-1601) dengan ibukota kerajaan di Kota Gede. Tindakan-tindakan
penting yang dilakukan adalah meletakkan dasar-dasar Kerajaan Mataram dan berhasil
memperluas wilayah kekuasaan ke timur, Surabaya, Madiun dan Ponorogo, dan ke
barat menundukkan Cirebon dan Galuh.
Pengganti Panembahan Senopati adalah Mas Jolang. Ia gugur di daerah Krapyak dalam
upaya memperluas wilayah, sehingga disebut Panembahan Seda Krapyak. Raja terbesar
Kerajaan Mataram ialah Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo
(1613-1645). Sultan bercita-cita: (1) mempersatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaan
Mataram dan (2) mengusir kompeni (VOC) dari Batavia. Masa pemerintahan Sultan

Agung selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu masa penyatuan negara dan
masa pembangunan. Masa penyatuan negara (1613-1629) merupakan masa peperangan
untuk mewujudkan cita-cita menyatukan seluruh Jawa. Sultan Agung menundukkan
Gresik, Surabaya, Kediri, Pasuruan dan Tuban, selanjutnya Lasem, Pamekasan, dan
Sumenep. Dengan demikian seluruh Jawa telah tunduk di bawah Mataram, dan luar
Jawa kekuasaan meluas sampai Palembang, Sukadana (Kalimantan), dan Goa.
Setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Cirebon berhasil dikuasai, Sultan Agung
merencanakan untuk menyerang Batavia. Serangan pertama dilancarkan pada bulan
Agustus 1628 di bawah pimpinan Bupati Baurekso dari Kendal dan Dipati Ukur dari
Sumedang. Batavia dikepung dari darat dan laut selama 2 bulan, namun tidak mau
menyerah bahkan sebaliknya akhirnya tentara Mataram terpukul mundur.
Dipersiapkan serangan yang kedua dan dipersiapkan lebih matang dengan membuat
pusat-pusat perbekalan makanan di Tegal, Cirebon dan Krawang serta dipersiapkan
angkatan laut. Serangan kedua dilancarkan bulan September 1629 di bawah pimpinan
Sura Agul-Agul, Mandurarejo, dan Uposonto. Namun nampaknya VOC telah
mengetahui lebih dahulu rencana tersebut, sehingga VOC membakar dan
memusnahkan gudang-gudang perbekalan. Serangan ke Batavia mengalami kegagalan,
karena kurangnya perbekalan makanan, kalah persenjataan, jarak MataramJakarta
sangat jauh, dan tentara Mataram terjangkit wabah penyakit
Setelah Sultan Agung meninggal, penetrasi politik VOC di Mataram makin kuat. Akibat
campur tangan VOC dan adanya perang saudara dalam memperebutkan takhta
pemerintahan menjadikan kerajaan Mataram lemah dan akhirnya terpecah-pecah
menjadi kerajaan kecil.
Perseturuan antara Paku Buwono II yang dibantu Kompeni dengan Pangeran
Mangkubumi dapat diakhiri dengan Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 yang
isinya Mataram dipecah menjadi dua, yakni:
1. Mataram Barat yakni KesultananYogakarta, diberikan kepada Mangkubumi
dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.
2. Mataram Timur yakni Kasunanan Surakarta diberikan kepada Paku Buwono III.
Selanjutnya untuk memadamkan perlawanan Raden Mas Said diadakan Perjanjian
Salatiga, tanggal 17 Maret 1757, yang isinya Surakarta dibagi menjadi dua, yakni:
1. Surakarta Utara diberikan kepada Mas Said dengan gelar Mangkunegoro I,
kerajaannya dinamakan Mangkunegaran.
2. Surakarta Selatan diberikan kepada Paku Buwono III kerajaannya dinamakan
Kasunanan Surakarta.

Pada tahun 1813 sebagian daerah Kesultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam
selaku Adipati. Dengan demikian kerajaan Mataram yang satu, kuat dan kokoh pada
masa pemerintahan Sultan Agung akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan
kecil, yakni:
1. Kerajaan Yogyakarta
2. Kasunanan Surakarta
3. Pakualaman
4. Mangkunegaran
B. Kehidupan Ekonomi
Letak geografisnya yang berada di pedalaman didukung tanah yang subur, menjadikan
kerajaan Mataram sebagai daerah pertanian (agraris) yang cukup berkembang, bahkan
menjadi daerah pengekspor beras terbesar pada masa itu. Rakyat Mataram juga banyak
melakukan aktivitas perdagangan laut. Hal ini dapat terlihat dari dikuasainya daerahdaerah pelabuhan di sepanjang pantai Utara Jawa. Perpaduan dua unsur ekonomi, yaitu
agraris dan maritim mampu menjadikan kerajaan Mataram kuat dalam percaturan
politik di nusantara.
C. Kehidupan Sosial-budaya
Pada masa pertumbuhan dan berkaitan dengan masa pembangunan,maka Sultan Agung
melakukan usaha-usaha antara lain untuk meningkatkan daerahdaerah persawahan
dan memindahkan banyak para petani ke daerah Krawang yang subur. Atas dasar
kehidupan agraris itulah disusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Para pejabat
pemerintahan memperoleh imbalan berupa tanah garapan (lungguh), sehingga sistem
kehidupan ini menjadi dasar munculnya tuan-tuan tanah di Jawa.
Pada masa kebesaran Mataram, kebudayaan juga berkembang antara lain seni tari, seni
pahat, seni sastra dan sebagainya. Di samping itu muncul Kebudayaan Kejawen yang
merupakan akulturasi antara kebudayan asli, Hindu, Buddha dengan Islam. Upacara
Grebeg yang bersumber pada pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan
yang merupakan tradisi sejak zaman Majapahit dijatuhkan pada waktu perayaan hari
besar Islam, sehingga muncul Grebeg Syawal pada hari raya idul Fitri.; Grebeg Maulud
pada bulan Rabiulawal. Hitungan tahun yang sebelumnya merupakan tarikh Hindu
yang didasarkan pada peredaran matahari (tarikh Samsiah) dan sejak tahun 1633
diubah menjadi tarikh Islam yang berdasarkan pada peredaran bulan (tarikh
Kamariah). Tahun Hindu 1555 diteruskan dengan perhitungan baru dan dikenal dengan
Tahun Jawa.

Adanya suasana yang aman, damai dan tenteram, maka berkembang juga Kesusastraan
Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang Kitab Sastra Gending yang berupa kitab filsafat.
Demikian juga muncul kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang berisi ajaran tabiat
baik yang bersumber pada kitab Ramayana.