Anda di halaman 1dari 28

BAB I

1. PENDAHULUAN
Konjungtivitis adalah keradangan pada selaput lendir yang mengenai bagian putihmata dan
bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagaimacam gejala,
salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus,bakteri, alergi, atau
kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa.Beberapa tipe konjungtivitis dan penyebabnya
antara lain adalah oleh bakteri,klamidia, virus, riketsia, penyebab yang berkaitan dengan penyakit
sistemik, jamur, parasit,imunologis, sebab kimia atau iritatif lainnya, penyebab yang tidak diketahui
dan sekunderoleh karena dakriosistitis atau kanalikulitis.
Diantara penyebab-penyebab tersebut, yangpaling sering diketemukan di masyarakat adalah
konjungtivitis disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae,
Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis, kebanyakan strain adenovirus manusia,
herpes simplex virus tipe 1 and 2, and duapicornaviruses. Dua agen yang ditularkan secara seksual
yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah Chlamydia trachomatis dan Neisseria
gonorrhoeae. Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri merupakan konjungtivitis yang
seringdijumpai kedua setelah konjungtivitis viral apabila dibandingkan dengan konjungtivitis tipe
lainnya.
Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, matasangat berair.
Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri biasanyamengenai kedua mata.
Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah banyak,berwarna kuning kehijauan.
Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata. Tandanya,selain mata berwarna merah, mata juga
akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakandihidung. Produksi air mata juga berlebihan
sehingga mata sangat berair. Konjungtivitispapiler raksasa adalah konjungtivitis yang disebabkan
oleh intoleransi mata terhadap lensakontak. Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak
kotoran mata, air mata berlebih,dan kadang muncul benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus
biasanya tidak diobati,karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian,
beberapa dokter tetapakan memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga
infeksi sekunder oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan
rasa tidaknyaman di mata.Peradangan pada konjungtiva merupakan penyakit mata yang
paling sering dijumpaidi seluruh dunia. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh karena lokasi
anatomisnya yangmenyebabkan konjungtiva sering terekspos oleh berbagai macam
mikroorganisme dan faktorstress lingkungan lainnya. Beberapa mekanisme berfungsi sebagai
1

pelindung permukaanmata dari faktor-faktor eksternal, seperti pada lapisan film


permukaan, komponen akueus,pompa kelopak mata, dan air mata. Pertahanan konjungtiva
terutama oleh adanya tear film pada konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan
yang toksik kemudianmengalirkannya melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior.
Disamping itu tear film juga mengandung beta lysine, lisosim, IgA, IgG yang
berfungsi menghambat pertumbuhankuman. Apabila kuman mampu menembus
pertahanan tersebut maka terjadilah proses infeksipada konjungtiva

BAB II
LAPORAN KASUS
2. ANAMNESIS
2.2.1 Identitas Pasien
Nama

: sdr. J

Umur

: 25 tahun

Jenis Kelamin

: laki-laki

Pekerjaan

:-

Pendidikan

: s1V

Agama

: Islam

Alamat

: Jatingui Rt.04, Rw.06

Suku

: Jawa

Tanggal Periksa

: 18 Januari 2016

2.2.2

Keluhan utama : Matamerah

2.2.3

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke Puskesmas Ngeronggot dengan keluhan mata kanannya

merah sejak kemarin. Selain itu pasien jug.a mengeluh bahwa matanya
bengkak, sering keluar air mata (nerocoh), dan pagi hari ketika bangun tidur
terasa lengket karena mengeluarkan kotoran mata (belekan) berwarna
kekuningan, pasien juga sering mengucek-ngucek matanya karena gatal.
Pasien sudah diberi obat tetes mata vision yang dibeli sendiri tetapi sakit tidak
kunjung sembuh.

2.2.4

Riwayat penyakit Dahulu

Riwayat sakit serupa

: Pasien

belum

pernah

menderita

penyakit seperti ini sebelumnya


Riwayat kontak

: Teman pasien ada yang menderita

penyakit serupa
Riwayat trauma

: disangkal

Riwayat Alergi

: Pasien mengaku selama ini tidak

pernah ada alergi ketika minum obat, pasien tidak ada alergi dengan makanan
2.2.5

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga sakit serupa

: Tidak ada yang mengalami penyakit yg

serupa dalam satu rumah


2.2.6

Riwayat Gizi :
Pasien makan sehari-hari biasanya 3 kali sehari. Berupa nasi sepiring,

sayur, dan lauk pauk. Terkadang dengan telur, tahu, tempe, ikan, ayam dan
daging. Pasien sering makan buah-buahan seperti pepaya, dan pisang. Minum
air putih 6 gelas setiap harinya. Nafsu makan pasien semenjak sakit sedikit
menurun.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: Baik
Derajatkesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
Nadi
: 86 x/menit, regular, isi tegangan cukup
RR
: 18 x/ menit, kedalaman cukup, reguler
Suhu
: 36,30C peraksila
BB
: 67 kg
-

Kulit
Kulit sawo matang, ikterik (-), venektasi (-),spider nevi (-).

Kepala
Bentuk Normocephal, luka (-).

Mata
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),reflek cahaya (+/+), pupil isokor
(2mm/2mm), sekret (+/+), air mata (+/+)

Hidung
Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-)

Mulut
bibirpucat (-), sianosis (-),

Telinga
Daun telinga bentuk normal, sekret (-/-)
4

Tenggorok
Uvula di tengah, faring hiperemis (-), tonsil T1 - T1.

Leher
Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak
membesar.

Thoraks
Bentuk

: normochest, retraksi (-/-),

Cor

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: iktus kordis tidak tampak


: iktus kordis teraba di SIC V LMCS, tidak kuat angkat
:

Batas kiri atas

: SIC II Linea parasternalis Sinistra

Batas kiri bawah

: SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra

Batas kanan atas

: SIC II Linea parasternalis Dextra

Batas kanan bawah

: SIC IV Linea parasternalis Dextra

Batas jantung kesan tidak melebar


Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
Pulmo

Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri


Palpasi
: fremitus raba sulit dievaluasi
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
-

Abdomen
Inspeksi : Dinding perut sama dengan dinding dada, caput medusae (-)
Auskultasi: Bising usus (+) N
Perkusi : Pekak
Palpasi
: Supel,nyeri tekan (-)

Ekstremitas
Akral Dingin
-

Capillary refill time < 2 detik

Oedem
-

Arteri dorsalis pedis teraba kuat


Status Oftalmologi:
5

AV
Kedudukan
Pergerakan

OD
SDE
Simetris
membuka dan menutup mata (+),

OS
SDE
Simetris
membuka dan menutup mata (+),

Palpebra

tertinggal (-)
edema (+), hiperemi (-), hematom

tertinggal (-)
edema (-), hiperemi (-), hematom

(-), benjolan-benjolan (-)


Bleeding(-),injeksi silier (-),injeksi
konjungtiva (+), air mata (+),
secret(+),pterigium(-)

(-), benjolan-benjolan (-)


Bleeding(-),injeksi silier (-),injeksi
konjungtiva
(-),secret(-),pterigium(-)

Kornea

Jernih(+), abrasi(-), sikatrik(-),


keratik presipitat(-), infiltrate(-),
ulkus(-)

Jernih(+), abrasi(-), sikatrik(-),


keratik presipitat(-), infiltrate(-),
ulkus(-)

Bilik mata depan


Iris/pupil

jernih (+)
reflek pupil (+), bulat (2-3mm),

jernih (+)
reflek pupil (+), bulat (2-3mm),

central (+), jernih (+)

central (+), jernih (+)

Jernih (+)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Jernih (+)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Konjungtiva

Lensa
Vitreus
Retina

4. RESUME
Pasien datang ke Puskesmas Ngeronggot dengan keluhan mata kanannya
merah sejak kemarin. Selain itu pasien juga mengeluh bahwa matanya
bengkak, sering keluar air mata (nerocoh), dan pagi hari ketika bangun tidur
terasa lengket karena mengeluarkan kotoran mata (belekan) berwarna
kekuningan, pasien juga sering mengucek-ngucek matanya karena gatal.
Pemeriksaan fisik didapatkan KU: baik, CM, Tanda vital: Nadi: 87x/menit,
RR: 18 x/menit, Suhu: 36,50C. Status Oftalmologi: Konjungtiva OD injeksi
konjungtiva (+/-), air mata (+/-), sekret mata (+/-).
5. DAFTAR MASALAH
1. Mata Merah
2. Mata Bengkak

3. Keluar air mata


4. Sekret mata
5. Gatal
6. DIAGNOSIS HOLISTIK
sdr. A, 25 Th, dengan mata kanan merah, dengan keluarga yang saling
memperhatikan, serta saling mendukung.
2.6.1

Diagnosis Biologis
OD Konjungtivitis Bakterialis

2.6.2

Diagnosis Psikologis
Hubungan antar anggota keluarga cukup baik..

2.6.3

Diagnosis Sosial Ekonomi


Orang tua sdr.A memiliki hubungan sosial dengan tetangga yang cukup

bagus. Status ekonomi. Penghasilan keluarga relatif mampu. Penghasilan


didapat dari kedua orang tua pasien yang bekerja sebagai petani.
7. PENATALAKSANAAN
2.7.1

Non Medikamentosa
Sering membersihkan kotoran mata dengan menggunakan handuk yang

dibasahi dengan air hangat suam kuku


2.7.2

Medikamentosa
R/ Cloramphenicol ED

No.1

S 3dd gtt I OD
R/ CTM
tab
B1
tab
Mfla pulv
S 3 dd Pulv I
2.7.3

No.IX

KIE
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang diderita merupakan
penyakit yang dapat disembuhkan, namun dapat menular kepada
orang-orang sekitar.
Menganjurkan pasien untuk tidak menggosok-gosok matanya, setiap
kali pasien memegang mata yang sakit pasien harus mencuci tangan.
Sapu tangan, handuk, dan kain lap sebaiknya digunakan terpisah agar
tidak menularkan ke orang lain.

Penggunaan botol obat tetes digunakan untuk satu orang, jangan


dipakai bersama-sama
Jika mata terasa gatal jangan mengucek-ngucek mata dengan tangan,
tetapi dapat menggunakan tisue basah tanpa kandungan alkohol
ataupun tisue kering, supaya kotoran yang menempel dimata tidak
menggesek-gesek kornea mata dan mencegah bakteri dari tangan
masuk menyebar ke mata.
8. PROGNOSIS

Dubia ad bonam

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA
Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah
No

Nama

Status

L/P

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Pasien

Ket

PKM
1

Tn.R

Suami

30Th

SD

Petani

(KK)
2

Ny. S

Istri

28Th

SD

Petani

An. A

Anak ke 1

3 Th

Conjungtivitis
OD

Sumber : Data Primer, 23 Januari 2016


Kesimpulan :
Keluarga pasien merupakan Nuclear Family yang terdiri atas 3 orang. Pasien
adalah An.A, umur 3 tahun, beralamat didesa Kemantren Rt.04, Rw.06. Diagnosa
klinis pasien adalah Conjungtivitis OD. Pasien tinggal bersama dengan orang tua,
ayah (Tn. R, 30th) dan ibu (Ny. S, 28 Th).

3.1 FUNGSI HOLISTIK


3.1.1 Fungsi Biologis

Keluarga terdiri dari ayah (Tn.R, 30 tahun), istri (Ny.S, 28 tahun), anak
pertama (An.A, 3tahun).
3.1.2

Fungsi Psikologis
Penderita tinggal bersama orang tua, yaitu ayah dan ibunya. An.A

adalah seorang anak berumur 3 tahun yang selalu aktif dan lincah bermain
bersama teman-teman sebayanya. Hubungan orang tua An.A cukup terjalin
dengan baik dan saling memperhatikan, walaupun Tn.R dan Ny.S
kesehariannya sibuk bekerja sebagai petani tebu. Meskipun kedua orang
tua pasien sibuk bekerja, tetapi mereka selalu berkumpul bersama. Hal ini
terbukti pada saat pasien berobat ke puskesmas, kedua orang tua pasien
ikut mengantar pasien berobat.
3.1.3

Fungsi Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga An.A hanya sebagai anggota

masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam


masyarakat. Dalam kehidupan sosial keluarga An.A kurang berperan aktif
dalam kegiatan kemasyarakatan.
3.1.4

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan


Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan kedua orang tua An.A yang

bekerja sebagai petani. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan, minum
mengandalkan dari penghasilan kedua orang tua pasien.
Kesimpulan :
Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya
adalah Keluarga An.A, umur 3 tahun dengan Conjungtivitis bakteri, fungsi
psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik.
3.2 FUNGSI FISIOLOGIS
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga
yang lain. APGAR score meliputi :
1.

Adaptasi

10

Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga


yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang
lain.
2.

Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota
keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut.

3.

Growth
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga tersebut.

4.

Affection
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga.

5.

Resolve
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu
yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata 5 kurang, 6-7 cukupdan
8-10 adalah baik.

Tabel 3.APGAR score Tn.R=


APGAR Tn.R Terhadap Keluarga
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerimadan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan
R Saya puas dengan carakeluarga saya
dansaya membagi waktu bersama-sama

Sering/
Selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

Untuk Tn.R APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

11

Adaptation : Saat Tn.Rsedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung


sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Tn.R dengan
keluarga.
Score : 2
Partnership : Pekerjaan Tn.R yaitu sebagai petani tidak menyebabkan hambatan
dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga.
Score : 2
Growth : Tn.R sering berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena
Tn.R bekerja dekat dengan rumah, sehingga selalu berinteraksi dengan keluarga
Score : 2
Affection : Tn.R jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara
langsung.
Score : 1
Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga sangat cukup.
Score : 2
Tabel 4.APGAR score Ny.S=
APGAR Tn.H Terhadap Keluarga

Sering/ Kadang
Selalu
-kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

keluarga saya bila saya menghadapi


masalah.
P Saya puas dengan cara keluarga saya

membahas dan membagi masalah dengan


saya.
G Saya puas dengan cara keluarga saya

menerimadan mendukung keinginan saya


untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.
A Saya puas dengan cara keluarga saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan


merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan

saya membagi waktu bersama-sama


Untuk Ny.S APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

Jarang
/tidak

12

Adaptation : Saat Ny.Ssedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung


sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Ny.S dengan
keluarga.
Score : 2
Partnership : Pekerjaan Ny.Syaitu petani sehingga tidak menyebabkan hambatan
dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga.
Score : 2
Growth : Ny.Ssering berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena Ny.S
bekerja dekat dengan rumah.
Score : 2
Affection : Ny.S jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara
langsung.
Score : 1
Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga sangat cukup.
Score : 2
APGAR score keluarga An.N = (9+9) : 2 = 9
Kesimpulan :Fungsi fisiologis keluarga An.N adalah baik.
3.3 FUNGSI PATOLOGIS
Fungsi patologis dari keluarga An.N dinilai dengan menggunakan alat
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :
SCREEM keluarga pasien
SUMBER
Social
Culture
Religious
Economic
Educational
Medical

PATOLOGIS
Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya
Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat
pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa
sebagai bahasa sehari-hari.
Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam
ketaatannya dalam beribadah.
Penghasilan keluarga yang relatif stabil
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini kurang, dimana
orang tua An.N, ayah pasien Tn.Mberpendidikan SMP, dan ibu
pasien Ny.S lulusanSD
Keluarga ini cukup mampu membiayai pelayanan kesehatan,
sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit akan segera

13

KET
-

dibawa ke tenaga medis setempat.


Kesimpulan
Keluarga An.A tidak mempunyai fungsi patologis
3.4 POLA INTERAKSI KELUARGA
Diagram 1.Pola interaksi keluarga An.A
Tn. R, 30th

Ny. S, 28 th

An. A, 3 th

Keterangan :
: Hubungan baik
: Hubungan tidak baik
Kesimpulan

: Hubungan antara keluarga An.A baik

3.5 GENOGRAM KELUARGA


Alamat lengkap : Jatingui Rt.04, Rw.06
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Diagram 2. Genogram keluarga An.N
Tn. R

Ny.
S

An.
An.
A
A

Kesimpulan:

Riwayat Conjungtivitis tidak ditemukan pada anggota keluarga lainnya

14

BAB IV
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN
4.1 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
4.1.1 Faktor Perilaku Keluarga
An.A adalah seorang anak perempuan dengan keluhan mata kanan merah
sejak 1 hari yang lalu, pasien kemudian berobat ke Puskesmas
Sumberpucung. Kedua orang tua pasien bekerja sebagai petani dengan
pendidikan sang ayah lulusan SD, dan ibu pasien lulusan SD sehingga belum
banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan khususnya komplikasi dari
conjungtivitis.
Dari luar, rumah tampak sederhana, perabot rumah ditata dengan rapi.
Keluarga An.A mempunyai sejumlah hewan peliharaan, yaitu kambing dan sapi
yang kandangannya berada di halaman belakang rumah.
4.1.2

Faktor Non Perilaku

15

Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga kurang


mampu .Sumber penghasilan berasal dari kedua orang tua pasien. Rumah yang
dihuni keluarga ini kecil. Pencahayaan ruangan kurang, ventilasi kurang, ada
fasilitas WC dan kamar mandi namun kurang bersih. Fasilitas kesehatan yang
sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah bidan, karena dekat dengan
tempat tinggal pasien.

Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku


Lingkungan:
Keluarga Kurang
memahami pentingnya
kebersihan lingkungan
terhadap kesehatan pasien

Pengetahuan :
Keluarga kurang
mengetahui penyakit
pasien
Sikap:
Keluarga cukup
memperhatikan
penyakit pasien

Keluarga An. A

Pelayanan Kesehatan:
Jika sakit An. A berobat ke
bidan setempat

Keterangan:
Faktor Perilaku
Faktor Non perilaku

16

4.2 Identifikasi Lingkungan Rumah


4.2.1 Gambaran Lingkungan
Dinding rumah terbuat dari dari bata sedangkan lantai rumah terbuat dari
semen. Rumah ini terdiri dari empat ruangan yaitu ruang tamu, 2 kamar tidur,
satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah ini mempunyai dua pintu untuk
keluar masuk (di bagian depan& belakang). Atap dari genteng.Keluarga ini
sudah mempunyai fasilitas MCK keluarga. Ventilasi udara dan pencahayaan
kurang.

4.2.2

Denah Rumah
5m
Kamar
mandi

Kamar
tidur 2

Kamar
tidur 1

Dapur + ruang makan

Ruang keluarga

10 m

Ruang tamu

Kesimpulan :
Lingkungan rumah kurang memenuhi syarat kesehatan.

17

BAB V
DAFTAR MASALAH
5.1 MASALAH MEDIS :
1. Conjungtivitis bakteri dd Conjungtivitis virus
- Conjungtivitis alergika
5.2 MASALAH NON MEDIS :
1.
Tingkat

pengetahuan

keluarga

An.N

tentang

kesehatan kurang.
2. Kondisi lingkungan dan rumah Tn.M kurang sehat.
5.3 PERMASALAHAN PASIEN
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Diagram 5. Permasalahan Keluarga An.A
Kondisi lingkungan dan
rumah Tn.R kurang sehat

Tingkat
pengetahuan
keluarga An.A tentang
kesehatan kurang

An.A 3 th
Conjungtivitis bakteri

5.4 MATRIKULASI MASALAH


Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996)
Tabel 7.Matrikulasi masalah
No

Daftar Masalah

Jumlah
18

1.

Tingkat

pengetahuan

P
5

S
5

SB
4

Mn
4

Mo Ma
3
4

IxTxR
9.600

keluarga An.A tentang


kesehatan kurang
Kondisi
lingkungan
dan
rumah
An.A
kurang sehat

2.

972

Keterangan :
I

: Importancy (pentingnya masalah)

P : Prevalence (besarnya masalah)


S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material(pentingnya masalah)
Kriteria penilaian :
1

: tidak penting

: agak penting

: cukup penting

: penting

: sangat penting

5.5 PRIORITAS MASALAH


Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga
An.A adalah sebagai berikut :
1.

Tingkat pengetahuan keluarga An.A tentang kesehatan kurang.


Kesimpulan :
Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuankeluarga An.A
tentang kesehatan kurang, sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya.

2.

Kesehatan lingkungan rumah An.A kurang


Kesimpulan :

19

Prioritas masalah yang diambil adalah kesehatan lingkugan rumahAn.A


kurang bersih, sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya dan kesembuhan
penyakit

20

4.6 HUBUNGAN ANTARA STATUS EKONOMI DAN SOSIAL BUDAYA


DENGAN KASUS KONJUNGTIVITIS An.A
A.

EKONOMI KELUARGA
Kondisi perekonomian keluarga An.A termasuk kurang mampu, namun

demikian keluarga ini masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk


pemenuhan kesehatan keluarga An.A tidak memiliki kartu jaminan kesehatan,
walaupun kondisi ekonomi penderita yg kurang, namun bila penderita sakit lebih
sering dibawah ke bidan yang dekat dengan rumah pasien.
B.

HAMBATAN SOSIAL BUDAYA PENANGANAN KONJUNGTIVITIS


Secara garis besar hambatan sosio budaya dalam penanggulangan

konjungtivitistidaklah terlalu besar walaupun pengetahuan pasien kurang, namun


apabila pasien ada masalah pasien dapat mengakses pusat kesehatan terdekat.
Baik faktor kebiasaan, kepercayaan, dan sikap, tidak terlalu bepengaruh
pada penanganan Konjungtivitis.

21

BAB VI
TINAJUAN PUSTAKA
6.1 Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini
adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva
terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang
mengganggu (Vaughan, 2010). Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan
dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen
kental (Hurwitz, 2009).
Jumlah agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi pada
mata semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan oat-obatan
topical dan agen imunosupresif sistemik, serta meningkatnya jumlah pasien
dengan infeksi HIV dan pasien yang menjalani transplantasi organ dan menjalani
terapi imunosupresif (Therese, 2002).
6.2 Epidemiologi
Konjungtivitis adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia dan dapat
diderita oleh seluruh masyarakat tanpa dipengaruhi usia. Walaupun tidak ada
dokumen yang secara rinci menjelaskan tentang prevalensi konjungtivitis, tetapi
keadaan ini sudah ditetapkan sebagai penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat (Chiang YP, dkk, 1995 dalam Rapuano et al, 2005).
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering
dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang tidak Hygiene.
6.3 Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti:
a. Konjungtivitis bakteri.
b. Konjungtivitis klamidia.
c. Konjungtivitis viral.
d. Konjungtivitis ricketsia.
e. Konjungtivitis jamur.

22

f. Konjungtivitis parasit.
g. Konjungtivitis alergi.
h. Konjungtivitis kimia atau iritatif (Vaughan, 2008).
5
6
6.4 Tanda dan Gejala
Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah
olehvtangan. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang
dapatvmenyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll.
Konjungtivitis bakteri bisa dicurigai pada setiap pasien dengan inflamasi
konjungtiva bilateral dan sekret purulen. Biasanya keluhan konjungtivitis yang
disebabkan bakteri adalah iritasi dan kemerahan kedua mata, kelopak mata
menempel sehingga mengakibatkan sulit dibuka di pagi hari, keluar kotoran pus
kekuningan,kadang-kadang kelopak mata bengkak.
Tanda klinis yang ditemukan seperti inflamasi konjungtiva bilateral,
injeksi konjungtiva, secret purulen, dan edema palpebra.Onset dan keparahan
inflamasi konjungtiva serta sekret yang keluar dapatdigunakan untuk memprediksi
kemungkinan bakteri penyebab konjungtivitis.
Pada konjungtivitis bakteri hiperakut gejala klinisnya

yaitu onset

injeksikonjungtiva yang cepat, edema palpebra, sekret purulen banyak, kemosis,


dan rasatidak nyaman atau nyeri.
Konjungtivitis bakteri akut sering terdapat dalam bentuk epidemik dan
disebutmata merah oleh orang awam.Penyakit ini ditandai dengan dengan
hiperemiakonjungtiva secara akut dan biasanya sembuh sendiri.
Penyebab

tersering

adalahS pneumoniae,S aureus, danH influenzae.S pneumoniaemerupakan penyeb


abtersering konjungtivitis bakteri akut dengan manifestasi klinis sekret purulen,
edema palpebra, kemosis, perdarahan konjungtiva, dan adanya membran
konjungtiva padakonjungtiva palpebralis.

23

6.5 Pemeriksaan Laboratorium


Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapatdiketahui
dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtivayang dipulas
dengan

pulasan

Gram

atau

Giemsa,

pemeriksaan

inimengungkapkan banyak neutrofil polimorfonuklear.


Kerokankonjungtiva

untuk

pemeriksaan

mikroskopik

dan

biakan

disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen,
bermembran atauberpseudomembran.Studi sensitivitas antibiotika juga baik,
namunsebaiknya

harus

dimulai

terapi

antibiotika

empiris.Bila

hasil

sensitifitasantibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan.


6.6 Komplikasi
Penyakit

radang

mata

yang

tidak

segera

ditangani/diobati

bisa

menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan


komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani
diantaranya:
a. Ulserasi kornea.
b. Membaliknya bulu mata ke dalam (trikiasis).
c. Membaliknya seluruh tepian palpebra (enteropion).
d. Obstruksi ductus nasolacrimalis.
e. Turunnya kelopak mata atas karena kelumpuhan (ptosis) (Vaughan, 2008).
6.7 Penatalaksanaan
Pilihan

manajemen

secara

klinis

pada

conjungtivitis

bisa

menjadi

kompleks.Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus


diajari bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata
orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak
menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci
tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap,
handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit.

24

Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari
penyebaran konjungtivitis antar pasien.
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis
karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau
antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena
jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama
ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena
alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau
kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan
edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2
sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan
mengurangi gejala pada kasus ringan. Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan
steroid topikal atau kombinasi antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan
apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte)
satu tetes cukup efektif, tanpa adanya kontraindikasi.
6.8 Prognosis
Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun
jika bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan
kerusakan pada mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Keratitis,
Glaukoma, katarak maupun ablasi retina (Barbara C.Long, 1996).

25

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Diagnosis Holistik :
An. A,3 tahun, dengan Conjungtivitis bakteri dd Conjungtivitis virus,
Conjungtivitis alergi dengan hubungan antar anggota keluarga cukup baik.
Dapat dilihat dari kedua orang tua pasien yang sangat memperhatikan
kesehatan pasien.
1. Segi Biologis
Conjungtivitis bakteri dd Conjungtivitis virus
- Conjungtivitis alergika
2. Segi Psikologis
Penderita tinggal bersama orang tua, yaitu ayah dan ibunya. An.A
adalah seorang anak berumur 3 tahun yang selalu aktif dan lincah
bermain bersama teman-teman sebayanya. Hubungan orang tua An.A
cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan, walaupun Tn.R
dan Ny.S kesehariannya sibuk bekerja, pekerjaan orang tua pasien
adalah petani tebu

untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka selalu

berkumpul bersama saat malam hari. Hal ini terbukti pada saat pasien
berobat ke puskesmas, kedua orang tua pasien ikut mengantar pasien
berobat.
3. Segi Sosial Ekonomi dan Budaya
a. Status ekonomi keluarga An.A kurang mampu.
b. Penyakit An.A cukup mengganggu aktifitas sehari-hari.
c.Kondisi lingkungan dan rumah yang kurang

memenuhi standar

kesehatan.
d. Kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

26

7.2 SARAN
Memberikan pengertian kepada keluarga pasien mengenai pentingnya
berobat bila sakit bertambah parah untuk mencegah komplikasi dari penyakit
pasien An.A agar dapat menangani secepat mungkin penyakit yang diderita,
serta edukasi kepada keluarga perilaku hidup bersih sehat.

Menganjurkan pasien untuk tidak menggosok gosok matanya. Setiap kali


pasien memegang mata yang sakit pasien harus mencuci tangan.

Sapu tangan, handuk dan kain lap sebaiknya digunakan terpisah agar tidak
menularkan ke orang lain.

Menggunakan kaca mata untuk melindungi mata dari debu dan angin yang
dapat memperparah gejala.

Penggunaan botol obat tetes digunakan untuk satu orang, jangan dipakai
bersama-sama.

Jika mata terasa gatal jangan mengucek-ngucek mata dengan tangan, tetapi
dapat menggunakan tisue basah tanpa kandungan alkohol ataupun tisue
kering, supaya kotoran yang menempel dimata tidak menggesek-gesek
kornea mata dan mencegah bakteri dari tangan masuk menyebar ke mata.

DAFTAR PUSTAKA

27

1.

Vaughan, D.G., et al. Oftalmologi Umum, Edisi 11, Cetakan I, Widya


Medika, Jakarta, 1995: Hal 89-122

2.

Vaughan, D.G. et al. General opthalmologi, Edisi 17, Widya Medika,


Jakarta, 2007: Hal 98-125

3.

James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005

4.

Ilyas S. Konjungtivitis. Dalam: Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga.


Jakarta, FKUI: 2005

5.

Ilyas DSM, Sidarta,.Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Jakarta. 1998

6.

Wijana N. Konjungtiva dalam Ilmu penyakit Mata. Jakarta,


Binarupaaksara: 1996

28