Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang diceuskan oleh Gagne dan

Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Seseorang dianggap telah belajar jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan
output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan
oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk
diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati
adalah stimulus dan respon. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus)
dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
1.2.

Rumusan Masalah
1.2.1.
1.2.2.
1.2.3.
1.2.4.
1.2.5.
1.2.6.

Apakah pengertian teori behaviorisme?


Bagaimana proses pembelajaran behaviourisme?
Bagaimana aplikasi dalam pembelajaran behaviorisme?
Siapa saja tokoh-tokoh yang mendukung teori behaviorisme?
Bagaimana peranan guru dan siswa dalam teori behaviorisme?
Apa keunggulan dan kelemahan teori-teori perilaku?

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 1

1.3.

Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian teori behaviorisme.
1.3.2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran behaviourisme.
1.3.3.
Untuk mengetahui bagaimana aplikasi dalam pembelajaran
behaviorisme.
1.3.4. Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang mendukung teori behaviorisme.
1.3.5. Untuk mengetahui peranan guru dan siswa dalam teori behaviorisme.
1.3.6. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan teori-teori perilaku

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Teori Behaviorisme


Dalam teori behaviorisme, yang dianalisa hanya perilaku yang tampak saja, yang

dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Teori Behavioristik merupakan sebuah teori
yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang
berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal
sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar.
Menurut teori behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai
proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulasi dan respons.
Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal
dari lingkungan.
Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia.
Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap
lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal
ini, timbulah konsep manusia mesin (Homo Mechanicus).
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat
mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau
respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,
mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya
perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya
bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau
reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat
jalinan erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut
pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap
lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan
tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang
pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 3

biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagianbagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagianbagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek.
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik.
Namun dari semua teori yang ada, teori Skinner yang paling besar pengaruhnya
terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran
seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program
pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta
mementingkan

faktor-faktor

penguat

(reinforcement),

merupakan

program

pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.


Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan
situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan
dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan
stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat
emosi peserta didik, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai
kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya
terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat
kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon
yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau
perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan peserta didik untuk berfikir
linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa peserta didik menuju dan
mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan
berimajinasi.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas mimetic, yang menuntut peserta
didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk
laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 4

yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih
banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan
mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi
menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan
biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban
yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara benar sesuai dengan
keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas
belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini
menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
2.2.

Proses Pembelajaran Behaviourisme


2.2.1. Pengkondisian Klasik dalam Pembelajaran
Pada awal tahun 1900-an, seorang ahli fisiologi Rusia bernama Ivan Pavlov

melakukan suatu eksperimen secara sistematik dan saintifik dengan tujuan mengkaji
bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organism. Eksperimen itu terkenal dengan
teori kondisioning klasik (classical conditioning), yaitu sejenis pembelajaran dimana
sebuah organisme belajar untuk menghubungkan atau mengasosiasikan stimulus dengan
respon.
Dalam pengkondisian klasik, sebuah stimulus netral (contoh: bel) diasosiasikan
dengan stimulus yang mempunyai makna (contoh:makanan) dan mendatangkan
kepastian untuk mendatangkan respon yang sama. Untuk memahami teori kondisioning
klasik secara menyeluruh perlu dipahami bahwa ada dua jenis stimulus dan dua jenis
respon. Dua jenis stimulus tersebut adalah stimulus yang tidak terkondisi
(unconditioned stimulus-UCS), yaitu stimulus yang secara otomatis menghasilkan
respon tanpa didahului dengan pembelajaran apa pun (contoh: makanan) dan stimulus
terkondisi (conditioned stimimulus-CS), yaitu stimulus yang sebelumnya bersifat
netral,akhirnya mendatangakan sebuah respon yang terkondisi setelah diasosiasikan
dengan stimulus tidak terkondisi (contoh: suara bel sebelum makan datang).

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 5

Dua respon tersebut adalah respon yang tidak terkondisi (unconditioned responUCS), yaitu sebuah respon yang tidak terkondisi (contoh: keluarnya air liur anjing
setelah melihat makanan) dan respon terkondisi (conditioned respon-CR), yaitu sebuah
respon yang dipelajari terhadap stimulus yang terkondisi yang terjadi setelah terkondisi
dipasangkan dengan stimulus terkondisi (contoh: keluarnya air liur anjing setelah
melihat makanan yang bersama dengan suara bel).
Berdasarkan hasil eksperimen diperoleh kesimpulan yang berkenaan dengan
cara perubahan tingkah laku, yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu :
a. Penguasaan (Acquisition)
Penguasaan yaitu cara organisme mempelajari atau menguasai sesuatu respon
baru yang berlangsung secara bertahap. Seringkali organisme itu juga mencoba dan
berusaha lebih menguatkan penguasaan yang bersangkutan.
b. Generalisasi
Dalam mempelajari respon terhadap stimulus serupa, anjing akan mengeluarkan
air liur begitu mendengar suara-suara yang mirirp dengan bel, contoh suara peluit
(karena anjing mengeluarkan air liur ketika bel dipasangkan dengan makanan).
Jadi,generalisasi melibatkan kecenderungan dari stimulus baru yang serupa dengan
stimulus terkondisi asli untuk menghasilkan respon serupa. Contoh, seorang peserta
didik merasa gugup ketika dikritik atas hasil ujian yang jelek pada mata pelajaran
matematika. Ketika mempersiapkan ujian Fisika, peserta didik tersbut akan merasakan
gugup karena kedua pelajaran sama-sama berupa hitungan. Jadi kegugupan peserta
didik tersebut hasil generalisasi dari melakukan ujian mata pelajaran satu kepada mata
pelajaran lain yang mirip.
c. Diskriminasi
Organisme merespon stimulus tertentu, tetapi tidak terhadap yang lainnya.
Pavlov memberikan makanan kepada anjing hanya setelah bunyi bel, bukan setelah
bunyi yang lain untuk menghasilkan deskriminasi. Contoh, dalam mengalami ujian
dikelas yang berbeda, pesrta didik tidak merasa sama gelisahnya ketika menghadapi
ujian bahasa Indonesia dan sejarah karena keduanya merupakan subjek yang berbeda.
d. Pelemahan (extincition)
Proses melemahnya stimulus yang terkondisi dengan cara menghilangkan
stimulus tak terkondisi. Pavlov membunyikan bel berulang-ulang, tetapi tidak disertai

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 6

makanan. Akhirnya, dengan hanya mendengar bunyi bel, anjing tidak mngeluarkan air
liur. Contoh, kritikan guru yang terus menerus pada hasil ujian yang jelek, membuat
peserta didik tidak termotivasi belajar. Padahal, sebelumnya peserta didik pernah
mendapat nilai ujian yang bagus dan sangat termotivasi belajar. Dalam bidang
pendidikan, teori kondisioning klasik digunakan untuk mengembangkan sikap yang
menguntungkan terhadap pesrta didik untuk termotivasi belajar dan membantu guru
untuk melatih kebiasaan positif pesrta didik.
2.2.2. Pengkondisian Operan Terhadap Pembelajaran
B.F.Skinner

terkenal

dengan

teori

pengkondisian

operan (operant

conditioning) atau juga disebut pengkondisian instrumental (instrumental conditioning),


yaitu suatu bentuk pembelajaran dimana konsekuensi perilaku menghasilkan berbagai
kemungkinan

terjadinya

perilaku

tersebut.

Penggunaan

konsekuensi

yang

menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku itulah yang disebut
dengan pengkondisian operan.
Prinsip teori Skinner ini adalah hukum akibat, penguatan atau penghargaan dan
konsekuensi. Prinsip hukum akibat menjelaskan bahwa perilaku yang diikuti hasil
positif akan diperkuat dan perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.
Penguatan merupakan suatu konsekuensi yang meningkatkan peluang terjadinya suatu
perilaku. Konsekuensi adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan yang terjadi
setelah perilaku dan memengaruhi frekuensi prilaku pada waktu yang akan dating.
Konsekuensi yang menyenangkan disebut tindakan penguatan dan konsekuensi yang
tidak menyenangkan disebut hukuman.
1) Prinsip-Prinsip Dalam Pengkondisian Operan
Menurut skinner, pengkondisian operan terdiri dari dua konsep utama, yaitu :
Penguatan (Reinforcement)
Menurut Skinner, untuk memperkuat perilaku atau menegaskan perilaku
diperlukan suatu penguatan (reinforcement). Ada juga jenis penguatan, yaitu penguatan
positif dan penguatan negative.
Penguatan positif (positive reninforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi
dari suatu respon akan meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung
penghargaan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 7

stimulus menyenangkan. Contoh, peserta didik yang selalu rajin belajar sehingga
mendapat rangking satu akan diberi hadiah sepeda oleh orang tuanya. Perilaku yang
ingin diulang atau ditingkatkan adalah rajin belajar sehingga menjadi rangking satu dan
penguatan positif/stimulus menyenangkan adalah pemberian sepeda.
Penguatan negatif (negatve reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari
suatu respon akan meningkat karena diikuti dengan suatu stimulus yang tidak
menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat
karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh,
pesreta didik sering bertanya dan guru menghilangkan/tidak mengkritik terhadap
pertanyaan yang tidak berkenan dihati guru sehingga peserta didik akan sering
bertanya. Jadi, perilaku yang ingin di ditingkatkan adalah sering bertanya dan stimulus
yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan adalah kritikan guru sehingga peserta
didik tidak malu dan akan sering bertanya karena guru tidak mengkritik pertanyaan
yang tidak berbobot/melenceng.
Hukuman
Hukuman (punishmen) yaitu suatu konsekuensi yang menurunkan peluang
terjadinya suatu perilaku. Jadi, perilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau
bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh:
peserta didik yang berperilaku mencontek akan diberikan sanksi, yaitu jawabannya
tidak diperiksa dan nilainya 0 (stimulus yang tidak menyenangkan/hukuman). Perilaku
yang ingin dihilangkan adalah perilaku mencontek dan jawaban tidak diperiksa serta
nilai 0 (stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman).
Perbedaan antara penguatan negatif dan hukuman terletak pada perilaku yang
ditimbulkan.

Pada

penguatan

negatif,

menghilangkan

stimulus

yang

tidak

menyenangkan (kritik) untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan (sering bertanya).


Pada hukuman, pemberian stimulus yang tidak menyenangkan (nilai 0) adalah untuk
menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan (perilaku mencontek).
2) Pembentukan Tingkah Laku Melalui Pengkondisian Operan
a. Pembentukan Respon
Bersasaskan

pengkondisian

operan,

Skinner

mengembangkan

tehnik

pembentukan respons untuk melatih hewan menguasai tingkah laku yang kompleks
yang juga relevan dengan tingkah laku manusia. Tehnik pembentukan respon ini

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 8

dilakukan dengan cara menguatkan organisme pada setiap kali ia bertindak kearah yang
diinginkan sehingga ia menguasai atau belajar merespon sampai pada suatu saat tidak
perlu lagi menguatkan respon tersebut. Prosedur pembentukan respon bisa digunakaan
untuk melatih tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran agar secara bertahap
mampu merespon sesuatu stimulus dengan baik. Contoh: apabila seorang guru memberi
ceramah, reaksi siswa sebagai pendengar dapat mempengaruhi bagaimana guru itu
bertindak. Jika sekelompok siswa mengangguk-anggukan kepala mereka, ini dapat
menguatkan guru tersebut untuk berceramah lebih semangat lagi.
b. Generalisasi, Diskriminasi Dan Penghapusan
Generalisasi adalah penguatan yang hampir sama dengan penguatan sebelumnya
akan dapat menghasilkan respon yang sama. Contoh: seorang siswa akan mengerjakan
PR dengan tepat waktu karena pada minggu lalu mendapat pujian didepan kelas oleh
gurunya ketika dapat menyelesaikan pr tepat waktu. Diskriminasi adalah respon
organisme terhadap sesuatu penguatan, tetapi tidak terhadap jenis penguatan yang lain.
Contoh : seorang siswa mengerjakan PR dengan tepat waktu karena mendapat pujian
dari Pak Mustafa pada mata pelajaran IPA, tetapi tidak demikian halnya ketika
mendapat pujian oleh Ibu Syarah pada mat pelajaran IPS. Penghapusan adalah suatu
respon terhapus secara bertahap apabila penguatan atau ganjaran tidak diberikan lagi.
Contoh : seorang siswa yang mampu mengerjakan PR dengan tepat waktu tadi bisa
secara bertahap menjadi tidak tepat waktu karena gurunya tidak pernah lagi
memberikan pujian sama sekali.
c. Jadwal Pemberian Penguatan
Penguatan berkelanjutan (Continuos Reinforcement)
Penguatan diberikan secara terus menerus setiap muncul respon atau perilaku
yang diharapkan. Contoh: setiap anak mau mengerjakan PR (meskipun banyak yang
salah), orang tua selalu menghilangkan kritikan (menghilangkan stimulus tidak
menyenangkan /memberikan penguat negatif). Setiap anak mau memakai sepatu sendiri
ketika akan berangkat sekolah, orang tua selalu memuji (memberikan stimulus yang
menyenangkan/penguat positif).
Penguatan waktu ( Partial Reinfocement)
Penguatan diberikan dengan menggunakan jadwal tertentu.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 9

1. Jadwal Rasio Tetap (Fixed interval Schedule FI), yaitu pemberian penguatan
berdasarkan frekuensi atau jumlah respon/tingkah laku tertentu secara tetap.
Contoh: Guru TK berkata, Jika kalian sudah selesei mengerjakan 10 soal,
kalian mendapat hadiah permen. Tanpa peduli jumlah waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan soal tersebut. Siswa mampu menyelesaikan 10 soal
(jumlah perilaku yang diharapkan) dan mendapat hadiah permen (merupakan
satu penguatan). Dalam pembelajaran, pelaksanaan penguatan ini dapat
ditingkatkan jumlah perilakunya secara bertahap, misalnya meningkat mulai 5
soal dapat dikerjakan mendapat satu penguatan (FR-5), meningkat menjadi 10
soal mampu dikerjakan satu penguatan (FR-10), dan seterusnya. Akhirnya,
peserta didik diharapkan mampu mengerjakan banyak soal dengan satu
penguatan atau bahkan tanpa adanya penguatan.
2. Jadwal Internal Tetap (Fixed Interval Schedule-FI), Pemberian penguatan
berdasarkan jumlah waktu tertentu secara tetap. Dalam, FI jumlah waktunya
yang tetap. Contoh ini sangat cocok digunakan seorang ibu untuk melatih anak
kecilnya agar mengurangi kebiasaan makan atau minum susu berlebihan. Ibu
berkata pada susternya, Si Badu hanya diberikan susu setiap 1 jam sekali. Jadi,
meskipun Si Bedu menangis, karena belum 1 jam, suster tidak boleh
memberikan susu. Minum susu setiap 1 jam (perilaku yang diharapkan) dan
pemberian susu oleh suster (penguatan yang diberikan). Jumlah waktu bisa
ditingkatkan nenjadi setiap 2 jam (FI-2), 3 jam (FI-3) sampai akhirnya menjadi 4
sekali (FI-4).
3. Jadwal Rasio Variabel ( Variable Ratio Schedule VR), Pemberian penguatan
berdasarkan perilaku, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Jadi, penguatan tetap
diberikan untuk perilaku yang diharapkan, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap.
Contoh paling tepat adalah permainan anak-anak dengan cara memasukkan koin
ke mesin untuk mendapatkan hidak tahu pada perilakuadiah. Anak tersebut tidak
tahu pada perilaku memasukkan koin yang ke berapa kali, baru memperoleh
hadiah.Contoh dalam pembelajaran adalah guru akan memberi nilai tambahan
setiap peserta didik (dari 40 peserta didik di kelas) yang menjawab benar.
Peserta didik akan mencoba untuk menjawab belum tentu benar berkalli-kaliVR ) dan tambahan nilai (penguat VR).

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 10

4. Jadwal Interval Variabel (Variabel Interval Schedule VI) Pemberian penguatan


pada suatu perilaku, tetapi jumlah waktunya tidak tetap yaitu tidak dapat
ditentukan kapan waktunya tidak tetap. Jika dalam VR, jumlah perilakunya
tetap. Dalam VI, jumlah waktunya tidak tetap. Contoh, guru secara acak
melakukan pemeriksaan secara keliling di kelas terhadap pekerjaan peserta didik
yang menjawab benar dan guru memneri pujian setiap menemukan jawaban
benar peserta didik. Peserta didik tidak tahu kapan guru menghampiri dan
melihat pekerjaannya serta memujinya jika jawabannya benar. Karena peserta
didik tidak tahu kapan gurunyamenghampiri, peserta didik tersebut selalu
berusaha mengerjakan dengan benar setiap saat. Peserta didik mengerjakan
benarsetiap saat (perilaku-VI) dan guru yang sempat menghampiri dan memberi
pujian pada waktu yang tidak tetap (penguatan-VI).
d. Penguatan Positif
Dalam peunguatan positif ini dilakukan dengan memberikan ganjaran sesegera
mungkinsetelah suatu tingkah laku yang diinginkan muncul. Contoh: seorang siswa
yang dapat menjawab pertanyaan guru secara lisan maka pada saat itujuga guru segera
memberikan pujian.
e. Keefektifan Hukuman
Hukuman hendaknya diberikan untuk perilaku yang sesuai. Terkadang hukuman
diberikan terlalu berat, terlalu ringan, bahkan bentuk hukuman yang tidak ada kaitan
dengan pperilaku yang ingin dihilangkan. Contoh: peserta didik yang tidak mengerjakan
PR harus keliling lapangan 10 X (hukuman tidak sesuai), mungkin hukuman yang
cocok, peserta didik diberikan PR yang lebih banyak daripada temannya, dan lain-lain.
f. Penghapusan
Penghapusan dilakukan dengancara tidak memberikan penguatan sama sekali
atau tidak menghiraukan respon yang muncul pada seseorang. Contoh: siswa yang
melawak atau berbicara lucu dengan maksud memancing teman-temannya, bergurau
atau agar Susana kelas menjadi gaduh, tidak diberi sapaan sama sekali oelh guru atau
bahkan tidak dihiraukan sama sekali oelh guru. Dengan cara demikian siswa yang
bersangkutan akan merasa bahwa apa yang dilakukannnya tidak berkenan dihati
gurunya sehingga tidak akan dilakukannya lagi.
g. Percontohan (Modeling)

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 11

Percontohan adalah perilaku atau respon individu yang dilakukan dengan


mencontoh tingkah laku oranglain. Misalnya : seorang siswa berusaha berbicara degan
suara keras, tidak tergesa-gesa, sistematis, dan mudah dipahami, karena ia meniru guru
IPA yang selama ini kalo mengajar selalu menunjukkanperilaku seperti itu.
h.

Token Ekonomi

Token ekonomi adalah emmberikan ganjaran berupa sesuatu yang memiliki nilai
ekonomi ketika seseorang telah mampu menunjukkan respon atau tingkah laku yang
positif sesuai dengan yang diharapkan. Contoh: guru memberikan hadiah sebuah buku
novel yang bagus ketika seorang siswa mampu menulis cerpen singkat untukmajalah
dinding disekolahnya.
2.3.

Aplikasi Dalam Pembelajaran Behaviorisme


Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari

beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta
didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan
berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti,
tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan
(transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau peserta didik. Fungsi mind atau
pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses
berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses
berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Peserta
didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang
diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus
dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, peserta didik dianggap sebagai objek
pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu,
para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan
standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para peserta
didik. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar peserta didik diukur hanya pada hal-hal
yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang
dijangkau dalam proses evaluasi.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 12

2.4.

Tokoh-Tokoh yang Mendukung Teori Behaviorisme


1. Teori Belajar Menurut Ivan P. Pavlov
Pavlov menyumbangkan pikiran dan gagasannya dalam sebuah penelitiannya

dalam bidang fsikologi yaitu tentang Refleks berkondisi yang di lakukannya di tempat
yang berbeda-beda. Dan bagian yang paling terpenting dari penelitiannya adalah dengan
berpura-pura memberi makan kepada anjing. . Percobaan dilanjutkan dengan pura-pura
memberi makan melalui botol-botol kecil yang dimasukan dan diletakan di samping
mulut anjing tersebut. Setelah diperhatikan ternyata anjing sebagai binatang percobaan
selalu mengeluarkan air liurnya sebelum makanan diletakan dekat moncongnya dan
pura-pura mulai makan. Anjing tersebut akan bertindak seperti itu jika ada makanan dan
atau sekalipun tidak diberi makanan (pura-pura memberi makanan). Dari percobaannya
tersebut Pavlov menyimpulkan bahwa hampir semua organisme perilakunya terjadi
secara refleks dan di batasi oleh rangsangan sederhana.
Teori belajar classical conditioning kadang-kadang disebut juga respont
conditioning atau Pavlovian Conditioning, merupakan teori belajar katagori StimulusRespon (S-R) tipe S. Esensi berlakunya classical conditioning adalah adanya dua
stimulus yang berpasangan. Satu stimulus yang dinamakan conditioned stimulus (CS)
atau kita sebut saja stimulus yang berkondisi. Stimulus ini dinamakan stimulus netral
sebab kecuali untuk menjaga respon yang pertama kalinya diberikan dalam beberapa
saat, tidak menghasilkan respon khusus. Stimulus lainnya adalah unconditioned
stimulus (US) atau kita sebut saja stimulus yang tidak berkondisi. Stimulus ini
menghasilkan respon yang sipatnya reflek yang kita namakan unconditioned response
(UR) atau kita sebut saja respon yang tidak berkondisi. Pasangan kedua stimulus ini
yakni stimulus berkondisi dan tidak berkondisi (CS dan US) biasanya terjadi di mana
stimulus berkondisi (CS) timbul atau datang pada waktu yang relatif singkat sebelum
stimulus yang tidak berkondisi (US) diberikan. Selang waktu antara stimulus berkondisi
dengan stimulus tidak berkondisi dinamakan interstimulus interval.
Hasil daripada pasangan stimulus ini, di mana stimulus yang tidak berkondisi
yang didahului oleh stimulus berkondisi adalah dimulainya respon yang sama yakni
respon tidak berkondisi (unconditioned respon atau UR). Setelah terjadi proses belajar
stimulus berkondisi menghasilkan respon. Respon tersebut dinamakan respon

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 13

berkondisi(CR). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa situasi atau classical


conditioning adalah sebagai berikut:apabila stimulus berkondisi dan stimulus tak
berkondisi dipasangkan dalam jumlah waktu dan interval waktu dengan benar, stimulus
berkondisi yang asli dan netral akan memulai menghasilkan respon yang sama dengan
respon yang dihasilkan oleh stimulus tak berkondisi sebelum dipasangkan. Responrespon khusus yang dihasilkanoleh stimulus berkondisi yang asli dan netral adalah apa
yang dinamakan belajar classical conditioning. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa stimulus takl bersarat/tak berkondisi dapat menghasilkan respon atau tanggapan
tak bersarat/berkondisi dan stimulus tambahan yakni stimulus berkondisi akan
menghasilkan respon baru yakni respon atau tanggapan berkondisi. Dengan konsep ini
maka stimulasi biasa yang asli dan netral sewaktu-waktu akan menghasilkan reson atau
tanggapan asli atau respon berkondisi. Konsep lain yang perlu dijelaskan adalah
pelenyapan dan penyembuhan spontan dalam teori classical conditioning dari percobaan
Pavlov.
Setelah respon berkondisi tercapai, apakah yang akan terjadi bila stimulus
berkondisi diulang atau diberikan kembali tanpa diikuti oleh stimulus tak berkondisi?
Dalam hal ini akan terjadi pelenyapan atau padam atau hilang. Dengan kata lain
pelenyapan adalah tidak terjadinya respon atau menurunnya kekuatan respon pada saat
diberikan kembali stimulus berkondisi tanpa diikuti stimulus tak berkondisi setelah
terjadinya respon. Sedangkan penyembuhan spontan adalah suatu tindakan/usaha nyata
untuk

menghalangi

terjadinya

pelenyapan.

Satu

diantaranya

ialah

melalui

rekonditioning atau mengkondisi kembali melalui pemberian kedua stimulus secara


berpasangan.
Konsep lain dari classical conditioning adalah stimulus generalisasi dan
diskriminasi. Dalam hal ini Pavlov menyatakan bahwa respon berkondisi timbul
terhadap stimulus yang tidak berpasangan atau tidak dipasangkan dengan stimulus tak
berkondisi. Ini berarti ada semacam kecenderungan untuk menggeneralisasikan respon
berkondisi terhadap stimulus lain apabila dalam beberapa hal memiliki kesamaan
dengan stimulus berkondisi atau asli. Makin tinggi tingkat kesamaannya semakin tinggi
pula generalisasinya. Diskriminasi adalah proses belajar untuk membuat satu respon
tcrhadap satu stimulus dan membedakan respon atau bukan respon terhadap stimulus

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 14

lainnya. Dengan demikian diskriminasi merupakan lawan dari generalisasi atau


kebalikan generalisasi.
Dalam praktek sehari-hari adanya generalisasi banyak ditemukan. Dalam
pengertian setelah respon khusus terjadi akibat suatu stimulus, maka rangsangan yang
sama akan menghasilkan respon yang sama. Contohnya, jika seekor anjing telah dilatih
membengkokan kaki kirinya, maka ia juga akan memberikan respon membengkokan
kaki kanannya seandainya respon yang asli (kaki kiri) menjadi penghalang. Konsep lain
yang juga penting adalah perjumlahan. Artinya kombinasi dari stimulus sering
mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada rangsangan atau stimulus yang terpisahpisah. Sebagai contoh kedua penglihatan dan penciuman akan bereaksi kuat pada anjing
untuk menghasilkan tanggapan terhadap makanan.

2. Teori Belajar Menurut Thorndike


Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.
Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon
adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa
pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan
belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang
tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran,
tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat
diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme. Ada tiga hukum
belajar yang utama, yakni :

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 15

Hukum efek
Hukum latihan
Hukum kesiapan

Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
3. Teori Belajar Menurut Watson (1878-1958)
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan
respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable)
dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut
sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah
seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmuilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik
semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
4. Teori Belajar Menurut Clark Hull (1884-1952)
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon
untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi
Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku
bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab
itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis
(drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan
manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu
dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin
dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini,
tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis.
5. Teori Belajar Menurut Albert Bandura
Bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan
kemudian mengajar di Stanford University. Sebagai seorang behaviorist, Bandura
menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon lingkungan. Oleh karenya
teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling. Prinsipnya adalah perilaku
merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 16

lingkungan. Singkatnya, Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah


proses belajar. Teori utama:

Observational learning atau modeling adalah faktor penting dalam proses belajar

manusia.
Dalam proses modeling, konsep reinforcement yang dikenal adlaah vicarious
reinforcement, reinforcement yang terjadi pada orang lain dapat memperkuat
perilaku individu. Self-reinforcement, individu dapat memperoleh reinforcement
dari dalam dirinya sendiri, tanpa selalu harus ada orang dari luar yang

memberinya reinforcement.
Menekankan pada self-regulatory learning process, seperti self-judgement, self-

control, dan lain sebagainya.


Memperkenalkan konsep penundaan self-reinforcement demi kepuasan yang
lebih tinggi di masa depan.
Sumbangan Bandura:
Bandura membuka perspektif baru dalam aliran behavioristik dengan

menekankan pada aspek observasi dan proses internal individu. Bagi mereka yang
beraliran kognitif, pandangan Bandura ini dirasakan lebih lengkap dibandingkan
pandangan ahli behavioristik lainnya. Teorinya ini juga didukung oleh percobaan
eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kritik terhadap Bandura:
Kritik terutama datang dari kelompok aliran behavioristik keras, yang
memandang Bandura lebih tepat untuk dimasukan dalam kelompok aliran kognitif dan
tidak diakui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan
Bandura yang kental aspek mentalnya.
2.5.

Peranan Guru dan Siswa Dalam Teori Behaviorisme


Pendapat aliran behavioristik pembelajaran adalah usaha guru membentuk

tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi
hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap
latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau rei nforcement (penguatan).
Metode ceramah pada Teori Behaviorisme

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 17

Dalam perkembangannya, pembelajaran ceramah dilandasi oleh Teori Belajar


Behavioristik. Metode ceramah ( lecture method) merupakan sebuah cara pengajaran
yang dilakukan oleh guru secara monolog dan hubungan satu arah (one way
communication), metode ini dipandang paling efektif dala mengatasi kelangkaan
literature atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya faham siswa. Metode ini
sampai sekarang masih sering digunakan. Guru biasanya belum merasa puas jika tidak
melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada
guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang
berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak belajar. Metode
ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran ekspositori.

Seolah-olah jika tidak ada ceramah tidak ada proses

pembelajaran.
Langkah-langkah Menggunakan Metode Ceramah
Langkah-langkah Penggunaan Metode Ceramah dalam pelaksanaannya, metode
ceramah memerlukan beberapa langkah pokok yang harus diperhatikan yaitu :
1) Tahap Persiapan
Merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran adalah proses yang
bertujuan, oleh sebab itu merumuskan tujuan yang jelas merupakan langkah
awal yang harus dipersiapkan guru. Apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran dengan ceramah berakhir.
Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan. Keberhasilan suatu
ceramah sangat tergantung pada tingkat penguasaan guru tentang materi yang
akan diceramahkan. Oleh karena itu, guru harus mempersiapkan pokok-pokok
materi yang akan disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus
dicapai. Dalam penentuan pokok-pokok itu juga perlu dipersiapkan ilustrasiilustrasi yang relevan untuk memperjelas informasi yang akan disampaikan
Mempersiapkan alat bantu. Alat bantu sangat diperlukan untuk menghindari
kesalahan persepsi dari siswa. Alat bantu tersebut misalnya dengan
mempersiapkan transparansi atau media grafis lainnya untuk meningkatkan
kualitas ceramah.
2) Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan
a) Langkah pembukaan

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 18

Langkah pembukaan dalam metode ceramah merupakan langkah yang


menentukan. Keberhasilan pelaksanaan ceramah sangat ditentukan oleh langkah ini.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam langkah pembukaan ini. Yaitu:
Yakinkan bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu,
guru perlu mengemukakan terlebih dahulu tujuan yang harus dicapai oleh siswa.
Mengapa siswa harus paham akan tujuan yang ingin dicapai? Oleh karena tujuan
akan mengarahkan segala aktivitas siswa, dengan demikian penjelasan tentang
tujuan akan merangsang siswa untuk termotivasi mengikuti proses pembelajaran
melalui ceramah itu.
Lakukan langkah apersepsi, yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran
yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Guna langkah
apersepsi dalam langkah pembukaan ini adalah untuk mempersiapkan secara
mental agar siswa mampu dan dapat menerima materi pembelajaran. Selain itu,
langkah ini pada dasarnya langkah untuk menciptakan kondisi agar materi
pelajaran itu mudah masuk dan menempel diotak.
b) Tahap Penyajian
Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara
bertutur. Agar ceramah kita berkualitas sebagai metode pembelajaran, maka guru
harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pembelajaran yang
sedang disampaikan. Untuk menjaga perhatian ini ada beberapa hal yang dapat
dilakukan:
Menjaga kontak mata secara terus-menerus denga siswa. Kontak mata
adalah suatu isyarat dari guru agar siswa mau memerhatikan. Selain itu,
kontak mata juga dapat berarti sebuah penghargaan dari guru kepada
siswa. Siswa yang selalu mendapat pandangan dari guru akan merasa
dihargai dan diperhatikan. Usahakan walaupun guru harus menulis
dipapan tulis kontak mata tetap diperhatikan dengan tak berlama-lama
menghadap papan tulis atau membuat catatan yang panjang di papan tulis.
Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna oleh sswa. Oleh
sebab itu sebaiknya guru tidak menggunakan istilah-istilah yang kurang
populer. Selain itu, jaga intonasi suara agar seluruh siswa dapat
mendengarnya dengan baik.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 19

Sajikan materi pembelajaran secara sistematis, tidak meloncat-loncat agar


mudah ditangkap oleh siswa.
Tanggapilah respons siswa dengan segera. Artinya, sekecil apapun respons
siswa harus kita tanggapi. Apabila siswa memberika respons yang tepat,
segeralah kita beri penguatan dengan memberikan semacam pujian yang
membanggakan hati. Sedangkan. Seandainya siswa memberi respons yang
kurang tepat, segeralah tunjukkan bahwa respons siswa perlu perbaikan
dengan tidak menyinggung perasaan siswa.
Jagalah agar kelas tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar. Kelas
yang kondusif memungkinkan siswa tetap bersemangat dan penuh
motivasi untuk belajar. Cara yang dapat digunakan untuk menjaga agar
kelas tetap kondusif adalah dengan cara guru menunjukkan sikap yang
bersahabat dan akrab, penuh gairah menyampaikan materi pembelajaran,
serta sekali-kali memberikan humor-humor yang segar dan menyenankan.
c) Langkah mengakhiri atau menutup ceramah
Ceramah harus ditutup agar materi pembelajaran yang sudah dipahami
siswa

tidak

terbang

kembali.

Ciptakanlah

kegiatan-kegiatan

yang

memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran. Hal-hal yang dapat


dilakukan untuk keperluan tersebut diantaranya:
Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan atau merangkum materi
pelajaran yang baru saja disampaikan
Merangsang siswa untuk dapat menanggapi atau memberi semacam ulasan
tentang materi pembelajaran yang telah disampaikan
Melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai materi
pembelajaran yang baru saja disampaikan
2.6.

Keunggulan dan Kelemahan Teori-Teori Perilaku


Telah diuraikan beberapa teori-teori perilaku. Sebagaimana setiap teori tidak

akan pernah sempurna demikian halnya dengan teori-teori peilaku. Di samping


kekuatan-kekuatannya ada pula kelemah-kelemahannya.
Prinsip-prinsip yang melandasi teori-teori perilaku kedudukannya kuat dalam
psikologi, dan hal ini telah ditunjukkan dalam berbagai situasi.Prinsip-prinsip ini
berguna untuk menjelaskan sebagian besar dari perilaku manusia dan bahkan lebih
berguna dalam mengubah perilaku.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 20

Proses-proses belajar yang kurang tampak, seperti pembentukan konsep, belajar


dari buku, pemecahan masalah, dan berfikir, sukar untuk diamati secara langsung
sehingga kurang diteliti oleh para teoretikus perilaku. Proses proses ini termasuk ke
dalam domain belajar kognitif.
Teori-teori belajar perilaku dan kognitif kerap kali dikemukakan sebagai modelmodel yang bersaing dan bertentangan.Sebenarnya lebih baik melihat kedua macam
teori ini sebagai teori-teori yang menanggapi masalah-masalah yang berbeda, jadi lebih
bersifat komplimenter dari pada bersaing.
Teori belajar perilaku ini sangat cocok dalam pemerolehan kemampuan yang
membutuhkan

praktek

dan

pembiasaan

yang

mengandung

unsur

kecepatan

spontanitas, kelenturan daya tahan dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua.
Namun, penting untuk diketahui bahwa ruang lingkup teori belajar perilaku
terbatas. Dengan pengecualian teoritikus-teoritikus sosial, para teoritikus belajar
perilaku terutama memusatkan pada perilaku yang tampak. Pandangan teori belajar
perilaku ini hanya mengakui adanya stimulus-respon yang dapat diamati. Mereka tidak
memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur
unsur yang diamati tersebut. Menurut pandangan teori belajar peilaku, siswa dipandang
sebagai pembelajar yang pasif dan kurang memberikan ruang gerak yang bebas untuk
siswa dalam mengembangkan potensi dirinya.
Kekurangan teori belajar ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru
bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil.Murid dipandang pasif, murid
hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan
bersifat otoriter. Teori belajar ini juga cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir
linier, konvergen, tidak kreatif dan produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukkan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau
mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi
dan berimajinasi.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 21

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.

Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori behviorisme dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi
antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati
dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu
apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku
tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor
penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative
reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 22

Daftar Pustaka
Ali, Muh, dkk. 1978. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Bell, Margareth E. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-Teori Belajar. Bandung: Erlangga.
John, Satrock. 2007. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. PT. Kencana Media Group:
Jakarta.
Nasution, S. 1989. Kurikukulum dan Pengajaran. Bandung: PT. Bumi Aksara.
http://budhi211social.wordpress.com/2011/07/11/pendekatan-teori-perilaku-behaviortheory/

Pandangan Behaviorisme Tentang Belajar | 23

Anda mungkin juga menyukai