Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA STRUKTUR

LENDUTAN PADA BALOK STATIS TAK TENTU

KELOMPOK 10
Masrul Wisma Wijaya

1406533296

Muhammad Akram Ramadhan

1406533346

Restu Alan Suyuti

1406533182

Chayatama Ramadhan Boiman

1406533333

Tanggal Praktikum

: 8 Oktober 2016

Asisten Praktikum

: Rizky Kusuma Putri

Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2016

I.

TUJUAN

Menentukan besar lendutan di titik yang telah ditentukan dari sebuah balik statis
tak tentu yang dibebani oleh beban terpusat.

II.

Membandingkan hasil percobaan dengan hasil teoritis.

TEORI
Besar lendutan dan kemiringan/putaran sudut dari sebuah struktur statis tertentu
yang diberi beban dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari ketiga metode
berikut:
1. Metode Unit Load

Gambar A.1 Unit Load Method untuk Balok Sederhana


L

c = ( M .m.dx) / EI
0

dengan:
M = momen akibat beban W
m = momen akibat satu satuan gaya (unit load) yang bekerja pada titik C.

c = ( M .m.dx) / EI
0

dengan:
M = momen akibat beban W
m = momen akibat satu satuan momen (unit moment) yang bekerja pada titik
C

2. Metode Moment Area (Luas bidang momen)

Gambar A.2 Metode Momen Area untuk Balok Sederhana


Note: Dimana bidang M/EI sebagai beban

= perubahan kemiringan/putaran sudut akibat beban antara A dan C


A1A= (A1 adalah daerah yang diarsir yang dapat dilihat pada Gambar A.2)
= Besar lendutan di titik C
3. Metode Conjugated Beam
Metode Moment Area dengan Conjugated Beam berhubungan erat sekali.
Teori Moment Area cenderung kea rah geometrid an kurva elastic.
Sementara konsep Conjugated Beam menggunakan analogi antara putaran
sudut dengan gaya lintang dan lendutan dengan momen.

Gambar A.3 Metode Balok Konjugasi untuk Balok Sederhana

dimana:

= momen lentur di titik C akibat beban M/EI = besar lendutan di titik C


(=PL3/48EI0
= RA= gaya lintang di A = putaran sudut di titik A (=PL2/16EI)
= RB= gaya lintang di B = putaran sudut di titik B (=PL2/16EI)

4. Metode Integrasi
Salah satu metode penyelesaian dalam mencari nilai lendutan dan putaran
sudut adalah dengan metode integrasi yang dikenal juga dengan teori
elastis. Berikut ini adalah rumus dalam mencari nilai lendutan dan putaran
sudut:
( d 2 y dx 2 ) = - ( Mx EI ) Rumus Umum
dy /dx = -1/EI Mx dx + C1 = tan = besar putaran sudut
Y = - ( Mx/EI) dx + C1.x + C2 = besar lendutan

III.

PERALATAN
Alat-alat:
2 HST. 1301 Penyangga Ujung
1 HST. 1302 Penyangga Perletakan Rol
1 HST. 1303 Pengatur Rol
1 HST. 1304 Pelat Jepit
3 HST. 1305 Jepit Penggantung
3 HST. 1306 Penyambung Gantungan
3 HST. 1307 Penggantung Besar (tempat beban)
3 HST. 1309 Penggantung Ujung
1 HST. 1310 Penyangga Perletakan Ganda
1 HST. 1311 Pengatur Perletakan
1 HST. 1312 Penggantung Kecil
2 HST. 1313 Ujung Sisi Tajam (knife edge)

Gambar A.4 Alat Peraga untuk Kondisis Lentur Plastis

Gambar A.4 menunjukan pengaturan yang biasanya digunakan untuk lentur plastis
(plastic bending) pada balok dengan ujung-ujung yang sudah disusun (built-in ends).
Untuk maksud di atas, pada salah satu ujungnya didesain perletakan yang
memperbolehkan adanya pergeseran lateral. Balok ini dapat diuji dengan perletakan rol
di tengah bentang seperti yang telah ditunjukan atau alternativenya digunakan di salah
satu ujung balok. Struktur seperti ini juga dapat digunakan ujung tajam (knife ends) dan
rol.

Gambar A.5 Alat Peraga untuk Percobaan Lendutan Struktur Statis Tak Tentu

Gambar A.5 menunjukan alat peraga struktur statis tak tentu dengan balok elastis yang
ujung-ujungnya bisa diatur. Untuk maksud di atas, pada salah satu ujungnya didesain
perletakan yang memperbolehkan adanya pergeseran lateral. Untuk menghasilkan
struktur statis tak tentu, perletakan dapat diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan

struktur statis tak tentu dengan memberikan perletakan jepit-jepit dan jepit-rol dengan
besar dan tipe beban yang dapat divariasikan.

Gambar A.6 Alat Peraga Struktur Kantilever dengan Beban Terbagi Rata

Gambar A.6 menunjukan kantilever dengan beban terbagi merata. Variasi yang dapat
dilakukan seperti menimbulkan putaran sudut dan lendutan akibat beban terpusat, teori
timbal balik, dan lain-lain.

Gambar A.7 Alat Peraga Struktur dengan Upward Load

Gambar A.7 menunjukan aplikasi dari beban terpusat dan beban ke atas (upward load)
pada struktur statis tak tentu. Banyak variasi yang dapat dilakukan seperti menunjukan
putaran sudut dan lendutan pada perletakan, beban menggantung atau beban terbagi
merata, teori timbal balik, dan lain-lain.

Pengaturan-pengaturan seperti di atas dapat divariasikan menyesuaikan dengan


kebutuhan masing-masing. Pengaturan-pengaturan ini dilakukan untuk menunjukkan
penggunaan berbagai jenis alat untuk berbagai aplikasi. Untuk percobaan-percobaan
seperti ini dimana dibutuhkan pengamatan lendutan yang besar, dianjurkan penggunaan
dari alat untuk bentang panjang (long travel gauge) HAC 6 series.

IV.

CARA KERJA

PERCOBAAN 1
Mencari lendutan di titik A dan B pada balok dengan perletakan jepit-jepit yang
dibebani dengan beban terpusat pada tengah batang.

Gambar A.8 Kondisi Percobaan 1

1.

Mengatur perletakan untuk memenuhi kondisi jepit-jepit.

2.

Mengukur dimensi pelat (b dan h) dan bentang balok (L) dari as ke as.

3.

Meletakan dial gauge pada jarak 4L (22.5 cm), 2L (45 cm), dan 4L (67.5

cm)dari perletakan jepit C untuk membaca besarnya lendutan di titik A, E,


dan B.
4.

Meletakkan beban P dengan variasi beban 10, 20, 30, 40, 50 N disertai
dengan pembacaan dial pada titik A, E, dan B (loading dan unloading).

PERCOBAAN 2
Mencari lendutan di titik A dan B pada balok dengan perletakan jepit-jepit yang
dibebani dengan beban terpusat pada tengah batang.

Gambar A.9 Kondisi Percobaan 2

1.

Mengatur perletakan untuk memenuhi kondisi jepit-jepit.

2.

Mengukur dimensi pelat (b dan h), bentang balok (L) dari as ke as, dan
jarak a & b.

3.

Meletakan dial gauge sejauh a (30 cm) dari perletakan jepit C dan D untuk
membaca besarnya lendutan di titik A, E, dan B.

4.

Meletakkan beban P dengan variasi beban 10, 20, 30, 40, 50 N disertai
dengan pembacaan dialpada titik A, E, dan B (loading dan unloading).

PERCOBAAN 3
Mencari lendutan di titik A dan B pada balok dengan perletakan rol-jepit yang
dibebani dengan beban terpusat pada tengah bentang.

Gambar A.10 Kondisi Percobaan 3

1.

Mengatur perletakann untuk memenuhi kondisi rol jepit.

2.

Mengukur dimensi pelat (b dan h) dan bentang balok (L) dari as ke as.

3.

Meletakan dial gauge sejauh pada jarak L (22.5 cm), L (45 cm), dan
L (67.5 cm) dari perletakan rol C untuk membaca besarnya lendutan di
titik A, E, dan B.

4.

Meletakkan beban P dengan variasi beban 10, 20, 30, 40, 50 N disertai
pembacaan dial pada titik A, E, dan B (loading dan unloading).

V.

HASIL PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

PERCOBAAN 1
Data Percobaan :
L = 90 cm
b = 25 mm
h = 5.2 mm
praktikum (mm)

No.

P (N)

Loading
A

Unloading

E
0

B
0

Rata-rata

0.05

0.04

0.04

0.025

E
0.02

10

0.225 0.525 0.2

0.29

0.59

0.25

0.2575 0.5575 0.225

20

0.54

1.14

0.46

0.57

1.17

0.48

0.555

1.155

0.47

30

0.91

1.84

0.76

0.92

1.84

0.77

0.915

1.84

0.765

40

1.31

2.54

1.06

1.32

2.57

1.07

1.315

2.555

1.065

50

1.72

3.38

1.38

1.71

3.38

1.38

1.715

3.38

1.38

Tabel 1. Hasil pengamatan lendutan percobaan 1

0.02

Grafik hubungan P dengan


praktikum

Grafik hubungan P dengan


praktikum

1.6

y = 0.0275x - 0.0326

1.2

B (mm)

A (mm)

1.4

y = 0.0342x - 0.0588

1.5
1
0.5

1
0.8
0.6
0.4
0.2

0
0

20

-0.5

40

0
-0.2 0

60

Beban (N)

20

40

60

Beban (N)

Grafik hubungan P dengan


praktikum
4
3.5

y = 0.0671x - 0.0924

E (mm)

2.5
2
1.5
1
0.5
0
-0.5 0

praktikum (mm)
P(N)

20

40

60

Beban (N)

teori (mm)

Kesalahan relatif (%)

0.03

0.02

0.02

0.00

0.00

0.00

10

0.26

0.56

0.23

0.32

0.65

0.32

20.16

13.94

30.24

20

0.56

1.16

0.47

0.65

1.30

0.65

13.96

10.85

27.14

30

0.92

1.84

0.77

0.97

1.94

0.97

5.43

5.32

20.94

40

1.32

2.56

1.07

1.29

2.59

1.29

1.93

1.39

17.45

50

1.72

3.38

1.38

1.61

3.24

1.61

6.35

4.36

14.43

9.57

7.17

22.04

Kesalahan relatif rata-rata (%)


Kesalahan relatif rata-rata total (%)

12.92

Tabel 2. Perbandingan lendutan pada percobaan 1 dengan kesalahan


relatifnya.

PERCOBAAN 2
L = 90 cm
b = 25 mm
h = 5.2 mm
a = 30 cm
b = 15 cm
praktikum (mm)

No.

P (N)

Loading
A

Unloading

Rata-rata

0.04

0.05

0.04

0.02

0.025

0.02

10

0.31

0.44

0.25

0.37

0.5

0.31

0.34

0.47

0.28

20

0.81

1.05

0.64

0.84

1.09

0.67

0.825

1.07

0.655

30

1.37

1.76

1.11

1.39

1.78

1.13

1.38

1.77

1.12

40

1.94

2.49

1.61

1.96

2.5

1.62

1.95

2.495

1.615

50

2.52

3.22

2.1

2.52

3.22

2.1

2.52

3.22

2.1

Tabel 3. Hasil pengamatan lendutan percobaan 2

Grafik hubungan P dengan


praktikum

Grafik hubungan P dengan


praktikum

3.00

2.50

2.50

y = 0.0511x - 0.105

1.50

B (mm)

A (mm)

2.00
1.50
1.00

1.00
0.50

0.50

0.00

0.00
-0.50

y = 0.0425x - 0.0971

2.00

20

40

60

-0.50

Beban (N)

20

40

60

Beban (N)

Grafik hubungan P dengan


praktikum
3.50
y = 0.065x - 0.1167

3.00

E (mm)

2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
-0.50 0

20

praktikum (mm)
P(N)

40

60

Beban (N)

teori (mm)
A

Kesalahan relatif (%)

0.02

0.03

0.02

0.00

0.00

0.00

10

0.34

0.47

0.28

0.38

0.50

0.38

11.45

6.74

27.08

20

0.83

1.07

0.66

0.77

1.01

0.77

7.43

6.16

14.70

30

1.38

1.77

1.12

1.15

1.51

1.15

19.80

17.08

2.77

40

1.95

2.50

1.62

1.54

2.02

1.54

26.97

23.77

5.15

50

2.52

3.22

2.10

1.92

2.52

1.92

31.26

27.79

9.39

19.38

16.31

11.82

Kesalahan relatif rata-rata (%)


Kesalahan relatif rata-rata total (%)

15.84

Tabel 4. Perbandingan lendutan pada percobaan 2 dengan kesalahan relatifnya.

PERCOBAAN 3
L = 90 cm
b = 25 mm
h = 5.2 mm
praktikum (mm)

No.

P (N)

Loading
A

Unloading

Rata-rata

0.04

0.03

0.04

0.02

0.015

0.02

10

0.24

0.58

0.27

0.31

0.66

0.36

0.275

0.62

0.315

20

0.74

1.6

0.94

0.76

1.63

0.97

0.75

1.615

0.955

30

1.375 2.89

1.82

1.34

2.91

1.85

1.3575 2.9

1.835

40

2.01

3.19

2.72

2.02

3.21

2.74

2.015

3.2

2.73

50

2.65

4.51

3.63

2.65

4.51

3.63

2.65

4.51

3.63

Tabel 5. Hasil pengamatan lendutan percobaan 3

Grafik hubungan P dengan


praktikum

Grafik hubungan P dengan


praktikum

3.00

5.00
y = 0.0542x - 0.1776

4.00

1.00

2.00
1.00

0.00
0

20

-1.00

40

y = 0.09x - 0.1067

3.00

E (mm)

A (mm)

2.00

0.00

60

-1.00 0

20

40

60

Beban (N)

Beban (N)

Grafik hubungan P dengan


praktikum
4.00
y = 0.0748x - 0.2888

B (mm)

3.00
2.00
1.00
0.00
0

20

-1.00

60

Beban (N)

praktikum (mm)
P(N)

40

teori (mm)
A

Kesalahan relatif (%)

0.02

0.02

0.02

0.00

0.00

0.00

10

0.28

0.62

0.32

0.66

1.13

0.87

58.05

45.37

63.81

20

0.75

1.62

0.96

1.31

2.27

1.74

42.79

28.84

45.13

30

1.36

2.90

1.84

1.97

3.40

2.61

30.97

14.82

29.72

40

2.02

3.20

2.73

2.62

4.54

3.48

23.15

29.50

21.58

50

2.65

4.51

3.63

3.28

5.67

4.35

19.15

20.52

16.58

34.82

27.81

35.36

Kesalahan relatif rata-rata (%)


Kesalahan relatif rata-rata total (%)

32.66

Tabel 6. Perbandingan lendutan pada percobaan 3 dengan kesalahan relatifnya.

E prak (1011

KR

E prak (1011

KR

N/m2)

(%)

N/m2)

(%)

1.87

5.694

2.34

3.46

2.047

2.33

1.93

17.28

1.5

25

1.55

22.5

1.620

19

1.81

9.5

2.419

20.95

2.522

26.1

2.423

21.13

2.327

18.5

2.030

1.489

2.030

1.489

Percobaan

Rata-rata

Tabel 7. Hasil perhitungan E praktikum dan kesalahan relatifnya

VI.

ANALISIS

Analisis Percobaan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan besar lendutan di titik yang
telah ditentukan dari sebuah balok statis tak tentu yang dibebani oleh beban
terpusat. Selain itu praktikan juga mengolah data lendutan untuk mendapatkan
nilai E praktikum dan membandingkan hasil percobaan dengan hasil teoritis.
Praktikum ini terdiri dari 3 percobaan: percobaan pertama yaitu mencari
lendutan di titik A, E dan B pada balok dengan perletakan jepit-jepit yang
dibebani dengan beban terpusat pada tengah batang, percobaan kedua yaitu
mencari lendutan di titik A, E dan B pada balok dengan perletakan jepit-jepit
yang dibebani dengan beban terpusat pada tengah batang (lokasi dial gauge
dibedakan dengan percobaan pertama), percobaan ketiga yaitu mencari

lendutan di titik A, E dan B pada balok dengan perletakan jepit-rol yang


dibebani dengan beban terpusat pada tengah bentang.
Secara umum, prosedur yang dilakukan praktikan untuk semua
percobaan adalah sebagai berikut. Praktikan mengatur perletakan pada kedua
ujung balok dengan mengencangkan skrup (jepit) atau mengendurkan skrup
(sendi) menggunakan kunci inggris. Praktikan lalu menghitung dimensi balok
menggunakan jangka sorong dan didapatkan hasil b = 25 mm dan h = 5.2 mm.
1

Praktikan lalu mengatur dial gauge pada jarak 4L (22.5 cm), 2L (45 cm), dan 4L
(67.5 cm) untuk percobaan 1 dan 3, sedangkan untuk percobaan 2 yaitu pada
jarak a=30 cm dan b=15 cm. Praktikan menggunakan meteran untuk mengatur
lokasi pengukuran dial gauge. Praktikan lalu mengkalibrasikan manometer
untuk setiap percobaan yang dilakukan. Praktikan kemudian meletakkan beban
dengan variasi beban 10, 20, 30, 40, 50 N disertai dengan pembacaan dial gauge
pada titik A, E, dan B. Pada saat pembebanan, praktikan meletakkan beban
secara perlahan supaya tidak mengganggu pembacaan dial gauge yang sangat
sensitif. Pembacaan dilakukan secara secara loading dan unloading agar data
yang didapatkan dapat lebih valid (rata-rata kedua data). Loading adalah proses
penambahan beban secara bertahap dan unloading adalah proses pengurangan
beban secara bertahap.

Analisis Hasil
Pada praktikum ini, praktikan mendapatkan data tiga lendutan di tiga
titik di setiap percobaan. Mula-mula praktikan menentukan momen batang serta
reaksi perletakan di setiap percobaan menggunakan metode clapeyron/metode
persamaan tiga momen. Praktikan kemudian menentukan persamaan momen
gaya dalam M(x) untuk setiap interval. Untuk menentukan lendutan di setiap
titik, praktikan menggunakan metode unit load dengan meletakkan beban satu
satuan di titik terkait. Praktikan kemudian menentukan momen batang akibat
beban satu satuan dan reaksi perletakan serta persamaan momen gaya dalam
m(x) untuk setiap interval. Persamaan unit load adalah:

= () ()
0

Praktikan mendapatkan persamaan lendutan dengan beban P (10, 20, 30,


40, 50 N) sebagai variabel bebas sebagai berikut:

Percobaan

0.00189

0.003796

0.00189

0.00225

0.00295

0.00225

0.00384

0.00665

0.00510

Tabel 8. Hasil perhitungan persamaan lendutan

Dari persamaan tabel di atas, maka dapat ditentukan lendutan teori dan
dapat ditentukan pula kesalahan relatifnya. Untuk percobaan 1 kesalahan relatif
bernilai 12.92%, Untuk percobaan 2 kesalahan relatif bernilai 15.84%, dan
Untuk percobaan 3 kesalahan relatif bernilai 32.66%.
Praktikan kemudian memplot beban P (sumbu x) dan lendutan
praktikum (sumbu y) ke dalam grafik hubungan. Praktikan mendapatkan
persamaan garis regresi linear y=ax+b, dengan a adalah persamaan lendutan
pada tabel di atas. Nilai I = 2.93 x 10-10 m4 berdasarkan perhitungan dimensi
sebelumnya. Dengan mensubstitusikan a dengan persamaan lendutan maka
pratikan mendapatkan nilai E praktikum. Modulus Young (E) adalah nilai
kekakuan suatu bahan elastis, dan bisa didefinisikan sebagai perbandingan
antara tegangan dengan regangan. Nilai E praktikum rata-rata adalah 2.03 x 1011
N/m2 dengan kesalahan relatif sebesar 1.489%.

Analisis Grafik

GRAFIK HUBUNGAN P DENGAN


PERCOBAAN 1
1A prak

1B Prak

1A Teori

1B Teori

1E prak

1E teori

4
3.5
3

(MM)

2.5
2
1.5
1
0.5
0
0

10

20

30

40

50

60

BEBAN (N)

GRAFIK HUBUNGAN P DENGAN


PERCOBAAN 2
2A prak

2A teori

2B prak

2B teori

2E prak

2E teori

3.50
3.00

(MM)

2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
0

10

20

30
BEBAN (N)

40

50

60

GRAFIK HUBUNGAN P DENGAN


PERCOBAAN 3
3A prak

3A teori

3B prak

3B teori

3E prak

3E teori

6.00
5.00

(MM)

4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
0

10

20

30

40

50

60

BEBAN (N)

Dari ketiga grafik, didapat hubungan secara umum bahwa beban


berbanding lurus dengan lendutan. Selain itu, lendutan di tengah bentang ( )
merupakan lendutan paling besar, karena titik tersebut merupakan titik terjauh
dari kedua perletakan sendi/jepit. Pada percobaan tiga, nilai (dekat dengan
perletakan roll) lebih besar dibanding , karena pada perletakan rol, reaksi
momen tidak ditahan sama sekali sehingga lendutan bisa lebih bebas.

Analisis Kesalahan
i. Kesalahan Praktikan
Praktikan melakukan kesalahan teknis dikarenakan keterbatasan
pengetahuan ataupun karena ketidaksengajaan belaka. Praktikan tidak
tepat dalam menghitung dimensi balok, misalnya tidak tepat tegak lurus
rahang jangka sorong, sehingga dimensi yang didapatkan kurang tepat.
Pada pengukuran balok, praktikan menggunakan rollmeter (meteran
bangunan) dengan ketelitian 0.5 mm, sehingga pengukuran dari as ke as
kurang presisi. Lokasi dial gauge yang diukur menggunakan rollmeter
terkadang kurang tepat. Pada saat pembebanan, praktikan juga secara

tidak sengaja meletakkan beban dengan keras (seperti menjatuhkan


beban) sehingga bisa mempengaruhi pembacaan dial gauge.
ii. Kesalahan Paralaks
Praktikum ini melibatkan jangka sorong dan manometer dial
gauge. Pada saat pengukuran, praktikan kurang tepat dalam menentukan
skala rahang sorong yang sesuai. Pada saat pembacaan manometer dial
gauge, jarum terkadang bergerak secara fluktuatif/tidak tentu sehingga
menyulitkan pembacaan.

VII.

KESIMPULAN

Ketika terjadi pembebanan terpusat di tengah bentang pada struktur balok statis
tak tentu, maka lendutan terbesar akan terjadi pada titik tersebut (dalam
praktikum ini titik E)

Lendutan yang terjadi pada praktikum ini menghasilkan momen positif yang
membuat bagian atas balok statis tak tentu menjadi tertekan dan bagian bawah
menjadi tertarik.

Pada praktikum ini didapatkan nilai modulus young rata-rata (E) sebesar 2.03 x
1011 N/m2 dengan kesalahan relatif sebesar 1.489%.

Rangkuman hasil pengamatan dan pengolahan data adalah sebagai berikut:

A
(mm)

E
(mm)

B
(mm)

0
10
20
30
40
50
0
10
20
30
40
50
0
10
20
30

Teori
0.00
0.32
0.65
0.97
1.29
1.61
0.00
0.65
1.30
1.94
2.59
3.24
0.00
0.32
0.65
0.97

1
Prakt
0.03
0.26
0.56
0.92
1.32
1.72
0.02
0.56
1.16
1.84
2.56
3.38
0.02
0.23
0.47
0.77

KR
Teori
0.00
20.16 0.38
13.96 0.77
5.43 1.15
1.93 1.54
6.35 1.92
0.00
13.94 0.50
10.85 1.01
5.32 1.51
1.39 2.02
4.36 2.52
0.00
30.24 0.38
27.14 0.77
20.94 1.15

2
Prakt
0.02
0.34
0.83
1.38
1.95
2.52
0.03
0.47
1.07
1.77
2.50
3.22
0.02
0.28
0.66
1.12

KR
Teori
0.00
11.45 0.66
7.43 1.31
19.80 1.97
26.97 2.62
31.26 3.28
0.00
6.74 1.13
6.16 2.27
17.08 3.40
23.77 4.54
27.79 5.67
0.00
27.08 0.87
14.70 1.74
2.77 2.61

3
Prakt
0.02
0.28
0.75
1.36
2.02
2.65
0.02
0.62
1.62
2.90
3.20
4.51
0.02
0.32
0.96
1.84

KR
58.05
42.79
30.97
23.15
19.15
45.37
28.84
14.82
29.50
20.52
63.81
45.13
29.72

40
50
E percobaan
E total
KR E

VIII.

1.29 1.07 17.45


1.61 1.38 14.43
2.047 x 1011 N/m2

1.54 1.62 5.15


1.92 2.10 9.39
1.62 x 1011 N/m2
2.03 x 1011 N/m2
1.489%

3.48 2.73 21.58


4.35 3.63 16.58
2.423 x 1011 N/m2

REFERENSI
Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. 2016. Pedoman
Praktikum Analisa Struktur. Depok: Laboratorium Struktur dan Material.
Hibeller, R, C. 2012. Structural Analysis 8th Edition. New Jersey: Prentince-Hall
International, Inc.

IX.

LAMPIRAN

Gambar A11. Proses pemasangan

Gambar A12. Pengukuran lokasi

manometer dial gauge

penempatan dial gauge