Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BENIH
PROSESING BENIH CABE DAN TOMAT

Dosen Pembimbing : Ir. Zayin Sukri, MP

oleh
Alfiah Fatma Kumala
NIM A31140572
Produksi Tanaman Hortikultura/A

PROGRAM STUDI PRODUKSI TANAMAN HORTIKULTURA


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Benih merupakan awal dari suatu kehidupan tanaman. Dalam suatu sistem
budidaya benih memegang peranan yang sangat penting. Benih bermutu
merupakan faktor utama suksesnya produksi dibidang pertanian. Sarana produksi
lain seperti pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, dan cara budidaya yang baik
tidak akan meberikan hasil yang baik apabila benih yang digunakan tidak bermutu
karena pada akhirnya benih tersebut tidak dapat beradaptasi dengan baik pada
lingkungan budidayanya. Sedangkan benih yang bermutu akan menghasilkan
produksi yang tinggi dan produk yang berkualitas.
Tomat merupakan satu dari sayuran yang paling banyak dibudidayakan di
dunia. Sebagai sayuran buah, tomat merupakan sumber vitamin A dan C. Tomat
tumbuh baik pada temperatur 20 - 270C, pembentuknan buah terhambat pada
temperatur > 300C atau < 100C. Tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainasi
baik, dengan pH optimum 6.0 7.0. Tomat dapat ditanam sebagai rotasi pada
lahan sawah. Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk dalam suku
Solanaceae. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman
yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit.Penggunaan benih yang unggul dan
bermutu tinggi merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan produksi tanaman
yang menguntungkan secara ekonomis.
Pengolahan benih atau prosesing dan penyimpanan suatu kegiatan di
antara kegiatan lainnya dalam teknologi benih memiliki arti yang sangat penting.
Praktikum Prosesing dan penyimpanan benih ini dilakukan agar kita mengetahui
cara prosesing benih. Tinggi rendahnya viabilitas dan vigor benih sebagai
pembawaan dari mantap atau tidaknya kondisi sewaktu pematangan fisik benih,
akan mudah terpengaruh oleh faktor-faktor pada penyimpanan. Karena inilah
maka

diperlukan

cara-cara

dan

perlakuan-perlakuan

yang

tepat

pada

penyimpanan, agar deteorasi dapat dikurangi kecepatannya. Tanpa dilakukannya


cara dan perlakuan yang tepat pada penyimpanan, maka benih jika disimpan
vigornya akan lebih cepat mangalami kemunduran atau menurun dibanding
viabilitasnya. Sehingga dapat terjadi kemampuan dan kelangsungan tumbuh benih

masih besar (tinggi) sedangkan vigornya telah mengalami penurunan atau banyak
kemunduran.
1.2 Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu untuk mengetahui cara prosesing benih tomat
secara fermentasi.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


Benih merupakan awal dari suatu kehidupan tanaman. Dalam suatu sistem
budidaya benih memegang peranan yang sangat penting. Benih bermutu
merupakan faktor utama suksesnya produksi dibidang pertanian. Menurut Sadjad
(1993), mutu benih terdiri dari mutu fisik, mutu genetik, dan mutu fisiologi. Benih
bermutu fisik tinggi menunjukkan keseragaman dalam bentuk, ukuran, warna, dan
berat per jumlah atau volume. Salah satu indikator benih bermutu adalah memiliki
viabilitas dan vigor yang baik. Benih yang memiliki viabilitas baik akan tumbuh
menjadi tanaman normal Benih yang memiliki vigor baik akan mampu bertahan
dan berkecambah serta menghasilkan tanaman yang tumbuh baik dilapangan yang
beragam dan luas.
Kurang tersedianya benih bermutu di negara berkembang, antara lain
disebabkan oleh kekurangan atau kelemahan dalam penyediaan varietas unggul,
teknologi produksi benih, penanganan benih pasca panen dan pemasaran benih
Estraksi benih memegang peranan penting dalam proses penanganan pasca panen
benih. Proses ekstraksi benih dan kondisi penyimapanan berpengaruh langsung
terhadap viabilitas benih dan pertumbuhan tanamannya. Cara ekstraksi benih
merupakan salah satu faktor induced yang mempengaruhi status vigor benih.
Ekstraksi benih merupakan suatu tindakan untuk memisahkan biji calon benih dari
buah sehingga diperoleh benih dalam keadaan yang bersih.
Ekstraksi benih merupakan prosedur pelepasan dan pemisahan benih
secara fisik dari struktur buah yang menutupinya. Dengan kata lain, ekstraksi
dilakukan untuk mengeluarkan biji dari buah/polongnya. Tujuan ekstraksi benih
adalah mengurangi campuran pada benih. Benih biasanya merupakan 1-5% dari
total volume buah. Pengurangan campuran dapat membantu mengurangi biaya
penyimpanan dan pengangkutan.Benih umumnya diuji, diberi perlakuan
pendahuluan dan ditanam secara individual, sehingga perlu pemisahan benih dari
buahnya.

Metode ekstraksi sangat berkaitan dengan struktur benih, oleh karena


itu pemilihan metode ekstraksi harus disesuaikan dengan struktur benih sehingga
kerusakan benih akibat proses ekstraksi dapat dicegah. Benih berstruktur rapuh
harus mendapat perhatian yang serius dalam melakukan ekstraksi.
Kuswanto (2003) menyatakan bahwa berdasarkan proses ekstraksi ini
buah dan polong dapat digolongkan menurut cara mengekstraksinya, antara lain:
a. Cone dan polong
Sesudah tindakan pra-perawatan, buah polong dikeringkan sampai pada
tingkat kadar air tertentu dimana buah polong tersebut mulai terbuka.
Setelah terbuka bijinya diambil dengan menggunakan tangan atau mesin
khusus. Kerusakan mesin dapat dengan mudah menimbulkan kerusakan
pada benih apabila terjadi terlalu banyak benturan dan getaran. Setiap
famili pohon (families) dapat berbeda dalam hal kadar air cone dan
ketebalan dan struktur lapisan benih, dan ekstraksi standar dapat juga
mempengaruhi famili pohon (families) tersebut secara berbeda.
b. Buah kering
Ini
merupakan
kelompok
yang
bermacam
-

macam.

Kantung (follicles) yang terbelah sebelah kebawah, polong dari tumbuhan


polong yang terbelah dua belah kebawah, dan kapsul dari tanaman
eucalyptus yang terbelah kedalam (split in) menjadi tiga atau beberapa
belah. Beberapa jenis buah akan terbuka dengan sendirinya apabila
dikeringkan khususnya apabila buah tersebut dipetik pada saat yang tepat,
bukan sebelum waktunya dan apalagi dengan pengeringan terlalu cepat.
Beberapa benih dapat diperoleh melalui gosokan ringan atau rontok,
sedangkan lainnya memerlukan bantuan mesin. Proses seperti ini dapat
mengakibatkan kerusakan pada benih apabila tidak dilakukan dengan teliti
c. Buah Berdaging
Pada buah berdaging sebelum benih dipisahkan atau diekstraksi, buahnya
dapat dikeringkan terlebih dahulu setelah buah masak. Tanaman yang
termasuk dalam tipe ini adalah tanaman cabai, oyong, okra dan paria
d. Buah Berdaging dan Berair (Wet Fleshly Fruit)
Buah tipe ini, disamping berdaging juga berair misalnya ketimun,
sehingga pada saat benih masak fisiologis maupun masak morfologis

kandungan air benih masih sangat tinggi dan benih diselaputi oleh
lendir dan saling melekat pada runag-ruang tempat biji tersususn yang
mengandung bahan yang bersifat inhibitor. Dengan demikian, sebelum
benih dikeringkan lendir yang ada harus dihilangkan terlebih dahulu
menggunakan zat kimia yaitu dengan difermentasikan terlebih dahulu,
kemudian benih dicuci dengan air hingga bersih dan bebas dari lendir.
Pada Benih ada bebrapa cara ekstraksi benih diantaranya adalah:
1. Fermentasi
Benih yang telah dipisahkan dari daging buahnya, dimasukkan ke
dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit air, wadah ditutup
dan disimpan selama beberapa hari. Adapun wadah yang digunakan untuk
fermentasi benih dipilih wadah yang tidak korosif terhadap asam, misalnya
terbuat dari logam stainless steel, kayu ataupun plastic. Lama fermentasi
tergantung pada tinggi rendahnya suhu selama fermentasi. Apabila fermentasi
dilakukan pada temperature 24o C-27o C maka diperlukan waktu 1-2 hari.,
sedangkan apabila digunakan temperature 15oC-22oC, dbutuhkan waktu 3-6
hari., tergantung pada jenis benih yang difermentasikan. Selama fermentasi
bubur (pulp) perlu diaduk guna memisahkan benih dari massa pulp dan
mencegah timbulnya cendawan. Setelah fermentasi selesai, bisanya benih
akan tenggelam ke dasar wadah untuk memudahkan pemisahan benih dari
massa pulp perlu ditambahkan air agar pulp menjadi encer. Setelah benih
difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat
hilang, yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin.
Selanjutnya benih tersebut dikering anginkan pada suhu 31o C hingga diperoeh
kadar air tertentu sesuai dengan peraturan yang aman bagi penyimpanan.
2. Metode Mekanis (Mechanical Method)
Pada usaha skala besar, pemisahan benih dari daging buahnya akan
kurang efisien jika menggunakan tenaga manual. Proses pembijian dilakukan
dengan menggunakan mesin (seed extraction) yang dirancang untuk
memisahkan dan membersihkan benih dari pulp yang mengandung inhibitor

3. Metode Kimiawi (Chemical Method)


Metode fermentasi memerlukan waktu relative lama terutama bila
dilakukan di Negara yang berklim dingin/sedang, sehingga akan berdampak
pada kualitas benih. Untuk mempersingkat waktu fermentasi, dapat digunakan
zat kimia misalnya HCL 35%, dengan dosis 5 liter HCL 35% dicampur
dengan 100 liter air. Kemudian larutan HCL digunakan untuk merendam
pulp. Setelah direndam dan diaduk selama 30 menit, massa pulp akan
mengambang dipermukaan sehingga mudah dipisahkan dari benih yang
tenggelam didasar wadah. Setelah dipisahkan benih dicuci dengan air hingga
bekas pencuciannya bersifat netral (dapat dicek dengan menggunakan kertas
lakmus). Pitoyo (2005) juga menjelaskan bahwa bahwa pemisahan biji setelah
fermentasi dapat dilaukan dengan menggunakan sodium karbonat 10% selama
dua hari, namun cara tesebut jarang digunakan oleh perusahaan benih,
pemisahan biji dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara cepat degan
menggunakan HCL 1 N sebanyak 7-8 ml/l larutan, dibiarkan selama 1-2 jam.
Namun jika tidak dilakukan secara tepat perlakuan dengan bahan kimia
tersebut dapat menurunkan daya kecambah.

BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum teknologi benih prosesing benih cabe dan tomat ini dilakukan
pada hari Rabu, 16 November 2016 pada pukul 09.00 11.00 WIB di
Laboratorium Tanaman Politeknik Negeri Jember.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam ini adalah timbangan analitik, nampan, kertas,
HVS, pisau, oven, plastik, kapur, saringan, label dan alat tulis. Sedangkan bahan
yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah buah cabe dan buah tomat.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Tomat Fermentasi
1. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum
2. Menimbang buah tomat seberat 2 kg
3. Mengupas kulit dan daging buah tomat setengah dari kedalam
4. Memisahkan antara daging buah dengan biji dan meletakkannya
pada nampan
5. Membiarkan biji tomat yang telah dipisahkan dari daging buah tadi
selama 1 malam yang berguna untuk fermentasi
6. Mencuci biji tomat tersebut dengan air bersih untuk memisahkan biji
tomat dengan pulp atau lendir dari buah tomat.
7. Menimbang berat biji tomat yang telah bersih tersebut dan
mencatatnya pada buku catatan
8. Menempatkan biji pada kertas lalu diletakkan ke dalam oven untuk
dikeringkan selama kurang lebih 24 jam dengan suhu 70oC
9. Mengeluarkan biji dari oven dan menimbang beratnya kembali
10. Mencatat berat kering dari benih tomat tersebut pada buku catatan
11. Memasukkan benih tersebut kedalam plastic dan memberikan label
3.3.2 Tomat Non Fermentasi
1.
2.
3.
4.

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum


Menimbang tomat sebanyak 2 kg
Mengupas kulit dan daging tomat setengah dari kedalaman
Memisahkan antara biji dan daging buah

5. Mencuci biji tomat dengan kapur secukupnya dan menambahkan


sedikit air sampai lendir yang ada pada biji hilang
6. Setelah lendir hilang, meniriskan biji dan menimbang biji tomat
yang telah ditiriskan
7. Menata benih pada kertas yang telah tertempel pada oven
8. Masukkan biji pada oven sampai kurang lebih 24 jam dengan suhu
70oC
9. Mengeluarkan biji dari oven dan menimbang beratnya kembali
10. Mencatat berat kering dari benih tomat tersebut pada buku catatan
11. Memasukkan benih tersebut kedalam plastic dan memberikan label
3.3.3 Cabai
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
2. Menimbang cabai sebanyak 1 kg
3. Mengupas daging buah cabai dengan menggunakan pisau dan tangan
serta memakai sarung tangan
4. Memisahkan daging buah dengan biji cabai
5. Mencuci benih cabai dengan air hingga bersih jika ada beni cabai
yang mengambang maka benih tersebut dibuang dan tidak layak
dijadikan benih.
6. Meniriskan benih

dengan

menggunakan

saringan

kemudian

menimbang kembali benih cabai tersebut


7. Setelah menimbang benih dikeringkan dengan cara dioven selama
kurang lebih 24 jam dengan suhu 70oC
8. Mengeluarkan biji dari oven dan menimbang beratnya kembali
9. Memasukkan benih tersebut kedalam plastic dan memberikan label
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Komoditas
Tomat Fermentasi
Tomat Non
Fermentasi
Cabai
4.2 Pembahasan

Berat Sesudah

Berat Sesudah

Berat Sesudah

Ekstraksi (gram)
-

Dicuci (gram)
34, 74 gram

Dioven (gram)
10, 347 gram

41, 933 gram

23, 022 gram

99, 444 gram

92, 09 gram

40, 208 gram

Benih merupakan salah satu komoditi perdagangan dan merupakan unsur


baku yang mempunyai peranan penting dalam produksi pertanian. Benih bermutu
dengan kualitas yang tinggi selalu diharapkan oleh petani. Oleh karenanya benih
harus selalu dijaga kualitasnya semenjak diproduksi oleh produsen benih,
dipasarkan hingga diterima oleh petani untuk ditanam. Pada bagian pengolahan
benih, terbagi atas beberapa bagian-bagian dimana masing-masing bagian tersebut
memiliki peranan yang sama penting dalam menentukan kualitas suatu benih.
Beberapa

proses

yang

dilakukan

adalah

pembersihan

benih

yang

meliputi pemungutan atau pengumpulan benih, kemudian penanganan benih


setelah dikumpulkan serta penyimpanan benih.
Pada prosesing benih tomat yang difermentasi prosesnya tidak
menambahkan bahan apapun melainkan hanya didiamkan saja pada sebuah
nampan agar pulp yang ada pada benih tersebut dapat mengendap dan dapat
dipermudah pada saat pencucian sehingga benih lebih cepat bersih. Sedangkan
pada proses non fermentasi hal yang dilakukan untuk mempermudah
penghilangan pulp adalah dengan cara menambahkan kapur secukupnya
kemudian diremas hingga pulp yang ada pada benih tomat tersebut dapat hilang
kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih. Pada benih cabai tidak
menguunakan bahan apapun dan hanya dengan cara dicuci hingga bersih dengan
air dan juga tidak perlu untuk di fermentasi karena tidak terdapat pulp pada buah
tersebut.
Pada berat tomat yang difermentasi setelah dicuci adalah sebesar 34,74
gram dan setelah dioven beratnya menjadi 10,47 gram. Penurunan berat ini
disebabkan karena pengeringan yang dilakukan pada oven tersebut. Pengeringan
bertujuan

untuk

mengurangi

kadar

air

yang

ada

pada

benih

untuk

mempertahankan masa simpan yang ada pada benih karena pada benih terdapat
dua jenis benih yaitu benih ortodoks dan benih rekalsitran. Benih ortodoks adalah
benih yang dapat disimpan lama karena mempunyai kadar air yang kecil
sedangkan benih rekalsitran adalh benih yang tidak dapat bertahan lama dan
mempunyai kadar air yang tinggi. Pada benih tomat non fermentasi mempunyai
berat setelah dicuci yaitu 41,933 gram dan berat setelah diovennya adalah 23,022

gram sedangkan pada benih cabai berat setelah ekstraksi adalah 99,444 gram,
setelah dicuci adalah 92,09 gram dan setelah dioven adalah 40,208 gram.

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
prosesing benih tomat secara fermentasi yaitu dengan cara memisahkan daging
buah dan biji lalu didiamkan selama 24 jam untuk mengendapkan pulp dan
mempermudah pembersihan benih dan kemudian ditimbang dengan menggunakan
timbangan analitik dan dioven selama 24 jam pada suhu 70 oC serta dilakukan
penimbangan kembali. Pada prosesing benih tomat non fermentasi dilakukan
dengan cara memisahkan biji dengan daging buah kemudian diberikan kapur dan
sedikit air lalu dicuci hingga bersih dan ditimbang kemudian dioven selama 24
jam pada suhu 70oC sedangkan pada benih cabai dilakukan dengan cara

memisahkan biji dengan daging buah kemudian dicuci hingga bersih, ditimbang,
lalu dioven selama 24 jam pada suhu 70oC.
5.2 Saran
Pada praktikum kali ini harus benar benar diperhatika prosesnya agar
tidak terjadi kesalahn dalam pelaksanaanya.

DAFTAR PUSTAKA

http://fashion-java.blogspot.co.id/2011/01/prosesing-dan-penyimpananbenih.html

http://repository.unand.ac.id/19051/1/Bahan%20Ajar%20Pengolahan
%20Benih.pdf

https://www.academia.edu/27117482/PEMROSESAN_BENIH_TOMAT

http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=415421&val=5639&title=perbaikan%20viabilitas%20dan%20kualitas
%20fisik%20benih%20tomat%20melalui%20pengaturan%20lama
%20fermentasi%20dan%20penggunaan%20naocl%20pada%20saat
%20pencucian%20benih