Anda di halaman 1dari 42

Pengertian Listrik Statis

Listrik statis adalah kumpulan muatan listrik dalam jumlah tertentu yang tetap (statis),
ketidakseimbangan muatan listrik di dalam atau permukaan benda. Muatan listrik akan tetap ada
sampai benda kehilangan dengan cara sebuah arus listrik melepaskan muatan listrik.
Disimpulkan dari hal ini bahwa listrik statis berhubungan dengan gejala kelistrikan yang diam
alias tidak mengalir. Listrik statis tidak bisa mengalir dari satu tempat ke tempat lain atau hanya
bisa ada sekejap pada suatu tempat, berbeda dengan Listrik Dinamis.
Konsep Dasar Listrik Statis
Kejadian seperti kenapa potongan kertas kecil bisa berinteraksi dengan penggaris yang telah
digosok-gosok bisa dijelaskan dengan konsep dasar listrik statis (muatan listrik) ini. Karena
berbicara mengenai listrik tentu tidak akan lepas dari muatan listrik, listrik statis (electrostatic)
membahas muatan listrik yang ada dalam keadaan statis (diam).

Muatan listrik muncul karena adanya perpindahan elektron dari satu benda ke benda lain.
Terdapat 2 muatan listrik yaitu muatan positif dan muatan negatif, dikatakan bermuatan positif
apabila proton lebih banyak daripada jumlah elektron, dan begitupun sebaliknya. Sedangkan
benda yang tidak memiliki muatan disebut netral.
Benda yang mempunyai muatan yang sejenis akan saling tolak-menolak ketika didekatkan satu
sama lain, sebaliknya benda yang mempunyai muatan yang berbeda akan saling tarik-menarik.
Interaksi yang terjadi antar muatan listrik bisa dijelaskan dengan Gaya Coulomb,
Medan Listrik
Suatu muatan listrik dikatakan mempunyai medan listrik. Medan listrik adalah daerah di sekitar
benda yang bermuatan listrik yang masih mengalami gaya listrik. Atau bisa disebut medan listrik
adalah suatu daerah dimana gaya listrik masih bekerja. Medan listrik merupakan efek yang
timbul oleh muatan listrik dalam suatu benda.

Arah medan listrik dari sebuah benda bermuatan listrik bisa digambarkan dengan garis-garis
gaya listrik. Sebuah muatan positif mempunyai garis gaya listrik menjauhi (keluar) dari muatan
tersebut. Dan sebuah muatan negatif mempunyai garis gaya listrik mendekati (masuk) muatan
negatif.

Rumus Listrik Statis


Berikut ini rumus-rumus listrik statis beserta uraian penjelasan.

Contoh Listrik Statis


Sebetulnya sering kita jumpai contoh listrik statis dalam kehidupan sehari-hari tetapi
mungkin saja tidak kita sadari. Berikut ini contoh listrik statis.

1. Saat Anda menyisir rambut, tanpa disadari terkadang rambut akan terbawa berdiri sendiri
beriringan dengan gerakan sisir. Hal tersebut terjadi karena ada interaksi muatan antar
sisir dengan rambut.
2. Penggaris atau sisir yang digosok-gosok ke rambut atau tangan kering akan menarik
potongan kertas kecil.
3. Debu yang tertempel pada layar tv
4. Kain sutra yang digosok-gosok dengan batang kaca. Akan terjadi reaksi tarik-menarik
antara dua benda tersebut. Karena elektron dari batang kaca akan berpindah ke kain
sutera sehingga batang kaca akan memiliki muatan positif dan batang kaca akan memiliki
muatan negatif
5. Menggosokan balon dengan tangan
6. Penggaris plastik digosok dengan kain woll. Kedua benda tersebut memiliki muatan
netral, tetapi saat dua benda tersebut digesekkan maka akan ada perpindahan elektron
dari kain woll ke penggaris plastik. Sehingga penggaris plastik memiliki muatan negatif
dan kain woll memiliki muatan positif.
7. Ketika Anda mendekatkan tangan ke layar TV yang baru saja dimatikan. Perhatikan bulu
atau rambut yang ada di tangan Anda akan berdiri.

Pengertian dan Sejarah Listrik Statis


Listrik statis (dalam bahasa inggris disebut electrostatic) adalah ilmu yang
mempelajari pengumpulan muatan listrik dan sifat-sifatnya pada suatu benda. Jika
dilihat dari asal katanya, kata listrik diikuti dengan kata "statis" yang berarti "diam".
Hal ini mengisyaratkan bahwa listrik statis berkaitan dengan gejala kelistrikan yang
diam atau tidak mengalir. Listrik statis tidak dapat mengalir dari satu tempat ke
tempat yang lain, melainkan hanya menyala sekejap di satu tempat. Jadi, listrik
statis
tidak
dapat
menghasilkan
arus
listrik.
Dalam sejarah kelistrikan, listrik inilah yang pertamakali ditemukan oleh para ahli

terdahulu. Listrik yang kita nikmati sekarang ini merupakan hasil pengembangan
dari listrik statis ini. Listrik statis pertama kali ditemukan oleh ahli matematika
berkebangsaan Yunani Kuno, Thales of Miletus (625-547 SM). Kala itu, beliau
mengambil batu berwarna kuning yang disebut dengan batu ambar. Thales
kemudian menggosok-gosokkan batu tersebut dengan kain wol. Tanpa diduga, bulu
ayam
yang
berada
di
sekitarnya
tertarik
dan
menempel.
Dalam penggosokan tersebut, ternyata Thales telah memberikan muatan listrik ke
batu ambar melalui kain wol. Muatan inilah yang menyebabkan bulu ayam yang
berada di sekitar batu ambar tertarik dan menempel pada batu ambar tersebut.
Inilah kemudian menjadi sejarah awal ditemukannya listrik statis.

Contoh Proses Terjadinya Listrik Statis


Peristiwa listrik statis dapat terjadi baik pada isolator maupun konduktor. Peristiwa
listrik statis terjadi setelah adanya materi yang menjadi bermuatan karena proses
gesekan (gosokan). Diistilahkan dengan charging by friction, atau menjadi
bermuatan karena gesekan. Gesekan atau gosokan antara dua materi ini akan
membuat electron dari atom materi yang satu berpindah ke atom materi yang lain,
sehingga kedua materi menjadi bermuatan. Materi yang melepaskan elektronnya,
menjadi bermuatan positif, sebaliknya bermuatan negatif. Jadi, perpindahan
elektron pada peristiwa listrik statis terjadi karena proses gesekan atau gosokan.
Setelah materi menjadi bermuatan listrik maka terjadilah peristiwa listrik statis,
seperti penggaris plastik bermuatan menarik serpihan kertas. Penggaris plastik
yang awalnya tidak bermuatan atau netral digosok-gosok dengan kain wol,
elektron-elektron yang ada pada kain wol akan berpindah ke penggaris plastik
tersebut. Akibatnya, penggaris plastik disebut sebagai benda yang bermuatan listrik
negatif. Ketika penggaris tersebut didekatkan ke sobekan kertas, sobekan kertas
akan tertarik oleh penggaris. Hal tersebut menunjukkan bahwa benda yang
bermuatan listrik negatif dapat menarik benda-benda ringan di sekitarnya yang
bermuatan listrik positif.

Selain penggaris plastik, contoh peristiwa listrik statis yang lain adalah rambut
panjang berdiri saat menyentuh kubah generator Van de graff, terjadinya petir

dengan kilat cahaya disertai suara guruh, dan sebagainya. Pada hakikatnya
fenomena listrik statis ini terjadi sebagai upaya pelepasan muatan (discharge) dari
materinya yang bermuatan listrik untuk kembali menjadi netral.

Manfaat/Penerapan Listrik Statis


Penerapan listrik statis sudah dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan tersebut mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia. Berikut ini
beberapa contoh penerapan dari listrik statis:

1. Alat Penggumpal Asap untuk Mengurangi Polusi

Pada tahun 1906, seorang kimiawan Amerika, Frederick Gardner Cottrel, berhasil
menemukan suatu alat yang berfungsi untuk menggumpalkan asap yang keluar dari
cerobong asam pabrik sehingga dapat menekan polusi udara. Alat sederhana ini
bekerja berdasarkan prinsip gaya Coulomb dan induksi muatan. Caranya adalah
dengan memasang dua logam yang mempunyai muatan besar tetapi berlawanan
tanda pada cerobong asap pabrik. Partikel asap yang mengalir melewati cerobong
akan terinduksi sehingga memiliki muatan induksi. Muatan yang dihasilkan ada
yang positif dan ada yang negatif. Partikel asap tersebut akan tarik menarik
sehingga membentuk partikel yang lebih besar dan berat. Bertambahnya berat
partikel mengakibatkan partikel tidak ikut mengalir ke atas bersama asap. Partikel
itu akan jatuh di dasar cerobong.

2. Pengecatan Mobil

Pada saat cat disemprot, butiran halus cat akan memiliki muatan karena
bergesekan dengan udara. Permukaan mobil yang akan dicat diberi muatan yang
berlawanan dengan muatan butir-butir cat agar butiran cat dapat tertarik ke
permukaan mobil tersebut. Cara ini sangat efektif diterapkan pada permukaan yang
tidak rata. Hal ini terjadi karena butir cat menempel dengan mengikuti medan listrik
yang ada. Akibatnya, butir-butir cat akan menutupi semua permukaan mobil yang
mungkin tersembunyi dari semprotan cat. Dengan demikian, cara ini dapat
menghasilkan hasil pengecatan yang rata dan menjangkau tempat yang
tersembunyi.
3. Mesin Fotokopi

Mesin fotokopi memiliki bagian utama berupa pelat foto konduktif. Pelat ini tidak
mampu menghantarkan listrik ketika berada dalam ruang yang gelap. Pelat
konduktif ini baru akan menghantarkan listrik jika dikenai cahaya. Mula-mula pelat
foto konduktif diinduksi dengan menggerakkan kawat bermuatan listrik negative di

sepanjang permukaannya. Dengan begitu, di permukaan pelat foto itu akan


terbentuk muatan induksi yang bermuatan positif. Ketika kertas yang akan
difotokopi disinari, pantulan cahaya mengenai pelat foto konduktif yang telah
mengandung muatan induksi. Akibatnya, terbentuk muatan listrik persis seperti
pada kertas yang akan dikopi. Kemudian, tinta yang bermuatan negatif
disemprotkan pada pelat. Selanjutnya, tinta itu dipindahkan ke kertas lain untuk
membuat fotokopinya. Ketas ini dipanaskan agar tinta menempel kuat.

Bahaya Listrik Statis


Selain memiliki manfaat, ternyata listrik statis juga dapat mendatangkan bahaya
akibat aktivitasnya. Misalnya, seperti yang terjadi petir dan kebakaran atau ledakan
tangki minyak. Berikut ini penjelasannya mengapa sehingga terjadi seperti itu:
1. Petir (Halilintar)
Udara panas yang naik ke langit saat hari sedang cerah dapat mengandung
muatan. Muatan ini akan diberikan ke butiran air di awan. Jika melintas di atas
gedung, awan bermutan negatif besar menimbulkan induksi pada atap gedung.
Karena muatan induksi berlawanan dengan muatan awan, mengakibatkan tarikmenarik antara keduanya. Jika kedua muatan ini sangat besar, maka akan
menimbulkan aliran elektron dalam jumlah banyak ke atap gedung. Aliran itu
berbentuk loncatan bunga api listrik yang disebut petir. Petir selalu mencari jalan
tersingkat untuk sampai ke bumi. Dengan begitu, muatan listrik yang dikandung
awan mendung dapat ternetralkan. Olehnya itu, gedung tinggi, pepohonan, dan
bahkan orang yang berdiri ditengah lapangan saat hujan dapat menjadi sasaran
petir.
2. Kebakaran/Ledakan Tangki Minyak
Tangki minyak ketika dalam keadaan kosong akan mengandung banyak uap gas
yang rentan terbakar. Uap ini dapat meledak atau terbakar jika ada loncatan bunga
api yang ditimbulkan aktivitas listrik statis. Olehnya itu, orang yang bekerja di
dalam atau dekat tangki harus memakai pakaian khusus anti listrik statis.

Pengertian Listrik Dinamis


Listrik dinamis adalah listrik yang berubah-ubah atau bisa bergerak dan sering
disebut dengan arus listrik. Arus listrik ini berasal dari aliran elektron yang mengalir
terus-menerus dari kutub negatif menuju kutub positif, dari potensial tinggi menuju
potensial rendah dari sumber beda potensial (tegangan).
Benda dengan muatan listrik positif lebih banyak mempunyai potensial yang lebih
tinggi, sedangkan benda dengan muatan negatif lebih banyak mempunyai potensial
lebih rendah. Nah, dua tempat yang memiliki beda potensial bisa menyebabkan
munculnya arus listrik. Dengan catatan keduanya dihubungkan dengan suatu
penghantar. Beda potensial biasa ditanyakan sebagai tegangan.
Arus listrik terbagi menjadi 2 jenis yaitu arus AC (bolak-balik) dan DC (searah),
umumnya arus listrik melewati kawat penghantar tiap satuan waktu, untuk jumlah
arus listrik yang mengalir dalam waktu tertentu disebut kuat arus listrik (i).
Kuat arus yang masuk pada rangkaian bercabang akan sama dengan kuat arus
yang keluar, sedangkan di rangkaian seri kuat arus akan terus sama di setiap ujung
hambatan, semua itu sesuai dengan Hukum Kirchof.
Semakin besar sumber tegangan, semakin besar pula arus yang akan mengalir.
Sedangkan jika hambatan diperbesar, itu akan membuat aliran arus berkurang.
Seperti yang dijelaskan di Hukum Ohm.

Gambar diatas dikatan A lebih berpontensial lebih tinggi daripada B, Arus


listrik terjadi berasal dari A menuju ke B, terjadi karena adanya usaha
penyeimbangan potensial antara A dan B. Arus listrik seakan-akan berupa arus
muatan positif, dari potensial tinggi ke rendah. Faktanya muatan listrik positif tidak
bisa berpindah, melainkan negatif (elektron) yang bisa. Berikut ini YukSinau.com
sajikan rumus listrik dinamis.

Rumus Listrik Dinamis


Rumus Kuat Arus Listrik (I)
Arus listrik terjadi jika ada perpindahan elektron seperti uraian diatas. Kedua benda
bermuatan, jika dihubungkan dengan penghantar akan menghasilkan arus listrik.
Kuat arus listrik disimbolkan dengan huruf I, memiliki satuan Ampere (A), rumusnya:
I=Q/t
Keterangan:

I = kuat arus listrik (A)

Q = jumlah muatan listrik (Coulomb)

t = selang waktu (s)

Rumus Beda Potensial atau Sumber Tegangan (V)


Berdasarkan uraian diatas, arus listrik mempunyai definisi banyaknya elektron yang
berpindah dalam waktu tertentu. Perbedaan potensial akan menyebabkan
perpindahan elektron, banyaknya energi listrik yang dibutuhkan untuk mengalirkan
setiap muatan listrik dari ujung penghantar disebut tegangan listrik atau beda
potensial.
Sumber tegangan atau beda potensial mempunyai simbol V, dengan satuan Volt.
Secara matematik mempunyai rumus:
V=W/Q
Keterangan:

V = beda potensia atau sumber tegangan listrik (Volt)

W = energi (Joule)

Q = muatan (Coulomb)

Rumus hambatan listrik (R)


Hambatan atau resistor disimbolkan dengan R, dengan satuan ohm, mempunyai
rumus:
R=.l/A
Keterangan:

R = hambatan listrik (ohm)

= hambatan jenis (ohm.mm2/m)

A = luas penampang kawat (m2)

Rumus hukum ohm


Hukum ohm merupakan hukum yang menghubungkan antara kuat arus listrik, beda
potensial, dan hambatan. Dengan rumus:
I = V / R atau R = V / I, atau V = I . R
Keterangan simbolnya baca pada keterangan simbol rumus sebelumnya.
Contoh Soal Listrik Dinamis
1. Kuat arus di dalam sepotong kawat penghantar adalah 10 A. Berapa menit waktu
yang diperlukan oleh muatan sebesar 9.600 C untuk mengalir melalui penampang
tersebut?
Jawaban:
Diketahui:
I = 10 A
Q = 9.600 C
Ditanyakan:
t...?
Penyelesaian:
I=Q/t
t = Q / I = 9.600 C / 10 A = 960 s atau 16 menit.
2. Sepotong kawat dihubungkan pada beda potensial 12 V. Jika kuat arus yang
melalui kawat tersebut 4 A, berapakah hambatan kawat tersebut?
Jawaban:
Diketahui:
V = 12 Volt
I=4A
Ditanyakatan:
R....?

Penyelesaian:
I=V/R
R = V / I = 12 V / 4 A = 3 Ohm.

Pengertian Listrik Dinamis


Jika dilihat dari istilah katanya, listrik dinamis (electrodinamic) berasal dari
perpaduan kata listrik dan dinamis. Listrik ya listrik, sedang dinamis artinya
berubah-ubah atau bergerak. Jadi bisa disimpulkan listrik dinamis adalah listrik yang
bergerak atau mengalir atau sering disebut dengan arus listrik. Arus listrik ini
berasal dari aliran elektron yang berlangsung secara terus-menerus dari kutub
negatif ke kutub positif, dari potensial tinggi ke potensial yang lebih rendah dari
sumber tegangan (beda potensial). Arus listrik itu sendiri terbagi menjadi dua jenis,
yaitu arus bolak-balik (AC) dan arus searah (DC). Sedangkan, jumlah arus listrik
yang mengalir dalam waktu tertentu disebut dengan kuat arus listrik (I).
Arus listrik yang mengalir tersebut dipengaruhi oleh beda potensial dan besar
hambatan. Semakin besar besar nilai dari sumber tegangan, maka semakin besar
pula jumlah arus yang mengalir. Tetapi, jika hambatannya diperbesar, maka aliran
arus itu akan berkurang. Kira-kira seperti itulah yang dijelaskan dalam hukum ohm.
Hukum ohm itu adalah hukum yang menjelaskan hubungan antara kuat arus listrik,
sumber tegangan, dan besar hambatan. Akan kita lihat formulasinya dalam rumus
dibawah.

Rumus Listrik Dinamis


Rumus-rumus yang ada dalam perhitungan listrik dinamis adalah rumus yang
berkaitan dengan besaran-besaran yang terlibat di dalamnya. Besaran-besaran
tersebut terdiri dari, kuat arus listrik, beda potensial, dan hambatan listrik. Selain
itu, digunakan juga formulasi dari hukum ohm. Berikut ini kami tampilkan satu per
satu rumusnya:

Rumus Kuat Arus Listrik (I)


Kuat arus listrik disimbolkan dengan I, memiliki satuan Ampere (A), dirumuskan:

I=Q/t
Keterangan:

I = kuat arus listrik (A)

Q = jumlah muatan listrik (Coulomb)

t = selang waktu (s)

Rumus beda potensial atau sumber tegangan (V)


Beda potensial atau sumber tegangan disimbolkan dengan V, memiliki satuan Volt
(V), dirumuskan:

V=W/Q
Keterangan:

V = beda potensia atau sumber tegangan listrik (Volt)

W = energi (Joule)

Q = muatan (Coulomb)

Rumus hambatan listrik (R)


Hambatan atau resistor disimbolkan dengan R, memiliki satuan ohm, dirumuskan:

R=.l/A
Keterangan:

R = hambatan listrik (ohm)

= hambatan jenis (ohm.mm2/m)

A = luas penampang kawat (m2)

Rumus hukum ohm

Hukum ohm adalah hukum yang menghubungkan antara kuat arus listrik, beda
potensial, dan hambatan. Rumus hukum ohm:

I = V / R atau R = V / I, atau V = I . R
Keterangan simbolnya baca pada keterangan simbol rumus sebelumnya.

Contoh Soal
Berikut ini adalah soal-soal yang berhubungan dengan listrik dinamis:
Kuat arus di dalam sepotong kawat penghantar adalah 10 A. Berapa menit waktu
yang diperlukan oleh muatan sebesar 4.800 coulomb untuk mengalir melalui
penampang tersebut?
Jawaban:
Diketahui:
I = 10 A
Q = 4.800 coulomb
Ditanyakan:
t...?
Penyelesaian:
I=Q/t
t = Q / I = 4.800 C / 10 A = 480 s atau 8 menit.
Sepotong kawat dihubungkan pada beda potensial 6 V. Jika kuat arus yang melalui
kawat tersebut 2 A, berapakah hambatan kawat tersebut?
Jawaban:
Diketahui:
V = 6 Volt
I=2A
Ditanyakatan:
R....?
Penyelesaian:

I=V/R
R = V / I = 6 V / 2 A = 3 Ohm.

KECEPATAN REAKSI
A. Pengertian
Kecepatan reaksi adalah banyaknya konsentrasi suatu zat yang dapat berubah menjadi zat lain
dalam setiap satuan waktu.
Untuk reaksi:
aA + bB c C + d D
Maka kecepatan reaksi untuk masing-masing zat dari persamaan reaksi di atas adalah:
VA = ,

VB = ,

VC = + ,

VD = +

dimana:
VA

= kecepatan reaksi zat A = pengurangan konsentrasi zat A per satuan waktu

VB
= kecepatan reaksi zat B = pengurangan konsentrasi zat B per satuan
waktu
VC = kecepatan reaksi zat C = penambahan konsentrasi zat C per satuan
waktu.
VD

= kecepatan reaksi zat D = penambahan konsentrasi zat D per satuan waktu


d(A) = perubahan konsentrasi A

d(B)

= perubahan konsentrasi B

d(C) = perubahan konsentrasi C


d(D)
= perubahan konsentrasi D
dt

= perubahan waktu (s)

B. Persamaan Kecepatan Reaksi


Pada umumnya kecepatan reaksi akan besar bila konsentrasi pereaksi cukup besar. Dengan
berkurangnya konsentrasi pereaksi sebagai akibat reaksi, maka akan berkurang pula
kecepatannya.
V = k(A) x (B)

Secara umum persamaan kecepatan reaksi dapat dirumuskan sebagai berikut:


dimana:
V = kecepatan reaksi (M/s)
k = tetapan laju reaksi
x = orde reaksi terhadap zat A
y = orde reaksi terhadap zat B
(x + y) adalah orde reaksi keseluruhan
(A) dan (B) adalah konsentrasi zat pereaksi.

C. OrdeReaksi
Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat reaktan yang mempenga-ruhi kecepatan
reaksi. Penentuan orde reaksi tidak dapat diturunkan dari persamaan reaksi tetapi hanya dapat
ditentukan berdasarkan percobaan.Suatu reaksi yang di-turunkan secara eksperimen dinyatakan
dengan rumus kecepatan reaksi :
v = k (A) (B) 2
Persamaan tersebut mengandung pengertian reaksi orde 1 terhadap zat A dan merupa-kan reaksi
orde 2 terhadap zat B. Secara keselurahan reaksi tersebut adalah reaksi orde 3.
Contoh soal:

Dari reaksi 2NO (g) + Br2 (g) 2NOBr (g)


dibuat percobaan dan diperoleh data sebagai berikut:
No.

(NO) mol/l

(Br2) mol/l

KecepatanReaksi
mol / 1 / detik

1.

0.1

0.1

12

2.

0.1

0.2

24

3.

0.1

0.3

36

4.

0.2

0.1

48

5.

0.3

0.1

108

Pertanyaan:
1. Tentukan orde reaksinya !
b. Tentukan harga k (tetapan laju reaksi) !

Jawab:
Pertama-tama kita misalkan rumus kecepatan reaksinya adalah V = k(NO) x(Br2)y
: jadi kita harus mencari nilai x den y.
Untuk menentukan nilai x maka kita ambil data dimana konsentrasi terhadap
Br2 tidak berubah, yaitu data (1) dan (4).
Dari data ini terlihat konsentrasi NO naik 2 kali sedangkan kecepatan reaksinya
naik 4 kali maka :2x = 4 x = 2 (reaksi orde 2 terhadap NO)
a. Untuk menentukan nilai y maka kita ambil data dimana konsentrasi terhadap NO tidak

berubah yaitu data (1) dan (2). Dari data ini terlihat konsentrasi Br2 naik 2 kali, sedangkan
kecepatan reaksinya naik 2 kali, maka :
2y = 2

y = 1 (reaksi orde 1 terhadap Br2)

Jadi rumus kecepatan reaksinya : V = k(NO)2(Br2)

(reaksi orde 3)

b. Untuk menentukan nilai k cukup kita ambil salah satu data percobaan saja
misalnya data (1), maka:

V = k(NO)2(Br2)

12 = k(0.1)2(0.1)
k = 12 x 103 mol-212det-1

D. Teori Tumbukan Dan Teori Keadaan Transisi


Teori tumbukan didasarkan atas teori kinetik gas yang mengamati tentang bagaimana suatu
reaksi kimia dapat terjadi. Menurut teori tersebut kecepatan reaksi antara dua jenis molekul A
dan B sama dengan jumiah tumbukan yang terjadi per satuan waktu antara kedua jenis molekul
tersebut. Jumlah tumbukan yang terjadi persatuan waktu sebanding dengan konsentrasi A dan
konsentrasi B.Jadi makin besar konsentrasi A dan konsentrasi B akan semakin besar pula jumlah
tumbukan yang terjadi.
TEORITUMBUKANINITERNYATA MEMILIKI BEBERAPAKELEMAHAN, ANTARA
LAIN :

tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi sebab ada energi tertentu yang
harus dilewati (disebut energi aktivasi = energi pengaktifan) untak dapat
menghasilkan reaksi. Reaksi hanya akan terjadi bila energi tumbukannya lebih
besar atau sama dengan energi pengaktifan (E a).

molekul yang lebih rumit struktur ruangnya menghasilkan tumbukan yang


tidak sama jumlahnya dibandingkan dengan molekul yang sederhana struktur
ruangnya.

Teori tumbukan di atas diperbaiki oleh tcori keadaan transisi atau teori laju reaksi absolut.
Dalam teori ini diandaikan bahwa ada suatu keadaan yang harus dilewati oleh molekul-molekul
yang bereaksi dalam tujuannya menuju ke keadaan akhir (produk). Keadaan tersebut dinamakan
keadaan transisi. Mekanisme reaksi keadaan transisi dapat ditulis sebagai berikut:
A + B T* C + D
dimana:
A dan B adalah molekul-molekul pereaksi
T* adalah molekul dalam keadaan transisi
C dan D adalah molekul-molekul hasil reaksi
Secara diagram keadaan transisi ini dapat dinyatakan sesuai kurva berikut
Dari diagram terlibat bahwa energi pengaktifan (Ea) merupakan energi keadaan awal sampai
dengan energi keadaan transisi. Hal tersebut berarti bahwa molekul-molekul pereaksi harus

memiliki energi paling sedikit sebesar energi pengaktifan (Ea) agar dapat mencapai keadaan
transisi (T*) dan kemudian menjadi hasil reaksi (C + D).
Catatan :
energi pengaktifan (= energi aktivasi) adalah jumlah energi minimum yang dibutuhkan oleh
molekul-molekul pereaksi agar dapat melangsungkan reaksi.
E. Tahap Menuju Kecepatan Reaksi
Dalam suatu reaksi kimia berlangsungnya suatu reaksi dari keadaan semula (awal) sampai
keadaan akhir diperkirakan melalui beberapa tahap reaksi.
Contoh:

4 HBr(g) + O2(g) 2 H2O(g) + 2 Br2(g)

Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa tiap 1 molekul O2 bereaksi dengan 4 molekul HBr.
Suatu reaksi baru dapat berlangsung apabila ada tumbukan yang berhasil antara molekul-molekul
yang bereaksi. Tumbukan sekaligus antara 4 molekul HBr dengan 1 molekul O2 kecil sekali
kemungkinannya untuk berhasil. Tumbukan yang mungkin berhasil adalah tumbukan antara 2
molekul yaitu 1 molekul HBr dengan 1 molekul O2. Hal ini berarti reaksi di atas harus
berlangsung dalam beberapa tahap dan diperkirakan tahap-tahapnya adalah :
Tahap1:

HBr + O2

HOOBr

(lambat)

Tahap 2:

HBr + HOOBr

2 HOBr

(cepat)

Tahap 3:

(HBr + HOBr

H2O + Br2) x 2

(cepat)

+
4 HBr + O2

2 H2O + 2 Br2

Dari contoh di atas ternyata secara eksperimen kecepatan berlangsungnya reaksi tersebut
ditentukan oleh kecepatan reaksi pembentukan HOOBr yaitu reaksi yang berlangsungnya paling
lambat.
Rangkaian tahap-tahap reaksi dalam suatu reaksi disebut mekanisme reaksi dan kecepatan
berlangsungnya reaksi keselurahan ditentukan oleh reaksi yang paling lambat dalam mekanisme
reaksi. Oleh karena itu, tahap ini disebut tahap penentu kecepatan reaksi.
F.Faktor-Faktor Yang MempengaruhiKecepatanReaksi

Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain konsentrasi, sifat zat yang
bereaksi, luas permukaan zat, suhu dan katalisator.
1. Konsentrasi

Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi
makin cepat reaksinya berlangsung. Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi
sehingga makinbesar kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian makin besar pula
kemungkinan terjadinya reaksi.
2. Sifat Zat Yang Bereaksi
Sifat mudah sukarnya suatu zat bereaksi akan menentukan kecepatan berlangsungnya reaksi.
Secara umum dinyatakan bahwa:

Reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat.


Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang
muatannya berlawanan.Contoh: Ca2+ (aq) + CO32+ (aq) CaCO3 (s)
Reaksi ini berlangsung dengan cepat.

Reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat.


Hal ini disebabkan karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan
energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam
molekul zat yang bereaksi.Contoh: CH4 (g) + Cl2 (g) CH3Cl (g) + HCl (g)
Reaksi ini berjalan lambat reaksinya dapat dipercepat apabila diberi energi
misalnya cahaya matahari.

2. Luas Permukaan Zat

Terjadinya reaski kimia karena adanya tumbukakan antar dua permukaan atau lebih partikelpartikel zat yang bereaksi. Tetapi tidak semua tumbukkan akan menghasilkan reaksi tergantung
dari besarnya energi aktivasi suatu zat. Energi aktivasi merupakan energi minimum yang
diperlukan suatu zat agar terjadi reaksi. Jadi cepat lambatnya reaksi juga tergantung dari luas
permukaan suatu zat. Semakin luas permukaan suatu zat kecepatan reaksinya akan semakin
besar dan sebaliknya.

Zat yang berbentuk serbuk mempunyai permukaan yang lebih luas daripada zat yang berbentuk
bongkahan/gelondongan. Dengan demikian zat yang berbentuk serbuk kecepatan reaksinya lebih
besar daripada zat yang berbentuk bongkahan/gelondongan.
4. Suhu

Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan
suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan
lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea.Dengan demikian lebih
banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi
menjadi lebih besar. Secara matematis hubungan antara nilai tetapan laju reaksi (k) terhadap
suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS:
k = A . e-E/RT

dimana:
k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E : energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/moloK = 8.314 joule/moloK
T : suhu reaksi (oK)

5. Katalisator

Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud
memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak
mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan
dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan
jalan memperkecil energi pengaktifan ( energi aktivasi ) suatu reaksi dan dibentuknya tahaptahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama
reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

KESIMPULAN
Kecepatan reaksi menyatakan banyaknya zat yang bereaksi dalam tiap satuan
waktu. Banyaknya zat yang bereaksi dinyatakan dalam konsentrasi.

LATIHAN SOAL
A.Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!
1 Apa yang dimaksud dengan kecepatan reaksi?
2. Bagaimana pengertian kecepatan reaksi zat A dan M menurut persamaan
reaksi berikut: A + B M + N
3. Sebutkan dua contoh reaksi kimia yang dapat berlangsung dengan cepat
sesuai dengan bidang keahlian !
4. Sebutkan dua contoh reaksi kimia yang dapat berlangsung dengan lambat
sesuai dengan bidang keahlian!
5. Mengapa reaksi kimia dapat berlangsung dengan cepat/lambat? Sebutkan
faktor-faktor yang mempengaruhinya!
6. Mengapa suhu reaksi dapat mempengaruhi kecepatan reaksi? Jelaskan!
7. Apa yang dimaksud dengan orde reaksi?
8. Tuliskan persamaan kecepatan/laju reaksi dari persamaan reaksi berikut:
9. H2
10.C

+
+

O2 2H2O
O2 CO2

11.HCl + NaOH NaCl + H2O


12.Dari persamaan reaksi berikut: H2 + I2 2 HI

Diperoleh data sebagai brikut:

[H2]

(M)

[I2] (M)

V (M/s)

0,1

0,1

0,1

0,2

0,2

0,2

32

Tentukan:

1. Persamaan kecepatan reaksi


2. Orde reksi terhadap H2
3. Orde reaksi terhadap I2
4. Orde reaksi total
5. Tetapan laju reaksi
6. Kecepatan reaksi jika diketahui [H2} = 2 x 10-2 M dan [I2] = 10-2 M
7. Sebutkan reaksi kimia sesuai bidang keahlian Anda dan bagaimana caran
mempercepat reaksinya ?

Reaksi oksidasi dan Reduksi ( Redoks )


Reaksi oksidasi reduksi atau sering disebut reaksi redoks merupakan bagian yang penting
dalam ilmu kimia untuk dipahami dan dimengerti. Reaksi redoks merupakan perubahan kimia
yang berhubungan dengan pengaruh arus listrik
Dalam kehidupan sehari-hari banyak perubahan kimia yang termasuk reaksi redoks,
seperti proses perkaratan, pembakaran, pernafasan, metabolisme dan fotosintesis. Beberapa
industri juga sering melibatkan reaksi redoks, misalnya pengolahan logam dari bijihnya,
pelapisan logam (elektroplating).
PERKEMBANGAN REAKSI REDOKS.
1. Reaksi redoks sebagai peristiwa pengikatan dan pelepasan oksigen.
Reaksi antara unsur atau senyawa dengan oksigen disebut reaksi oksidasi. Atau dengan kata lain,
reaksi oksidasi adalah reaksi penambahan/pengikatan oksigen oleh suatu unsur atau senyawa.
Contoh : 2 Fe(s) + O2(g) > 2 FeO(s)
4 Na(s) + O2(g) > 2 Na2O(s)
CH4(g) + 2 O2(g) > CO2(g) + 2 H2O(l)

Dari ketiga contoh diatas logam besi, logam natrium dan gas metana mengalami oksidasi,
sedang gas oksigen bertindak sebagai pengoksidasi atau oksidator.
Sekarang marilah kita perhatikan suatu contoh reaksi oksidasi yang berlangsung pada
tubuh kita. Misalnya metabolisme karbohidrat yang membutuhkan gas oksigen dan
menghasilkan gas karbon dioksida serta uap air. Secara sederhana reaksi metabolisme
karbohidrat dapat ditulis sebagai:

C6H12O6(s) + 6 O2(g) > 6 CO2(g) + 6 H2O(l)


Reaksi ini juga termasuk reaksi redoks, karena terjadi pengikatan oksigen.
Reaksi sebaliknya dapat terjadi jika gas hidrogen (H2) dialirkan kedalam padatan CuO
panas. Pada reaksi ini CuO akan melepaskan oksigen sehingga membentuk logam Cu, sedangkan
gas hidrogen mengikat oksigen membentuk uap air. Reaksi pelepasan oksigen oleh suatu zat
disebut sebagai reaksi reduksi dan zat yang menyebabkan terjadinya reaksi reduksi disebut
reduktor. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut:

CuO(s) + H2(g) > Cu(s) + H2O


2. Reaksi redoks sebagai reaksi perpindahan elektron
Apakah reaksi logam magnesium dengan larutan hidrogen klorida yang dapat ditulis
seperti persamaan reaksi dibawah ini juga termasuk reaksi redoks?
Mg(s) + 2 HCl(aq) > MgCl2(aq) + H2(g)
Jika diperhatikan reaksi tersebut tidak melibatkan oksigen. Untuk dapat menjawab pertanyaan
tersebut perhatikan kembali reaksi logam natrium dengan oksigen membentuk natrium oksida
4 Na(s) + O2(g) > 2 Na2O(s)
Dalam reaksi tersebut logam Na mengikat oksigen sehingga dikatakan mengalami oksidasi.
Senyawa Na2O merupakan senyawa ionik, jadi senyawa tersebut terdiri atas ion Na+ dan ion O2-.
Peristiwa pembentukan ion-ion tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Na(s) > Na+(s) + e
O2(g) + 2e > O2-(g)

Dalam reaksi tersebut logam natrium melepaskan elektron, padahal logam natrium
mengalami peristiwa oksidasi. Jadi dapat dikatakan bahwa oksidasi adalah peristiwa pelepasan
elektron. Sekarang perhatikan reaksi logam magnesium dengan larutan hidrogen klorida yang
reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:

Mg(s) + 2 HCl(aq) > MgCl2(aq) + H2(g)


atau
Mg(s) -> Mg2+(aq) + 2e (pelepasan electron, oksidasi)
2 H+(aq) + 2e > H2(g) (penerimaan electron, reduksi)
Mg(s) + 2 H+(aq) > Mg2+(aq) + H2(g)
alam reaksi di atas logam magnesium bertindak sebagai pereduksi (reduktor) dan ion
hidrogen bertindak sebagai pengoksidasi (oksidator) . Reaksi oksidasi selalu diikuti dengan
reaksi reduksi, dan sebaliknya reaksi reduksi juga tidak mungkin terjadi tanpa reaksi oksidasi.
Karena itu gabungan kedua reaksi tersebut dinamakan reaksi redoks. Sedangkan reaksi oksidasi
saja disebut setengah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi disebut setengah reaksi reduksi.
3. Reaksi redoks sebagai reaksi perubahan bilangan oksidasi.
Bilangan oksidasi suatu unsur menyatakan banyaknya elektron yang dapat dilepas atau
diterima maupun digunakan bersama dalam membentuk ikatan dengan unsur lain. Sehingga
bilangan oksidasi dapat positip, nol atau negatif. Dalam suatu senyawa, unsur yang lebih
elektronegatif mempunyai bilangan oksidasi negatif. Untuk menentukan bilangan oksidasi suatu
zat harus mengikuti aturan tertentu.
Sebagai contoh:
Unsur F merupakan unsur paling elektronegatif, oleh karena itu didalam senyawanya F
selalu mempunyai bilangan oksidasi -1.
Unsur O merupakan unsur yang keelektronegatifannya sangat besar dan didalam
senyawanya, atom O selalu mempunyai bilangan oksidasi -2, kecuali dalam senyawa OF2
(bilangan oksidasi O = +2), dan dalam senyawa peroksida, H2O2, Na2O2, K2O, BaO2 (bilangan
oksidasi O = -1)

Unsur hidrogen dalam senyawa H2O, NH3, HCl mempunyai bilangan oksidasi +1, karena
atom H kurang elektronegatif dibanding unsur yang lain, tetapi dalam senyawa LiH, NaH, MgH2,
BaH2 (senyawa hidrida logam) atom H mempunyai bilangan oksidasi +1.
Cara menentukan bilangan oksidasi:
a. Bilangan oksidasi unsur-unsur bebas, yaitu unsur yang tidak terikat dengan unsur lain = 0
b. Jumlah aljabar bilangan oksidasi unsur-unsur dalam senyawa atau molekul netral = 0
c. Jumlah aljabar bilangan oksidasi unsur-unsur penyusun ion adalah sama dengan muatan ion
tersebut.
d. Dalam senyawanya, bilangan oksidasi unsur-unsur golongan IA (Li, Na, K, Rb, Cs) = +1,
golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba) = +2 dan golongan IIIA = +3.
e. Dalam senyawa ida (senyawa tanpa oksigen) bilangan oksidasi halogen = -1, unsur-unsur
golongan VIA = -2 dan nitrogen = -3.

Menentukan bilangan oksidasi ( Biloks ) unsur yang belum masuk aturan di


atas.
Contoh :
Tentukan biloks Sulfur pada asam sulfat H2SO4.
Jawab :
(2 x biloks H ) + Biloks S + ( 4 x Biloks O ) = 0
( 2 x 1 ) + Biloks S + ( 4 x- 2 )

=0

2 + bilok S -8 = 0
Biloks S = 8-2
Biloks S = 6
Selanjutnya cara atas dapat diketahui perubahan bilangan oksidasi yang terjadi dalam
suatu reaksi oksidasi-reduksi.

Dari contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa reduksi adalah penguragan bilangan
oksidasi dan oksidasi adalah bertambahnya bilangan oksidasi.

1. Konsep redoks berdasarkan pelepasan dan


pengikatan oksigen.
Berdasarkan konsep pertama:

a. Oksidasi adalah peristiwa pengikatan oksigen


Adapun contoh yang terkait dengan reaksi oksidasi berdasarkan konsep ini adalah
sebagai berikut:
1) Perkaratan logam besi
Reaksi perkaratan logam besi:
4Fe(s) + 3O2(g) --> 2Fe2O3(s) [karat besi]
2) Pembakaran bahan bakar (misalnya gas metana, minyak tanah, LPG, solar)
Reaksi pembakaran gas metana (CH4): akan menghasilkan gas karbon dioksida dan
uap air.
CH4(g) + O2(g) --> CO2(g) + 2H2O(g)
3) Oksidasi glukosa (C6H12O6) dalam tubuh (respirasi). Di dalam tubuh, glukosa di
pecah menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti carbon dioksida dan air.
C6H12O6(aq) + 6O2(g) --> 6CO2(g) + 6H2O(l)
4) Oksidasi tembaga Cu, belarang S, dan belerang dioksida SO2:
Cu(s) + O2(g) --> CuO(s)
S(s) + O2(g) --> SO2(g)

SO2(g) + O2(g) --> SO3(g)


5) Buah apel maupun pisang setelah dikupas akan berubah warna menjadi
kecoklatan
6) Minyak makan yang disimpan terlalu lama dan dalam kondisi terbuka akan
menyebabkan bau tengik hasil dari pengikatan oksigen (teroksidasi)
7) Menurut Anda, contoh apa lagi yang terkait dengan peristiwa oksidasi
berdasarkan konsep pertama? Silakan tambahkan di sini !!
Zat yang mengikat oksigen kita sebut sebagai reduktor/pereduksi. Berdasarkan
contoh-contoh reaksi oksidasi di atas, maka reduktor untuk reaksi: 1) Besi Fe; 2)
Metana CH4; 3) Glukosa C6H12O6; 4) Cu, S, SO2
b. Reduksi adalah peristiwa pelepasan oksigen (kebalikan dari reaksi
oksidasi)
Adapun contoh yang terkait dengan reaksi reduksi berdasarkan konsep ini adalah
sebagai berikut:
1) Reduksi mineral hematit F2O3 oleh karbon monoksida CO
F2O3(s) + CO(g) --> 2Fe(s) + CO2(g)
2) Reduksi kromium(III) oksida Cr2O3 oleh aluminium Al
navy;">Cr2O3(s) + 2Al(s) --> 2Cr(s) + Al2O3(s)
3) Reduksi tembaga(II) oksida CuO oleh gas hidrogen H2
CuO(s) + H2(g) --> Cu(s) + H2O(g)
4) Reduksi SO3, KClO3, dan KNO3:
SO3(g) --> SO2(g) + O2(g)
3KClO3(s) --> 2KCl(s) + 3O2(g)
2KNO3(aq) --> 2KNO2(aq) + O2(g)
Zat yang melepas oksigen kita sebut sebagai oksidator/pengoksidasi.
Berdasarkan contoh-contoh reaksi reduksi di atas, maka oksidator untuk reaksi: 1)

Hematit Fe2O3; 2) Kromium(III) oksida Cr2O3; 3) Tembaga(II) oksida CuO; 4) SO3,


KClO3, KNO3.

2. Konsep redoks berdasarkan pelepasan dan


penerimaan elektron.
Pelepasan dan penerimaan elektron terjadi secara simultan, artinya jika suatu spesi
melepas elektron berarti ada spesi lain yang menyerapnya. Hal ini berlaku untuk
ikatan kimia. Silakan Anda hubungkan dengan materi ikatan kimia kelas X semeser
I.
Berdasarkan konsep yang kedua:
a. Oksidasi adalah peristiwa pelepasan elektron
b. Reduksi adalah penerimaan elektron
Adapun contoh yang terkait dengan reaksi oksidasi dan reduksi berdasarkan
konsep ini adalah sebagai berikut:
1) Reaksi natrium dengan clorin membentuk natrium klorida NaCl
Oksidasi : Na --> Na+ + e [melapas 1 elektron]
Reduksi : Cl + e --> Cl- [menerima 1 elektron]
------------------------------------Na + Cl --> Na+ + Cl- --> NaCl
2) Reaksi kalsium dengan belerang membentuk calsium sulfida
Oksidasi : Ca --> Ca2+ + 2e [melepas 2 elektron]
Reduksi : S + 2e --> S2- [menerima 2 elektron]
------------------------------------Ca + S --> Ca2+ + S2- --> CaS
Zat yang melepas elektron (oksidasi) disebut reduktor, sedangkan zat yang
menerima elektron (reduksi) disebut oksidator.

3. Konsep redoks berdasarkan kenaikan dan


penurunan bilangan oksidasi.
Dalam berbagai kasus reaksi oksidasi yang kompleks, sulit untuk menentukan spesi
mana yang mengalami oksidasi dan reduksi. Contoh reaksi berikut:
2KMnO4 + 3H2SO4 + H2C2O4 --> K2SO4 + 2MnSO4 + 2CO2 + 4H2O

Dapatkah Anda menyebutkan spesi mana yang mengalami reaksi oksidasi dan
reduksi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka digunakan konsep reaksi oksidasi reduksi
berdasarkan kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi (biloks).
Berdasarkan konsep yang ketiga
a. Oksidasi adalah pertambahan biloks
b. Reduksi adalah penurunan biloks

Senyawa organik
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya
mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai
senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik,
seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam
biokimia.

Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang
dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak
satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur
cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.
Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen.
Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama,
organik.
Nama "organik" merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa
organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis - life-force.
Kebanyakan senyawaan kimia murni dibuat secara artifisial.

Defenisi ( pengertian ) Senyawa organik


Kimia organik adalah studi ilmiah mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi, dan
sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun oleh karbon dan hidrogen, dan dapat
mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, dan belerang. Senyawa organik
adalah senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan
oksida karbon. Beberapa senyawa organik seperti karbohidrat, protein, dan lemak merupakan
komponen penting dalam biokimia.

Senyawa organic

Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung
unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Sebutan kimia organik
ini berasal dari kesalah pahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme
hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya,
kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang
mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang
komposisinya merupakan campuran dari senyawa organik maupun anorganik.
Contoh lainnya adalah larutan HCl, larutan ini berperan besar dalam proses pencernaan
makanan yang hampir seluruh organisme (terutama organisme tingkat tinggi) memakai larutan
HCl untuk mencerna makanannya, yang juga digolongkan dalam senyawa anorganik. Mengenai
unsur karbon, kimia anorganik biasanya berkaitan dengan senyawa karbon yang sederhana
yang tidak mengandung ikatan antar karbon misalnya oksida, garam, asam, karbid, dan

mineral. Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada senyawa karbon tunggal dalam senyawa
organik misalnya metan dan turunannya.
Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbonhidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak
termasuk senyawa organik. Pada tahun 1828, Friedrich Wohler mendapatkan bahwa senyawa
organik urea (suatu komponen urin) dapat dibuat dengan menguapkan larutan yang berisi
senyawa anorganik amonium sianat.

senyawa organik urea

Meskipun jelas bahwa senyawa organik tidak harus berasal dari sumber yang hidup
(dapat dibuat dalam laboratorium), namun sampai sekarang kata organik masih dipakai untuk
menerangkan

senyawa-senyawa

karbon

tersebut

atau

yang

mirip

dengannya.

Keistimewaan karbon dibanding unsur lain adalah mempunyai kemampuan untuk


berikatan dengan karbon lainnya membentuk rantai yang panjang atau cincin dari molekul
karbon yang sederhana hingga molekul-molekul yang sangat besar dan kompleks.

Ciri Ciri Senyawa Organik:

Memiliki titik leleh dan titik didih yang relatif rendah,

Bersifat non polar sehingga kelarutannya rendah di dalam air dan tinggi di pelarut non
polar,

Mudah terbakar,

Tidak menghantarkan listrik karena tidak mengion,

Reaksi kimianya berlangsung relatif lambat,

Memiliki isomer (senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi strukturnya
berbeda),

Jenis ikatan kimianya sebagian besar ikatan kovalen.

Unsur Penyusun Senyawa Organik


Senyawa adalah zat yang terbentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan
tertentu dan tetap melalui reaksi kimia. Jadi, sifat senyawa tidak sama dengan sifat
unsur pembentuknya. Senyawa dapat dipisahkan menjadi unsur-unsur atau menjadi
senyawa yang lebih sederhana melalui reaksi kimia. Senyawa organik adalah golongan
besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat,
dan oksida karbon.Senyawa organik adalah senyawa yang tersusun atas karbon (C)
dan beberapa unsur tertentu, seperti nitrogen (N), hidrogen (H) dan oksigen (O).
Contoh: C6H12O6 (glukosa) dan (NH2)2CO (urea). Penyusun utama dari senayawa
organik merupakan karbon.
Berikut ini adalah sifat sifat dari senyawa organik :
1. Mudah terbakar
2. Titik didih dan titik leleh rendah
3. Mempunyai sifat yang kurang dapat meleleh di dalam air.
4. Senyawa organik biasanya ada dalam bentuk molekul (bukan dalam bentuk ion)
5. Bobot molekul yang biasanya tinggi.
Ditinjaui dari segi reaksi kimia yang terjadi di dalam senyawa organik, reaksi
subtitusi (reaksi penggantian atom pada senyawa hidrokarbon dengan senyawa lain),
adisi (reaksi pada senyawa hidrokarbon ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal), dan
reaksi eliminasi (kebalikan dari reaksi adisi) adalah reaksi yang sering menyertai di
dalam senyawa organik.
Karbon merupakan unsur non logam yang mempunyai nomor atom 6, dan
massa 12.0107, dengan konfigurasi elektron 2s2 sp2, dengan 4 ikatan kovalen. Unsur
ini paling banyak ditemukan di alam dimana batubara merupakan sumber utama unsur
karbon yang ada di dalam alam semesta. Glukosa merupakan contoh senyawa yang
tersusun dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen dengan perbandingan 6 : 12 : 6 yang
sudah lazim kita kenal.
Karbon merupakan unsur kimia yang mempunyai simbol C dan nomor atom 6
pada tabel periodik. Karbon merupakan unsur non-logam, bervalensi 4, dan memiliki
beberapa alotrop, termasuk grafit dan intan.
Karbon terdapat di dalam semua makhluk hidup dan merupakan dasar kimia organik.
Unsur inimemiliki keunikan dalam kemampuannya untuk membentuk ikatan kimia

dengan sesama karbon maupun banyak jenis unsur lain, membentuk hampir 10 juta
jenis senyawa yang diketahui.
Semua bahan alami mengandung unsur karbon yang berikatan dengan satu atau
lebih unsur lainnya. Sebagai contoh hidrokarbon merupakan senyawa yang terdiri dari
karbon dan hidrogen. Selain unsur karbon, hidrogen, dan oksigen sebagai unsur
penyusun utama senyawa kimia organik, ada beberapa unsur lain antara lain nitrogen,
fosfor, sulfur dll meskipun dalam jumlah yang tidak besar.
Hidrogen adalah unsur kimia dan tabel periodik yang memiliki simbol H dan
nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar hidrogen tidak berwarna, tidak berbau,
bersifat non-logam, bervalensi, tunggal, dan merupakan gas diatomik yang sangat
mudah terbakar. Dengan massa atom 1,00794 amu, hidrogen adalah unsur teringan di
dunia.

PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH


Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua orang. Dipandang
dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :
1. Menjamin tempat tinggal / tempat kerja yang bersih
2. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan
3. Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit
Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan meliputi 2 cara pokok,
yaitu :

1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan
dengan cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang dapat merencanakan,
mengatur, mengawasi segala bentuk kegiatan industri dan bersifat mengikat sehingga
dapat memberi sanksi hukum pagi pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan
cara-cara yang berkaitan dengan proses produksi seperti perlu tidaknya mengganti proses,
mengganti sumber energi/bahan bakar, instalasi pengolah limbah atau menambah alat
yang lebih modern /canggih. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah :
1. Mengutamakan keselamatan manusia
2. Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik
3. Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.
A. PENANGANAN LIMBAH PADAT
Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel, pusat
perdagangan/restoran maupun pertanian/peternakan. Penanganan limbah padat melalui
beberapa tahapan, yaitu :
1. Penampungan dalam bak sampah
2. Pengumpulan sampah
3. Pengangkutan
4. Pembuangan di TPA.
Sampah yang sudah berada di TPA akan mengalami berbagai macam perlakuan, seperti
menjadi bahan makanan bagi sapi / ternak yang digembala di TPA, di sortir oleh pemulung, atau
diolah menjadi pupuk kompos.

A. Berikut ini beberapa metode penanganan limbah organik padat :


1. Composting, yaitu penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan
sebagai pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk membuat kompos adalah sampah
kering maupun hijau dari sisa tanaman, sisa makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll.
Dalam proses pembuatan kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi / penguraian oleh
mikroorganisme.
Proses sederhana pengomposan berlangsung secara anaerob yang sering menimbulkan gas.
Sedangkan proses pengomposan secara aerob membutuhkan oksigen yang cukup dan tidak
menghasilkan gas. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pengomposan yaitu :

1. Ukuran bahan, semakin kecil ukuran bahan semakin cepat proses pengomposan
2. Kandungan air, tumpukan bahan yang kurang mengandung air akan berjamur sehingga
proses penguraiannya lambat dan tidak sempurna. Tetapi jika kelebihan air berubah
menjadi anaerob dan tidak menguntungkan bagi organisme pengurai.
3. Aerasi, aerasi yang baik akan mempercepat proses pengomposan sehingga perlu
pembalikan atau pengadukan kompos.
4. pH (derajat keasaman), supaya proses pengomposan berlangsung cepat, pH kompos
jangan terlalu asam maka perlu penambahan kapur atau abu dapur
5. suhu, suhu optimal pengomposan berlangsung pada 30 450 C
6. perbandingan C dan N, proses pengomposan dapat dihentikan bila komposisi C/N
mendekati perbandingan C/N tanah yaitu 10 12
7. kandungan bahan sampah seperti lignin, wax (malam) damar, selulosa yang tinggi akan
memperlambat proses pengomposan.
Cara pembuatan kompos, memalui cara :
1. menggunakan komposter
2. tumpukan terbuka (open windrow)
3. cascing (menggunakan cacing)
Di dalam kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga digunakan
sebagai pupuk tanaman dan disebut pupuk organik. Dalam proses pengomposan, bahan baku
kompos mengalami perubahan kimiawi oleh mikroorganisme / bakteri yang membutuhkan
nitrogen untuk hidupnya. Tetapi tidak selalu bahan baku kompos mengandung nitrogen yang
cukup untuk kebutuhan bakteri pengurai tersebut sehingga diperlukan pemberian tambahan
nitrogen, salah satunya adalah EM 4 (effective microorganism 4) yang berfungsi sebagai
aktivator. Hal ini akan membantu bakteri hidup berkembang dengan baik sehingga proses
penguraian bahan baku kompos menjadi lebih cepat dan proses pengomposan berlangsung lebih
cepat pula. Jika aerasi kurang, maka yang terjadi adalah proses pembusukan dan akan
mengasilkan bau busuk akibat terbentuknya amoniak (NH3) dan asam sulfida (H2S).
Kompos dari bahan baku organik memiliki beberapa kegunaan antara lain :
1. memperbaiki kualitas tanah
2. meningkatkan kemampuan tanah dalam melakukan pertukaran ion
3. membantu pengolahan sampah

4. mengurangi pencemaran lingkungan


5. membantu melestarikan sumber daya alam
6. membuka lapangan kerja baru
7. mengurangi biaya operasional bagi petani atau pecinta tanaman

1. Gas Bio, yaitu pengubahan sampah organik yang berasal dari tinja manusia maupun
kotoran hewan menjadi gas yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif.
Kandungan gas bio antara lain metana ( CH4) dalam komposisi yang terbanyak,
karbondioksida ( CO2 ), Nitrogen ( N2 ), Karbonmonoksida ( CO ), Oksigen (O2), dan
hidrogen sulfida (H2S). Gas metana murni adalah gas tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak berasa. Supaya efektif, proses pengubahan ini harus pada tingkat kelembaban yang
sesuai, suhu tetap dan pH netral.

1. Makanan ternak ( Hog Feeding ), adalah pengolahan sampah organik menjadi makanan
ternak. Agar sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak harus dipilih dan
dibersihkan terlebih dulu agar tidak tercampur dengan sampah yang mengandung logam
berat atau bahan-bahan yang membahayakan kesehatan ternak.

B. Berikut ini beberapa metode penanganan limbah anorganik padat :

1. 1.

Empat R ( 4 R = replace, reduce, recycle dan reuse )

Replace yaitu usaha mengurangi pencemaran dengan menggunakan barang-barang yang ramah
lingkungan. Contohnya memanfaatkan daun daripada plastik sebagai pembungkus,
menggunakan MTBE daripada TEL untuk anti knocking pada mesin, tidak menggunakan CFC
sebagai pendingin dan lain-lain.
Reduce yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan meminimalkan produksi
sampah. Contohnya membawa tas belanja sendiri yang besar dari pada banyak kantong plastik,
membeli kemasan isi ulang rinso, pelembut pakaian, minyak goreng dan lain-lain daripada
membeli botol setiap kali habis, membeli bahan-bahan makanan atau keperluan lain dalam
kemasan besar daripada yang kecil-kecil.
Recycle yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan mendaur ulang sampah
melalui penanganan dan teknologi khusus. Proses daur ulang biasanya dilakukan oleh
pabrik/industri untuk dibuat menjadi produk lain yang bisa dimanfaatkan. Dalam hal ini
pemulung berjasa sekaligus mendapatkan keuntungan karena dengan memilah sampah yang bisa

didaur ulang bisa mendapat penghasilan.Misalnya plastik-plastik bekas bisa didaur ulang
menjadi ember, gantungan baju, pot tanaman dll.
Reuse yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menggunakan dan
memanfaatkan kembali barang-barang yang seharusnya sudah dibuang. Misalnya memanfaatkan
botol/kaleng bekas sebagai wadah, memanfaatkan kain perca menjadi keset, memanfaatkan
kemasan plastik menjadi kantong belanja / tas dll
1. 2. Insenerator, adalah alat yang digunakan untuk membakar sampah secara terkendali
pada suhu tinggi. Insenerator efisien karena sanggup mengurangi volume sampah hingga
80 %. Residunya berupa abu sekitar 5 10 % dari total volume sampah yang dibakar dan
dapat digunakan sebagai penimbun tanah. Kekurangan alat ini adalah mahal dan tidak
bisa memusnahkan sampah logam.

1. 3. Sanitary Landfill, adalah metode penanganan limbah padat dengan cara


membuangnya pada area tertentu.

Ada 3 metode sanitary landfill, yaitu :


1. Metode galian parit (trenc method), sampah dibuang ke dalam galian parit yang
memanjang. Tanah bekas galian digunakan untuk menutup parit. Sampah yang ditimbun
dipadatkan dan diratakan. Setelah parit penuh, dibuatlah parit baru di sebelah parit yang
telah penuh tersebut.
2. Metode area, sampah dibuang di atas tanah yang rendah, rawa, atau lereng kemudian
ditutupi dengan tanah yang diperoleh ditempat itu.
3. Metode ramp, merupakan gabungan dari metode galian parit dan metode area. Pada area
yang rendah, tanah digali lalu sampah ditimbun tanah setiap hari dengan ketebalan 15
cm, setelah stabil lokasi tesebut diratakan dan digunakan sebagai jalur hijau
(pertamanan), lapangan olah raga, tempat rekreasi dll.

1. 4. Penghancuran sampah (pulverisation), adalah proses pengolahan sampah


anorganik padat dengan cara menghancurkannya di dalam mobil sampah yang dilengkapi
dengan alat pelumat sampah sehingga sampah hancur menjadi potongan-potongan kecil
yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang cekung atau letaknya rendah.

1. 5. Pengepresan sampah ( reduction mode), yaitu proses pengolahan sampah dengan


cara mengepres sampah tesebut menjadi padat dan ringkas sehingga tidak memakan
banyak tempat.

C. Penanganan Limbah cair


Sekitar 80% air yang digunakan manusia untuk aktivitasnya akan dibuang lagi dalam bentuk air
yang sudah tercemar, baik itu limbah industri maupun limbah rumah tangga. Untuk itu
diperlukan penanganan limbah dengan baik agar air buangan ini tidak menjadi polutan.

Tujuan pengaturan pengolahan limbah cair ini adalah :

1. Untuk mencegah pengotoran air permukaan (sungai, waduk, danau, rawa dll)
2. Untuk melindungi biota dalam tanah dan perairan
3. Untuk mencegah berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor penyakit seperti nyamuk,
kecoa, lalat dll.
4. Untuk menghindari pemandangan dan bau yang tidak sedap

Pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan cara-cara :


1. Cara Fisika, yaitu pengolahan limbah cair dengan beberapa tahap proses
kegiatan yaitu :
1. Proses Penyaringan (screening), yaitu menyisihkan bahan tersuspensi yang
berukuran besar dan mudah mengendap.
2. Proses Flotasi, yaitu menyisishkan bahan yang mengapung seperti minyak dan
lemak agar tidak mengganggu proses berikutnya.
3. Proses Filtrasi, yaitu menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari
dalam airatau menyumbat membran yang akan digunakan dalam proses osmosis.
4. Proses adsorbsi, yaitu menyisihkan senyawa anorganik dan senyawa organik
terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air
buangan tersebut, biasanya menggunakan karbon aktif.
5. Proses reverse osmosis (teknologi membran), yaitu proses yang dilakukan untuk
memanfaatkan kembali air limbah yang telah diolah sebelumnya dengan beberapa
tahap proses kegiatan. Biasanya teknologi ini diaplikasikan untuk unit pengolahan
kecil dan teknologi ini termasuk mahal.

6. Cara kimia, yaitu pengolahan air buangan yang dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat,
senyawa fosfor dan zat organik beracun dengan menambahkan bahan kimia
tertentu yang diperlukan. Metode kimia dibedakan atas metode nondegradatif
misalnya koagulasi dan metode degradatif misalnya oksidasi polutan organik
dengan pereaksi lemon, degradasi polutan organik dengan sinar ultraviolet dll.
7. Cara biologi, yaitu pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme
alami untuk menghilangkan polutan baik secara aerobik maupun anaerobik.
Pengolahan ini dianggap sebagai cara yang murah dan efisien.

Metode pengolahan limbah cair, meliputi beberapa cara :


1. 1. Dillution (pengenceran), air limbah dibuang ke sungai, danau, rawa atau laut agar
mengalami pengenceran dan konsentrasi polutannya menjadi rendah atau hilang. Cara ini
dapat mencemari lingkungan bila limbah tersebut mengandung bakteri patogen, larva,
telur cacing atau bibit penyakit yang lain. Cara ini boleh dilakukan dengan syarat bahwa
air sungai, waduk atau rawa tersebut tidak dimanfaatkan untuk keperluan lain, volume
airnya banyak sehingga pengenceran bisa 30 -40 kalinya, air tersebut harus mengalir.
2. 2. Sumur resapan, yaitu sumur yang digunakan untuk tempat penampungan air limbah
yang telah mengalami pengolahan dari sistem lain. Air tinggal mengalami peresapan ke
dalam tanah, dan sumur dibuat pada tanah porous, diameter 1 2,5 m dan kedalaman 2,5
m. Sumur ini bisa dimanfaatkan 6 10 tahun.
3. 3. Septic tank, merupakan metode terbaik untuk mengelola air limbah walaupun
biayanya mahal, rumit dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian
ruang untuk tahap-tahap pengolahan, yaitu :
1. a. Ruang pembusukan, air kotor akan bertahan 1-3 hari dan akan mengalami
proses pembusukan sehingga menghasilkan gas, cairan dan lumpur (sludge)
2. b. Ruang lumpur, merupakan ruang empat penampungan hasil proses
pembusukan yang berupa lumpur. Bila penuh lumpur dapat dipompa keluar
3. c. Dosing chamber, didalamnya terdapat siphon McDonald yang berfungsi
sebagai pengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar merata
4. d. Bidang resapan, bidang yang menyerap cairan keluar dari dosing chamber
serta menyaring bakteri patogen maupun mikroorganisme yang lain. Panjang
minimal resapan ini adalah 10 m dibuat pada tanah porous.
5. 4. Riol (parit), menampung semua air kotor dari rumah, perusahaan maupun
lingkungan. Apabila riol inidigunakan juga untuk menampung air hujan disebut

combined system. Sedang bila penampung hujannya dipisahkan maka disebut


separated system. Air kotor pada riol mengalami proses pengolahan sebagai
berikut :
1. a. Penyaringan (screening), menyaring benda-benda yan mengapung di
air
2. b. Pengendapan (sedimentation), air limbah dialirkan ke dalam bak besar
secara perlahan supaya lumpur dan pasir mengendap.
3. c. Proses biologi (biologycal proccess), menggunakan mikroorganisme
untuk menguraikan senyawa organik
4. d.

Saringan pasir (sand filter)

5. e. Desinfeksi (desinfection), menggunakan kaporit untuk membunuh


kuman
6. f. Dillution (pengenceran), mengurangi konsentrasi polutan dengan
membuangnya di sungai / laut.

D. Penanganan Limbah Gas, Debu dan Partikel


Filter udara digunakan untuk menangkap debu / partikel yang keluar dari cerobong atau stack.
Berikut ini beberapa macam filter udara, meliputi :
1. Pengendapan siklon, adalah alat yang digunakan untuk mengendapkan debu atau abu
yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.
Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara atau gas buang
yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon, sehingga partikel yang relatif
berat akan jatuh ke bawah. Debu, abu atau partikel yang dapat diendapkan oleh siklon adalah
berukuran antara 5 40 mikro. Makin besar ukuran debu, semakin cepat partikel diendapkan.
1. Filter basah, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor dengan cara
menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangkan udara kotor dari bagian bawah alat.
Pada saat udara kotor kontak dengan air, maka debu akan ikut semprotan air untuk turun
ke bawah. Bila ingin hasil yang lebih baik, dapat digabungkan pengendap siklon dengan
filter basah. Penggabungan kedua alat ini menghasilkan alat penangkap debu yang
dinamakan pengendap siklon filter basah.
2. Pengendap sistem Gravitasi, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara
kotor yang ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 mikro atau lebih. Prinsip
kerja alat ini adalah dengan mengalirkan udara kotor ke alat, sehingga pada waktu terjadi

perubahan kecepatan secara tiba-tiba, debu akan jatur terkumpul ke bawah akibat gaya
beratnya sendiri. Kecepatan pengendapan tergantung pada dimensi alat yang digunakan.
3. 4. Pengendap elektrostatik, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara
kotor dalam jumlah (volume) besar dan waktu yang singkat, sehingga udara yang keluar
dari alat ini relatif bersih. Alat ini berupa tabung silinder, dimana dindingnya diberi
muatan positif, sedangkan tengahnya ada sebuah kawat, yang merupakan pusat silinder,
sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya tegangan yang berbeda akan
menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan
udara kotor seolah-olah mengalami ionisasi. Kotoran menjadi ion negatif yang akan
ditarik dinding tabung, sedangkan udara bersih akan berada di tengah silinder kemudian
terhembus keluar.

E. Penanganan Limbah Suara


Bising merupakan polusi pendengaran. Suara-suara yang sangat bising dapat mengganggu
pendengaran dan juga membuat orang tidak nyaman. Sumber kebisingan dapat dikurangi atau
dihilangkan sama sekali dengan :
1. Mematikan atau menghilangkan sumber suara / sumber kebisingan
2. Memasang alat peredam suara
3. Pengendalian pada jejak propagasi, mengganti bahan baku ruangan dengan bahan yang
dapat meredam suara
4. Pengendalian pada penerima suara, yaitu dengan melakukan upaya perlindungan pada
pendengaran manusia, seperti tutup / sumbat telinga.

F. Dampak Pengolahan Limbah Terhadap Lingkungan


Pengolahan limbah yang baik dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, akan
tetapi bila tidak dikelola dengan baik dapat memberi dampak negatif bagi lingkungan.

1. a.

Dampak positif pengolahan limbah

Pengolahan limbah yang benar akan memberikan dampak positif, yaitu :


1. Limbah dapat digunakan untuk menimbun lahan / dataran rendah

2. Limbah dapat digunakan untuk pupuk


3. Limbah dapat digunakan sebagai pakan ternak , baik langsung maupun mengalami proses
pengolahan lebih dulu
4. Mengurangi tempat perkembangbiakan penyakit / vektor penyakit
5. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit menular
6. Menghemat biaya pemeliharaan kesehatan karena masyarakat yang sehat

1. b.

Dampak negatif bila limbah tidak dikelola dengan baik

Pengolahan limbah yang kurang baik akan memberikan dampak negatif, seperti :
1. Menjadi tempat berkembangbiaknya kuman penyakit / vektor penyakit
2. Menyebabkan gangguan kesehatan seperti sesak nafas, insomnia maupun stress
3. Lingkungan menjadi kotor, bau, saluran air tersumbat, banjir
4. Lingkungan menjadi tidak indah dipandang
5. Menurunkan minat orang datang ketempat tersebut
6. Menaikkan angka kesakitan bagi masyarakat
7. Membutuhkan dana besar untuk membersihkan lingkungan
8. Menurunkan pemasukan pendapatan daerah karena kurangnya wisatawan yang

berkunjung.