Anda di halaman 1dari 30

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENDIDIKAN KESEHATAN


TENTANG SENAM OTAK PADA ANAK TUNARUNGU DI SLB-B TPA
BINTORO KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER

diajukan untuk memenuhi tugas praktikum Perawatan Klien Kebutuhan Khusus

oleh
Kelompok 1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2013

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkankesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan berasaskan perikemanusiaan,
keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan
kewajiban, keadilan, gender, nondiskriminatis serta norma-norma agama.
Anak berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat merupakan salah
satu sumber daya manusia bangsa Indonesia yang kualitasnya harus ditingkatkan
agar dapat berperan, tidak hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai
subyek pembangunan. Anak penyandang cacat perlu dikenali dan diidentikasi
dari kelompok anak pada umumnya, karena mereka memerlukan pelayanan yang
bersifat khusus, seperti pelayanan medik, pendidikan khusus maupun latihanlatihan tertentu yang
bertujuan untuk mengurangi keterbatasan dan
ketergantungan akibat kelainan yang diderita, serta menumbuhkan kemandirian
hidup dalam bermasyarakat.
World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah anak
berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar 7-10% dari total jumlah anak. Menurut
data Sussenas tahun 2003, di Indonesia terdapat 679.048 anak usia sekolah
berkebutuhan khusus atau 21,42% dari seluruh jumlah anak berkebutuhan khusus.
Masalah kecacatan pada anak merupakan masalah yang cukup kompleks baik
secara kuantitas maupun kualitas, mengingat berbagai jenis kecacatan mempunyai
permasalahan tersendiri. Jika masalah anak penyandang cacat ini ditangani secara
dini dengan baik dan keterampilan mereka ditingkatkan sesuai minat, maka beban
keluarga, masyarakat dan negara dapat dikurangi. Sebaliknya jika tidak diatasi
secara benar, maka dampaknya akan memperberat beban keluarga dan negara.
Di Indonesia, belum ada data akurat tentang jumlah dan kondisi anak
berkebutuhan khusus, namun berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional
tahun 2007, terdapat 82.840.600 jiwa anak dari 231.294.200 jiwa penduduk
Indonesia, dimana sekitar 8,3 juta jiwa diantaranya adalah anak berkebutuhan
khusus yang mengalami keterlambatan perkembangan otak sehingga anak
khususnya balita gagal mencapai tumbuh kembangnya.
Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan
seorang individu.Sekitar 16 % dari anak usia di bawah lima tahun (balita)
Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai ringan
sampai berat (Depkes, 2006: 1). Sekitar 16 % dari anak usia di bawah lima tahun
(balita) Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai
ringan sampai berat (Depkes, 2006 ).
Prestasi belajar siswa yang diberi perlakuan brain gym (senam otak) lebih
tinggi dari pada prestasi belajar siswa yang tidak diberi perlakuan brain gym
(senam otak) dengan prosentase sebesar 49% (Purwanto, 2009). Adanya

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

perbedaan antara kelompok yang diberi perlakuan berupa Brain Gym dengan yang
tidak diberi perlakuan, dengan demikian menunjukkan bahwa Brain Gym efektif
dalam menurunkan stres pada anak bisa (Purwanto, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara melakukan pendidikan kesehatan tentang senam otak (Brain
Gym) pada anak dengan tunarungu di SMPLB Bintoro Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember?

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT


2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Anak tunarungu di Sekolah Dasar Luar Biasa (SMPLB) Bintoro Kecamatan
Patrang Kabupaten Jember akan mampu memahami dan mampu melakukan
gerakan senam otak (Brain Gym).
2.1.2
a.
b.
c.

Tujuan Khusus
Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember akan mampu memahami
pengertian senam otak (Brain Gym).
Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember akan mampu memahami
manfaat senam otak (Brain Gym).
Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember akan mampu
mendemonstrasikan gerakan senam otak (Brain Gym).

2.2 Manfaat
a. Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember mampu memahami
pengertian senam otak (Brain Gym).
b. Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember mampu memahami manfaat
senam otak (Brain Gym).
c. Anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember mampu mendemonstrasikan
gerakan senam otak (Brain Gym).

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 3. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH


3.1 Dasar Pemikiran Masalah
Dua dari 1000 balita dan anak beresiko mengalami keterlambatan
pertumbuhan dan perkembangan yang diawali dari keterlambatan perkembangan
otak pada balita dan anak. Secara statistik sekitar 3% balita dan anak tidak bisa
mencapai perkembangan motoriknya tepat waktu. Tapi dari angka itu hanya
sekitar 15-20% anak saja yang perkembangannya abnormal, selebihnya masih
bisa berkembang normal meski sedikit lebih lambat (Kemenkes RI, 2010). Faktorfaktor yang dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
pada balita yaitu faktor genetik, pola asuh, dan lingkungan. Mengingat jumlah
balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10% dari seluruh populasi, maka
sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di
Indonesia perlu mendapat perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik,
stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas
termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang sehingga
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya
dan mampu bersaing di era global.
Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada balita dapat dicegah
dengan latihan aktifitas yang digunakan untuk menstimulus otak pada balita, salah
satunya adalah senam otak (Brain Gym). Brain Gym dikenal di Amerika, dengan
tokoh yang menemukannya yaitu Paul E. Denisson Ph.D (2002) seorang ahli dan
pelopor dalam penerapan penelitian otak, bersama istrinya Gail E. Denisson
seorang mantan penari. Brain Gym adalah serangkaian latihan gerak yang
sederhana untuk memudahkan kegiatan belajar dan penyesuaian dengan tuntutan
sehari-hari. Brain Gym adalah serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan
dan digunakan para murid di Educational Kinesiology (Edu-K) untuk
meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan menggunakan keseluruhan otak
(Paul & Gail, 2002). Gerakan Brain Gym dibuat untuk menstimulasi (dimensi
lateralitas), meringankan (dimensi pemfokusan), atau merelaksasi (dimensi
pemusatan) siswa yang terlibat dalam situasi belajar tertentu. Otak manusia seperti
hologram, terdiri dari tiga dimensi dengan bagian-bagian yang saling
berhubungan sebagai satu kesatuan (Purwanto, 2009).
Selain dapat meningkatkan kemampuan belajar, Brain Gym dapat
memberikan beberapa manfaat seperti yang dikemukakan oleh Ayinosa (2009),
Brain Gym dapat memberikan manfaat yaitu berupa: (a) Stress emosional
berkurang dan pikiran lebih jernih, (b) Hubungan antarmanusia dan suasana
belajar/kerja lebih relaks dan senang, (c) Kemampuan berbahasa dan daya ingat
meningkat, (d) Orang menjadi lebih bersemangat, lebih kreatif dan efisien, (e)
Orang merasa lebih sehat karena stress berkurang, dan (f) Prestasi belajar dan
bekerja meningkat. Brain Gym dapat mengaktifkan otak sehingga mampu
berfungsi dengan lebih baik. Brain Gym telah diakui sebagai salah satu teknik

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

belajar yang paling baik oleh National Learning Foundation USA (Purwanto,
2009).
Menurut Denisson (2008) meski sederhana, senam otak mampu
memudahkan kegiatan belajar dan melakukan penyesuaian terhadap ketegangan,
tantangan, dan tuntutan hidup sehari-hari. Program senam otak menekankan
keterampilan belajar fisik.
3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah
Pada usia anak, pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sangat cepat.
Masa seperti ini tidak akan terulang lagi pada kehidupan selanjutnya. Karena itu
perhatian yang diberikan pada usia anak sangat menentukan kualitas kehidupan
manusia dimasa depan. Pertumbuhan anak, yang bekaitan dengan segi jasmani ini,
didukung oleh pemberian makanan bergizi bagi anak. Proses ini dipantau dengan
menimbang berat badan anak secara teratur setiap bulan. dengan demikian bila
terjadi kelambatan dalam pertumbuhan anak, kelambatan tersebut dapat segera
diketahui dan dicarikan upaya untuk mengatasinya. Demikian pula perkembangan
anak, yang berkaitan dengan kecerdasan, perasaan, dan pergaulan. Perkembangan
anak perlu perlu selaras dengan pertumbuhan jasmani. Proses ini didukung oleh
pengasuhan anak yang baik, termasuk perangsangan (stimulasi) perkembangan
Perkembangan anak juga perlu dipantau agar kelambatannya dapat segera
diketahui dan dicarikan upaya untuk mengatasinya (Purwanto, 2009).
Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan dari
lingkungan keluarga, sikap orangtua, faktor keturunan, serta penyakit yang
diderita pada masa kecil. Faktor-faktor tersebut perlu dijaga sedemikian rupa agar
tidak menghambat kemajuan anak. Dalam lingkungan dan suasana yang
mendukung, pertumbuhan dan perkembangan anak akan dapat berlangsung
dengan baik. Pemantauan perkembangan anak dilakukan untuk mengikuti
perkembangan anak. Tujuanya agar orangtua dapat segera mengetahui bila terjadi
kelambatan perkembangan pada anaknya (Purwanto, 2009).
Cara mencegah keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada anak
adalah memberikan stimulasi yang tepat, terutama pada gangguan perkembangan
kemampuan bicara dan kemampuan kognitif (cara berpikir) anak. Konsultasi
dengan dokter atau therapist untuk mengatasi berbagi gangguan perkembangan si
kecil. Misalnya gangguan keterlambatan bicara dan gangguan motorik kasar
(Purwanto, 2009).
Menurut Purwanto (2009) stimulasi yang perlu dilanjutkan agar
perkembangan anak maksimal antara lain .
a. Kemampuan Gerak Kasar:
1. Dorong anak mau memanjat, berlari,melompat, melatih keseimbangan
badan dan bermain bola
2. Latihan menghadapi rintangan
3. Melompat jauh
4. Melempar dan menangkap
5. Mengendarai sepeda roda tiga
6. Menangkap bola

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

7. Berjalan mengikuti garis lurus


8. Melompat
9. Melempar benda-benda kecil keatas
10. Menirukan binatang berjalan
11. Main lampu merah lampu hijau
b. Kemampuan Gerak Halus:
1. Bermain puzzle dan menggambar
2. Memasukkan benda kedalam benda lain
3. Membuat gambar tempelan
4. Memilih dan melompatkan benda-benda menurut jenisnya
5. Mencocokkan gambar benda dengan benda asli
6. Konsep jumlah
7. Bermain menyusun balok-balok
8. Memotong
9. Menggambar dan menulis
10. Mencampur warna
11. Mengajar konsep separo dan satu bagian
12. Membandingkan benda besar kecil,berat ringan,banyak sedikit
13. Percobaan ilmiah
14. Berkebun
c. Kemampuan Bicara dan Bahasa:
1. Bacakan buku cerita anak
2. Dorong anak bercerita
3. Dampingi nonton TV
4. Menyebut nama lengkap anak
5. Cerita tentang diri anak
6. Menyebut nama berbagai jenis pakaian
7. Menyebut keadaan suatu benda
8. Nyanyikan lagu-lagu
9. Album fotoku
10. Mengenal huruf dan simbol
11. Belajar mengingat
12. Mengenal angka
13. Membaca majalah
14. Mengenal musim
15. Mengunjungi perpustakaan
16. Melengkapi kalimat
17. Bercerita
18. Membantu pekerjaan di dapur
d. Kemampuan Sosialisasi dan Kemandirian:
1. Bujuk dan tenangkan ketika anak kecewa dengan memeluk dan berbicara
padanya

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

2. Sering ajak anak keluar berkunjung ke tempat bermain, toko, kebun


binatang,dll
3. Ajak anak membersihkan diri ketika kotor mengelap dengan bantuan
sesedikit mungkin
4. Melatih buang air kecil dan besar di WC dan ajari cara membersihkannya
5. Berdandan
6. Berpakaian
7. Mengutarakan perasaan
8. Makan bersama

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 4. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN


4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah
Dengan melakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi terkait dengan Senam
Otak pada anak usia prasekolah di Sekolah Dasar Luar Biasa (SMPLB) Bintoro
Kecamatan Patrang Kabupaten Jember. Sehingga anak di SMPLB Bintoro dapat
melatih kecerdasan otaknya dan dapat melakukan sendiri di rumah masing-masing
karena gerakan senam otak tergolong sederhana dan mudah untuk di hafal.
4.2 Khalayak Sasaran
Sasaran dari pendidikan kesehatan dan demonstrasi terkait dengan Senam Otak
adalah anak-anak penyandang tuna netra di Sekolah Dasar Luar Biasa (SMPLB)
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember. Anak usia prasekolah yang di
kumpulkan di suatu tempat dan kemudian diajarkan terkait dengan konsep dari
senam otak.
4.3 Metode Yang Digunakan
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada pada
anak penyandang tuna netra di SMPLB Bintoro adalah dengan cara memberikan
pendidikan kesehatan dan demonstrasi tentang gerakan-gerakan dan fungsi Senam
Otak sehingga masalah kesehatan pada anak penyandang tunarungu bisa di atasi.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 5. HASIL KEGIATAN


5.1 Analisis Evaluasi dan Hasil-Hasilnya
5.1.1 Evaluasi Struktur
a. Mahasiswa telah melakukan pengkajian sebagai data dasar sebelum
memulai pendidikan kesehatan
b. Mahasiswa telah menyiapkan media pembelajaran dalam proses
pendidikan kesehatan
c. Anak-anak menyatakan bersedia mengikuti proses pendidikan kesehatan
d. Mahasiswa dapat mengembangkan pola komunikasi interaktif dan
menarik
e. Materi yang akan disajikan sudah dalam bahasa dan istilah yang mudah
dipahami
f. Mahasiswa mampu meningkatkan antusiasme anak-anak
g. Mahasiswa mampu menjaga sikap selama pendidikan kesehatan dan
demonstrasi senam otak dilakukan
h. Mahasiswa mampu bersikap caring, empati dan mengutamakan
kebutuhan anak-anak selama pendidikan kesehatan dan demonstrasi
dilakukan.
i. Tersedia lingkungan yang nyaman, kondusif dan tenang selama
pendidikan kesehatan dan demonstrasi dilaksanakan.
5.1.2 Evaluasi Proses
a. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian senam otak
b. Mahasiswa dapat menjelaskan manfaat senam otak
c. Mahasiswa dapat menjelaskan waktu penting senam otak
d. Mahasiswa mampu mengajarkan anak-anak senam otak dan menerapkan
latihan senam otak
e. Anak-anak dapat mengikuti pendidikan kesehatan dan demonstrasi
senam otak dari awal sampai selesai
f. Proses pendidikan kesehatan dan demonstrasi dapat berjalan sistematis
dan lancar
5.1.3 Evaluasi hasil
a. Anak-anak dapat menyebutkan pengertian senam otak
b. Anak-anak dapat menyebutkan manfaat senam otak
c. Anak-anak dapat menyebutkan waktu penting senam otak
d. Anak-anak mampu mendemonstrasikan senam otak Anak-anak mampu
merasakan manfaat dari latihan senam otak
5.2 Faktor Pendorong
5.2.1 Persediaan dana yang mencukupi untuk kebutuhan penyelenggaran
pendidikan kesehatan dan demonstrasi sehingga dapat berjalan dengan
lancar

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

5.2.2 Tingginya apresiasi dan motivasi anak-anak akan kegiatan pendidikan


kesehatan dan demonstrasi senam otak
5.3 Faktor Penghambat
5.3.1 Kurangnya pengetahuan, sikap, keyakinan anak-anak, orang tua, dan
keluarga mengenai pentingnya meningkatkan PHBS anak
5.3.2 kesehatan untuk meningkatkan PHBS anak
5.3.3 Kurangnya alokasi dana yang mencukupi untuk kebutuhan penyelenggaran
pendidikan kesehatan dan demonstrasi
5.3.4 Rendahnya apresiasi dan motivasi anak-anak, orang tua, keluarga akan
kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN


6. 1 Kesimpulan
Beberapa data menunjukkan angka kejadian anak balita yang mengalami
keterlambatan perkembangan otak khususnya keterlambatan bicara (speech delay)
cukup tinggi. Silva (2007) di New Zealand sebagaimana dikutip Leung
menemukan bahwa 8,4% anak umur tiga tahun mengalami keterlambatan bicara
sedangkan Leung (2009) di Canada mendapatkan angka 3% sampai 10%. Di
Amerika Serikat, perkiraan keseluruhan terjadinya gangguan komunikasi sekitar 5
% anak usia balita, yang meliputi gangguan suara sebanyak 3 % dan gagap
sebesar 1 %, salah satu alternative yang dilakukan adalah senam otak (WHO,
2010).
Data dari UNICEF tahun 2010 menunjukkan bahwa sebanyak 10-12 juta
(50-69,7%) anak balita di Indonesia, dimana 4 juta diantaranya dibawah satu
tahun, berstatus gizi sangat buruk sehingga mengakibatkan kematian, dan
malnutrisi berkelanjutan sehingga terjadi keterlambatan perkembangan otak.
Menurut WHO, diperkirakan terdapat sekitar 7-10 % anak berkebutuhan khusus
dari total populasi anak.
Di Indonesia, belum ada data akurat tentang jumlah dan kondisi anak
berkebutuhan khusus, namun berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional
tahun 2007, terdapat 82.840.600 jiwa anak dari 231.294.200 jiwa penduduk
Indonesia, dimana sekitar 8,3 juta jiwa diantaranya adalah anak berkebutuhan
khusus yang mengalami keterlambatan perkembangan otak sehingga anak
khususnya balita gagal mencapai tumbuh kembangnya.
Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan
seorang individu.Sekitar 16 % dari anak usia di bawah lima tahun (balita)
Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai ringan
sampai berat (Depkes, 2006: 1). Sekitar 16 % dari anak usia di bawah lima tahun
(balita) Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai
ringan sampai berat (Depkes, 2006 ).
Prestasi belajar siswa yang diberi perlakuan brain gym (senam otak) lebih
tinggi dari pada prestasi belajar siswa yang tidak diberi perlakuan brain gym
(senam otak) dengan prosentase sebesar 49% (Purwanto, 2009). Adanya
perbedaan antara kelompok yang diberi perlakuan berupa Brain Gym dengan yang
tidak diberi perlakuan, dengan demikian menunjukkan bahwa Brain Gym efektif
dalam menurunkan stres pada anak bisa (Purwanto, 2009).
Dengan melakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi terkait dengan
Senam Otak pada anak usia prasekolah di RW 1 Dusun Krajan Desa Kasiyan.
Sehingga anak usia prasekolah dapat melatih kecerdasan otaknya dan dapat
melakukan sendiri di rumah masing-masing karena gerakan senam otak tergolong
sederhana dan mudah untuk di hafal.
6. 2 Saran

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

6.2.1
6.2.2
6.2.3
6.2.4
6.2.5
6.2.6
6.2.7

2013

Bagi Anak-Anak
Gunakan senam otak sebagai kegiatan selingan sehingga manfaatnya akan
dapat dirasakan
Bagi Keluarga
Dukung dan dampingi anak untuk melakukan Senam Otak setiap hari
Bagi Masyarakat
Sediakan lingkungan yang mendukung untuk anak usia prasekolah
sehingga mereka bisa melakukan Senam Otak
Bagi Tenaga Kesehatan
Bantu sasaran ketika mereka mengalami masalah kesehatan yang tidak
bisa di selesaikan oleh keluarga
Bagi Praktik Keperawatan Maternitas
Dampingi dan bantu mereka dalam melakukan tugas perkembangan yang
harus dilewati di setiap langkahnya
Bagi Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan
Membuat kebijakan-kebijakan terkait dengan upaya kesehatan yang ada
pada setiap lapisan Masyarakat
Bagi Pemerintah
Melakukan upaya pengaturan dalam bentuk peraturan dan kebijakan yang
mendukung upaya kesehatan

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

DAFTAR PUSTAKA
Ayinosa.
2009.
Brain
Gym
(Senam
Otak).
Diperoleh
dari
http://book.store.co.id/2009. Diakses tanggal 17 Maret 2013 14.35 WIB).
Badan Pusat Statistik Nasional. 2007 . (Diakses tanggal 16 Maret 2013 20.45
WIB).
Dennison, Paul. 2002. Buku Panduan Lengkap Brain Gym. Jakarta : Gramedia.
Dennison, P., Gail, E. 2002. Buku Panduan Lengkap Brain Gym. Jakarta :
Gramedia.
Departemen Kesehatan. 2006. (Diakses tanggal 17 Maret 2013 14.00 WIB).
Departemen Kesehatan. 2010. . (Diakses tanggal 17 Maret 2013 13.00 WIB).
Haryanto, Nia. 2009. Ada Apa Dengan Otak Tengah?. Jakarta: Gradien
Mediatama.
Markam, Soemarmo. 2008. Latihan Vitalisasi Otak. Jakarta: Grasindo.
Purwanto, Setyo dan Ranita, Wdyastuti. 2009. Efektifitas Brain Gyms dalam
Menurunkan Stress pada Anak. Jurnal Kesehatan.II (2): 137-146.
Sularyo, Titi. Senam Otak. Sari Pediatri, 2002, 4 (1):36-44.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Lampiran 1. SAP
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Program Studi Ilmu Keperawatan
UNIVERSITAS JEMBER
Jalan Kalimantan No. 37 Kampus Bumi Tegal Boto Jember
Telp. (0331) 323450
Topik/materi
Sasaran
Waktu
Hari/Tgl
Tempat

: Senam Otak
: anak tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa
(SMPLB) Branjangan Kecamatan Patrang Kabupaten Jember
: 08.00-08.05 (1x5 menit)
: Jumat, 22 november 2013
: Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Branjangan
Kecamatan Patrang Kabupaten Jember

1. Standar Kompetensi
Setelah diberikan demonstrasi senam otak, anak tuna netra di SMPLB Branjangan
mampu memahami dan mampu melakukan senam otak secara mandiri.
2. Kompetensi Dasar
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan peserta demonstrasi mampu:
a. Menjelaskan pengertian senam otak;
b. Menjelaskan manfaat senam otak;
c. Mendemonstrasikan gerakan senam otak.
3. Pokok Bahasan : Senam Otak
4. Subpokok Bahasan
a.
Pengertian senam otak;
b.
Manfaat senam otak;
c.
Gerakan senam otak.
5. Waktu : 1x5 menit
6. Bahan/Alat yang diperlukan
a. Leaflet
b. Kursi
c. 1 gelas air putih (250 cc)
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran : Demonstrasi, diskusi
b. Landasan teori : Konstruktivisme
c. Langkah pokok :
1) Menciptakan suasana ruangan yang baik
2) Mengajukan masalah
3) Membuat keputusan nilai personal
4) Mengidentifikasi pilihan tindakan
5) Memberi komentar

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

6) Menetapkan tindak lanjut


8. Persiapan
a. Penyuluh mencari bahan terkait materi senam otak secara tepat.
b. Penyuluh menyiapkan metode penyampaian materi yang sesuai dengan sasaran.
9. Kegiatan Pendidikan Kesehatan
Proses

Pendahuluan

Penyajian

Tindakan

Waktu

Kegiatan Penyuluh

Kegiatan Peserta

a. Memberikan salam,
memperkenalkan
diri, dan membuka
penyuluhan
b. Menjelaskan materi
secara umum dan
manfaat bagi peserta
c. Menjelaskan
TIU
dan TIK

Memperhatikan
menjawab salam

a. Menjelaskan
pengertian
senam
otak
b. Menanyakan kepada
peserta
mengenai
materi yang baru
disampaikan
c. Mendiskusikan
bersama
jawaban
yang diberikan
d. Menjelaskan manfaat
dari senam otak
e. Menanyakan kepada
peserta
mengenai
materi yang baru
disampaikan
f. Mendiskusikan
bersama
jawaban
yang diberikan

Memperhatikan

g. Memperagakan
gerakan senam otak

dan 1 menit

Memperhatikan
Memperhatikan
3 menit

Memberikan pertanyaan

Memperhatikan
memberi tanggapan

dan

Memperhatikan
Memberi pertanyaan

Memperhatikan
memberi tanggapan

dan

Memperhatikan dan ikut


memperagakan

h. Menanyakan kepada
peserta
mengenai Memberi tanggapan
perasaan
setelah
dilakukan senam.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

Penutup

a. Menutup pertemuan
dengan mereview
materi yang baru
disampaikan.
b. Mengajukan
pertanyaan kepada
peserta.
c. Mendiskusikan
bersama
jawaban
dari
pertanyaan
yang telah diberikan
d. Menutup pertemuan
dengan
memberi
salam

Memperhatikan

2013

1 menit

Memberi saran
Memberi komentar dan
menjawab
pertanyaan
bersama
Memperhatikan
membalas salam

dan

10. Evaluasi
a. Apa pengertian senam otak?
b. Sebutkan 3 manfaat dilakukan senam otak?
c. Bagaimana gerakan senam otak?
11. Referensi
Haryanto, Nia. 2009. Ada Apa Dengan Otak Tengah?. Jakarta: Gradien Mediatama.
Markam, Soemarmo. 2008. Latihan Vitalisasi Otak. Jakarta: Grasindo.
Sularyo, Titi. Senam Otak. Sari Pediatri, 2002, 4 (1):36-44.

Lampiran 2. SOP

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

SENAM OTAK
PSIK
UNIVERSITAS JEMBER
NO
DOKUMEN:
PROSEDUR TETAP
TANGGAL
TERBIT
1. PENGERTIAN

2. TUJUAN

3. INDIKASI

4. KONTRAINDIKASI
5. PERSIAPAN PASIEN

NO
REVISI:

HALAMAN:

DITETAPKAN OLEH:

Senam otak adalah serangkaian latihan gerakan


tubuh sederhana yang dilakukan untuk
merangsang otak kiri dan kanan (dimensi
lateralis), meringankan atau merelaksasi bagian
depan dan belakang otak (dimensi pemfokusan),
serta merangsang sistem yang terkait dengan
perasaan atau emosi, yaitu otak tengah (limbik)
dan otak besar (dimensi pemusatan).
a. Meningkatkan
kemampuan
membaca,
mengeja, komprehensi menulis tangan dan
membuat tulisan
b. Meningkatkan kepercayaan diri, koordinasi
dan komunikasi
c. Meningkatkan konsentrasi dan memori
d. Mengurangi hiperaktifitas
e. Mencegah autisme
f. Mengatasi stress dan mencapai suatu tujuan
g. Meningkatkan motivasi dan mengembangkan
kepribadian
h. Meningkatkan keterampilan organisasi
i. Meningkatkan penampilan.
a. Klien dengan proses pencapaian tumbuh
kembang
b. Klien dengan stress
c. Klien dengan trauma psikologis
Klien dengan kelemahan fisik berat
a. Posisi rileks
b. Memakai celana yang tidak ketat/longgar.
c. Dilakukan sesuai tahapan.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

6. PERSIAPAN ALAT

7. CARA KERJA

2013

a. Kursi
b. 1 gelas air putih (250 cc)
c. Spidol
Dimensi Lateralis

Gambar 1 Gerakan Silang


(Cross Crawl)
Cara melakukan gerakan :
Menggerakkan tangan kanan bersamaan dengan
kaki kiri dan kaki kiri dengan tangan kanan.
Bergerak ke depan, ke samping, ke belakang, atau
jalan di tempat. Untuk menyeberang garis tengah
sebaiknya tangan menyentuh lutut yang
berlawanan.
Fungsinya :
a. Meningkatkan koordinasi kiri/kanan
b. Memperbaiki pernafasan dan stamina
c. Memperbaiki koordinasi dan kesadaran
tentang ruang dan gerak.
d. Memperbaiki pendengaran dan penglihatan.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Gambar 2 8 Tidur (Lazy 8)


Cara melakukan gerakan :
Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di
udara, tangan mengepal dan jari jempol ke atas,
dimulai dengan menggerakkan kepalan ke sebelah
kiri atas dan membentuk angka delapan tidur.
Diikuti dengan gerakan mata melihat ke ujung jari
jempol. Buatlah angka 8 tidur 3 kali setiap tangan
dan dilanjutkan 3 kali dengan kedua tangan.
Fungsinya :
a. Melepaskan ketegangan mata, tengkuk, dan
bahu pada waktu memusatkan perhatian dan
meningkatkan kedalaman persepsi
b. Meningkatkan pemusatan, keseimbangan dan
koordinasi.

Gambar 3. Coretan Ganda(Double doodle)


Cara melakukan gerakan :
Menggambar dengan kedua tangan pada saat yang
sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah.
Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti :
lingkaran, segitiga, bintang, hati, dsb. Lakukan
dengan kedua tangan.
Fungsinya :

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

a. Kesadaran akan kiri dan kanan.


b. Memperbaiki penglihatan perifer
c. Kesadaran akan tubuh, koordinasi, serta
keterampilan khusus tangan dan mata.
d. Memperbaiki kemampuan olahraga dan
keterampilan gerakan
Dimensi Pemfokusan

Gambar 4

Burung

Hantu (The

Owl)

Cara
gerakan :

melakukan

Urutlah otot bahu kiri dan kanan. Tarik napas saat


kepala berada di posisi tengah, kemudian
embuskan napas ke samping atau ke otot yang
tegang sambil relaks. Ulangi gerakan dengan
tangan kiri.
Fungsinya :
a. Melepaskan ketegangan tengkuk dan bahu
yang timbul karena stress.
b. Menyeimbangkan otot leher dan tengkuk
(Mengurangi sikap tubuh yang terlalu
condong ke depan)
c. Menegakkan kepala (Membantu mengurangi
kebiasaan memiringkan kepala atau bersandar
pada
siku

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Gambar 5 Mengaktifkan Tangan (The Active


Arm)
Cara melakukan gerakan :
Luruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke
samping kuping memegang tangan yang ke atas.
Buang napas pelan, sementara otot-otot diaktifkan
dengan mendorong tangan keempat jurusan
(depan, belakang, dalam dan luar), sementara
tangan yang satu menahan dorongan tsb.
Fungsinya :
a. Peningkatan fokus dan konsentrasi tanpa
fokus berlebihan
b. Pernafasan lebih lancar dan sikap lebih santai
Peningkatan energi pada tangan dan jari

Gambar 6 Lambaian kaki (Footflex)


Cara melakukan gerakan :
Cengkeram tempat-tempat yang terasa sakit di
pergelangan kaki, betis dan belakang lutut, satu
persatu, sambil pelan-pelan kaki dilambaikan atau
digerakkan ke atas dan ke bawah.
Fungsinya :
a. Sikap tubuh yang lebih tegak dan relaks
b. Lutut tidak kaku lagi
c. Kemampuan berkomunikasi dan memberi

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

respon meningkat

Gambar 7 Luncuran Gravitasi


(The Gravitational glider)
Cara melakukan gerakan :
Duduk di kursi dan silangkan kaki. Tundukkan
badan dengan tangan ke depan bawah, buang
nafas waktu turun dan ambil nafas waktu naik.
Ulangi 3 x, kemudian ganti kaki.
Fungsinya :
a. Merelekskan daerah pinggang, pinggul dan
sekitarnya.
b. Tubuh atas dan bawah bergerak sebagai satu
kesatuan

Gambar 8 Pasang kuda-Kuda

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

(Grounder)
Cara melakukan gerakan :
Mulai dengan kaki terbuka. Arahkan kaki kanan
ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan. Tekuk
lutut kanan sambil buang napas, lalu ambil napas
waktu lutut kanan diluruskan kembali. Pinggul
ditarik ke atas. Gerakan ini untuk menguatkan otot
pinggul (bisa dirasakan di kaki yang lurus) dan
membantu kestabilan punggung. Ulangi 3x,
kemudian ganti dengan kaki kiri.
Fungsinya :
a. Keseimbangan dan kestabilan lebih besar
b. Konsentrasi dan perhatian meningkat
c. Sikap lebih mantap dan relaks
Dimensi Pemusatan

Gambar 9 Air (Water)


Air merupakan pembawa energi listrik yang
sangat baik. Dua per tiga tubuh manusia terdiri
dari air. Air dapat mengaktifkan otak untuk
hubungan elektro kimiawi yang efisien antara otak
dan sistem saraf, menyimpan dan menggunakan
kembali informasi secara efisien. Minum air yang
cukup sangat bermanfaat sebelum menghadapi test
atau kegiatan lain yang menimbulkan stress.
Kebutuhan air adalah kira-kira 2 % dari berat

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

badan per hari.


Fungsinya :
a. Konsentrasi
meningkat
(mengurangi
kelelahan mental)
b. Melepaskan stres, meningkatkan konsentrasi
dan keterampilan sosial.
c. Kemampuan bergerak dan berpartisipasi
meningkat.
d. Koordinasi mental dan fisik meningkat
(Mengurangi berbagai kesulitan yang
berhubungan dengan perubahan neurologis).

Gambar 10 Sakelar Otak (Brain Buttons)


Cara melakukan gerakan :
Sakelar otak (jaringan lunak di bawah tulang
selangka di kiri dan kanan tulang dada), dipijat
dengan satu tangan, sementara tangan yang lain
memegang pusar.
Fungsinya :
a.
b.
c.
d.

Keseimbangan tubuh kanan dan kiri


Tingkat energi lebih baik
Memperbaiki kerjasama kedua mata (bisa
meringankan stres visual, juling atau
pandangan yang terus-menerus)
Otot tengkuk dan bahu lebih relaks

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Gambar 11 Tombol Bumi


(Earth Buttons)
Cara melakukan gerakan :
Letakkan dua jari dibawah bibir dan tangan yang
lain di pusar dengan jari menunjuk ke bawah.Ikutilah dengan mata satu garis dari lantai ke
loteng dan kembali sambil bernapas dalam-dalam.
Napaskan energi ke atas, ke tengah-tengah badan.

Fungsinya :
a.
b.
c.

Kesiagaan mental (Mengurangi kelelahan


mental)
Kepala tegak (tidak membungkuk)
Pasang kuda-kuda dan koordinasi seluruh
tubuh

Gambar 12 Tombol imbang

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

(Balance Buttons)
Cara melakukan gerakan :
Sentuhkan 2 jari ke belakang telinga, di lekukan
tulang bawah tengkorak dan letakkan tangan
satunya di pusar. Kepala sebaiknya lurus ke depan,
sambil nafas dengan baik selama 1 menit.
Kemudian sentuh belakang kuping yang lain.
Fungsinya :
a.
b.
c.

Perasaan enak dan nyaman


Mata, telinga dan kepala lebih tegak lurus
pada bahu
Mengurangi fokus berlebihan pada sikap
tubuh

Gambar 13 tombol angkasa (Space Buttons)


Cara melakukan gerakan :
Letakkan 2 jari di atas bibir dan tangan lain pada
tulang ekor selama 1 menit, nafaskan energi ke
arah atas tulang punggung.
Fungsinya :

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

a.
b.
c.

2013

Kemampuan untuk relaks


Kemampuan untuk duduk dengan nyaman
Lamanya perhatian meningkat

Gambar 14 Pasang Telinga (The Thingking


Cap)
Cara melakukan gerakan :
Pijit daun telinga pelan-pelan, dari atas sampai ke
bawah 3x sampai dengan 5x.
Fungsinya :
a.
b.
c.
d.

Energi dan nafas lebih baik


Otot wajah, lidah dan rahang relaks.
Fokus perhatian meningkat
Keseimbangan lebih baik

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Gambar 15 Kait Relaks (Hook-up)


Cara melakukan gerakan :
Pertama, letakkan kaki kiri di atas kaki kanan, dan
tangan kiri di atas tangan kanan dengan posisi
jempol ke bawa, jari-jari kedua tangan saling
menggenggam, kemudian tarik kedua tangan ke
arah pusat dan terus ke depan dada. Tutuplah mata
dan pada saat menarik napas lidah ditempelkan di
langit-langit mulut dan dilepaskan lagi pada saat
menghembuskan napas. Tahap kedua, buka
silangan kaki, dan ujung-ujung jari kedua tangan
saling bersentuhan secara halus, di dada atau
dipangkuan, sambil bernapas dalam 1 menit lagi.
Fungsinya :
a.
b.
c.

Keseimbangan dan koordinasi meningkat


Perasaan nyaman terhadap lingkungan sekitar
(Mengurangi kepekaan yang berlebihan)
Pernafasan lebih dalam

Gambar 16 Titik Positif


(Positive Point)
Cara melakukan gerakan :
Sentuhlah titik positif dengan kedua ujung jari
tangan selama 30 detik sampai dengan 30 menit.

Laporan PBL Perawatan Klien Dengan Kebutuhan Khusus PSIK Universitas Jember

2013

Fungsinya :
a.

b.
c.

Mengaktifkan bagian depan otak guna


menyeimbangkan stres yang berhubungan
dengan ingatan tertentu, situasi, orang, tempat
dan ketrampilan
Menghilangkan refleks
Menenangkan pada saat menghadapi tes di
sekolah dan dalam penyesuaian sehari-hari.

HASIL

HAL YANG PERLU

a. Subyektif
1) Klien merasa lebih rileks
2) Klien merasa lebih berkonsentrasi.
b. Obyektif
1) Kaki klien tampak segar.
2) Kemampuan klien meningkat
Batasi gerakan pada klien yang memiliki

DIPERHATIKAN

keterbatasan fisik berat