Anda di halaman 1dari 27

BAB I

STATUS PASIEN
1.1 Identitas Pasien
Nama

: Tn. AF

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 49 tahun

Suku/bangsa

: Melayu/Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: RT.17 Kelurahan Simpang IV Sipin

1.2 Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga


a. Status Perkawinan
b. Jumlah anak/saudara
c. Status ekonomi keluarga
1) Mampu
2) Miskin
d. Kondisi Rumah

: Menikah
: Anak 3 orang
: Baik
: Ya
: Tidak
: Berdasarkan kunjungan rumah yang telah

dilakukan terhadap pasien diketahui bahwa saat ini kondisi rumah pasien
dalam keadaan baik.

Pasien tinggal di sebuah rumah pribadi. Rumah

pasien berukuran kurang lebih 15 x 12 M, berdinding beton, lantai semen


dan keramik, atap terbuat dari seng, dan memiliki ventilasi yang memadai.
Rumah terdiri dari 4 buah kamar tidur, masing-masing kamar tidur
memiliki jendela. Dibagian depan terdapat ruang tamu dengan beberapa
jendela. Terdapat sebuah ruang keluarga yang menyatu dengan ruang
makan. Di bagian belakang terdapat dapur. WC terletak di dalam rumah.
Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari bersumber dari sumur, listrik
PLN.

e. Kondisi Lingkungan Keluarga

: Lingkungan disekitar rumah pasien

terlihat cukup bersih dan nyaman. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan
ketiga anaknya serta orang tua laki-laki (bapak). Sehari-hari pasien bekerja
sebagai seorang PNS.
1.3 Aspek Psikologis di Keluarga

: Pasien merupakan seorang suami dan

ayah bagi ketiga anaknya. Menurut alloanamnesis yang dilakukan terhadap istri
pasien, diketahui bahwa pasien merupakan seorang yang penyayang. Pasien
memiliki hubungan yang sangat baik terhadap keluarga, baik dengan istri maupun
anak-anaknya. Tidak ada masalah dalam keluarga yang cukup berarti.

1.4 Keluhan Utama :


Timbul bintil bintil merah kecil berisi cairan di dada dan punggung
sebelah kiri yang terasa gatal dan nyeri sejak 4 hari yang lalu.
1.5 Riwayat Perjalanan Penyakit : (autoanamnesa)
5 hari yang lalu pasien mengeluh demam, suhu tubuh tidak terlalu tinggi
disertai kepala pusing dan badan terasa lemas. Saat itu, pasien mulai merasakan
panas dan sedikit perih di bagian dada kiri. Sehari setelahnya, pasien mengeluh
timbul bintil-bintil berwarna kemerahan disekitar dada sebelah kiri, terasa gatal
dan perih. Awalnya bintil-bintil hanya sedikit di dada, namun karena gatal
terkadang pasien menggaruknya. Kemudian bintil-bintil semakin banyak dan
menyebar hingga ke punggung kiri. Menurut pasien, setelah digaruk keluar cairan
dari bintil tersebut, berwarna jernih hingga kekuningan. Menurut pasien, beberapa
bintil menjadi seperti kropeng setelah pecah. Bintil semakin terasa perih dan

panas terlebih saat pasien mandi atau bintil bersentuhan dengan pakaian yang
digunakan.
Pasien biasanya mandi dan mengganti pakaian dua kali sehari. Penggunaan
handuk dalam keluarga berbeda-beda untuk setiap anggota keluarga. Dalam
keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama.
Selain itu, pasien juga mengeluh terasa nyeri otot dan tulangnya terasa
pegal. Sebelumnya pasien mengaku bahwa belakangan ini sering begadang
mengerjakan tugas kantor. Keluhan seperti ini pertama kali dialami oleh pasien.
Waktu kecil pasien mengaku pernah mengalami penyakit cacar air.
Untuk mengobati keluhan demamnya pasien sudah mengkonsumsi obat
penurun panas. Sedangkan untuk bintil tersebut pasien belum berobat, karena
awalnya pasien hanya menganggap alergi biasa. Namun, karena bintil semakin
banyak dan semakin terasa perih maka pasien memutuskan untuk berobat ke
puskesmas Simpang IV sipin.

1.6 Riwayat Penyakit Dahulu :


-Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
-Riwayat Asma (-)
-Riwayat Alergi (-)
-Riwayat Cacar air (+) pada waktu kecil
-Riwayat Penyakit Sistemik:
Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus disangkal

1.7 Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga lain yang mengalami keluhan seperti
pasien.

Riwayat keluarga dengan Hipertensi dan Diabetes Mellitus serta alergi


disangkal.

1.8 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Suhu
Nadi
Pernafasan
- Frekuensi
- Irama
- Tipe
7. Tinggi badan
8. Berat badan
9. Kulit
- Warna
- Turgor
- Lembab / kering
- Lapisan lemak

: Tampak sakit ringan


: Compos mentis
: 120/90 mmHg
: 37,1C
: 72 x/menit
: 18 x/menit
: Reguler
: Thorakoabdominal
: 172 cm
: 71 Kg
: kuning langsat
: Baik, < 2 detik
: Lembab
: Ada

Pemeriksaan Organ
1. Kepala

2. Mata

Bentuk

: normocephal

Ekspresi

: tampak kesakitan

Simetri

: simetris

Exopthalmus/enophtal

: (-)

Kelopak
Conjungtiva
Sklera
Kornea
Pupil
Lensa
3. Hidung
4. Telinga
5. Mulut

: normal
: anemis (-/-)
: ikterik (-/-)
: bulat
: bulat, isokor, RC +/+
: keruh (-)
: tak ada kelainan
: tak ada kelainan
Bibir
: basah, tidak pucat
Bau pernafasan: normal

Gigi geligi
: karies (+)
Palatum
: deviasi (-)
Gusi
: warna merah muda, perdarahan (-)
Selaput Lendir: dbn
Lidah
: putih kotor (-), ulkus (-)
6. Leher

KGB
Kel.tiroid
JVP

7. Thorax
Cor
- Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi
-

Auskultasi

: pembesaran (-)
: pembesaran (-)
: (5 2) cm H2O

: Ictus cordis tidak tampak


: Thrill (-), ictus cordis terletak pada ICS 5 LMC sinistra
: Batas jantung Atas : ICS II kiri
Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS VI linea midclavicula kiri
: BJ I dan II regular, Gallop (-), Murmur (-)

Pulmo
-

Inspeksi

: Simetris kanan-kiri, pergerakan dinding

dada tidak ada yang tertinggal.

8.

- Palpasi

: NT (-), taktil fremitus sama kiri dan kanan

- Perkusi

: Sonor dikedua lapang paru

- Auskultasi

: vesikuler (+/), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
-

Inspeksi

: Datar dan soepel

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: NT (-), NL (-) hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapangan abdomen

9. Ekstremitas
Akral hangat, udem (-), CRT < 2 detik.
Status Dermatologis

Lokasi

: Thorakalis Anterior et Posterior Sinistra

Efloresensi

: Pada regio thorakalis anterior et posterior terdapat

vesikel, multiple, ukuran bervariasi dari milier hingga lentikuler, tersusun secara
herpetiformis, sirkumskrip dengan dasar kulit eritematus, polimorf, ada daerah
yang normal, dan unilateral. Beberapa vesikel pecah dan membentuk krusta.

1.9 Diagnosis Kerja


:
Herpes Zoster et regio thorakalis anterior et posterior sinistra
1.10 Diagnosis Banding
:
1. Herpes simplek
2. Impetigo vesiko-bulosa
1.11 Pemeriksaan anjuran
1. Hapusan Tzanck

1.12 Manajemen
a. Promotif

Menerangkan tentang penyakit herpes zooster, mulai dari definisi,

faktor penyebab dan bagaimana proses penularan.


Menerangkan bahwa penyakit ini dapat menular kepada orang lain.

Menjelaskan kepada pasien bahwa pengobatan herpes zooster ini cukup

lama, yaitu minimal dalam satu minggu.


Menerangkan bahwa penyakit ini berhubungan dengan daya tahan
tubuh, sehingga perlu mengatur nutrisi, pola tidur, dan manajemen
stress.

b. Preventif

Menyarankan pasien untuk tidak menggaruk bintil-bintil yang ada, agar

tidak bertambah banyak dan luas.


Tidak menggunakan handuk atau pakaian bersama dengan anggota

keluarga lain.
Menghindari kontak langsung dengan penderita dengan keluhan yang

sama.
Mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan bergizi, makan sayur dan buah

serta susu.
Menghindari bekerja yang menimbulkan kelelahan fisik yang berat.

c. Kuratif
Non farmakologi

Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi

sekunder akibat garukan.


Mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang untuk memperkuat

imunitas tubuh.
Istirahat yang cukup
Farmakologi

Acyclovir salep kulit, diberikan 2 x sehari setelah

mandi selama 7 hari

Acyclovir tablet 800 mg, diberikan 5 x 1 tablet,


selama 7 hari
Paracetamol tablet 500 mg, diberikan 3 x 1 tablet selama 7 hari (kalau

perlu)
Amoksisilin tablet 500 mg, diberikan 3 x 1 tablet selama 7 hari

Obat tradisional

30 gram patikan china dan 1 siung bawang putih dicuci bersih


kemudian ditumbuk sampai halus. Kemudian tambahkan sedikit air
dingin. Aduk sampai bercampur rata. Setelah itu balurkan pada bagian
kulit yang terkena herpes.
Daun kentutan secukupnya dicuci sampai bersih lalu tumbuk sampai
halus kemudian tambahkan belerang secukupnya dan minyak kelapa
secukupnya kemudian aduk sampai merata. Selanjutnya oleskan pada
bagian kulit yang terkena herpes.
d. Rehabilitatif
Menerangkan kepada pasien bahwa lesi-lesi di kulit akan hilang dalam

7 12 hari bila tidak terjadi infeksi sekunder akibat penggarukan.


Mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin untuk mempercepat
pemulihan daya tahan tubuh.
Menjaga kebersihan diri.

RESEP
Dinas Kesehatan Kota Jambi
Puskesmas simpang IV sipin
dr. Agustina Dewi. S
SIP. 123456789

STR. 1234567890

Jambi, 30 April 2015


R/ Acyclovir zalf tube

no. I

Sue
R/ Acyclovir tab mg 800

no. XXXV

S 5 dd tab 1
R/ Paracetamol tab mg 500

no. XV

S 3 dd tab I p.r.n
R/ Amoxicillin tab mg 500

no.XX

S 3 dd tab I

Pro

: Tn. AF

Umur : 49 tahun
Alamat : RT 17 Kel. Simpang IV sipin
Resep tidak boleh diganti tanpa persetujuan dokter

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi

Herpes Zoster adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit yang
terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan.1
Herpes zoster adalah radang kulit akut, yang mempunyai sifat khas yaitu
vesikel- vesikel yang tersusun berkelompok sepanjang persyarafan sensorik kulit
sesuai dermatom. Infeksi ini menyerang kulit dan mukosa, serta merupakan
reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer dari virus varisela zoster. 1,2

2.2

Epidemiologi
Penyebarannya sama dengan varisela. Penyakit ini, seperti yang

diterangkan dalam definisi, merupakan reaktivasi virus yang dapat terjadi setelah
penderita mendapat varisela. Kadang kadang varisela ini berlangsung subklinis.
Tetapi ada pendapat yang menyatakan kemungkinan transmisi virus secara
aerogan dari pasien yang sedang menderita varisela atau herpes zoster. 1,2,3
Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi
oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka
kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan
peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika, penyakit ini dilaporkan sekitar
6% setahun, di Inggris 0,34% setahun sedangkan di Indonesia lebih kurang 1%
setahun. Herpes zoster terjadi pada orang yang pernah menderita varisela
sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama
yaitu virus varisela zoster. Setelah sembuh dari varisela, virus yang ada di
ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika

10

daya tahan tubuh menurun. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari
10% usia di bawah 20 tahun. Kurnia Djaya pernah melaporkan kasus hepes zoster
pada bayi usia 11 bulan.

2.3

Etiologi
Penyebabnya adalah virus Varicela Zoster yang termasuk kelompok virus

sedang berukuran 140 200 m dan berinti DNA. Biasanya terjadi pada usia
dewasa, meski kadang juga pada anak- anak. Dimana insidennya sama banyaknya
pada pria dan wanita dan tidak tergantung musim. Herpes Zoster disebabkan oleh
virus varicela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA yang termasuk
subfamili alfa herpes viride. Berdasarkan sifat biologisnya seperti siklus replikasi,
pejamu, sifat sel tempat hidup laten diklasifikasikan sitotoksik dan 3 subfamili
alfa, beta dan gama. VVZ dalam subfamili alfa mempunyai sifat khas
menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. 1
Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi oleh virus herpes alfa biasanya
menetap dalam bentuk laten di dalam neuron dari ganglion. Virus yang laten ini
pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara periodik. Secara in vitro
virus herpes alfa mempunyai tempat berkembang biak yang relatif luas dengan
siklus pertumbuhan yang pendek. Virus ini Mempunyai enzim yang penting untuk
replikasi meliputi virus spesifik DNA polymerase dan virus spesifik
deoxyperidine (thymidine) kinase yang disintesa di dalam sel yang terinfeksi. 1
Infeksi awal oleh virus varicella-zoster (yang bisa berupa cacar air)
berakhir dengan masuknya virus ke dalam ganglia (badan saraf) pada saraf
spinalis maupun saraf kranialis dan virus menetap disana dalam keadaan tidak
aktif. Herpes zoster selalu terbatas pada penyebaran akar saraf yang terlibat di

11

kulit (dermatom). Virus herpes zoster bisa tidak pernah menimbulkan gejala lagi
atau bisa kembali aktif beberapa tahun kemudian. Herpes zoster tejadi jika virus
kembali aktif. Kadang pengaktivan kembali virus ini terjadi jika terdapat
gangguan pada sistem kekebalan akibat suatu penyakit (misalnya karena AIDS
atau penyakit Hodgkin) atau obat-obatan yang mempengaruhi sistem kekebalan.
Yang sering terjadi adalah penyebab dari pengaktivan kembali virus ini tidak
diketahui. 1,2
2.4

Patogenesis
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion
kranialis. Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan
daerah persarafan ganglion tersebut. Kadang-kadang virus ini juga menyerang
ganglion anterior, bagian motorik kranialis sehingga memberikan gejala-gejala
gangguan motorik. 1,2,3,4
Selama proses infeksi varicella, VZV lewat dari luka di kulit dan
permukaan mukosa ke akhiran saraf yang berdekatan dan ditranspor secara
sentripetal ke saraf sensoris ke ganglia sensoris. Dalam ganglia, virus membentuk
infeksi laten yang bertahan untuk hidup. Herpes zoster terjadi paling sering pada
dermatom di mana ruam dari varisela mencapai densitas tertinggi yang pertama
diinervasi oleh (ophtalmic) divisi saraf trigeminal dan oleh spinal sensori ganglia
dari T1 ke L2. 1,2,3,4
Walaupun virus bersifat laten, ganglia mempertahankan potensi untuk
inefektivitas penuh, reaktifasi yang terjadi bersifat sporadis, jarang, dan terkait
dengan imunosupresi, radiasi dari columna vertebralis, tumor, trauma lokal;

12

manipulasi bedah tulang belakang dan sinusitis frontalis. VZV mungkin juga
mengaktifkan kembali tanpa menghasilkan penyakit yang nyata. Walaupun
asimtomatik reaktivasi VZV tidak terbukti pasti, kuantitas kecil antigen virus yang
dilepaskan selama reactivasi diharapkan dapat merangsang dan mempertahankan
kekebalan host terhadap VZV. Ketika resistensi host jatuh di bawah tingkat kritis,
virus berkembang biak dan menyebar dalam ganglion, kemudian menyebabkan
nekrosis neuron dan peradangan hebat, sebuah proses yang sering disertai
neuralgia berat. Infeksi VZV kemudian menyebar ke saraf sensorik, beresiko
neuritis hebat, dan dilepaskan di sekitar ujung akhiran saraf sensorik di kulit, di
mana ia menghasilkan karakteristik kluster vesikula zoster. 1,2,3,4
Penyebaran infeksi ganglionic secara proksimal sepanjang radix saraf
posterior menuju meninges dan corda menghasilkan leptomeningitis lokal, cairan
cerebrospinal pleocytosis, dan segmental myelitis. Infeksi motor neuron di kornu
anterior dan radang pada syaraf di bagian radix anterior dicatat untuk palsies lokal
yang mungkin menyertai erupsi kutaneus, dan perluasan infeksi di dalam sistem
saraf pusat dapat dihasilkan pada komplikasi jarang herpes zoster (misalnya,
meningoensefalitis, transverse myelitis). 1,2,3,4

2.5 Gejala Klinis


Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal, walaupun
daerah-daerah lain tidak jarang. Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama,
sedangkan mengenai umur lebih sering pada orang dewasa.1
Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah erupsi lokalisata
dan hampir selalu unilateral. Jarang erupsi tersebut melewati garis tengah tubuh.

13

Umunya lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh salah satu ganglion
saraf sensorik. 1
Herpes zoster pada orang dewasa yang sehat biasanya terlokalisasi dan
bersifat benigna. Namun pada pasien yang sistem kekebalannya terganggu
penyekit tersebut dapat menjadi berat dan perjalan kliniknya bisa menimbulkan
ketidakmampuan yang akut, Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita
usia tua. 1,2,3,4,5
Pada anak-anak hanya timbul keluhan ringan dan erupsinya cepat
menyembuh, Rasa sakit segmental pada penderita lanjut usia dapat menetap,
walaupun krustanya sudah menghilang. 1,2,3,4,5
Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai
dengan tempat persarafan. Pada susunan saraf tepi jarang timbul kelainan motorik,
tetapi pada susunan saraf pusat kelainan ini lebih sering karena struktur ganglion
kranialis memungkinkan hal tersebut. Hiperestesi pada daerah yang terkena
memberi gejala yang khas. Kelainan pada muka sering disebabkan oleh karena
gangguan pada nevus trigeminus (dengan ganglion gaseri) atau nervus fasialis dan
otikus (dari ganglion genikulatum). 1
Manifestasi dari gejala prodromal herpes zoster antara lain ialah dapat
mensimulasikan sakit kepala, iritis, radang selaput dada, neuritis brakialis, sakit
jantung, radang usus buntu atau penyakit intraabdominal lain, atau linu panggul,
yang dapat mengakibatkan salah diagnosa. Interval gejala prodromal sebelum
muncul gambaran kelainan pada kulit merupakan penyebaran partikel virus di
sepanjang saraf sensorik, namun sekitar 10% dari pasien melaporkan onset nyeri
dan ruam secara bersamaan. 1

14

Setelah timbul gejala prodromal, maka tanda-tanda dan gejala berikut


terjadi: 1
Patch eritema, kadang-kadang disertai dengan indurasi, muncul di wilayah

dermatomal yang terlibat.


Limfadenopati regional dapat muncul pada tahap ini atau selanjutnya.
peradangan pada saraf sensorik yang terlibat menyebabkan rasa sakit yang

parah.
Muncul Vesikula awalnya jelas, tapi akhirnya, mereka awan, pecah, kerak, dan
sukar.

Erupsi duimulai dengan makulopapula eritematus. 12-24 jam kemudian


terbentuk vesikula yang dapat berubah menjadi pustul pada hari ke 3. Seminggu
sampai 10 hari kemudian, lesi mengering menjadi krusta. Krusta ini dapat
menetap 2-3 minggu. 1,2,3,4,5

Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus


trigeminus, sehingga menimbulkan kelainan pada mata, di samping itu juga
cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah

persarafannya. 1
Sindrom Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan nervus fasialis dan otikus,
sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit
yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinnitus, vertigo, gangguan pedengaran,

nistagmus dan nausea, juga terdapat gangguan pengecapan. 1


Herpes zoster abortif artinya penyakit ini berlangsung dalam waktu yang
sangat singkat dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan
eritem. Pada herpes zoster generalisata kelainan kulitnya unilateral dan

15

segmental ditambah kelainan kulit yang menyebar secara generalisata berupa


vesikel yang soliter dan ada umbilikasi. Kasus ini terutama terjadi pada orang
tua atau pada orang yang kondisi fisiknya sangat lemah, misalnya pada

penderita limfoma malignum. 1


Neuralgia pascaherpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat
berlangsung sampai beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi
nyeri yang bervariasi dalam kehidupan sehari-hari. Kecenderungan ini
dijumpai pada orang yang mendapat herpes zoster di atas usia 40 tahun. 1,4,5

2.6 Penularan
Penularan bisa terjadi melalui kontak udara yang terkontaminasi
khususnya pada banyak orang di dalamnya seperti sekolah. Bisa juga terjadi
penularan melalui sentuhan kulit antar individu. 1,2,3,4,5

2.7 Penegakan Diagnosis


Tes diagnostik untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan
herpes simplek:1
a. Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat membedakan
herpes zoster dan herpes simplex.
b. Kultur dari cairan vesikel dan tes antibodi : digunakan untuk membedakan
diagnosis herpes virus

16

c. Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di sel kulit


d. Pemeriksaan histopatologik
e. Pemerikasaan mikroskop electron
f. Kultur virus
g. Identifikasi anti gen / asam nukleat VVZ
h. Deteksi antibody terhadap infeksi virus

2.8 Penatalaksanaan 1
Pengobatan topical

Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin
untuk mencegah vesikel pecah

Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan larutan
antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x sehari selama 20
menit

17

Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik
(basitrasin / polysporin ) untuk mencegah infeksi sekunder selama 3 x
sehari
Pengobatan sistemik
Terapi sistemik umumnya bersifat simtomatik, untuk nyerinya diberikan

analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik. Antihistamin


diberikan untuk menyembuhkan pruritus.
Drug of choice nya adalah acyclovir yang dapat mengintervensi sintesis
virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan infeksi herpes namun dapat
menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat diberikan secara oral, topical
atau parenteral. Pemberian lebih efektif pada hari pertama dan kedua pasca
kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang kecil terhadap
postherpetic neuralgia. Antiviral ini juga terutama diberikan pada herpes zoster
oftalmikus atau pasien dengan defisiensi imuunitas mengingat komplikasinya.
Dosis asiklovir yang dianjurkan adalah 5 x 800 mg saehari dan biasanya
diberikan 7 hari, sedangkan jika menggunakan valasikovir cukup 3 x 1000 mg
sehari dengan konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. Jika setelah pemberian obat
tersebut lesi baru masih tetap muncul, maka obat dapat diteruskan dan dapat
dihentikan setelah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi. Kortikosteroid dapat
digunakan untuk menurunkan respon inflamasi dan efektif namun penggunaannya
masih kontroversi karena dapat menurunkan penyembuhan dan menekan respon
immune. Terutama diberikan pada sindrom Ramsay-Hunt. Diberikan prednison b3
x 20 mg sehari.

18

Untuk neuralgia pasca herpetik belum ada pilihan obatnya. Menurut FDA,
obat pertama yang dapat digunakan untuknyeri neuropatik pada neuropati perifer
diabetik dan neuralgia pasca herpetik ialah pregabalin, yang lebih baik daripada
gaba analog seperti gabapentin. Diberikan dengan dosis awal 2 x 75 mg sehari,
setelah 3 7 hari jika responnya kurang dapat dinaikkan menjadi 2 x 150 mg
sehari. Dosis maksimal 600 mg sehari.
Obat lain yang dapat digunakan ialah antidepresi trisiklik, misalnya
amitriptilin, dengan dosis awal 75 mg sehari, kemudian dapat ditingkatkan antara
150-300 mg sehari.

Penderita dengan keluhan mata


Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukan hubungan
dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani dengan konsultasi
opthamologis. Dapat diobati dengan salaep mata steroid topical dan midriatik, anti
virus dapat diberikan.

2.9 Komplikasi
Neuralgia Pasca Herpetik (NPH) merupakan nyeri yang tajam dan
spasmodic (singkat dan tidak terus menerus) sepanjang nervus yang terlibat.
Nyeri menetap di dermatom yang terkena setelah erupsi. Dapat timbul pada umur
di atas 40 tahun presentasenya 10-15 %. Makin tua makin tinggi presentasinya.5
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi.
sebaliknya disertai defisiensi imunitas , infeksi H.I.V., keganasan, atau berusia

19

lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan
nekrotik. 1,5
Pada herpes zoster oftalmikus dapat terjadi berbagai komplikasi diantaranya
ptosis paralitik, keratitis, kleritis, uveitis, korioretinitis, dan neuritis oprik. 1,5
Paralisis motorik terdapat pada 1-5 % kasus, yang terjadi akibat penjalaran
virus secara per kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang
berdekatan. Paralisis biasanya timbul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya
lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi misalnya di muka, diagfragma, batang tubuh,
ekstremitas, vesika urinaria, dan anus. umumnya akan sembuh spontan. 1,5
Herpes zoster menghilang, batasan waktunya adalah nyeri yang masih
timbul satu bulan setelah timbulnya erupsi kulit. Kebanyakan nyeri akan
berkurang dan menghilang spontan setelah 16 bulan. 1,5
Gangren

superfisialis,

menunjukan

Herpes

zoster

yang

berat,

mengakibatkan hambatan peyembuhan dan pembentukan jaringan parut. 1


Komplikasi mata, antara lain : keratitis akut, skleritis, uveitis, glaucoma
sekunder, ptosis, korioretinitis, neuritis optika dan paresis otot penggerak bola
mata. 1,4,5
Komplikasi sistemik, antara lain : endokarditis, menigosefalitis, paralysis
saraf motorik, progressive multi focal leukoenche phatopathy dan angitis serebral
granulomatosa disertai hemiplegi (2 terkahir ini merupakan komplikasi herpes
zoster optalmik). 1,4,5

20

BAB III
ANALISA KASUS
Seorang laki-laki, 49 tahun datang ke puskesmas simpang IV sipin, dengan
keluhan timbul bintil-bintil merah di dada dan punggung bagian kiri. Dari
anamnesis, diketahui bahwa sebelum timbul bintil tersebut, pasien mengeluh
demam, suhu tubuh tidak terlalu tinggi disertai kepala pusing dan badan terasa
lemas. Saat itu, pasien mulai merasakan panas dan sedikit perih di bagian dada
kiri. Sehari setelahnya, pasien mengeluh timbul bintil-bintil berwarna kemerahan
disekitar dada sebelah kiri, terasa gatal dan perih. Setelah digaruk keluar cairan
dari bintil tersebut, berwarna jernih hingga kekuningan. Bintil semakin terasa
perih dan panas terlebih saat pasien mandi atau bintil bersentuhan dengan pakaian
yang digunakan.

21

Pasien biasanya mandi dan mengganti pakaian dua kali sehari. Penggunaan
handuk dalam keluarga berbeda-beda untuk setiap anggota keluarga. Dalam
keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama.
Selain itu, pasien juga mengeluh terasa nyeri otot dan tulangnya terasa
pegal. Sebelumnya pasien mengaku bahwa belakangan ini sering begadang
mengerjakan tugas kantor. Keluhan seperti ini pertama kali dialami oleh pasien.
Waktu kecil pasien mengaku pernah mengalami penyakit cacar air.
Dari pemeriksaan dermatologis, tampak vesikel pada regio thorakalis
anterior et posterior. Vesikel berkelompok, berbatas tegas dengan dasar kulit
eritematus, polimorf, tersusun secara herpetiformis, ada daerah yang normal,
unilateral, disertai nyeri dan gatal.
Dari anamnesis serta pemeriksaan yang telah dilakukan maka pasien di
diagnosis dengan herpes zoster. Pasien disaranka untuk tetap menjaga kebersihan,
menghindari kontak dengan keluarga yang sehat, mengkonsumsi makanan yang
bergizi serta istirahat yang cukup.
Selain itu, pasien diberikan terapi berupa acyclovir salep, acyclovir tablet 5
x 800 mg, paracetamol tablet 3 x 500 mg, dan amoxicillin tablet 3 x 500 mg.
Analisis secara holistik sebagai berikut :
a. Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar
Berdasarkan kunjungan rumah yang telah dilakukan terhadap pasien
diketahui bahwa saat ini kondisi rumah pasien dalam keadaan baik. Pasien tinggal
di sebuah rumah pribadi. Rumah pasien berukuran kurang lebih 15 x 12 M,

22

berdinding beton, lantai semen dan keramik, atap terbuat dari seng, dan memiliki
ventilasi yang memadai.
Rumah terdiri dari 4 buah kamar tidur, masing-masing kamar tidur memiliki
jendela. Dibagian depan terdapat ruang tamu dengan beberapa jendela. Terdapat
sebuah ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan. Di bagian belakang
terdapat dapur. WC terletak di dalam rumah.
Herpes Zoster adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit yang
terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. Herpes zoster mempunyai
sifat khas yaitu vesikel- vesikel yang tersusun berkelompok sepanjang persyarafan
sensorik kulit sesuai dermatom.
Tidak ada hubungan antara penyakit pasien dengan keadaan rumah.

b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Pada kasus ini didapatkan status ekonomi keluarga pasien baik, pasien
tergolong dalam ekonomi mampu. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan ketiga
anaknya serta orang tua laki-laki (bapak). Sehari-hari pasien bekerja sebagai
seorang PNS. Hubungan pasien dengan keluarga diketahui sangat harmonis.
Tidak ada hubungan antara diagnosis penyakit pasien dengan keadaan
keluarga dan juga hubungan keluarga.

c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar
Pasien belum mengetahui penyakitnya dapat menular juga pada orang lain.
Penularan bisa terjadi melalui kontak udara yang terkontaminasi maupun melalui
kontak langsung yaitu dari sentuhan kulit antar individu. Pasien juga diketahui

23

tidak pernah menggukan barang seperti handuk secara bersamaan dengan anggota
keluarga lainnya. Diketahui juga bahwa tidak ada keluarga atau teman pasien yang
mengalami keluhan seperti pasien. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada
hubungan antara perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan sekitar
dengan penyakit pasien.
d. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit ini
pada pasien
Pada kasus ini yang menjadi faktor resiko atau etologi penyakit pasien
adalah

infeksi virus varicela zoster,

yang termasuk kelompok virus sedang

berukuran 140 200 m dan berinti DNA. Biasanya terjadi pada usia dewasa,
meski kadang juga pada anak- anak. Dimana insidennya sama banyaknya pada
pria dan wanita dan tidak tergantung musim.
Selain itu, reaktivasi dari virus ini dapat terjadi dalam keadaan imunitas
yang menurun. Pada pasien diketahui bahwa akhir-akhir ini ia sering begadang
dan tidur larut malam untuk mengerjakan tugas kantor. Hal ini bisa saja menjadi
salah faktor resiko dari terjadinya panyakit pasien.
e. Analisis untuk mengurangi paparan atau memutus rantai penularan
dengan faktor resiko atau etiologi pada pasien ini
Pasien untuk sementara menghindari kontak terhadap orang lain terlebih
dahulu dan minum obat secara teratur. Penularan bisa terjadi melalui kontak udara
yang terkontaminasi khususnya pada tempat yang banyak orang, seperti di
sekolah dan kantor. Bisa juga terjadi penularan melalui sentuhan kulit antar
individu.
Selain itu pasien disrankan untuk makan makanan bergizi, lengkap dengan
sayur dan lauk pauk serta buah dan susu setiap hari minimal dua kali sehari,
menjaga kebersihan diri dengan mandi minimal dua kali sehari serta tidak
menggunakan handuk mandi bersama anggota keluarga lain.

24

BAB IV
LAMPIRAN

25

DAFTAR PUSTAKA

1. Kuswadji. Penyakit Kulit Akibat Infeksi Virus. Editor : Djuanda Adhi


Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ke-4. Balai Penerbit FK
UI.2006. Hal 106-109.
2. Siregar R.S. Saripati Penyakit Kulit, Atlas Berwarna. EGC. 2000.
3. Janniger

CK,MD.

Herpes

Zoster.

http://emedicine.medscape.com.

( diunduh minggu 30-04-2015).

4. Kost RG, Straus SE. Postherpetic neuralgiapathogenesis, treatment, and


prevention. N Engl J Med. Jul 4 1996;335(1):32-42.

5. Pavan-Langston D. Herpes zoster ophthalmicus. Neurology. Dec


1995;45(12 Suppl 8):S50-1.

26

27