Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Cairan Tubuh
Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk
multiseluler seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. 2
2.2 Komponen Cairan Tubuh
Cairan tubuh dapat dibagi menjadi komponen intraseluler dan komponen
ekstraseluler. Sedangkan komponen ekstrasesluler dapat dibagi menjadi
intravaskuler dan interstisial. 1,3

Gambar 2.1 Komponen Cairan Tubuh


Komponen intraseluler merupakan cadangan cairan tubuh yang terbesar,
dan berhubungan dengan cairan dalam sel. Komposisi ionnya berbeda
dengan komponen ekstraseluler karena ia mengandung ion kalium dalam
konsentrasi tinggi (140 150 mmol/liter) dan ion natrium dalam
konsentrasi rendah (8 -10 mmol/liter) dan ion klorida (3 mmol/liter). Jadi
jika air diberikan bersama natrium dan klorida, maka cenderung untuk
mengisi komponen ekstraseluler. Air yang diperlukan dalam bentuk
larutan glukosa akan didistribusikan ke semua bagian tubuh dan glukosa
akan dimetabolisme. Air murni tdak pernah diberikan secara intravena,

karena dapat menyebabkan hemolisis masif. 3


Komponen Ekstraseluler
o
Komponen intravaskuler. Volume darah normal kira-kira 70
ml/KgBB pada dewasa dan 85-90 ml/KgBB pada neonates. Selain
darah, komponen intravaskuler juga terdiri dari protein plasma dan
ion, terutama natrium (138 145mmol/liter), klorida (97 105
3

mmol/liter) dan ion bikarbonat. Hanya sebagian kecil kalium tubuh


berada di dalam plasma (3,5 4,5 mmol/liter), tetapi konsentrasi
kalium ini mempunyai pengaruh besar terhadap fungsi jantung dan
o

neuromuskuler. 1,3
Komponen interstisial. Komponen interstisial lebih besar daripada
komponen intravaskuler, secara anatomi, berhubungan secara kasar
dengan ruang interstisial dari tubuh. Jumlah total cairan
ekstraseluler (intravaskuler ditambah interstisial) bervariasi antara
20 35% dari berat badan dewasa dan 40- 50% pada neonatus. Air
dan elektrolit dapat bergerak bebas diantara darah dan ruang
interstisial, yang mempunyai komposisi ion yang sama, tetapi
protein plasma tidak dapat bergerak bebas keluar dari ruang
intravaskuler kecuali bila terdapat cedera misalnya pada luka bakar
atau syok septik. Jika terdapat kekurangan cairan dalam darah atau
volume darah yang menurun dengan cepat, maka air dan elektrolit
akan ditarik dari komponen interstisial ke dalam darah untuk
mengatasi kekurangan volume intravaskuler, yang diprioritaskan
secara fisiologis. Pemberian cairan intravena yang terutama
mengandung ion natrium dan klorida, seperti NaCl fisiologis (9
gr/liter atau 0,9%), atau larutan Hartmann (larutan ringer laktat),
dapat bergerak bebas ke dalam ruang interstisial, sehingga efektif
untuk meningkatkan volume intervaskuler dalam waktu singkat.
Larutan yang mengandung molekul yang lebih besar misalnya
plasma, darah lengkap, dekstran, poligelin, hidroksietil, gelatin,
lebih efektif untuk mempertahankan sirkulasi jika diberikan secara
intravena karena komponen ini lebih lama berada dalam komponen
intravaskuler. Cairan ini biasanya disebut sebagai plasma
expanders.1, 3
Kandungan air dalam setiap organ tidak seragam seperti terlihat

Gambardibawah
2.2 Kehilangan
ini: 1,2 cairan dan beberapa cairan pengganti secara
intravena
Jaringan
Persentase Air
Otak
84
Ginjal
83
Otot lurik
76
Kulit
72
Hati
68
Tulang
22
Lemak
10

Komponen cairan tubuh


Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non
elektrolit.
Elektrolit
Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam
miliekuivalen).2

Kation
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah Natrium (Na+),

sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah Kalium (K+). Suatu
sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar Natrium
dan Kalium ini.
Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling
berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma:
138-145mEq/liter. Kadar natrium dalam tubuh 58,5 mEq/kgBB dimana 70%
atau 40,5 mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100180 mEq/liter, faeces 35 mEq/liter dan keringat 58 mEq/liter. Kebutuhan
setiap hari = 100 mEq (6-15 gram NaCl).
Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial
maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan
natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi
keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium
dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial.
Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel
5

dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah


kegagalan sirkulasi.2
Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler
berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.
Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat
berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang
terikat dengan protein didalam sel.
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3
mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi
H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72
mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter. 2

Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90%

dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini
tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme
kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis,
ovarium, dan hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan
1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.2

Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan untuk

pertumbuhan + 10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.

Anion
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan

bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah


ion fosfat (PO43-).
Tabel 2.1 Kandungan Elektrolit dalam Cairan Tubuh 1
(mEg/l)

Plasma
(mEq/L)

Cairan
Interstitial

Cairan
Intracellular
6

(mEq/L)
Kation

Anion

Na
K
Ca
Mg
Total
Cl
HCO3
HPO4
SO4
Asam Orgaik
Protein
Total

142
4
5
3
154
103
27
2
1
5
16
154

(mEq/L)

145
4
2,5
1,5
152
114
30
2
1
5
0
152

15
150
2
27
194
1
10
100
20
0
63
194

Non elektrolit
Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam
cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.
2.3 Peran Elektrolit penting dalam tubuh
Peran natrium
Ekskresi air hampir selalu disertai oleh ekskresi natrium air lewat
urin, feces, atau keringat, karena itu kekurangan air (dehidrasi) selalu
diberi cairan infus yang mengandung natrium. Natrium berperan
memelihara tekanan osmotik dan volume cairan ekstraseluler dan
natrium sebagian besar (84%) berada dicairan ekstraseluler. Kebutuhan
natrium perhari sekitar 50-100 mEq atau 3-6 gram NaCl.
Keseimbangan Na diatur terutama oleh ginjal. Berat atom Na = 23
dengan muatan listrik 1.1,3
1 gram NaCl = 17 mEq. Kekurangan Na biasanya disebabkan oleh
pemberian infus berlebihan tanpa Na, pada sindroma reseksi prostat
atau pada menurunnya sekresi ADH (hormon anti diuretik). 1
Peran kalium
Sebagian besar K terdapat dalam sel (150 mEq/L). Pembedahan
menyebabkan katabolisme jaringan dan moilisasi kalium pada harihari pertama dan kedua. Kebutuhan akan kalium cukup diatasi dengan
kebutuhan rutin saja sekitar 0,5 mEq/kgBB/hari. Kemampuan ginjal
7

menahan kalium sangat rendah. Kadar kalium dalam plasma hanya 2%


dari total K tubuh, sehingga kekurangan K jarang terdeteksi. Fungsi K
adalah merangsang saraf otot, menghantarkan impuls listrik,
membantu utilisasi O2, asam-amino, glikogen dan pembentukan sel.
Kadar K serum normalnya 3-5 mEq/L. Hipokalemia (<3 mEq/L),
memyebabkan keletihan otot, lemas, kembung, ileus paralitik,
gangguan irama jantung. Konsentrasi K dalam infus sebaiknya < 40
mEq/L atau kecepatan pemberian < 20 mEq/jam. 1
2.4 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pembedahan
Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan
hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor
preoperatif, intraoperatif dan postoperatif.
A.
Faktor-faktor preoperatif 4
1. Kondisi yang telah ada
Diabetes melitus, penyakit hepar, atau insufisiensi renal dapat
diperburuk oleh stres akibat operasi.
2. Prosedur diagnostik
Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker
intravena dapat menyebabkan ekskresi cairan dan elektrolit urin
yang tidak normal karena efek diuresis osmotik.
3. Pemberian obat
Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi
eksresi air dan elektrolit.
4. Preparasi bedah
Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan
air dan elekrolit dari traktus gastrointestinal.
5. Penanganan medis terhadap kondisi yang telah ada
6. Restriksi cairan preoperatif
Selama periode 6 jam restriksi cairan, pasien dewasa yang sehat
kehilangan cairan sekitar 300-500 mL. Kehilangan cairan dapat
meningkat jika pasien menderita demam atau adanya kehilangan
abnormal cairan.
8

7. Defisit cairan yang telah ada sebelumnya


Harus dikoreksi sebelum operasi untuk meminimalkan efek dari
anestesi.
B. Faktor-faktor intraoperatif 4
1. Induksi anestesi
Dapat menyebabkan terjadinya hipotensi pada pasien dengan
hipovolemia preoperatif karena hilangnya mekanisme kompensasi
seperti takikardia dan vasokonstriksi.
2. Kehilangan darah yang abnormal.
3. Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space (contohnya
kehilangan cairan ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat
operasi).
4. Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi (biasanya pada
luka operasi yang besar dan prosedur operasi yang berkepanjangan)
C. Faktor-faktor postoperatif 4
1. Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi.
2. Peningkatan katabolisme jaringan.
3. Penurunan volume sirkulasi yang efektif.
4. Risiko atau adanya ileus postoperatif.
2.5 Terapi Cairan
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan
tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit)
atau koloid (plasma ekspander) secara intravena. Prinsip dasar terapi cairan
adalah cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan komposisi cairan
yang hilang.
2.5.1

Tujuan Terapi Cairan


Terapi cairan berfungsi untuk tujuan:
1.
2.

Mengganti kekurangan air dan elektrolit.


Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
9

3.
4.

Untuk mengatasi syok.


Untuk mengatasi kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang
diberikan. Terapi cairan preoperatif meliputi tindakan terapi yang
dilakukan pada masa pra-bedah, selama pembedahan dan pasca
bedah. Pada penderita yang menjalani operasi, baik karena
penyakitnya itu sendiri atau karena adanya trauma pembedahan,
terjadi perubahan-perubahan fisiologi. 5

2.5.2 Tatalaksana terapi cairan


Terapi cairan resusitasi
Terapi

cairan

resusitasi

ditujukan

untuk

menggantikan

kehilangan akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan


intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada
keadaan syok dan luka bakar. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan
dengan pemberian infus Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau
Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok
hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit. 2,3
Terapi rumatan
Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh
dan nutrisi. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35
ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+ = 1-2 mmol/kgBB/hari dan K+ =
1 mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan
yang hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat
(lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible
water losses. Digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1, yaitu: 3
Table 2.3 Rumus Holiday Segar

10

Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan


kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat
saja. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan
KA-EN, dextran + saline, DGAA, Ringer's dextrose, dll. Sedangkan
larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%.
Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang
antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik.
Dalam terapi rumatan cairan keseimbangan kalium perlu
diperhatikan karena seperti sudah dijelaskan kadar berlebihan atau
kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Umumnya
infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai
kebutuhan harian. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan
harian.
Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang
ketiga, ke ruang peritoneum, ke luar tubuh. Untuk menggantinya
tergantung besar kecilnya pembedahan, yaitu : 1

6-8 ml/kg untuk bedah besar.

4-6 ml/kg untuk bedah sedang.

2-4 ml/kg untuk bedah kecil.

Terapi Cairan Intravena


Infus cairan intravena (intravenous fluids drip) adalah pemberian
sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam
pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan
atau zat-zat makanan dari tubuh. 6
Secara

umum,

keadaan-keadaan

yang

dapat

memerlukan

pemberian cairan infus adalah:


1.

Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan


komponen darah).
11

2.

3.

4.

5.

Trauma abdomen berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen


darah).
Fraktur, khususnya di pelvis dan femur (kehilangan cairan tubuh
dan komponen darah).
Kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi (karena Heat stroke,
demam dan diare).
Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan
cairan tubuh dan komponen darah). 6

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena


(Peripheral Venous Cannulation):
1.
2.

3.
4.
5.

Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).


Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah)
dalam jumlah terbatas.
Pemberian kantong darah dan produk darah.
Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).
Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur
(misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang
jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk

6.

memudahkan pemberian obat).


Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya
risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam
nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga
tidak dapat dipasang jalur infus. 6

Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur


Pembuluh Darah Vena yaitu:
1.

2.

Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi


pemasangan infus.
Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini
akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt)

3.

pada tindakan hemodialisis (cuci darah).


Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil
yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai
dan kaki).6
12

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus yaitu:


1. Hematoma
Hematom adalah darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat
pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat
penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau
tusukan berulang pada pembuluh darah.
2. Infiltrasi
Infiltrasi adalah masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar
(bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati
pembuluh darah.
3. Tromboflebitis
Tromboflebitis atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena
terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan
benar.
4. Emboli udara
Emboli udara adalah masuknya udara ke dalam sirkulasi darah,
terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke
dalam pembuluh darah.
5. Selain itu komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan
melalui infus rasa perih atau sakit dan reaksi alergi.7
2.6 Jenis-Jenis Cairan
1. Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES =
CEF). Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan
koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di
ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.
Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling
banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan
susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang
terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati
menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah
NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis
13

hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar


bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.
Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana
kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan
dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit
cairan di ruang interstitiel. Pemberian maksimal 1500mL per hari.
Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam
jumlah sedikit larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga
timbul edema perifer dan paru serta berakibat terganggunya oksigenasi
jaringan dan edema jaringan luka, apabila seseorang mendapat infus 1 liter
NaCl 0,9. Selain itu, pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat
menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial. 2,5,7
a. Cairan hipotonik
Cairan hipotonik osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut
dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik
dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya
mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami
dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik,
juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan
ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan
tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada
beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. 2,6
b. Cairan Isotonik
Cairan

Isotonik

osmolaritas

(tingkat

kepekatan)

cairannya

mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada
di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami
hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus
14

menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan),


khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi.
Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan
garam fisiologis (NaCl 0,9%). 2,6

c. Cairan hipertonik
Cairan hipertonik osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam
pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan
produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5% + Ringer-Lactate, Dextrose 5% + NaCl 0,9%,
produk darah (darah), dan albumin. 2,6
2. Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma
substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan
yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang
menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam)
dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk
resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik
atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein
yang banyak (misal luka bakar). 2,4,7
Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:
a. Koloid alami
Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C
selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi
protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa
globulin dan beta globulin.2,4,7
15

b. Koloid sintetis
1. Dextran
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan
Dextran 70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi
oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media
sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih
baik dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu
memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan
kekentalan (viskositas) darah. Selain itu Dextran mempunyai efek anti
trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas
faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah.
Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross
match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal.
Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu
dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.2,4,7
2. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000
1.000.000, rata-rata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik
30 30 mmHg. Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan
dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam
waktu 8 hari. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik
dan dapat meningkatkan kadar serum amilase ( walau jarang). Low
molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch,
mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali volume yang
diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya sebagai
plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan
tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid
untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.2,4,7
3. Gelatin

16

Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat


molekul rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang.2,4,6
Ada 3 macam gelatin, yaitu:
1. Modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell).
2. Urea linked gelatin.
3. Oxypoly gelatin
Table 2.4 Keuntungan dan kerugian cairan kristaloid dan koloid 3
Nama
Keuntungan

Kristaloid
Tidak mahal
Aliran urin lancar

Koloid

intravaskular lebih baik (1/3

(meningkatkan volume
intravaskular)
Pilihan cairan pertama
untuk resusitasi perdarahan

cairan bertahan selama 24 jam)


Meningkatkan tekanan onkotik

plasma
Membutuhkan volume yang

lebih sedikit
Mengurangi kejadian edema

perifer
Dapat menurunkan tekanan

intrakranial
Mahal
Menginduksi koagulopati

(dextran & helastarch)


Jika terdapat kerusakan kapiler,

dan trauma

Kerugian

Mengencerkan tekanan
osmotik koloid
Menginduksi edema
perifer

dapat berpotensi terjadi

Insidensi terjadinya
edema pulmonal lebih
tinggi
Membutuhkan volume yg

perpindahan cairan ke

interstitial
Mengencerkan faktor

pembekuan dan trombosit


Berpotensi menghambat
tubulus renalis dan sel

lebih besar
Efeknya sementara

Mempertahankan cairan

retikuloendotelial di hepar
Kemungkinan adanya reaksi
anafilaksis (dextran)

17

2.7 Terapi Cairan Nutrisi Parenteral


Terapi parenteral adalah semua upaya pemberian nutrient melalui infus. 8
Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung
melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan. 2,9 Tujuan NPE tidak
hanya untuk mencukupi kebutuhan energi basal dan pemeliharaan kerja organ,
tetapi juga menambah konsumsi nutrisi untuk kondisi tertentu, seperti keadaan
stress (sakit berat, trauma), untuk perkembangan dan pertumbuhan. Dengan
pengertian tersebut, maka terapi nutrisi parenteral dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu1 :
1. Terapi nutrisi parenteral parsial (suportif atau suplemen), diberikan bila :
Dalam waktu 5-7 hari pasien diharapkan mampu menerima
nutrisi enteral kembali.
Masih ada nutrisi enteral yang dapat diterima pasien NPE parsial

ini diberikan dengan indikasi relative.


2. Terapi nutrisi parenteral total, diberikan jika batasan jumlah

kalori

ataupun batasan waktu tidak terpenuhi. NPE total ini diberikan atas
indikasi absolut.
Cara pemberian9
1. NPT sentral
Digunakan untuk jangka panjang
Pemberian cara ini tidak dapt di toleransi oleh vena perifer
Peralat infuse adalah kateter yang panjang atau port di tanam
Kebutuhan kalori sekitar 2000 sampai 2500 kalori per hari
2. NPT perifer
Merupakan oinfus larutan isotonik dari asam amino dengan

elektrolit, vitamin dan mineral tetapi tanpa glukosa


Di indikasi kan untuk pengobatan jangka pendek untuk

mengurangi hilangnya lemak tubuh


Larutan hipertonik dapat di toleransi dengan vena perifer
Di kontra indikasikan pada pasien yang keadaan vena perifer
jelek, alergi terhadap emulsi lemak,sepsis, ketidakmampuan
untuk metabolism lemak.
18

Resiko infeksi lebih kurang


Kubutuhan kalori umumnya 1400-2000 kkal perhari
3. Nutrsi Hemat Protein
Pemberian asam amino esensial 3-5% di campur dengan
larutan bebas karbohidrat dan vitamin, mineral, dan elektrolit

melalui vena perifer.


Mengandung 400-600 kkal perhari

Gambar 2 : Pemberian Nutrisi Parenteral dengan pompa infus

19

Gambar 3 : Pemeberian Nutrisi Parenteral total dengan menggunakan


kateter vena yang dimasukkan ke dalam vena subclavia
2.7.1

Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral2,8,9


Adapun tujuan pemberian nutrisi parenteral adalah sebagai berikut3:

1. Menyediakan nutrisi bagi tubuh melalui intravena, karena tidak


memungkinkannya saluran cerna untuk melakukan proses pencernaan
makanan.
2. Total Parenteral Nutrition (TPN) digunakan pada pasien dengan luka bakar
yang berat, pancreatitis ,inflammatory bowel syndrome, inflammatory
bowel disease, ulcerative colitis, acute renal failure, hepatic failure,
cardiac disease, pembedahan dan cancer.
3. Mencegah lemak subcutan dan otot digunakan oleh tubuh untuk
melakukan katabolisme energi.
4. Mempertahankan kebutuhan nutrisi
Pemberian dari nutrisi parenteral didasarkan atas beberapa dasar fisiologis:
20

1. Apabila

di

dalam

aliran

darah

tidak

tercukupi

kebutuhan

nutrisinya,kekurangan kalori dan nitrogen dapat terjadi.


2. Apabila terjadi defisiensi nutrisi, proses glukoneogenesis akan berlangsung
dalam tubuh untuk mengubah protein menjadi karbohidrat.
3. Kebutuhan kalori kurang lebih 1500 kalori/hari, diperlukan oleh rata-rata
dewasa untuk mencegah protein dalam tubuh untuk digunakan.
4. Kebutuhan kalori menigkat terjadi pada pasien dengan penyakit
hipermetabolisme, fever,injury, membutuhkan kalori sampai dengan
10.000 kalori/hari.
5. Proses ini menyediakan kalori yang dibutuhkan dalam konsentrasi yang
langsung ke dalam system intravena yang secara cepat terdilusi menjadi
nutrisi yang tepat sesuai toleransi tubuh.
2.7.2

Indikasi Pemberian Nutrisi Parenteral


Pada terapi NPE, yang perlu ditentukan terlebih dulu ialah apakah

memang ada indikasi atau tidak. Secara umum, NPE diindikasikan pada pasien
yang mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan nutrisi untuk waktu tertentu.
Tanpa bantuan nutrisi, tubuh memenuhi kebutuhan energi basal rata-rata 25
kkal/kgBB/hari. Jika cadangan habis, kebutuhan glukosa selanjutnya dipenuhi
melalui proses glukoneogenesis, antara lain dengan lipolisis dan proteolisis 125150g/hari. Puasa lebih dari 24 jam menghabiskan glukosa darah (20g), cadangan
glikogen dihati (70g) dan otot (400g). Sedangkan cadangan energi lainnya, lemak
(12.000g) dan protein (6000g) habis dalam waktu kira-kira 60 hari.8
Keadaan-keadaan yang memerlukan NPE adalah sebagai berikut :

Pasien tidak dapat makan (obstruksi saluran pencernaan seperti striktur

atau keganasan esophagus, atau gangguan absorbs makanan)


Pasien tidak boleh makan (seperti fistula intestinal dan pankreatitis)
Pasien tidak mau makan (seperti akibat pemberian kemoterapi)
21

Meskipun terdapat ketiga hal tersebut, NPE tidak langsung diberikan pada
keadaan :

Pasien 24 jam pasca bedah yang masih dalam Ebb phase, masa
dimana hormon stres masih tinggi. Sel-sel resistensi terhadap
insulin dan kadar gula darah meningkat. Pada fase ini cukup
diberikan cairan elektrolit dan dekstrose 5%. Jika keadaan sudah
tenang yaitu demam, nyeri, renjatan dan gagal napas sudah dapat
diatasi, krisis metabolisme sudah lewat, maka NPE dapat diberikan

dengan lancar dan bermanfaat.


Pasien gagal napas (pO2 <80 dan pCO2> 50) kecuali dengan
respirator. Pada pemberian NPE penuh, metabolism karbohidrat
akan meningkatkan produksi CO2 dan berakibat memperberat

gagal napasnya.
Pasien renjatan dengan kekurangan cairan ekstraseluller.
Pasien penyakit terminal, dengan pertimbangan cost-benefit.

Banyak perubahan terjadi selama stres metabolik. Misalnya, tingkat


metabolisme meningkat (Hipermetabolisme), dimediasi oleh perubahan hormonal.
Sebuah hasil keadaan katabolik. Sebagai protein digunakan untuk energi, ekskresi
produk pecahan protein (urea nitrogen) meningkat. Sistem kekebalan tubuh
ditekan, mungkin karena pelepasan kortikosteroid selama stres
Selama stres metabolik, jumlah energi yang dibutuhkan hanya untuk
mempertahankan tubuh minimal Fungsi dapat meningkat 25% sampai 100%.
Memulai makanan enteral pada tahap awal dapat membantu memenuhi
peningkatan kebutuhan kalori dan mengurangi efek stres metabolik.
Stres metabolik meningkatkan laju metabolik (hipermetabolisme),
sehingga terjadi keadaan katabolik dimana protein digunakan untuk energi dan
sistem kekebalan tubuh ditekan
Tahapan Stres metabolik
Respon terhadap cedera parah terjadi dalam tiga fase.
22

Ebb fase: stres metabolik dimulai segera setelah cidera.

Akut fase aliran: kebutuhan energi meningkat, kadang-kadang


nyata.

Adaptive fase aliran: proses penyembuhan dimulai

Tiga fase yang dijelaskan di bawah karena mereka terjadi setelah cedera parah.
Tahapan yang sama berlangsung di negara-negara lain stres metabolik, seperti
infeksi berat, tapi waktu dan rincian reaksi mungkin berbeda.
1. The Ebb fase.
Tahap stres metabolik dimulai segera setelah cedera. Ini dapat
berlangsung dari 2-3 jam hingga 24 jam, tergantung pada jenis dan
luasnya cedera. Kedua tingkat metabolisme dan kebutuhan energi
menurun. Tekanan darah dan cardiac output (volume darah mengalir
melalui jantung) bisa turun karena kehilangan darah dari cedera. suhu
tubuh mungkin menurun.
Tujuan pengobatan utama selama fase surut adalah untuk
mencegah kegagalan organ multiple. Ini melibatkan langkah-langkah
seperti memulihkan sirkulasi darah yang memadai. Darah yang hilang
dapat diganti dengan transfusi baik cairan atau darah utuh. Makanan
enteral biasanya tidak diberikan selama fase surut, itu biasanya dimulai
setelah kondisi pasien stabil.
2. Fase aliran akut
Selama fase aliran akut, tubuh menyesuaikan dengan
cedera. Salah satu penyesuaian pertama adalah peningkatan curah
jantung dan tekanan darah, yang menstabilkan sistem peredaran
darah. Ini sangat penting ketika sejumlah besar darah telah hilang.
Endokrin sistem cepat menghasilkan hormon stres (glukagon,
katekolamin, dan glukokortikoid), meningkatkan laju metabolisme.
Tingkat darah meningkat dari stres hormon memobilisasi
sumber energi dan meningkatkan kadar glukosa yang beredar
23

dalam darah. Toko lemak dan jaringan otot yang catabolized


(dipecah), menghasilkan energi. Hingga 80% energi ini disediakan
oleh toko lemak, dan sisanya oleh jaringan otot.
Seperti jaringan otot catabolized, protein dipecah menjadi
asam amino. hatimenggunakan asam amino untuk menghasilkan
energi

dengan

proses

yang

disebut

glukoneogenesis.

(Mengkonversi mereka untuk glukosa, yang merupakan gula


darah).
3. Tahap penyembuhan.
2.7.3

Strategi Pemberian NPE9,10


Sebelum memulai NPE, tahapan yang perlu dilakukan adalah 8:

1.

Identifikasi Status Gizi


Identifikasi status gizi harus dilakukan sebelum memulai terapi NPE.
Dengan mengetahui status gizi pasien, lebih cukup atau kurang, dapat
diputuskan saat mulai dan komposisi nutrisi yang akan diberikan. Pada
pasien dengan gizi cukup, NPE baru dimulai pada hari ke tiga, setelah fase
Ebb dilewati. Bila pasien kurang, NPE bisa dimulai lebih awal yaitu 24-48

2.

jam.
Menentukan Masalah Gizi
Pada tahap ini ditentukan sifat dukungan NPE yang akan diberikan,
apakah untuk suportif (parsial) dan berapa lama, atau NPEtotal. Keputusan
ini bergantung pada kondisi pasien :
Apakah bisa menerima makanan per oral penuh, sebagian atau

3.

sama sekali tidak bisa/tidak diperbolehkan,


Berapa lama kondisi tersebut diperkirakan akan berlangsung.
Menghubungkan Tujuan Nutrisi Parenteral dengan Penyakit Primer
Keadaan-keadaan seperti status gizi, proses katabolisme dan penyakit
pasein mempengaruhi tujuan, saat mulai, dosis, jenis dan susunan nutrisi
yang akan digunakan. Pasien dengan masalah khusus (gizi kurang,
diabetes mellitus, gangguan ginjal dan hati), maka NPE dapat diberikan
lebih dini, yaitu setelah 24-48 jam. Juga jenis penyakit seperti gangguan
24

hati atau ginjal misalnya, akan menentukan pilihan jenis formula maupun
dosisyang akan dipakai. Beberapa pertimbangan NPE, pada pasien dengan
gangguan khusus, seperti tersebut dibawah8 :
Gangguan hati
Peradangan hati akut dengan sebab apapu, akan didahului stadium
preikterik yang ditandai denga rasa mual yang sangat, nafsu
makan menurun dan nyeri epigastrium, sehingga memerlukan
nutrisi parenteral. Pada saat awal dimana pasien menampakan
tanda-tanda dehidrasi, sebaliknya diberikan infus kristaloid,
selanjutnya diberikan infus dekstrose 5-10%. Bila perlu dapat
diselingi dengan cairan infus yang mengandung asam amino
esensial yang cukup.
Pada gangguan hati kronik, seperti sirosis hepatis umumnya nutrisi

parenteral baru diberikan bila disertai komplikasi.


Gangguan ginjal
Pasien gagal ginjal kehilangan air (dehidrasi) dan kekurangan
garam adalah dua kelainan yang sering ditemukan. Kelainan ini
bersifat reversible dan apabila koreksi tidak segera dilaksanakan,
akan merupakan tahap pertama dari rangkaian kelainan yang
menurunkan faal ginjal. Pada pasien gagal ginjal terdapat
gangguan ekskresi nitrogen, sehingga pengurangan masukan
protein akan memperbaiki keadaan. Yang harus diperhatikan ialah
bagaimana caranya memberikan kalori yang cukup dengan diet
rendah protein tanpa membuat pasien mengalami malnutrisi
kalori-protein.
Pemberian nutrisi parenteral yang mengandung asam amino
esensial dan glukosa pada gagal ginja akut memberikan angka

kelangsungan hiduplebih baik disbanding glukosa saja.


Diabetes Melitus
Pada orang normal, NPE biasanya diberikan pada hari ketiga.
Sedang pada pasien DM, karena pada umunya mudah jatuh dalam
keadaan hipokalorik, maka NPE pada pasien DM dimulai lebih
dini. Syarat NPE pada DM ialah setelah kadar glukosa darah
25

kurang dari 250 mg/dl. Bila kadar glukosa darah masih diatas
angka tersebut dan harus segera mulai NPE,untuk menurunkan
kadar glukosa dapat dilakukan regulasi cepat dengan insulin.
4.

Menghitung Kebutuhan Nutrien Perhari10


Cairan
Pemenuhan kebutuhan cairan dipengaruhi oleh adanya penyakit
yang mendasarinya, seperti gagal jantung, gangguan respirasi,
ginjal dan hati. Kebutuhan cairan pasien dewasa pada umunya
berkisar 1-2,2 ml/kkal atau 20-50 mL/kgBB/hari, atau rata-rata 35
ml/kgBB. Bila terdapat kehilangan cairan yang abnormal, seperti
diare atau muntah, cairan perlu ditambahkan sejumlah yang hilang
tersebut. Bila terdapat demam, cairan ditambah sebanyak 150 mL/
peningkatan 1C. dalam hal hilangnya cairan lambung, berarti juga
hilangnya

komponen

mineral/elektrolit,

maka

perlu

diperhitungkan dalam menentukan formula NPE


Kalori
Kebutuhan kalori secara sederhana dapat diperkirakan dari berat
badan. Untuk menghitung resting metabolic expenditure (RME),
rumus yang biasa digunakan ialah rumus Harris-Benedict :
Pria :
RME (kkal/hari) = 66,5+13,8xBB(kg)+5xTB(cm)6,8xUmur
Perempuan :
RME
4,7xUmur
Disamping

(kkal/hari)
kebutuhan

=
basal

655+9,6xBB(kg)+1,8xTB(cm)tersebut,

tambahan

kalori

diperhitungkan bila menghadapi stress atau aktivitas, sebagai


berikut :
o 1,2 x RME, untuk kondisi tanpa stress
o 1,5 x RME, untuk kondisi stress sedang seperti trauma dan
operasi
o 2,0 x RME, untuk kondisi stress berat seperti sepsis dan
luka bakar > 40% permukaan tubuh.

26

Dalam pemberian NPE, tambahan kalori yang diperlukan untuk


aktivitas (energy expenditure of activity/ EEA) tidak perlu lagi,
karena dalam RME kebutuhan untuk spesifik dinamik action
sudah diperhitungkan.
Untuk pemberian NPE, mengingat rumus Haris Benedict rumit,
Howard Lyng menyederhanakan perhitungan menjadi :
o 25 kkal/kgBB, untuk kondisi tanda stres
o 30 kkal/kgBB, untuk stres ringan
o 35 kkal/kgBB, untuk stress sedang
o 40 kkal/kgBB, untuk stress berat
2.7.4

Sumber Kalori
Dua sumber utama kalori adalah karbohidrat dan lemak. Tetapi bila

kebutuhan NPE hanya dipenuhi oleh karbohidrat, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, terutama bila dektrosenya bersifat hipertonis, yaitu1 :

Trombosis
Meningkatkan kebutuhan insulin
Bahaya hipoglikemia bila infus dekstrose hipertonis dihentikan

mendadak
Meningkat BMR
Meningkatkan produksi CO2

1. Karbohidrat
Beberapa jenis karbohidrat yang lazim menjadi sumber energi dengan
perbedaan jalur metabolismenya adalah : glukosa, fruktosa, sorbitol,
maltose, xylitol. Glukosa adalah karbohidrat pilihan untuk nutrisi
parenteral karean glukosa merupakan substrat paling fisiologis, secara
natural ada dalam darah, banyak persediaan, murahdapat diberikan
berbagai konsentrasi dengan nilai kalori 4 kkal/g. Tidak seperti glukosa
maka, bahwa maltosa ,fruktosa ,sarbitol dan xylitol untuk menembus
dinding sel tidak memerlukan insulin. Maltosa meskipun tidak
memerlukan insulin untuk masuk sel, tetapi proses intraselluler mutlak
masih memerlukannya sehingga maltose masih memerlukan insulin untuk
27

proses intrasel. Demikian pula pemberian fruktosa yang berlebihan akan


berakibat kurang baik.
Oleh karena itu perlu diketahui dosis aman dari masing-masing
karbohidrat :
1) Glikosa ( Dektrose ) : 6 gram / KgBB /Hari.
2) Fruktosa / Sarbitol : 3 gram / Kg BB/hari.
3) Xylitol / maltose
: 1,5 gram /KgBB /hari.
Campuran GFX ( Glukosa ,Gfruktosa, Xylitol ) yang ideal secara
metabolik adalah dengan perbandingan GEX = 4:2:1
2. Lemak
Lemak juga berfungsi sebagai sumber energy dengan nilai 9 kkal/g, lebih
tinggi nilai energinya perunit volume disbanding karbohidrat. Lemak
penting untuk intergitas dinding sel, sintesi prostaglandin dan sebagai
pelarut vitamin yang larut dalam lemak. Berbagai penelitian menunjukan
bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total
merupakan jumlah yang optimal. Untuk mencegah defisiensi asam lemak
esensial, perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kaloti
total sehari. Kecepatan infus emulsi lemak tidak melebihi 0,5 g/kgBB/jam,
sesuai dengan batas maksimal kemampuan ambilan lemak. Tiap 500 ml
diberikan dalam aktu 6-8 jam dapat diteteskan bersamaan dengan
karbohidrat dan asam amino. Sebagai sumber kalori, lemak perlu
dikombinasikan dengan kalori karbohidrat dalam perbandingan 1:1.
Misalnya 1200 kkal, diberikan 150g glukosa dan 70g lemak. Keuntungan
kombinasi ini untuk menghindarkan penyulit seperti hiperosmolaritas dan
hiperglikemia.
Preparat emulsi lemak yang beredar ada dua jenis, konsetrasi 10% ( 1 k cal
/ml ) dan 20 % ( 2 k cal / ml ) dengan osmolalityas 270 -340 m Osmol /L
sehingga dapat diberikan melalui perifer.
3. Sumber Protein
Asam amino diperlukan untuk regenerasi sel, pembentukan enzimdan
sintesis protein somatik dan visceral, hormone peptide (insulin dan
glucagon). pemberiannya harus dilindungi kalori agar asam amino
tersebuut tidak dibakar menjadi energy gluconeogenesis. Kalori yang

28

berasal dari asam amino tidak ikut diperhitungkan sebagai sumber protein
untuk kalori. Pemberian protein yang dianjurkan cukup 1-1,5 g/kgBB/hari.
4. Elektrolit
Elektrolit merupakan komponen esensial pada NPE. Kebutuhan elektrolit
pada NPE bervariasi tergantung keadaan klinik. Umumnya kebutuhan
dasar elektrolit per kgBB/hari pada dewasa adalah :
1) Natrium (Na)
1,0-2,0 mmol atau 100-200 mEq/hari
2) Kalium (K)
0,7-1 mmol atau 50-100 mEq/hari
3) Kalsium (Ca)
0,1 mmol atau 7,5-10 mEq/hari
4) Magnesium (Mg) 0,1 mmol atau 10-12 mEq/hari
5) Fosfor (P)
0,4 mmol atau 12-16 mEq/hari
Kalium merupakan elektrolitesensial untuk sintesis protein kebutuhan
K biasanya lebih banyak pada awal-awal NPE (Total), diduga karena
disimpan dalam hati dan masuk kedalam sel. Kebutuhan K meningkat
pada saat terjadi masukan glukosa.
Kalsium diperlukan pada NPE jangka lama, dimana biasanya terdapat
kehilangan Ca endogen akibat imobilisasi. Kalsium juga diperlukan lebih
banyak pada pankreatitis.
Fosfor diperlukan untuk metabolisme tulang, sintesis jaringan dan
fosforilasi ATP. Hipopospatemia dapat terjadi segera pada kemasan NPE
tanpa P. Akibat yang berbahaya ialah menurunnya kadar eritrosit yang
berakibat berkurangnya suplai O2 kejaringan, otot menjadi lemah dan
berpengaruh pada respirasi.
Magnesium penting dalam anabolisme dan pada system enzim
khususnya enzim yang berkaitan dengan aktivitas metabolik diotak dan
hati. Kenutuhan meningkat pada keadaan diare, polyuria, pankreatitis dan
keadaan hiperkatabolik. Kehilangan Mg paling banyak melalui cairan
gastrointestinal.
5. Vitamin
Vitamin diperlukan untuk penggunaan komponen-komponen nutrisi.
29

Kebutuhan vitamin yang direkomendasikan adalah :


1) Vitamin A mg (IU) 1 (3300)
2) Vitamin E ug (IU) 10 (10)
3) Asam Folat 400ug
4) Riboflavin 3,6 mg
5) Piridoksin 4 mg
6) Asam Pantoneat 15 mg
7) Vitamin D ug 5 (200) IU
8) Vitamin C 100 mg
9) Nikotinamid 40mg
10) Tiamin 3 mg
11) Sianokobalamin 5 ug
12) Biotin 60 ug
2.7.5

Menyusun Kebutuhan Nutrien dengan Kemasan Cairan yang

Tersedia
Setelah berhasil menentukan kebutuhan nutrient perhari, kita dapat
memilih kemasan infus yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Nutrisi parenteral
komersial yang dapat dipakai antara lain10 :

2.7.6

Mengandung kalori karbohidrat saja


Dekstrose 5%, Dekstrose 10%, Dekstrose 40%
Mengandung karbohidrat dan elektrolit
Triparen 1, Triparen 2, KA-EN 1B, KA-EN 3A/B
Mengandung asam amino
Aminovel 600, Aminofusin 1000, Pan Amin G
Mengandung lemak
Intralipid 10%, Intralipid 20%
Menentukan Cara Pemasangan Infus
Program nutrisi parenteral parsial untuk jangka pendek dapat diberikan

melalui vena perifer, karena sebagian besar larutnya bersifat isotonis (osmolaritas
<800mOsm/kgBB). Vena perifer dapat menerima osmolaritas cairan sampai
maksimal 900mOsm. Makin tinggi osmolaritas (makin hipertonis) makin mudah
terjadi kerusakan dinding vena perifer seperti tromboflebitis atau tromboemboli.
Sedangkan NPE total yang diprogram untuk jangka panjang, harus diberikan
30

melalui vena sentral karena larutannya bersifat hipertonis dengan osmolaritas


>900 mOsm. Melalui vena sentral, aliran darah menjadi lebih cepat sehingga tidak
sampai merusak pembuluh darah.
2.7.7

Monitoring dan Komplikasi8


Didalam melakukan terapi NPE sangat perlu untuk melakukan monitoring

laboratorium dan kemungkinan timbulnya komplikasi akibat p[emberian kalori/


energi langsung kedalam pembuluh darah.
Monitoring laboratorium yang sangat perlu dilakukan secara rutin selama
pemberian terapi NPE adalah :
a. kadar glukosa darah dan urin
b. fungsi ginjal
c. fungsi hati.
Komplikasi terapi NPE :
Komplikasi pada terapi NPE dapat ditimbulkan akibat cara atau teknik
pemberian NPE maupun akibat jumlah dan jenis cairan yang dimasukkan
langsung kedalam pembuluh darah. Komplikasi-komplikasi tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut :
Komplikasi

Sebab

Pencegahan

Pengelolaan

Hiperglikemia

DM,
menurunnya Kontrol gula darah Insulin, batasi intake
toleransi
terhadap teratur
glukosa
insulin (fase akut)

Hipoglikemia

Menghentikan terapi Terapi


NPE Glukosa 40% , iv
NPE tiba-tiba
dihentikan bertahap

Uremi prerenal

Overdosis
asam Kontrol
fungsi Kurangi dosis asam
amino, dehidrasi
ginjal teratur
amino,
atasi
dehidrasi

31

Gangguan
hati

fungsi Overdosis
glukosa

Gangguan
cairan/elektrolit

Over/dehidrasi,
hipofosfatemi

Defisiensi
trace Underdosis
element/vitamin
hiperkapni

lemak, Kontrol fungsi hati Kurangi


teratur
intralipid/dekstrosa
Kontrol
elektrolit/cairan
teratur

Perhatikan
balans
elektrolit/cairan/gluk
osa

Kontrol
kadar Tambahkan
serum, pembekuan vitamin/trace
darah
element

Produksi CO2 oleh NPE harus hati-hati Kurangi kalori dari


metabolisme sel
pada PPOM
glukosa

32