Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

ODS KATARAK KOMPLIKATA E.C DIABETIKUM


STADIUM IMATUR
ODS PRESBIOPIA
Kepanitraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tentara Tingkat II Dokter Soedjono

Pembimbing :
dr. Dwidjo Pratiknjo, SpM
dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

Disusun oleh :
YURITSA SASTI PRADITA
1610221059

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN


NASIONAL VETERAN JAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS

ODS KATARAK KOMPLIKATA E.C DIABETIKUM


STADIUM IMATUR
ODS PRESBIOPIA
Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tk.II dr. Soedjono Magelang
Oleh :
YURITSA SASTI PRADITA
1610221059
Magelang,

Oktober 2016

Telah dibimbing dan disahkan oleh,


Dokter pembimbing

dr. Dwidjo Pratiknjo, SpM

dr. Hari Trilunggono, SpM

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang
berjudul ODS Katarak Komplikata E.C Diabetikum Stadium Imatur dan ODS
Presbiopia. Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat
Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Mata.
Penyusunan laporan ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang
turut membantu terselesaikannya laporan ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.
Dwidjo Pratiknjo, Sp.M dan dr. Hari Trilunggono, Sp.M selaku pembimbing dan
seluruh teman kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata atas kerjasamanya selama
penyusunan laporan ini.
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca
guna perbaikan yang lebih baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat baik bagi
penulis sendiri, pembaca maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan.

Magelang, November 2016

Penulis

BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. B

Usia

: 75 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat

: Samban, Magelang

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status

: Menikah

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Mata kiri terasa kabur

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono dengan keluhan mata kiri
terasa kabur seperti melihat kabut yang dirasakan sejak 2 tahun yang lalu.
Keluhan dirasakan semakin lama semakin memberat. Pasien merasakan
penglihatanya lebih baik pada siang hari dari pada malam hari. Pasien juga
mengakui bahwa sekarang dapat membaca tanpa kacamata baca. Pasien
mengaku sering berganti-ganti kacamata yang dibelinya di optik karena tidak
cocok dengan kacamata yang ia pakai.
Pasien tidak pernah merasakan pusing, mual ataupun muntah dan tidak
pernah melihat pelangi disekitar lampu. Riwayat trauma mata terkena benda
tumpul maupun tajam tidak ada. Kebiasaan merokok juga disangkal.
Sebelumnya pasien mengaku sudah memakai kacamata untuk baca
sejak usia 38 tahun. Keluhan ini dirasakan pasien ketika dia sedang membaca
koran, dia tidak bisa membaca koran dalam jarak dekat dan tulisan menjadi
lebih jelas ketika koran dijauhkan. Setelah merasakan hal tersebut pasien
pergi ke dokter untuk menanyakan kondisinya dan dikatakan pasien harus
menggunakan kacamata baca. Pasien mengaku sering mengganti ukuran
kacamatanya, namun sudah beberapa tahun terakhir pasien tidak mengganti

kacamatanya. Sementara untuk saat ini pasien mengaku lebih nyaman tidak
memakai kacamata bacanya.

Riwayat Penyakit Dahulu


o Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
o Riwayat hipertensi diakui
o Riwayat diabetes mellitus diakui sudah sejak 11 tahun yang lalu
o Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu dalam waktu lama
disangkal (Kortikosteroid)

Riwayat Penyakit Keluarga


o Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien
o Riwayat keluarga menderita diabetes mellitus diakui pada ibu pasien

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga, kesan ekonomi
cukup.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Aktivitas

: Normoaktif

Kooperatif

: Kooperatif

Status gizi

: Baik

Vital Sign
TD

: 160/90 mmHg

Nadi

: 85 x.menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5C

Status Ophthalmicus
Katarak Imatur

Katarak Imatur

Oculucus Dexter

No.
1.

Pemeriksaan
Visus

Oculus Sinister

Oculus Dexter

Oculus Sinister

2/60 NC

/60 NC
Add S + 3,00 J6

Bulbus okuli

2.

Bulbus okuli

Bulbus okuli

Gerak bola mata

Enoftalmus

Eksoftalmus

Strabismus

Normal

Normal

3.

Suprasilia

4.

Palpebra Superior :

Baik ke segala arah

Palpebra SuperiInferior :

Baik ke segala arah

Palpebra Superior-Inferi

Vulnus laceratum

Edema

Hematom

Hiperemia

Entropion

Ektropion

Blefarospasme

Silia

Ptosis/
Pseudoptosis

Palpebra Inferior :

5.

6.

7.

Vulnus laceratum

Edema

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Palpebra SuperiorInferior :

Palpebra Superior-Inferior
:

Hematom

Hiperemia

Entropion

Ektropion

Blefarospasme

Silia

Ptosis/
Pseudoptosis

Konjungtiva :
- Hiperemi
- Injeksi
konjungtiva
- Injeksi siliar
- Sekret
- Laserasi
Kornea :
- Kejernihan
- Edema
- Infiltrat
- Sikatrik
- Ulkus

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Jernih
-

Jernih
-

8.

9.

10.

11.

12.

13.

COA :
- Kejernihan
- Kedalaman
- Hifema
- Hipopion
Iris :
- Kripta
- Edema
- Sinekia
Pupil :
- Bentuk
- Diameter
- Isokoris
- Reflek pupil
- Tes Midriatyl

14.

15.

TIO

Jernih
Tidak dangkal
-

Normal
-

Normal
-

Bulat
3 mm

Bulat
3 mm

+
Lambat

Lensa:
- Kejernihan
- Iris shadow
- Snow flake
Corpus Vitreum
- Kejernihan
- Floaters
- Hemoftalmus
Retina:
Fundus Refleks
Funduskopi

Jernih
Tidak dangkal
-

Isokor
+

+
Lambat

Keruh sebagian
+
+

Keruh sebagian
+
+

Tidak Jernih
-

Tidak
Jernih
-

+ Agak suram
Fokus : 0
Papil: bulat, batas
tegas, warna jingga,
papil tidak melebar
CDR(0,3)
Vasa: AVR (2:3)
Macula: Fovea reflek
(+)
Retina: Perdarahan (-)
Tidak meningkat

+ Agak suram
Fokus : 0
Papil: bulat, batas
tegas, warna jingga,
papil tidak melebar
CDR(0,3)
Vasa: AVR (2:3)
Macula: Fovea reflek
(+)
Retina: Perdarahan (-)
Tidak meningkat

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
o GDS, GDP, GD2JPP
o Profil Lipid (Trigliserida, Kolesterol, HDL, LDL)

E. DIAGNOSA BANDING
ODS Katarak Imatur
1. ODS Katarak Komplikata e.c Diabetikum Stadium Imatur
Dipertahankan, karena umur pasien 64 tahun yang merupakan faktor
resiko dari katarak serta dari anamnesis pasien menderita diabetes mellitus
dan terdapat efek diabetes mellitus pada mata yaitu pasien suak bergantiganti kacamata serta hasil pemeriksaan didapatkan COA tidak dangkal (+),
iris shadow (+), lensa keruh sebagian (+), dan fundus reflex agak suram
(+) yang menandakan pada pasien ini masih dalam tahap imatur.
2. ODS Katarak Komplikata e.c Diabetikum Stadium Insipien
Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan sebagian lensa
mengalami kekeruhan, selain itu didapatkan iris shadow (+). Sedangkan
pada pada katarak insipien iris shadow (-). Pada pasien ini juga terdapat
penurunan visus, sementara pada katarak insipien tidak terjadi penurunan
visus.
3. ODS Katarak Komplikata e.c Diabetikum Stadium Matur
Disingkirkan, karena pada pasien ini didapatkan COA tidak dangkal, iris
shadow (+), lensa keruh sebagian, fundus refleks agak suram (+),
Sedangkan pada katark matur COA dalam, iris shadow (-), lensa keruh
seluruhnya, fundus refleks (-)
4. ODS Katarak Komplikata e.c Diabetikum Stadium Hipermatur
Disingkirkan, karena dari hasil pemeriksaan didapatkan COA tidak
dangkal, Iris shadow (+), lensa keruh sebagian, fundus refleks agar suram
(+). Sedangkan pada katarak hipermatur didapatkan kekuruhan total pada
lensa dengan permukaan rata karena lensa sudah mencair, COA dalam,
pseudoshadow (+).
5. ODS Katarak Komplikata akibat obat-obatan

Disingkirkan, karena dari hasil anamnesa tidak adanya pengobatan tertentu


yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa, seperti penggunaan
kortikosteroid jangka panjang.

6. ODS Katarak Komplikata akibat penyakit mata


Disingkirkan, karena dari hasil anamnesa tidak ditemukan adanya keluhan
lain yang mengindikasikan adanya penyakit mata dan tidak adanya riwayat
penyakit pada mata.
7. ODS Katarak Traumatik
Disingkirkan karena dari hasil anamnesa tidak ditemukan riwayat adanya
trauma pada mata.
ODS Presbiopia
1. ODS Presbiopia
Dipertahankan karena usia pasien yang sudah lebih dari 40 tahun dan
sebelumnya pasien merasa lebih enak untuk membaca ketika dijauhkan.
Hal tersebut merupakan gejala dan tanda dari presbiopianya.
2. ODS Hipermetropia
Disingkirkan, karena pasien hanya kabur saat melihat dekat tapi saat
melihat jauh tidak kabur. Pada hipermetropia gejalanya adalah melihat
jauh kabur dan melihat dekat lebih kabur lagi.
F. DIAGNOSA
ODS Katarak Komplikata e.c Diabetikum Stadium Imatur
ODS Presbiopia
G. TERAPI
ODS Katarak Imatur
Medikamentosa

Topikal

Cendo Caterlent (CaCl2 anhidrat, kalium iodida,


natrium tiosulfat, fenilmerkuri nitrat) 3 x 1 ODS

Oral

Parenteral

Vitamin E 1 x 1

Tidak ada

Operatif

EKEK

Phacoemulsifikasi

SICS

Non Medikamentosa

Tidak ada

ODS Presbiopia
Medikamentosa

Topikal

Oral

Tidak ada

Parenteral

Tidak ada

Tidak ada

Operatif

Tidak ada

Non Medikamentosa

Karena saat ini pasien lebih nyaman tanpa kacamata baca,


makan tidak diperlukan pemberian kacamata

H. EDUKASI
ODS Katarak Imatur

Menjelaskan kepada pasien mengenai katarak imatur mulai dari


definisi penyakit, faktor penyebab, pengobatan, komplikasi, serta
prognosisnya.

Menjelaskan kepada pasien bahwa visusnya berkurang disebabkan


adanya kekeruhan pada lensanya

Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa kekeruhan yang dialami


akan semakin bertambah berat seiring berjalannya waktu, sehingga
penurunan penglihatan dapat terus berjalan

Menjelaskan bahwa kekeruhan pada lensanya masih tipis sehingga


tidak perlu dioperasi

Mengatakan kepada pasien untuk segera ke dokter spesialis mata jika


mata terasa cekot-cekot atau melihat seperti ada pelangi di sekitar
lampu

Menjelasakan kepada pasien bahwa setelah dioperasi penglihatan


pasien tidak akan kembali seperti semula karena adanya penyakit DM
yang diderita pasien.

ODS Presbiopia

Menjelaskan kepada pasien tentang presbiopia

Menjelaskan bahwa penuruna tajam penglihatan yang dialami salah


satunya disebabkan melemahnya otot mata karena usia tua

Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan yang terjadi dapat


diperbaiki dengan kacamata baca dan untuk saat ini penggunaan kaca
mata sudah ditanggung oleh BPJS

Menjelaskan kepada pasien bahwa setiap pertambahan usia 5 tahun,


koreksi kacamatanya akan ditambah +0,5, karena usia pasien sudah 75
tahun maka yang bisa diberikan paling tinggi adalah +3,00. Namun,
karena saat ini pasien mengalami katarak maka pasien merasa lebih
nyaman jika tidak memakai kacamata

Mengingatkan pasien untuk memperhatikan sumber pencahayaan saat


membaca, terutama pada malam hari.

I. KOMPLIKASI

Katarak Imatur
o Glaukoma sekunder sudut tertutup

Presbiopia
o Tidak ada

J. RUJUKAN
Dalam kasus ini diperlukan rujukan ke disiplin Ilmu Kedokteran lainnya yaitu
Penyakit Dalam.

K. PROGNOSIS
Oculus Dexter

Oculus Sinister

Quo ad visam

: Dubia ad malam

Dubia ad malam

Quo ad sanam

: Ad bonam

Ad bonam

Quo ad functionam

: Ad bonam

Ad bonam

Quo ad cosmetican

: Dubia ad bonam

Dubai ad bonam

Quo ad vitam

: Ad bonam

Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.
Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun
dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama (Ilyas, S.2007).
B. FAKTOR RISIKO

Faktor Individu
Faktor individu yang mempengaruhi diantaranya ras, keterunan dan usia
pasien

Faktor Lingkungan
Bahan toksik dan merokok merupakan faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi

Faktor nutrisi

Orang yang tinggal di daerah pegunungan banyak mengkonsumsi protein


hewani yang bisa menghambat katarak dengan jalan mencegah denaturasi
protein

Faktor protektif
Faktor protektif diantaranya adalah keracunan obat dan penggunaan
kortikosteroid.
Beberapa penelitian menyatakan, bahwa katarak senilis dipercepat oleh

beberapa faktor lain: penyakit diabetes mellitus, hipertensi dengan sistole naik 20
mmHg, paparan sinar ultraviolet B, indeks massa benda lebih dari 27, asap rokok
lebih dari 10 batang/hari baik perokok aktif maupun perokok pasif.
C. EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang
usia 60 tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat
kekeruhan lensa. Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 6080%. Prevalensi katarak kongenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000
kelahiran. Frekuensi katarak laki-laki dan perempuan sama besar. Di seluruh
dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan akibat katarak
D. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Kekeruhan pada lensa dapat disebabkan oleh kelainan kongenital mata,
trauma, penyakit mata, proses usia atau degenerasi lensa, kelainan sistemik seperti
diabetes melitus, riwayat penggunaan obat-obatan steroid dan lainnya. Kerusakan
oksidatif oleh paparan sinar ultraviolet, rokok dan alkohol, dapat meningkatkan
risiko terjadinya katarak. (Ilyas S, 2007).
Penyebab katarak senile sampai sekarang masih belum diketahui secara
pasti. Ada beberapa konsep penuaan yang mengarah pada proses terbentuknya
katarak senil (Ilyas S, 2007):

Jaringan embrio manusia dapat membelah 50 kali kemudian akan mati

Teori cross-link yang menjelaskan terjadinya pengikatan bersilang asam


nukleat dan molukel protein sehingga mengganggu fungsi

Imunologis, dengan bertambahnya usia menyebabkan bertambahnya cacat


imunologis sehingga mengakibatkan kerusakan sel

Teori mutasi spontan dan teori radikal bebas


Pada dasarnya, semua sinar yang masuk ke mata harus terlebih dahulu
melewati lensa. Karena itu setiap bagian lensa yang menghalangi,
membelokkan atau menyebarkan sinar bisa menyebabkan gangguan
penglihatan. Pada katarak terjadi kekeruhan pada lensa, sehingga sinar
yang masuk tidak terfokuskan pada retina, maka bayangan benda yang
dilihat akan tampak kabur (Ilyas, S, 2007)

E. GAMBARAN KLINIS
Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami
gangguan katarak. Katarak terjadi secara perlahan-lahan, sehingga penglihatan
penderita terganggu secara berangsur, karena umumnya katarak tumbuh sangat
lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. Daya penglihatan
baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun. Karena itu, pasien
katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis (Ilyas S,
2007).
Gejala umum gangguan katarak meliputi :

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek

Peka terhadap sinar atau cahaya

Dapat melihat ganda pada satu mata

Kesulitan untuk membaca

Lensa mata berubah menjadi buram

F. KLASIFIKASI KATARAK
Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan usia, letak kelainan pada lensa
maupun berdasarkan stadiumnya
a. Berdasarkan Usia
1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2. Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia > 3 bulan tetapi kurang
dari 9 tahun
3. Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun
b. Berdasarkan letak
1. Katarak nuklear
Katarak yang lokasinya terletak pada bagian tengah lensa atau nukleus.
Nukelus cenderung menjadi gelap dan keras, berubah dari jernih menjadi
kuning sampai coklat. Biasanya mulai timbul sekitar usia 60-70 tahun dan
progresivitasnya lambat. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling banyak
terjadi. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat,
bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik, sulit menyetir pada

malam hari. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna,


teruama warna biru dan ungu.
2. Katarak Kortikal
Katarak menyerang lapisan yang mengelilingi nukleus atau korteks,
biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya
lambat. Banyak penderita DM, dengan keluhan yang paling sering yaitu
penglihatan jauh dan dekat terganggu, disertai penglihatan merasa silau
3. Katarak Subkapsular Posterior
Bentuk ini terletak pada bagian belakang dari kapsul lensa. Katarak
subkapsularis posterior lebih sering pada kelompok usia lebih muda
daripada katarak kortikal dan katarak nuklear. Biasanya timbul pada usia
sekitar 40-60 tahun dan progresivitasnya cepat, bentuk ini lebih sering
menyerang orang dengan diabetes obesitas atau pemakaian steroid jangka
panjang, Katarak ini menyebabkan kesulitan membaca, silau, pandangan
kabur pada kondisi cahaya terang.

c. Berdasarkan Stadium
1. Katarak Insipien
Pada stadium ini kekeruhannya tidak teratur, taampak seperti bercakbercak yang membentuk gerigi dengan dasar perifer dan daerah jernih
diantaranya, kekeruhan biasanay terletak di korteks anterior dan posterior.
Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada
stadium ini, terdapat keluhan polipia yang disebabkan oleh indeks refraksi
yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap
untuk waktu yang lama.

2. Katarak Imatur
Terjadi kekeruhan lensa sebagian. Kekeruhannya lebih tebal tetapi belum
mengenai semua lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian lensa yang
jernih. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke
depan, mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma
sekunder.
3. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses
degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluran air bersama
hasil disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran
normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali.
4. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang
mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa.
Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak
berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi
dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong
susu dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa.
Tabel. Perbandingan Katarak Berdasarkan Stadium
Insipien

Imatur

Matur

Hipermatu
r

Kekeruhan

Ringan

Sebagian

Seluruh

Masif

Cairan lensa

Normal

Bertambah

Normal

Berkurang

(air masuk)

(air keluar)

Iris

Normal

Terdorong

Normal

Tremulans

Bilik mata depan

Normal

Dangkal

Normal

Dalam

Sudut bilik mata

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Shadow test

Pseudops

Penyulit

Glaukoma

Uveitis +
Glaukoma

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Katarak Diabetik
Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes
melitus. Katarak pada diabetus melitus dapat terjadi dalam 3 bentuk :

Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis, dan hiperglikemia nyata, pada


lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul berkerut. Bila
dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang
bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali

Pasien diabetes juvenile dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi


katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk snow flake
atau bentuk piring subkapsular

Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara


histopatologis dan biokimia sama dengan katarak pasien non-diabetik

2. Katarak Komplikata
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan
proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma,
tumor itraokular, iskemi okular, nekrosis snterior segmen, buftalmos,
akibta suatu trauma dan pasca bedah mata.
Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana kekeruhan
dimulai di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat
difus, pungtata, linier, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol.
3. Katarak Traumatik
Katarak jenis ini paling sering disebabkan oleh cedera benda asing
di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Sebagian besar katarak
traumatik dapat dicegah .

Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing, karena


lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang
corpus vitreum masuk dalam struktur lensa. Pasien mengeluh penglihatan
kabur secara mendadak. Mata menjadi merah, lensa opak dan mungkin
disertai terjadinya perdarahan intraokular. Apabila humor aqueus atau
corpus vitreum keluar dari mata, mata menjadi sangat lunak. Penyulit
adalh infeksi, ablasio retina, dan glaukoma.
H. KATARAK KOMPLIKATA
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses
degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma, tumor
itraokular, iskemi okular, nekrosis snterior segmen, buftalmos, akibta suatu
trauma dan pasca bedah mata. Katarak komplikata dapat juga disebabkan oleh
penyakit sistemik endokrin (diabetes miletus, hipoparatiroid, galaktosemia,
dan miotonia distrofi) dan keracunan obat (tiotepa intra vena, steroid lokal
lama, steroid sistemik, oral kontra septik dan miotika antikolinesterase)
Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana kekeruhan dimulai
di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus,
pungtata, linier, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol.
Katarak Diabetes
Katarak diabetik merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit
diabetes melitus. Katarak pada pasien diabetes melitus dapat terjadi dalam 3
bentuk:
1. Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada
lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut.
Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan
hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali.
2. Pasien diabetes juvenil dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak
serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau
bentuk piring subkapsular.

3. Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara


histologik dan biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetik
Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada keadaan hiperglikemia
terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa.
Pada mata terlihat meningkatkan insidens maturasi katarak yang lebih
pada pasien diabetes. Pada lensa akan terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsular
yang sebagian jernih dengan pengobatan. Diperlukan pemeriksaan tes urine dan
pengukuran darah gula puasa.
Galaktosemia pada bayi akan memperlihatkan kekeruhan anteror dan
subkapsular posterior. Bila dilakukan tes galaktosa akan terlihat meningkat di
dalam darah dan urine.
I. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. Pengobatan
yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses, tetapi tidak menghentikan
proses degeneransi lensa. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk
menghambat proses katarak adalah vitamin dosis tinggi, kalsium sistein maupun
iodin tetes.
Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi :
a. Indikasi optik : pasien mengeluh gangguan penglihatan yang mengganggu
kehidupan sehari-hari, dapat dilakukan operasi katarak
b. Indikasi Medis : kondisi katarak harus dioperasi diantaranya katarak
hipermatur, lensa yang menginduksi uveitis, dislokasi/subluksasi lensa, benda
asing intraretikuler, retinopati diabetik, ablasio retina atau patologi segmen
posterior lainnya.
c. Indikasi kosmetik : Jika kehilangan penglihatan bersifat permanen karena
kelainan retina atau saraf optik, tetapi leukokoria yang diakibatkan katarak
tidak dapat diterima pasien, operasi dapat dilakukan meskipun tidak dapat
mengembalikan penglihatan.
Pembedahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu:
a. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsular)

Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.


Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya

dengan cryophake dan

depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan
dislokasi. Pada EKIK tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan
tindakan pembedahan yang sangat lama populer. Penyulit yang dapat terjadi
pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan
perdarahan.

b. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular)


Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi
lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa
lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini
dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel,
implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa
intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan
prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah
mengalami prolap badan kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina, mata
dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit
pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit
yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak
sekunder.
c. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi adalah teknik untuk membongkar dan memindahkan kristal
lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di
kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak,
selanjutnya mesin phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur
sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan
melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan,
akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat

kembali melakukan aktivitas sehari-hari.Tehnik ini bermanfaat pada katarak


kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis.
d. SICS (Small Incision Cataract Surgery)
Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm.
Namun tetap dikatakan SICS sejak design arsiteknya tanpa jahitan, Penutupan
luka insisi terjadi dengan sendirinya (self-sealing). Teknik operasi ini dapat
dilakukan pada stadium katarak immature, mature, dan hypermature. Teknik
ini juga telah dilakukan pada kasus glaukoma fakolitik dan dapat
dikombinasikan dengan operasi trabekulektomi.

J. KOMPLIKASI OPERATIF
Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif,
postoperatif awal, postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa
intra okular (intra ocular lens, IOL).
1. Komplikasi preoperatif
a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat
ketakutan akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat
memperbaiki keadaan.
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid
dan/atau gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida
oral untuk mengurangi gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep
antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2
hari.
2. Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.

b) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau


selama insisi ke bilik mata depan.
c) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat
terjadi akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
d) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
e) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi
akibat ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.
3. Komplikasi postoperatif awal
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema,
prolaps iris, keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis
bakterial.
4. Komplikasi postoperatif lanjut
Cystoid

Macular

Edema

(CME),

delayed

chronic

postoperative

endophtalmitis, Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan


katarak sekunder merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa
waktu post operasi.
5. Komplikasi yang berkaitan dengan IOL
Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucomahyphema syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa
toksik (toxic lens syndrome).

PRESBIOPIA
A. DEFINISI
Semakin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan
semakin meningkatnya umur. Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa
gangguan perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. Terjadi
kekeruhan lensa seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kemampuan
lensa untuk memfokuskan bayangan saat saat melihat dekat. hal tersebut
menyebabkan pandangan kabur sat melihat dekat.
B. ETIOLOGI
Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya
berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya
berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna.
Pada keadaan ini maka diperlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk
melihat jauh dan dekat.
C. PATOFISIOLOGI

Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi


mata karena adanya perubahan keseimbanagn antara elastisitas matriks lensa
dan kapsul sehingga menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka
lensa menjadi lebih keras dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi
cembung, dengan demikian kemampuan melihat dekat semakin berkurang.
D. GEJALA KLINIS

Memegang bacaan lebih jauh di banding orang normal saat membaca


dekat untuk mencapai titik dekatnya dengan demikian objek dapat
dibaca.

Kesulitan membaca huruf - huruf kecil saat membaca dekat akibat


daya akomodasi yang berkurang, maka titik dekat mata makin
menjauh.

Melepaskan kacamata minus pada myopia ketika membaca dekat

Mata lelah setelah membaca dekat terlalu lama akibat gangguan


akomodasi

Sakit kepala setelah melakukan pekerjaan yang memerlukan


penglihatan dekat

Kesulitan membaca dekat pada cahaya redup atau kurang terang

E. PEMERIKSAAN
1. Alat :
a) Kartus snellen
b) Kartu Jagger
c) Sebuah set lensa coba
d) Bingkai percobaan
2. Teknik:
Adisi ditentukan beradasarakan umur penderita :
1. S + 1,00 D untuk usia 40 tahun
2. S + 1,50 D untuk usia 45 tahun
3. S + 2,00 D untuk usia 50 tahun
4. S + 2,50 D untuk usia 55 tahun

5. S + 3,00 D untuk usia 60 tahun


Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi S+3,00 D adalah lensa
positif terkuat yang dapat diberikan kepada seseorang. Pada keadaan ini
mata tidak melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm.
F. TATALAKSANA
Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman umur yaitu
umur 40 tahun (umur rata-rata) diberikan tambaha sferis + 1,00 dan setiap 5
tahun diatasnya ditambahkan lagi sferis + 0,50
Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat diberikan dalam berbagai cara :
1. Kacamata baca untuk melihat dekat saja
2. Kacamata bifokal untuk sekaligus mengoreksi kelainan yang lain
3. Kacamata trifokus mengoreksi penglihatan jauh di segmen atas,
penglihatan sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen
bawah
4. Kacamata progressive mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh,
tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif dan bukan
bertingkat.