Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Anatomi dan Fisiologi Ginjal

Masing-masing ginjal mempuyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm


pada bagian paling tebal. Ginjal terletak di bagian belakang abdomen. Ginjal
kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar di sisi kanan.

Ginjal berbentuk seperti biji kacang dan permukaan medialnya yang


cekung disebut hilus renal yaitu tempat masuk dan keluarnya saluran seperti
pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf dan ureter.

Bila ginjal dibelah dua, secara longitudinal (memanjang) dapat terlihat tiga
bagian penting, yaitu korteks, medula dan pelvis renis. Bagian yang paling
superfisial adalah korteks renal yang tempak bergranula. Sebelah dalamnya
terdapat bagian lebih gelap yaitu medula ranal yang terdiri dari bangunan-
bangunan berbentuk kerucut yang disebut renal piramid, dengan dasarnya
menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papula renis,
mengarah kebagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks yang
disebut lobus ginjal.

Diantara piramid terdapat jaringan korteks yang disebut kolumna renal.


Ginjal terdiri atas satuan-satuan fungsionalnya yang disebut nefron yang
berjumlah lebih dari 1 juta setiap ginjalnya.

- Nefron adalah tempat pembentukan urine awal. Setiap nefron terdiri dari
komponen vaskuler dan tuberkuler. Komponen vaskuler terdiri atas
pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerulus dan kapiler pestibular, yang
mengitari tubuli. Komponen tubular berwal dengan kapsula bowmen
(glomerular) dan mencakup tubuli kontortus proksimal, ansa henle dan
tubuli kontortus distal. Dari tubuli distal, isinya disalurkan ke dalam duktus
koligens (saluran penampung atau pengumpul).
- Kapsula bowmen (Glomerular)

Terdiri dari lapisan parietal (luar) dan lapis viseral (langsung membungkus
kapiler glomerulus). Sel-sel parietal itu gepeng, namun sel-sel lapis viseral
besar-besar, dengan banyak juluran mirip jari-jari disebut sek berkaki
(podosit). Juluran-juluran mirip jari-jari ini disebut pedikel-pedikel dan
memeluk kapiler secara teratur, sehingga celah-celah diantara pedikel itu
sangat teratur dan merupakan yang disebut celah-celah pori filtrasi kapsul
bowen bersama glomerulus disebut korpus renal.

Ginjal mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

1. Fungsi ginjal dalam pengaturan tekanan darah

Pengaturan tekanan darah oleh ginjal dikendalikan oleh sistem renin-


angiotansin aldosteron (ADH). Renin adalah hormon yang dikeluarkan oleh
juxtaglomerular apparatus (yang berhubungan dengan glomerulus)
sebagai respon terhadap berkurangnya sodium, atau terhadap stimulasi
saraf ginjal melalui jalur simpati. Angiotensin yang dihasilkan oleh hati
diktifkan oleh angiotensin I pada waktu terdapatnya renin. Enzim pada
paru-paru mengubah angiotensin I menjadi bahan aktif, angiotensin II.
Angiotensin II merupakan vasokontriksi yang sangat kuat yang juga
merangsang dikeluarkannya aldesteron oleh kelenjar adrenal. Aldosteron
meningkatkan reabsorbsi sodium oleh ginjal, air mengikuti sodium,
berdampak peningkatan volume darah.

GRF yang terendah terlihat pada penyakit ginjal (seperti


glomerulonefritis, nephropatic, syndrome, penyakit polycitic, trauma renal,
kegagalan ginjal) biasanya dapat menyebabkan hipotensi akibatnya dapat
menghasilkan sistem renin-angiotensin-aldosteron.

2. Fungsi ginjal dalam pengaturan cairan dan elektrolit

Ginjal mempunyai fungsi pengendalian cairan elektrolit yaitu


mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang tepat dalam
batas ekresi yang normal, dalam batas sekresi dan reabsorbsi.

Jika bukan adanya sistem konservasi dari ginjal, orang yang akan
kehabisan cairan dan garam dalam waktu 3-4 menit tubulus yang
berbelok-belok proksimal mengabsorbsi 85-90 % air pada ultra filter. 80 %
dari sodium yang telah difilter dan terbanyak potasium yang telah difilter,
bikarbonat, klorida, fosfat, glukosa dan protein.
Mekanisme tambahan pada ginjal memungkinkan urine menjadi
lebih pekat, sampai 1 % dibanding volume yang setiap harinya difilter.
Ginjal dapat mengatur jumlah cairan yang diekresikan dengan tepat
sehingga intake dibawah yang diperlukan untuk keseimbangan cairan
normal melalui peningkatan konsentrasi urine.

Mekanisme yang berperan untuk peningkatan konsentrasi urine dan


ketepatan mengekresikan volume urine yang tepat terdapat pada tubulus
henle mencapai bagian medula dari ginjal yang tinggi hipertonisnya dalam
perbandingan dengan filtrasi. Pada bagian tubulus henle yang asenden
sodiuem direabsorbsi ke interstitium, tapi tubulus tidak permiabele untuk
penggeseran air baik masuk atau keluar dari tubulus. Regulasi komposisi
elektrolit tubuh yang tepat terjadi pada segmen tubulus distal, tergantung
pada konsentrai elektrolit yang tersedia untuk sel-sel tubulus pada urine
promotif dan konsentrasi bahan-bahan itu pada interstitium, sel-sel
tubulus mengekresikan atau terus mereabsorbsi elektrolit ke urine.

3. Fungsi ginjal dalam pengaturan asam basa.

Ginjal turut mengatur asam basa bersama dengan sistem dapar


paru dan cairan tubuh dengan mengekresikan asam dan mengatur
penyimpanan dapar cairan tubuh. Ginjal merupakan satu-satunya organ
untuk membuang tipe-tipe asam tertentu dari tubuh yang dihasilkan oleh
metabolisme protein, seperti asam sulfat dan fosfat. Pengaturan
keseimbangan asam basa dihasilkan oleh ginjal melalui regenerasi atau
ekresi ion bikarbonat pada tubulus proksimal. Pada keadaan asidosis baik
karena metabolik (bila fungsi ginjal tidak terganggu) atau respiratori gnjal
mengekresi ion hidrogen dan mengkonservasi ion-ion bikarbonat. Pada
waktu alkalosis terjadi efek yang sebaliknya yaitu konservasi ion-ion
hidrogen.

Ginjal mengatur konsentrasi ion hidrogen terutama dengan


meningkatkan atau menurunkan konsentrasi ion bikarbonat di dalam
cairan tubuh.

- Sekresi ion hidrogen oleh tubulus


Sel epitel tubulus proksimal, tubulus distal, ubulus kongens, semuanya
mengekresi ion hidrogen ke dalam cairan tubulus. Proses sekresi mulai
dari karbondioksida di dalam sel epitel tubulus dibawah pengaruh
suatu enzim (karbonat ahidrase) bergabung dengan air untuk
membentuk asam karbonat dan kemudian berdisosiasi menjadi ion
bikarbonat dn ion hidrogen. Kemudian ion hidrogen disekresikan
dengan transpor aktif melalui batas lumen membran sel ke dalam
tubulus. Di dalam kongens sekresi ion hidrogen dapat terus
berlangsung sampai konsentrai ion hidrogen di dalam tubulus menjadi
900 kali di dalam cairan ekstra sel atau dengan kata lain sampai ph
cairan tubulus turun menjadi kira-kira 4,5 yang menunjukkan batas
kemampuan epitel tubulus untuk mengekresikan ion hidrogen.

- Pengaturan sekresi ion hidrogen oleh konsentrasi karbondioksida


dalam cairan ekstra sel

Reaksi kimia untuk sekresi ion hidrogen dimulai dengan karbondioksida


oleh karena itu faktor apapun yang meningkatkn konsentrasi
karbondioksida dalam cairan ekstra sel, juga meningkatkan sekresi ion
hidrogen. Pada konsentrasi normal kecepatan kecepatan sekresi ion
hidrogen adalah kira-kira 3,5 milimol/menit.

- Interaksi ion bikarbonat dengan ion hidrogen dalam tubulus


“reabsorbsi” ion bikarbonat.

Kecepatan normal filtrasi ion bikarbonat dan sekresi ion hidrogen ke


dalam tubulus filtras ion bikarbonat terhadap ion hidrogen.

4. Fungsi ginjal dalam pembentukan sel darah merah

Produksi atau eritrosit dikendalikan oleh ginjal. Eritroprotoen adalah


hormon yang dikeluarkan oleh ginjal. Eritroprotoen merangsang sum-sum
tulang untuk menghasilkan sel darah merah.
Dari percobaan-percobaan diduga bahwa eritroprotoen ini mungkin
dibantu oleh sel-sel juxtaglomelar, sel-sel yang terletak di dalam dinding
pembuluh-pembuluh arterial dekat dengan glomerulus.

Fungsi lain dari ginjal adalah sebagai filtrasi, reabsorbsi/absorbsi, sekresi dan
ekresi seperti dalam pembentukan urine ginjal berperan penting.

B. Pengertian

Merupakan suatu penyakit yang salah satu gejalanya adalah pembentukan


batu di dalam ginjal

a. Batu ginjal adalah bentuk defosit mineral paling umum oksalat Ca 2+ dan
fosfat Ca 2+ namun asam urat dan kristal lain juga pembenuk batu.
Meskipun kulkulus ginjal dapat terbentuk dimana saja dari saluran
perkemihan, batu ini paling umum ditemukan pada pelvis dan kolik ginjal
(Doengoes, 1999: 686).
b. Batu ginjal adalah gangguan yang terjadi dengan gejala penggumpalan
batu ginjal karena terjadi stagnasi urine. Biasanya terjadi pada orang yang
kurang minum sehingga terjadi penggumpalan serta kristalisasi zat-zat
yang seharusnya dibuang dari ginjal keluar tubuh (Selamiharja, Nanny,
1998).
c. Batu ginjal adalah terdapatnya batu dalam sistem pelvis dan kalises ginjal,
biasanya kalsium, yang dapat pula terjadi dalam jaringan ginjal atau
nefrokalsinosis (Ovedoff, David, 2002: 993).
d. Batu ginjal adalah masa keras seperti batu yang terbentuk pada ginjal dan
biasanya menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih tau
infeksi (Maupathi, David, 2000).

C. Etiologi

Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan


gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi,
dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara
epidemiologik terdapat beberapa faktor yang mempermudah terbentuknya
batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor
intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor
ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya

Faktor intrinsik antara lain :

1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.


2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan

Faktor ekstrinsik diantaranya adalah :

1. Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu


saluran kemih yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal
sebagai daerah stonebelt.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium
pada air yang dikonsumsi.
4. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
batu.
5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya
banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.(3)

D. Patofisiologi

Terbentuknya batu biasanya terjadi air kemih jenuh dengan garam-garam


yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat
pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium
sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral
struvit.

Terdapat beberapa teori tentang pembentukan batu pada ginjal, yaitu:

a. Teori inti matrik


Terbentuknya batu ginjal, batu seperti pada saluran kemih atau ginjal
memerlukan substansi organik sebagai inti pebentukan. Matrik organik
berasal dari serum dan protein urine yang memberikan kemungkinan
pengendapan kristal sehingga akan menjadi pembentukan inti.

b. Teori saturasi

Teori ini berkaitan dengan terjadinya kejenuhan substansi bembentukan


batu di ginjal, dalam urine seperti sistin, vantin, asam urat, kalsium
oksalat akan mengakibatkan pembentukan batu.

c. Teori presipitasi- kristal

Terjadinya perubahan pH urine mempengaruhi substansi dalam urine.


Pada urine yang bersifatasam akan mengendap asam urat, garam urat,
sistin dan santin. Sedangkan urine yang bersifat basa akan
mengendapkan garam-garam fosfat. Pengendapan ini baik urine yang
bersifat asam maupun basa akan menjadi inti pembentukan batu.

d. Teori berkurangnya faktor penghambat seperti peptisida fosfat, pirofosfat,


sistrat, magnesium akan mempermudah terbentuknya batu pada ginjal

PATOFISOLOGI

Faktor Predisposisi

Endapan zat2 tertentu di traktus urinarius

Stasis urine

Peningkatan tekanan hidrostatik


Distensi piala ginjal dan ureter proximal

Iritasi dan Abrasi organ sekitar (ginjal)

 Nyeri (kolik renal atau kolik ureteral)


 Infeksi (pielonefritis, cystitis) yg ditandai
dg

menggigil, demam dan dysuria

 Kerusakan nefron ginjal


 Retensi urine, hematuria

Berlanjut

Batu dapat dikeluarkan melalui urine

(diameter 0,5 – 1 cm), bila tidak

Sepsis

Kerusakan ginjal lebih lanjut

KEMATIAN

E. Manifestasi Klinis

Batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat.
Umumnya gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda
yang dapat ditemukan pada penderita batu ginjal antara lain :
1. Tidak ada gejala atau tanda
2. Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral
3. Hematuria makroskopik atau mikroskopik
4. Pielonefritis dan/atau sistitis
5. Pernah mengeluarkan baru kecil ketika kencing
6. Nyeri tekan kostovertebral
7. Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan
8. Gangguan faal ginjal.

Efek Batu Pada Saluran Kemih :

Ukuran dan letak batu biasanya menentukan perubahan patologis yang


terjadi pada traktus urinarius :

a. Pada ginjal yang terkena


- Obstruksi
- Infeksi
- Epitel pelvis dan calis ginja menjadi tipis dan rapuh.
- Iskemia parenkim.
- Metaplasia
b. Pada ginjal yang berlawanan
- Compensatory hypertrophy
- Dapat menjadi bilateral

F. Komplikasi

Beberapa komplikasi dari nekrolitiasis (Selamiharja, Nanny, 1998).

a. Retensi urine
b. Hidroureter
c. Hidronefrosis
d. Abses ginjal
e. Pleonefrosis
f. Urosepsis
g. Gagal ginjal
h. Sumbatan : akibat pecahan batu
i. Infeksi : akibat diseminasi partikel batu ginjal bakteri akibat obstruksi
j. Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbangan yang lama sebelum
pegobatan dan pengangkatan batu ginjal

G. Penatalaksanaan

TUJUAN

a. Menghilangkan batu
b. Menentukan jenis batu
c. Mencegah kerusakan nefron
d. Mengendalikan infeksi
e. Mengurangi infeksi

TINDAKAN

a. Pengurangan nyeri
b. Analisa batu
c. Terapi nutrisi dan medikasi
d. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
e. Pengangkatan Batu

1. Terapi medis dan simtomatik

Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan


batu. Terapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain
itu dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian
diuretik.

2. Litotripsi

Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi


perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di
ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan
yang paling sering dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal
Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal
dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.

3. Tindakan bedah

Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat


gelombang kejut, atau bila cara non-bedah tidak berhasil.

H. Pencegahan

Cara penanggulangan batu ginjal dan kemih bervariasi. Yang utama dicari
kasusnya, letak dan ukuran batunya. Kemudian baru ditentukan diatasi
dengan cara yang mana yang paling tepat atau kombinasi berbagai cara.
Kalau letak batu sulit dijangkau atau terlalu besar, jalan satu-satunya dengan
pembedahan. Kalau ginjal yang ditumbuhi batu mulai rusak, harus diangkat,
agar ginjal yang masih sehat tidak ikut rusak.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya batu
ginjal (Selamiharja, Nanny, 1998) yaitu:

a. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan mengurangi


pembentukan batu yang baru.
b. Dianjurkan untuk banyak minum air putih (8-10 gelas per hari)
c. Diet rendah kalsium seperti ikan salam, sarden, keju, sayur kol. Makin
tinggi kalsium, kian tinggi pula eskresinya yang menambah pembentukan
kristalisasi garam-garam kapur.
d. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentuk batu
kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalsium sitrat.
e. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya
batu kalsium, merupakan akibat mengkonsumsi makanan yang kaya
oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh
arena itu asupan makanan tersebut dikurangi.
f. Pengobatan penyakit yang dapat menimbulkan batu ginjal seperti
hyperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus
renalis atau kanker.
g. Dianjurkan mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, jeroan karena
makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam
air kemih.
h. Untuk mengurangi pembentukan asam urat biasa diberikan allopurinol.
i. Kurangi minuman bersoda dan es teh karena mengandung asam osfalat
yang akan meningkatkan pembentukan batu dalam ginjal.
j. Mulailah berolahraga dan kurangi berat badan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BATU GINJAL

1. Pengkajian

a. Anamnesis

Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus


dikejar mengenai onset kejadian, karakteristik nyeri, penyebaran nyeri,
aktivitas yang dapat membuat bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya
nyeri, riwayat muntah, gross hematuria, dan riwayat nyeri yang sama
sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu sebelumnya sering
mempunyai tipe nyeri yang sama.

b. Pemeriksaan Fisik

- Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi,


berkeringat, dan nausea.
- Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi
berat atau dengan hidronefrosis.
- Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal
ginjal dan retensi urin.
- Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada
pasien dengan urosepsis
c. Keluhan nyeri dan ketidaknyaman (intensitas, lokasi, sifat, dan frekuensi)
d. Keluhan gangguan abdomen (mual, muntah, diare, dan distensi abdomen)
e. Tanda2 UTI : menggigil, demam, dysuria, sering berkemih, hesistancy
f. Tanda2 Obstruksi : dysuria, polyuria jumlah sedikit, oliguria atau anuria
g. Observasi konsistensi urine 24 jam : endapan batu, darah (hematuria)
h. Riwayat penyakit dahulu (infeksi), pengobatan, riwayat dehidrasi,
immobilisasi
i. Riwayat Kesehatan Keluarga
j. Pola Nutrisi (intake makanan)
k. Pemeriksaan penunjang
- Radiologi

Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak


ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat
diduga batu dari jenis apa yang ditemukan. Radiolusen umumnya
adalah jenis batu asam urat murni.

Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup


untuk menduga adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada
keadaan tertentu terkadang batu terletak di depan bayangan tulang,
sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos
sering perlu ditambah foto pielografi intravena (PIV/IVP). Pada batu
radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan defek
pengisian (filling defect) di tempat batu berada. Yang menyulitkan
adalah bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga
kontras ini tidak muncul. Dalam hal ini perludilakukan pielografi
retrograde

- Ultrasonografi (USG)

Dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu


pada keadaan-keadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal
(3)
yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil . Pemeriksaan
USG dapat untuk melihat semua jenis batu, selain itu dapat ditentukan
ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai unutk
menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah
tertinggalnya batu

- Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih


yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan
fungsi ginjal, dan menentukan penyebab batu.

Menurut Nasution , Yusum (2001, 299) pemeriksaan yang diperlukan


adalah

a. Pemeriksaan urin

Guna mengetahui komponen-komponen yang ada di dalamnya.

b. Pemeriksaan darah lengkap

Dibutuhkan untuk mengetahui kadar darah terutama kandungan


ureum dan kreatinin darah yang berperan dalam menunjukan adanya
gangguan pada ginjal atau tidak.

c. Pemeriksaan BNO- IVP

Untuk mengetahui komponen-komponen didalamnya ginjal dan


kandung kemih.
d. Pemeriksaan radiologi (USG, CT-Scan, MRI)

Dengan pemeriksaan radiologi ini, dapat teridentifikasi batu-batu yang


kecil yang sulit ditemukan dengan cara konvensional.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri b.d. inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius


b. Gangguan pola berkemih (BAK) : spesifik b.d. terbentuknya batu di……
(spesifik)
c. Resiko kurang volume cairan b.d. ketidakadekuatan intake cairan
(mual/muntah) efek iritasi syaraf abdominal/pelvic karena batu
ginjal/ureter
d. Kurang pengetahuan ttg kondisi, prognosa penyakit, program pengobatan
dan pencegahan kekambuhan batu renal
e. Resiko komplikasi : infeksi, sepsis, gga, dll b.d. proses abrasi/iritasi
sekunder pembentukan batu di ……. (spesifik)

3. Intervensi Keperawatan

PRE OPERATIF

a. Nyeri b.d. inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius

DS:
- Klien mengatakan nyeri di daerah perut bagian bawah tembus ke
belakang

DO :

- Klien tampak meringis


- Nyeri tekan pada perut bagian bawah (daerah sympisis)
- Klien tampak mengelus-elus daerah perut bagian bawah

Tujuan: Nyeri berkurang/teratasi


Criteria hasil:

- Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang.


- Ekspresi wajah tampak rileks
- Klien dapat mengontrol nyeri dengan melakukan teknik napas dalam.

Intervensi :

PENGURANGAN NYERI / KETIDAK- NYAMANAN

- Kaji karakteristik dan skala nyeri


- Beri pendampingan dan posisi nyaman
- Kaji TTV
- Cegah injury saat nyeri (kolik) timbul, spt aktivitas dapat mengurangi
nyeri, bantu saat ambulasi
- Ajarkan/anjurkan tehnik relaksasi, distraksi
- Kolaborasi pemberian analgetik

b. Gangguan pola berkemih (BAK) : spesifik b.d. terbentuknya batu di……


(spesifik)

DS :

- Klien mengatakan merasa susah BAK, BAK tidak lancar, sering BAK
terputus-putus
- Klien sering merasa ingin BAK tapi tidak bisa keluar

DO :

- Hematuria
- Retensi urine
- Distensi pada abdomen bagian bawah (daerah sympisis)

Tujuan : Gangguan eliminasi urine, retensi urine berkurang/teratasi

Criteria hasil :
- Klien dapat BAK spontan
- Produksi urine kembali normal 30- 50 cc /jam
- Kandung kemih kosong saat di palpasi

Intervensi :

POLA BERKEMIH KEMBALI NORMAL

- Monitor I – O adekuat
- Monitor karakteristik, frekuensi & jumlah urine dlm 24 jam
- Anjurkan intake cairan adekuat (bila tdk ada kontraindikasi)
- Kolaborasi px penunjang dan persiapan pasien utk tindakan medis

c. Resiko kurang volume cairan b.d. ketidakadekuatan intake cairan


(mual/muntah) efek iritasi syaraf abdominal/pelvic karena batu
ginjal/ureter

Tujuan : intake dan output cairan seimbang.

Criteria hasil :

- Tidak mual, muntah.


- Berat badan normal

Intervensi :

PENCEGAHAN KURANG VOLUME CAIRAN

- Monitor I – O adekuat
- Kaji keluhan mual, muntah, observasi karakteristik muntah
- Observasi dan anjurkan keadekuatan intake cairan dalam batas
toleransi jantung dan ginjal, k/p timbang BB
- Kolaborasi pemberian cairan infus, pemeriksaan lab, antiemetik
d. Kurang pengetahuan ttg kondisi, prognosa penyakit, program pengobatan
dan pencegahan kekambuhan batu renal

DS :

- Klien mengatakan tidak tahu tentang penyebab penyakitnya

DO :

- Klien bertanya tentang dan kondisi penyakitnya.

Tujuan : Klien menunjukkan perubahan pengetahuan

Kriteria hasil :

- Klien tahu tentang penyakitnya dan tujuan tindakan/pengobatan


- Klien dan keluarga berpartisipasi dalam pengobatan dan perawatan

Intervensi :

MENINGKATKAN PENGETAHUAN PASIEN DAN KELUARGA

- Kaji tingkat pengetahuan & latar belakang pendidikan pasien dan


keluarga
- Beri pend kesehatan utk pencegahan kekambuhan batu renal, spt :
- Patuhi program diet
- Pertahankan intake cairan 3 – 4 l/hr, khususnya ap dlm jumlah cukup
pd sore hari utk mencegah urine pekat pd malam hari
- Hindari kondisi dehidrasi (aktivitas >>, berjemur)
- Hindari menahan BAK
- Lapor bila timbul tanda2 infeksi
- Kolaborasi medik utk pemberian IC adekuat
- Beri reinforcement atas respon positif pasien dan keluarga
e. Resiko komplikasi : infeksi, sepsis, gga, dll b.d. proses abrasi/iritasi
sekunder pembentukan batu di ……. (spesifik)

Tujuan : tidak terjadi infeksi atau sepsis

Criteria hasil :

- Tidak ada edema


- Tidak ada infeksi atau sepsis

Intervensi :

PENCEGAHAN KOMPLIKASI

- Kaji tanda2 awal terjadinya infeksi atau sepsis (menggigil, demam,


dsb)
- Kaji tanda2 terjadinya GGA (karakteristik dan jumlah urine / 24 jam,
edema, px.penunjang, dsb)

POST OPERASI

a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya/rusaknya kontinuitas jaringan

DS :

- Klien mengatakan nyeri pada daerah bekas operasi

DO :

- Klien tampak gelisah


- Ekspresi wajah klien tampak meringis
- Klien tampak berhati-hati dengan daerah bekas operasi
- TTV dalam keadaan abnormal

Tujuan : Nyeri hilang/berkurang dalam jangka waktu 3 hari perawatan

Criteria hasil :
- Nyeri berkurang/hilang
- Klien tampak rileks
- Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi :

1. Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10).


2. Observasi tanda-tanda vital
3. Berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi.
4. Ajarkan teknik latihan napas dalam, pedoman imajinasi.
5. Penatalaksanaan analgetik sesuai indikasi.

b. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pengobatan


dan perawatan selanjutnya.

DS :

- Klien mengatakan merasa cemas dengan kondisi/keadaan


penyakitnya.

DO :

- Klien tampak gelisah, cemas


- Ekspresi wajah nampak tegang
- Tanda-tanda vital dalam keadaan abnormal

Tujuan : Ansietas teratasi dalam jangka waktu 3 hari perawatan.

Kriteria Hasil :

- Cemas berkurang/hilang
- Klien nampak tenang

Intervensi :
1. Buat hubungan saling percaya dengan klien/orang terdekat.
2. Berikan informasi tentang penyakitnya dan teknik pengobatannya.
3. Bantu pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah/perasaan.
4. Beri penguatan informasi klien yang telah diberikan sebelumnya.

c. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan insisi bedah/ adanya


luka operasi dan prosedur invasive.

DS : -

DO :

- Nampak adanya luka operasi dibalut perban.


- Terpasang infuse
- Terpasang kateter
- Terpasang drain

Tujuan : Infeksi tidak terjadi dan mencapai waktu penyembuhan

Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi

Intervensi :

1. Awasi tanda-tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi


dan pernafasan cepat, gelisah.
2. Observasi daerah luka operasi.
3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik aseptik dan
septic.
4. Ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit
sepanjang masa penyembuhan.
5. Kolaborasikan pemberian antibiotik sesuai indikasi

4. Evaluasi
a. Nyeri teratasi
b. Pola berkemih (BAK) normal
c. Volume cairan adekuat (tidak terjadi dehidrasi)
d. Pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
e. Tidak terjadi komplikasi

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidrajat R, 1 W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran – EGC. 2004. 756-763.

Webmaster. Batu Saluran Kemih. Diunduh dari :


http://www.medicastore.com. Last update : Januari 2008.

Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Edisi Ke-2. Jakarta : Perpustakaan


Nasional republik Indonesia. 2003. 62-65.

Webmaster. Renal Calculus. Diunduh dari : http://www.icm.tn.gov.in. Last


update : November 2007.

Tanagho EA, McAninch JW. Smith’s General Urology. Edisi ke-16. New
York : Lange Medical Book. 2004. 256-283.

http://andaners.wordpress.com/askep-lengkap