Anda di halaman 1dari 23

Laboratorium Mekanika Tanah

Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik


Universitas Indonesia
Anggota Kelompok

: 1. Masrul Wisma Wijaya (1406533296)


2. Noor Syiffa Fadhillah (1406533112)
3. Annysha Dina Pratiwi (1406533195)

Kelompok

: R7

Hari/Tanggal Praktikum

: Sabtu, 1 Oktober 2016

Judul Praktikum

: Triaxial UU (Unconsolidated Undrained) Test

Nama Asisten

: Briman Sitorus

Nilai

Paraf

I.

STANDAR ACUAN
ASTM D 2850 Standard Test Method for Unconsolidated-Undrained Triaxial
Compression Test on Cohesive Soils
SNI 03-4813-1998 Rev. 2004 Cara uji triaksial untuk tanah kohesif dalam keadaan
tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase (UU)

II.

MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN


Untuk mengetahui parameter kuat geser tak terdrainasi suatu tanah (undrained
shear strength), yaitu berupa sudut geser tanah () dan nilai kohesi (c).
ALAT-ALAT DAN BAHAN
Alat
o Unit mesin Triaxial Test
o Alat untuk memasang membran karet pada tanah uji
o Membran karet untuk membungkus tanah uji
o Cetakan contoh tanah uji
o Jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm
o Extruder besar dan kecil
o Spatula
o Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
o Can
o Oven
o Air
Bahan
o Sampel tanah undisturbed (sampel tanah tak terganggu)

III.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
IV.

TEORI DAN RUMUS YANG DIGUNAKAN


Salah satu tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan parameter kuat geser
tanah. Parameter ini didefinisikan dengan persamaan umum Coulomb:

Dimana:
= kuat geser (kPa, ksf, psi, dll)
c = kohesi tanah atau adhesi antarpartikel (kPa, ksf, dll)
n = tegangan normal (kPa, ksf, dll)
= sudut geser dalam ()
Persamaan 10.1 merupakan parameter kuat geser pada kondisi tegangan total (total
stress). Tanah yang diberikan penambahan beban akan mengalami kenaikan tegangan
air pori, u. Apabila kenaikan tegangan air pori ini dihilangkan, maka didapatkan
persamaan kuat geser tanah pada kondisi tegangan efektif (effective stress), seperti
persamaan 10.2 berikut.

Nilai tegangan efektif merupakan parameter kuat geser tanah yang sebenarnya.
Ada tiga macam Triaxial Test:
Unconsolidated Undrained Test (UU)
Pada percobaan ini air tidak diperbolehkan mengalir dari sampel tanah.
Tegangan air pori biasanya tidak diukur pada percobaan semacam ini. Dengan
demikian hanya kekuatan geser UNDRAINED (Undrained Shear Strength)
yang dapat ditentukan.
Consolidated Undrained Test (CU)
Pada percobaan ini sampel tanah diberikan tegangan normal dan air
diperbolehkan mengalir dari sampel. Tegangan normal ini bekerja sampai
konsolidasi selesai, yaitu sampai tidak terjadi lagi perubahan pada isi sampel
tanah. Kemudian jalan air dari sampel ditutup dan sampel diberikan tegangan
geser secara undrained (tertutup). Tegangan normal masih tetap bekerja,
biasanya tegangan air pori diukur selama tegangan geser diberikan.
Drained Test (CD)
Pada percobaan ini sampel tanah diberi tegangan normal dan air diperbolehkan
mengalir sampai konsolidasi selesai. Kemudian tegangan geser diberikan
dengan kata lain pergeseran dilakukan secara drained (terbuka). Untuk menjaga
tekanan air pori tetap nol, maka kecepatan percobaan harus lambat (dalam hal
ini juga tergantung koefisien permeabilitas).

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Pada percobaan, yang akan dilakukan adalah Unconsolidated-Undrained (UU).
Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

dimana:
1
= Tegangan vertikal yang diberikan
3
= Tegangan horizontal
k
= Kalibrasi dari proving ring
A0
= Luas sampel tanah awal
L
= Perubahan panjang sampel awal
L0
= Panjang sampel tanah awal
M
= Pembacaan proving ring maksimum
Dengan Diagram Mohr, hubungan sudut geser tanah, tegangan, dan gaya geser dapat
digambarkan:

Gambar 1. Diagram mohr untuk mencari nilai kohesi (c) dan sudut geser ()
Dari percobaan Triaxial ini diketahui tiga jenis keruntuhan dari tanah uji, sbb:
1. General Shear Failure

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Penambahan beban pada pondasi diikuti oleh penurunan pondasi tersebut. Pada
pembebanan mencapai qu maka terjadi keruntuhan tiba-tiba yang diikuti oleh
perluasan keruntuhan permukaan sampai ke bawah permukaan.

Gambar 2. Grafik hubungan q vs settlement, terlihat puncak yang jelas


2. Local Shear Failure
Pada keadaan lain jika pondasi masih dapat memikul beban setelah tercapai qu,
walaupun terjadi penurunan permukaan tiba-tiba. Pada grafik hubungan q vs
settlement tidak terlihat puncak yang jelas.

Gambar 3. Grafik hubungan q vs settlement, tidak terlihat puncak yang jelas


3. Punching Shear Failure
Pada pondasi yang didukung oleh tanah yang agak lepas setelah tercapainya qu,
maka grafik hubungan q vs settlement bisa digambarkan mendekati linear.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 4. Grafik hubungan q vs settlement, mendekati linear

Teori tambahan

Gambar 5. Sel triaxial


Pada uji UU, terdapat beberapa prinsip, yaitu sampel tanah merupakan
sampel tersaturasi 100% (sehingga tidak terkonsolidasi), tanah tidak terdrainase
(air pori tidak mengalir keluar), tegangan lateral (3) menekan seluruh
permukaan sampel uji, dan deviator stress () menekan secara aksial
(tegangan utama menjadi 1=+3). Pada kasus tanah berpasir, dipengaruhi
oleh berbagai faktor, yaitu bentuk partikel, distribusi ukuran partikel, void ratio,
kekasaran permukaan partikel, air, tegangan utama, ukuran partikel, dan kondisi
tanah yang sudah terkonsolidasi.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 6. Kondisi sampel tanah pada saat uji UU

Gambar 7. Tabel klasifikasi tanah berdasarkan nilai sudut geser


(Budhu, 2010)
Di mana cs adalah sudut geser pada kondisi kritis (critical state), p adalah
sudut geser pada kondisi puncak (peak), dan r adalah sudut geser pada tanah
yang masih memiliki sisa kuat geser sebelumnya (residual).
V.

PROSEDUR PRAKTIKUM
Persiapan
1. Mengukur dimensi diameter dan tinggi silinder uji menggunakan
jangka sorong.
2.Mengeluarkan sampel tanah undisturbed dari tabung dan memasukkan
ke dalam cetakan silinder uji (dengan menggunakan extruder besar) dan
memotong dengan gergaji kawat.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

3.Meratakan kedua ujung sampel tanah di dalam silinder uji dengan


menggunakan spatula. Kemudian mengeluarkan sampel uji dari silinder
uji dengan extruder kecil.
4.Menimbang berat awal sampel tanah tersebut.
Jalannya praktikum
1.Memasang membran karet pada sampel dengan menggunakan alat
pemasang:
1. Memasang membran karet pada dinding alat tersebut.
2. Menghisap udara yang ada di antara membran dan dinding alat
dengan mulut.
3. Memasukkan sampel tanah ke dalam alat pemasang tersebut.
4. Melepaskan sampel tanah dari alat tersebut sehingga sampel
terbungkus membran.
2.Memasukkan sampel tanah ke dalam sel Triaxial, dan menutup dengan
rapat.
3.Memasang sel triaxial pada unit mesin triaxial.
4.Mengatur kecepatan penurunan 1% dari ketinggian sampel.
5.Mengisi sel Triaxial dengan air sampai penuh dengan memberi tekanan
pada tabung tersebut. Pada saat air hampir memenuhi tabung,
mengeluarkan udara yang ada di dalam tabung agar air dapat memenuhi
sel. Fungsi air ini adalah untuk menjaga tegangan 3 dapat merata ke
seluruh permukaan sel dan besarnya dapat dibaca pada manometer.
Untuk percobaan ini diberikan harga:
3 = 0.40 kg/cm2
3 = 0.80 kg/cm2
3 = 1.20 kg/cm2
dengan kedalaman sampel tanah = 1,0 s/d 1,5 meter.
6.Melakukan kalibrasi manometer untuk pembacaan Ddr dan Ldr.
7.Melakukan penekanan pada sampel tanah dari atas (vertikal).
8.Melakukan pembacaan Load Dial setiap penurunan dial bertambah 0.02
inch atau 0.025 mm.
9.Menghentikan pembacaan saat pembacaan dial konstan tiga kali atau
mengalami penurunan.
10. Setelah selesai, memasukkan sampel uji bersama can ke oven untuk
mencari kadar air.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
VI.

PENGOLAHAN DATA
Data pengamatan
Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Can (gr)

39.27

19.54

19.24

Massa Tanah Basah + Can (gr)

162.40

140.38

144.22

Massa Tanah Basah (gr) (A)

123.13

120.84

122.98

Massa Tanah Kering + Can (gr)

122.66

101.93

104.7

Massa Tanah Kering (gr) (B)

83.39

82.39

85.46

Kadar air (%) ((A-B)/B)

47.66

46.67

43.90

Tabel 1. Perhitungan kadar air


d (cm) (cm)

Tabung
Pengukuran 1

3,60

(2 )

(3 )

2
=
4
3.582
=
4
= 10.07

=
= 10.07 7.10
= 71.50

7,10

Pengukuran 2

3,59

7,06

Pengukuran 3

3,56

7,13

Rata-rata

3.58

7.10

Tabel 2. Perhitungan luas lingkaran dan volume

LRC=0.148
Ddr (Deformation
Dial Reading)
(mm)
25
50
75

Sampel uji
1
2
3
3= 0.40
3= 0.80
3= 1.2
kg/cm2
kg/cm2
kg/cm2
Ldr (Load Dial Reading) (mm)
12
1.5
2
18
4.5
2
24
12
8

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
100
125
150
175
200
225
250
275
300
325
350
375
400
425
450
475
500
525
550
575
600
625
650
675
700
725
750
775
800
825
850
875
900
925
950
975
1000
1025

28
34
39
46
53
59
66
73
79
85
90
95
98
101
104
106
107
109
111
112
112
113
113
113.5
114
114
114
114.3
114.3
114.3
114.3

19
26
33
42
48.5
55
62.5
67.5
71
72.5
72.9
72
71.2

24
41
55
70
83
95
105
113
119
122
127
130
132
134
137
139
140
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
155
156
157
157.5
158
159
159.5

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
1050
1075
1100
1125
1150
1175
1200
1225
1250
1275
1300
1325
1350
1375
1400
1425
1450
1475
1500
1525
1550
1575
1600
1625

160
160.5
161
161.5
162
162.5
163
163.5
165
165.5
166
166.5
167
168
168.5
169.5
170
170.5
171
171.5
172
172
173
173.5
Tabel 3. Hasil pembacaan Ddr dan Ldr

Perhitungan data
o Kadar air
=


100%

123.13 83.39
100% = 47.66%
83.39
2 = 46.67%
3 = 43.9%
1 =

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
o Massa jenis dan berat jenis
=

Sampel 1

; =

Sampel 2

123.13
71.50 3

1 = 1.72
3
1 = 1.72 9.81
1 = 16.87 /3
1 =

Sampel 3

2 = 1.69 /3
2 = 16.58 /3

3 = 1.72 /3
3 = 16.85 /3

Tabel 4. Perhitungan massa jenis dan berat jenis sampel

o Tegangan normal (1 )
Contoh perhitungan pada data pertama sampel 1
L =Ddr/1000 = 25/1000 = 0.025 cm
= L/Lo = 0.025 cm / 7.1 cm = 0.0035
1 (Area Correction) = 1 0.0035 = 0.9965
A = Ao/(1- ) = 10.07/(1-0.9965)=10.1056 cm2
= LRC*(Ldr/A) = 0,148*(12 kg/10,1056 cm2)= 0,17574 kg/cm2
1 = + 3 = 0,17574 kg/cm2+ 0,4 kg/cm2 = 0.57574 kg/cm2
Nilai 1 terbesar yang digunakan untuk menggambar diagram Mohr
Tabel 6. Perhitungan 1 dan pada sampel 1
Ddr
25

Ldr
12

L
0.025

0.0035

A'
1-

1
0.9965 10.1056 0.17574 0.57574

50
75
100
125
150
175
200
225
250
275
300
325

18

0.05
0.075
0.1
0.125
0.15
0.175
0.2
0.225
0.25
0.275
0.3
0.325

0.0070
0.0106
0.0141
0.0176
0.0211
0.0246
0.0282
0.0317
0.0352
0.0387
0.0423
0.0458

0.9930
0.9894
0.9859
0.9824
0.9789
0.9754
0.9718
0.9683
0.9648
0.9613
0.9577
0.9542

24
28
34
39
46
53
59
66
73
79
85

10.1414
10.1775
10.2139
10.2505
10.2873
10.3245
10.3619
10.3996
10.4375
10.4758
10.5143
10.5531

0.26269
0.349
0.40572
0.4909
0.56108
0.6594
0.75701
0.83965
0.93585
1.03133
1.11201
1.19207

0.66269
0.749
0.80572
0.8909
0.96108
1.0594
1.15701
1.23965
1.33585
1.43133
1.51201
1.59207

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
350
375
400
425
450
475
500
525
550
575
600
625
650
675
700
725
750
775
800
825
850

90
95
98
101
104
106
107
109
111
112
112
113
113
113.5
114
114
114
114.3
114.3
114.3
114.3

0.35
0.375
0.4
0.425
0.45
0.475
0.5
0.525
0.55
0.575
0.6
0.625
0.65
0.675
0.7
0.725
0.75
0.775
0.8
0.825
0.85

0.0493
0.0528
0.0563
0.0599
0.0634
0.0669
0.0704
0.0739
0.0775
0.0810
0.0845
0.0880
0.0915
0.0951
0.0986
0.1021
0.1056
0.1092
0.1127
0.1162
0.1197

0.9507
0.9472
0.9437
0.9401
0.9366
0.9331
0.9296
0.9261
0.9225
0.9190
0.9155
0.9120
0.9085
0.9049
0.9014
0.8979
0.8944
0.8908
0.8873
0.8838
0.8803

10.5921
10.6315
10.6712
10.7112
10.7514
10.7920
10.8329
10.8741
10.9156
10.9574
10.9995
11.0420
11.0848
11.1279
11.1714
11.2152
11.2594
11.3039
11.3487
11.3939
11.4395

1.25754
1.32248
1.35917
1.39555
1.43162
1.45367
1.46185
1.48353
1.50501
1.51277
1.50697
1.51458
1.50873
1.50953
1.51028
1.50438
1.49849
1.49651
1.4906
1.48468
1.47877

1.65754
1.72248
1.75917
1.79555
1.83162
1.85367
1.86185
1.88353
1.90501
1.91277
1.90697
1.91458
1.90873
1.90953
1.91028
1.90438
1.89849
1.89651
1.8906
1.88468
1.87877

Tabel 7. Perhitungan 1 dan pada sampel 2


Ddr
25
50
75
100
125
150
175
200
225
250
275
300
325
350

Ldr
1.5
4.5
12
19
26
33
42
48.5
55
62.5
67.5
71
72.5
72.9

L
0.025
0.05
0.075
0.1
0.125
0.15
0.175
0.2
0.225
0.25
0.275
0.3
0.325
0.35

0.0035
0.0070
0.0106
0.0141
0.0176
0.0211
0.0246
0.0282
0.0317
0.0352
0.0387
0.0423
0.0458
0.0493

1-
0.9965
0.9930
0.9894
0.9859
0.9824
0.9789
0.9754
0.9718
0.9683
0.9648
0.9613
0.9577
0.9542
0.9507

A'
10.1056
10.1414
10.1775
10.2139
10.2505
10.2873
10.3245
10.3619
10.3996
10.4375
10.4758
10.5143
10.5531
10.5921

0.02197
0.06567
0.1745
0.27531
0.3754
0.47476
0.60206
0.69273
0.78273
0.88623
0.95363
0.9994
1.01677
1.0186

1
0.82197
0.86567
0.9745
1.07531
1.1754
1.27476
1.40206
1.49273
1.58273
1.68623
1.75363
1.7994
1.81677
1.8186

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
375
400

72
71.2

0.375
0.4

0.0528
0.0563

0.9472 10.6315 1.0023 1.8023


0.9437 10.6712 0.98748 1.78748

Tabel 8. Perhitungan 1 dan pada sampel 3


Ddr
25

Ldr
2

L
0.025

0.0035

1-
A'

1
0.9965 10.1134 0.02927 1.22927

50
75
100
125
150
175
200
225
250
275
300
325
350
375
400
425
450
475
500
525
550
575
600
625
650
675
700
725
750
775
800
825

2
8
24
41
55
70
83
95
105
113
119
122
127
130
132
134
137
139
140
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154

0.05
0.075
0.1
0.125
0.15
0.175
0.2
0.225
0.25
0.275
0.3
0.325
0.35
0.375
0.4
0.425
0.45
0.475
0.5
0.525
0.55
0.575
0.6
0.625
0.65
0.675
0.7
0.725
0.75
0.775
0.8
0.825

0.0070
0.0105
0.0140
0.0175
0.0210
0.0245
0.0280
0.0315
0.0350
0.0385
0.0420
0.0455
0.0490
0.0525
0.0560
0.0595
0.0630
0.0665
0.0700
0.0735
0.0770
0.0805
0.0840
0.0875
0.0910
0.0945
0.0980
0.1015
0.1050
0.1085
0.1120
0.1155

0.9930
0.9895
0.9860
0.9825
0.9790
0.9755
0.9720
0.9685
0.9650
0.9615
0.9580
0.9545
0.9510
0.9475
0.9440
0.9405
0.9370
0.9335
0.9300
0.9265
0.9230
0.9195
0.9160
0.9125
0.9090
0.9055
0.9020
0.8985
0.8950
0.8915
0.8880
0.8845

10.1491
10.1850
10.2212
10.2576
10.2943
10.3312
10.3684
10.4059
10.4437
10.4817
10.5200
10.5586
10.5975
10.6366
10.6761
10.7158
10.7559
10.7962
10.8369
10.8778
10.9191
10.9607
11.0026
11.0448
11.0874
11.1302
11.1734
11.2170
11.2609
11.3051
11.3497
11.3946

0.02917
0.11625
0.34751
0.59156
0.79073
1.00279
1.18475
1.35115
1.48798
1.59554
1.67414
1.71007
1.77363
1.80884
1.82988
1.85072
1.88511
1.90548
1.91199
1.932
1.93825
1.9444
1.95045
1.95639
1.96224
1.96797
1.97361
1.97914
1.98457
1.9899
1.99512
2.00025

1.22917
1.31625
1.54751
1.79156
1.99073
2.20279
2.38475
2.55115
2.68798
2.79554
2.87414
2.91007
2.97363
3.00884
3.02988
3.05072
3.08511
3.10548
3.11199
3.132
3.13825
3.1444
3.15045
3.15639
3.16224
3.16797
3.17361
3.17914
3.18457
3.1899
3.19512
3.20025

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
850
875
900
925
950
975
1000
1025
1050
1075
1100
1125
1150
1175
1200
1225
1250
1275
1300
1325
1350
1375
1400
1425
1450
1475
1500
1525
1550
1575
1600
1625

155
155
156
157
157.5
158
159
159.5
160
160.5
161
161.5
162
162.5
163
163.5
165
165.5
166
166.5
167
168
168.5
169.5
170
170.5
171
171.5
172
172
173
173.5

0.85
0.875
0.9
0.925
0.95
0.975
1
1.025
1.05
1.075
1.1
1.125
1.15
1.175
1.2
1.225
1.25
1.275
1.3
1.325
1.35
1.375
1.4
1.425
1.45
1.475
1.5
1.525
1.55
1.575
1.6
1.625

0.1190
0.1225
0.1261
0.1296
0.1331
0.1366
0.1401
0.1436
0.1471
0.1506
0.1541
0.1576
0.1611
0.1646
0.1681
0.1716
0.1751
0.1786
0.1821
0.1856
0.1891
0.1926
0.1961
0.1996
0.2031
0.2066
0.2101
0.2136
0.2171
0.2206
0.2241
0.2276

0.8810
0.8775
0.8739
0.8704
0.8669
0.8634
0.8599
0.8564
0.8529
0.8494
0.8459
0.8424
0.8389
0.8354
0.8319
0.8284
0.8249
0.8214
0.8179
0.8144
0.8109
0.8074
0.8039
0.8004
0.7969
0.7934
0.7899
0.7864
0.7829
0.7794
0.7759
0.7724

11.4399
11.4855
11.5316
11.5779
11.6247
11.6718
11.7194
11.7673
11.8156
11.8643
11.9134
11.9629
12.0128
12.0632
12.1140
12.1652
12.2168
12.2689
12.3214
12.3744
12.4278
12.4817
12.5360
12.5909
12.6462
12.7020
12.7583
12.8151
12.8724
12.9303
12.9886
13.0475

2.00526
1.99729
2.00216
2.00692
2.00521
2.00345
2.00796
2.00607
2.00413
2.00214
2.0001
1.99801
1.99586
1.99367
1.99142
1.98912
1.99889
1.99643
1.99393
1.99138
1.98877
1.99204
1.9893
1.99239
1.98953
1.98661
1.98365
1.98063
1.97756
1.96871
1.97127
1.96804

3.20526
3.19729
3.20216
3.20692
3.20521
3.20345
3.20796
3.20607
3.20413
3.20214
3.2001
3.19801
3.19586
3.19367
3.19142
3.18912
3.19889
3.19643
3.19393
3.19138
3.18877
3.19204
3.1893
3.19239
3.18953
3.18661
3.18365
3.18063
3.17756
3.16871
3.17127
3.16804

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

((kg/cm2))

1 (kg/cm2)

3 (kg/cm2)

Sampel 1

1.51

1.91

0.4

Sampel 2

1.02

1.82

0.8

Sampel 3

2.01

3.21

1.2

Tabel 6. Data yang digunakan untuk membuat diagram Mohr


Tegangan geser (kg/cm2)

o Diagram Mohr

0.5

0.4

1.2

0.8

1.82

1.91

Tegangan normal (kg/cm2)

Gambar 8. Diagram Mohr


Dari diagram Mohr diatas diperoleh nilai kohesivitas sebesar 0.5
kg/cm2 dan nilai sudut geser = 13.71o, selanjutnya mencari nilai
dengan persamaan
= 45 +

13.71
= 45 +
= 51.86
2
2

o Nilai n dan n
Untuk sampel 1
1 + 3 1 3

2
2
2
1.91 + 0.4 1.91 0.4
=

2(51.86)
2
2
=

3.21

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
= 1.33 /2

1 3
2
2
1.91 0.4
=
2(51.86)
2
= 0.73 /2
=

Untuk sampel 2
1 + 3 1 3

2
2
2
1.82 + 0.8 1.82 0.8
=

2(51.86)
2
2
=

= 1.43 /2

1 3
2
2
1.82 0.8
=
2(51.86)
2
= 0.495 /2
=

Untuk sampel 3
1 + 3 1 3

2
2
2
3.21 + 1.2 3.21 1.2
=

2(51.86)
2
2
=

= 2.44 /2

1 3
2
2
3.21 1.2
=
2(51.86)
2
= 0.98 /2
=

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Grafik

Grafik hubungan 1 dan


3.5
3

Tegangan (kg/cm2)

2.5
2
1.5
1
0.5
0
0.0000

0.0500

0.1000

0.1500

0.2000

Regangan
Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Gambar 9. Grafik hubungan antara 1 dan


VII.

ANALISIS
Analisis percobaan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui parameter kuat geser tak
terdrainasi suatu tanah (undrained shear strength), yaitu berupa sudut geser
tanah () dan nilai kohesi (c). Pada praktikum ini, praktikan menggunakan
sampel tanah undisturbed dari hasil praktikum handboring sebelumnya.
Pertama-tama praktikan membersihkan cetakan silinder uji dan
mengolesinya dengan minyak/oli. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses
pengeluaran pencetakan dengan mesin extruder manual nantinya. Praktikan
kemudian mencetak sampel tanah ke cetakan silinder uji dari tabung
handboring dengan mesin extruder secara mekanis (menggunakan injakan kaki
untuk menjalankan mesin). Pada beberapa percobaan pertama, praktikan
mendapatkan cetakan sampel yang kurang baik karena sampel tidak memenuhi
cetakan silinder secara penuh. Setelah mendapatkan sampel tanah yang baik
dalam cetakan, praktikan menggunakan gergaji kawat untuk memotong bagian

0.2500

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
bawah sampel yang masih menyatu dengan tabung handboring. Sampel tanah
undisturbed yang sudah berada di dalam silinder cetakan uji kemudian diratakan
kedua ujungnya dengan spatula. Hal ini bertujuan untuk mengisi rongga-rongga
sampel sehingga pada saat penekanan menggunakan mesin triaxial, beban bisa
didistribusikan penuh ke seluruh permukaan sampel. Sampel uji kemudian
dikeluarkan dari cetakan silinder uji menggunakan mesin extruder manual
(menggunakan tangan, diputar). Sampel uji berbentuk silinder kemudian
ditimbang menggunakan timbangan digital supaya hasil lebih valid.
Praktikan memasang membran karet pada sampel uji dengan bantuan
alat penghisap udara secara manual (dengan hisapan mulut). Alat penghisap ini
berbentuk silinder yang memiliki dimensi hampir sama dengan sampel serta ada
selang panjang di bagian samping untuk menghisap. Membran dipasang di
dalamnya, kemudian bagian kedua ujungnya ditautkan di sisi ujung silinder alat
penghisap. Praktikan menghisap dengan kuat supaya tidak ada udara yang
berada di antara kedua membran dan dinding alat. Udara bisa
mengganggu/menyulitkan sampel uji masuk ke membrann, sehingga harus
dikeluarkan. Sampel tanah lalu dimasukkan ke alat penghisap udara tersebut
dan membungkus seluruh sampel uji dengan membran serta mengeluarkannya
dari alat penghisap.
Sampel uji yang sudah terpasang membran karet dimasukkan ke dalam
sel triaxial. Praktikan menggunakan silinder bening yang diletakkan di atas
sampel uji serta menyelubunginya juga dengan membran karet. Silinder bening
ini berguna untuk mendistribusikan tegangan secara merata di permukaan
sampel uji. Selain itu praktikan juga memasang gelang karet hitam untuk
mencegah masuknya air ke dalam sampel uji. Praktikan menutup dengan rapat
sel tersebut lalu membuka lateral pressure valve untuk memenuhi sel triaxial
dengan air. Penambahan air ini berfungsi sebagai tegangan lateral (3 ) yang
menekan sampel uji dari segala arah. Pada percobaan ini digunakan 3 =0.40
kg/cm2. Praktikan membuka katup yang berada di atas sel supaya air bisa masuk
ke dalam sel dengan lancar. Ketika air sudah memenuhi sel, maka air akan
keluar dari lubang katup sehingga katup harus ditutup untuk menjaga tekanan
di dalam sel triaxial.
Tegangan normal dilakukan dengan kecepatan penurunan 1%.
Kecepatan penurunan dilakukan pada kecepatan rendah karena digunakan untuk
mengukur tegangan pori. Praktikan kemudian mengkalibrasikan manometer
untuk membaca Ddr (dial deformation reading) dan Ldr (load dial reading).
Praktikan melakukan pembacaan Ldr setiap pembacaan 0.025 mm Ddr.
Pembacaan dihentikan ketika sampel uji mengalami keruntuhan yaitu ditandai
dengan pembacaan yang kembali lagi menurun. Praktikan kemudian melepas
rangkaian mesin sel triaxial, kemudian memasukkan sampel uji ke oven untuk
mencari kadar air.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Analisis hasil
Pada praktikum ini, praktikan menghitung dimensi silinder uji dengan
jangka sorong dengan ketelitian 0.01 mm. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga
kali agar data menjadi lebih valid. Rata-rata 3 pengukuran diameter dan tinggi
silinder berturut-turut adalah 3.58 cm dan 7.1 cm. Dari kedua data dimensi ini,
praktikan bisa menghitung luas lingkaran silinder (10.07 cm) dan volume
silinder (71.5 cm3). Data tinggi silinder digunakan untuk perhitungan regangan
pada sampel, data luas lingkaran digunakan untuk mencari nilai luas lingkaran
terkoreksi, dan data volume digunakan untuk menghitung massa jenis dan berat
jenis sampel.
Praktikan mengukur kadar air sampel dengan cara menimbang sampel
basah bersama can, kemudian mengovennya selama dua hari. Sebelumnya
praktikan juga menghitung berat can-nya saja. Setelah oven selesai, praktikan
menimbang kembali sampel kering di dalam can. Berat basah sampel dikurangi
berat kering kemudian dibagi berat keringnya sendiri menghasilkan data kadar
air. Ketiga sampel memiliki kadar air berturut turut sebesar 47.66%, 46.67%,
43.90%. Berat jenis jenuh masing-masing yaitu 16.87 kN/m3, 16.58 kN/m3, dan
16.5 kN/m3. Berdasarkan data berat jenis tersebut, maka sampel uji termasuk ke
dalam tanah lempung (clay), seperti dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 7. Klasifikasi tanah berdasarkan berat jenis (Budhu, 2010)


Pada praktikum ini, praktikan mendapatkan nilai load dial reading (Ldr)
setiap penurunan 25 mm dial deformation reading (Ddr). Nilai Ldr yang
didapatkan pada 3 sampel menunjukkan jangkauan data yang berbeda. Pada
sampel 1 Ldr terbesar didapat pada 114.3 (Ddr=850 mm), sampel 2 Ldr terbesar
didapat pada 71.2 (Ddr=400 mm), dan sampel 3 Ldr terbesar didapat pada 173.5
(Ddr=1625 mm). Praktikan kemudian mengolah data masing-masing sampel
untuk mendapatkan nilai dan 1 serta menggambar grafik mohr dengan data
terkait. Praktikan menggunakan LRC 0.148 sebagai kalibrasi proving ring
(faktor pengali pada saat menghitung ). Diagram mohr sampel 1 dengan
kadar air 47.66% menunjukkan nilai kohesivitas pada sumbu y sebesar 0.5
kg/cm2 dan nilai sudut geser = 13.71o (besar sudut antara garis singgung
lingkaran dengan sumbu x). Untuk sampel 1 n= 1.33 kg/cm2 dan regangan n=
0.73 kg/cm2, untuk sampel 1 n= 1.43 kg/cm2 dan regangan n= 0.95 kg/cm2, dan
untuk sampel 1 n= 2.44 kg/cm2 dan regangan n= 0.98 kg/cm2.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Praktikan kemudian menggambarkan grafik hubungan antara 1 dan .
Secara umum grafik menunjukkan bahwa pada mula-mula, 1 relatif
bertambah secara signifikan. Pada yang makin besar, pertambahan nilai 1
menjadi tidak signifikan atau hampir stagnan. Hal ini menunjukkan bahwa
sampel sedang berada pada kondisi maksimum yang masih bisa ditanggungnya.
Keruntuhan ditandai dengan nilai Ddr yang menurun atau dengan kata lain
sampel uji telah rusak/runtuh. Grafik hubungan ini juga bisa disebut grafik
keruntuhan. Sampel uji mengalami keruntuhan tipe local shear failure karena
puncak grafik tidak terlihat dengan jelas. Pada keadaan di lapangan, pondasi
masih dapat memikul beban setelah tercapai qu, walaupun terjadi penurunan
permukaan tiba-tiba.

Tabel 8. Klasifikasi tanah berdasarkan nilai sudut geser (Budhu, 2010)

Tabel 9. Klasifikasi tanah berdasarkan nilai kohesivitas (c) (USCS)

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Berdasarkan nilai sudut geser tabel 8 di atas, sampel tanah yang diuji
pada praktikum ini merupakan jenis tanah clay atau lempung. Untuk
clay/lempung =15o-30o dan praktikan mendapatkan nilai =13.71o, maka
sampel uji dianggap memenuhi kriteria. Sedangkan berdasarkan tabel 9 di atas,
sampel uji termasuk kategori clayey sand karena memiliki c=0.5 kg/cm2.

Analisis kesalahan
a. Kesalahan praktikan
Pada praktikum ini, praktikan melakukan kesalahan teknis. Pada
saat praktikan mengunci sel triaxial, terdapat sejumlah air yang meluap
keluar dari dasar sel. Hal ini bisa menyebabkan tegangan lateral menjadi
berkurang atau fluktatif. Kebocoran ini terjadi akibat adanya sisa-sisa
tanah yang masih menempel di bagian dasar tabung sel triaxial sehingga
mengganjal penguncial sel. Hal ini dapat diminimalisasi dengan cara
selalu melakukan pemeriksaan berkala pada saat praktikum agar tidak
terjadi kesalahan serupa.
b.Kesalahan paralaks
Praktikan mengukur dimensi silinder uji dengan menggunakan
jangka sorong. Karena keterbatasan pembacaan pada skala tetap dan
skala nonius, praktikan tidak tepat membaca hasil pengukuran. Selain
itu praktikan hanya menghitung selama tiga kali untuk pengukuran
dimensi. Semakin banyak pengukuran maka data dimensi akan menjadi
lebih valid, karena rata-rata berasal dari data yang lebih banyak.
Praktikan juga melaksanakan kesalahan saat pembacaan
manometer dikarenakan kecepatan pemutaran oleh praktikan tidak
konstan. Karena terdapat dua buah manometer yang dibaca (Ddr dan
Ldr), maka terkadang praktikan tidak membaca keduanya di waktu yang
tepat. Kesalahan ini dapat diminimalisasi dengan cara meningkatkan
pengawasan serta konsentrasi pada saat menjalani praktikum.

VIII.

APLIKASI
Parameter kuat geser pada suatu sampel tanah merupakan aspek penting pada
berbagai pekerjaan pondasi (seperti daya dukung pada pondasi dangkal), stabilitas
lereng (dam dan bendung), serta tegangan lateral tanah yang menekan dinding struktur
bangunan bawah tanah. Gaya gravitasi dan rembesan (seepage) pada kasus lereng
cenderung menyebabkan ketidakstabilan. Untuk itulah diperlukan perhitungan matang
untuk menentukan kuat geser yang digunakan untuk mempertahankan kondisi
keseimbangan batas geser tanah. Selain itu juga, faktor keamanan rata-rata di sepanjang
permukaan runtuh juga sangat penting dalam membangun infrastruktur yang sudah
disebutkan di atas.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 10. Tipe-tipe keruntuhan lereng

IX.

KESIMPULAN
Diagram mohr menunjukkan nilai parameter kuat geser tanah, yaitu pada
praktikum ini kohesivitas c = 0.5 kg/cm2 dan sudut geser = 13.71o.
Sampel uji dari sampel 3 = 0,4 kg/cm2, 3 = 0,8 kg/cm2, 3 = 1,2 kg/cm2, memiliki

X.

kadar air secara berurutan yaitu 47,66%, 46,67%, dan 43,90%.


Hasil perhitungan untuk dan , berturut-turut yaitu sampel 1: 1.33 kg/cm2 dan 0.73
kg/cm2, sampel 2: 1.43 kg/cm2 dan 0.495 kg/cm2, dan sampel 3: 2.44 kg/cm2 dan 0.98
kg/cm2.

Semakin besar nilai regangan , maka nilai 1 makin besar. Meskipun di awal
pengukuran akan menunjukkan perubahan nilai yang signifikan, namun ketika
mendekati kondisi keruntuhan, nilai 1 akan cenderung stagnan.
Berdasarkan nilai sudut geser (13.71o), sampel uji termasuk jenis tanah lempung
(clay). Berdasarkan nilai kohesivitas (0.5 kg/cm2), sampel uji termasuk jenis
tanah clayey sand.
Sampel uji mengalami keruntuhan tipe local shear failure, ditandai dengan
puncak kurva yang tidak terlihat.
Uji triaxial sangat tepat untuk menggambarkan tipe-tipe keruntuhan pada
sampel uji sehingga pengerjaan pondasi dapat didesain secara tepat.

REFERENSI
Craig, R.F., Susilo, B. (1989). Mekanika Tanah. Jakarta: Erlangga
DTS FTUI. (2015). Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah. Jakarta: Laboratorium
Mekanika Tanah.
Das, Braja M. (2010). Principles of Geotechnical Engineering, 7th edition. Stamford:
Cencage Learning.
Das, Braja M. (2008). Advanced Soil Mechanics 3rd edition. Oxon: Taylor & Francis.

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Holtz. R. D., Kovacs, W. D. (1981). An introduction to Geotechnical Engineering. New
Jersey: Prentice-Hall, Inc.

XI.

LAMPIRAN

Gambar 11. Sel triaxial

Gambar 12. Sampel yang telah mengalami


keruntuhan

Gambar 14. Menometer pembaca Ldr dan


Ddr
Gambar 13. Katup pengatur tegangan
lateral