Anda di halaman 1dari 41

Bagian I.

PERSONALIA
Aspek Personalia
Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang sehat, terkualifikasi dan
berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai. Tiap personil tidak dibebani tanggung
jawab yang berlebihan untuk menghindari risiko terhadap mutu obat dan memahami
tanggung jawab masing-masing.
1. Kesehatan Personil
Pada saat perekrutan hendaklah dipastikan bahwa semua calon karyawan memiliki
kesehatan fisik dan mental yang baik serta dilaksanakan program pemeriksaan kesehatan
berkala yang mencakup pemeriksaan jenis-jenis penyakit yang dapat berdampak pada mutu
dan kemurnian produk akhir (Catatan Kesehatan Karyawan). Petugas pemeriksa visual
hendaklah menjalani pemeriksaan mata secara berkala.
2. Kualifikasi dan Pengalaman Personil
Kualifikasi dan pengalaman personil yang diperlukan untuk tiap posisi hendaklah
ditetapkan secara tertulis (biasanya oleh pimpinan tertinggi bersama bagian Sumber Daya
Manusia dan - untuk tingkat lebih rendah- juga kepala Manajemen Mutu [Pemastian Mutu] ),
yang disimpan oleh bagian Sumber Daya Manusia, tapi juga dapat ditampilkan pada Uraian
Tugas masing-masing.
3. Pengetahuan, Keterampilan dan Kesanggupan
Kepala Bagian Produksi memerlukan pendidikan formal dalam bidang farmasi dan
telah menjadi Apoteker Terdaftar, diutamakan dengan kombinasi sains fisika dan biologi; 5
tahun pengalaman dalam produksi obat pada industri farmasi; pengalaman praktis dalam
formulasi dan proses farmasi, pengalaman dalam pengawasan-selama-proses, pengalaman
dalam perencanaan produksi, kesanggupan bekerja dalam tim bersama Departemendepartemen berbeda; kesanggupan dalam pengelolaan personil, pelatihan dan motivasi
personil; menguasai bahasa Inggris dengan baik, tidak mempunyai kepentingan lain diluar
organisasi.
4. Jumlah Personil
Kekurangan jumlah personil cenderung memengaruhi kualitas obat, karena tugas akan
dilakukan secara tergesa-gesa dengan segala akibatnya. Oi samping itu kekurangan jumlah
karyawan biasanya mengakibatkan kerja lembur sering dilakukan yang dapat menimbulkan
kelelahan fisik dan mental baik bagi operator maupun supervisor atau malahan bagi personil
pada tingkat lebih atas/yang melakukan evaluasi dan/atau mengambil keputusan.

Bagian II. BANGUNAN


Aspek Bangunan Dan Fasilitas
1. Letak bangunan terhindar cemaran dari daerah sekeliling (udara, tanah dan air serta
kegiatan industri lain).
2. Bangunan dan fasilitas terlindung dari pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah
dan bersarangnya serangga, burung, binatang pengerat, kutu atau hewan lainnya.
3. Bangunan dan fasilitas hendaklah dirawat, dibersihkan, didisinfeksi sesuai prosedur
tertulis yang rinci. Catatan pembersihan dan disinfeksi hendaklah disimpan.
4. Tenaga listrik, lampu penerangan, suhu, kelembaban dan ventilasi hendaklah tepat
agar tidak mengakibatkan dampak yang merugikan baik secara langsung maupun
tidak langsung terhadap produk selama proses pembuatan dan penyimpanan, atau
terhadap ketepatan / ketelitian fungsi dari peralatan.
5. Area produksi tidak dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas umum bagi personil dan
bahan atau produk, atau sebagai tempat penyimpanan bahan atau produk selain yang
sedang diproses.
6. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan di mana terdapat
bahan baku dan bahan pengemas primer, produk antara atau produk ruahan yang
terpapar ke lingkungan hendaklah halus, bebas retak dan sambungan terbuka, tidak
melepaskan partikulat, serta memungkinkan pelaksanaan pembersihan (bila perlu
disinfeksi) yang mudah dan efektif.
7. Penempatan peralatan dan bahan secara teratur dan sesuai dengan alur proses,
sehingga dapat memperkecil risiko terjadi kekeliruan antara produk obat atau
komponen obat yang berbeda, mencegah pencemaran silang dan memperkecil risiko
terlewatnya atau salah melaksanakan tahapan proses produksi atau pengawasan.
8. Konstruksi lantai di area pengolahan hendaklah dibuat dari bahan kedap air,
permukaannya rata dan memungkinkan pembersihan yang cepat dan efisien apabila
terjadi tumpahan bahan. Sudut antara dinding dan lantai di area pengolahan hendaklah
berbentuk lengkungan.
9. Pipa, fiting lampu, titik ventilasi dan instalasi sarana penunjang lain hendaklah
dirancang dan dipasang sedemikian rupa untuk menghindari terbentuknya ceruk yang
sulit dibersihkan.
10. Pipa yang terpasang di dalam ruangan tidak boleh menempel pada dinding tetapi
digantungkan dengan menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk memudahkan
pembersihan menyeluruh

11. Pencegahan area produksi dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas umum bagi personil
dan bahan atau produk, atau sebagai tempat penyimpanan bahan atau produk selain
yang sedang diproses.
12. Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata produk dengan cara penimbangan
hendaklah dilakukan di area penimbangan terpisah yang didesain khusus untuk
kegiatan tersebut.
13. Untuk memperkecil risiko bahaya medis yang serius akibat terjadi pencemaran silang,
suatu sarana khusus dan self-contained harus disediakan untuk produksi obat tertentu
seperti produk yang dapat menimbulkan sensitisasi tinggi (misal golongan penisilin)
atau preparat biologis (misal mikroorganisme hidup). Produk lain seperti antibiotika
tertentu, hormon tertentu (misal hormon seks), sitotoksika tertentu, produk
mengandung bahan aktif tertentu berpotensi tinggi, dan produk nonobat hendaklah
diproduksi di bangunan terpisah.
14. Pembuatan produk yang diklasifikasikan sebagai racun seperti pestisida dan herbisida
tidak boleh dibuat di fasilitas pembuatan produk obat.
15. Tata letak ruang produksi sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk:
a)memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area yang saling berhubungan antara
satu ruangan dengan ruangan lain mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang dipersyaratkan;
b) mencegah kesesakan dan ketidak-teraturan; dan
c) memungkinkan komunikasi dan pengawasan yang efektif terlaksana.
16. Pintu area produksi yang berhubungan langsung ke lingkungan luar, seperti pintu
bahaya kebakaran, hendaklah ditutup rapat. Pintu tersebut hendaklah diamankan
sedemikian rupa sehingga hanya dapat digunakan dalam keadaan darurat sebagai
pintu ke luar.

Peralatan
1. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau
produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi atau absorbsi yang dapat
memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan;
2. Bahan pelumas jenis food grade hendaklah digunakan apabila ada kemungkinan
bahan tersebut bersentuhan dengan produk, misal: pelumas untuk punch and die.
3. Peralatan tidak boleh merusak produk akibat katup bocor, tetesan pelumas dan hal
sejenis atau karena perbaikan, perawatan, modifikasi dan adaptasi yang tidak tepat.
4. Peralatan hendaklah didesain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan.
5. Tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian yang tepat untuk
proses produksi dan pengawasan. Diperiksa ketepatanya dan dikalibrasi.
6. Peralatan ditempatkan pada jarak yang cukup untuk menghindari kesesakan serta
memastikan tidak terjadi kekeliruan dan campur-baur produk.
7. Tiap peralatan utama hendaklah diberi tanda dengan nomor identitas yang jelas.

8. Peralatan yang rusak, jika memungkinkan, hendaklah dikeluarkan dari area produksi
dan pengawasan mutu, atau setidaknya, diberi penandaan yang jelas.
9. Pelaksanaan perawatan dan pemakaian peralatan utama hendaklah dicatat dalam buku
log alat yang menunjukkan tanggal, waktu, produk, kekuatan dan nomor setiap bets
atau lot yang diolah dengan alat tersebut. Catatan untuk peralatan yang digunakan
khusus untuk satu produk saja dapat ditulis dalam catatan bets.
10. Filter cairan yang digunakan untuk proses produksi hendaklah tidak melepaskan serat
ke dalam produk. Filter yang mengandung asbes tidak boleh digunakan walaupun
sesudahnya disaring kembali menggunakan filter khusus yang tidak melepaskan serat.
11. Semua peralatan khusus untuk pengolahan bahan mudah terbakar atau bahan kimia
atau yang ditempatkan di area di mana digunakan bahan mudah terbakar, hendaklah
dilengkapi dengan perlengkapan elektris yang kedap eksplosi serta dibumikan dengan
benar.
12. Pipa air suling, air deionisasi dan bila perlu pipa air lain untuk produksi hendaklah
disanitasi sesuai prosedur tertulis.

Bagian III. QUALITY

Quality terbagi menjadi 4 :


-

Validasi

Compliance

Audit

Laboratorium
VALIDASI
kualifikasi
kalibrasi
validasi
validasi proses
validasi
pembersihan

KUALIFIKASI
Tahapan pembuatan protocol kualifikasi :
1

Buat URS (User Requirement Spesification)


Berisi : semua requirement yang dimau mulai dari mesin dan fasilitas yang digunakan

Submit ke supplier

Supplier

memberikan

comment

agree/disagree

(mampu/tidaknya

membuat

requirement yg kita inginkan)


4

Semua penawaran supplier di comparison (spek, harga, lead time)

Jika setuju, supplier akan membuat functional specification (FS)

penjabaran

dari URS yang kita buat (mesin bisa berfungsi apa saja)
6

FS dibreakdown menjadi DS (Desain Spesification)


pada FS,

misalnya luas ruangan dengan kapasitas mesin

pembuatan DS mengacu

Mesin dibuat (FS dan DS dibuat untuk membuat mesin yang sesuai dengan keinginan
kita)

Setelah mesin dibuat oleh supplier maka dilakukan pengujian FAT (Factory
Acceptance Test) dilakukan dipabrik tempat mesin dibuat

jika

agreement

perwakilan perusahaan ikut maka akan dikirim


10 Mesin dikirimkan ke user
11 Dilakukan SAT (Site Acceptance Test), pengujian di pabrik tempat pengguna dan
dilakukan bersama-sama dengan personal training dan supplier
12 Proses kualifikasi
13 Installation Qualification
protocol kerja Instalasi kualifikasi merefer pada DS

mengenai spesifikasi alat

14 Operational Qualification
Fungsinya untuk Menguji apakah alat bisa melakukan uji seperti yang kita mau,
protocol kerja merefer pada FS
15 Performance Qualification
Fungsinya menguji misalnya speed min. 15.000 maka hasilnya bener apa ga?
Protocol Mengacu pada URS
REKUALIFIKASI
Dilakukan based on assessment
Priority :
-

Alat baru
Alat lama tapi ada perubahan

KALIBRASI
Pengujian rutin terhadap mesin
Dilakukan pengujian alat ukur apa yang ada pada mesin terkait dengan GMP related
Misal :
Sebuah mesin mixing : ada stearer, punya SIP, CIP
Dikalibrasi : timbangan, suhu, waktu, putaran (RPM)
Dicompare terhadap : standar (alat ukur yang memiliki kalibrasi diatas alat ukur yang
dipunya)
Standar yang jadi acuan untuk kalibrasi dikalibrasikan ke eksternal

VALIDASI PROSES
Pembuatan suatu produk
Perlu proses
Proses untuk penggunaan secara rutin perlu divalidasi
Pada validasi proses dibutuhkan batasan2
Seperti critical step dan critical parameter, missal :
Tablet : critical step :

critical parameter :

Mixing

mixing : - Sieving (pengayakan)

Filling

- Homogenitas

Granulasi

Pengeringan (Drying)

Validasi proses dilakukan based on : berapa lama dieksekusi


Contoh : sterilisasi
-

Aseptis : validasi proses dari awal sampai akhir dan disampling random

Non aseptis : validasi proses berdasarkan coldest point ; jika sampel yang berada
pada titik coldest point steril, maka pada titik yang lain juga steril

Validasi Proses terbagi menjadi 3 :


-

prospektif
produk belum ada/belum diproduksi, dilakukan validasi
contoh : untuk mesin baru

retrospektif
produk sudah ada dan validasi dilakukan dengan mereview data dari batch2 yang
sudah ada
contoh : penggantian source, tetapi sourcenya sama semuanya dengan source

sebelumnya dari mulai kadar dsb


konkaren
produksi dan validasi produksi dilakukan bersamaan

VALIDASI PEMBERSIHAN

fungsi :
memastikan resiko produk sebelumnya terhadap produk selanjutnya.
Missal : mesin digunakan untuk produksi obat jantung

untuk produksi obat batuk

Perlu validasi pembersihan


Batasan2 :
-

nilai LD 50
nilai LD50 < makin berbahaya

kelarutan bahan aktif


kelarutan bahan aktif > tidak berbahaya

persentase jumlah bahan aktif


persentase jumlah bahan aktif > makin berbahaya

persyaratan validasi pembersihan :


-

secara visual bersih

cara swab atau rinsing


jika area lebar dan bisa dilakukan swab maka diswab

diuji residu sampel mikro dan kimia

Tata cara pengambilan sampel untuk analisa kontaminan mikrobiologi


a

metode swab

sebelum sampling, kenakan masker dan sarung tangan, semprot dengan alcohol 70%

keluarkan batang apus dari tabung tertutup

peras cairan yang berlebih dengan cara menekan batang apus ke dinding tabung

usapkan batang apus ke area sapling (25 cm2) dengan swab template dengan arah
sebagai berikut :

masukkan batang apus ke dalam tabung, tutup kembali hingga rapat

kirimkan sampel ke laboratorium mikrobiologi untuk diperiksa kontaminan


mikrobiologi dan endotoksinnya

metode final rinsing

sebelum pelaksanaan sampling kenakan masker dan sarung tangan terlebih dahulu
kemudian semprot dengan alcohol 70%

keluarkan botol duran dari steriklin

ambil PW (untuk sampling lini steril ambil WFI) secukupnya dari kran tempat asalnya
digunakan sebagai blanko

setelah mesin/alat dibersihkan bilas kembali alat dengan sejumlah tertentu PW


(gunakna WFI untuk lini steril). Catat volume yang digunakan untuk pembilasan lalu
tamping sebanyak 250 ml ke dalam botol duran

kirimkan sampel ke lab. Mikro untuk diuji kontaminan mikrobiologi dan endotoksin

Tata cara pengambilan sampel untuk analisa kontaminan residu produk


a

metode swab

keluarkan batang apus dari tabung tertutup

peras cairan yang berlebihan dengan cara menekan batang apus ke dinding tbaung

usapkan batang apus ke area sampling (25 cm2) dengan swab template dengan arh
sebagai berikut :

masukkan batang apus kedalam tabun, tutup kembali hingga rapat

kirimkan sampel ke lab. QC untuk diperiksa residu bahanaktif dengan metode yang
sesuai.

Metode final rinsing

Lakukan pembilasan botol dengan air (PW/WFI) yang digunakan untuk mencuci alat

Ambil PW (untuk sampel dilini steril ambil WFI) Secukupnya dari kran tempat
asalnya digunakan sebagai blanko

Setelah mesin dibersihkan bilas alat/mesin dengan sejumlah PW (WFI untuk lini
steril)
Catat volume yang digunakan untuk pembilasan lalu tamping 250 ml ke dalam botol
duran

Kirimkan sampel ke lab QC untuk diperiksa residu kimianya.

VALIDASI METODE ANALISIS


Validasi metode analisis dilakukan terhadap metode analisis bahan baku obat, eksipien,
dan produk jadi. Metode analisis yang sudah divalidasi, nantinya akan digunakan oleh
bagian QC (pengawasan mutu) untuk melakukan analisis. Validasi metode analisis
umumnya dilakukan terhadap:
a Uji identifikasi
Uji identifikasi bertujuan untuk memastikan identitas analit dalam sampel. Uji ini
biasanya dilakukan dengan membandingkan karakteristik sampel (spectrum, profil
b

kromatogram, reaksi kimia) terhadap baku pembanding.


Uji kuantitatif kandungan impuritas
Pengujian impuritas dapat dilakukan melalui uji kuantitatif atau uji batas impuritas

dalam sampel. Kedua pengujian ini menggambarkan kemurnian dari sampel.


Uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan atau obat
Penetapan kadar bertujuan untuk menentukan kadar analit dalam sampel, yang
menunjukkan komponen utama yang terkandung dalam bahan aktif.

Parameter validasi metode analisis antara lain :


a

Spesifisitas
Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk membedakan senyawa yang
diuji dengan derivate atau metabolitnya.
Linearitas
Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan hubungan secara
langsung antara respons detektor dengan perubahan konsentrasi analit. Pengujian

dilakukan paling sedikit menggunakan 5 konsentrasi kadar yang berbeda.


Akurasi

Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk memperoleh nilai yang


sebenarnya (ketepatan pengukuran). Akurasi dinyatakan sebagai persentase (%)
perolehan kembali (recovery). Syarat persen perolehan kembali adalah 98 102 %.
Presisi (ketelitian)
Merupakan kemampuan suatu metode anlisis untuk menunjukkan kedekatan dari

suatu seri pengukuran yang diperoleh dari sampel yang homogen. Terdapat tiga
i

kategori pengujian presisi, yaitu :


Keterulangan (repeatability), dinilai dengan menggunakan paling sedikit
sembilan penentuan dalam rentang penggunaan metode analisis tersebut

ii

(misalnya tiga konsentrasi/ tiga replikasi).


Presisi Antara, yaitu perbedaan antar operator atau analis dengan sumber

iii

reagensia dan hari yang berbeda.


Reprodusibilitas, dengan menggunakan beberapa laboratorium untuk validasi
metode analisis, agar diketahui pengaruh lingkungan yang berbeda terhadap
kinerja metode analisis.

Presisi dinyatakan dalam bentuk RSD (relative standard deviation). Persyaratan


RSD untuk penetapan kadar bahan aktif adalah 2,0 %.
e
f

Batas Deteksi ( Limit of Detection / LOD)


Merupakan jumlah analit terkecil yang masih bisa dideteksi.
Batas Kuantitasi (Limit of Quantitation / LOQ)
Merupakan jumlah analit terkecil yang masih bisa diukur dengan akurat (tepat) dan
presisi (teliti).
Ketegaran ( Robustness )
Merupakan kapasitas suatu metode analisis untuk tidak terpengaruh oleh veriasivariasi kecil dalam parameter metode analisa.

COMPLIANCE
Fungsi : untuk memastikan produk-produk yang diproduksi perusahaan memenuhi spesifikasi
yang telah ditetapkan mulai dari saat produksi sampai produk mencapai kadaluwarsa.
Compliance manager bertanggung jawab atas:

Terjaganya mutu produk perusahaan yang beredar sehingga memenuhi spesifikasi


mutu seperti yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Terlaksananya penerapan CPOB dan tertib administrasi di bagiannya.

Tersedianya laporan evaluasi dan hasil kegiatan sesuai waktu, akurasi laporan dan
format yang ditetapkan.

Bagian Compliance bertanggung jawab dalam hal :

Pemeriksaan dan penyimpanan Batch Record

Perilisan produk selama proses produksi sampai siap didistribusikan

Compliance bertugas menentukan perilisan terhadap produk antara apakah dapat


diproses lanjut dan merekomendasikan perilisan produk jadi apakah dapat
didistribusikan.
Dasar perilisan produk antara adalah hasil pemeriksaan laboratorium apakah produk
ini memenuhi persyaratan atau tidak

memenuhi persyaratan maka akan

ditempel label released dan dapat diproses lebih lanjut. Untuk produk jadi, dasar
pelulusannya adalah kelengkapan dokumen yaitu batch record. Selain batch record
ada juga Batch Deviation Report/ Action Request yaitu dokumen untuk produkproduk jadi yang dalam proses produksinya terdapat penyimpangan-penyimpangan

Penanganan recall, return dan complain.

Penyimpanan retained sampel yang disimpan di dalam ruangan khusus dengan lama
penyimpanan sampai waktu ED + 1 tahun.
Retained sample diambil dari produksi dan berguna untuk mengontrol produk yang
telah didistribusikan. Sehingga bila ada masalah dapat ditelusuri dari retained sample
ini.

Pemantauan stabilitas obat dilakukan pemeriksaan rutin menggunakan program


Quality Surveillance.

AUDIT
Tugas :
-

Koordinasi audit vendor (supplier), dan perusahaan penerima toll.

Melakukan inspeksi diri

Audit internal : untuk menjamin keefektifan sistem mutu dan perbaikan yang kontinu &
menjamin bahwa aktivitas harian yang dilaksanakan memenuhi syarat GMP.
Ada dua tingkat audit internal yaitu:

Audit internal periodik: dilakukan dua kali setahun; meliputi sistem kualiti,
dokumentasi secara umum, dan kebersihan (5R); dilakukan oleh tim auditor
internal yang sudah terlatih

Inspeksi diri atau on the spot random: meliputi pemeriksaan mutu pada tempattempat tertentu yang berhubungan dengan kerja bagian kualiti; dilakukan oleh
Internal Quality Audit.

Hasil audit internal dirangkum dalam sebuah laporan dan disimpan dalam : CAPA
(Corrective Action and Preventive Action)
FUNGSI : menjamin bahwa tindakan pencegahan dan perbaikan dilakukan secara efektif
sehingga masalah potensial tidak akan terjadi.
LABORATORIUM
LABORATORIUM KIMIA
TUGAS : memastikan dan memeriksa kondisi produk-produk perusahaan dimulai dari
bahan baku, bahan kemas, produk setengah jadi maupun produk jadi sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentukan.
Supervisor laboratorium kimia bertanggung jawab atas:
1

Tersedianya hasil analisa laboratorium yang akurat untuk produk-produk perusahaan.

Terlaksananya penerapan CPOB dan tertib administrasi di bagian laboratorium.

Tersedianya laporan evaluasi dan hasil kegiatan sesuai waktu, akurasi laporan dan
format yang ditetapkan.

Cara pengujian yang dilakukan oleh laboratorium kimia : berdasarkan dokumen testing
method yang dikeluarkan oleh R&D.
Dokumen testing method tersebut dibuat berdasarkan : standar Farmakope Indonesia atau
standar lain yang dijadikan rujukan seperti: British Pharmacopeia, USP, Japan Pharmacopeia,
dan lain-lain.
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
Bagian mikrobiologi bertanggung jawab terhadap analisis mikrobiologi terutama untuk
produk-produk steril dan produk lain yang memerlukan analisis mikrobiologi.
Cara pengujian yang dilakukan oleh laboratorium mikrobiologi : berdasarkan dokumen
testing method yang dikeluarkan oleh R&D.
Dokumen testing method tersebut dibuat berdasarkan standar Farmakope Indonesia atau
standar lain yang dijadikan rujukan seperti: British Pharmacopeia, USP, Japan Pharmacopeia,
dan lain-lain.
Supervisor Laboratorium Mikrobiologi bertanggung jawab atas:

Tersedianya hasil analisa laboratorium yang akurat untuk produk-produk perusahaan.

Terlaksananya penerapan CPOB dan tertib administrasi di bagian laboratorium.

Tersedianya laporan evaluasi dan hasil kegiatan sesuai waktu, akurasi laporan dan

format yang ditetapkan.


Laboratorium mikrobiologi memiliki fungsi untuk preparasi analisa (seperti pembuatan
reagen, media, dan sterilisasi alat), monitoring ruang produksi steril dan non steril, analisa
sampel, dan pasca analisa seperti destruksi, mencuci part, dan pengeringan alat.
Ruangan yang terdapat didalam laboratorium Mikrobiologi terbagi menjadi 7 ruangan, yaitu
1 Ruang Gowning luar
2 Ruang Preparasi
3 Ruang Inkubasi
4 Ruang Isolator
5 Ruang Uji Mikroba (D off-Gowning-Airlock)
6 Ruang Uji Potensi (Gowning-Airlock)
7 Ruang Cuci

Kebersihan dari ruangan didalam laboratorium mikrobiologi dikontrol dengan

menggunakan pressure.
Semakin besar pressure maka semakin bersih ruangan tersebut.
Proses analisa yang dilakukan di laboratorium mikrobiologi terbagi menjadi 2 bagian
yaitu
-

Analisa sampel
Meliputi raw material, finish produk dan air.

Monitoring ruangan
Meliputi udara dan surface. Pada monitoring ruangan yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi memiliki metode yang berbeda dalam monitoring
udara dan surface.

Monitoring udara yang dilakukan pada laboratorium mikrobiologi terbagi menjadi 2


bagian
1

Particle non viable


Parameter yang dikontrol yaitu suhu, pressure, RH, dan particle.

Particle viable
-

Active
Menggunakan air sampler (1000 m3 dalam ruangan)

Passive
Menggunakan settle plate (tidak menarik udara tetapi menunggu partikel jatuh,

menggunakan media yang diletakkan selama 4 jam).


Analisa lab mikrobiologi terbagi menjadi 3 bagian
1

Angka lempeng total (ALT)


Untuk menghitung jumlah bakteri aerob dengan masa inkubasi 5 hari pada
suhu 20-25 C

Angka lempeng khamir


Untuk menghitung jumlah fungi yang terkandung didalam sampel dengan
masa inkubasi 5 hari pada suhu 20-25 C.

Analisa bakteri patogen


Analisa bakteri patogen biasanya digunakan untuk menganalisa bakteri
patogen seperti E.coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa.
Cara analisa dilakukan sampel dimasukkan kedalam media specific untuk
bakteri kemudian jika hasilnya positif maka dapat diketahui bahwa terdapat
pertumbuhan bakteri.

Didalam lab mikrobiologi terdapat isolator. Isolator tersebut digunakan untuk

meminimalisir resiko false positive.


Sanitasi isolator dengan bio-decontamination system.
Proses bio-decontamination cycle terdiri dari injection phase, dwell phase, dan aeration
phase.
-

injection phase

P H2O2 diinjeksikan masuk kedalam isolator. Kemudian menghasilkan kabut yang


mempermudah menjangkau semua area. Fase ini dilakukan selama 10 menit.
P -

dwell phase

P fase dimana H2O2 didiamkan didalam isolator. Fase ini dilakukan selama 20 menit.
P - aeration phase
P fase H2O2 dikeluarkan dari dalam isolator. Karena apabila masih terdapat H2O2 produk
yang tidak steril menjadi steril serta menghasilkan false positive. H 2O2 dikeluarkan dari
ducting hexos ke udara luar.
Uji kebocoran dari isolator dapat dilihat dengan memasukkan pressure 100Pa kedalam
isolator, kemudian dilihat penurunan pressurenya. Jika penurunannya lebih dari 4 Pa maka
dapat dikatakan isolator terjadi kebocoran.

Bagian IV. SUPPLY CHAIN MANAGEMENT


Tugas departemen SCM melakukan perencanaan produksi berdasarkan data perkiraan
(Forecast) dari bagian marketing selanjutnya akan diproses pada tiap sub bab departemen.
Dalam melakukan fungsinya, departemen SCM biasanya menggunakan sistem komputer
yang terkoneksi misal di Boehringer sistemnya itu Business Planning and Control System
(BPCS) dan Boehringer Ingelheim Export (BIX@ system).
BPCS digunakan dalam forecast system, Master Production Schedulling (MPS), Material
requirements Planning (MRP), Shop Order (SO), Advance Process Industries (API), Bill of
Material (BOM), dan inventory system.
BPCS jadwal yang telah direncanakan oleh SCM dapat diakses oleh bagian produksi, QC,
packaging, dan bagian lainnya yang terkait.
BIX@ system sistem yang membantu dalam proses ekspor yang dilakukan oleh PT BII.
BIX@ system berperan dalam :
1. Mengatur aktivitas pemesanan raw material, produk antara, packaging material, dan
produk jadi untuk inter company
2. Proses ekspor
3. Proses permintaan untuk memulai persiapan produksi
4. Mengontrol dan memantau pengiriman barang
Demand Planning
Tanggung jawab dari bagian Demand Planning adalah :
-

Menyusun pertemuan perencanaan pembelian bersama bagian marketing.


-Mengontrol packaging development untuk mematuhi regulasi lokal dan melakukan
perubahan atau pengaturan yang baru.

Demand berperan sebagai perencana untuk menangkap permintaan dari marketing.

Demand Planning akan menerima forecast dari bagian marketing


permintaan tersebut dikonversikan dalam bentuk angka produksi dengan sebelumnya
terdapat agreement antara demand dengan marketing dengan safety stock yang
ditentukan oleh demand Angka produksi tersebut dipengaruhi oleh variabelvariabel seperti permintaan pasar, program marketing, sales target, dan production
capacity
Angka produksi yang diperoleh dari bagian pemasaran dalam satuan unit untuk 1
bulan, akan diubah menjadi satuan lot oleh demand
Data dalam bentuk angka produksi dalam satuan lot diberikan ke bagian PPIC untuk
diolah menjadi produksi mingguan dan produksi harian.
Demand akan menjaga agar safety stock tetap terpenuhi, dan menjaga level dari DOI (Days of
Inventory) untuk . hari tetap terpenuhi. Demand akan menjaga agar suatu produk tetap ada
di pasaran dengan menyeimbangkan safety stock dan DOI untuk mencegah hilangnya
pangsa pasar
Packaging Development
Tugas dari bagian Packaging Development adalah :
a. Membuat disain baru atau perubahan disain produk.
b. Mengawasi dan menindaklanjuti sirkulasi disain.
c. Berkoordinasi dengan produksi dan TM untuk mencoba kesesuaian disain baru dan
mengubah disain pada mesin pendukung.
d. Membuat Packaging Display dan Packaging Composition sebagai panduan untuk
pembuatan Batch Packaging Record (BPR).
PPIC (Production Planning and Inventory Control)
Bagian PPIC dipimpin oleh seorang manager yang membawahi supply specialist dan import
operation (kalo di Boehringer).
PPIC merupakan bagian yang merupakan penghubung antara bagian manajemen dengan
bagian produksi untuk menyelaraskan kebutuhan pasar yang dilihat dari forecast dengan
jumlah produk yang bisa dihasilkan sesuai kemampuan dari bagian produksi.

data hasil konversi forecast (supply plan) dari bagian demand planning pada monthly
meeting
hasil dari monthly meeting dilakukan analisis oleh PPIC untuk menentukan weekly
order (menentukan produk apa saja yang diproduksi maupun release dalam rentang 1
minggu; review produksi di minggu sebelumnya)

dirancang daily order production untuk menentukan produk apa yang diproduksi
perhari
abis rapat, planner dari PPIC bikin purchase requisition untuk melakukan pemesanan
material ke gudang untuk produksi selama 1 minggu.
intinya : PPIC akan menyusun futurcast kemudian membuat Master Production Schedule
(MPS) dan Material Requirement Planning (MRP). Selanjutnya PPIC akan memeriksa
kesiapan dari tiap bagian terkait apakah bisa memenuhi permintaan produksi dari bagian
pemasaran tersebut.

Tugas dari PPIC adalah :


1. Mengontrol jadwal dan inventory dengan tujuan untuk memastikan bahwa distribusi
semua pesanan kepada semua pelanggan terpenuhi sesuai dengan jangka waktu yang
ditentukan baik produk yang dipasarkan di pasaran domestik maupun ekspor.
2. Menghitung perencanaan Finished Goods untuk menjaga efektivitas dan efisiensi
inventory FG pada level optimal untuk memastikan supply yang tepat waktu
berdasarkan jadwal produksi.
3. Mengadakan negosiasi dengan pelanggan untuk menyalurkan kebutuhan sesuai
dengan keinginan pelanggan, dan mempersiapkan semua material (dengan membuat
form permintaan pembelian).
4. Bekerja sama dengan producton

planning

untuk

memastikan ketepatan

pelaksanaan jadwal yang telah dibuat bagi seluruh customer.


5. Mengontrol proses produksi untuk memenuhi kebutuhan penjualan.
6. Melakukan tindak lanjut terhadap bahan material, produk antara, bahan
pengemasan, dan produk jadi yang telah memperoleh status release.
7. Melakukan pemesanan material
8. Mengontrol jadwal dan pengiriman produk
Produk dibagi 2 kategori, ekspor dan domestic

produk ekspor prinsipnya adalah make to order yaitu dibuat berdasarkan pesanan.
tingkat kepuasan service nya namanya PSL (Production Service Level)
Pada produk domestik atau produk yang dipasarkan secara lokal, prinsip
pembuatannya adalah make to stock, artinya dibuat untuk selalu tersedia. Tingkat
kepuasan service untuk produk lokal dinamakan Customer Service Level (CSL). CSL
adalah suatu pencapaian bagaimana pemenuhan kebutuhan customer yang diukur
dalam %.

Dalam perencanaan produksi, PPIC membuat Manufacturing Order (MO) dan Packaging
Order (PO) berdasarkan Bill of Material (BOM) serta membuat jadwal produksi.
Warehouse
Kegiatan utama warehouse penerimaan barang (Inbound), penyimpanan, pengeluaran
barang dan pengiriman barang.
A. Penerimaan Barang
kegiatan penerimaan produk dari supplier termasuk bahan baku obat, bahan kemas,
reagent-reagent untuk keperluan analisis laboratorium, barang-barang kebutuhan
untuk engineering, kembalian obat, kembalian produk, jalur pembuangan limbah
kering yang akan didestroy.
penerimaannya :
sebelum pengesahan, dokumen pengiriman diperiksa terlebih dahulu apakah sesuai
dengan Purchase Order yang tertera dalam sistem BPCS
Setiap container harus diperiksa secara visual bentuk, kebersihan dan keaslian,
kesesuaian label barang dan kesesuaian data dengan pesanan pembelian (nama
barang, jumlah, penyalur, nomor pesanan, waktu penerimaan)
Setiap pengiriman harus disertai dengan dokumen COA (Certificate of Analysis)
data penerimaan diinput kedalam sistem BPCS (kalo emang udh sesuai PO) dan
dilakukan penyimpanan sementara didalam loading dock
Kemudian barang dipindahkan pada lokasi berdasarkan penggunaannya
Setelah barang dipindahkan, pemindahan harus dimasukkan kedalam BPCS untuk
memastikan seluruh departemen mendapatkan informasinya
kalo ada barang datang diluar waktu batas toleransi yang telah ditetapkan petugas
penerimaan barang harus menghubungi bagian purchasing atau PPIC untuk
mengkonfirmasi apakah barang tersebut dapat diterima oleh warehouse.
biasanya kalo ada penolakan itu setelah pemeriksaan kualitas oleh QC (not approved);
tapi gudang jg pnya wewenang untuk nolak secara langsung kalo ada cacat, robek atau
kotor, ataupun terdapat ketidaksesuaian dengan kriteria. Jika diberi label rejected,
maka barang tersebut harus dipindahkan ke lokasi rejected untuk dilakukan proses
selanjutnya.

B. Penyimpanan Barang
Penyimpanan produk jadi, produk setengah jadi atau bahan baku serta bahan
pengemas secara keseluruhan, pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan akan
kondisi keamanan serta kualitas dari bahan yang diproduksi dan diuji.

Berdasarkan penyimpanannya, terdiri dari beberapa macam :

WH untuk penyimpanan bahan baku, bahan pengemas, dan produk jadi yang siap

digunakan.
WH yang terdapat di area produksi digunakan sebagai perantara pengiriman antara

gudang dengan produksi


WH untuk menyimpan barang-barang reject.

Penyimpanan bahan baku, bahan pengemas, dan produk jadi sesuai dengan ketentuan
ASEAN Guidelines for Drug Product Stability Study di ruang yang sesuai dengan sifat
dari barang yang akan disimpan.
Suhu ruangan di warehouse biasanya itu : suhu penyimpanan normal 25-30oC, kondisi
pendinginan terkontrol 15-25oC, lemari pendingin (cold room) 2-8oC. (barang-barang
disimpan di suhu ruangan yang sesuai dengan sifat dari barang itu sendiri)
Bahan baku yang :
butuh penyimpanan khusus seperti bahan aktif atau obat jadi yang mengandung narkotik
atau bahan/sediaan lain yang memerlukan pemisahan khusus, harus disimpan terpisah
sesuai undang-undang
berbau keras harus disimpan terpisah dari produk obat dan bahan baku lainnya dalam
satu lemari yang dilengkapi dengan alat penghisap
mudah menyerap air dari udara harus disimpan didalam wadah yang tertutup rapat
dengan kantong silica gel didalamnya
sangat peka terhadap pancaran cahaya, harus disimpan dalam bejana tertutup
diruang gelap, lemari, atau wadah yang kedap terhadap cahaya.
mudah terbakar seperti alkohol harus diletakkan dalam lemari flammable atau lemari
kabinet khusus yang dilengkapi dengan sistem pembuangan uap.
Penyimpanan reagen-reagen yang mempunyai daya ledak tinggi disimpan di bangunan
terpisah di luar gudang.
Barang-barang di gudang harus disimpan di atas palet, tidak boleh kontak langsung
dengan lantai (kecuali untuk barang yang berada dalam tangki)
gudang harus bebas dari bau sehingga terdapat alat penghisap, serta gudang harus bebas
dari serangga, hewan pengerat, dan hama-hama lainnya.
proses setelah penerimaan menuju penyimpanan :

Sebelum disimpan dalam rak, barang-barang didata ke dalam BPCS


pihak QC akan mengambil sampel untuk diperiksa kesesuaian spesifikasinya

Setelah mendapatkan status/label rejected, release, ataupun quarantine, barangbarang disimpan berdasarkan kelompok lot, dipisahkan secara fisik maupun secara
kelompok. Tidak diperbolehkan menyimpan dua macam barang dalam satu palet
yang sama, atau berbeda pengiriman disimpan pada palet yang sama.
Ruang penyimpanan harus selalu dibersihkan sesuai dengan SOP yang ada. Frekuensi
pembersihan harian, mingguan, dan bulanan sesuai dengan jenis barang dan area yang
dibersihkan.
C. Pengeluaran Barang
Kegiatan pengeluaran barang :

kegiatan pengiriman barang ke produksi untuk diproses


kegiatan pengiriman barang ke distributor dan ekspor
kegiatan pengiriman barang reject dan expired untuk didestroy
Pengeluaran barang baik raw material maupun finished goods menggunakan prinsip FEFO
(First Expired First Out) baru kemudian FIFO (First In First Out)

Warehouse mengirimkan barang ke produksi berdasarkan shop order yang dibuat


oleh produksi (Shop order = daftar yang berisi barang-barang kebutuhan per lot atau
per batch, sesuai dengan BOM)
Setelah shop order dari produksi sampai ke warehouse maka pihak warehouse
akan membuat picking list untuk mengambil barang yang diperlukan dari raknya
terus dikirimin ke bagian produksi
Pihak warehouse nanti ngasih Material List Transfer (MLT) ke produksi yang
minta pengiriman bahan (pengiriman bahan itu dilakuin di staging area yang
dikhususkan untuk Raw Material untuk menghindari proses kontaminasi silang
dari udara pengotor gudang yang akan masuk ke bagian produksi)
abis petugas gudang naro bahan, pihak produksi ambil terus semua material tsb
dikirim ke ruang produksi yang diangkut dalam satu pallet
material-material yang telah selesai ditimbang, akan dikembalikan lagi ke
warehouse melalui staging area.
proses pengiriman packaging material untuk bagian Packaging = proses pengiriman ke
area manufaktur, dengan ruangan yang berbeda dan sistem pengambilan barang yang
sama.

FG (Finished Goods) yang udah dikemas dalam kemasan sekunder disimpan dalam rakrak sesuai dengan kondisi penyimpanannya. FG tersebut masih dalam status Quarantine
apabila masih menunggu hasil dari QC dan QA. Hasilnya ituu :
approved pihak gudang bisa me-release-kannya (yg kasi release itu QA)
rejected maka produk tsb disimpan dalam ruangan khusus yang sangat dijaga
keamanannya atau segregated area. Produk tersebut akan menunggu keputusan dari QA
sebelum di destroy.
Pengiriman barang ke pihak distributor
biasanya pake bantuan sistem

SCM akan memasukkan pesanan yang diterima dari customer ke dalam sistem
BPCS yang dapat diakses oleh warehouse
setelah order dikonfirmasi pihak warehouse akan membuat picking list yang
digunakan operator untuk mengambil barang dari rak
pihak warehouse akan membuat delivery order yang berisi barang-barang yang akan
dikirimkan. (Delivery order merupakan perintah untuk mengeluarkan finished goods
berdasarkan pada no batch atau no lot yang ada pada shop order)
D. Penerimaan

dan

Penanganan

Produk

Kembalian

(returned

goods)

serta

pemusnahan produk reject


Barang jadi yang dikembalikan oleh distributor atau pelanggan :
hanya dapat diterima di gudang bila telah disetujui oleh pihak departemen

marketing dengan dokumen yang telah disetujui.


harus disertai dengan surat pengantar yang mencantumkan jumlah, jenis produk,
no.batch, tempat asal pengembalian, dan alasan pengembalian produk serta diperiksa

kesesuaian produk tersebut dengan surat pengantarnya.


perlu dicatat (di catatan pengembalian barang) tanggal penerimaan, nama
barang, jumlah, banyaknya kemasan, masa kadaluarsa, nomor batch, dan alasan dari

pengembalian produk tersebut.


Catatan tsb dikasi ke QA dilakukan penyelidikan dan tindakan selanjutnya.
Barang kembalian tsb disimpan di lokasi non-aktif yang (untuk penyimpanan

barang berstatus reject sebelum diadakan pemeriksaan)


petugas warehouse melakukan input kedalam sistem BPCS melalui proses RMA
(Returned Material Authorization); RMA untuk mencatat penerimaan barang jadi

yang dikembalikan oleh distributor


buat credit note ke distributor untuk memotong tagihan
Pihak warehouse akan menginformasikan kepada QA sehingga QA dapat
mengeluarkan form disposisi untuk barang reject tersebut

warehouse buat destruction form untuk melihat berapa jumlah barang yang

dihancurkan dan meminta persetujuan Plant Director hingga Finance Director


proses pemusnahan, abis itu pihak warehouse akan melakukan transaksi
pemotongan jumlah barang di sistem sehingga tidak akan terjadi kesalahan
pemesanan ataupun rancangan pembelian oleh pihak planner akibat kesalahan data di
BPCS.

bahan baku maupun bahan pengemas yang datang dari supplier yang tidak memenuhi
spesifikasi

pihak gudang akan menerima pemberitahuan berbentuk RR dari Quality Control yang
berstempel rejected
Pihak gudang akan berkomunikasi ke bagian purchasing
pihak purchasing akan menindak lanjuti informasi tersebut ke pemasok untuk
pengembalian atau pemusnahan
ditemukan bahan baku dan pengemas yang tidak dapat dipakai untuk proses produksi

pihak produksi akan memberitahukan ke pihak terkait dan barang tersebut diberi
label, kemudian dikembalikan ke warehouse
di warehouse barang tsb disimpan diruang reject
selanjutnya harus dimusnahkan setelah mendapatkan persetujuan dari pemasok
Petugas gudang harus menginformasikan ke QA dan Purchasing untuk keputusan
lebih lanjut apakah barang tersebut harus diganti atau tidak.
Purchasing
Tugas utama dari bagian purchasing adalah menangani pembelian inventory item dan noninventory item.
Inventory item adalah barang-barang atau material yang dibutuhkan untuk kegiatan

produksi suatu produk, seperti raw material dan packaging material.


non-inventory item adalah barang-barang selain raw material dan packaging material,

seperti kursi, meja, reagen, stationary, dan sebagainya.


Purchasing dengan pihak-pihak yang terkait juga bertanggung jawab dalam KPI (Key
Performance Index) supplier, yaitu untuk mengukur kinerja supplier dalam hal penyaluran
barang.
KPI untuk supplier :
- supplier delivery performance (kinerja supplier dalam hal pengiriman)
- quality performance supplier (mengukur kinerja dalam hal kualitas barang yang
-

dikirimkan)
price

Purchasing memiliki wewenang untuk memilih supplier.


Alur Proses Pemesanan dan Pembelian

forecast dari demand, PPIC menyusun

futurcast trs bikin Master Production

Schedule (MPS), berdasarkan MPS yang sudah dibuat, dibuat Material Requirement
Planning (MRP)
pihak PPIC akan membuat dan memasukkan kembali kebutuhan material tersebut
kedalam sistem BPCS
Sistem BPCS akan mencetak PR (Purchase Requisition).
PR akan direview dan disetujui oleh manajer PPIC dan kepala departemen SCM
Setelah disetujui, PR akan dikirim ke pihak purchasing yang selanjutnya akan
direview dan diperiksa kebutuhan yang dibutuhkan
Setelah direview pihak purchasing akan menentukan supplier dan harga dari material
yang akan dipesan dan memasukkan informasi tersebut ke sistem
sistem kemudian sistem akan mencetak PO (Purchase Order)
Purchase order berisi nama supplier, nomer PO, print date, alamat kirim, alamat
invoice, nama material, jumlah material, harga material, juga nomer PR. Selanjutnya
PO tersebut ditanda tangani oleh kepala bagian purchasing, kemudian dikirim ke
supplier.
kalo udah terima PO, supplier dapat mempersiapkan material yang sudah dipesan
Proses pengiriman dilakukan dengan disertai surat jalan. Surat jalan digunakan
sebagai acuan untuk penerimaan material di gudang.
Setelah barang diterima di gudang, warehouse akan memeriksa kondisi barang sesuai
surat jalan
Bila barang sudah sesuai dengan yang dipesan, warehouse akan membuat receiving
report pengujian oleh QC
kalo material tersebut lulus pengujian RR distempel conformed. Invoice document
(faktur yang terdiri dari surat jalan, PO, dan faktur pajak) beserta RR yang sudah ada
hasil conformed dan juga pembayaran akan dikirimkan ke supplier.

Bagian V. RESEARCH AND DEVELOPMENT


TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB SECARA GARIS BESAR
1

Pengembangan produk baru

2
3
4
5

Penentuan spesifikasi bahan baku untuk manufacturing


Penyusunan metode analisa
Penentuan shelf-life produk
Penunjang data untuk penyusunan dossier registrasi (misalnya: formulasi, stabilitas
dan packaging).

PEMBAGIAN DEPARTEMEN RnD


1. Packaging Development
Tugas utama Packaging Development adalah sebagai berikut:
a Melakukan penelitian dan pengembangan material kemasan (primer dan sekunder)
b
c

untuk produk.
Melakukan penelitian dan pengembangan desain produk.
Menyiapkan atau menyediakan dokumen yang terkait dengan kemasan meliputi
dokumen spesifikasi, metode analisis (MA), dan prosedur pengemasan (KP 3).

2. Formulation development
Tugas utama Formulation adalah pengembangan produk, baik OTC maupun
ethical,

sesuai

dengan

perkembangan

teknologi

sediaan

farmasi.

Proses

pengembangan produk baru ini dapat dilakukan di dalam perusahaan atau di luar
perusahaan, misalnya melalui kegiatan lisensi atau bekerja sama dengan lembaga
penelitian/pendidikan.
3 Analytical Development
Tugas utama Analytical Development adalah sebagai berikut:
a

Pengembangan Metode Analisis dengan melakukan penelusuran pustaka tentang


cara dan prosedur analisis suatu senyawa obat dan pengemasnya, orientasi, dan

pemeriksaan sampel sehingga diperoleh metode analisis yang sesuai. Metode


analisis yang diperoleh selanjutnya divalidasi dan dijadikan acuan analisis
pemeriksaan rutin sehingga metode analisis tersebut menjadi valid, efektif dan
b

praktis
Menentukan approved manufacturer bahan baku baru yang digunakan di PT.

Kalbe Farma, Tbk.


Pengujian stabilitas produk, baik pengujian stabilitas yang dipercepat (accelerated
stability study) maupun pengujian stabilitas waktu sebenarnya (real time stability
study) terhadap produk obat baru maupun produk obat yang telah dipasarkan

REVIEW TUGAS RnD


1 Pengembangan Produk Baru
Ide Baru

Kompilasikan
Tren Obat
Market Size
Market Growth
Trend of Tech
Corporate Policy

Evaluasi

Rekomendasi

Input/Comment

New Product program & Profil

Outsourcing

In-house Development

Product Development
R&D

New Product
Launching Schedule

Alur Pengembangan Produk Baru


Penjelasan gambar :
Proses pengembangan produk baru diawali dengan terdapat ide-ide baru yang dapat berasal
dari marketing, corporate atau other sources. Selanjutnya, ide-ide tersebut dikumpulkan,
dievaluasi dan disetujui oleh pihak-pihak yang terkait. Proses evaluasi ini dapat ditinjau dari
segi tren obat, besarnya pasar, pertumbuhan pasar, tren teknologi, dan kebijakan perusahaan.
Setelah ditinjau dari berbagai segi tersebut, maka dipilih ide yang paling relevan dan
diberikan rekomendasi yang sesuai. Dari rekomendasi tersebut akan dibuat suatu program
atau profil obat baru. Program dan profil tersebut dapat dijalankan melalui dua cara, yaitu
melalui bantuan eksternal (outsourcing) atau dari dalam perusahaan sendiri (in house

development). Setelah cara pelaksanaan program produk baru tersebut ditentukan, barulah
dapat dibuat jadwal peluncuran produk baru ke pasaran.
Produk baru tersebut tidak dapat langsung diperoleh secara instan, tetapi memerlukan
beberapa tahap atau proses untuk melakukan orientasi dan optimasi terlebih dahulu dari
beberapa formula awal hingga diperoleh formula yang terbaik.
Untuk mendapatkan suatu produk baru perlu dilakukan orientasi dan optimasi terlebih
dahulu dari beberapa formula awal hingga diperoleh formula yang terbaik. Berikut ini
merupakan bagan alur proses produksi produk baru:

Tahap :
Uji stabilitas formula awal (1 bulan) dipilih 3 formula paling baik uji stabilitas
lagi (3 bulan) dipilih 1 formula paling baik sbg standar produksi baru uji
sabilitas lagi 3 tahun dilakukan produksi skala laboratorium skala pilot (1/10
jumlah batch dari skala komersial) dimaksudkan untuk mencari parameter proses yang
sesuai dengan mesin yang akan digunakan untuk produksi jika hasil buruk maka
dicari lagi parameter proses yg paling optimum jika hasil sudah baik lanjut trial
produksi dan registrasi pengalihan dari R&D kepada produksi dibuatlah PPI
Trial Produksi jika trial berhasil dibuatlah PPI Master R&D PPI master ini
digunakan untuk produksi produk skala komersial

Perbaikan atau Improvement Existing Product

Alasan utama dilakukannya perbaikan (improvement) terhadap existing


product yaitu:
a Perubahan ekspektasi pasar
b Efisiensi biaya
c Adanya teknologi baru
d Adanya product complaint
3

Pengatasan Masalah (Trouble Shooting) Produksi


Masalah yang timbul dalam proses produksi dapat bersumber dari:
a Bahan baku atau kemasan
b Mesin atau peralatan
c Prosedur kerja
d Lingkungan kerja
Departemen produksi yang memiliki wewenang dalam batasan tertentu untuk
menangani masalah yang timbul saat proses produksi. Bila masalah tersebut tidak
juga bisa ditangani dalam batasan wewenang tersebut, masalah tersebut akan
ditindaklanjuti pihak Process Development, baru kemudian Departemen R&D.
Tindakan yang dilakukan Departemen R&D untuk mengatasi masalah tersebut dapat
berupa preventive action maupun corrective action.

Proyek Penelitian Khusus (Research Project)


Bagian R&D selalu menerapkan suatu objek penelitian terbaru untuk
dikembangkan sesuai dengan perkembangan di bidang teknologi sediaan farmasi.
Selain dengan manufacturing, R&D berhubungan juga dengan bagian bussiness
development (BD), registrasi, product planning, marketing, medical, finance and
accounting, IT, dan pihak luar (eksternal).
a. Marketing, misalnya dalam hal persetujuan kemasan produk, forecasting
b.

produk, segmentasi pasar, dan lain-lain.


Medical, berkaitan dengan indikasi dan efek farmakologi produk yang

c.
d.

dihasilkan berupa brosur atau leaflet.


Product Planning, misalnya dalam hal koordinasi peluncuran produk.
External, berkaitan dengan supplier raw material, bahan kemas, dan untuk
pengujian produk yang tidak bisa dilakukan di PT. Kalbe Farma, Tbk.
sehingga pengujian dilakukan pada institusi pendidikan, atau pada pemberi

e.

lisensi.
Corporate Business Development dan Ethical Business Development berkaitan

f.

dalam hal koordinasi produk baru.


Registrasi, berkaitan dengan registrasi produk baru.

Catatan :
Untuk di beberapa perusahaan, Departemen RnD biasanya bekerja bersama dengan
Departemen Product Development (Process Development), dimana RnD bertanggung jawab

dalam segala ruang lingkup untuk produk baru sedangkan Produk development/Process
Development bertanggung jawab untuk produk yang sudah ada (existing).

Bagian VI. PENANGANAN LIMBAH


Limbah di industri farmasi dapat berbagai bentuk, baik berupa padatan, cairan, gas, bahkan
dalam bentu suara.
a

Limbah Padat
Sumber limbah
Debu/

serbuk

obat

dari

Penanganan
sistem

pengendalian debu (dust collector)


Obat rusak, kadaluarsa ataupun yang
reject

Dibakar di incinerator
Dibakar di incinerator

Kertas, plastik, dan lain-lain

Dibuang ke TPA

Lumpur dari proses IPAL

Dibakar di incinerator

Jika fasilitas incinerator tidak ada, maka dapat digunakan jasa pihak ke-3, salah
satunya adalah PPLI di Bogor.
b Limbah Cair
Sumber limbah

Penanganan

Bekas cucian peralatan produksi, lab dan


penggunaan lain yang berkiatan dengan
produksi
Kamar wandi, wc

Dialirkan ke IPAL

Dibuang ke septic tank

IPAL Secara umum banget :


Bak inlet

dialirkan ke bak equlisasi

bak pre- treatment

bak aerasi

bak netralisasi

bak sedimentasi

bak clarifier

bak outlet (yang berisi bio-indikator yaitu ikan)


Jika dijelaskan, maka seperti ini :
1

Bak inlet (penampung awal) ini berguna untuk menampung cairan bekas penggunaan
yang biasanya berasal dari ruang produksi maupun lab. Akan tetapi untuk cairan bekas
pengolahan beta laktam dan semisolid tidak ditampung di sini.

Biasanya pabrik yang memproduksi sediaan semisolid, memiliki bak penampung


tersendiri (kan ada fase air dan minyaknya jadi ga bisa digabung sama bak inlet).
Bak penampung bekas pengolahan semisolid ini, kemudian dialirkan ke oil & fat
separator untuk dilakukan pemisahan fase air dan minyaknya. Di oil & fat separator
dilakukan pemanasan sehingga nantinya akan terjadi pemisahan fase. Setelah
terpisah maka air akan dialirkan ke bak inlet ataupun bisa saja langsung ke bak
equalisasi. Sedangkan minyaknya tadi akan dilanjutkan ke drying bed. Gunanya

untuk mengendapkan dan mengeraskan lapisan yang tadi sehingga nantinya bisa
dimasukkan ke tong sebagai limbah B3.

Sedangkan untuk, beta laktam terlebih dahulu ditampung di bak khusus untuk beta
laktam kemudian ditambahkan NaOH untuk memecah cincin beta laktamnya
kemudian didiamkan selama semalam, baru kemudian dialirkan ke bak inlet ataupun
langsung ke bak equalisasi.

Bak equalisasi berguna untuk

Diharapkan polutan air limbah dapat stabil (homogen)

sebelum masuk ke bak

selanjutnya. Sumber air buangannya berasal dari berbagai sumber yang memiliki

karakteristik berbeda-beda.
Untuk mengatur kuantitas air yang masuk ke bak selanjutnya agar dapat dibuat
secara stabil( mempertahankan debit air agar tetap konstan). Pada bak ekualisasi ini
ditambahkan sedikit udara yang berfungsi sebagai pengadukan agar proses

homogenisasi dapat berjalan optimal.


Bak netralisasi, berguna untuk menyeragamkan pH air limbah sebelum diolah. Dengan

penambahan coustic soda atupun NaOH.


Bak pre-treatment, disini terdapat 3 bak yaitu bak koagulasi, bak flokulasi dan bak
sedimentasi. Di sini sudah terjadi proses penurunan BOD, COD.
Bak koagulasi, dilakukan penambahan koagulan (AlSO4) atau Poly Alumunium
Clorida (PAC) ke dalam air limbah dan dengan adanya pengaduk, sehingga akan

terbentuk gumpalan endapan kecil atau agregat kecil.


Kemudian dialirkan ke Bak flokulasi. Pada proses ini, diinjeksikan flokulan (Al 2O3,
kaporit) ke dalam tangki proses. Proses ini bertujuan untuk membentuk flok-flok
(agregat) yang lebih besar setelah proses koagulasi, sehingga menyebabkan proses

pengendapan terjadi lebih cepat.


Kemudian ke bak sedimentasi I, disini air limbah didiamkan selama beberapa jam,

sehingga nantinya agregat akan mengendap.


Kadang, ada juga bak khusus untuk yang digunakan untuk pengolahan fenol, dengan

penambahan arang aktif.


Bak aerasi, disini air limbah dialirkan udara ke dalamnya untuk mengurangi bau. Dan
juga ditambahkan lumpur aktif yang merupakan campuran mikroorganisme (contohnya:
Nitrosomonas sp) yang mengalami kontak dan menguraikan bahan-bahan organik.
Biasanya dilakukan selama beberapa hari (5-7 hari). Terjadi proses penurunan BOD,

COD, dan penambahan DO.


Bak sedimentasi, untuk mengendapkan lumpur dari pengolahan bak aerasi.

Bak clarifier, berguna untuk memisahkan lumpur dan air limbah dengan proses

pengadukan. Kemudian lumpur di buang ke drying bed.


Terakhir dialirkan ke bak outlet sebagai air yang dapat dibuang ke sungai. Biasanya
sebelum ke bak outlet, terlebih dahulu di lakukan penyaringan menggunakan sand filter
dan/atau karbon filter untuk membuat air jernih dan bebas bau.
c Limbah Suara
Sumber limbah
Suara dan getaran dari mesin pabrik,

Penanganan
Dilakukan perawatan mesin secara

berkala
Untuk menanggulangi

genset dan steam boiler

mesin

dapat

kebisingan

digunakan

ruang

berdinding berlapis 2 (double cover)


Untuk menanggulangi getaran mesin,
mesin ditempatkan pada lantai beton.

d Limbah Gas dan partikel


Sumber limbah
Debu selama proses produksi
Pelarut-pelarut kimia
Asap dari genset dan incinerator

Penanganan
Diberi dust collector
Lemari asam dilengkapi Exhaust fan
Dibuat cerobong asap

Catatan :

DO (Dissolved Oxygen) adalah banyaknya oksigen yang terlarut dalam air

COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen yang digunakan untuk
mengoksidasi senyawa organik dan anorganik yang bisa teroksidasi dalam air

BOD (Biological Oxygen Demand) adalah banyakny aoksigen terlarut yang


dibutuhkan bakteri aerobic dan menguraikan sejumlah senyawa organik dalam air.

TSS ( Total Suspended Solid) adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa
bahan-bahan organik dan anorganik yang dapat disaring dengan kertas millipore
berpori-pori 0,45 m.
Bagian VII. UTILITY SISTEM

Utility System :

1. Water System
2. Air Handling Unit (Heating, Ventilating, Air Conditioning)
3. Steam System

Water System
Tujuan : menghilangkan cemaran sesuai dengan standar kualitas air yang ditetapkan

Kualifikasi air :
a Grade I : Raw Water (untuk pemadam kebakaran dan menyiram tanaman)
b

Grade II : Pottable Water (untuk cuci pakaian, pembersihan


ruangan, cuci tangan, kamar mandi)

Grade III : Purified Water (cuci akhir kontainer, cuci akhir wadah,
produksi sirup/tablet, coating)

Grade IV : Water for injection (cuci akhir kontainer steril, cuci


vial/ampul, produksi steril)

Sistem Pengolahan :

Menghilangka
n unsur besi

(Disebut juga
multimedia
filter)
Mengilangkan
lumpur,
endapan,

Pertukaran
Menghilangka
kation
Mg2+
n mineral
dan
Ca2+
dengan ion Na+
Saringan
mikro (3, 1,
0.2 mikro)

Membunuh
bakteri

Menghilangka
n ion ion
Mencegah
tumbuh
mikroba

Menghilangkan
kandungan
ozon & bunuh
bakteri

HVAC

Mengihlangkan
klorin, warna,
bau,
zat
organik

Loopin
g

USER

Di resirkulasi (kecuali untuk udara di produksi

Tujuan : Mencegah kontaminasi silang, mengendalikan temperatur,


mengendalikan kelembaban, mengendalikan pertumbuhan mikroba sesuai
persyaratan

explossion proove room

Sistem AHU
Saluran tertutup
tempat mengalirkan
udara ke luar

Menurunkan suhu
yang masuk &
mengontrol
kelembaban

Menggerakan
udara sepanjang
sist. distrribusi
Mengatur volume
udara yg akan
dikeluarkan

Steam System

Tujuan : Sebagai sumber panas (heater) karena tidak diperbolehkan adanya


api terbuka yang dapat menyebabkan kontaminan produksi dan bahaya
kebakaran.

Untuk : Mengeringkan granul, Memasak air (double jacket vessel), sterilisasi (otoklaf)
Sistem Boiler Steam :
Tempat
penampungan
air
panas
dan pembangkitan s
Tempat
Sbg.
Penghilang
Penukar
panas
team
pembakaran
gas dari
air air
&
dari
gas ke
bahan
bakar
pemanas
awal
yang
masuk

Sal
pembuangan
endapan dalam pipa
steam

Sal
pembuangan
steam jika tekanan
terlalu tinggi

Pemanas udara luar


yg
diserap
(meminimalisir
udara lembab)

Tempat
pengeringan steam
dan siap dikirim

Alur Sistem Uap Air

Uap panas dihasilkan


dari
air
yang
dipanaskan lalu akan
mengalir karena ada
tekanan

Didistribusikan
melalui jalurnya

Uap
air
diguanakn
untuk proses

Kondensat
yang
dihasilkan dikembalikan
ke boiler