Anda di halaman 1dari 22

SEMINAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

MAKALAH
AKUNTANSI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK
Dosen Pengampu : Dr. Endar Pituringsih, SE, M.Si. Ak, CA

Oleh
Kelompok 1 :
ABDUL MUFAKHIR
ASIH TRISNAWATI
BQ. VERA FEBRINA ANGRI
EVY KURNIATI
RAMLI AHMAD

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akuntansi merupakan aktivitas jasa untuk menyediakan informasi yang
diperlukkan dalam pengambilan keputusan. Pada sektor publik, pengambilan
keputusan terkait dengan keputusan ekonomi, sosial dan politik. Akuntansi keungan
dapat didefinisikan sebagai suatu prinsip, metode, dan teknik pencatatan dan
pengorganisasian data keuangan atas kegiatan suatu entitas untuk menghasilkan dan
memberikan informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang
rasional. Perkembangan kegiatan pemerintahan atau dikenal akuntansi sektor publik
dan organisasi non-laba terus meningkat sejalan dengan perkembangan kegiatan
pembangunan, globalisasi dan era informasi. Dalam melaksanakan kegiatan yang
semakin rumit, informasi memegang peranan semakin penting. Salah satu informasi
yang dibutuhkan adalah informasi akuntansi sektor publik, baik untuk tujuan
pertanggungjawaban maupun manajerial.
Akuntansi sektor publik memiliki peran penting untuk menyiapkan laporan
keuangan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas publik. Akuntansi dan
laporan keuangan mengandung pengertian sebagai suatu proses pengumpulan,
pengolahan, dan pengkomunikasian informasi yang bermanfaat untuk pembuatan
keputusan dan untuk menilai kinerja organisasi. Informasi keuangan bukan
merupakan tujuan akhir akuntansi sektor publik. Informasi keuangan berfungsi
memberikan dasar pertimbangan untuk pengambilan keputusan serta alat untuk
melaksanakan akuntabilitas sektor publik secara efektif.
Sektor publik merupakan organisasi yang kompleks dan heterogen.
Kompleksitas sektor publik tersebut menyebabkan kebutuhan informasi untuk
perencanaan dan pengendalian manajemen lebih bervariasi. Demikian juga
bagi stekeholdersektor publik, mereka membutuhkan informasi yang lebih
bervariasi, handal, dan relevan untuk pengambilan keputusan. Karena kebutuhan
informasi di sektor publik lebih bervariasi, maka informasi tidak terbatas pada
informasi keuangan yang dihasilkan dari sistem akuntansi organisasi. Informasi nonmoneter seperti ukuran output pelayanan juga, harus dipertimbangkan dalam
pembuatan keputusan.
1

1.2.

Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dibahas

lebih lanjut dalam makalah ini, sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimanakah teori dan pengertian akuntansi sektor publik?


Mengapa perlu adanya akuntansi dalam sektor publik?
Bagaimanakah aturan dasar dan standar akuntansi keuangan sektor publik?
Bagaimanakah siklus akuntansi keuangan sector publik?
Bagaimanakah analisis laporan keuangan sektor publik?
1.3.

1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini, adalah :
Untuk mengetahuiteori dan pengertian akuntansi sektor publik.
Untuk memahami perlunya akuntansi dalam sektor publik.
Mengetahuiaturan dasar dan standar akuntansi keuangan sektor publik.
Mengetahui siklus akuntansi keuangan sektor publik.
Memahami analisis laporan keuangan sektor publik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.
Teori dan Pengertian Akuntansi Sektor Publik
2.1.1. Teori Akuntansi Sektor Publik
Teori Akuntansi Sektor Publik Akuntansi sektor publik dapat diartikan
sebagai mekanisme teknik dan analisa akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan
dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi Negara dan departemen-departemen
dibawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun
pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta. Terdapat kaitan yang erat
antara teori akuntansi dengan akuntansi keuangan, terutama pelaporan keuangan
kepada pihak ekstemal.
Menurut Mardiasmo (2009) teori akuntansi memiliki tiga karakteristik dasar
yaitu : (1) kemampuan untuk menerangkan atan menjelaskan fenomena yang ada
(the ability to explain), (2) kemampuan mengendalikan fenomena (the ability to
control given phenomena), (3) kemampuan untuk memprediksi (the ability to
predict). Sedangkan dasar dari tujuan untuk mempelajari teori akuntansi yaitu:
mempelajari kelemahan dan kekurangan dan praktik akuntansi yang saat ini
dilakukan, memahami praktik akuntansi yang ada saat ini, dan memperbaiki praktik
akuntansi di masa datang.
Akuntansi sektor publik sendiri merupakan salah satu cabang dari ilmu
akuntansi. Oleh karena itu, pengembangan teori akuntansi publik sangat tergantung
pada perkembangan ilmu akuntansi.Pengembangan akuntansi sektor publik
dilakukan untuk memperbaiki praktik yang saat ini dilakukan. Hal ini terkait dengan
upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan sektor publik, yaitu laporan
keuangan yang mampu menyajikan informasi keuangan yang relevan dan dapat
diandalakan (reliable).Untuk menghasilkan laporan keuangan sektor publik yang
relevan dapat diandalkan, terdapat beberapa kendala (constraints) atau hambatan
yang dihadapi akuntansi sektor publik. Hambatan tersebut adalah: objektivitas,
konsistensi, daya banding, tepat waktu, ekonomis dalam penyajian laporan, dan
materialitas.

1. Objektifitas
Obyektivitas merupakan kendala utama dalam menghasilkan laporan keuangan
yang relevan. Laporan keuangan disajikan oleh manajemen untuk melaporkan
kinerja yang telah dicapai oleh manajemen selama periode waktu tertentu kepada
pihak eksternal yang menjadi stakeholder organisasi.
Seringkali terjadi masalah objektivitas laporan kinerja disebabkan oleh adanya
benturan kepentingan manajemen dengan kepentingan stakeholder. Manajemen
memiliki dorongan untuk memilih dan menerapkan teknik akuntansi yang bisa
menginformasikan laporan keuangan secara lebih baik sebagai ukuran kinerja
organisasi. Oleh karena itu, teknik akuntansi yang digunakan manajemen harus
memiliki derajat objektivitas yang dapat diterima semua pihak yang menjadi
stakeholder.
2. Konsistensi
Konsistensi mengacu pada penggunaan metode atau teknik akuntansi yang sama
untuk menghasilkan laporan keuangan organisasi selama beberapa periode
waktu secara berturut-turut. Tujuannya adalah agar laporan keuangan dapat
diperbandingkan kinerjanya dari tahun ke tahun. Konsistensi penerapan metode
akuntansi merupakan hal yang sangat penting karena organisasi memiliki
orientasi jangka panjang (going concern) sedangkan laporan keuangan hanya
melaporkan kinerja selama satu periode. Oleh karena itu, agar tidak terjadi
keterputusan proses evaluasi kinerja organisasi oleh pihak eksternal, maka
organisasi perlu konsisten dalam menerapkan metode akuntansinya.
3. Daya banding
Laporan keuangan sektor publik hendaknya dapat diperbandingkan antar periode
waktu dan dengan instansi lain yang sejenis. Kendala daya banding terkait
dengan objektifitas karena semakin objektif suatu laporan keuangan maka akan
semakin tinggi daya bandingannya karena dengan dasar yang sama akan dapat
dihasilkan laporan yang berbeda.
4. Tepat waktu
Laporan keuangan harus disajikan tepat waktu agar dapat digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial, politik serta untuk menghindari
tertundanya pengambilan keputusan tersebut. Kendala ketepatan waktu
penyajian laporan terkait dengan lama waktu yang dibutuhkan oleh organisasi
4

untuk menghasilkan laporan keuangan. Semakin cepat waktu penyajian laporan


keuangan, maka akan semakin baik untuk pengambilan keputusan. Namun
permasalahannya adalah semakin banyak kebutuhan informasi, maka semakin
banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan berbagai informasi
tersebut.
5. Ekonomis dalam Penyajian laporan
Penyajian laporan keuangan membutuhkan biaya. Semakin banyak informasi
yang dibutuhkan, semakin banyak pula biaya yang dibutuhkan. Kendala
ekonomis dalam penyajian laporan keuangan bisa berarti bahwa manfaat yang
diperoleh harus lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan
laporan tersebut.
6. Materialitas
Suatu informasi dianggap material apabila mempengaruhi keputusan, atau jika
informasi tersebut dihilangkan akan menghasilkan keputusan yang berbeda.
Penentuan materialitas memang bersifat pertimbangan subjektif (subjective
judgement), namun pertimbangan tersebut tidak dapat dilakukan menurut selera
pribadi. Pertimbangan yang digunakan merupakan professional judgement yang
mendasarkan pada teknik tertentu.
2.1.2. Pengertian Akuntansi Sektor Publik
Akuntansi sektor publik merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan
(purpose activity). Tujuan akuntansi diarahkan untuk mencapai hasil tertentu dan
hasil tersebut harus memiliki manfaat. Dari perspektif ilmu ekonomi, sektor publik
dapat di pahami sebagai suatu entitas yaitu aktivitasnya berhubungan dengan usaha
menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan
hak publik. Dalam beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi
pada sektor swasta.
Akuntansi sektor publik memiliki kaitan yang erat dengan penerapan dan
perlakuan akuntansi pada domain publik..domain publik sendiri memiliki wilayah
yang lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan sektor swasta. Keluasan wilayah
publik tidak hanya di sebabkan luasnya jenis dan bentuk organisasi yang berada di
dalamnya, akan tetapi juga karena kompleksnya lingkungan yang mempengaruhi
lembaga-lembaga publik tersebut. Secara kelembagaan domain publik meliputi
5

lembaga lembaga pemerintahan (pemerintah pusat dan daerah serta unit kerja
pemerintah), peusahaan milik negara (BUMN dan BUMD), yayasan , organisasi
politik dan organisasi massa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Universitas dan
organisasi nirlaba lainnya
Beberapa tugas dan fungsi sektor publik sebenarnya dapat juga dilakukan
oleh sektor swasta, misalnya tugas untuk menghasilkan beberapa jenis pelayanan
publik, seperti layanan komunikasi , penarikan pajak , pendidikan transportasi
publik, dan sebagainya. Akan tetapi untuk tugas tertentu keberadaaan sektor publik
tidak dapat tergantikantikan oleh sektor swasta, misalnya fungsi birokrasi
pemerintahan . sebagai konsekuensinya, akuntansi sektor publik dalam beberapa hal
berbeda dengan akuntansi sektor swasta. Saat ini akuntansi sektor publik di
Indonesia memiliki perkembangann yang cukup berarti, salah satunya di tandai
dengan lahirnya peraturan perudang undangan yang mengatur tentang penerapan
akuntansi sektor publik khusus di pemerintahan. Perkembangan akuntansi sektor
publik meliputi bidang konsentrasi :
1. Akuntansi keuangan (financial accounting)
2. Akuntansi manajemen (management accounting)
3. Pemeriksaan (auditing)
Perkembangan

akuntansi

keuangan

sektor

publik

khususnya

pada

pemerintahan ditandai dengan adanya standar akuntansi pemerintahan (SAP).


2.2.

Perlunya Akuntansi Sektor Publik


Akuntansi merupakan Aktivitas jasa untuk menyediakan informasi yang

diperlukan dalam pengambilan keputusan terkait denga kepitusan ekonomi, sosial


dan politik. Pada dasarnya akuntansi baik pada sektor swasta maupun sektor publik,
dapat di bagi menjadi 2 bagian yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.
Ruang lingkup akuntansi keuangan pemerintah meliputi semua kegiatan yang
mencakup pengumpulan data, penganalisaan, pencatatan dan pelaporan atas
transaksi keuangan pemerintah sebagai suatu entitas, serta penafsiran terhadap
hasil - hasilnya. Masisi (1978) dalam Glynn (1993) menjelaskan aturan dasar sistem
akuntansi keuangan sebagai berikut :
1. Identifikasi kegiatan operasi yang relevan. Hanya kejadian dan kegiatan
ekonomi yang relevan saja yang akan di catat dalam sistem akuntansi keuangan.
6

2. Pengklasifikasian kegiatan operasi secara tepat; Penentuan waktu pengakuan


untuk setiap jenis operasi (timing of recognition). Pada prinsipnya , suatu operasi
dapat dicatat/atau diakui pada tahap tertentu dari proses transaksi. misalnya
pembelian dapat diakui/dicatat ketika keputusan untuk membeli suatu barang di
tetapkan, pada waktu dilakukan pemesanan , ketika barang di terima , ketika
faktur di terima, ketika barang tersebut di gunakan untuk proses produksi, atau
ketika telah dilakukan pembayaran kas. Oleh karena itu harus di tetapkan kapan
suatu transaksi dapat di akui/dicatat.
3. Adanya sistem pengendalian untuk menjamin reliabilitas. Sistem pengendalian
ini memiliki dua komponen yaitu komponen formal dan substansial. Komponen
formal adalah pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) : kesalahan
akuntansi akan dapat diketahui dan dilacak ketika jumlah sisi kredit tidak sama
dengan sisi debit. Komponen substansial merupakan mekanisme konflik
kepentingan(conflict

of

interest) :

kesalahan

akuntansi

muncul

ketika

mempengaruhi secara negatif pihak ketiga. Sebagai contoh, jika utang tidak
dicatat dengan baik, jumlah yang dibayarkan kepada kreditor akan berbeda
dengan jumlah yang seharusnya di terima sebagaimana tercatat dalam akun
piutang yang di akui kreditor.
4. Menghitung pengaruh masing - masing operasi Terdapat beberapa kesamaan
akuntansi keuangan baik pada sektor publik maupun sektor swasta. Sebagai
contoh , pada kedua sektor tersebut di rekomendasikan untuk menggunakan
sistem pembukuan berpasangan dalam mencatat akun akun transaksi . kedua
sektor sama

sama membutuhkan standar akuntansi keuangan sebagai

pedoman pencatatan agar terdapat perlakuan yang sama terhadap suatu transaksi.
Siklus akuntansi pada kedua sektor tidak jauh berbeda.
Akuntansi keuangan sektor publik terkait dengan tujuan dihasilkannya
laporan eksternal dan penghitungan biaya pelayanan. Oleh karena itu , akuntansi
keuangan sektor publik pada dasarnya berbicara masalah tujuan laporan keuangan
sektor publik , jenis laporan keuangan sektor publik, sistem akuntansi, standar
keuangan akuntansi sektor publik, dan akuntansi biaya sektor publik. Akuntansi
biaya sektor publik sendiri bukan murni bagian dari akuntansi keuangan sektor
publik. Akuntansi biaya sektor publik merupakan hybrid dari akuntansi keuangan
dan akuntansi manajemen sektor publik.
7

2.3.

Aturan Dasar dan Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik

2.3.1. Aturan Dasar Sistem Akuntansi Keuangan


Akuntansi merupakan aktivitas jasa untuk menyediakan informasi yang
diperlukan dalam pengambilan keputusan. Pada sektor publik, pengambilan
keputusan terkait dengan keputusan ekonomi, sosial, dan politik.
Ruang lingkup akuntansi keuangan pemerintah meliputi pengumpulan data,
penganalisaan, pengkiasifikasian, pencatatan dan pelaporan atas transaksi keuangan
pemerintah sebagai suatu entitas, serta penafsiran terhadap hasil-hasilnya. Aturan
dasar sistem akuntansi keuangan menurut Masisi (1978) dan Glynn (1993) sebagai
berikut :
1. Identifikasi kegiatan operasi yang relevan
Hanya kejadian dan kegiatan ekonomi yang relevan saja yang akan dicatat dalam
sistem akuntansi keuangan.
2. Pengkiasifikasian kegiatan operasi secara tepat
Pengklasifikasian kegiatan dilakukan sesuai dengan penentuan waktu pengakuan
untuk setiap jenis operasi (timing of recognition).
3. Adanya sistem pengendalian untuk menjamin reliabilitas
Sistem pengendalian ini memiliki dua komponen, yaitu komponen formal dan
substansial. Komponen formal adalah pembukuan berpasangan (double entry
bookkeeping), kesalahan akuntansi akan dapat dilacak ketika jumlah sisi kredit
tidak sama dengan sisi debet. Komponen substansial merupakan mekanisme
konflik kepentingan (conflict of interest), kesalahan akuntansi muncul ketika
mempengaruhi secara negatif pihak ketiga.
4. Menghitung pengaruh masing-masing operasi
Terdapat beberapa kesamaan akuntansi keuangan baik pada sektor publik
maupun swasta. Kedua sektor sama-sama membutuhkan standar akuntansi
keuangan sebagai pedoman pencatatan agar terdapat perlakuan yang sama
terhadap transaksi.
Akuntansi keuangan sektor publik terkait dengan tujuan dihasilkannya
laporan eksternal dan perhitungan biaya pelayanan. Pada dasarnya akuntansi
keuangan sektor publik berbicara mengenai tujuan laporan keuangan sektor publik,
jenis laporan keuangan sektor publik, sistem akuntansi, standar akuntansi keuangan
sektor publik dan akuntansi biaya sektor publik.
8

Sistem akuntansi pemerintah daerah meliputi serangkaian proses ataupun


prosedur, baik manual maupun terkomputerisasi, yang dimulai dari pencatatan,
penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian keuangan serta pelaporan
keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang berkaitan
dengan pengeluaran pemerintah daerah. Berdasarkan Permendagri Nomor 13/2006,
sistem akuntansi pemerintah daerah dikoordinasikan oleh Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah (PPKD). PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan
daerah (Kepala SKPKD). Pejabat ini bertugas untuk melaksanakan pengelolaan
APBD dan bertindak sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD). Dalam sistem ini,
PPKD dibantu oleh PPK-SKPD melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada
SKPD. Pejabat ini bertugas mengloordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur
penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran di tingkat SKPD.
Sistem akuntansi pemerintah daerah secara garis besar terdiri atas 4 (empat)
prosedur akuntansi yaitu :
1. Prosedur akuntansi penerimaan kas
Prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi,
mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian
keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan penerimaan kas pada SKPD atau
SKPKD.
2. Prosedur akuntansi pengeluaran kas
Dalam prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun
terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan
transaksi dan kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan pengeluaran kas
pada SKPD atau SKPKD.
3. Prosedur akuntansi selain kas
Prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi,
mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian
keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan transaksi dan kejadian keuangan
selain kas pada SKPD atau SKPKD.
4. Prosedur akuntansi aset
Prosedur akuntansi aset meliputi serangkaian proses, baik manual maupun
terkomputerisasi, mulai dari pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan,
9

10

hingga pemeliharaan, rehabilitasi, penghapusan, pemindahan, perubahan


klasifikasi dan penyusutan terhadap aset yang dikuasai/digunakan SKPKD
dan/atau SKPD. Prosedur akuntansi digunakan sebagai alat pengendalian dalam
pengelolaan aset yang dikuasai/digunakan SKPD dan/atau SKPKD
2.3.2. Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik
Standar akuntansi merupakan pedoman atau prinsip-prinsip yang mengatur
perlakuan akuntansi dalm penyusunan laporan keuangan untuk tujuan pelaporan
kepada para pengguna laporan keuangan, sedangkan prosedur akuntansi merupakan
praktik khusus yang digunakan untuk mengimplementasikan standar. Untuk
memastikan diikutinya prosedur yang telah ditetapkan, sistem akuntansi sektor
publik harus dilengkapi dengan sistem pengendalian intern atas penerimaan dan
pengeluaran dana publik.
Standar akuntansi diperlukan untuk menjamin konsistensi dalam pelaporan
keuangan. Tidak adanya standar akuntansi yang memadai akan menimbulkan
implikasi negatif berupa rendahnya reliablitas dan objektivitas informasi yang
disajikan, inkonsistensi dalam pelaporan keuangan serta menyulitkan dalam
pengauditan.
Manfaat Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik ( SAKSP ) adalah :
1. Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuangan
organisasi sektor publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan.
2. Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian.
3. Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan
keuangan
4. Mengusahakan harmonisasi antar yurisdiksi dengan menggunakan dasar
akuntansi yang sama.
Penentuan mekanisme yang terbaik dalam menetapkan keseragaman standar
akuntansi merupakan faktor penting agar standar akuntansi dapat diterima pihakpihak yang berkepentingan dan bermanfaat bagi pengembangan akuntansi sektor
publik itu sendiri.
Menurut Mardiasmo (2009), ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan
dalam penetapan standar akuntansi, antara lain:

10

11

1. Standar memberikan pedoman tentang informasi yang harus disajikan dlm


laporan posisi keuangan, kinerja dan aktivitas organisasi bagi pengguna
informasi.
2. Standar memberikan petunjuk dan aturan tindakan bagi auditor yang
memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat menggunakan
keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan organisasi serta saat
membuktikan kewajarannya.
3. Standar memberikan petunjuk tentang kumpulan data yang perlu disajikan
berkaitan dengan berbagai variabel yang patut dipertimbangkan dalam bidang
perpajakan, regulasi, perencanaan, regulasi ekonomi dan peningkatan efisiensi
ekonomi serta tujuan sosial lainnya.
4. Standar menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi pihak yang
berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan penetapan standar
adalah menghindari terjadi standar yang overload. Standar yang overload terjadi
ketika :
1. Standar terlalu banyak
2. Standar terlalu rumit
3. Standar tidak tegas (rigid) sehingga sulit membuat pilihan dalam penerapannya
4. Standar mempunyai tujuan yang sifatnya umum (general-purposes standards)
sehingga gagal dalam menyajikan perbedaan kebutuhan diantara para penyaji
dan pengguna.
5. Standar kurang spesifik sehingga gagal dalam mengidentifikasi perbedaan antara
:
a. Entitas publik dan entitas non-publik
b. Laporan keuangan tahunan dan interim
c. Organisasi besar dan kecil
d. Laporan keuangan auditan dan non-auditan
6. Pengungkapan yang berlebihan dan/atau pengukuran yg terlalu kompleks
2.4.

Siklus Akuntansi Keuangan Sektor Publik


Akuntansi pada dasarnya merupakan suatu proses pengolahan informasi

yang menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi, yang salah satu bentuknya
adalah laporan keuangan. Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses
11

12

akuntansi, yaitu aktivitas pengumpulan dan pengolahan data keuangan untuk


disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar-ikhtisar lainnya yang dapat
digunakan untuk membantu para pemakainya dalam mengambil keputusan.
Penyusunan suatu laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan
dipertanggung-jelaskan serta dapat diterima secara umum, didasari pada prinsip
akuntansi, prosedur-prosedur, metode-metode, serta teknik-teknik yang tercakup
dalam ruang lingkup akuntansi. Aturan penyusunan suatu laporan keuangan dapat
disebut sebagai siklus akuntansi.
Siklus akuntansi merupakan sistematika pencatatan transaksi keuangan,
peringkasannya, dan pelaporan keuangan
Siklus akuntansi merupakan suatu proses penyediaan laporan keuangan
organisasi suatu periode akuntansi tertentu.
Siklus akuntansi terbagi menjadi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan selama
periode tersebut, bersumber dari transaksi atau kejadian selanjutnya dimulailah
siklus akuntansi dimulai dari : penjurnalan transaksi atau kejadian, pemindahbukuan
ke dalam buku besar, dan penyiapan laporan keuangan pada akhir periode.
Pekerjaan yang dilakukan pada akhir periode termasuk mempersiapkan akun
untuk mencatat transaksi-transaksi pada periode selanjutnya. Banyaknya langkah
yang harus dilakukan pada akhir periode secara tidak langsung menunjukkan bahwa
sebagian besar pekerjaan dilakukan pada bagian akhir. Walaupun demikian,
pencatatan dan pemindahbukuan selama periode tersebut membutuhkan waktu lebih
lama dibandingkan dengan pekerjaan di akhir periode
Siklus akuntansi dimulai dari pencatatan transaksi pertama sampai dengan
penyusunan laporan keuangan dan penutupan pembukuan secara keseluruhan, dan
siap untuk pencatatan transaksi periode selanjutnya.
Untuk dapat menyediakan data, setiap transaksi perlu diklasifikasikan, diringkas,
dan kemudian disajikan dalam bentuk laporan. Mulai dari kegiatan pencatatan
sampai dengan penyajian disebut proses akuntansi yang terdiri dari beberapa
kegiatan sebagai berikut:
1. Pencatatan dan Penggolongan
Bukti-bukti

pembukuan

dicatat

dalam

buku

jurnal. Transaksi-transaksi

yang sama yang sering terjadi dicatat dalam buku jurnal khusus.
2. Peringkasan/pengikhtisaran
12

13

Transaksi-transaksi yang sudah dicatat dan digolongkan dalam buku jurnal,


setiap bulan atau periode tertentu diringkas dan dibukukan dalam rekeningrekening buku besar.
3. Penyajian/Pelaporan
Data akuntansi yang tercatat dalam rekening-rekening buku besar akan disajikan
dalam bentuk laporan keuangan yaitu neraca, laporan surplus defisit, laporan
arus kas dan laporan perubahan ekuitas. Penyerderhanaan pekerjaan penyusunan
laporan keuangan biasanya dilakukan melalui neraca lajur.
Bukti-bukti pembukuan dicatat dalam buku jurnal setiap terjadi transaksi
secara kronologis.Tembusan bukti-bukti pembukuan dibukukan ke dalam buku
pembantu setiap terjadi transaksi. Setiap bulan atau periode tertentu, buku jurnal
dijumlah dan dibukukan ke akun-akun dalam buku besar.Setiap akhir periode dari
buku besar disusun laporan-laporan keuangan. Sistem akuntansi yang baik dapat
memastikan berjalannya proses penyusunan laporan keuangan, seperti:
1. Bukti-bukti pembukuan, yang merupakan catatan pertama dari setiap transaksi
dan digunakan sebagai dasar pencatatan dalam buku jurnal.
2. Buku-buku jurnal, sering disebut dengan buku catatan pertama, merupakan buku
yang digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi sesuai dengan tanggal
terjadinya (kronologis), dan sumber pencatatannya berasal dari bukti-bukti
pembukuan. Apabila suatu transaksi yang sama sering terjadi, biasanya
dibuatkan buku jurnal khusus yang digunakan untuk mencatat suatu jenis
transaksi tertentu seperti jurnal pengeluaran kas, dan lain-lain.
2.5.
Analisis Laporan Keuangan Sektor Publik
2.5.1. Komponen-komponen Laporan Keuangan Sektor Publik
Laporan keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan
dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik. Tujuan
umum pelaporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja, dan arus kas dari suatu entitas yang berguna bagi sejumlah besar
pemakai (wide range users)

dalam membuat dan

mengevaluasi keputusan

mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu entitas dalam
aktivitasnya untuk mencapai tujuan.
Adapunkomponen komponen dalam laporan keuangan sektor publikterdiri
dari:
13

14

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)


2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)
3. Neraca
4. Laporan Operasional (LO)
5. Laporan Arus Kas (LAK)
6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
2.5.2. Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik
Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah :
1. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan
ekonomi,sosial,

dan

politik

serta

sebagai

bukti

pertanggungjawaban

(accontability) dan pengelolaan (stewardship).


2. Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja
manajerial dan organisasional. Laporan keuangan untuk mendukung pembuatan
keputusan ekonomi, sosial, dan politik tersebut meliputi informasi yang
digunakan untuk :
a. Membandingkan kinerja keuangan aktual dengan yang dianggarkan
b. Menilai kondisi keuangan dan hasil-hasil operasi
c. Membantu menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan
yang terkait dengan masalah keuangan lainnya.
d. Membantu dalam mengevaluasi efisiensi dan efektivitas
Laporan keuangan sebagai sumber informasi finansial memiliki pengaruh
yang sangat besar terhadap kualitas keputusan yang dihasilkan. Laporan keuangan
merupakan tindakan pragmatis, oleh karena itu laporan keuangan pemerintah harus
dievaluasi dalam hal manfaat laporan tersebut terhadap kualitas keputusan yang
dihasilkan serta mudah tidaknya laporankeuangan tersebut oleh pemakai.Dalam
konteks akuntansi sektor publik, jenis informasi yang diberikan untuk pengambilan
keputusan adalah terbatas pada informasi yang bersifat finansial saja, sedangkan
informasi finansial itu sendiri adalah informasi yang diukur dengan satuan moneter.
Secara

rinci

tujuan

akuntansi

dan

laporan

keuangan

organisasi

pemerintah adalah :

14

15

1. Memberikan informasi keuangan untuk menemukan dan memprediksi aliran kas,


saldoneraca, dan kebutuhan sumber daya financial jangka pendek unit
pemerintah.
2. Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi kondisi
ekonomisuatu unit pemerintahan dan perubahan-perubahan yang terjadi di
dalamnya.
3. Memberikan informasi keuangan untuk memonitor kinerja, kesesuiannya
denganperaturan perundang-undangan, kontrak yang telah di sepakati, dan
ketentuan lain yangdi syaratkan.
4. Memberikan informasi untuk perencanaan dan penganggaran, serta untuk
memprediksipengaruh akuisisi dan alokasi sumber daya terhadap pencapaian
tujuan operasional.
5. Memberikan informasi untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan operasional.
2.5.3. Akuntabilitas Keuangan Sektor Publik
Konsep Akuntabilitas mencakup eksistensi dari suatu mekanisme (baik
secara konstitusional maupun keabsahan dalam bentuknya), yang meyakinkan
politisi dan pejabat pemerintahan terhadap aksi perbuatannya dalam penggunaan
sumber-sumber publik

dan kinerjaperilakunya. Akuntabilitas

membutuhkan

keterbukaan dan kejelasan serta keterhubungan dengankebebasan media. Aplikasi


akuntabilitas atau bertanggungjawab dalampenyelenggaraan pemerintahan diawali
pada saat penyusunan program pelayanan publik danpembangunan (program
accountability), pembiayaannya (fiscal accountability), pelaksanaan,pemantauan
dan

penilaiannya

(process

accountability)

sehingga

program

tersebut

dapatmemberikan hasil atau dampak seoptimal mungkin, sesuai dengan sasaran atau
tujuan yang ditetapkan (outcome accountability).
Menurut LAN RI dan BPKP (2001: 29) menjelaskan akuntabilitas keuangan
merupakan pertanggung jawaban mengenai integritas keuangan, pengangkatan dan
ketaatan terhadap peraturan perundangan. Sasaran pertanggung jawaban ini adalah
laporan keuangan yang disajikan dan peraturan perundangan yang berlaku yang
mencakup penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang oleh instansi
pemerintah.
Akuntabilitas keuangan merupakan pertanggungjawaban mengenai:
Integritas Keuangan
Pengungkapan
15

16

Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan


Sasaran pertanggungjawaban ini adalah laporan keuangan yang disajikan dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mencakup penerimaan,
penyimpanan,

dan

pengeluaran

uang

oleh

instansi

pemerintah.

Dengan

dilaksanakannya ketiga komponen tersebut dengan baik akan dihasilkan suatu


informasi yang dapat diandalkan dalam pengambilan keputusan, informasi tersebut
akan

tercermin

didalam

laporan

keuangan

yang

merupakan

media

pertanggungjawaban. Integritas keuangan, pengungkapan dan ketaatan terhadap


peraturan perundang-undangan menjadi indikator dari akuntabilitas keuangan.
1. Integritas Keuangan
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, integritas adalah kejujuran, keterpaduan,
kebulatan, keutuhan. Dengan kata lain integritas keuangan mencerminkan
kejujuran penyajian. Kejujuran penyajian adalah bahwa harus ada hubungan atau
kecocokan antara angka dan deskripsi akuntansi dan sumber-sumbernya.
Integritas keuangan pun harus dapat menyajikan informasi secara terbuka
mengenai laporan keuangan daerah.Agar laporan keuangan dapat diandalkan
informasi yang terkandung didalamnya harus menggambarkan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara
wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
Penyajian secara wajar yang dimaksud adalah pertimbangan sehat bagi
penyusunan laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian
peristiwa dan keadaan tertentu. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan
pengungkapan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan
sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung
unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian
sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban
tidak dinyatakan terlalu rendah.
2. Pengungkapan
Konsep full disclosure (pengungkapan lengkap) mewajibkan agar laporan
keuangan didesain dan disajikan sebagai kumpulan potret dari kejadian ekonomi
yang mempengaruhi instansi pemerintah untuk suatu periode dan berisi cukup
informasi. Yang menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna laporan keuangan sehingga membuat pemakai laporan keuangan
16

17

paham dan tidak salah tafsir terhadap laporan keuangan tersebut. Pengungkapan
lengkap merupakan bagian dari prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan,
dimana laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan
oleh pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan
dapat ditempatkan pada lembar muka laporan keuangan atau catatan atas laporan
keuangan.
3. Ketaatan terhadap Peraturan Perundang-undangan
Akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah harus menunjukkan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan, antara lain:

Undang-undang Dasar Republik Indonesia khususnya yang mengatur


mengenai keuangan Negara.

Undang-undang Perbendaharaan Indonesia

Undang-undang APBN

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemerintah daerah

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perimbangan


keuangan pusat dan daerah

Ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang pelaksanaan


APBN/APBD

Peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur tentang keuangan


pusat dan daerah.

Apabila terdapat pertentangan antara standar akuntansi keuangan pemerintah


dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka yang berlaku
adalah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Kriteria akuntabilitas keuangan adalah sebagai berikut :
a. Pertanggungjawaban dana publik
b. Penyajian tepat waktu
c. Adanya pemeriksaan (audit)/respon pemerintah.
2.5.4. Pemakai Laporan Keuangan Sektor Publik dan Kepentingannya
Pada bahasan ini akan dilakukan pengklasifikasian pengguna laporan
keuangan dan kebutuhan masing-masing kelompok pengguna laporan keuangan
sector publik tersebut. Drebin et al. (1981), mengidentifikasikan terdapat sepuluh
kelompok pemakai laporan keuangan. Lebih lanjut Drebin menjelaskan keterkaitan
17

18

antar

kelompok

pemakai

laporan

keuangan

tersebut

dan

menjelaskan

kebutuhannya. Kesepuluh kelompok pamakai laporan keuangan tersebut adalah:


1. Pembayar pajak (taxpayers)
2. Pemberi dana bantuan (grantors)
3. Investor
4. Pengguna jasa (fee-paying service recipients)
5. Karyawan/pegawai
6. Pemasok (vendor)
7. Dewan legislatif
8. Manajemen
9. Pemilih (voters)
10. Badan pengawas (oversight bodies)
Pengklasifikasian tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa pembayar
pajak, pemberi dana bantuan, investor, dan pembayar jasa pelayanan merupakan
sumber penyedia keuangan organisasi, karyawan dan pemasok merupakan penyedia
tenaga kerja dan sumber daya material, dewan legislatif dan manajemen membuat
keputusan alokasi sumber daya dan aktivitas mereka semua diawasi oleh pemilih
dan badan pengawas, termasuk level pemerintahan yanglebih tinggi.

2.5.5. Hak dan Kebutuhan Pemakai Laporan Keuangan


Pada

dasarnya

masyarakat

(publik)

memiliki

hak

dasar

terhadap

pemerintah, yaitu :
a. Hak untuk mengetahui (right to know), yaitu suatu kebijakan dan keputusan
tertentu.
b. Hak untuk diberi informasi (right to be informed), yang meliputi hak untuk
diberi penjelasansecara terbuka atas permasalahan-permasalahan tertentu yang
menjadi perdebatan publik.
c. Hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listen to)
18

19

Laporan keuangan pemerintah merupakan hak publik yang harus diberikan


oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hak publik atas informasi keuangan
muncul sebagai konsekuensi konsep pertanggungjawaban publik. Pertanggungjawaban publik mensyaratkan organisasi publik untuk memberikan laporan
keuangan

sebagai

bukti

pertanggungjawaban

dan

pengelolaan

(accountability and stewardship). Setiap pemakai laporan memiliki kebutuhan dan


kepentingan yang berbeda bedaterrhadap informasi keuangan yang diberikan oleh
pemerintah. Bahkan di antara kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dapat
timbul konflik kepentingan. Laporan keuangan pemerintah disediakan untuk
memberi informasi kepada berbagai kelompok pemakai, meskipunsetiap kelompok
pemakai memiliki kebutuhan informasi yang berbeda beda.
Kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan pemerintah tersebut dapat
diringkas sebagai berikut :
1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan informasi atas biaya,
harga, dankualitas pelayanan yang diberikan.
2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin mengetahui keberadaan
danpenggunaan dana yang telah diberikan. Publik ingin mengetahui apakah
pemerintah melakukan ketaatan fiskal dan ketaatan pada peraturan perundangan
atas pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.
3. Kreditor dan investor membutuhkan informasi untuk menghiitung tingkat risiko,
likuiditas, dan solvabilitas.

4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi keuangan untuk


melakukan fungsipengawasan, mencegah terjadinya laporan yang bias atas
kondisi keuangan pemerintah, dan penyelewengan keuangan negara.
5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai komponen sistem
informasi manajemen untuk membantu perencanaan dan pengendalian
organisasi, pengukuran kinerja, dan membandingkan kinerja organisasi antar
kurun waktu dan dengan organisasi lain yang sejenis.
6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen kompensasi.

19

20

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Teori akuntansi sektor publik dapat diartikan sebagai mekanisme teknik dan

analisa akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembagalembaga tinggi Negara dan departemen-departemen dibawahnya, pemerintah daerah,
BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun proyek kerjasama sektor publik
dan swasta. Akuntansi sektor publik merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan
yang diarahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki
manfaat. Perkembangan akuntansi sektor publik meliputi bidang konsentrasi :
akuntansi keuangan (financial accounting), akuntansi manajemen (management
accounting) dan pemeriksaan (auditing). Perkembangan akuntansi keuangan sektor
publik khususnya pada pemerintahan ditandai dengan adanya standar akuntansi
pemerintahan (SAP).Sistem akuntansi pemerintah daerah secara garis besar terdiri
atas 4 (empat) prosedur akuntansi yaitu : prosedur akuntansi penerimaan kas,
pengeluaran kas, selain kas dan asset. Sedangkan siklus akuntansi dimulai dari
pencatatan dan penggolongan, pengikhtisaran dan penyajian /pelaporan.
Adapunkomponen dalam laporan keuangan sektor publikterdiri dari: laporan
realisasi anggaran (LRA), laporan perubahan saldo anggaran lebih (Laporan
Perubahan SAL), neraca, laporan operasional (LO), laporan arus kas (LAK), laporan
perubahan ekuitas (LPE) dan catatan atas laporan keuangan (CaLK)
Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah
untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan
ekonomi,sosial, dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accontability)
dan pengelolaan (stewardship)serta sebagai sumber informasi yang digunakan untuk
mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional.Akuntabilitas keuangan
merupakan pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan, pengungkapan dan
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sasaran pertanggungjawaban ini
adalah laporan keuangan yang disajikan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku yang mencakup penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang oleh
instansi pemerintah.
20

21

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2003. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.


Drebin, A.R, Chan, J.L and Ferguson, L, C. 1981. Objectives of accounting and
Finacial Reporting For Govermental Unit : a Research Study National
Council on Govermental Accounting. Vol. 1 and 2 Chicago.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta : Andi.
Nordiawan, Deddi dan Ayuningtyas Hertiati. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi 2.
Jakarta : Salemba Empat.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta : Andi.
Nordiawan, Deddi, Iswahyudi Sondi Putra danMaulidah Rahmawati. 2007.
Akuntansi Pemerintah. Jakarta : Salemba Empat.
http://blogoblokgoblok.blogspot.co.id/2015/10/siklus-akuntansi-keuangan-sektorpublik.html. diakses tanggal 20 Nopember 2016.

21