Anda di halaman 1dari 25

AUDIT KEUANGAN NEGARA

MAKALAH
REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN
Dosen Pengampu : Dr. H. Ahmad Rifai

Oleh
Kelompok 3 :
ARDIANSYAH
I WAYAN SRI HARI MURTI
RAMLI AHMAD
SITA AWALUNNISAH

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Segala puji berserta syukur Kami serahkan kehadiran Allah swt yang telah
menciptakan manusia beserta alam dan isinya. Shalawat dan salam juga Kami
sanjung sajikan kepangkuan junjungan alam Nabi Muhammad SAW, yang telah
membawa ummat manusia dari alam yang tidak berilmu pengetahuan ke alam
yang berilmu pengetahuan, seperti sekarang ini. Serta para sahabat yang telah
mendahului
Akhirnya kami dapat mewujudkan satu karya tulis yang berbentuk
makalah ini untuk memenuhi mata kuliah Audit Keuangan Negara
Kami menyadari sebagai manusia dalam penyusunan makalah ini masih
sangat banyak kekurangan. Oleh karena itu, besar harapan Kami mendapat
masukan, saran dan kritikan dari pembaca karya tulis ini. Semoga makalah ini
dapat memberi solusi bagai permasalahan perekonomiaan di Indonesia serta dapat
bermanfaat bagi pembaca dari karya tulis ini.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Mataram, Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................
......................................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................
.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1
1.1. Latar Belakang
1
1.2. Rumusan Masalah
2
1.3. Tujuan Penulisan
3
BAB II PEMBAHASAN
4
2.1. Konsep dan Definisi Reviu Laporan Keuangan
.......................................................................................................
.......................................................................................................
5
2.2. Tujuan
Reviu
.......................................................................................................
.......................................................................................................
7

ii

2.3. Lingkup
dan
Sasaran
Reviu
.......................................................................................................
.......................................................................................................
8
2.4. Kompetensi
dan
Obyektivitas
Pereviu
.......................................................................................................
.......................................................................................................
9
2.5. Konsep
Keyakinan
Terbatas
atas
Hasil
Reviu
.......................................................................................................
.......................................................................................................
10
2.6. Tahapan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
.......................................................................................................
.......................................................................................................
11
BAB III PENUTUP
21
3.1. Kesimpulan
.......................................................................................................
.......................................................................................................
21

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Reviu Laporan Keuangan


Transparansi dalam pengelolaan keuangan negara merupakan salah
satu amanat konstitusi. UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) menyatakan bahwa
anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan
keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan
dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Ketentuan tersebut merupakan dasar perlunya
penerapan transparansi dan akuntabilitas yang harus dilakukan oleh
Pemerintah dalam mengelola keuangan negara. Penyampaian laporan
keuangan kepada DPR/DPRD dan masyarakat umum setelah diaudit oleh
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan salah satu bentuk
pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan pemerintahan pusat maupun
daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah.

Laporan Keuangan yang disampaikan tersebut

meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran


Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan
Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

Laporan Keuangan

tersebut harus disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah


Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota bertanggung
jawab secara formil dan materiil terhadap pelaksanaan APBN/APBD di
kementerian/lembaga/provinsi/kabupaten/kota

yang

berada

dalam

kewenangan masing-masing. Mengingat luasnya rentang kendali yang


berada

dalam

kewenangan

Menteri/Pimpinan

Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota, perlu adanya reviu oleh aparat


independen di lingkungan kementerian/lembaga/provinsi/kabupaten/kota

Reviu atas Laporan Keuangan

yang bersangkutan. Reviu dimaksud digunakan untuk membantu meyakini


bahwa laporan keuangan telah disusun dan disajikan sesuai Pemerintahan
(SAP). Dalam Pasal 33 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006
yang merupakan penjabaran dari Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003,
diatur bahwa Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan reviu atas
laporan keuangan dan kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan
informasi

yang

disajikan

Gubernur/Bupati/Walikota kepada

sebelum

disampaikan

oleh

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Pelaksanaan reviu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan keyakinan


terbatas bahwa laporan keuangan disajikan telah sesuai dengan SAP.
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang telah direviu
disampaikan kepada BPK untuk dilakukan pemeriksaan

dalam rangka

pemberian pendapat (opini).


Ada beberapa jenis reviu atas laporan keuangan pemerintah. Pasal
57 Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah menyatakan bahwa terdapat empat jenis
kegiatan reviu atas laporan keuangan pemerintah yang perlu ditetapkan
standarnya oleh Menteri Keuangan, yaitu:
1. reviu laporan keuangan kementerian negara/lembaga
2. reviu laporan keuangan pemerintah daerah provinsi
3. reviu laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota
4. reviu laporan keuangan pemerintah pusat

1.2. Rumusan Masalah


Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.
2.

Apa yang dimaksud dengan reviu atas laporan keuangan pemerintah?


Apa tujuan reviu atas laporan keuangan pemerintah?

Reviu atas Laporan Keuangan

3.

Apa saja ruang lingkup dan sasaran reviu atas laporan keuangan

4.
5.

pemerintah?
Bagaimana kompetensi dan obyektivitas pereviu?
Bagaimana konsep keyakinan terbatas reviu atas laporan keuangan

6.

pemerintah?
Bagaimana tahapan reviu atas laporan keuangan pemerintah?

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
2.
3.

Menjelaskan pengertian reviu atas laporan keuangan pemerintah.


Menjelaskan tujuan reviu atas laporan keuangan pemerintah.
Menjelaskan ruang lingkup dan sasaran reviu atas laporan keuangan

4.
5.

pemerintah.
Menjelaskan kompetensi dan obyektivitas pereviu.
Menjelaskan konsep keyakinan terbatas hasil reviu atas laporan

6.

keuangan pemerintah.
Menjelaskan tahapan reviu atas laporan keuangan pemerintah.

Reviu atas Laporan Keuangan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep dan Definisi Reviu Laporan Keuangan


Dalam pasal 33 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006
tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (PKKIP)
diatur bahwa Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan reviu atas
laporan keuangan dan kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan
informasi

yang

disajikan

sebelum

disampaikan

oleh

Gubernur/Bupati/Walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Oleh


karena itu, proses reviu menjadi krusial untuk dilaksanakan oleh Pemerintah
Daerah dalam rangka melaksanakan amanah peraturan perundangan dan
dalam rangka mewujudkan tata kelola yang lebih baik
Perbedaan Audit dengan reviu yaitu, reviu tidak mencakup pengujian
terhadap SPI, catatan akuntansi, dan pengujian atas respon terhadap
permintaan keterangan melalui perolehan bahan bukti, serta prosedur
lainnya seperti yang dilaksanakan dalam suatu audit. Sebagai contoh, dalam
hal pengadaan barang modal yang nilainya material, proses reviu hanya
meyakinkan bahwa pengadaan barang telah dicatat dalam aktiva tetap,
sedang dalam audit, harus dilakukan pengujian bahwa prosedur pengadaan
barang tersebut telah silakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perbedaan juga dapat dilihat berdasarkan tujuan audit yaitu untuk
memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat mengenai
laporan keuangan secara keseluruhan, sedangkan tujuan reviu hanya sebatas
memberikan keyakinan mengenai akurasi, keandalan, keabsahan informasi
yang disajikan dalam Laporan Keuangan. Reviu tidak mencakup suatu
pengujian atas kebenaran substansi dokumen sumber seperti perjanjian
kontrak pengadaan barang/jasa, bukti pembayaran/kuitansi, serta berita
acara fisik atas pengadaan barang/jasa, dan prosedur lainnya yang biasanya
dilaksanakan dalam sebuah audit.

Reviu atas Laporan Keuangan

Sasaran dari reviu yaitu Reviu oleh aparat pengawasan intern pada
kementerian

negara/lembaga

tidak

membatasi

tugas

pemeriksaan/pengawasan oleh lembaga pemeriksa/pengawas lainnya sesuai


dengan tugas kewenangannya. Reviu tidak memberikan dasar untuk
menyatakan pendapat seperti dalam audit, karena dalam reviu tidak
mencakup suatu pemahaman atas pengendalian intern, penetapan resiko
pengendalian, pengujian catatan akuntansi dan pengujian atas respon
terhadap permintaan keterangan dengan cara pemerolehan bahan bukti yang
menguatkan melalui inspeksi, pengamatan atau konfirmasi dan prosedur
tertentu lainnya yang biasa dilakukan dalam suatu audit. Dalam hal sistem
pengendalian intern, reviu hanya mengumpulkan keterangan yang dapat
menjadi bahan untuk penyusunan Statement of Responsibility (Pernyataan
Tanggung

Jawab)

oleh

Menteri/Pimpinan

Lembaga.

Reviu

dapat

mengarahkan perhatian aparat pengawasan intern kepada hal-hal penting


yang mempengaruhi laporan keuangan, namun tidak memberikan keyakinan
bahwa aparat pengawasan intern akan mengetahui semua hal penting yang
akan terungkap melalui suatu audit.
Cris Kuntadi dalam Review Laporan Keuangan pemerintah
Pusat/Daerah menyatakan, terdapat beberapa konsep review di antaranya :
1. Review dilaksanakan secara paralel dengan penyusunan laporan keuangan
Pemerintah Daerah. Review paralel dimaksudkan untuk memperoleh
informasi tepat waktu agar koreksi dapat dilakukan segera. Laporan
keuangan yang disajikan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
diajukan kepada kepala daerah sudah mengakomodasi hasil Review APIP.
2. Review tertuju pada hal-hal penting yang mempengaruhi laporan
keuangan, namun tidak memberikan keyakinan akan semua hal penting
yang akan terungkap melalui suatu audit. Review memberikan keyakinan
bagi APIP bahwa tidak ada modifikasi (koreksi/penyesuaian) material
yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan keuangan yang
di Review sesuai dengan SAP, baik segi pengakuan, penilaian,
pengungkapan dan sebagainya.

Reviu atas Laporan Keuangan

3. Review tidak memberikan dasar untuk menyatakan suatu pendapat (opini)


seperti halnya dalam audit, meskipun Review mencakup suatu pemahaman
atas pengendalian intern secara terbatas.
Dalam Review tidak dilakukan pengujian terhadap kebenaran
substansi dokumen sumber seperti perjanjian kontrak pengadaan barang dan
jasa, bukti pembayaran/kuitansi, dan berita acara fisik atas pengadaan
barang dan jasa.
Sebelum dikeluarkannya Standar Reviu atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah, pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 tahun
2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah. Pada pasal 1 Permendagri Nomor 4 tahun 2008
dinyatakan bahwa reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah
prosedur penelusuran angka-angka, permintaan keterangan dan analitis yang
harus menjadi dasar memadai bagi Inspektorat untuk memberi keyakinan
terbatas atas laporan keuangan bahwa tidak ada modifikasi material yang
harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan keuangan tersebut
disajikan berdasarkan Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang memadai dan
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Pada tahun 2015, pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan
mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 8/PMK.09/2015 tentang
Standar Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Standar Reviu
adalah prasyarat yang diperlukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah
untuk melaksanakan reviu dan mengevaluasi pelaksanaan reviu atas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Definisi reviu dalam standar ini
adalah penelaahan atas penyelenggaraan akuntansi dan penyajian LKPD
oleh Inspektorat untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa akuntansi
telah diselenggarakan berdasarkan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah dan
LKPD telah disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dalam
upaya membantu Kepala Daerah untuk menghasilkan LKPD yang
berkualitas.

Reviu atas Laporan Keuangan

Reviu

atas

Laporan

Keuangan

Pemerintah

Pusat

(LKPP)

dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan


(BPKP). Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.09/2015 tentang
Standar Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Definisi Reviu
atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) menurut Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.09/2015 adalah penelaahan oleh Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) atas proses konsolidasi
dan penyajian LKPP untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa proses
konsolidasi telah sesuai dengan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dan
LKPP telah disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahari (SAP)
untuk menghasilkan LKPP yang berkualitas.
2.2. Tujuan Reviu
Secara umum tujuan reviu atas laporan keuangan pemerintah adalah
untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa laporan keuangan pemerintah
disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan
disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 8/PMK.09/2015 menyatakan bahwa tujuan reviu atas
laporan keuangan pemerintah daerah bertujuan untuk:
1. membantu terlaksananya penyelenggaraan akuntansi dan penyajian
LKPD;
2. memberikan

keyakinan

terbatas

bahwa

akuntansi

telah

diselenggarakan berdasarkan SAPD dan LKPD telah disajikan sesuai


dengan SAP.
Reviu atas laporan keuangan pemerintah pusat dilaksanakan dengan
tujuan sebagai berikut:
a. memberikan keyakinan terbatas kepada Menteri Keuangan
mengenai

akurasi

informasi

LKPP

serta

penyajian

dan

pengungkapan sesuai dengan SAP;


b. membantu terlaksananya konsolidasi dan penyajian LKPP.

Reviu atas Laporan Keuangan

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka apabila pereviu menemukan


kelemahan dalam penyelenggaraan akuntansi dan atau kesalahan dalam
penyajian laporan keuangan, maka pereviu memberikan rekomendasi
kepada entitas akuntansi dan atau entitas pelaporan untuk segera
melakukan penyesuaian dan atau koreksi atas kelemahan dan atau
kesalahan tersebut secara berjenjang.
Reviu tidak memberikan dasar

untuk

menyatakan

opini

sebagaimana dalam audit karena dalam reviu tidak mencakup pengujian


atas pengendalian intern, penetapan risiko pengendalian, pengujian catatan
akuntansi, dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan
dengan cara pemerolehan bahan bukti yang menguatkan melalui inspeksi,
pengamatan, atau konfirmasi, dan prosedur tertentu lainnya yang biasa
dilaksanakan dalam suatu audit.
2.3. Lingkup dan Sasaran Reviu
Ruang lingkup Reviu LKPD maupun LK K/L adalah penelaahan
atas penyelenggaraan akuntansi dan penyajian LKPD maupun LK K/L,
termasuk penelaahan atas catatan akuntansi dan dokumen sumber yang
diperlukan, sedangkan ruang lingkup reviu LKPP adalah penelaahan atas
kesesuaian proses konsolidasi dengan sistem akuntansi pemerintah pusat
dan kesesuaian penyajian LKPP dengan SAP. Ruang lingkup reviu tidak
mencakup pengujian atas sistem pengendalian intern, catatan akuntansi, dan
dokumen sumber, serta pengujian atas respon permintaan keterangan, yang
biasanya dilaksanakan dalam suatu audit.
Reviu terutama dilakukan melalui serangkaian aktivitas:
a. penelusuran LK K/L ke catatan akuntansi dan dokumen sumber;
b. permintaan keterangan mengenai proses pengumpulan, pencatatan,
pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan transaksi, serta
proses kompilasi dan rekonsiliasi LK K/L antara unit akuntansi
dengan Bendahara Umum Negara (BUN) secara berjenjang;
c. analisis untuk mengetahui hubungan dan hal-hal yang kelihatannya
tidak biasa.

Reviu atas Laporan Keuangan

Sasaran dari pelaksanaan reviu atas laporan keuangan pemerintah


adalah Menteri Keuangan/Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah
memperoleh akuntansi telah diselenggarakan berdasarkan SAI/SAPD dan
LKPP, LKPD maupun LK K/L telah disajikan sesuai dengan SAP.
2.4. Kompetensi dan Obyektivitas Pereviu
Kompetensi pereviu yang akan ditugaskan perlu dipertimbangkan
untuk mendukung dan menjamin efektivitas reviu. Sesuai dengan tujuan
reviu, maka tim reviu secara kolektif harus memenuhi kompetensi sebagai
berikut:
a. memahami SAP;
b. memahami SAPD, Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dan Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Instansi;
c. memahami proses bisnis atau kegiatan pokok entitas yang direviu,
dan proses kosolidasi laporan keuangan;
d. memahami dasar-dasar audit;
e. memahami teknik komunikasi; dan
f. memahami analisis basis data.
Pereviu harus objektif dalam melaksanakan kegiatan reviu. Prinsip
objektivitas mensyaratkan agar pereviu melaksanakan reviu dengan jujur
dan tidak mengkompromikan kualitas. Pereviu harus membuat penilaian
seimbang atas semua situasi yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh
kepentingan sendiri atau orang lain dalam mengambil keputusan.
2.5. Konsep Keyakinan Terbatas atas Hasil Reviu
Keyakinan terbatas yang dihasilkan dalam reviu meliputi keyakinan
terbatas mengenai akurasi, keandalan, dan keabsahan informasi dalam
LKPD/LKPP/LK K/L serta pengakuan, pengukuran, dan pelaporan transaksi
sesuai dengan SAP.
Keyakinan terbatas atas akurasi informasi dalam reviu LK K/L
antara lain diperoleh dengan :
a. membandingkan saldo akun LK K/L terhadap buku besar;
dan

Reviu atas Laporan Keuangan

b. membandingkan saldo akun LK K/L terhadap laporan


pendukung (misalnya saldo akun Aset Tetap terhadap
Laporan Posisi BMN di Neraca).
Dalam reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah,
keyakinan terbatas atas akurasi informasi antara lain diperoleh dengan:
a. membandingkan saldo akun-akun dalam LKPD terhadap
buku besar;
b. membandingkan saldo akun-akun dalam LKPD terhadap
laporan pendukung (misalnya saldo akun Aset Tetap terhadap
Laporan Mutasi Aset Tetap dan Kartu Inventaris Barang).
Keyakinan terbatas atas keandalan informasi pada reviu LK K/L
antara lain diperoleh dengan:
a. menilai proses rekonsiliasi internal antara data transaksi
keuangan dengan data transaksi BMN/BMD;
b. menilai proses rekonsiliasi eksternal antara data dari SAI
dengan data dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
(KPPN);
c. menilai proses rekonsiliasi eksternal antara antara data dari
SIMAK-BMN dengan data dari KPKNL; dan
d. menilai proses inventarisasi BMN oleh unit akuntansi.
Pada pelaksanaan reviu LKPD, keyakinan terbatas atas keandalan
informasi pada reviu LK K/L antara lain diperoleh dengan:
a. menilai proses rekonsiliasi internal antara data transaksi
keuangan dengan data transaksi BMD;
b. menilai proses inventarisasi BMD oleh entitas akuntansi.
Keyakinan terbatas atas keabsahan informasi antara lain diperoleh
dengan:
a. menilai

proses

verifikasi

dokumen

sumber

transaksi

keuangan atau transaksi BMN/BMD;


b. menilai proses otorisasi dokumen transaksi keuangan atau
transaksi BMN/BMD.

Reviu atas Laporan Keuangan

10

Keyakinan terbatas atas pengakuan, pengukuran dan pelaporan


diperoleh dengan menilai penyajian akun-akun dalam LKPD/LKPP/ LK
K/L berdasarkan SAP.
2.6. Tahapan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
Untuk mendapatkan hasil yang .memadai, reviu perlu dirancang
dengan baik pada tiap tahapan yang harus dijalankan, yang meliputi tahapan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan reviu. Pada setiap tahapan reviu
tersebut, Inspektorat dapat melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang
terkait lainnya.
2.6.1. Perencanaan
Perencanaan perlu dilakukan sebelum melaksanakan reviu
agar kegiatan reviu dapat dilaksanakan secara terstruktur dan tujuan
reviu dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan. Perencanaan
reviu terdiri atas 3 (tiga) proses sebagai berikut :
1. Pemahaman Atas Entitas
Pemahaman lingkungan entitas pelaporan perlu dilakukan
pada tahap perencanaan agar tim reviu dapat mengidentifikasikan
kemungkinan kesalahan yang terjadi, memilih dengan tepat
prosedur reviu berupa wawancara, prosedur analitis, atau
prosedur reviu lainnya. Pemahaman terhadap entitas pelaporan ini
meliputi:
a. Pemahaman terhadap latar belakang dan sifat dari
lingkungan operasional entitas pelaporan. Pemahaman
ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan beritaberita berkaitan dengan entitas termasuk peraturan
perundangan yang terkait, membaca laporan keuangan
dan hasil reviu entitas dari periode sebelumnya, serta
informasi lain yang terkait.
b. Pemahaman terhadap proses transaksi yang signifikan.
Hal ini dapat dilakukan dengan membaca Kebijakan

Reviu atas Laporan Keuangan

11

Pengelolaan Keuangan Daerah dan/atau Peraturan


Gubernur/Bupati/Walikota

tentang

Sistem

dan

Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah dan/atau


Peraturan

Gubernur/Bupati/

Walikota

tentang

Kebijakan Akuntansi, serta melakukan tanya jawab


dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam tiap
proses transaksi untuk kemudian mendokumentasikan
alur tahap-tahap dari proses transaksi yang signifikan.
c. Pemahaman terhadap prinsip dan metode akuntansi
dalam pembuatan laporan keuangan entitas dapat
dilakukan

dengan

mempelajari

Kebijakan

Gubernur/Bupati/Walikota mengenai Akuntansi dan


Pelaporan Keuangan, melakukan tanya jawab dengan
pihak-pihak yang terkait dalam proses akuntansi,
membaca laporan keuangan entitas dan membaca
kertas kerja reviu entitas periode sebelumnya.
2. Penilaian Atas Sistem Pengendalian Intern
Hal yang harus diperhitungkan dalam penilaian SPI adalah
apakah Inspektorat telah melakukan penilaian yang sama di
periode sebelumnya atau di proses audit lainnya. Jika penilaian
keandalan atas SPI sudah pernah dilakukan, maka tim reviu dapat
memahami mengenai pengendalian intern dari dokumentasi
periode sebelumnya dan hanya perlu melakukan update terhadap
perubahan yang terjadi.
Proses penilaian atas SPI dilakukan dengan proses sebagai
berikut :
a. Memahami sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah
yang meliputi:
1) Sistem dan Prosedur Penerimaan Kas;
2) Sistem dan Prosedur Pengeluaran Kas;
3) Sistem dan Prosedur Akuntansi Satuan Kerja;
4) Sistem dan Prosedur Akuntansi Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah (PPKD);
5) Sistem dan Prosedur Penyusunan Laporan Keuangan.

Reviu atas Laporan Keuangan

12

b. Melakukan observasi dan/atau wawancara dengan pihak terkait


di setiap prosedur yang ada.
c. Melakukan analisis atas resiko yang telah diidentifikasi pada
sebuah kesimpulan tentang kemungkinan terjadinya salah saji
yang material dalam penyusunan laporan keuangan.
d. Melakukan analisis atas resiko yang telah diidentifikasi pada
sebuah kesimpulan tentang arah pelaksanaan reviu.
3. Penyusunan Program Kerja Reviu
Tahapan terakhir dalam perencanaan reviu

adalah

membuat Program Kerja Reviu (PKR) sebagai panduan agar


pelaksanaan reviu dapat lebih terarah. PKR disusun berdasarkan
tahapan-tahapan dalam perencanaan reviu yang telah dilakukan
sebelumnya.
PKR harus memuat antara lain:
a. Langkah kerja reviu, yang merupakan langkah-langkah yang
harus dilakukan oleh tim reviu dalam melaksanakan reviu
b.

laporan keuangan;
Teknik reviu, yang merupakan cara-cara yang dapat
dilakukan dalam melaksanakan langkah kerja reviu. Teknik
reviu meliputi antara lain: wawancara, pengisian kuesioner,
prosedur analitis, dan teknik reviu lainnya yang dianggap

c.

perlu;
Sumber data, yang merupakan bahan-bahan yang diperlukan
dalam melakukan teknik reviu. Sumber data dapat berasal

d.

dari data yang disediakan oleh entitas pelaporan;


Pelaksana, yang merupakan nama tim reviu yang akan

e.

melakukan langkah-langkah reviu;


Waktu pelaksanaan, yang menjelaskan kapan langkah-

langkah reviu harus dilakukan.


2.6.2. Pelaksanaan
Pelaksanaan Reviu dilakukan oleh tim secara paralel dengan
penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Reviu tersebut
dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran
berakhir. Kegiatan-kegiatan dalam proses pelaksanaan tersebut
meliputi:

Reviu atas Laporan Keuangan

13

1. Penelusuran angka
Dalam melaksanakan reviu, tim reviu perlu menelusuri
angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan ke buku atau
catatan-catatan yang digunakan untuk meyakini bahwa angkaangka tersebut benar.
Pelaksanaan teknik penelusuran angka dapat dilakukan
dengan beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Menelusuri angka laporan keuangan konsolidasi yang
telah disajikan menurut Standar Akuntansi Pemerintah
(SAP) pada laporan keuangan konsolidasi yang belum
dikonversi (yang menggunakan struktur Permendagri
No. 13/2006).
b. Menelusuri angka laporan keuangan konsolidasi pada
kertas kerja konsolidasi, khususnya angka-angka yang
dihasilkan dalam proses eliminasi dan penggabungan
dari neraca saldoneraca saldo yang bersumber dari
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan
Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD).
c. Menelusuri angka-angka neraca saldo pada buku besar
yang ada di masing-masing entitas akuntansi. Tahapan
ini tidak selalu dilakukan untuk semua entitas
akuntansi. Berdasarkan pertimbangan penilaian resiko
yang telah dilakukan pada saat perencanaan, dipilih
beberapa neraca saldo yang perlu ditelusuri angkaangkanya pada saldo buku besar yang bersangkutan.
2. Permintaan keterangan
Permintaan keterangan dilakukan jika dalam proses
penelusuran angka terdapat hal-hal yang perlu dikonfirmasikan
kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) atau
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Permintaan keterangan meliputi antara lain:
a. Kesesuaian antara sistem akuntansi dan pelaporan
keuangan yang diterapkan oleh entitas tersebut
dengan peraturan yang berlaku;

Reviu atas Laporan Keuangan

14

b.

Kebijakan dan metode akuntansi yang diterapkan oleh

c.

entitas yang bersangkutan;


Prosedur
pencatatan,
pengklasifikasian,
pengikhtisaran
informasi

d.

transaksi

untuk

serta

diungkapkan

dan

penghimpunan
dalam

laporan

keuangan;
Keputusan yang diambil oleh pimpinan entitas
pelaporan/pejabat keuangan yang mungkin dapat

e.

mempengaruhi laporan keuangan;


Memperoleh informasi dari audit atau reviu atas

f.

laporan keuangan periode sebelumnya;


Personel yang bertanggung jawab terhadap akuntansi

g.

dan pelaporan keuangan mengenai:


Apakah pelaksanaan anggaran telah dilaksanakan
sesuai dengan sistem pengendalian intern yang

h.

memadai;
Apakah laporan keuangan telah disusun dan disajikan

i.

sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan;


Apakah terdapat perubahan kebijakan akuntansi pada

j.

entitas pelaporan tersebut;


Apakah ada masalah yang timbul dalam implementasi
Standar Akuntansi Pemerintahan dan pelaksanaan

k.

sistem akuntansi;
Apakah terdapat kejadian setelah tanggal neraca yang
berpengaruh

secara

material

terhadap

laporan

keuangan.
3. Prosedur analitis
Prosedur Analitis dirancang untuk mengidentifikasi
adanya hubungan antar akun dan kejadian yang tidak biasa serta
tidak sesuai Standar Akutansi Pemerintahan (SAP). Analisis
yang dilakukan adalah menilai kewajaran saldo dan rincian
laporan keuangan, kesesuaian dan keterkaitan antar komponen
laporan keuangan yang satu dengan komponen lainnya.
Dalam merancang prosedur ini Inspektorat harus
mempertimbangkan hasil reviu Sistem Pengendalian Intern

Reviu atas Laporan Keuangan

15

(SPI). Hal ini dilakukan agar reviu kesesuaian dengan SAP


dapat terarah pada komponen laporan keuangan dan akun-akun
yang lemah pengendaliannya. Dengan demikian Inspektorat
dapat

lebih

memperdalam

materi

reviunya,

serta

mempertimbangkan jenis-jenis masalah yang membutuhkan


penyesuaian, seperti terjadinya peristiwa luar biasa dan
perubahan kebijakan akuntansi.
4. Kertas Kerja Reviu
Mengingat adanya perbedaan keadaan pada setiap
penugasan reviu atas laporan keuangan, maka tidak mungkin
menentukan bentuk atau isi KKR yang perlu dibuat. Namun
perlu diperhatikan bahwa KKR harus memuat masalah yang
tercakup dalam permintaan keterangan dan prosedur analitis
serta masalah yang dianggap tidak biasa selama melaksanakan
reviu termasuk penyelesaiannya.
Kegiatan reviu dituangkan
pertanggungjawaban

bahwa

dalam

langkah

kerja

KKR
reviu

sebagai
telah

dilaksanakan, sekaligus menjadi dokumentasi pelaksanaan reviu.

Reviu atas Laporan Keuangan

16

Reviu atas Laporan Keuangan

17

2.6.3. Pelaporan
Pelaporan reviu pada pokoknya mengungkapkan tujuan dan
alasan pelaksanaan reviu, prosedur reviu yang dilakukan, masalah
yang terjadi dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan,
langkah perbaikan yang disepakati, koreksi penyesuaian yang telah
dilakukan, dan rekomendasi dalam KKR yang tidak atau belum
dilaksanakan.
Hasil reviu berupa Laporan Hasil Reviu ditandatangani oleh
Inspektur Provinsi/Kabupaten/Kota dan memuat Pernyataan Telah
Direviu. Pernyataan telah Direviu merupakan salah satu dokumen
pendukung untuk penandatanganan Pernyataan Tanggung Jawab
oleh Kepala Daerah. LKPD yang disampaikan kepada Badan
Pemeriksa Keuangan dilampiri dengan Pernyataan Tanggung Jawab
dan Pernyataan Telah Direviu.

Reviu atas Laporan Keuangan

18

Reviu atas Laporan Keuangan

19

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa
reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah merupakan amanat UndangUndang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang dijabarkan
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006.
Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dilakukan untuk
memberikan keyakinan atas kualitas laporan keuangan pemerintah daerah
dimana Reviu tersebut tidak memberikan dasar untuk menyatakan pendapat
atau opini atas laporan keuangan.
Pelaksanaan reviu dilakukan secara parallel dengan pelaksanaan
anggaran dan penyusunan LKPD, artinya proses reviu dilaksanaan
bersamaan atau sepanjang pelaksanaan anggaran dan penyusunan LKPD
tanpa harus menunggu setelah LKPD tersebut selesai disusun.
Hasil reviu berupa Laporan Hasil Reviu ditandatangani oleh
Inspektur

Provinsi/Kabupaten/Kota

dan

memuat

Pernyataan

Telah

Direviu. Pernyataan telah Direviu merupakan salah satu dokumen


pendukung untuk penandatanganan Pernyataan Tanggung Jawab oleh
Kepala Daerah. LKPD yang disampaikan kepada Badan Pemeriksa
Keuangan dilampiri dengan Pernyataan Tanggung Jawab dan Pernyataan
Telah Direviu.

Reviu atas Laporan Keuangan

20

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Laporan Hasil Reviu Atas
Pelaksanaan Transparansi Fiskal Tahun 2015
Cris Kuntadi, SE, MM, CPA, CA, Ak, Dr. Peran BPK Dalam Peningkatan
Transparansi
Dan
Akuntabilitas
Keuangan
Negara,
http://criskuntadi.blogspot.co.id/ Diakses pada tanggal 26-11-2016
Margono. Reviu Atas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga. Artikel
Perimbangan Keuangan. BPPK DepKeu.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara
Republik Indonesia, Undang-Undang
Pemerintahan Daerah

Nomor

32

Tahun

2004

tentang

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang


Pengelolaan Keuangan Daerah
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008
tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 8/PMK.09/2015 Tahun
2015 tentang Standar Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.09/2015 Tahun
2015 tentang Standar Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.09/2015
Tahun 2015 tentang Standar Reviu atas Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga

Reviu atas Laporan Keuangan

21

Anda mungkin juga menyukai