Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

AUDIT KEUANGAN NEGARA


PERNYATAAN STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
DAN STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA

Disusun Oleh :

M. ZAINUL HASANI
LALU MOH. SUKRAN
ABDUL MUFAKHIR
SYAHRUL MAULANA SAPUTRA

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS MATARAM
2016
BAB I

LATAR BELAKANG
1. Pendahuluan
Standar

Pemeriksaan

merupakan

patokan

bagi

para

pemeriksa

dalammelakukan tugas pemeriksaannya. Seiring dengan perkembangan


teoripemeriksaan, dinamika masyarakat yang menuntut adanya transparansi
danakuntabilitas, serta kebutuhan akan hasil pemeriksaan yang bernilai tambah
menuntut BPK menyempurnakan standar audit pemerintahan (SAP) 1995.SAP
1995 dirasa tidak dapat memenuhi tuntutan dinamika masa kini.Terlebih lagi
sejak adanya reformasi konstitusi di bidang pemeriksaan makauntuk memenuhi
amanat Pasal 5 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negaradan Pasal 9 ayat (1) huruf
e Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentangBadan Pemeriksa Keuangan,
BPK harus menyusun standar pemeriksaanyang dapat menampung hal tersebut.
Oleh karena itulah, saya sangatberbangga bahwa di awal tahun 2007 ini, BPK
telah berhasil menyelesaikanpenyusunan standar pemeriksaan yang diberi
nama Standar PemeriksaanKeuangan Negara atau disingkat dengan SPKN.
SPKN ini ditetapkan dengan peraturan BPK Nomor 01 Tahun
2007sebagaimana amanat UU yang ada. Dengan demikian, sejak ditetapkannya
Peraturan BPK ini dan dimuatnya dalam Lembaran Negara, SPKN ini
akanmengikat BPK maupun pihak lain yang melaksanakan pemeriksaan
keuangan negara untuk dan atas nama BPK. Inilah tonggak sejarah dimulainya
reformasi terhadap pemeriksaan yang dilakukan BPK setelah 60tahun
pelaksanaan

tugas

konstitusionalnya.Dengan

demikian,

diharapkanhasil

pemeriksaan BPK dapat lebih berkualitas yaitu memberikan nilai tambah yang
positif bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Selanjutnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidup
masyarakat Indonesia seluruhnya.Penyusunan SPKN ini telah melalui proses
sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang maupun dalam kelaziman
penyusunan standar profesi. Hal ini tidaklah mudah, oleh karenanya, SPKN ini
akan selaludipantau perkembangannya dan akan selalu dimutakhirkan agar

selalu sesuaidengandinamika yang terjadi di masyarakat.


Hal

yang

terpenting

dari

sebuah

proses

penyusunan

SPKN

bukanlahterletak pada kualitas SPKN-nya melainkan terletak pada kesuksesan


dalampenerapannya.

Oleh

karenanya

segala

kegiatan

yang

dapat

memungkinkanterlaksananya SPKN ini secara benar dan konsekuen harus


dilakukan.Inilahtugas kita bersama.
Masyarakat ingin mengetahui apakah penyelenggaraan kegiatan oleh
pemerintah dengan menggunakan dana publik dapat memberikan nilai lebih
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu diadakan
perluasan tujuan dan jenis audit dari audit keuangan menuju audit kinerja
(performance audit). Audit kinerja (performance audit) terhadap sektor publik
dapat membantu masyarakat dalam mengetahui kinerja yang lebih lengkap dari
organisasi masyarakat (public). Audit Kinerja dapat dilakukan baik pada sektor
swasta maupun sektor publik dan badan pemerintah, karena dari semua tujuan
kepentingan masyarakat merupakan prioritas utama.
Audit kinerja bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dan mengidentifikasi
kesempatan untuk peningkatan rekomendasi guna perbaikan atau tindakan
lebih lanjut.Selama ini, hasil dari audit kinerja cenderung diasumsikan sebagai
informasi yang ditujukan kepada konsumsi pihak internal, karena menelaah
secara sistematik kegiatan organisasi dalam hubungannya dengan tujuan
tertentu. Padahal laporan audit kinerja ini juga bisa digunakan oleh pihak
eksternal untuk pengambilan keputusan.
2 Tujuan Penulisan
Dalam makalah yang kami susun ini bertujuan untuk membahas
mengenai bagaimanakah sebenarnya Pernyataan standar pemeriksaan 04 dan
05 tentang audit dan laporan kinerja

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Pemeriksaan Kinerja


Secara etimologi, audit kinerja terdiri atas dua kata, yaitu audit dan
kinerja. Audit menurut Arens adalah kegiatan mengumpulkan dan
mengevaluasi terhadap bukti-bukti yang dilakukan oleh yang kompeten dan
independen untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara
kondisi yang ditemukan dan kriteria yang ditetapkan. Sedangkan menurut
Stephen P Robbins, kinerja merupakan hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang
telah dilakukan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan bersama.
Di pihak lain. Ayuha menjelaskan, Perfomance is the way of job or task is
done by an individual, a group of organization. Dari kedua definisi tersebut,
terlihat bahwa istilah kinerja mengarah pada dua hal yaitu proses dan hasil
yang dicapai. Definisi yang cukup komprehensif diberikan oleh Malan,
Fountain, Arrowsmith, dan Lockridge (1984), sebagai berikut.
Perfomance auditing is a systematic process of objectively obtaining dan
evaluating evidence regarding the performance of an organization, program,
function, or activity. Evaluation is made in terms of its economy and efficiency
of operations, effectiveness in achieving of desire results, and compliance with
relevan policies, law, and regulations, for the purposes of ascertaining the
degree of correspondence between performance and established criteria and
communicating the results to interest the users. The performance audit function
provides an independent, third-party review of managements performance and
the degree to which the perfomanced of audited entity meets pre-stated
expectation.
Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta
pemeriksaan aspek efektivitas. Contoh tujuan pemeriksaan atas hasil dan
efektivitas program serta pemeriksaan atas ekonomi dan efisiensi adalah
penilaian atas :
a. Sejauhmana tujuan peraturan perundang-undangan dan organisasi dapat
dicapai;
b. Kemungkinan alternatif lain yang dapat meningkatkan kinerja program
atau menghilangkan faktor-faktor yang menghambat efektivitas program;

c. Perbandingan antara biaya dan manfaat atau efektivitas biaya suatu


program;
d. Sejauhmana suatu program mencapai hasil yang diharapkan atau
menimbulkan dampak yang tidak diharapkan;
e. Sejauhmana program berduplikasi, bertumpang tindih, atau bertentangan
dengan program lain yang sejenis;
f. Sejauhmana entitas yang diperiksa telah mengikuti ketentuan pengadaan
yang sehat;
g. Validitas dan keandalan ukuran-ukuran hasil dan efektivitas program, atau
ekonomi dan efisiensi;
h. Keandalan, validitas, dan relevansi informasi keuangan yang berkaitan
dengan kinerja suatu program
Fungsi dari audit kinerja ialah memberikan review dari pihak ketiga atas
kinerja manajemen dan menilai apakah kinerja organisasi dapat memenuhi
harapan. Selanjutnya, Pasal 4 ayat (3) UU No 15 Tahun 2004 Tentang
Pemeriksaan

Pengelolaan

dan

Tanggung

Jawab

Keuangan

Negara,

mendefinisikan audit kinerja sebagai audit atas pengelolaan keuangan negara


yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan
aspek efektivitas. Kemudian, bedasarkan PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP
mendefinisikan audit kinerja sebagai audit atas pengelolaan keuangan negara
dan pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah yang terdiri atas aspek
kehematan, efisiensi, dan efektivitas. Dari berbagai definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa audit kinerja adalah audit yang dilakukan secara objektif
dan sistematis terhadap berbagai bukti untuk menilai kinerja entitas yang
diaudit dalam hal ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
Ekonomi mempunyai arti biaya terendah, sedangkan
efisiensi mengacu pada rasio terbaik antara output dengan biaya (input).
Karena output dan biaya diukur dalam unit yang berbeda maka efisiensi dapat
terwujud ketika dengan sumber daya yang ada dapat dicapai output yang
maksimal atau ouput tertentu dapat dicapai dengan sumber daya yang sekecilkecilnya. Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan:

Apakah suatu entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan


sumber dayanya (seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor)

secara ekonomis dan efisien.


Penyebab timbulnya inefisiensi atau pemborosan yang terjadi, termasuk
ketidakcukupan sistem informasi manajemen, prosedur administratif, atau

struktur organisasi.
Apakah suatu entitas telah mematuhi peraturan yang terkait dengan
pelaksanaan praktek ekonomi dan efisien.
Untuk dapat mengetahui apakah organisasi telah menghasilkan output
yang optimal dengan sumber daya yang dimilikinya, auditor dapat
membandingkan output yang telah dicapai pada periode bersangkutan dengan
standar yang telah ditetapkan sebelumnya, kinerja tahun-tahun sebelumnya,
dan unit lain pada organisasi yang sama atau pada organisasi yang berbeda.
Sedangkan Efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan. Audit
efektivitas (audit program) bertujuan untuk:
Tingkat pencapaian hasil atau manfaat yang diinginkan.
Kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
Apakah entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain yang

memberikan hasil yang sama dengan biaya yang paling rendah.


Apakah suatu entitas telah mematuhi peraturan yang terkait dengan
pelaksanaan program.
Sedangkan untuk pemeriksaan kinerja, paragraf 07 PSP 04 Standar

Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja SPKN menyatakan bahwa dalam


merencanakan suatu pemeriksaan kinerja, pemeriksa harus :
1. Mempertimbangkan signifikansi masalah dan kebutuhan potensial
pengguna laporan hasil pemeriksaan.
2. Memperoleh pemahaman mengenai program yang diperiksa (organisasi,
program, dan fungsi pelayanan publik).
3. Mempertimbangkan pengendalian internal.
4. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi penyimpangan dari peraturan
perundang-undangan, tindak kecurangan (fraud), dan ketidakpatutan
(abuse).

5. Mengidentifikasi kriteria yang diperlukan untuk mengevaluasi hal-hal


yang harus diperiksa.
6. Mengidentifikasi

temuan

dan

rekomendasi

signifikan

dari

hasil

pemeriksaan terdahulu yang dapat mempengaruhi tujuan pemeriksaan yg


sedang direncanakan.
7. Mempertimbangkan apakah pekerjaan pemeriksa/ahli lain dapat digunakan
untuk mencapai tujuan tertentu dalam pemeriksaan.
8. Menyediakan pegawai/staf yang cukup dan sumber daya lain untuk
melaksanakan pemeriksaan.
9. Mengkomunikasikan informasi mengenai tujuan, dan informasi umum
lainnya yang berkaitan dengan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan
kepada manajemen auditan, atau pihak lain yg terkait.
10. Mempersiapkan perencanaan pemeriksaan secara tertulis yang meliputi
program pemeriksaan, metodologi pemeriksaan yang memadai, dan
dokumentasi mengenai dasar-dasar yang digunakan pemeriksa untuk
pengambilan keputusan. Perencanaan tertulis tsb dapat disesuaikan dengan
memperhatikan perubahan signifikan dari kondisi auditan.

2. Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja


Dalam melaksanakan suatu audit, diperlukan standar yang akan
digunakan untuk menilai mutu pekerjaan audit yang dilakukan. Standar
tersebut memuat persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh seorang
auditor dalam melaksanakan tugasnya. Di Indonesia standar audit pada sektor
publik adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang
dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).Untuk pelaksanaan
pemeriksaan kinerja, SPKN memberikan beberapa standar sebagai berikut:
a. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai;
b. Staf harus disupervisi dengan baik;
c. Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus diperoleh untuk menjadi dasar
yang memadai bagi temuan dan rekomendasi pemeriksa;
d. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumen pemeriksaan dalam
bentuk kertas kerja pemeriksaan.

Dokumen pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,


dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumen
pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung temuan, simpulan,
dan rekomendasi pemeriksa.
3. Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja
Untuk pelaporan pemeriksaan kinerja, SPKN memberikan beberapa
standar sebagai berikut :
a. Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan untuk mengkomunikasikan
setiap hasil pemeriksaan;
b. Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup:
1) Pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan SPKN ,
2) Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan ,
3) Hasil pemeriksaan berupa temuan pemeriksaan, simpulan, dan
rekomendasi ,
4) Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan,
5) Pelaporan informasi rahasia apabila ada ,
6) Pernyataan bahwa Pemeriksaan Dilakukan Sesuai dengan SPKN;
c. Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu, lengkap, akurat, obyektif,
d.

meyakinkan, serta jelas, dan seringkas mungkin;


Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang
diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas
yang diperiksa, pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak
lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi wewenang
untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Tahap-tahap Audit Kinerja
Adapun tahap-tahap audit kinerja menurut I Gusti Agung Rai adalah:
1. Tahap Perencanaan atau Survei Pendahuluan
2. Tahap pelaksanaan atau Pengujian Terinci.
3. Tahap Tindak Lanjut
Lebih lanjut tahap-tahap audit kinerja tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Tahap Perencanaan atau Survei Pendahuluan

Tujuan utama survei pendahuluan adalah untuk memperoleh informasi


yang bersifat umum mengenai semua bidang dan aspek dari entitas yang
diaudit serta kegiatan dan kebijakan entitas, dalam waktu yang relatif
singkat. Hasil survei pendahuluan berguna untuk memberikan pertimbangan
mengenai perlu atau tidaknya audit dilanjutkan ke tahap pengujian terinci.
Kegiatan survei pendahuluan meliputi :
a. Memahami entitas yang diaudit
Pemahaman yang objektif dan komprehensif atas entitas yang akan
diaudit sangat penting untuk mempertajam tujuan audit serta
mengidentifikasikan isu-isu kritis dan penting sehingga audit dapat
dilaksanakan secara lebih ekonomis, efisien, dan efektif.
b.

Mengidentifikasi area kunci


Area kunci (key area) adalah area, bidang, atau kegiatan yang
merupakan fokus audit dalam entitas. Pemilihan area kunci harus
dilakukan mengingat luasnya bidang, program, dan kegiatan pada
entitas yang diaudit sehingga tidak mungkin melakukan audit di seluruh
area entitas.

c.

Menentukan tujuan dan lingkup audit


Tujuan audit (audit objective) berkaitan dengan alasan dilaksanakannya
suatu audit. Sedangkan lingkup audit (audit scope) merupakan batasan
dari suatu audit.

d.

Menetapkan kriteria audit


Kriteria audit adalah standar, ukuran, harapan, dan praktek terbaik yang
seharusnya dilakukan atau dihasilkan oleh entitas yang diaudit. Auditor
dapat menggunakan dua pendekatan untuk menetapkan kriteria, yaitu
kriteria proses dan kriteria hasil.

e.

Mengidentifikasi jenis dan sumber bukti audit


Pada tahap survei pendahuluan, bukti yang diutamakan adalah bukti
yang relevan. Pada tahap ini, syarat kecukupan dan kompetensi bukti
tidak terlalu dipentingkan. Jenis bukti audit dapat berupa bukti fisik,

bukti dokumenter, bukti kesaksian, dan bukti analitis. Sumber bukti


audit dapat berasal dari internal entitas, eksternal, maupun sumbersumber lain.
f.

Menyusun laporan survei pendahuluan


Laporan

survei

pendahuluan

adalah

laporan

yang

diterbitkan

mendahului atau sebelum laporan audit akhir diterbitkan. Laporan ini


memuat identifikasi kelemahan-kelemahan organisasi, kebijakan,
perencanaan, prosedur, pencatatan, pelaporan, dan pengawasan internal
yang terjadi pada satuan-satuan organisasi yang diaudit.
g.

Mempersiapkan program pengujian terinci


Program pengujian terinci adalah pedoman dalam tahap pelaksanaan
audit. Sebagai langkah akhir dalam perencanaan, pembuatan program
pengujian terinci merupakan penghubung antara tahap perencanaan dan
pelaksanaan audit kinerja.

2.

Tahap Pelaksanaan atau Pengujian Terinci


Tujuan utama pengujian terinci adalah untuk menilai apakah kinerja
entitas yang diaudit sesuai dengan kriteria, menyimpulkan apakah tujuantujuan audit tercapai, dan mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan
untuk memperbaiki kinerja entitas yang diaudit, yang akan dituangkan
dalam rekomendasi kepada auditee. Kegiatan pengujian terinci meliputi :
a. Mengumpulkan dan menguji bukti audit yang kompeten dan relevan:
Langkah pengumpulan dan pengujian bukti audit merupakan kelanjutan
dari identifikasi bukti audit pada survei pendahuluan. Pengujian buktibukti audit dimaksudkan untuk menentukan atau memilih bukti-bukti
audit yang penting dan perlu (dari bukti-bukti audit yang ada) sebagai
bahan penyusunan suatu temuan dan simpulan audit.
b. Menyusun kertas kerja untuk mengetahui kegiatan yang dilaksanakan
auditor selama melaksanakan audit, suatu catatan tentang pekerjaan
auditor harus diselenggarakan dan didokumentasikan dalam bentuk
kertas kerja audit (KKA). KKA merupakan penghubung antara

pelaksanaan dan pelaporan audit, dimana KKA memuat bukti-bukti dan


analisis bukti untuk mendukung temuan, simpulan, serta rekomendasi
audit.
c. Menyusun dan mengkomunikasikan temuan audit; Tmuan audit adalah
masalah-masalah penting (material) yang ditemukan selama audit
berlangsung dan masalah tersebut pantas untuk dikemukakan dan
dikomunikasikan dengan entitas yang diaudit karena mempunyai
dampak terhadap perbaikan dan peningkatan kinerja (ekonomi,
efisiensi, dan efektivitas) entitas yang diaudit.
d. Menyusun dan mendistribusikan laporan hasil audit: Tujuan pelaporan
hasil audit adalah menyediakan informasi, rekomendasi, dan penilaian
yang independen bagi para pengguna laporan mengenai pelaksanaan
kegiatan entitas yang diaudit, apakah telah diselenggarakan sevara
ekonomis, efisien, dan efektif. Karakteristik laporan audit kinerja yang
baik menurut SPKN adalah tepat waktu, lengkap, akurat, objektif,
meyakinkan, jelas, dan ringkas.

3.

Tahap Tindak Lanjut


Tujuan utama tindak lanjut audit adalah untuk meyakinkan auditor
bahwa auditee telah memperbaiki

kelemahan yang telah diidentifikasi.

Kegiatan tindak lanjut dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu


pemutakhiran (update) informasi, tindak lanjut di kantor, dan tindak lanjut
di lapangan.
5. Manfaat Audit Kinerja
Menurut I Gusti Agung Rai manfaat utama audit kinerja adalah sebagai
berikut :
1.

Peningkatan Kinerja
Audit kinerja dapat meningkatkan kinerja suatu entitas yang diaudit
dengan cara sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi permasalahan dan alternatif penyelesaiannya,


b. Mengidentifikasi sebab-sebab aktual (tidak hanya gejala atau
perkiraan-perkiraan) dari suatu permasalahan yang dapat diatasi oleh
kebijakan manajemen atau tindakan lainnya,
c. Mengidentifikasi peluang atau kemungkinan untuk mengatasi
keborosan atau ketidakefisienan,
d. Mengidentifikasi kriteria untuk menilai pencapaian tujuan organisasi,
e. Melakukan evaluasi atas sistem pengendalian internal,
f. Menyediakan jalur komunikasi antara tataran operasional dan
manajemen, dan
g. Melaporkan ketidakberesan.
2.

Peningkatan Akuntabilitas Publik


Pada sektor publik, audit kinerja dilakukan untuk meningkatkan
akuntabilitas, berupa perbaikan pertanggungjawaban manajemen kepada
lembaga perwakilan; pengembangan bentuk-bentuk laporan akuntabilitas;
perbaikan indikator kinerja; perbaikan perbandingan kinerja antara
organisasi sejenis yang diperiksa; serta penyajian informasi yang lebih
jelas dan informatif.
Tanggung jawab pengelolaan program, kegiatan, fungsi, atau organisasi

secara

ekonomis,

efisien,

dan

efektif

terletak

pada

manajemen/

eksekutif.Selanjutnya manajemen, dalam hal ini pemerintah, bertanggung


jawab untuk memberikan laporan kinerja atas pelaksanaan program, kegiatan,
fungsi, atau organisasi kepada publik.Pola hubungan pertanggungjawaban
publik
Terdapat empat pihak yang terlibat dalam proses akuntabilitas
pemerintah. Pihak pertama adalah pemerintah yang dalam hal ini berperan
sebagai auditee. Pihak kedua adalah DPR/ DPRD sebagai perantara publik
(public

intermediary)

yang

berkepentingan

untuk

meminta

pertanggungjawaban pihak I (auditee).Pihak ketiga adalah publik atau


masyarakat yang berhak untuk meminta pertanggungjawaban pihak I
(pemerintah) dan pihak II (DPR/DPRD).Pihak keempat adalah auditor yang
memegang fungsi pengauditan dan fungsi atestasi.
Menurut Indra Bastian ;Dengan audit kinerja, tingkat akuntabilitas
pemerintah

dalam

proses

pengambilan

keputusan

oleh

pihak

yang

bertanggungjawab akan meningkat, sehingga mendorong pengawasan dan


kemudian tindakan koreksi.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarisk sebuah kesimpulan sebagai


berikut bahwa: audit kinerja terhadap sektor publik sangat dibutuhkan karena
instansi pemerintah rentan akan permasalahan korupsi, kolusi, serta rendahnya
tingkat efisiensi dan efektivitas yang mampu ditunjukkan oleh pemerintah. Audit
terhadap sektor publik harus memiliki standar yang jelas dan tegas agar dipatuhi
oleh instansi pemerintah.Pengawasan pelaksanaan terhadap audit sektor publik
harus lebih ditingkatkan untuk memperoleh perbaikan dalam kualitas audit
terhadap sektor publik dan hal ini tentu meningkatkan kualitas pelaporan
keuangan pemerintah yang lebih bertanggungjawab.
Dalam melaksanakan suatu audit, diperlukan standar yang akan digunakan
untuk menilai mutu pekerjaan audit yang dilakukan. Standar tersebut memuat

persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh seorang auditor dalam


melaksanakan tugasnya. Di Indonesia standar audit pada sektor publik adalah
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang dikeluarkan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK).
SPKN ini ditetapkan dengan peraturan BPK Nomor 01 Tahun 2007
sebagaimana

amanat

UU

yang

ada.

Dengan

demikian,

sejak

ditetapkannyaPeraturan BPK ini dan dimuatnya dalam Lembaran Negara, SPKN


ini

akan

mengikat

BPK

maupun

pihak

lain

yang

melaksanakan

pemeriksaankeuangan negara untuk dan atas nama BPK. Inilah tonggak


sejarahdimulainya reformasi terhadap pemeriksaan yang dilakukan BPK setelah
60 tahun pelaksanaan tugas konstitusionalnya.Dengan demikian, diharapkan hasil
pemeriksaan BPK dapat lebih berkualitas yaitu memberikan nilaitambah yang
positif bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta
pemeriksaan aspek efektivitas.Simpulan Hasil Persiapan Audit Kinerja yang
disusun setelah kegiatan persiapan Audit Kinerja selesai. Simpulan hasil Audit
Kinerja ini antara lain meliputi mengenai kelemahan-kelemahan yang harus
dikembangkan lebih lanjut dalam tahap audit berikutnya. Dari simpulan tersebut
dibuat program audit tahap pengujian pengendalian manajemen.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. Hoesada, jan. 2009. Bunga Rampai auditing. Jakarta: salemba
Empat
Audit Sektor Publik Terhadap Akuntabilitas Pemerintah Daerah.
http://blog.re.or.id/management-audit-sektor-publik.htm (diakses tanggal 11
November 2016)
Mardiasmo. 2004. Audit Sektor Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat.
Peraturan Menteri Dalam Negeri. 2008. Pemendagri Nomor 4 Tahun 2008
tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah. Jakarta: Kemendagri
Irawan, E. 2016.Reviu sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas
LKPD.http://inspektorat.magelangkota.go.id/Artikel/130/Reviu-sebagaiUpaya-Meningkatkan-Kualitas-LKPD.html