Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AUDIT KEUANGAN NEGARA

AUDIT KECURANGAN

OLEH
KELOMPOK IV
M. ZAINUL HASANI
LALU MOH. SUKRAN
ABDUL MUFAKHIR
SYAHRUL MAULANA SAPUTRA

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MATARAM
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan
rahmat sertahidayah, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah
AUDIT KEUANGAN NEGARA tentang AUDIT KECURANGAN.
Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Ahmad Rifai. sebagai
dosenmata kuliah Audit

Keuangan Negara atas arahan dan bimbingannya.

Kelompok Kami juga mengucapkanterima kasih kepada berbagai pihak yang


turut membantu baik secara moril maupun meterildalam proses penyelesaian
makalah ini.Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kekurangan.Sehubungan dengan hal tersebut, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifatmembangun guna mewujudkan makalah yang lebih baik.Kami
berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.
Mataram, Desember 2016
Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

BAB I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................

1.2 Tujuan Penulisan ..............................................................................................

BAB II. PEMBAHASAN

BAB III. PENUTUP

10

3.1 Kesimpulan ...........................................................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

12

i
ii

35
36
37
381
2
2
3

BAB I
LATAR BELAKANG

1.1.

Pendahuluan
Kecurangan (fraud) perlu dibedakan dengan kesalahan (errors).
Kesalahan dapat dideskripsikan sebagai unintentional mistakes (kesalahan
yang tidak disengaja). Kesalahan dapat terjadi pada setiap tahapan dalam
pengelolaan transaksi terjadinya transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayatayat jurnal, pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan
keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis. Kritikal, atau
dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau
kesalahan karena penghilangan / kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi
fakta. Commission merupakan kesalahan prinsip (error of principle),
seperti perlakuan pengeluaran pendapatan sebagai pengeluaran modal.
Sedangkan Omission berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga
menyebabkan informasi tidak benar.
Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja dilakukan
yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan
tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan
umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan
atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya
pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut.
Apabila suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut
merupakan

kecurangan

(fraudulent).

Istilah

Irregulary

merupakan

kesalahan penyajian keuangan yang disengaja atas informasi keuangan.


Untuk mendeteksi dan mencegah kesalahan yang disengaja tersebut perlu
melakukan audit kecurangan.
Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi
dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat
melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi komersial

ii

memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor yang terlatih


dan kriminal investigator.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang audit kecurangan , unsurunsur kecurangan tersebut, teori-teori yang membahas tentang kecurangan
dan bentuk-bentuk kecurangan itu sendiri.

1.2. Rumusan Masalah


Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu berkaitan dengan
audit kecurangan/Fraud. Guna memudahkan pembahasan dalam makalah ini,
maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Apakah audit kecurangan?


Apakah unsur-unsur kecurangan?
Bagaimana perilaku pelaku fraud?
Bagaimana mendeteksi dan mencegah fraud ?

1.3. Tujuan Penulisan


Dalam makalah yang kami susun ini bertujuan untuk mengetahui
tentang audit kecurangan teruta ma tentang;
1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui pengertian Audit kecurangan


Untuk mengetahui Unsur-unsur kecurangan
Untuk mengetahui perilaku pelaku fraud
Untuk memahami cara mendeteksi dan mencegah fraud ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Audit Kecurangan
Secara etimologi Audit

menurut

Arens

adalah

kegiatan

mengumpulkan dan mengevaluasi terhadap bukti-bukti yang dilakukan oleh

yang kompeten dan independen untuk menentukan dan melaporkan tingkat


kesesuaian antara kondisi yang ditemukan dan kriteria yang ditetapkan.
Sedangkan Secara etimologi fraud didefInisikan sebagai kecurangan,
namun pengertian ini telah dikembangkan lebih lanjut sehingga mempunyai
cakupan yang luas. Blacks Law Dictionary Fraud menguraikan pengertian
fraud mencakup segala macam yang dapat dipikirkan manusia, dan yang
diupayakan oleh seseorang, untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain
dengan saran yang salah atau pemaksaan kebenaran, dan mencakup semua
cara yang tidak terduga, penuh siasat. Licik, tersembunyi, dan setiap cara
yang tidak jujur yang menyebabkan orang lain tertipu. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa fraud adalah perbuatan curang (cheating) yang berkaitan
dengan sejumlah uang atau properti.
Berdasarkan defenisi dari The Institute of Internal Auditor (IIA),
yang dimaksud dengan fraud adalah An array of irregularities and illegal
acts characterized by intentional deception: sekumpulan tindakan yang tidak
diizinkan dan melanggar hukum yang ditandai dengan adanya unsur
kecurangan yang disengaja.
Ada pula yang mendefinisikan Fraud sebagai suatu tindak kesengajaan
untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara tidak wajar dan salah
menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam bahasa yang
lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini termasuk
berbohong, menipu,
Sedangkan Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk
mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial.
Untuk dapat melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi
komersial memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor
yang terlatih dan kriminal investigator.
Kecurangan (fraud) perlu dibedakan dengan kesalahan (Errors).
Kesalahan dapat dideskripsikan sebagai Unintentional Mistakes (kesalahan
yang tidak di sengaja). Kesalahan dapat terjadi pada setiap tahapan dalam
pengelolaan transaksi terjadinya transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayatayat jurnal, pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan
keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis. Kritikal, atau

dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau


kesalahan karena penghilangan / kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi
fakta. Commission merupakan kesalahan prinsip (error of principle),
seperti perlakuan pengeluaran pendapatan sebagai pengeluaran modal.
Sedangkan Omission berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga
menyebabkan informasi tidak benar.
Apabila suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut
merupakan

kecurangan

(fraudulent).

Istilah

Irregulary

merupakan

kesalahan penyajian keuangan yang disengaja atas informasi keuangan.


Auditor terutama tertarik pada pencegahan, deteksi, dan pengungkapan
kesalahan-kesalahan karena alasan berikut ;
a. Eksistensi kesalahan dapat menunjukan bagi auditor bahwa catatan
akuntansi dari kliennya tidak dapat dipercaya dan dengan demikian tidak
memadai sebagai suatu dasar untuk penyusunan laporan keuangan. Adanya
sejumlah besar kesalahan dapat mengakibatkan auditor menyimpulakan
bahwa catatan akuntansi yang tepat tidak dilakukan.
b. Apabila auditor ingin mempercayai pengendalian intern, ia harus
memastikan dan menilai pengendalian tersebut dan melakukan pengujian
ketaatan atas operasi. Apabila pengujian ketaatan menunjukan sejumlah
besar kesalahan, maka auditor tidak dapat mempercayai pengendalian
intern.
c. Apabila kesalahan cukup material, kesalahan tersebut dapat mempengaruhi
kebenaran (truth) dan kewajaran (fairness) laporan tersebut.
Istilah kecurangan digunakan untuk berbagai perbuatan dosa yang
termasuk :
a. Kecurangan yang melibatkan perlakuan penipuan untuk mendapatkan
keuntungan keuangan yang tidak adil atau ilegal.
b. Pernyataan salah yang disengaja dalam penghilangan suatu jumlah atau
pengungkapan dati catatan akuntansi atau laporan keuangan suatu entitas.
c. Pencurian (theft), apakah disertai dengan penyataan yang salah dari catatan
akuntansi atau laporan keuangan atau tidak.
2.2. Unsur-Unsur Kecurangan
Dari beberapa definisi atau pengertian Fraud (Kecurangan) di atas,
maka tergambarkan bahwa yang dimaksud dengan kecurangan (fraud) adalah

sangat luas dan dapat dilihat pada beberapa kategori kecurangan. Namun
secara umum, unsurunsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika
ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah:
Harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation);
Dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present);
fakta bersifat material (material fact);
dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or
recklessly);
dengan maksud (intent) untuk menyebabkan suatu pihak beraksi;
Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan
tersebut (misrepresentation)
yang merugikannya (detriment).
Kecurangan disini juga termasuk (namun tidak terbatas pada)
manipulasi, penyalahgunaan jabatan, penggelapan pajak, pencurian aktiva,
dan tindakan buruk lainnya yang dilakukan oleh seseorang yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi organisasi/perusahaan.

2.3. Teori-teori Terkait Fraud


a. Motivasi Terjadinya Fraud
Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya
terjadi secara bersamaan, yaitu:
1. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud
2. Peluang untuk melakuakn fraud
3. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud.
Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga fraud (Fraud
Triangle) berikut :
Opportunity

biasanya

muncul

sebagai

akibat

lemahnya

pengendalian inernal di organisasi tersebut. Terbukanya kesempatan ini


juga dapat menggoda individu atau kelompok yang sebelumnya tidak
memiliki motif untk melakukan fraud.
Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan memebuat
mereka mencari kesempatan melakukan fraud, beberapa contoh pressure
dapat timbul karena masalah keuangan pribadi, Sifat-sifat buruk seperti
berjudi, narkoba, berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja

yang tidak realistis.


Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas
aktifitasnya yang mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud
meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu
kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya, bahkan
kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk
organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana
pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga
melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud
tersebut.
b. Faktor Pemicu Fraud
Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan
kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu Greed
(keserakahan), Opportunity (kesempatan), Need (kebutuhan), Exposure
(pengungkapan).
Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan
dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).
Sedangkan faktor Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang
berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan
(disebut juga faktor generik/umum).
1. Faktor generic
Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung
pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk
melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada
yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum
manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang
lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan;
Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak
terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh
pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya
dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap.

2. Faktor individu
Moral, faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed).
Motivasi, faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need), yang lebih
cenderung berhubungan dengan pandangan/pikiran dan keperluan
pegawai/pejabat

yang

terkait

dengan

aset

yang

dimiliki

perusahaan/instansi/organisasi tempat ia bekerja. Selain itu tekanan


(pressure) yang dihadapi dalam bekerja dapat menyebabkan orang
yang jujur mempunyai motif untuk melakukan kecurangan.
c. Gejala Fraud
Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya
lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan.
Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya
kecurangan tersebut, adapun gejala tersebut adalah :
1. Gejala kecurangan pada manajemen

Ketidakcocokan diantara manajemen puncak;


Moral dan motivasi karyawan rendah;
Departemen akuntansi kekurangan staf;
Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari

pihak konsumen, pemasok, atau badan otoritas;


Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi;
Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang
meningkat;
Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka
waktu yang lama;
Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan;
Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir
tahun buku.
2. Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai
Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan
tanpa perincian/penjelasan pendukung;
Pengeluaran tanpa dokumen pendukung;
Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar;
Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung

2.4.

pembayaran;
Kekurangan barang yang diterima;
Kemahalan harga barang yang dibeli;
Faktur ganda;
Penggantian mutu barang.

Perilaku Pelaku Fraud


Berikut merupakan beberapa perilaku seseorang yang harus menjadi
perhatian karena dapat merupakan indikasi adanya kecurangan yang
dilakukan orang tersebut, yaitu :
Perubahan perilaku secara signifikan, seperti: easy going, tidak seperti

biasanya, gaya hidup mewah, mobil atau pakaian mahal;


Gaya hidup di atas rata-rata;
Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja;
Penjudi berat;
Peminum berat;
Sedang dililit utang;
Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities)

dianggap tidak material ketika ditemukan;


Bekerja tenang, bekerja keras, bekerja melampaui jam kerja, sering
bekerja sendiri.
Kecurangan terjadi disebabkan oleh berbagai macam, namun pada
dasarnya kecurangan disebabkan oleh 2 penyebab utama dan penyebab
sekunder. Penyebab Utama terjadinya fraud adalah;
a. Penyembunyian (concealment); Kesempatan tidak terdeteksi. Pelaku perlu
menilai kemungkinan dari deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.
b. Kesempatan/Peluang (Opportunity); Pelaku perlu berada pada tempat yang
tepat, waktu yang tepat agar mendapatkan keuntungan atas kelemahan
khusus dalam system dan juga menghindari deteksi.
c. Motivasi (Motivation); Pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan
aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan/kerakusan
dan motivator yang lain.
d. Daya tarik (Attraction); Sasaran dari kecurangan yang dipertimbangkan
perlu menarik bagi pelaku.
e. Keberhasilan (Success); Pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat

diukur baik menghindari penuntutan atau deteksi. .


Sedangkan Penyebab Sekunder terjadinya tindakan fraud adalah
sebagai beirkut :
a. A Perk ; Kurang pengendalian, mengambil keuntungan aktiva organisasi
dipertimbangkan sebagai suatu tunjangan karyawan.
b. Hubungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelekYaitu saling kepercayaan
dan penghargaan telah gagal. Pelaku dapat mengemukakan alasan bahwa
kecurangan hanya menjadi kewajibannya.
c. Pembalasan dendam (Revenge); Ketidaksukaan yang hebat terhadap
organisasi dapat mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi
tersebut.
d. Tantangan (Challenge); Karyawan yang bosan dengan lingkungan kerja
mereka dapat mencari stimulasi dengan berusaha untuk memukul
sistem, sehingga mendapatkan suatu arti pencapaian (a sense of
achievement), atau pembebasan frustasi (relief of frustation) 2.3 TandaTanda Peringatan Untuk Kecurangan Meskipun pada suatu kesempatan
pemeriksa intern melakukan penugaan langsung dalam penyelidikan
kecurangan yang dicurigai atau aktual, bagian yang lebih besar dari
usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu bagian yang
integral dari penugasan audit yang lebih luas. Usaha yng berorientasi pada
kecurangan ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam
program audit yang lebih luas. Usaha yang berorientasi kecurangan
tersebut dapat termasuk seluruh dari kesiapsiagaan umum dari pemeriksa
intern ketika ia melaksanakan seluruh bagian dari penugasan audit ini.
Kesiapsiagaan ini termasuk berbagai area, kondisi dan pengembangan
yang memberikan tanda-tanda peringatan. 2.4 Area Area yang Sensitif
Pemeriksaan intern khususnya harus waspada terhadap area yang sensitive
untuk penelaahan yang dalam.
Perbuatan kecurangan dapat dikelompokkkan menjadi beberapa
macam. Beberapa Klasifikasi Fraud dianataranya:
a. Penyimpangan atas asset (Asset Misappropriation);Asset misappropriation
meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau hartaperusahaan atau pihak

lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudahdideteksi karena


sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (definedvalue).
b. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement);Fraudulent
statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat ataueksekutif
suatu

perusahaan

atau

instansi

pemerintah

untuk

menutupi

kondisikeuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan


(financialengineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk
memperolehkeuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah
window dressing.
c. Korupsi (Corruption); Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena
menyangkut kerja sama dengan lain seperti suap dan korupsi, di mana hal
ini merupakan jenis yangterbanyak terjadi di negara-negara berkembang
yang penegakan hukumnyalemah dan masih kurang kesadaran akan tata
kelola yang baik sehingga factor integritasnya masih dipertanyakan. Fraud
jenis ini sering kali tidak dapat dideteksikarena para pihak yang bekerja
sama

menikmati

didalamnya
(conflict

adalah

of

keuntungan

(simbiosismutualisma).

penyalahgunaan

interest),

penyuapan

Termasuk

wewenang/konflikkepentingan
(bribery),

penerimaan

yang

tidaksah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi


(economicextortion).
Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari
hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada 4 aspek yaitu :
1. Aspek ekonomi
2. Aspek kebudayaan
3. Aspek peradaban
4. Aspek teknik.
Apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka
segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma
hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa
tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar
norma tersebut dan jadilah kecurangan. Lawan buruk sudah tentu baik. Baik
buruk itu berhubungan dengan kelakuan manusia. Pada diri manusia seakan-

akan ada perlawanan antara baik dan buruk. Baik merupakan tingkah laku,
karena itu diperlukan ukuran untuk menilainya. Namun, sukarlah untuk
mengajukan ukuran penilaian mengenai hal yang penting ini. Dalam hidup
kita mempunyai semacam kesadaran dan tahulah kita bahwa ada baik dan ada
lawannya, pada tingkah laku tertentu juga agak mudah menunjuk mana yana
baik, kalau tidak baik tentu buruk.
2.5

Pencegahan dan Pendeteksian Fraud


Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud sebenarnya
ada beberapa pihak yang terkait : yaitu akuntan (baik sebagai auditor internal,
auditor eksternal, atau auditor forensik) dan manajemen perusahaan.
Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam
rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya
fraud. Corporate governance meliputi budaya perusahaan, kebijakankebijakan, dan pendelegasian wewenang.
Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor
internal, pada dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan
pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang
sah, mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi
perusahaan dari kerugian.
Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal
diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan
perusahaan.Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor.
Peran auditor forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait
dengan ukuran dan tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud
itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah
pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau
penyalahgunaan aset.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarisk sebuah kesimpulan sebagai


berikut bahwa :
a. Fraud didefinisikan sebagai kecurangan, namun pengertian ini telah
dikembangkan lebih lanjut sehingga mempunyai cakupan yang luas. Blacks
Law Dictionary Fraud menguraikan pengertian fraud mencakup segala
macam yang dapat dipikirkan manusia, dan yang diupayakan oleh seseorang,
untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan saran yang salah atau
pemaksaan kebenaran, dan mencakup semua cara yang tidak terduga, penuh
siasat. Licik, tersembunyi, dan setiap cara yang tidak jujur yang menyebabkan
orang lain tertipu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa fraud adalah
perbuatan curang (cheating) yang berkaitan dengan sejumlah uang atau
properti.
b. Sedangkan Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk
mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial.
Untuk dapat melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi
komersial memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor
yang terlatih dan kriminal investigator.
c. Kecurangan (fraud) perlu dibedakan dengan kesalahan (Errors). Kesalahan
dapat dideskripsikan sebagai Unintentional Mistakes (kesalahan yang tidak
di sengaja). Kesalahan dapat terjadi pada setiap tahapan dalam pengelolaan
transaksi terjadinya transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal,
pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan keuangan.
Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis. Kritikal, atau dalam

aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau kesalahan


karena penghilangan / kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi fakta.
Commission merupakan kesalahan prinsip (error of principle), seperti
perlakuan pengeluaran pendapatan sebagai pengeluaran modal. Sedangkan
Omission berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga
menyebabkan informasi tidak benar.
d. Perbuatan kecurangan dapat dikelompokkkan menjadi beberapa macam.
Beberapa Klasifikasi Fraud dianataranya:
a. Penyimpangan atas asset (Asset Misappropriation); Asset misappropriation
meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak
lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena
sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined value).
b. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement); Fraudulent
statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif
suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi
keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan
(financial engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk
memperoleh keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah
window dressing.
c. Korupsi (Corruption); Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena
menyangkut kerja sama dengan lain seperti suap dan korupsi, di mana hal
ini merupakan jenis yang terbanyak terjadi di negara-negara berkembang
yang penegakan hukumnya lemah dan masih kurang kesadaran akan tata
kelola yang baik sehingga factor integritasnya masih dipertanyakan. Fraud
jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang bekerja
sama

menikmati

keuntungan

(simbiosis

mutualisma).

Termasuk

didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan


(conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak
sah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi (economic
extortion).

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. Hoesada, jan. 2009. Bunga Rampai Auditing. Jakarta: salemba
Empat
Audit Sektor Publik Terhadap Akuntabilitas Pemerintah Daerah.
http://blog.re.or.id/management-audit-sektor-publik.htm (diakses tanggal 11
November 2016)
Mardiasmo. 2004. Audit Sektor Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat.
Tuanakotta, Theodorus M. 2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif.
Jakarta: Salemba Empat.
Arif Arryman dkk, Mengupas Benang Kusut, Merajut Masa Depan.
Transformasi
Tata Kelola Pelaporan Keuangan Telkom Pasca SOA, 2010
http://accounting-media.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-fraud-kecurangan.html
https://fadlyknight.wordpress.com/2012/06/06/jenis-jenis-audit/
Peraturan Menteri Dalam Negeri. 2008. Pemendagri Nomor 4 Tahun 2008
tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Jakarta: Kemendagri
Irawan, E. 2016. Reviu sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas LKPD.
http://inspektorat.magelangkota.go.id/Artikel/130/Reviu-sebagai-UpayaPeningkatan-Kualitas-LKPD.html