Anda di halaman 1dari 31

Kematian Akibat Kekerasan Tajam dan Penjeratan

Gusna Ridha
10.2010.107 (B-2)
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA)
Jalan Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat 11470
gusna.ridha@yahoo.com

Skenario
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadaan mati tertelungkup. Ia mengekana kaos dalam(oblong) dan celana panjang yang dibagian
bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawah. Lehernya terikat dengan lengan baju(yang
kemudiannya diketahui sebagai baju milik nya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke
sebuah dahan pohon perdu setinggi 60cm. posisi tubuh relative mendatar,namun leher memang
terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk,namun masih dijumpai adanya
satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus
dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri sesuai
dengan akibat kekerasan tajam.
Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah sekitar 2km. TKP adalah suatu
daerah perbukitan yang berhutan cukup berat.

Pendahuluan
Salah satu aspek Pancasila menyinggung tentang adanya keadilan. Untuk mengatur
danmenjaga keadilan diperlukan adanya hukum atau undang-undang yang mengatur segala
aspek kehidupan tidak terkecuali. Untuk menjunjung tinggi hukum tentunya peradilan
harus berjalan dengan baik. Agar berjalan dengan baik, peradilan bisa dibantu oleh aspek-aspek
lain diluar hukum, salah satunya adalah bidang kedokteran. Salah satu cabang ilmu kedokteran
yang membantu peradilan dalam rangka penegakkan hukum adalah ilmu kedokteran forensik.

Pihak yang menengani suatu kasus peradilan tentunya boleh meminta keterangan ahli
dari para ahli forensik ini. Objeknya sendiri bisa korban yang masih hidup maupun sudah
meninggal. Dengan adanya kedokteran forensik ini,nantinya akan para penegak hukum mampu
mempertimbangkan dan menjunjung tinggikeadilan. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
agar kami sebagai mahasiswa kedokteran mampu memahami berbagai aspek yang berhubungan
dengan ilmu kedokteran forensik dan nantinya mampu mempraktekan apa yang dipelajari, dan
memiliki kesadaran akan pentingnya penegakan keadilan mengingat keterangan ahli mampu
menjadi alat yang kuat dalam penegakkan peradilan.

Pembahasan

Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).1


Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat suatu perkara dilakukan/ terjadi/ akibat
yang ditimbulkan atau tempat lain ditemukan barang bukti/ korban yang berhubungan dengan
tindak pidana (TP). Penanganan pertama, ketika terjadi sebuah perisitiwa yang diduga adalah
tindak pidana, maka penyelidik atau penyidik melakukan tindakan berupa: Tindakan Pertama di
TKP (TPTKP) dan Crime Scene Processing (Pengolahan TKP)
Tindakan Pertama di TKP (TPTKP)
TPTKP dilakukan setelah adanya:
- Laporan
- Pengaduan
- Tertangkap tangan
- Diketahui sendiri oleh Petugas
TPTKP dilakukan dengan SOP sebagai berikut:
-

Pengamanan TKP
a. Police Line
b. Tanda-tanda
c. Pengawasan TKP
d. Identifikasi
Penanganan Korban
a. Ringan
b. Berat
c. Mati
2

Laporan Ke SatResKrim

Crime Scene Processing


1. Pencarian Tersangka/ Saksi/ Korban : Tersangka/ Saksi/ Korban apabila ditemukan, maka
perlu diadakan identifikasi yang berguna untuk: melakukan penyidikan lebih terarah,
mencari hubungan tersangka dengan korban, mempermudah membuat daftar orang yang
2.
3.
4.
5.
6.

dicurigai.
Pencarian Barang Bukti
Pemotretan
Sketsa
BAP
Pencarian Barang Bukti : pencarian barang bukti dapat dilakukan dengan beberapa
metode, diantaranya :
a. Metode Spiral (Hutan, semak dll)

b. Metode Zone

c.

Metode Strip

d.

Metode Roda
3

7.

Penanganan Barang Bukti


Pelaku pada umumnya meninggalkan jejak/ bekas di TKP dan pada tubuh korban,

karena setiap terjadi kontak fisik antara dua objek akan terjadi perpindahan materiil dari
masing-masing objek. Makin jarang dan tidak wajar suatu barang di TKP makin tinggi
nilainya. Barang yang umum akan menjadi tinggi nilainya apabila ada ciri khusus dari
barang tersebut. Selalu beranggapan bahwa barang yang mungkin tidak berarti bagi kita
bisa menjadi barang yang penting bagi orang yang ahli. Berupaya memperoleh bermacammacam barang bukti dan mencari hubungannya. Dalam penggeledahan badan harus teliti
dan cermat dan selalu berprasangka.

Pengumpulan Barang Bukti


Pengambilan dan pengumpulan barang bukti harus dilakukan dengan cara yang
benar disesuaikan dengan macam barang bukti yang diambil :
a. Pada jalur masuk/ keluar pelaku. Antara lain: bekas ban kendaraan, bekas
b.
c.
d.

Kaki/ sepatu/ sandal.


Pada tempat masuk/ keluar pelaku : sidik jari, bekas alat pembongkar
Di dalam TKP: Sidik jari, barang-barang yang tertinggal, darah.
Pada tubuh korban: darah, luka, bekas Perlawanan.

8. Pengambilan dan Pembungkusan Barang Bukti :


a. Pisau : menggunakan tali pada pangkal pisau. Dibungkus pada karton tebal
b. Senjata Api : menggunakan tali diikat pada bagian pemegang dan pangkal larasnya.
Dibungkus dengan karton tebal
c. Anak Peluru: bungkus dengan kapas dan pisahkan antara satu peluru dengan peluru
yang lain
d. Selongsong : Sama dengan anak peluru
4

e. Mesiu : tetesi dengan lilin/ parafin, kemudian setelah kering masukkan kedalam
plastik dan label.
f. Darah : Basah berada ditempat lunak; pakaian. Gunting setengah tempat darah
tersebut masukkan kedalam botol berisi cairan saline (larutan garam dapur NaCl 0.9
%)
g. Sperma : Basah, pindahkan ke botol kaca dan tutup rapat
Kering, biarkan pada tempatnya semula bungkus bersama tempatnya
h. Rambut : Ambil dengan pinset tempatkan pada kertas putih dan lipatlah sehingga
posisi rambut ada ditengah, masukkan ke dalam kantong plastik dan label.
i. Barang dari gas : Harus dengan bantuan ahli dengan cara mengumpulkan gas yang
ada ke dalam kantung plastik terbuat dari nylon dari beberapa tempat di TKP
j. Dokumen dan surat : Jangan sampai terjadi kerusakan pada saat pengambilan, jangan
membuat coretan-coretan, simpan dalam amplop.

9. Pemotretan
SOP Pemotretan:
1. Visualisasi TKP
2. Objek: TKP/ korban mati
3. Waktu
4. Merk kamera+lensa dll
5. Sumber cahaya
6. Jarak kamera dengan objek
7. Nama dan pangkat juru potret
10.Faktor-faktor yang mempengaruhi Penanganan TKP, diantaranya :

Kemampuan

diperoleh dari pendidikan formal, Skill, diperoleh dari latihan dan mengikuti kinerja
penyidik lain yang expert, dukungan peralatan, bantuan ahli yang memenuhi syarat,
tambahan keterangan saksi/ korban.
Hans Gross menyatakan keterangan saksi yang diberikan sering tidak menunjukkan data
atau keterangan yang pasti

Kesalahan Umum Selama Pemeriksaan TKP


Persiapan yang baik untuk persiapan
5

Mengabaikan sebuah benda


Mengejar pengakuan tersangka
Menambah hal-hal yang sebenarnya tidak ada
Mengganti/ memalsu
Melompat-lompat atau tidak sistematis
Hal-hal yang diperhatikan Sebelum Meninggalkan TKP
Cukup/ belum pemeriksaan
Barang bukti sudah terkumpul/ belum
Jumlah barang bukti
Cara pembungkusan
Konsep-konsep lengkap

Aspek Medikolegal. 2,3


Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenazah adalah :
A. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHP pasal
133:
1. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka
atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
B. Undang-undang Kesehatan Pasal 79
1. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat
pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus
sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam
2.

undang-undang ini.
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
6

c.
d.
e.
f.
g.
2.

Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.
Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.
Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan

dengantindak pidana di bidang kesehatan.


Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut
UU No 8 tahun 1981 tentang HAP.

Kewajiban dokter membantu peradilan

Pasal 133 KUHAP


Pasal 179 KUHAP
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya

Pasal 183 KUHAP


o Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan
bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang

bersalah melakukannnya.2-4
Pasal 184 KUHAP
1) Alat bukti yang sah adalah:
- Keterangan saksi
- Keterangan ahli
- Surat
- Pertunjuk
- Keterangan terdakwa
2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 186 KUHAP
o Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 180 KUHAP


1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat
pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).

Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter

Pasal 216 KUHP


1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa
dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna
menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan
dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka

pidanya dapat ditambah sepertiga.


Pasal 222 KUHP
o Barangsiapa dengan sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana


penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat
ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP

o Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli


atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang
menurut undang-undang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6

bulan.
Pasal 522 KUHP
o Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau
jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana
denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Bedah Mayat Klinis


Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat
Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia.

Pasal 2 PP No 18/1981

Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut:
o Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat
setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat
ditentukan dengan pasti;
o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga
penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau
masyarakat sekitarnya.
o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka
waktu 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari

yang meninggal dunia datang ke rumah sakit.


Pasal 70 UU Kesehatan (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan
memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.3

Aspek hukum 2,3


Undang-udang yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau penganiayaan sehingga
menyebabkan kematian :

Pasal 338 KUHP


9

o Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena

pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun


Pasal 339 KUHP
o Pembunuhan yang diikuti,disertai atau didahului oleh sesuatu perbuatan
pidana,yang

dilakukan

dengan

maksud

untuk

mempersiapkan

atau

mempermudahkan pelaksanaannya,atau untuk melepaskan diri sendiri maupun


peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan ataupun untuk
memastikan penguasaan barangyang diperolehnya secara melawan hukum
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling

lama 20 tahun.
Pasal 340 KUHP
o Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas
nyawa orang lain, diancam,karena pembunuhan dengan rencana(moord), dengan
pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling
lama 25 tahun.

Identifikasi Forensik 4,7


Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati,
berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha
untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu
kepentingan proses peradilan.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal,
jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada kecelakaan massal, bencana
alam atau huru-hara yang mengakibatkan banyak korban mati, serta potongan tubuh manusia
atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti
penculikan anak, bayi yang tertukar atau diragukannya orang tuanya.
Tujuan dari identifikasi forensik adalah:

Kebutuhan etis dan kemanusiaan.


Pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis.
Pencatatan identitas untuk keperluan administratif dan pemakaman.
Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata.
Pembuktian klaim asuransi, pensiun dan lain-lain.
Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal.

10

Peran Identifikasi Forensik


Peran identifikasi forensik adalah:
Pada orang hidup :
- Semua kasus medikolegal.
- Orang yang didakwa pelaku pembunuhan.
- Orang yang didakwa pelaku pemerkosaan.
- Identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang tuanya.
- Anak hilang.
Pada jenazah, dilakukan pada keadaan:
- Kasus peledakan.
- Kasus kebakaran.
- Kecelakaan kereta api atau pesawat terbang.
- Banjir.
- Kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum.
Metode Identifikasi Forensik
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan
memberikan hasil positip (tidak meragukan). Secara garis besar ada dua metode pemeriksaan,
yaitu:

a. Identifikasi primer :
Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria
identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu :
Pemeriksaan DNA
Pemeriksaan sidik jari
Pemeriksaan gigi
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan dua sampai tiga
metode pemeriksaan dengan hasil positif.
b. Identifikasi sekunder :
Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi sekunder tidak dapat berdiri sendiri
dan perlu didukung kriteria identifikasi yang lain. Identifikasi sekunder terdiri atas cara
sederhana dan cara ilmiah. Cara sederhana yaitu melihat langsung ciri seseorang dengan
memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara ilmiah yaitu melalui
teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis.
Ada beberapa cara identifikasi yang biasa dilakukan, yaitu:
1) Pemeriksaan sidik jari
11

Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari
antemortem. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi
akurasinya dalam penentuan identitas seseorang, oleh karena tidak ada dua orang yang memiliki
sidik jari yang sama.
2) Metode visual
Metode ini dilakukan dengan cara keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama
wajah). Oleh karena metode ini hanya efektif pada jenazah yang masih utuh (belum membusuk),
maka tingkat akurasi dari pemeriksaan ini kurang baik.
3) Pemeriksaan dokumen
Metode ini dilakukan dengan dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, kartu golongan
darah, paspor dan lain-lain) yang kebetulan dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan.
Namun perlu diingat bahwa dalam kecelakaan massal, dokumen yang terdapat dalam saku, tas
atau dompet pada jenazah belum tentu milik jenazah yang bersangkutan.
4) Pengamatan pakaian dan perhiasan
Metode ini dilakukan dengan memeriksa pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenzah.
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui merek, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang
semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah. Untuk
kepentingan lebih lanjut, pakaian atau perhiasan yang telah diperiksa, sebaiknya disimpan dan
didokumentsikan dalam bentuk foto.
5) Identifikasi medik
Metode ini dilakukan dengan menggunakan data pemeriksaan fisik secara keseluruhan,
meliputi tinggi dan berat badan, jenis kelamin, warna rambut, warna tirai mata, adanya luka
bekas operasi, tato, cacat atau kelainan khusus dan sebagainya. Metode ini memiliki akurasi yang
tinggi, oleh karena dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara atau
modifikasi.
6) Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi yang dapat dilakukan dengan
menggunakan pemeriksaan manual, sinar x, cetakan gigi serta rahang. Odontogram memuat data
tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Bentuk gigi dan rahang
merupakan ciri khusus dari seseorang, sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada
gigi atau rahang yang identik pada dua orang yang berbeda, bahkan kembar identik sekalipun.
7) Serologi

12

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan golongan darah yang diambil baik dari
tubuh korban atau pelaku, maupun bercak darah yang terdapat di tempat kejadian perkara. Ada
dua tipe orang dalam menentukan golongan darah, yaitu:
Sekretor : golongan darah dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air mani dan cairan
tubuh.
Non-sekretor : golongan darah hanya dari dapat ditentukan dari pemeriksaan darah.
8) Metode ekslusi
Metode ini digunakan pada identifikasi kecelakaan massal yang melibatkan sejumlah
orang yang dapat diketahui identitasnya. Bila sebagian besar korban telah dipastikan identitasnya
dengan menggunakan metode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat
ditentukan dengan metode tersebut di atas, maka sisa diidentifikasi menurut daftar penumpang.
9) Identifikasi kasus mutilasi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia atau
binatang. Bila berasal dari manusia ditentukan apakah potongan tersebut berasal dari satu tubuh.
Untuk memastikan apakah potongan tubuh berasal dari manusia dilakukan beberapa pemeriksaan
seperti pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa
reaksi antigen-antibodi.
10) Identifikasi kerangka
Identifikasi ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka
manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila
memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Kemudian dicari pula tanda kekerasan pada
tulang serta keadaan kekeringan tulang untuk memperkirakan saat kematian.
11) Forensik molekuler
Pemeriksaan ini memanfaatkan pengetahuan kedokteran dan biologi pada tingkatan
molekul dan DNA. Pemeriksaan ini biasa dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan
berbagai pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak dikenal, kasus pembunuhan,
perkosaan serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas).
Pemeriksaan Pada Mayat
Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya
kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk
melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan
dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk
dibuatkan visum et repertumnya. Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya

13

kekerasan, keracunan, tanda persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda bukti
yang berasal dari pelaku.
Pemeriksaan Luar 2,6,8,9
Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan
harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba,
baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan lain-lain, juga
terhadap tubuh mayat itu sendiri.
Agar pemeriksaan dapat terlaksana dengan secermat mungkin, pemeriksaan harus mengikuti
suatu sistimatika yaitu mulai dengan :
1. Label mayat.
Mayat laki-laki yang dikirimkan untuk pemeriksaan kedokteran forensik diberi label dari
pihak kepolisian, merupakan sehelai label berwarna merah muda dengan materai lak merah
terikat pada ibu jari kaki kanan. Adalah kebiasaan yang baik, bila dokter pemeriksa dapat
meminta keluarga terdekat dan mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/pemastian
identitas.
2. Tutup mayat.
Mayat seringkali dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu.
Jenis/bahan, warna serta corak dari penutup ini dicatat. Bila terdapat pengotoran pada penutup,
catat pula letak pengotoran serta jenis/bahan pengotoran tersebut.
3. Bungkus mayat.
Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbungkus. Bungkus
mayat ini harus dicatat jenis/bahannya, warna, corak, serta adanya bahan yang mengotori.
Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/bahan tali tersebut, maupun cara
pengikatan serta letak ikatan tersebut.
4. Pakaian.
Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dan pakaian yang dikenakan pada bagian tubuh
sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai lapisan yang
terdalam. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal, sebaiknya
disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini harus diperiksa
dan dicatat isinya dengan teliti pula.
5. Perhiasan.

14

Perhiasan yang dipakai oleh mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputi
jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan
tersebut. Benda di samping mayat. Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disertakan
pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas.

6. Tanda kematian
Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benarbenar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat kematian.
Waktu/saat dilakukannya pemeriksaan terhadap tanda kematian ini dicatat agar pencatatan
terhadap tanda kematian ini bermanfaat.
7. Tanda-tanda pasti kematian :
A. Lebam mayat (livor mortis)
Lebam mayat dapat di gunakan untuk tanda pasti kematian ; memperkirakan sebab
kematian, mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadi lebam mayat
yang menetap dan memperkirakan saat kematian. Terhadap lebam mayat, dilakukan
pencatatan letak/ distribusi lebam, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang justru
tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian, terbaring di atas benda keras dan lainlain). Warna dari lebam mayat serta intensitas lebam mayat (masih hilang pada penekanan,
sedikit menghilang atau sudah tidak menghilang sama sekali).
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya
gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak darah berwarna ungu (livide) pada
bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair
karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluih darah. Lebam mayat
biasanya mulai tampak pada 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan
menjadi lengkap dan menetap setelah 8- 12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat masih
hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah.
Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau
perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi
walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat
mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang dijumpai
bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya
lebam disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit

15

berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit
perpindahan tersebut.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan
perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat
baru di daerah perut dan dada. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat didala pembuluh
darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat
trauma (ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan
air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan resapan
darah tidak menghilang.
B.Kaku mayat (rigor mortis)
Distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk,
lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dicatat dengan menentukan apakah mudah atau
sukar dilawan. Apabila ditemukan adanya spasme kadaverik (cadaveric spasm) maka ini harus
dicatat dengan sebaik-baiknya, karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang sedang
dilakukan oleh korban saat terjadi kematian.
Kaku mayat timbul 1-3 jam postmortem, dipertahankan 6-12 jam, dimulai dari otot
kecil : rahang bawah, anggota gerak atas, dada, perut dan anggota bawah kemudian kaku
lengkap dalam 6-12 jam dan dipertahankan 24-48 jam.
Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis, yaitu :
Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal.
Suhu tubuh tinggi.
Konstitusi berupa tubuh kurus.
Suhu lingkungan tinggi.
Umur yaitu anak-anak dan orang tua.
Gizi yang jelek.
Kekakuan yang menyerupai kaku mayat :
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor)
o Akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat
mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal
2. Heat stiffening :
o Kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas
o Serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha
dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati terbakar
3. Cold stiffening

16

o terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak
subkutan dan otot
C. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

Kecepatan penurunan suhu tubuh dipengaruhi oleh suhu sekeliling, aliran dan
kelembapan udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, dan pakaian.

D. Pembusukan
Pembusukan terjadi karena atas 2 mekanisme yaitu :

Autolysis
Mikroorganisme : bakteri pathogen dalam usus

Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat, yaitu :


a. Dari luar
1) Mikroorganisme/sterilitas.
2) Suhu optimal yaitu 21-380C (70-1000F) mempercepat pembusukan. Berhenti pada
suhu 2120F
3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan.
4) Sifat medium. Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat, di
tanah paling lambat). Hukum Casper.
b. Dari dalam
1) Umur. Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi pembusukan.
2) Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus.
3) Keadaan saat mati. Udem, infeksi dan sepsis mempercepat pembusukan. Dehidrasi
memperlambat pembusukan.
4) Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami
pembusukan.
8. Identifikasi umum

Tanda umum yang menunjukkan identitas mayat seperti jenis kelamin/bangsa/ras/


umur/warna kulit/status gizi/berat badan/panjang atau tinggi badan/zakar disirkumsisi
atau tidak/striae albicans ada atau tidak.

9.Identifikasi khusus

Rajah/tattoo : letak,bentuk,warna,tulisan dan dokumentasi foto


Jaringan parut : disebabkan penyembuhan luka atau bekas luka operasi
Callus
Kelainan kulit
Anomali dan cacat pada tubuh

10. Pemeriksaan rambut

Distribusi/warna/keadaan rambut/sifat rambut


17

11. Pemeriksaan mata

Kelopak mata terbuka/tertutup


Apakah ada kekerasan pada mata/kelainan
Apakah ada pembuluh darah yang melebar/bintik atau bercak perdarahan

12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung

Bentuk daun telinga dan hidung


Kelainan dan tanda kekerasan yang ditemukan
Apakah ada cairan/busa/darah yang keluar

13. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut

Meliputi bibir,lidah,rongga mulut dan gigi


Data gigi yang lengkap
Apakah ada sumbatan/benda asing dalam rongga mulut

14. Pemeriksaan alat kelamin

Apakah ada kelainan atau tanda kekerasan

15. Lain-lain

Tanda perbendungan/ikterus/sianosis/edema
Bekas pengobatan
Bercak kotoran

16. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka :


Traumatologi Forensik
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya
dengan berbagai tindak kekerasan. Berdasarkan kasus korban mempunyai tanda-tanda kekerasan
oleh benda tajam.
Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu :
1. Adanya luka
2. Perdarahan dan atau skar
3. Hambatan dalam fungsi organ
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat
disebabkanoleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan
listrik , atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan
oleh kekuatan mekanik eksternal, berupa potongan atau kerusakan jaringan, dapat disebabkan
oleh cedera atau operasi.
Pemeriksaan terhadap luka :
a.Penyebab luka
18

Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda


yangmengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk
bulat panjang

akan

meninggalkan

negative

imprint

oleh timbulnya

marginal

haemorrhage.
Luka lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.
b.Arah kekerasan
Pada luka lecet geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal inisangat
membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.
c.Cara terjadinya luka luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang
terbuka.
Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu

kecelakaan.

Daerah terlindung ini misalnya daerah ketiak, sisi depan leher, lipat siku, dan lain-lain.
Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh.
Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka

tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan.
Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan(tentative

wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.


d.Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati :

Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh

kekerasan yang menyebabkan luka


Harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang

terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital)


Perhatikan tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka
Tanda intravitalitas : ditemukannya resapan darah, proses penyembuhan luka,sebukan sel
radang, pemeriksaan histo-enzimatik, pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin
jaringan

Gambaran umum luka yang diakibatkan oleh benda tajam seperti : 2

Tepi dan dinding luka yang rata


Berbentuk garis
Tiada jembatan jaringan
Dasar luka berbentuk garis/titik
Kedua sudut luka lancip
Kedalaman luka tidak melebihi panjang luka
Satu sudut luka lancip,satu lagi tumpul (benda tajam bermata satu)
Kedua sudut luka lancip (benda tajam bermata dua)
19

Tabel 1 : Perbedaan pada trauma tajam dan tumpul .5


Pembeda

Tajam

Tumpul

bentuk luka

Teratur

tidak

Tepi luka

Rata

tidak rata

jembatan jaringan

tidak ada

ada/tidak

folikel rambut terpotong

ya/tidak

Tidak

dasar luka

garis/titik

tidak teratur

sekitar luka

Bersih

bisa lecet/memar

Tabel 2 : Ciri-ciri luka akibat kekerasan tajam pada kasus

pembunuhan,bunuh diri dan

kecelakaan .5

Lokasi luka
Jumlah luka
Pakaian
Luka tangkisan
Luka percobaan
Cedera Sekunder

Pembunuhan
Sembarang
Banyak
Terkena
(+)
(-)
Mungkin ada

Bunuh Diri
Terpilih
Banyak
Tidak
(-)
(+)
(-)

Kecelakaan
Terpapar
>1
Terkena
(-)
(-)
Mungkin ada

Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan :


Dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api.
Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka lecet
maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah ekstensor

lengan bawah
Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka,
keadaan sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya lukatangkis di

daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan.


Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur
Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak

dan

luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat,sangat dekat atau
jarak jauh dan jarang luka tembak tempel.
20

17. Pemeriksaan terhadap patah tulang

Tentukan letak patah tulang dan sifat/jenis patah tulang tersebut

Perkiraan Saat Kematian .2


Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12 jam

pasca mati
Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam setelah
makan terakhir, misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan
besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna. Kecepatan pengosongan
lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran cerna, konsistensi makanan dan

kandungan lemaknya.
Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk

memperkirakan saat kematian, kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari


Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm/hari
Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg%
menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, Kadar nitrogen non protein kurang 80 mg%

menunjukkan kematian belum 24 jam


Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari ke-7,
berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi lalat pada hari ke-14. Larva
Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9, menjadi kepompong pada
hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus species akan memakan
jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga
Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun
serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari
postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang
akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.

Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama
seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Rangsang listrik dapat
menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati, mengakibatkan
sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati, trauma masih dapat menimbulkan
perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati .

Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hati-hati sekali
berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak
21

hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu di dalam
pemeriksaan korban kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 4,6,7
1. Jumlah luka
2. Lokalisasi luka
3. Arah luka
4. Ukuran luka (panjang, lebar, dalamnya).
5. Bersih dan kotornya luka
6. Luka baru atau luka lama
7. Luka antemortem atau post mortem
8. Sifat luka dan bentuknya
9. Letak dan posisi senjata
10. Adanya darah atau benda asing pada senjata
11. Letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar
kejadian
12. Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat
kejadian
Mengenai lokalisasi harus disebut sehubungan dengan daerah-daerah yang
berdekatan misalnya terhadap garis tengah tubuh, pusat, papila mamae, dan lain-lain.
Pemeriksaan lebih dalam harus dilakukan untuk mengetahui apakah organ-organ dalam
ikut tertusuk atau tidak dan harus dicatat jumlah darah yang terdapat di dalam ronggarongga tubuh. Ukuran yang tepat (dalam sentimeter) harus ditentukan dan tidak boleh
ukuran kira-kira saja.
Visum et Repertum 2,4,5,9
Permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis, dan hal ini
secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2), terutama untuk korban mati. Jenasah
harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib memberitahukan dan
menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan . Mereka yang
menghalangi pemeriksaan jenasah untuk kepentingan pengadilan diancam hukuman sesuai
dengan pasal 222 KUHP, yaitu Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi
atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2
Penggunaan keterangan ahli dalam hal ini Visum Et Repertum adalah untuk keperluan
pengadilan. Oleh karena itu, Keterangan Ahli ini hanya boleh diberikan kepada penyidik
(instansi) yang memintanya. Keluarga korban atau pengacaranya dan pembela tersangka pelaku
pidana tidak dapat meminta keterangan ahli langsung kepada dokter pemeriksa, melainkan harus
melalui aparat peradilan (penyidik, jaksa atau hakim).
22

Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah
di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung.
Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal
184.
Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu:
1.Keterangan saksi
2.Keterangan ahli
3.Keterangan terdakwa
4.Surat-surat
5.Petunjuk
Ada 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu:
1.Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim
2.Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat
3.Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR
yang lebih baru
Ada beberapa jenis VeR yaitu :
1. Visum et Repertum perlukaan (termasuk keracunan)
2. Visum et Repertum kejahatan susila
3. Visum et Repertum jenazah
4. Visum et Repertum psikiatrik
Jenazah yang diminta VeR harus diberi label yang memuat identitas mayat,di-lak dengan
diberi cap jabatan,diikat pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lain. Menurut KUHP pasal 133,
pada surat permintaan VeR harus tertulis dengan jelas jenis pemeriksaan yang diminta, apakah
pemeriksaan luar jenasah atau pemeriksaan bedah mayat. Autopsi dilakukan setelah penyidik
memberitahu keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Menurut
KUHP pasal 134, autopsi diteruskan setelah ahli keluarga member keizinan atau setelah 2 hari
tidak ada tanggapan apa pun dari keluarga korban. Jenasah hanya bisa dibawa pulang dan diberi
surat keterangan kematian setelah semua pemeriksaan yang diminta oleh penyidik telah
dilakukan. Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, jenis luka, jenis
kekerasan penyebabnya dan waktu kematian.
Sebab kematian, Cara kematian dan Mekanisme Kematian.2
Penyebab kematian
Dengan adanya perlukaan atau penyakit yang menimbulkan kekacauan fisik pada tubuh
yang menghasilkan kematian pada seseorang. Berikut ini adalah penyebab kematian: luka

23

tembak pada kepala, luka tusuk pada dada, adenokarsinoma pada patu-paru, aterosklerosis
koronaria.
Mekanisme kematian
Merupakan kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang
menghasilkan kematian. Contoh dari mekanisme kematian dapat berupa perdarahan,
septikemia, dan aritmia jantung. Ada yang dipikirkan adalah bahwa suatu keterangan
tentang mekanime kematian dapat diperoleh dari beberapa penyebab kematian dan
sebaliknya. Jadi, jika seseorang meninggal karena perdarahan masif, itu dapat dihasilkan
dari luka tembak, luka tusuk, tumor ganas dari paru yang masuk ke pembuluh darah dan
seterusnya. Kebalikannya adalah bahwa penyebab kematian, sebagai contoh, luka tembak pada
abdomen, dapat menghasilkan banyak kemungkinan mekanisme kematian yang terjadi,
contohnya perdarahan atau peritonitis.
Cara kematian
Cara kematian secara umum dapat dikategorikan sebagai wajar, pembunuhan,
bunuh diri, kecelakaan, dan yang tidak dapat dijelaskan (pada mekanisme kematian yang dapat
memiliki banyak penyebab dan penyebab yang memiliki banyak mekanisme, penyebab kematian
dapat memiliki banyak cara). Seseorang dapat meninggal karena perdarahan masif
(mekanisme kematian) dikarenakan luka tembak pada jantung (penyebab kematian), dengan
cara kematian secara pembunuhan (seseorang menembaknya), bunuh diri (menembak dirinya
sendiri) , kecelakaan (senjata jatuh), atau tidak dapat dijelaskan (tidak dapat diketahui apa yang
terjadi).
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang
bersifat:
1. Mekanik
Kekerasan oleh benda tajam
Kekerasan oleh benda tumpul
Tembakan senjata api
2. Fisika
Suhu
Listrik dan petir
Perubahan tekanan udara
Akustik
Radiasi
3. Kimia
Asam atau basa kuat

24

Tinjauan kasus
Interpretasi peristiwa dan hasil berdasarkan kasus :
1. Identifikasi personal
Pada kasus ini, diperkirakan seorang laki-laki tersebut berusia 56 tahun, dengan
perawakan tinggi 160 cm, dengan berat 60 kg. Berdasarkan fakta yang didapatkan pada
TKP, yaitu korban mengenakan kaos dalam dan celana panjang serta kaos luar berlengan
panjang yang sesuai dengan keterangan orang terakhir yang melihat korban.
2. Mayat laki-laki yang dijumpai telah mulai membusuk dan mati dalam keadaan
tertelungkup di sungai penuh batu-batuan dan bagian bawah celana panjang yang

digulung hingga setengah tungkai bawah.


Pada mayat, pembusukan mulai tampak 24 jam pasca kematian berupa warna kehijauan
pada perut kanan bawah disebabkan terbentuknya sulf-met-Hb. Secara bertahap warna

kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh dan bau busuk akan tercium.
Perlu diperhatikan keadaan sekitar TKP yang mungkin mempengaruhi proses

pembusukan menjadi lebih cepat.


Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata yaitu 36-48 jam

pasca mati.
Teridentifikasi spesies lalat dan panjang larvanya maka dapat diketahui usia larva

tersebut yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian korban.


Korban mati dalam keadaan tertelungkup maka harus dipastikan apakah kepalanya
terbenam di dalam air atau tidak walaupun pada saat dijumpai sungai dalam keadaan
kering.
Bawah celana yang digulung mungkin suatu kebiasaan korban. Namun harus dicurigai

juga hal ini merupakan salah satu trik pelaku untuk mengelirukan penyidik.
3. Lehernya terikat dengan lengan baju miliknya sendiri dan ujung lengan baju yang lain
terikat ke pohon perdu setinggi 60cm. Posisi tubuh saat ditemui relative mendatar.
Korban ditemui hanya memakai kaos oblong, dan kaos luar yang dipakai digunakan

untuk mengikat lehernya.


Pada pemeriksaan dalam didapatkan hasil kematian bukanlah disebabkan asfiksia

mekanik untuk menyangkal dugaan bunuh diri.


4. Ada satu luka terbuka ditemui di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah
ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri
sesuai kekerasan akibat benda tajam.
Pada luka terbuka di daerah ketiak kiri menunjukkan kemungkinan pembuluh darah
yang putus karena terkena benda tajam, sehingga pembuluh darah yang putus adalah
25

pembuluh darah besar yang menyebabkan korban meninggal karena perdarahan yang

massif.
Pada luka terbuka di daerah tungkai bawah kiri dan kanan menunjukkan
kemungkinan korban mencoba untuk melepaskan diri dan menggunakan kaki untuk

melakukan perlawanan terhadap pembunuhnya.


Pada pemeriksaan dapat dilihat bagaimana dengan tepi luka,dinding luka,kedalaman
dan sudut luka. Memastikan apakah luka pada tungkai adalah luka tangkis akibat
perkelahian atau tidak,dan apakah luka di daerah ketiak bersifat fatal dan tunggal

Contoh Visum et Repertum 8


RS UKRIDA
Jalan Arjuna Utara Jakarta Barat
021-56111111
Jakarta Barat, 01 Desember 2013
PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No: 13 / RSU/ IV/ 2013
Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Jenita, SpF, dokter pada Rumah Sakit UKRIDA Jakarta
Barat, atas permintaan tertulis dari Kepolisian Metropolitan Grogol dengan nomor 12/VER/
2013, tertanggal satu Desember dua ribu tiga belas, maka dengan ini menerangkan bahwa pada
tanggal satu Desember dua ribu tiga belas, pukul empat belas lewat dua puluh menit waktu
Indonesia bagian Barat, bertempat di RS UKRIDA Jakarta Barat, telah melakukan pemeriksaan
jenazah dengan nomor registrasi 08120023 yang menurut surat permintaan tersebut adalah:------Nama
: Sumarno-------------------------------------------------------------------------------------Jenis kelamin : laki-laki-------------------------------------------------------------------------------------Umur
: 56 tahun-------------------------------------------------------------------------------------Kebangsaan : Indonesia -----------------------------------------------------------------------------------Agama
: - ---------------------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan
: - ---------------------------------------------------------------------------------------------Alamat
: - ---------------------------------------------------------------------------------------------HASIL PEMERIKSAAN :
Dari pemeriksaan luar dan dalam atas tubuh jenazah tersebut diatas ditemukan fakta-fakta
sebagai berikut:------------------------------------------------------------------------------------------------A. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH :------------------------26

1. Identitas Umum Jenazah :------------------------------------------------------------------------------a Jenis kelamin : Laki-laki ----------------------------------------------------------------------------b Umur : Kurang lebih lima puluh enam tahun ----------------------------------------------------c. Berat badan : Kurang lebih enam puluh kilogram -----------------------------------------------d. Panjang badan : Kurang lebih seratus enam puluh sentimeter --------------------------------e
Warna kulit : Kuning langsat -----------------------------------------------------------------------f
Ciri rambut : Warna hitam, lurus, pendek---------------------------------------------------------g
Keadaan gizi : Gizi cukup, indeks masa tubuh dua puluh tiga koma empat tiga ------------2. Identitas Khusus Jenazah : -----------------------------------------------------------------------------a Tato
: Tidak ada -----------------------------------------------------------------b Jaringan parut
: Tidak ada -----------------------------------------------------------------c
d
e
f
g

Tahi lalat
Tanda lahir
Cacat fisik
Penutup jenazah
Pakaian

: Tidak ada ----------------------------------------------------------------: Tidak ada -----------------------------------------------------------------: Tidak ada ----------------------------------------------------------------: kain berwarna putih berbahan katun tanpa merk -------------------: kaos oblong berwarna putih. Terdapat bercak darah pada ketiak

kiri. Celana panjang bahan berwarna hitam, dengan corak bergaris-garis, kantong empat
buah di paha atas kanan dan kiri, serta di kanan dan kiri bokong, keempat kantong tidak
h

ada isinya dan digulung setinggi tungkai bawah. -----------------------------------------------Benda disamping jenazah : -------------------------------------------------------------------------- Kemeja lengan panjang berwarna merah bata dengan motif kotak-kotak. ----------------Perhiasan : terdapat sebuah cincin di jari manis tangan kiri. ------------------------------------

B. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN WAKTU TERJADINYA KEMATIAN : ------1. Lebam mayat : -----------------------------------------------------------------------------------------2. Kaku mayat : -----------------------------------------------------------------------------------------3. Pembusukan : Ada. ---------------------------------------------------------------------------------C . FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR: ----------------------------------1. Permukaan kulit tubuh : --------------------------------------------------------------------------------a. Kepala: ------------------------------------------------------------------------------------------------ Daerah berambut : tidak ada kelainan -------------------------------------------------------- Wajah : tidak ada kelainan ---------------------------------------------------------------------b. Leher : Bekas jeratan yang samar ----------------------------------------------------------------c. Bahu : ------------------------------------------------------------------------------------------------ Bahu kanan : Tidak ada kelainan ------------------------------------------------------------- Bahu kiri : Tidak ada kelainan ----------------------------------------------------------------d. Dada : Tidak ada kelainan -------------------------------------------------------------------------e. Punggung : Tidak ada kelainan -------------------------------------------------------------------g. Bokong : Tidak ada kelainan -----------------------------------------------------------------------h. Dubur : ------------------------------------------------------------------------------------------------- Lingkar dubur : Tidak ada kelainan -------------------------------------------------------------- Liang dubur : Tidak ada kelainan ----------------------------------------------------------------27

i. Anggota gerak ----------------------------------------------------------------------------------------- Anggota gerak atas : -------------------------------------------------------------------------------o Kanan : Tidak ada kelainan. ---------------------------------------------------------------o Kiri : luka terbuka pada ketiak dengan diameter 2cm,kedalaman 3cm --------------- Anggota gerak bawah :-----------------------------------------------------------------------------o Kanan : luka-luka kecil seluas 1cm x 2cm pada tungkai kanan bawah, 3 cm dari
lutut, tepi dan dinding luka rata , berbentuk garis. --------------------------------------o Kiri

: luka-luka kecil 1cm x 2cm pada tungkai kiri bawah, 5 cm dari lutut, tepi

dan dinding luka rata , berbentuk garis . -------------------------------------------------2. Bagian tubuh tertentu -------------------------------------------------------------------------------a. Mata : ------------------------------------------------------------------------------------------------o Alis mata : Warna hitam, tidak ada kelainan.----------------------------------------------o Bulu mata : Warna hitam, tidak ada kelainan.---------------------------------------------o Kelopak mata : Tidak ada kelainan ---------------------------------------------------------o Selaput kelopak mata : Tidak ada kelainan------------------------------------------------o Selaput biji mata : Tidak ada kelainan -----------------------------------------------------o Selaput bening mata : Tidak ada kelainan -------------------------------------------------o Pupil mata : Bentuk bulat, ukuran garis tengah nol koma enam sentimeter, kanan dan kiri
sama.-----------------------------------------------------------------------------------o Pelangi mata : Warna hitam -----------------------------------------------------------------b. Hidung : -------------------------------------------------------------------------------------------------o Bentuk
hidung
:
Tidak
ada
kelainan
----------------------------------------------------------o Permukaan
kulit
hidung
:
Tidak
----------------------------------------------o Lubang
hidung
:
c

Tidak

ada
ada

kelainan

----------------------------------------------------------Telinga : -----------------------------------------------------------------------------------------------o Bentuk


telinga
:
Tidak
ada
kelainan.-----------------------------------------------------------o Permukaan
daun
telinga
:
Tidak
kelainan.-----------------------------------------------o Lubang
telinga
:
Tidak

kelainan.

ada

ada
kelainan

----------------------------------------------------------Mulut : -------------------------------------------------------------------------------------------------o Bibir


atas
:
Tidak
ada
kelainan.----------------------------------------------------------------28

o Bibir

bawah

Tidak

ada

kelainan.-------------------------------------------------------------o Selaput
lendir
mulut
:
Tidak
ada

kelainan.

---------------------------------------------------o Lidah
:
Tidak

kelainan

ada

---------------------------------------------------------------------o Gigi
geligi

-------------------------------------------------------------------------------------- Gigi rahang atas: Gigi lengkap, gigi seri pertama sebelah kanan patah,
geraham

belakang

ketiga

kanan

dan

kiri

sudah

tumbuh.

---------------------------------Gigi rahang bawah: Gigi lengkap, geraham belakang ketiga kanan dan kiri
sudah

tumbuh.

------------------------------------------------------------------------------Langit-langit mulut : tidak ada kelainan. -----------------------------------------------------f. Alat kelamin :Laki-laki--------------------------------------------------------------------------------o Pelir : Belum disunat. Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------o Kantung buah pelir : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------o Lain-lain : Tidak ada kelainan.-----------------------------------------------------------------2. Tulang - Tulang :------------------------------------------------------------------------------------------a
b
c
d
e
f
g

Tulang tengkorak : tidak ada kelainan --------------------------------------------------------------Tulang wajah : tidak ada kelainan -------------------------------------------------------------------Tulang belakang : Tidak ada kelainan---------------------------------------------------------------Tulang-tulang dada : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------Tulang-tulang punggung :Tidak ada kelainan------------------------------------------------------Tulang-tulang panggul : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------Tulang anggota gerak : Tidak ada kelainan.---------------------------------------------------------

D . FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN DALAM: -------------------------------1. Kepala bagian dalam :----------------------------------------------------------------------------------a Kulit kepala bagian dalam : -------------------------------------------------------------------------b Tulang Tengkorak : ----------------------------------------------------------------------------------c Selaput keras otak : ----------------------------------------------------------------------------------d Selaput lunak otak : ----------------------------------------------------------------------------------e Otak
besar
:
--------------------------------------------------------------------------------------------f Otak kecil : --------------------------------------------------------------------------------------------g Dasar tengkorak : ------------------------------------------------------------------------------------2. Leher bagian dalam --------------------------------------------------------------------------------------29

a Lidah : ---------------------------------------------------------------------------------------------------b Pada kulit leher bagian dalam : ----------------------------------------------------------------------c Kerongkongan : ----------------------------------------------------------------------------------------d Tulang rawan cincin, tulang pangkal lidah, rawan gondok : ------------------------------------3. Rongga Dada :---------------------------------------------------------------------------------------------a Kulit bagian dalam : ----------------------------------------------------------------------------------b Otot dinding dada : ------------------------------------------------------------------------------------c Tulang dada : -------------------------------------------------------------------------------------------d Tulang-tulang Iga : ------------------------------------------------------------------------------------e Paru kanan :---------------------------------------------------------------------------------------------f
Paru
kiri
:
-----------------------------------------------------------------------------------------------g Jantung : ------------------------------------------------------------------------------------------------4.Rongga Perut :----------------------------------------------------------------------------------------------a Kulit perut bagian dalam : --------------------------------------------------------------------------b Tirai usus menutupi sebagian besar usus----------------------------------------------------------c Rongga perut : ----------------------------------------------------------------------------------------d Lambung : ---------------------------------------------------------------------------------------------e Usus : --------------------------------------------------------------------------------------------------f Hati : ---------------------------------------------------------------------------------------------------g Limpa : -----------------------------------------------------------------------------------------------h Ginjal kanan : ---------------------------------------------------------------------------------------i Ginjal Kiri : ------------------------------------------------------------------------------------------5. Rongga Panggul :----------------------------------------------------------------------------------------a Kandung kemih :--------------------------------------------------------------------------------------b Prostat : ------------------------------------------------------------------------------------------------KESIMPULAN :----------------------------------------------------------------------------------------------Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka pada ketiak kiri, tungkai bawah kiri dan kanan
akibat kekerasan benda tajam. -------------------------------------------------------------------------------Luka pada daerah ketiak dan tungkai bawah kanan dan kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai
dengan tusukan benda tajam bermata satu. ---------------------------------------------------------------Adanya bekas penjeratan pada leher korban. -------------------------------------------------------------Sebab mati orang ini adalah kekerasan benda tajam pada ketiak kiri yang menyebabkan
terjadinya perdarahan dalam jumlah cukup besar. --------------------------------------------------------PENUTUP :
Demikianlah keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah
sesuai dengan KUHAP. ---------------------------------------------------------------------------------------

Dokter Yang Memeriksa,


30

dr. Jenita, SpF

Kesimpulan
Pada kasus ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat tanda-tanda penganiayaan, yaitu
adanya luka terbuka pada ketiak dan tungkai kanan dan kiri. Berdasarkan data yang didapatkan
pada TKP, kasus ini mengarah pada pembunuhan, korban meninggal disebabkan karena adanya
perdarahan massif dari pembuluh darah ketiak yang putus. Dan perkiraan kematian korban
sekitar 24 jam sebelum ditemukan di TKP.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. Saka Bhayangkara : pengetahuan dasar olah tptkp. 12 Juni 2011. Diunduh dari
www.wirasabha.web.id . Pada 04 Desember 2013, pukul 17.04 WIB.
2. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 1997; h . 1-54.
3. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran, Bagian Kedokteran Forensik FKUI ;
1994; h. 1-25.
4. Yandi, Fahriza,Riana,Elly. Buku roman forensic,Identifikasi Forensik, Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Lambung Mangkurat ; JuliAgustus 2009; h. 15-22.
5. Yandi, Fahriza,Riana,Elly. Buku roman forensic, Traumatologi, Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal FK Universitas Lampung Mangkurat ; Juli-Agustus 2009; h.
66-80.
6. Teknik autopsi forensic, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 2000; h.12-44
7. Syaulia Andirezek. Romans forensic, Edisi 20. Jakarta, 2005; h. 50
8. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Indonesia.
Pedoman teknik pemeriksaan dan interpretasi luka dengan orientasi medikolegal atas
kecederaan. Jakarta, 2005.
9. Afandi D. Visum et repertum perlukaan :aspek medikolegal dan penentuan derajat luka,
Bagian Kedokteran Forensik FK Universitas Riau,
Nomor:

Maj Kedokt Indon, Volum: 60,

4 April 2010.

31