Anda di halaman 1dari 21

Makalah Hukum Konstitusi tentang Analisis Kasus BLBI

dan Penegakkan Hukumnya

Disusun Oleh :
Billy Okva Ripaldi
(20140610485)

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Fakultas Hukum
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Krisis ekonomi yang mengguncang perekonomian nasional tahun 1997 masih
menyisakan banyak persoalan yang sebagian besar belum mampu diselesaikan
hingga kini. Salah satu masalah serius yang belum terselesaikan hingga kini

misalnya adalah Kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Diawali


dengan terpukulnya nilai rupiah terhadap dollar, menyusul jatuhnya nilai Bath
di Thailand. Bath yang selama 10 tahun terakhir diperdagangkan dengan nilai
25 per dollar, dalam waktu semalam saja mendadak merosot nilainya hingga
25%. Hal ini memacu spekulan mata uang untuk menyebar dan menghantam
Malaysia, Korea, Filipina, dan Indonesia. Begitu besarnya kontribusi aksi
spekulan terhadap krisis, sehingga dinyatakan krisis ekonmi yang terjadi pada
tahun 1997 disejumlah wilayah Asia berakar pada terdepresiasinya nilai mata
uang lokal terhadap dollar sebagai akibat dari permainan para spekulan.
Tercatat pasar modal jatuh lebih dari 80% dan nilai tukar rupiah merosot 75%
terhadap dollar. Mengatasi hal itu, Bank Indonesia lalu melakukan sejumlah
upaya untuk meredam gejolak rupiah. Diantara langkah-langkah yang
dilakukan BI saat itu adalah meningkatkan intervensi terhadap nilai tukar
rupiah, menaikan suku bunga, dan menghentikan sementara transaksi
sementara Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Melalui berbagai langkah itu,
BI berupaya mengetatkan likuiditas (membatasi jumlah uang beredar),
sehingga nilai rupiah dapat distabilkan. Namun sejumlah kebijakan moneter
pemerintah tersebut justru mengakibatkan krisis semakin menjadi. Pelebaran
tentang intervensi terhadap nilai tukar rupiah, misalnya, ternyata sama sekali
tidak berhasil menstabilkan nilai tukar rupiah. Padahal, kebijakan tersebut
menguras habis cadangan devisa dalam waktu yang singkat.
1.2 Rumusan Masalah
1. BLBI merugikan negara secara nyata
2. Kendala Hukum Yang menyebabkan penanganan BLBI berlarut larut
3. Penanganan Kasus BLBI saat ini

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian BLBI
Menurut Soehanjono BLBI adalah fasilitas yang diberikan oleh Bank Indonesia
kepada perbankan,untuk menjaga kestabilan sistem pembayaran dan sektor
perbankan, agar tidak terganggu oleh adanya ketidakseimbangan (mismatch)
likuiditas, antara penerimaan dan penarikan dana kepada bankbank. Dalam
operasinya ada berbagai jenis fasilitas likuiditas bank sentral kepada sektor
perbankan dengan persyaratan yang berbeda, sesuai dengan sasaran maupun

peruntukannya. Karena terdapat berbagai jenis fasilitas likuiditas, dalam arti yang
paling luas, pengertian BLBI adalah semua fasilitas likuiditas BI yang disalurkan
atau diberikan kepada bank-bank,diluar Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI).
2.2 Liquidasi dalam Undang-Undang perbankan
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dalam Pasal 37 dan 37A maupun
penjelasannya tidak memberikan perumusan istilah, definisi, karakter (ciri-ciri),
dan struktur hukum dari likuidasi. Apabila diteliti, maka pengertian likuidasi
tidak terbatas pada pencabutan izin usaha bank akan tetapi lebih luas lagi
termasuk tindakan pembubaran (outbinding) badan hukum bank dan penyelesaian
atau pemberesan (vereffening) seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat
dibubarkannya badan hukum bank tersebut atau dari bank yang dilikuidasi sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan terakhir dilakukan penyelesaian
terhadap seluruh hak dan kewajiban yang ditimbulkan oleh bank yang dilikuidasi
tersebut. Dengan demikian istilah likuidasi ini mencakup lembaga pembubaran
dan pemberesan.
2.3 Pengertian Korupsi
Menurut Robert Klitgaard, Pengertian Korupsi adalah suatu tingkah laku yang
meyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam negara, dimana untuk
memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi
(perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri), atau melanggar aturan
pelaksanaan yang menyangkut tingkah laku pribadi. Pengertian korupsi yang
diungkapkan oleh Robert yaitu korupsi dilihat dari perspektif administrasi negara.

2.4 Pengertian Kerugian Negara


Menurut Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan (UU BPK): Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan
uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Dalam Penjelasan Pasal
59 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara dikatakan bahwa kerugian negara dapat
terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau
pegawainegeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan
administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan
kebendaharaan. Penyelesaian kerugian negara perlu segera dilakukan untuk
mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta meningkatkan
disiplin dan tanggung jawab para pegawai negeri/pejabat negara pada umumnya,
dan para pengelola keuangan pada khususnya.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 BLBI merugikan negara secara nyata
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) adalah skema bantuan (pinjaman)
yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami masalah
likuiditas pada saat terjadinya krisis moneter 1998 di Indonesia. Skema ini
dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi
masalah krisis. Pada bulan Desember 1998, BI telah menyalurkan BLBI sebesar
Rp 147,7 triliun kepada 48 bank.
Penyimpangan atau korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) telah
menunjukkan kepada kita ongkos korupsi masa lalu yang harus ditanggung
seluruh rakyat Indonesia. Rakyat jadi korban karena efek berkepanjangannya
dalam bentuk pengembalian utang. Sementara para penjahat diampuni dan tetap
dapat 'bertengger' dengan leluasa di atas pundi-pundi uang yang dicuri. Harus
diakui penyimpangan dana BLBI merupakan kasus korupsi terbesar yang pernah
terjadi di negeri ini. Fakta ini bisa dilihat dari hasil audit Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK). Dari Rp 144,5 triliun dana BLBI yang dikucurkan kepada 48
bank umum nasional, Rp 138,4 triliun dinyatakan berpotensi merugikan negara.
Dana-dana tersebut kurang jelas penggunaannya. Juga terdapat penyimpangan
dalam penyaluran maupun penggunaan dana BLBI yang dilakukan pemegang
saham, baik secara langsung atau tidak langsung melalui grup bank tersebut.
Sedangkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
terhadap 42 bank penerima BLBI menemukan penyimpangan sebesar Rp 54,5
triliun. Sebanyak Rp 53,4 triliun merupakan penyimpangan berindikasi korupsi

dan tindak pidana perbankan. Upaya menyeret para pelaku korupsi dana BLBI
sampai saat ini masih terbentur kendala penegakan hukum. Seolah hukum
bungkam dan tidak bertaring menghadapi para 'konglomerat hitam'. Untuk
penanganan kasus ini, Kejaksaan Agung tidak menunjukkan kemajuan signifikan
dari tahun ke tahun.
Penyimpangan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dapat dianggap
sebagai sebuah lembaran hitam dalam kehidupan perbankan nasional. Sementara
penanganan terhadap kasus-kasus penyimpangan BLBI tersebut dapat pula dicatat
sebagai sebuah lembaran hitam dalam sejarah kehidupan hukum Indonesia.
Catatan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan bila dikaitkan dengan adanya
berbagai implikasi yuridis yang kemudian muncul sebagai akibat berbelit-belitnya
proses penanganan kasus penyalahgunaan dana BLBI. Ketidaksamaan persepsi di
kalangan hukum sendiri tentang penanganan kasus-kasus BLBI adalah gambaran
tentang betapa kehidupan hukum kita semakin menjauh dari kepastian hukum.
Ada dua aspek hukum yang cenderung mendapatkan perhatian dan mengemuka
dalam berbagai diskusi terkait dengan masalah BLBI.Pertama, apakah
penyimpangan BLBI itu merupakan sesuatu yang berada dalam tataran hukum
keperdataan, atau apakah kasusnya kemudian dapat berkembang menjadi sesuatu
yang berada dalam lingkup hukum pidana. Kedua, masalah penyelesaian terhadap
kasus-kasus penyimpangan BLBI yang telah menimbulkan berbagai kontroversi.
BLBI pada hakikatnya adalah sebuah fasilitas yang secara khusus diberikan oleh
Bank Indonesia kepada pihak perbankan nasional untuk menanggulangi masalah
kesulitan likuiditas yang dihadapinya. Dari pengertian ini dapat dipahami, bahwa

kebijakan itu ditempuh adalah untuk tujuan menyelamatkan dunia perbankan


nasional dari kehancuran yang dipastikan akan berimplikasi terhadap pere
konomian nasional. Akan tetapi persoalannya kemudian adalah, tujuan yang baik
itu ternyata telah disalahgunakan oleh sebagian penerima fasilitas untuk
memperkaya diri. Artinya, bantuan likuiditas itu tidak digunakan sesuai dengan
maksud dikeluarkannya kebijakan tersebut. Akibatnya terjadi kerugian negara
dalam jumlah yang sangat besar.
Bantuan likuiditas dalam berbagai bentuk dan jenis yang diberikan kepada bank
penerima, pada awalnya adalah sesuatu yang berada dalam lapangan hukum
keperdataan, karena para pihak dilandasi oleh adanya hubungan hukum dalam
bentuk perjanjian atau kontrak sebagai kreditur dan debitur. Berdasarkan
verifikasi terhadap data hasil olahan pengawas bank penerima BLBI, ditemui oleh
BPK dan BPKP adanya indikasi penyalahgunaan BLBI oleh bank penerima.
Menurut tujuannya, dana BLBI itu hanyalah untuk dana pihak ketiga
(masyarakat), namun pada kenyataannya juga digunakan untuk membayar
kembali transaksi bank yang tidak layak dibiayai oleh dana BLBI.
Oleh karena adanya penyalahgunaan atau penyimpangan penggunaan dana BLBI
oleh bank penerima, yang kemudian ternyata merugikan keuangan negara, maka
persoalannya tentu tidak lagi hanya sekedar kasus yang mesti diselesaikan dengan
menggunakan ketentuan hukum keperdataan. Artinya masalah BLBI telah
berkembang menjadi perkara pidana. Penyalahgunaan dana BLBI yang
menimbulkan kerugian keuangan negara itu, telah cukup memenuhi rumusan
hukum pidana berdasarkan UU Nomor 3 tahun 1971 jo UU Nomor 31 tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan UU

Nomor 20 tahun 2001, untuk membawa kasus-kasus BLBI itu ke dalam proses
peradilan untuk dimintakan pertanggungjawaban pidana. Meskipun demikian, kita
tentu tidak boleh men-generalisasi semua kasus BLBI sebagai perbuatan melawan
hukum dalam konteks hukum pidana. Tentu ada kasus-kasus yang memang terjadi
semata-mata karena sesuatu yang mesti diselesaikan melalui jalur hukum
keperdataan. Ada beberapa bentuk perilaku menyimpang dalam kaitannya dengan
BLBI yang dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana, di antaranya:
1. pemberian BLBI dilakukan kepada pihak yang tidak pantas menerimanya.
2. konspirasi antara oknum Bank Indonesia dengan bank penerima BLBI.
3. pemberian BLBI melebihi jumlah yang sepantasnya
4. penyimpangan dalam penyaluran dana BLBI
Di samping itu, studi hukum yang dilakukan Satgas BLBI telah mengidentifikasi
bentuk-bentuk penyimpangan penggunaan BLBI, antara lain: Penggunaan dana
BLBI oleh penerima secara menyimpang, seperti digunakan untuk keperluan
pembelian devisa dan memindahkan asset ke luar negeri, membawanya ke pasar
uang atau digunakan untuk operasionalisasi bank, serta untuk membayar pinjaman
kepada kelompok sendiri (group perusahaan penerima BLBI). Studi hukum
1. membayar atau melunasi kewajiban kepada pihak terafiliasi.
2. membayar atau melunasi dana pihak ketiga yang melanggar ketentuan.
3. membiayai kontrak derivatif baru atau kerugiaan karena kontrak derivative
lama jatuh tempo.
4. membiayai penempatan baru di pasar uang antar bank (PUAB), atau pelunasan
kewajiban yang timbul dari transaksi PUAB.

5. membiayai ekspansi kredit atau merelasasikan kelonggaran tarik dari komitmen


kredit yang sudah ada.
6. bentuk-bentuk penyimpangan lainnya seperti:
a. pembayaran kepada pihak ketiga yang masih mempunyai kewajiban kepada
bank.
b. penarikan dana tunai dari giro bank di BI yang penggunaannya tidak jelas.
c. pelunasan kewajiban antar bank, dan sebagainya.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut dilakukan dengan berbagai cara dan
modus operandi yang pada prinsipnya tidak sesuai dengan penggunaan dana BLBI
yang seharusnya dilakukan. Bertolak dari adanya penyimpangan dalam berbagai
bentuk dan modus operandi yang merugikan keuangan negara, maka penyelesaian
terhadap kasus-kasus BLBI mesti ditanggapi dengan menggunakan ketentuanketentuan hukum pidana.
Dalam soal penanganan terhadap kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI,
kalangan hukum cenderung pula memperdebatkan aturan-aturan hukum pidana
yang mesti digunakan. Masalahnya terletak pada penerapan ketentuan pidana
yang ada dalam UU Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU Nomor 7 tahun
1992 tentang Perbankan atau ketentuan pidana dalam UU Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Artinya, sejauhmana dan dalam hal-hal apa sajakah ketentuanketentuan hukum pidana tentang korupsi dapat diimplementasikan terhadap
pelanggaran atau penyalahgunaan dana BLBI.
Pembuat UU Perbankan telah merumuskan berbagai kategori perbuatan yang
dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perbankan. Perbuatan-perbuatan
tersebut meliputi:

1. tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan perizinan.


2. tindak pidana perbankan di bidang rahasia bank.
3. tindak pidana perbankan di bidang pengawasan.
4. tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan kegiatan usaha bank (kolusi
managemen).
5. tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan pihak terafiliasi.
Dilihat dari rumusan delik yang ada dalam UU Perbankan, tidak ada satu
rumusanpun yang dapat digunakan untuk menjangkau pelaku penyalahgunaan
dana BLBI. Oleh karena itu kasus-kasus BLBI yang mengandung indikasi
kriminal mesti ditanggapi dengan menggunakan ketentuan UU Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
3.2 Kendala Hukum yang menyebabkan penanganan BLBI berlarut-larut
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, bahwa diketahui dalam
menyelesaikan tindak pidana korupsi yang terkait dalam kasus BLBI, hingga saat
ini belum terselesaikan dengan tuntas, artinya masih banyak kendala yang
dihadapi para penegak hukum. Sesungguhnya tindak pidana korupsi telah tumbuh
subur di
Indonesia sejak penjajahan Belanda, hanya saja berlainan bentuk yaitu yang
dikenal dengan istilah upeti. Penanggulangandan pencegahannya telah pula
dilakukan baik melalui preemtif dan preventif. KUHP,Undang-Undang No. 24 Prp
Tahun 1960 tidak mampu untuk menyelesaikan kasus korupsi, kemudian diubah
menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971. Kasus BLBI yang terjadi pada
tahun 1976 seharusnya dapat diselesaikan melalui UU tersebut, tetapi karena
muatan politik pada waktu itu lebih kuat (eksekutif dapat mempengaruhi dalam

penegakan hukumnya), maka BLBI belum juga dapat diselesaikan, hingga saat ini
sekalipun UU No. 3 Tahun 1971 telah diubah kembali dengan Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.Sebagaimana
dikemukakan di atas bahwa tindak pidana korupsi tergolong extraordinary crime,
karena

sifatnya

cair,

dinamis,

terorganisasi

dan

terselubung,

maka

penyelesaiannya diperlukan cara yang luar biasa pula. Namun oleh karena sistem
hukum pidananya yang bersifat legal formalistik maka terdapat kesulitan dalam
pembuktiannya. Kurangnya kepe-dulian dan atau kurang maksimalnya pemerintah
dalam mengungkap kasusBLBI, karena adanya kekhawatiran ter-hadap sebagian
petinggi negara yang tersangkut dalam kasus tersebut juga merupakan kendala,
karena seolah-olah mempersulit para penegak hukum yang lebih lanjut akan
melakukan penyelidikan atau penyidikan kepada para obligor atau pelaku korupsi
BLBI. Selain itu, sistem hukum pidana tidak dapat maksimal atau menjangkau
dalam upaya pengembalian kerugian negara, terlebih apabila hasil korupsi
tersebut telah berpindah atau di tanam di luar negeri. Maka untuk segera dapat
mengembalikan uang negara, aspek hukum perdata menjadi mempunyai peran
penting, yaitu melalui restorative justice, ADR dan tindakan perampasan terhadap
barang atau aset (NCB) dengan memaksimalkan hubungan antar negara (G to G).
Namun aspek hukum perdata yang demikian pun, selain belum diakui
keberadaannya, juga ditemui adanya kendala yakni adanya kesulitan untuk
menentukan asset para koruptor yang pada umumnya telah berpindah tangan atau
bahkan berasimilasi melalui tindakan money laundering, sehingga sulit dalam
pembuktiannya.

Kemudian

memaksimalkan prinsip litigasi

hingga

saat

ini,

pemerintah

belum

pula

multiyurisdiksi, artinya gugatan perdata dapat dilakukan oleh suatu negara yang
menjadi korban (victim countries) dari tindak pidana korupsi yang diajukan
melalui
negara lain dengan alasan biayanya mahal,belum adanya perjanjian ekstradisi,
dengan demikian penerapan UNCAC di Indonesia belum maksimal. Sekalipun
hukum yang mengatur tentang korupsi telah ada (internasional/nasional), namun
oleh karena pengetahuan dan keberanian para penegak hukum masih kurang untuk
menerapkan aturan hukum tersebut secara elastis, artinya sesuai dengan asas
manfaat dan asas keadilan masyarakat, maka hingga saat ini penegak hukum tetap
menjadi corong undang-undang.
3.3 Penanganan Kasus BLBI
Dalam perjalanan proses penyelesaian kasus BLBI ini pemerintah era Habibie
membentuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) untuk menyelesaikan
kasus BLBI. BPPN menempuh beberapa mekanisme yang bertujuan untuk
mengembalikan asset Negara yang telah dibawa kabur oleh para obligor BLBI
dimana dengan membuat beberapa pola perjanjian sesuai dengan kondisi dan
kemampuan dari para pemegang saham bank penerima BLBI (skema PKPS).
Perjanjian tersebut berupa :
Mengalihkan kewajiban bank menjadi kewajiban pemegang saham pengendali.
Pemerintah, bersama pemegang saham bank beku operasi (BBO) dan bank beku
kegiatan usaha (BBKU), menandatangani master settlement and acquisition
agreement (MSSA), pola ini dan master refinancing agreement and note
agreement (MRNIA). Tujuannya untuk mengembalikan BLBI baik melalui

penyerahan aset maupun pembayaran tunai kepada BPPN. Pengkonversian BLBI


pada bank-bank take over (BTO) menjadi penyertaan modal sementara (PMS).
Mengalihkan utang bank ke pemegang saham pengendali, melalui pola
penyelesaian kewajiban pemegang saham pengendali (PKPS). Caranya dengan
menandatangani akta pengakuan utang (APU).
Kebijakan pemerintah pada masa megawati dalam penyelesaian kasus BLBI
adalah mengeluarkan Inpres No. 8 Tahun 2002 tentang (Release and Dischage)
Pemberian Jaminan Kepastian Hukum Kepada Debitur yang Telah Menyelesaikan
Kewajibannya Atau Tindakan Hukum Kepada debitur Yang Tidak Menyelesaikan
Kewajibannya Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham. Inpres
yang dikeluarkan tanggal 30 Desember 2002 menginstruksikan kepada Menko
Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK),
Menteri Kehakiman dan HAM, Para Menteri anggota KKSK, Menteri Negara
BUMN,

Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian RI dan Ketua

BPPN untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan bagi Penyelesaian


Kewajiban Pemegang saham dalam rangka penyelesaian seluruh kewajibannya
kepada BPPN berdasarkan perjanjian MSAA, MRNIA, APU. Para obligor BLBI
dianggap

sudah menyelesaikan utangnya dan mendapatkan

Surat

Keterangan Lunas walaupun hanya 30 persen dari jumlah kewajiban pemegang


saham (JKPS) dalam bentuk tunai dan 70 persen dibayar dengan sertifikat bukti
hak kepada BPPN. Atas dasar bukti ini, para obligor yang diperiksa dalam proses
penyidikan maka akan dikeluarkan SP 3 dan apabila perkaranya dalam proses di
pengadilan maka akan dijadikan novum atau bukti baru yang akan membebaskan
mereka. Hingga berakhirnya BPPN tahun 2004, dari 39 pemegang saham

penandatangan Perjanjian Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS), 23


pemegang saham telah memenuhi kewajibannya sesuai dengan batas waktu yang
telah ditetapkan pemerintah. Sementara itu 16 pemegang saham lainnya, terdiri
dari delapan pemegang saham tidak dapat

memenuhi kewajibannya sesuai

dengan batas waktu yang telah ditetapkan pemerintah dan delapan pemegang
saham lainnya dinyatakan tidak kooperatif dan penanganannya akan dilakukan
oleh aparat penegak hukum.
Release and Discharge, Kejaksaan

Akibatnya Inpres No. 8 Tahun 2002 tentang


menghentikan proses penyidikan (SP3)

terhadap sedikitnya 10 tersangka korupsi BLBI pada tahun 2004. Alasan


kejaksaan menghentikan penyidikan karena para tersangka telah mendapat Surat
Keterangan Lunas (SKL) dari BPPN. Penghentian penyidikan dalam kasus
korupsi BLBI ini pada akhirnya memperpanjang jumlah SP3 yang telah diberikan
pihak kejaksaan dan secara eksplisit membebasakan tuntutan hukum secara pidana
kepada para obligor BLBI sehingga bebas dari ancaman hukuman penjara.
Di era SBY mekanisme penyelesaian masih menggunakan prinsip release and
discharge dimana lebih memprioritaskan pengembalian asset ketimbang
penegakan hukum. Ironisnya lagi, pemerintah SBY memberikan perlakuan yang
berlebihan dengan menggelar karpet merah kepada 3 obligor BLBI yaitu Atang
Latief, James Januardy, dan Ulung Bursa datang ke Istana Negara untuk
merundingkan pola penyelesaian hutangnya. Perlakuan yang seharusnya tidak
layak di berikan oleh seorang kepala Negara kepada para koruptor kelas kakap
yang telah merugikan Negara miliaran rupiah. Meskipun demikian,

ada

sedikit kemajuan dalam proses penanganan kasus

era

BLBI

di

SBY ini dimana sejak dilantiknya Jaksa Agung baru Hendarman Supandji

menggantikan

Abdurrahman

Saleh,

Kejaksaan

Agung

menunjukkan

keseriusannya dimana dengan membentuk tim pemburu koruptor dan upaya


menjalin kerjasama ekstradisi dengan Australia serta terus melakukan proses
penyidikan salah satunya dengan memanggil kwik kian gie dan beberapa mantan
penjabat lainnya yang incharge semasa pengucuran dana BLBI.
Para pelaku yang teridentifikasi korupsi BLBI diantaranya :

Agus Anwar

Bank Pelita

Bank Papan Sejahtera


2

Hashim Djojohadikusumo

Bank Pelita
Istimarat

Samadikun Hartono

Bank Modern

Kaharuddin Ongko

Bank Umum Nasional

Ulung Bursa

Bank Lautan Berlian

Atang Latief

Bank Indonesia Raya

Lidia Muchtar

Bank Tamara

Omar Putihrai

Bank Tamara

Adisaputra Januardy

Bank Namura Yasonta

10

James Januardy

Bank Namura Yasonta

11

Marimutu Sinivasan

Bank Putera Multikarsa

12

Santosa Sumali

13

Fadel Muhammad

Bank Intan

14

Baringin MH Panggabean

Bank Namura Internusa

15

Joseph Januardy

Bank Namura Internusa

16

Trijono Gondokusumo

Bank Putera Surya Perkasa

17

Hengky Wijaya

Bank Tata

18

Tony Tanjung

Bank Tata

19

I Gde Dermawan

Bank Aken

20

Made Sudiarta

Bank Aken

21

Tarunojo Nusa Wijaya

Bank Umum Servitia

22

David Nusa Wijaya

Bank Umum Servitia

Bank Metropolitan
Bank Bahari

Yang masih buron yakni ;


Bank Ficorinvest. Yang menjadi terpidana yakni mantan Presiden Direktur
Ficorinvest, Supari Dhirdjoprawiro dan S Soemeri. Keduanya divonis hukuman

1,5 tahun penjara oleh PN Jakarta Selatan, 13 Agustus 2003. Keduanya terbukti
menyalahgunakan BLBI sebesar Rp 315 miliar dari Rp 900 miliar yang diperoleh
Bank Ficorinvest. Dana itu digunakan untuk berbagai kegiatan transaksi dan
valuta asing.
Bank Umum Servitia.Yang menjadi terpidana adalah bekas Direktur Utama
Servitia, David Nusa Wijaya. Dia divonis 8 tahun penjara oleh Mahkamah
Konstitusi, 23 Juli 2003. Dia juga sempat melarikan diri ke Amerika Serikat
sebelum akhirnya tertangkap. Dia terbukti menyelewengkan dana BLBI sebesar
Rp 1,291 triliun.
Bank Harapan Sentosa (BHS).Yang menjadi terpidana ialah Hendra Rahardjadi
yang merupakan bekas Komisaris Bank Harapan Sentosa. Dia dihukum seumur
hidup. Namun, dia melarikan diri ke Australia hingga meninggalnya.
Lalu Eko Adi Putranto sebagai eks komisaris BHS dan Sherly Konjogian sebagai
bekas Direktur Kredit BHS, divonis 20 tahun. Namun Eko juga melarikan diri ke
Australia dan masih buron. Untuk Sherly telah ditangkap Kejaksaan Agung, 2012
lalu.
Bank Surya.Yang menjadi terpidana ialah Bambang Sutrisno dan Adrian Kiki
Ariawan. Keduanya dihukum seumur hidup. Namun Bambang yang merupakan
bos Bank Surya melarikan diri ke Singapura dan masih buron. Sementara Januari
2014, Adrian Kiki sebagai bekas Direktur Utama yang sempat kabur ke Autralia
akhirnya diekstradisi dan ditahan di LP Cipinang.
Bank Modern.Yang menjadi terpidana ialah Samadikun Hartono. Dia divonis 4
tahun, tapi melarikan diri ke Singapura. Kini Samadikun tertangkap di Tiongkok
oleh tim khsusus pemburu koruptor. Saat ini Samadikun dalam perjalanan ke

Indonesia untuk memoertanggungjawabkan perbuatannya menyelewengkan dana


sekitar Rp 169 miliar dari Rp 2,5 triliun dana yang dikucurkan.
Bank Pelita.Yang menjadi pelaku ialah bekas pemilik Bank Pelita Agus Anwar
dan Alexander PP. Keduanya melarikan diri saat kasus ini masih dalam proses
pengadilan.
Bank Umum Nasional.Yang menjadi terduga pelaku ialah Sjamsul Nursalim.
Dalam perjalanannya kasus ini penyidikan dihentikan. Namun di 2015 lalu,
Kejaksaan Agung mengajukan kasusnya ke Perdata dan Tata Usaha Negara.
Namun, hingga kini belum ada kejelasan. Sjamsul sendiri mendapat kucuran dana
BLBI sekitar Rp 24,7 triliun.
Bank Asia Pacific (Aspac).Yang menjadi terpidana ialah Hendrawan Haryono.
Dia mantan wakil direktur utama Aspac. Dia divonis empat tahun penjara oleh
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terbukti menyelewengkan dana BLBI
sebesar Rp 583 miliar.
Bank Indonesia Raya (Bank Bira).Yang menjadi tersangka yakni Atang Latief.
Dia melarikan diri ke Singapura tahun 2000 sebelum kasusnya disidangkan. Dia
diduga menyelewengkan dana BLBI sebesar Rp 351 miliar.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya
benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan kasus BLBI yang terus berlarutlarut hingga kini. Dari proses penanganan kasus BLBI oleh pemerintah mulai dari
pemerintahan Habibie hingga pemerintahan SBY memperlihatkan adanya
pelaksanaan penegakan hukum yang diskiriminatif dan dalam kasus BLBI ini
pemerintah lebih memprioritaskan pengembalian asset Negara yang telah di bawa
lari ke timbang melakukan penegakan hukum terhadap para koruptor tersebut.
Pemerintah beralasan bahwa untuk menghindari kerugian negara yang semakin
besar dengan berlarut-larutnya penyelesaian kasus BLBI sehingga pemerintah
lebih mengutamakan untuk mendapatkan pengembalian utang dari para
konglomerat menunjukkan bahwa dalam penyelesaian kasus BLBI ini, pemerintah
lebih

memilih

untuk

menggunakan

pendekatan

keperdataan

daripada

menyelesaikannya melalui proses pidana, yang pada akhirnya telah mengabaikan


prinsip hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat.
4.2 Saran
Seharusnya

pemerintah

benar-benar

mengambil

langkah

konkrit

dalam

menyelesaikan kasus BLBI, serta mengambil tindakan yang cukup tegas terhadap
para tersangka korupsi dengan memenjarakannya karena tidak main main dengan
dana yang dikorupsi yang jumlahnya amat besar sehingga membuat Indonesia
krisis, dengan kata lain tidak cukup mengandalakan pendekatan politik, yang
mengabaikan prinsip-prinsip penegakan hukum dengan alasan pengembalian aset
saja.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Atmasasmita, R., Ketidakadilan Hukum Kasus BLBI , Guru Besar Hukum Pidana
Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung.
Isnaini, Y., 2008, Benahi Penegakan Hukum Pidana Korupsi
Yuntho, E., 2008, BLBI dan Hukum yang Bungkam
Aang Ahmad. MIMBAR HUKUM Volume 23, Nomor 3, Oktober 2011. Kajian
Kasus BLBI: Penggeseran Hukum Publik Ke Dalam Lapangan Hukum Privat
(Didownload 18 April 2016 pukul 16:00)
http://wiratamafamily.blogspot.co.id/2009/02/analisis-hukum-kasus-blbi.html
(Diakses pada 18 April 2016 pukul 16:22)
https://id.wikipedia.org/wiki/Bantuan_Likuiditas_Bank_Indonesia (diakses pada
18 April 2016 pukul 16:29)
http://fajar.co.id/2016/04/16/rugikan-negara-rp-138-triliun-ini-daftar-buronankorupsi-blbi/ (Diakses pada 18 April 2016 pukul 16:32)