Anda di halaman 1dari 41

TUGAS

BUDAYA NUSANTARA
KEBUDAYAAN BUGIS MAKASSAR, MANDAR, DAN TORAJA

Oleh:
Brillianto Luqman Kusumajati

(143060020571)

Dessak Made Sandya A.

(143060019751)

Hendika Yuristiyanto

(143060019886)

Isnaini Merdekawati Hidayah

(143060019832)

Rahma Noor Fadhila

(143060019483)

Rezha Hendy Jana Prasetya

(143060019697)

Rizky Darmawan

(143060019234)

KELAS 5F
JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

BUGIS MAKASSAR
BAB I
IDENTIFIKASI
A Pengantar
Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri
utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang
Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai
tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga
dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia
tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orangorang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Disamping itu orang-orang Bugis
juga banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan
keturunannya telah menjadi bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau
dari masyarakat Bugis, maka orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi
merantau ke mancanegara.
B Sejarah
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk
ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya
Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka.
Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari
La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara
dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah
suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang
membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000
halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah
kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat
Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili,
Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa
kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa,
aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara
lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.
Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tetapi proses pernikahan
menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini
orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo,

Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan


Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah
peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina
(yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan
Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)
C Geografi
Kota Makassar berada koordinat 119BT dan 5,8 LS dengan ketinggian yang
bervariasi antara 1 25 meter dari permukaan laut, merupakan daerah pantai
yang datar dengan kemiringan 0 5 ke arah barat, diapit dua muara sungai yakni
Sungai Tallo yang bermuara di bagian utara kota dan Sungai Jeneberang yang
bermuara di selatan kota. Luas wilayah kota Makassar kurang lebih 175,77 Km2
daratan dan termasuk 11 pulau di Selat Makassar ditambah luas wilayah perairan
kurang lebih 100 Km2.
Jumlah kecamatan di Kota Makassar sebanyak 15 kecamatan dan memiliki 143
kelurahan. Tujuh kecamatan berbatasan dengan pantai yaitu: Kecamatan
Tamalate, Mariso, Wajio, Ujung Tanah, Tallo Tamalanrea dan Biringkanaya.
D Demografi
Kota Makassar adalah ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Makassar merupakan
kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur dan pada masa lalu
pernah menjadi ibukota Negara Indonesia Timur dan Provinsi Sulawesi.
Makassar terletak di pesisir barat daya Pulau Sulawesi dan berbatasan dengan
Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah
utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah
selatan.
Dari aspek pembangunan dan infrastruktur, kota Makassar tergolong salah satu
kota metropolitan di Indonesia, yaitu urutan kedua terbesar di luar pulau Jawa
setelah kota Medan. Dengan memiliki wilayah seluas 199,26 km dan jumlah
penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa, kota ini berada di urutan keenam berpenduduk
terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Semarang.
Secara demografis, kota ini tergolong tipe multi etnik atau multi kultur dengan
beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya, di antaranya yang signifikan
jumlahnya adalah Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan Tionghoa.
E Kepercayaan
Sebagian besar penduduk suku Bugis dan Makassar adalah pemeluk agama
Islam, juga ada yang memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat
Protestan atau Katolik umumnya terdiri dari orang Maluku, Minahasa, dan orang
Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota, terutama Ujung Pandang.
F Mata Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir,
maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan.
Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu
masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang
pendidikan.

BAB II
SISTEM KEKERABATAN, PERKAWINAN
DAN KEMASYARAKATAN
A Kekerabatan
Suku bangsa Bugis-Makassar adalah suku bangsa yang mendiami bagian
terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Orang Bugis juga sering
disebut orang Ugi. Sistem kekerabatan masyarakat Bugis disebut dengan
assiajingeng yang tergolong bilateral atau lebih tepat parental, yaitu sistem
kekerabatan yang mengikuti lingkungan pergaulan hidup dari ayah maupun dari
pihak ibu atau garis keturunan berdasarkan kedua orang tua. Hubungan
kekerabatan ini menjadi sangat luas disebabkan karena, selain ia menjadi
anggota keluarga ibu, ia juga menjadi anggota keluarga dari pihak ayah.
Hubungan kekerabatan dihitung melalui dua jalur, yaitu hubungan kerabat
sedarah (consanguinity) yang disebut seajing (rpp marpp) atau
sampunglolo, dan hubungan kerabat karena perkawinan (affinal) yang disebut
siteppa-teppa (siteppang marpp ). Kerabat seajing amat besar peranannya
dalam kehidupan sehari-hari, selain berkewajiban mengurus masalah
perkawinan dan kekerabatan. Anggota keluarga dekat inilah yang menjadi to
masiri (orang yang malu) bila anggota keluarga perempuan nilariang (dibawa
lari oleh orang lain) dan mereka berkewajiban membela dan mempertahankan
sirik atau siri, yaitu martabat atau harga diri keluarga luas tersebut. Sementara
keluarga siteppa-teppa baru berperan banyak apabila keluarga luas tersebut
mengadakan upacara-upacara seputar lingkaran hidup, seperti upacara
perkawinan, kelahiran, kematian, mendirikan rumah baru, dan sebagainya.
B Perkawinan
Istilah perkawinan dalam bahasa bugis disebut siala yang berarti saling
mengambil satu sama lain. Dengan demikian perkawinan adalah ikatan timbal
balik antara dua insan yang berlainan jenis kelamin untuk menjalin sebuah
kemitraan. Istilah perkawinan dapat juga disebut siabbineng dari kata bine yang
berarti benih padi. Dalam tata bahasa bugis, kata bine jika mendapat awalan
ma menjadi mabbine berarti menanam benih. Kata bine atau mabbine ini
memiliki kedekatan bunyi dan makna dengan kata baine (istri) atau mabbaine
(beristri). Maka dalam konteks ini, kata siabbineng mengandung makna
menanam benih dalam kehidupan rumah tangga.

Menurut pandangan orang Bugis-Makassar, perkawinan bukan sekedar


menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami istri, tetapi perkawinan
merupakan suatu upacara yang bertujuan untuk menyatukan dua keluarga besar
yang telah terjalin sebelumnya menjadi semakin erat atau dalam istilah orang
Bugis disebut mappasideppemabelae atau mendekatkan yang sudah jauh. Oleh
karena itu, perkawinan di kalangan masyarakat Bugis umumnya berlangsung
antar keluarga dekat atau antar kelompok patronasi (endogami), terutama di
kalangan masyarakat biasa, karena mereka sudah saling memahami sebelumnya.

Keterlibatan orang tua dan kerabat dalam pelaksanaan pesta perkawinan tidak
dapat diabaikan. Mereka tetap memegang peranan sebagai penentu dan
pelaksana dalam perkawinan anak-anaknya, plilhan pasangan hidup bukanlah
urusan pribadi, namum merupakan urusan keluarga dan kerabat. Untuk itulah,
perkawinan perlu dilakukan secara sungguh-sungguh menurut agama dan adat
yang berlaku di dalam masyarakat. Alasan lain orang Bugis-Makassar harus
mengadakan pesta perkawinan adalah karena hal tersebut sangat berkaitan
dengan status sosial mereka dalam masyarakat. Semakin meriah sebuah pesta,
semakin mempertinggi status sosial seseorang.
Tahapan-Tahapan Adat Perkawinan Suku Bugis Makassar

Ajagang-jagang/Mamanu-manu : penyelidikan secara diam-diam oleh pihak


calon mempelai pria untuk mengetahui latar belakang pihak calon mempelai
wanita.

Asuro/Massuro : Acara ini merupakan pinangan secara resmi pihak calon


mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Dahulu, proses meminang bisa

dilakukan beberapa fase dan bisa berlangsung berbulan-bulan untuk mencapai


kesepakatan.

Appanasa/Patenre : Ada usai acara pinangan, dilakukan appanasa/patenre ada


yaitu menentukan hari pernikahan. Selain penentuan hari pernikahan. Selain
penentuan hari pernikahan, juga disepakati besarnya mas kawin dan uang
belanja. Besarnya mas kawin dan uang belanja ditentukan menurut golongan
atau strata sosial sang gadis dan kesanggupan pihak keluarga pria.

Appanai Leko Lompo (Erang-erang) : Setelah pinangan diterima secara resmi,


maka dilakukan pertunangan yang disebut Abayuang yaitu ketika pihak
keluarga lelaki mengantarkan passio/passiko atau pattere ada (bugis). Hal ini
dianggap sebagai pengikat dan biasanya berupa cincin. Prosesi mengantarkan
pasio diiringi dengan mengantar daun sirih pinang yang disebut Leko Caddi.
Namun karena pertimbangan waktu, sekarang acara ini dilakukan bersamaan
dengan acara Patenre Ada atau Appanasa.

Abarumbung (mappesau) : Acara mandi uap yang dilakukan oleh calon


mempelai wanita.

Appasili Bunting (Cemme Mapepaccing) : Kegiatan tata upacara ini terdiri dari
appasili bunting, abubu, dan appakanre bunting. Prosesi appasili bunting ini
hampir mirip dengan siraman dalam tradisi pernikahan Jawa. Acara ini
dimaksudkan sebagai pembersihan diri lahir dan batin.

Abubu : Setelah berganti pakaian, calon mempelai selanjutnya didudukkan di


depan pelaminan dengan berbusana Baju bodo, tope (sarung pengantin), serta
assesories lainnya. Prosesi acara abubu (maceko) dimulai dengan
membersihkan rambut atau bulu-bulu halus yang terdapat di ubun-ubun atau
alis, acara ini dilakukan oleh Anrong Bunting (penata rias), yang bertujuan
memudahkan dalam merias pengantin wanita, dan supaya hiasan hitam pada
dahi yang dikenakan calon mempelai wanita dapat melekat dengan baik.

Appakanre Bunting : Menyuapai calon mempelai dengan makan berupa kue-kue


khas tradisional Makassar, seperti Bayao Nibalu, Cucuru Bayao, Sirikaya,
Onde-onde, Bolu peca, dan lain-lain yang telah disiapkan dan ditempatkan
dalam suatu wadah besar yang disebut Bosara Lompo.

Akkorontigi : Sehari menjelang pesta pernikahan, rumah calon mempelai wanita


telah ditata dan dihiasi sedemikian rupa dengan dekorasi khas Makassar. Acara
Akkorontigi merupakan suatu rangkaian acara yang sacral yang dihadiri oleh
seluruh sanak keluarga (famili) dan undangan.

Assimorong/Menrekawing : Acara ini merupakan acara akad nikah dan menjadi


puncak dari rangkaian upacara pernikahan adat Bugis-Makassar. Calon
mempelai pria diantar ke rumah calon mempelai wanita yang disebut Simorong
(Makassar) atau Menrekawing (Bugis).

Appabajikang Bunting : Prosesi ini merupakan prosesi menyatukan kedua


mempelai. Setelah akad nikah selesai, mempelai pria diantar ke kamar mempelai
wanita. Dalam tradisi bugis-makassar, pintu menuju kamar mempelai wanita
biasanya terkunci rapat. Kemudian terjadi dialog singkat antara pengantar
mempelai pria dengan penjaga pintu kamar mempelai wanita. Setelah mempelai
pria diizinkan masuk, kemudian diadakan acara Mappasikarawa (saling
menyentuh). Sesudah itu, kedua mempelai bersanding di atas tempat tidur untuk
mengikuti beberapa acara seperti pemasangan sarung sebanyak tujuh lembar
yang dipandu oleh indo botting (pemandu adat). Hal ini mengandung makna
mempelai pria sudah diterima oleh keluarga mempelai wanita.

Alleka bunting (maolla) : Acara ini sering disebut sebagai acara ngunduh mantu.
Sehari sesudah pesta pernikahan, mempelai wanita ditemani beberapa orang
anggota keluarga diantar ke rumah orang tua mempelai pria. rombongan ini
membawa beberapa hadiah sebagai balasan untuk mempelai pria. mempelai
wanita membawa sarung untuk orang tua mempelai pria dan saudarasaudaranya. Acara ini disebut Makkasiwiang.

C Kemasyarakatan
Dulu ada tiga lapisan pokok dalam suku bugis, yaitu:
1 Anakarung : lapisan kaum kerabat raja-raja.
2 To-maradeka Tu-mara-deka : lapisan orang merdeka yang merupakan
sebagian besar dari rakyat Sulawesi Selatan
3 Ata : lapisan orang budak, yaitu orang yang ditangkap dalam
peperangan, orang yang tidak dapat membayar hutang,
atau orang
yang melanggar pantangan adat.
Susunan Lapisan Gelar-gelar yang terdapat pada Suku Bugis:
1 Datu
Datu adalah gelar yang di berikan kepada bangsawan bugis yang
memegang pemerintahan daerah, yang sekarang setingkat dengan
(Bupati).
2 Arung
Arung adalah Gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang
memegang pemerintahan wilayah yang sekarang setingkat dengan
(Camat).
3 Andi
Andi adala gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang biasanya
anak dari perkawinan antara keturunan arung dengan arung.

Puang
Puang adalah Gelar yang diberikan kepada anak dari hasil perkawinan
antara arung atau andi yang mempunyai istri masyarakat biasa, begitupun
sebaliknya.
Iye
Iye adalah gelar yang diberikan kepada masyarakat biasa yang masih
memiliki silsilah yang dekat dengan kerabat bangsawan.
Uwa
Uwa adala kasta ter rendah dalam masyarakat bugis yaitu gelar yang
diberikan kepada masyarakat biasa

BAB III
PRODUK BUDAYA
A KESENIAN
1 ALAT MUSIK
Gendang/Genrang/Ganrang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan
bundar seperti rebana. Bahannya dibuat dari kayu seperti kayu batang pohon
cendana, kayu batang pohon nangka, kayu batang pohon kelapa dan kayu
jati. Pilihan bahan dalam pembuatan gendang tersebut karena disamping
ketahanannya juga karakter bunyi yang dihasilkannya karena kayu tersebut
berfungsi sebagai tabung suara atau ruang resonansi.
Gendang tersebut, disekat oleh kulit hewan (kulit kambing) sebagai sumber
bunyi dan rautan rotan kecil yang dibelah empat sebagai penarik sekat atau
pembentang kulit kambing tersebut untuk mendapatkan hasil bunyi yang
diinginkan.

Suling
Suling-Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu: Suling panjang
(suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah, suling
calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapidan
dimainkan bersama penyanyidan suling dupa samping (musik bambu),

musik bambu masih terplihara didaerah Kecamatan Lembang. Biasanya


digunakan pada acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.

Kecapi
Kecapi merupakan salah satu bentuk alat musik tradisional Sulawesi
Selatan. Termasuk dalam rumpun alat musik chordophone atau alat musik
yang bersumber bunyi dari dawai/senar. Dahulu kecapi sangat digemari
dikalangan tua dan muda, dapat menjadi pelipur lara dikala gundah ataupun
teman bersuka ria. Kecapi juga menjadi sahabat dekat bagi para petani yang
sedang menunggui sawah ataupun para pelaut yang sedang berlayar di
tengah samudera.
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku
Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi
ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya
menyerupai perahu.
Permainan kecapi hadir pada upacara-upacara seperti perkawinan, sunatan,
acara kenegaraan dan lainnya. Adapun bahan pembuatannya dari batang
pohon kayu cendana, kayu nangka dan kayu jati. Alat musik ini terdiri atas 2
(dua) senar/dawai dengan masing-masing senar memiliki stem yang
berbeda. Dahulu, kecapi dalam masyarakat terdiri atas 3(tiga) grep namun
mengalami perkembangan menjadi 4-6 grep.

TARIAN
1 Tari Gandrangbulo: berbentuk teater tradisional

Tari Pakarena: menggambarkan kisah mistis perpisahan antara


penghuni boting langi (kahyangan) dengan penghuni boting lino (bumi)
pada jaman purba. Sebelum detik-detik perpisahan, penghuni boting
langi mengajari penghuni boting lino mengenai tata cara hidup,
bercocok tanam, beternak, berburu, lewat gerakan tangan dan kaki.
Dahulu Tari Pakarena ini dipertunjukkan di Istana, namun dalam
perkembangannya tari ini lebih memasyarakat.
3 Tari Patenun: menggambarkan cara menenun kain sutera
4 Tari Paraga: dimainkan oleh anak-anak remaja untuk menunjukkan
kepiawaiannya dalam memainkan bola yang terbuat dari rotan.
Permainan ini juga untuk menarik perhatian gadis-gadis remaja.
B RUMAH ADAT

Rumah
Panggung Kayu
adalah salah
satu rumah tradisional
Bugis yang berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Konstruksi
bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang (knock down) sehingga dapat
dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Konsep empat persegi panjang ini
bermula dari pandangan hidup masyarakat Bugis pada zaman dahulu tentang
bagaimana memahami alam semesta secara universal. Dalam falsafah dan
pandangan hidup mereka terdapat istilah sulapa ppa, yang berarti persegi
empat, yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari
kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia
(Elizabeth Morrell, 2005: 240). Menurut mereka, segala sesuatu baru dikatakan
sempurna dan lengkap jika memiliki sulapa ppa. Demikian pula pandangan
mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakan bola gnn atau
rumah sempurna jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat
kesempurnaan.
Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi
bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol-simbol khusus. Berdasarkan
pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal
dengan istilah Saoraja (Sallasa) dan Bola. Saoraja berarti rumah besar, yakni

rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan
bola berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa.
Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak
memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran
rumah dan status sosial penghuninya. Pada umumnya, Saoraja lebih besar dan
luas daripada Bola yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. Saoraja
memiliki 40 48 tiang, sedangkan Bola hanya memiliki 20 30 tiang.
Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup
bubungan atap rumah yang disebut dengan timpak laja. Bangunan Saoraja
memiliki timpak laja yang bertingkat-tingkat yaitu antara 3 - 5 tingkat,
sedangkan timpak laja pada bangunan Bola tidak bertingkat alias polos.
Semakin banyak jumlah tingkat timpak laja sebuah Saoraja, semakin tinggi pula
status sosial penghuninya.
Untuk mendirikan rumah adat Bugis, diperlukan peran seorang Sanro Bola atau
dukun rumah. Sanro Bola dianggap menguasai ilmu pengetahuan tentang tata
cara pengerjaan rumah, mulai dari pemilihan lokasi dan waktu, jenis kayu, arah
letak rumah, dan pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah
hingga pada konstruksi serta segala pelengkapnya. Selain itu, Sanro Bola juga
mengetahui cara-rara mengusir makhluk-makhluk halus melalui doa dan mantramantra. Menurut keyakinan orang Bugis, kayu yang akan ditebang untuk tiang
dan tempat untuk mendirikan rumah terkadang dihuni oleh makhluk-makhluk
halus dan roh-roh jahat. Oleh karena itu, penghuni rumah harus meminta
bimbingan kepada seorang Sanro Bola. Jika tidak, maka si penghuni rumah
kelak akan ditimpa penyakit, malapetaka, atau meninggal dunia.
Tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan mendirikan rumah senantiasa
mempertimbangkan keselamatan. Mereka percaya bahwa hidup selaras dan
harmoni dengan tatanan kehidupan alam akan mendatangkan ketenangan,
kesejahteraan, dan kedamaian. Sebaliknya, manusia yang menyimpang dari
tatanan dan aturan tersebut niscaya akan mendapatkan sangsi atau hukuman
berupa malapetaka. Untuk itulah, mereka senantiasa menjaga keselarasan
dengan alam melalui tanda-tanda atau simbol, yaitu berupa mitos asal dan
upacara-upacara ritual.
C PAKAIAN ADAT

a
b
c
d
e
f
a
Pria
Songkoure cak: topi sebagai simbol status sosial

Upa sabe (sarung sabe)


b Wanita
Baju bodo
Lipa sabe (Satrung sabe), terbuat dari sutera
Perhisan pada kepala, dan gelang
D SENJATA
a Badik Makassar: bilah pipih, battang (perut) buncil dan tajam, ujung runcing
b Badik Bugis: bilah pipih , ujung runcing dan agak melebar

KULINER
Makanan khas suku Bugis Makassar antara lain:
a Cotto Makassar, terbuat dari isi perut dan daging sapi. Dihidangkan
dengan ketupat

Sup konro: daging sapi dengan kuah


yang diberi keluwak. Dimakan dengan ketupat

Es Pallu Butung: Pisang dipotong


dimasak dengan santan, tepung , gula pasir, vanili dan sedikit garam.
Disajikan dengan es serut dan sirop merah (sirop pisang Ambon).

Barongko: makanan penutup yang


dibuat dari pisang kepok, ditambah buah
nangka dan kelapa muda, yang
dibungkus dengan daun pisang dan
dikukus.

F UPACARA ADAT
Upacara adat suku Bugis Makasar antara lain:
a Prosesi Madduik, menjaga kelestarian dan keutuhan rumah adat, diiringi
dengan kesenian masyarakat karampuang seperti Mappadekko, Elong Poto,
Buruda dan Sikkiri
b MaRimpa Salo (Menghalau ikan di sungai) Manivestasi dari rasa syukur
atas keberhasilan panen ikan dan panen padi
c Ritual Palili, sebagai tanda mulai mengerjakan sawah

TORAJA
BAB I
IDENTIFIKASI
A. Pengantar
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi
Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar
500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja
Utara, dan Kabupaten Mamasa. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja,
yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda
menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual
pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman
Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan
orang dan berlangsung selama beberapa hari.
Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih
menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah
semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja
menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh
pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak
tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan
tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen
dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.
B. Sejarah
Ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin terletak antara Vietnam utara dan Cina
selatan, adalah tempat asal suku Toraja. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah
satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di
wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan
politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah
(tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit
lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap
pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku
Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme

sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi
penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial
Belanda.[2] Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan
dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah
Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari
kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.[8] Pada tahun 1946, Belanda
memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya
sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku
Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan
Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa
oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi,
dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun
demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya
sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10%
orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an.
Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah
ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat
membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang
beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia,
Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan
Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi.
Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan
semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk
Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam,
Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha.[12] Kepercayaan asli Toraja (aluk)
tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut.
Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian
dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai
bagian dari Agama Hindu Dharma.
C. Geografi
Kabupaten Tana Toraja yang beribukota di Makale secara geografis terletak di
bagian Utara Provinsi Sulawesi Selatan yaitu antara 2 - 3 Lintang Selatan dan
119 - 120 Bujur Timur, dengan luas wilayah tercatat 2.054,30 km 2
persegi.Dengan batas-batas, yaitu :
Sebelah utara adalah Kabupaten Toraja Utara dan Propinsi Sulawesi
Barat
Sebelah Selatan adalah Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
Sebelah Timur adalah Kabupaten Luwu
Sebelah Barat adalah Propinsi Sulawesi Barat

Secara administratif, Kabupaten Tana Toraja meliputi 19 Kecamatan, 112


lembang dan 47 kelurahan.
D. Demografi
Kabupaten Tana Toraja adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi
Selatan, dengan Makale sebagai Ibukota Kabupaten, yang mempunyai luas
wilayah 3.205,77 kilometer persegi dan berpenduduk sebanyak lebih kurang
400.000 jiwa.
Suku Toraja mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup
yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia dan mirip dengan
budaya Nias.
Masyarakat Toraja mengenal sistem pelapisan masyarakat yang bersumber dari
ajaran kepercayaan laluhur, yang mengatur berbagai aspek kehidupan, terutama
dalam berinteraksi sehingga sangat nampak dalam keseharian mereka. Tingkatan
sosial dalam masyarakat Toraja adalah sebagai berikut:
a. Tana Bulaan, adalah lapisan bangsawan tinggi sebagai pewaris Aluk
(kepercayaan) untuk memimpin agama
b. Tana Bassi, merupakan lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris
kepemimpinan
c. Tana Karurun, adalah rakyat kebanyakan yang tidak diperintah secara
langsung oleh para bangsawan
d. Tana Kua-Kua, adalah lapisan hamba sahaya
Dahulu stratifikasi sosial didasarkan pada keturunan dan kedudukan, namun kini
berdasarkan tingkat pendidikan dan kemapanan ekonomi. Sekarang banyak
kelas rakyat kebanyakan yang dahulu mengabdi kepada kaum bangsawan, kini
menggapai posisi sendiri dalam sistem stratifikasi sosial itu.
E. Kepercayaan
Di Tana Toraja dijumpai beberapa agama, antara lain Kristen Protestan 298.22l
jiwa, Katholik l08.850 jiwa, Islam 37.853 jiwa dan Hindu Toraja l3.145 jiwa.
Kepercayaan turun-temurun, yaitu Aluk Todolo dianggap sebagai agama dan
kepercayaan asli, yang diturunkan oleh Puang Matua (Sang Pencipta), kemudian
menurunkan kepada Datu Lauku, yang berisi aturan bahwa manusia dan segala
isi bumi ini harus menyembah kepada Puang Matua dalam bentuk sajian. Sang
Pencipta kemudian memberikan kekuasaan kepada Deata-Deata (Sang
Pemelihara). Kepercayaan Orang Toraja khususnya yang disebut Sadan, di
Sulawesi Selatan dikenal sebagai adat kebiasaan leluhur, namun penganutnya
kian hari semakin berkurang, karena pengaruh agama lain. Dari segi
administrasi, kepercayaan Aluk Todolo sekarang dimasukkan ke dalam agama
Hindu Toraja.
F. Mata Pencaharian
Pada awalnya ekonomi masyarakat toraja bergantung pada pertanian dan ternak,
dengan adanya terasering di lereng-lereng gunung memungkinan masyarakat

toraja untuk bertani. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk
berternak kerbau, babi, dan ayam yang dibutuhkan terutama untuk upacara
pengorbanan dan sebagai makanan. Satu-satunya industri pertanian di Toraja
adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja. Toraja juga dikenal sebagai tempat asal
dari kopi Indonesia. Kopi Arabika ini terutama dijalankan oleh pengusaha kecil.
Setelah orde baru, ekonomi toraja mulai bergeser ke arah pariwisata. Sebelum
tahun 1970-an, Toraja hampir tidak dikenal oleh wisatawan barat. Pada tahun
1984, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Kabupaten Toraja sebagai
primadona Sulawesi Selatan. Tana Toraja dipromosikan sebagai "perhentian
kedua setelah Bali". Pariwisata menjadi sangat meningkat: menjelang tahun
1985, terdapat 150.000 wisatawan asing yang mengunjungi Tana Toraja (selain
80.000 turis domestik), dan jumlah pengunjung asing tahunan tercatat sebanyak
40.000 orang pada tahun 1989. Suvenir dijual di Rantepao, pusat kebudayaan
Toraja, banyak hotel dan restoran wisata yang dibuka, selain itu dibuat sebuah
lapangan udara baru pada tahun 1981.
Nilai jual pariwisata toraja adalah Toraja daerah petualangan yang eksotis,
memiliki kekayaan budaya dan terpencil, desa zaman batu dan pemakaman
purbakala

BAB II
SISTEM KEKERABATAN, PERKAWINAN
DAN KEMASYARAKATAN
A. Kekerabatan
Kekerabatan adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap
desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang
dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa.
Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah praktek
umum yang memperkuat hubungan kekerabatan.Suku Toraja melarang
pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk
bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan
berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling
menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan
hutang.
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Anak, dengan
demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan
bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan
biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi,
paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara
kandung.
Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja,
masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu,
ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri,
beberapa desa biasanya membentuk kelompok, kadang-kadang beberapa desa
akan bersatu melawan desa-desa lain. Hubungan antara keluarga diungkapkan
melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur (tongkonan), secara
praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. Pertukaran tersebut
tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga
menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang
menuangkan tuak, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan,
tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring apa yang harus
digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk
masing-masing orang
B. Perkawinan
Pernikahan bagi orang Toraja harus dengan restu kedua pasang orang tua, jika itu
dilanggar maka pria dan wanita yang menikah tersebut akan diasingkan atau tidak
diakui sebagai anak. Pada jaman dahulu pernikahan tentu belum seperti sekarang,
pria dan wanita belum bebas berinteraksi dan orang tua serta keluarga besar
memegang kendali dalam proses perjodohan tersebut.

Perjodohan atau pernikahan diawali dengan sebuah hantaran sirih dari keluarga
pria ke keluarga calon mempelai wanita. Ini sebagai langkah awal untuk
mengetahui apakah ada jalan untuk meneruskan ke jenjang berikutnya atau tidak.
Keluarga pria akan mengutus orang yang dipercaya untuk membawa sirih ke
rumah perempuan. Bila diterima dengan baik maka artinya keluarga pihak pria
bisa melanjutkan dengan acara lamaran.
Pada waktu melamar disebutkan tentang ganti kerugian yang nilainya juga akan
disebutkan pada upacara resmi perkawinan. Pembayaran tersebut dinilai dengan
kerbau. Dalam adat pernikahan orang Toraja tidak ada disebutkan tentang mas
kawin, kecuali jika sang wanita menikah dengan pria yang tidak disetujui orang
tuanya. Si pria harus membayar mas kawin yang terdiri dari:
1. Untuk wanita golongan puang 1-12 ekor kerbau.
2. Wanita golongan tumakaka 1-3 ekor kerbau.
3. Wanita golongan hamba 1 ekor kerbau.
Upacara pernikahan di Toraja sangat sederhana, tidak seperti yang dilakukan
oleh orang Bugis atau Makassar. Keseluruhan upacara pernikahan hanya
berlangsung beberapa hari saja. Adat dan upacara pernikahan orang Toraja
terdiri tiga tingkatan, meski itu juga tidak mengikat karena semua tergantung
pada kemampuan dan keinginan kedua belah pihak calon mempelai.
Pernikahan dengan upacara Rompo Bobo Bannang.
Pernikahan dengan adat Rompo Bobo Bannang ini adalah upacara
pernikahan yang paing sederhana. Utusan dari pihak pria akan
menyampaikan lamaran, jika disetujui maka disampaikanlah waktu
kedatangan mereka. Waktu kedatangan rombongan mempelai pria biasanya
malam hari.
Ketika waktu yang ditentukan tiba, datanglah rombongan mempelai pria
yang terdiri dari mempelai pria dengan 2 atau 4 pengikut yang naik ke atas
rumah. Orang tua wanita membuka pintu dan mempelai pria beserta
rombongannya naik ke atas rumah. Mereka kemudian dijamu makan dan
minum. Sesudah makan, tamu-tamu pulang ke rumah sementara mempelai
pria tetap tinggal di rumah mempelai wanita. Dengan resmi upacara
pernikahan secara Bobo Bannang dianggap selesai.
Pernikahan dengan upacara Rompo KaroEng.
Pernikahan dengan upacara Rompo KaroEng sesungguhnya hampir sama
urutannya dengan upacara Rompo Bobo, hanya ada sedikit tambahan pada
detail pelaksanaannya. Upacara dimulai dengan lamaran yang ditandai
dengan utusan pria yang membawa sirih. Jika lamaran diterima maka
keluarga wanita akan menentukan hari pernikahan.
Di hari yang disepakati, mempelai pria akan datang bersama rombongan
pengiring yang terdiri dari kerabat dan handai taulan. Semua pengiring
adalah pria juga. Tiba di pekarangan rumah, iring-iringan ini akan disambut
oleh keluarga mempelai pria dengan sambutan dan tanya jawab yang sama

dengan upacara Rompo Bobong. Setelah selesai maka rombongan pria akan
dipersilakan duduk di lumbung.
Ketika malam tiba, rombongan mempelai pria akan dipersilakan naik ke atas
rumah. Di sana mereka dijamu makan dan minum. Setelah makan dan
minum, orang tua wanita akan membacakan hukum pernikahan. Dalam adat
Toraja, jika terjadi sesuatu yang membatalkan pernikahan atau terjadi
perceraian maka pihak yang dianggap bersalah harus membayar denda atau
disebut Kapa sesuai tingkatannya. Denda tersebut dinilai dengan kerbau.
Sesudah pembacaan hukum pernikahan maka rombongan mempelai pria
akan meninggalkan rumah mempelai wanita meninggalkan mempelai pria
sendirian. Dengan itu secara resmi upacara Rampo KaroEng dianggap
selesai
Pernikahan degan upacara Rompo Allo.
Pernikahan dengan upacara Rompo Allo adalah upacara tingkat ketiga dari
pernikahan suku Toraja. Pernikahan dengan upacara ini berlangsung
beberapa hari dengan upacara yang lebih besar. upacara ini biasanya hanya
dilakukan oleh mereka dari golongan bangsawan.
Pernikahan diawali dengan paingka kada atau menyelidiki calon mempelai
wanita. Penyelidikan ini dilakukan untuk mencari tahu apakah calon
mempelai wanita itu belum ada yang melamar ataukah memang ada peluang
bagi calon mempelai pria untuk meminangnya.
Jika penyelidikan telah selesai dan ternyata wanita yang diincar belum ada
yang melamar dan keluarganya berkenan untuk menerima sang pria, maka
berikutnya dilakukan umbaa pangan atau melamar secara resmi. Pinangan
ditandai dengan sirih pinang yang diantar utusan dari calon mempelai pria
kepada orang tua calon mempelai wanita. Pengantar sirih pinang ini terdiri
dari beberapa orang wanita dan pria yang berpakaian adat.
Setelah pinangan diterima, utusan mempelai pria akan datang lagi untuk
membicarakan waktu yang tepat untuk upacara pernikahan. Setelah hari
pernikahan disepakati maka kedua pihak akan mengadakan persiapan.
Keluarga mempelai wanita akan memotong babi sebagai isyarat yang akan
disajikan pada upacara peresmian pernikahan. Seekor babi juga dipotong
untuk peresmian pinggan adat (dulang). Dulang ini dijejer sebanyakbanyaknya 12 buah dan sekurang-kurangnya 8 buah. Disiapkan sebelum
rombongan pengantin datang.
Di hari yang telah disepakati, rombongan pria akan datang jam 7 malam.
Jumlah rombongan tidak terbatas, terdiri dari kerabat dan handai taulan.
Upacara ini disebut Topasulau atau mengantar mempelai pria, sementara
rombongannya sendiri disebut Topasolan.
Rombongan ini berurutan mulai dari penunjuk jalan paling depan, kemudian
pemikul kayu bakar, beberapa laki-laki, mempelai pria, pengiringnya serta
sering pula rombongan penari Paburak yang menari sepanjang jalan. Ada
pantangan yang berlaku dalam iring-iringan ini, di antaranya adalah anggota

rombongan tidak boleh saling bersentuhan pada waktu berjalan. Jika iringiringan mereka bertemu ular atau lipan maka mereka harus kembali dan
tidak boleh meneruskan perjalanan.
Setiba di rumah mempelai wanita, rombongan awalnya akan disuruh
menunggu di lumbung atau tempat terbuka lainnya untuk disuguhi sirih
pinang. Setelah itu rombongan akan dipersilakan naik ke atas rumah dan
mengambil tempat yang sudah ditentukan. Mempelai wanita akan keluar dari
sombung (kamar tertentu yang sudah disediakan) dan duduk berdampingan
dengan mempelai pria diapit oleh imam masing-masing.
Setelah duduk berhadap-hadapan maka dimulailah upacara makan bersama.
Kedua mempelai akan makan dari dulang yang sama yang sudah diisi
dengan buku leso (kaki belakang babi). Makan bersama ini sebagai prosesi
peresmian pernikahan yang diikuti dengan dialog kapa dilampok antara
imam kedua belah pihak.
Setelah selesai maka rombongan pengantar mempelai pria akan
meninggalkan rumah mempelai wanita sekaligus pertanda usainya upacara
pernikahan tersebut.
C. Kemasyarakatan
Masyarakat Toraja mengenal sistem pelapisan masyarakat yang bersumber dari
ajaran kepercayaan laluhur, yang mengatur berbagai aspek kehidupan, terutama
dalam berinteraksi sehingga sangat nampak dalam keseharian mereka. Tingkatan
sosial dalam masyarakat Toraja adalah sebagai berikut:
a. Tana Bulaan, adalah lapisan bangsawan tinggi sebagai pewaris Aluk
(kepercayaan) untuk memimpin agama
b. Tana Bassi, merupakan lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris
kepemimpinan
c. Tana Karurun, adalah rakyat kebanyakan yang tidak diperintah secara
langsung oleh para bangsawan
d. Tana Kua-Kua, adalah lapisan hamba sahaya
Dahulu stratifikasi sosial didasarkan pada keturunan dan kedudukan, namun kini
berdasarkan tingkat pendidikan dan kemapanan ekonomi. Sekarang banyak kelas
rakyat kebanyakan yang dahulu mengabdi kepada kaum bangsawan, kini
menggapai posisi sendiri dalam sistem stratifikasi sosial itu.

BAB III
PRODUK BUDAYA

A. KESENIAN
1. Seni Musik tradisional, antara lain:
Passuling: semua lagu-lagu yang diiringi dengan suling
Papelle/Pabarrung: Alat musiknya terbuat dari batang padi dan
disambung hingga mirip terompet
Papompang/pabas: musik bambu
Pakarobi: alat kecil dengan benang halus pada bibir
Patulali: bambu kecil dimainkan sehingga menimbulkan bunyi
Pagesogeso : alat musik gesek, terbuat dari kayu dan tempurung
2. Seni Tari
Kesenian Tari di Tana Toraja, senantiasa diapresiasikan berkaitan dengan
Aluk Rambu Tuka dan Aluk Rambu Solo
Tarian Magellu : dipentaskan pada upacara kegembiraan
Tarian Boneballa / Ondo Samalele: digelar dalam upacara syukuran
Tarian Pagellu: dipentaskan pada acara pesta Rabu Tuka
Tarian Burake: pemujaan kepada Puang Marua dan Deata
Tarian Dau Bulan: Sama dengan Tarian Burake
Tarian Madandan: pemujaan dan doa-doa kepada Puang Matua dan
Deata (Aluk Todolo)
Tarian Manimbong: Tarian pemujaan dan doa pada upacara syukuran
Tarian Paranding: untuk menghormati para pahlawan perang
Tarian Papangngan: tarian selamat datang
B. RUMAH ADAT
Rumah adat Tongkonan

C. PAKAIAN ADAT
Baju adat Toraja disebut Baju Pokko' untuk wanita dan seppa tallung buku untuk
laki-laki. Baju Pokko' berupa baju dengan lengan yang pendek. Sedangkan
seppa tallung buku berupa celana yang panjangnya sampai dilutut.

Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, seperti kandaure, lipa',
gayang dan sebagainya.

D. KULINER
Berikut ini ada beberapa makanan khas dari toraja, dan maaf kalau ada sebagian
yang bersifat khusus.
1. PA'PIONG
Makanan ini adalah makan yang dimasak dengan mengunakan bambu biasa
menggunakan sayur bulunangko (mayana) dan bisa juga menggunakan
Burak ( pohon pisang ) yang masih muda. Pa'piong dibagi dalam beberapa
macam sesuai dengan bahan baku pembuatannya.
Pa'piong bale adalah ikan yang dimasak didalam bambu dengan
dicampurkan dengan bumbu-bumbu tertentu. Ikan yang biasanya digunakan
adalah ikan mas yang dicampur dengan daun bulunangko (mayana).

Pa'Piong Bai ( Babi ) adalah


masakan terbuat dari daging babi yang dicampur dengan sedikit rempahrempah bersama dengan lombok katokkon (cabe asli toraja) dan sama seperti
pa'piong bale di masak dengan menggunakan bambu hingga matang.

Pa' Piong Manuk ( Ayam ) adalah masakan dengan


bahan dasar dari daging ayam. Cara pengolahan atau
pembuatannya sama dengan pembuatan pa'piong babi
yaitu daging ayam dicampur dengan daun mayana dan
bumbu lalu bisa ditambahi dengancabe rawit atau
lombok katokkon.

2. PANTOLLO PAMMARASAN
Seperti masakan pa'piong, masakan ini juga dibedakan beberapa macam
tergantung bahan baku yang digunakan seperti berikut ini.
Pantollo Lendong (Belut) merupakan masakan khas Toraja yang terbuat
dari belut yang diolah dengan pamarasan (rawon) yang dicampur dengan
sedimikian rupa menggunakan rempah-rempah khas toraja. Makanan ini
biasanya disajikan dalam acara-acara adat masyarakat Toraja.

Pantollo' Duku ( Daging


Babi) sama saja dengan pantollo lendong yang menggunakan daging babi
sebagai bahan utama yang diolah dengan pamarasan (rawon) yang dicampur
dengan bumbu-bumbu khas toraja termasuk lombok katokkon yang luar
biasa pedasnya.
Pantollo Bale (Ikan) sama dengan pantollo lendong dan duku, yang
membedakan adalah bahan utama yang digunakan yaitu ikan. Masakan ini
biasanya hanya mengunakan ikan mas sebagai bahan walaupun tidak
menutup kemungkinan menggunakan ikan lain seperti ikan lele.
3. TU'TUK UTAN
Tu'tuk dalam bahasa indonesia adalah tumbuk sedangkan utan adalah sayur
dan disini sayur yang digunakan adalah daun singkong. Ini adalah masakan
khusus karena bahan yang digunakan adalah daging babi selain itu tu'tuk
utan di toraja dimasak kering tidak seperti di daerah lain yang kebanyakan
menggunakan kuah. Cara pembuatannya sangat gampang yaitu daun
singkong ditumbuk tapi tidak sampai halus kemudian di masak dengan
daging yang dipotong kecil-kecil ditambah parutan kelapa dan cabe rawit
atau lada katokkon yang di potong-potong bukan diulek. Soal masalah
enaknya tidak perlu diragukan karena ini adalah salah satu masakan favorit
orang toraja.
4. POKON
Pokon adalah salah satu panganan tradisional khas toraja yang disajikan pada
acara-acara syukuran atau ibadah. Pokon memiliki bentuk yang hampir sama
dengan lontong, yang membedakan adalah bahan, ukuran dan bungkusnya.
Makanan ini terbuat dari beras ketan biasaya ketan hitam yang dicampur
dengan kelapa parut lalu dibungkus dengan menggunakan daun bambu.
Pokon biasanya disajikan dengan kopi dan teh, hingga saat ini belum
ditemukan pokon yang dijual.

E.

UPACARA ADAT
Terdapat dua macam upacara yang besar yaitu Upacara Adat Rambu Tuka dan
Rambu Solo.
a. Upacara Rambu Tuka adalah acara syukuran, antara lain: acara pernikahan,
syukuran panen, dan peresmian rumah adat (Tongkonan) yang baru atau
selesai direnovasi. Pada acara tersebut hadir semua rumpun keluarga, dan
acara itu membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toaja sangat kuat. Semua
acara tersebut dikenal dengan nama Ma Bua, Meroek, atau Mangrara
Banua Sura. Rambu Tuka diiringi seni musik dan seni tari.
b. Upacara Rambu Solo adalah upacara kematian. Mewajibkan keluarga yang
ditinggal untuk menyelenggarakan Pesta, sebagai tanda penghormatan
kepada mendiang.
Pelaksanaan upacara Rambu Solo, terbagi dalam beberapa tingkatan yang
mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yaitu sebagai berikut:
Dipasang Bongi : Upacara yang dilaksanakan hanya dalam satu
malam
Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam;
dilaksanakan dirumah serta ada pemotongan hewan
Dipalimang Bongi : Upacara pemakaman yang berlangsung selama
lima malam; dilaksanakan di sekitar rumah serta ada pemotongan
hewan
Dipapitung Bongi : Upacara pemakaman yang berlangsung selama
tujuh malam, dan setiap harinya ada pemotongan hewan
Biasanya pada Upacara Tertinggi, dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu
sekurang-kuranya setahun. Upacara yang pertama disebut Aluk Pia, biasa
dilaksanakan di sekitar Tongkonan keluarga yang berduka. Upacara kedua
disebut Upacara Rante, biasanya dilaksanakan di sebuah lapagan khusus, karena
upacara ini menjadi puncak dari prosesi pemakaman.
Biasanya pada kegiatan semacam ini banyak dijumpai pada berbagai ritual adat,
antara lain: Matunda, Mebalun (membungkus jenazah), Maroto
(membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma
Popengkalo Alang (menurunkan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan), dan
yang terakhir adalah Ma Palao (mengusung jenazah ke tempat peristirahatannya
yang terakhir.

Tidak hanya ritual adat yang dapat dijumpai dalam Upacara Rambu Solo, tetapi
berbagai kegiatan budaya lainnya yang menarik dapat digelar, antara lain:
Mapasilaga Tedong (adu kerbau), tari-tarian yang berkaitan dengan ritus Rambu
Solo: Pa Badong, PaDondi, PaRanding, PaKatia, PaPapanggan, Passailo dan
Pa Pasilaga Tedong.
Matinggoro Tedong yaitu pemotong kerbau dengan ciri khas masyarakat Toraja,
yaitu memotong kerbau sekali tebas dengan parang. Biasanya kerbau yang akan
disembelih, ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.
Menjelang usainya upacara Rambu Solo keluarga mendiang mengucapkan
syukur kepada Sang Pencipta, yang sekaliguas sebagai tanda selesainya upacara
pemakaman Rambu Solo.
Semakin tinggi tingkat stratifikasi sosial seseorang/keluarga, upacara itu makin
berlangsung lama (bisa beberapa hari) dan tentunya banyak pula memotong
kerbau.
Dalam kepercayaan asli, kerbau dipercaya sebagai kendaraan arwah atau surga
(puya) Tak mengherankan apabila Upacara Rapasan Saputrandanan, yang
digelar oleh kelas bangsawan tinggi, bisa berlangsung paling sedikit tujuh hari,
bahkan bisa berbulan-bulan, dengan jumlah pemotongan kerbau paling sedikit
12 ekor.
Di Tana Toraja, cara pandang sosial terhadap penyelenggaraan suatu upacara,
bukan dinilai dari jumlah uang yang dikeluarkan, melainkan dari jumlah kerbau
yang dipotong. Di Bolu, Rantepao, harga seekor kerbau yang berumur 3-4 tahun
mencapai Rp.5 juta hingga Rp.l0 juta Namun di Tator ada kerbau yang khas,
yaitu kerbau belang (Tedong Bulen). Kerbau jenis ini harganya sangat mahal,
bisa mencapai ratusan juta rupiah per ekor.
Struktur sosial masyarakat dalam sistem agama leluhur, yang berkaitan dengan
ketentuan potong kerbau, seperti 6 ekor, 8 ekor, dan 12 ekor, menurut Nico B.
Pasaka, tokoh Toraja dan Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia, menegaskan
jumlah hewan yang dipotong bisa lebih banyak karena jumlah seperti di atas
dianggap tidak cukup, misalnya jumlah itu belum mencukupi jatah untuk tempat
ibadah atau jatah bagian pembangunan desa.
Cara menyelenggarakan upacara dan jumlah kerbau yang dipotong, juga tak
lepas dari nilai kelas sosial. Kesempurnaan upacara kematian serta status sosial
bagi yang hidup akan menentukan posisi arwah, apakah sebagai Bombo (arwah
gentayangan), Tinombali Puang (arwah yang mencapai tingkat dewa), atau
Deata (Dewa Pelindung). Seseorang bisa dianggap telah meninggal dunia, jika
telah dilaksanakan upacara kematiannya. Kalau kematiannya belum
diupacarakan, banyak yang mengatakan Bombo-nya gentayangan. Dalam
konteks itulah menjadi kewajiban bagi keluarga yang berduka untuk
melaksanakan upacara kematian bagi jenazah yang bersangkutan. Apabila
upacara itu tidak dilaksanakan, dapat menimbulkan rasa malu atau (hilangnya)
harga diri , yang disebut Siri Mate. Jenazah yang dikuburkan tanpa
mengurbankan paling sedikit seekor kerbau dan beberapa ekor babi, dinilai Siri.

Seseorang yang meninggal dunia yang tidak diupacarakan dengan memotong


hewan disebut Todibaa bongi, yaitu jenazah almarhum dikubur secara sembunyisembunyi pada malam hari.

MANDAR
BAB I
IDENTIFIKASI
A. Pengantar
Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di seluruh pulau
Sulawesi , yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara,

dan Sulawesi Tenggara, juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke
Malaysia. Pada sensus penduduk tahun 1980 didapati bahwa terdapat 300.000 orang
Mandar di Sulawesi Selatan, tetapi ini lebih menunjukkan jumlah penutur bahasa
Mandar pada tahun itu kabupaten Majene, dan Polewali Mamasa, karena penutur bahasa
Mandar diMamuju juga banyak, maka angkanya akan lebih dari 300.000 jiwa ditiga
kabupaten, Majene, Polewali Mamasa dan Mamuju pada waktu itu, karena sensus tahun
1980 menunjukkan jumlah penduduk Majene 120.830, Polewali Mamasa 360.384,
mamuju 99.796 sedangkan Ujung Pandang 709.000.
Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum
terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja
mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat
dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat
dengan sepupu-sepupu serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan
ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Babana Binanga) dan tujuh
kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi,
Sipamandar (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan
oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.
Pada akhir abad 16 atau awal abad 17 negeri negeri Mandar menyatukan diri
menjadi sebuah negeri yang lebih besar, yaitu tanah Mandar yang terdiri dari Pitu
Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga, Pitu Babana Binanga lah yang terkenal dengan
armada laut Mandar dalam perang Gowa-Bone diabad ke17.
Suku Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, 7 (tujuh) kerajaan (lebih mirip
republik konstitusional dimana pusat musyawarah ada di Mambi) hulu yang disebut
"Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu ba'bana binanga" dan 3
(tiga) kerajaan yang bergelar "Kakaruanna Tiparittiqna Uhai".
Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokohtokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC,Belanda
seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang,
Andi Depu, meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh Belanda.
Dari semangat suku Mandar yang disebut semangat "Assimandarang" sehingga pada
tahun 2004 wilayah Mandar menjadi salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu
provinsi Sulawesi Barat.

B. Sejarah
Sebelum terjadi pemekaran suku Mandar masuk dalam wilayah Sulawesi
Selatan bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja. Walaupun telah
mekar menjadi provinsi sendiri, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat
dengan sepupu-sepupu serumpunnya di Sulawesi Selatan.
Kata Mandar memiliki tiga arti yaitu :

1. Mandar berasal dari konsep Sipamandar yang berarti saling kuat


menguatkan; penyebutan itu dalam pengembangan berubah penyebutannya
menjadi Mandar.
2. Kata Mandar dalam penuturan orang Balanipa berarti sungai
3. Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam
perkembangan kemudian terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang
berarti tempat yang jarang penduduknya.
Selain itu, dalam buku dari H. Saharuddin, dijumpai keterangan tentang asal
kata Mandar yang berbeda. Menurut penulisnya, berdasarkan keterangan dari
A. Saiful Sinrang, kata Mandar berasal dari kata mandar yang berarti
Cahaya; sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandag
yang berarti Kuat; selain itu ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan
itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas
Kerajaan Balanipa (Saharuddin, 1985:3). Sungai itu kini lebih dikenal
dengan nama Sungai Balangnipa. Namun demikian tampak penulisnya
menyatakan dengan jelas bahwa hal itu hanya diperkirakan (digunakan kata
mungkin). Hal ini tentu mengarahkan perhatian kita pada adanya penyebutan
Teluk Mandar dimana bermuara Sungai Balangnipa, sehingga diperkirakan
kemungkinan dahulunya dikenal dengan penyebutan Sungai Mandar.
C. Geografi
Wilayah Suku Mandar terletak di ujung utara Sulawesi Selatan, tepatnya di
Sulawesi Selatan bagian barat dengan letak geografis antara 100-300 lintang
selatan dan antara 1180-1190 bujur timur. Luas wilayah Mandar adalah
23.539,40 km2, terurai dengan:
Luas Kabupaten Mamuju dan Mamuju Utara : 11.622,40 Km2
Luas Kabupaten Mameje : 1.932 Km2
Luas Kabupaten Polewali Mamasa : 9.985 Km2
D. Demografi
Masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah
dijalani selama berabad-abad lamanya. Salah satu contoh yang tetap bertahan
hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Masyarakat Mandar sangat
membedakan busana untuk anak-anak, remaja dan orang tua, begitu pula busana
rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda.
Aspek sosial dunia bahari khas Mandar dapat dijelaskan bagaimana ikatan
emosional antara punggawa posasi (nakhoda perahu) dengan sawi-nya (anakbuah perahu) sebagai mitra kerja, bukan sebagai tuan dan hamba. Peran
punggawa pottana (pemilik modal), pappalele (perantara penjual ikan), pande
lopi (pembuat perahu), sampai sando (dukun perahu), seperti temali yang tak
berputus.
Mereka menggunakan bahasa yang disebut dengan Bahasa Mandar. Beberapa
daerah di Mandar telah menggunakan bahasa:

a. Bahasa Bugis: di Polmas daerah Polewali


b. Bahasa Mamasa: di Mamasa
c. Bahasa Jawa: di Wonomulyo
E. Kepercayaan
Umumnya suku Mandar adalah penganut agama Islam yang setia, tetapi tidak
lepas dari kepercayaan seperti pemali, jimat, dan sesaji. Di daerah pedalaman di
Pitu Ulunna Salu sebelum Islam masuk, religinya adalah adat Mappurondo
berpegang Pemali Appa Randanna, seperti ritual Mappasoro (menghanyutkan
sesaji di sungai) atau Mattula bala (menyiapkan sesaji untuk menolak musibah)
dan lain sebagainya.
F. Mata Pencaharian
Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan
yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang),
kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan
kegaiban (paissangang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di
antaranya adaah rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq.
Selain itu, masyarakat mandar juga memiliki beberapa system teknologi, antara
lain:
a. Perahu
Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot., Perahu
ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada
musim ikan terbang bertelur (motangnga). Alat transportasi kelautannya tak
semuanya sama. Ada yang memakai sandeq ada yang makai baago perahu
Mandar yang tak bercadik.
b. Sarung Mandar
Pada umumnya sarung Mandar warnanya suram, seperti hitam, merah tua,
dan coklat tua.
c. Alat alat produksi, berupa:
1) Pertanian
9) Memasak
2) Mengolah sagu
10) Mendirikan rumah
3) Mengolah kopra
11) Menganyam
4) Berburu
12) Pertukangan
5) Perahu
13) Senjata: Gayang (keris), doe (tombak), badiq
(badik), jambia (belati), kanda wulo (parang
panjang), suppiq (sumpit), panah.
6) Beternak
14) Alat alat upacara
7) Menangkap Ikan
15) Alat alat transportasi.
8) Tenun
Karena letak geografis yang dekat dengan laut, hampir semua masyarakat
Mandar hidup sebagai nelayan.

BAB II
SISTEM KEKERABATAN, PERKAWINAN
DAN KEMASYARAKATAN
A. Kekerabatan
Suku Mandar, pada umumnya mengikuti kedua garis keturunan ayah dan ibu yaitu
bilateral. Suku Mandar biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang biasanya
bersekolah di daerah lain. Adapun keluarga luas di Mandar terkenal dengan istilah
Mesangana, kelurag luas yaitu famili-famili yang yang dekat an sudah jauh tetapi
masih ada hubungan keluarga.
B. Perkawinan
Untuk perkawinan di daerah Mandar secara umum, garis besarnya melalui 14
fase seperti:
1 Massulajing
Massulajing artinya mencalonkan dan mencocokkan antara dua orang yang
akan di persunting. Fase ini dilakukan oleh orang tua si lelaki berssama

2.

3.

4.

5.

keluarga terdekat. Ini bermakna saling menghargai antara keluarga dan


merupakan isyarat bahwa pengurusan dan seluruh tanggung jawab akan
menjadi tanggung jawab bersama.
Messisi atau Mammanumanu
Messisi adalah langkah permulaan yang berfungsi sebagai pembuka jalan
dalam rangka pendekatan pihak laki-laki terhadap pihak wanita. Tugas ini
biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang diambil dari orang-orang yang
kedudukannya dapat menengahi urusan ini. Artinya dia ada hubungan
keluarga dengan wanita dan juga ada hubungan kelurga dengan pihak pria.
Sifat kunjungan Messisi ini sangat rahasia. Sedapat mungkin pihal lain tidak
mengetahuinya.
Mettumae atau Maduta
Mettumae atau maduta ialah mengirim utusan untuk melamar, merupakan
proses lanjutan utuk lebih memastikan dan membuktikan hasil yang dicapai
pada fase mammanu-manu. Duta artinya utusan tediri dari bebrapa
pasangan suami istri yang biasanya dari keluarga dekat, pemuka adat dan
penghulu agama dengan berbusana secara adat.
Pada fase ini biasanya berlangsung ramai karena disini para utusan
berkesempatan menyampaikan maksudnya secara simbolik melalui puisi
atau kalindada mandar yang akan dibalas oleh pihak wanita.
Apabila jawaban terkhir dari pihak wanita menendakan bawa lamaran
diterima. Dengan demikian fase berikutnya yaitu: Mambottoi Sorong.
Mambottoi Sorong
Sorong atau mas kawin adalah sesuatu yang memiliki nilai moral dan
material yang mutlak ada dalam suatu perkawinan. Tanpa adanya mas kawin,
perkawianan dianggap tidak sah menurut aturan adat maupun menurut
syariat Islam.
Sedang menurut adapt istiadat suku Mandar, sorong adalah gambaran
harga diri dan martabat wanita yang ditetapkan menurut aturan adat yang
disahkan oleh hadat yang tidak boleh diganggu gugat atau ditawar-tawar
naik turunnya. Seorang ini adalah milik si wanita yang harus diangkat oleh si
pria menurut strata si wanita itu sediri.
Bila kegiatannya dilakukan dengan suku yang sama maka tidak akan ada
masalah. Kalaupun ada masalah penyelesaiannya mudah karena sama-sama
berpegang pada budaya dan aturan adat yang sama. Tetapi bila kegiatan itu,
masalnya perkawinan dilakukan oleh suku yang berlainan maka timbul
masalah tentang budaya dan aturan adat mana yang akan mendasari
perkawianan tesebut.
Membawa Paccanring
Membawa paccandring adalah pernyataan rasa gembira oleh pihak laki-laki
atas tercapainya kesepakatan tentang sorong dan besar belanja. Yang dibawa
dominan buah-buahan segala macam dan sebanyak mungkin. Menurut
kebiasaan, paccanring ini dibagi-bagikan kepada segenap keluarga dan
tetangga, dan pengantarnya harus dengana arak-arakan.

6. Malolang
Adalah perkunjuangan laki-laki bersama sahabat-sahabatnya kerumah
wanita. Ini merupakan pernyataan resminya pertunangan dan perkenalan
pertama laki-laki yang akan dikawinkan kepada segenap keluarga pihak
wanita.
Yang dilakukanya antara lain mengadakan permainan musik Gambus,
Kecapi dan lain-lain. Mengenai konsumsi dalam acara ini ditanggung
sepenuhnya oleh pihak laki-laki.
7. Mappadai Balaja
Artinya pihak laki-laki mengantar uang belanjaan yang telah disepakati
kepihak wanita dengan arak-arakan yang lebih ramai lagi. Ini dilakukan
sebelum mata gau dan diantar sesuai permintaan pihak wanita.
8. Mappasau
Dilakukan pada malam hari menjelang besoknya persandingan. Mappasau
artinya mandi uap, dimaksudkan agar semua bau busuk yang yang mungkin
ada pada mempelai wanita menjadi hilang.
9. Pallattigiang
Pallatiang dalam suku Mandar ada 3 yaitu pellattigiang secara adat,
pelattigiang adat oleh raja-raja, an pelattigiang secara pauli atau obat.
Pelaksanaan pelattigiang waktunya ada 2 macam : Bersamaan dengan hari
akad nikah atau sehari sebelum akad nikah.
Pelaksanaan pellattigiang secara adat harus berbusana lengkap dengan keris
di pinggang, khusus pellattiang pauli (obat), busana dan kelengkapan
lainnya bebas.
10. Mambawa Pappadupa
Adalah perkunjungan utusan pihak wanita ke rumah pihak laki-laki
membawa lomo masarri atau manyak wangi dan busana yang akan
dipakai pada saat akad nikah. Maksud utama dari padduppa ini adalah
pernyataan kesiapan dan kesedian calon mempelai wanita untuk dikawinkan.
Ini dilakukan pada malam hari, menuju esonya akan dinikahkan.
11. Matanna Gau
Merupakan puncak dari segenap acara yang ada dalam upacara perkawinan.
Pada bagian ini dilakukan arak-arakan yang lebih ramai ari sebelumnya
untuk mengantar calon mempelai pria kerumah calon mempelai wanita.
Ada dua hal pokok yang diantar, yaitu calon mempelai laki-laki dan mas
kawin. Mas kawin dipantangkan bepisah dari calon mempelai laki-laki
sebelum di serahkan pada wali mempelai wanita.
12. Nilipo
Merupakan kunjungan keluarga pihak mempelai pria keruamh mempelai
wanita. Ini dilakukan paling tidak 3 kali berturut-turut setiap malam sesudah
salat isya. Ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara
kelurga kedua belah pihak. Kesempatan ini pula diadakan acara
mappapangino yaitu mempelai laki-laki mencari, memburu dan menangkap
memoelai wanita.

13. Mando E Bunga


Artinya mandi bunga untuk menharumkan dan membersihkan diri dari hadas
besar yang mungkinterjadi sesudah akad nikah. Ini dilakukan bersama-sama
kedua mempelai dalam tempayan yang satu, untuk memasuki tahap
berikutnya.
14. Marola atau Nipemaliangngi
Marola artinya mengikut atau rujuk ialah perkunjungan kedua mempelai
kerumah mempelai pria. Kegiatan ini dilakukan hanya untuk bersenangsenang, bermain musik dan lain-lain. Kesempatan ini biasa orang tua pria
melakukan pemberian barang-barang berharga seperti tanah, perkebunan,
rumah dan sebagainya sebagai pernyataan syukur dan gembira terhadap
terlaksananya perkawinan tersebut.
D. Kemasyarakatan
Pelapisan masyarakat di daerah Mandar nampaknya masih ada walaupun tidak
menjadi hal yang mutlak dikedepankan lagi dalam pergaulan keseharian.Hal ini
dapat diperhatikan jika kita membaca sejarah Mandar.
Kerajaan-kerajaan yang masih mempunyai kedaulatan pada masa berkuasanya
raja-raja dahulu hakekatnya terbagi dalam dua stratifikasi,yaitu lapisan penguasa
dan lapisan yang dikuasai.Sistem mobilisasi social yang Mandar memiliki sifat
yang amat sederhana dan elastis dimana lapisan penguasa bukan hanya dari
golongan tomaradeka (orang biasa),apabila mereka mampu memperlihatkan
prestasisosialnya,misalnya : to panrita,to sugi,to barani,to sulasana,dan to
ajariang.
Kelima macam tersebut ditempatkan dalam lapisan elit (golongan atas orang
yang terpandang ).Dengan demikian terjadilah mobilisasi social horizontal bagi
anak puang.Lambat laun nampak pelapisan masyarakat ini makin tipis akibat
pembauran dalam bentuk perkawinan.Kelima golongan tadi juga memiliki andil
untuk dipilih sebagai pemimpin dalam masyarakat karena kelebihannya itu.
Struktur masyarakat di daerah Mandar pada dasarnya sama dengan susunan
masyarakat di seluruh daerah di Sulawesi Selatan,dimana susunan ini
berdasarkan penilaian daerah menurut ukuran makro yaitu : 1. Golongan
bangsawan raja, 2. Golongan bangsawan hadat atau pia, 3. Golongan tau
maradeka yakni orang biasa, 4. Golongan budak atau batua.
Golongan bangsawan adapt ini merupakan golongan yang paling bayak
jumlahnya.Mereka tidak boleh kawin dengan turunan bangsawan raja supaya
ada pemisahan.Raja hanya sebagai lambing sedangkan hadat memegang
kekuasaan.
Pada umumnya suku Mandar ramah-ramah yang muda menghormati yang
tua.Kalau orang tua berbicara dengan tamu,anak-anak tidak boleh ikut campur
(ikut bersuara).Ada beberapa hal yang menjadi kebiasaan dalam suku Mandar
seperti:
a. Mengalah yaitu kalau menghadap raja,kaki tangan dilipat.
b. Meminta permisi kalau mau lewat didepan orang dengan menyebut Tawe

c. Kalau bertamu sudah lama, mereka minta permisi yang disebut massimang.

BAB III
PRODUK BUDAYA
A. KESENIAN
1. Seni Sastra: Prosa dan Puisi
2. Seni Tari: Jenis tari tradisional: Sarwadang, Kumabaq, Cakkuriri, Palappaq,
Losa - losa, Sawawar, Sore, Dego.
Dewasa ini telah muncul tari kreasi baru seperti: Tari Tomassengaq, Tari
Pahlawan, Beruq-beruq to Kandemeng, Tari Layang-layang, Tenggatenggang Lopi, Parri-Parriqdiq, Toaja
3. Seni Vokal dan Instrumental; Seni vokal dapat dikenal melalui lagu-lagu
rakyat antara lain:
1) Ayngang Peondo
6) Ayangang Buraq Sendana
2) Ayangang Meqdaq
7) Ayangan Sayang-sayang
3) Ayangan Toloq
8) Ayangan Tomenjari Luyung
4) Ayangan
9) Andu-andu ruqdang, Kelloqmaq,
Gayueq, Kanjilo
5) Ayangang Nasauaq Dialangang
4. Seni Rias
5. Seni Rupa; diukir dengan motif huruf Arab, motif naga dan tumbuhtumbuhan, motif garis, daun, bunga, segi empat, lingkaran dan segi tiga.
B. RUMAH ADAT
Rumah adat Boyang

C. PAKAIAN ADAT
Pakaian Adat Sulawesi Barat Pakaian adat Sulawesi Barat khas Suku Mandar
bernama Busana Pattuqduq Towaine.
1 Pakaian Adat Wanita Sulawesi Barat
Pakaian adat Pattuqduq Towaine biasanya dikenakan wanita Mandar Sulawesi
Barat pada saat upacara pernikahan atau saat sedang menarikan tari tradisional
Patuqdu. Khusus untuk yang dikenakan pada saat pertunjukan tarian, busana ini
terdiri atas 18 aksesoris, sementara untuk busana pengantin terdiri dari 24
aksesoris. Kesemua aksesoris tersebut dapat digolongkan menjadi 5 bagian yaitu
pakaian utama, penghias kepala, perhiasan badan, dan perhiasan tangan.
a Pakaian Utama
Pakaian utama terdiri dari baju rawang boko (baju pokkoq) sebagai
atasan dan lipaq saqbe sebagai bawahan. Baju boko adalah semua baju
kurung sebatas lengan yang umumnya dibuat dari bahan kain berwarna
cerah. Sementara lipaq saqbe adalah sarung sutra khas mandar yang
dibuat menggunakan teknik tenun tradisional. Sarung lipaq saqbe dapat
dibuat dengan beragam motif, di antaranya sureq maraqdia (corak raja),
sureq pangulu (corak penghulu), sureq batu dadzima (corak biji
delima), sureq puang limboro (corak pappuangang limboro), sureq
puang lembang, dan lain lain. Selain sebagai penambah nilai estetika,
motif-motif sarung pada pakaian adat Sulawesi Barat ini dapat
berfungsi sebagai identitas sosial.
b Penghias Kepala
Untuk mempercantik penampilan rambut dan melengkapi keindahan
pakaian adat Sulawesi Barat yang dikenakan, para wanita Mandar
umumnya akan menambahkan beberapa hiasan di sanggulan
rambutnya. Hiasan tersebut terdiri atas bunga emas dan gal (bunga
melingkar yang digunakan sebagai bando). Dalam pemakaiannya, ada
aturan adat yang mengatur pemakaian hiasan ini berdasarkan status
sosial pemakainya.
c Perhiasan Badan
Selain menggunakan perhiasan bunga di kepala, ada pula beberapa
perhiasan badan lainnya yang dikenakan para wanita sebagai

pelengkap pakaian adat Sulawesi Barat khas suku Mandar yang


digunakan. Perhiasan badan tersebut antara lain kawari (perisai), tombi
diana (rantai uang logam), tombi sare-sare (hiasan kain segi empat
berwarna merah dan hijau), dali (anting) dan tombi tallu. Kawari
adalah perisai khas wanita Mandar yang biasanya dikenakan di sekitar
pinggul. Ada aturan tersendiri mengenai pemakaian kawari. Jika
dikenakan 4 buah maka yang memakainya berarti golongan
bangsawan, sementara jika dikenakan 2 buah yang memakainya berarti
golongan tau pia beasa (orang biasa).
d Perhiasan Tangan
Khusus untuk perhiasan lengan dan tangan, wanita Mandar mengenal
banyak ragam pernik. Berikut ini perlengkapan perhiasan tersebut.
Gallang Balleq adalah sepasang gelang berukuran 15 - 20 cm yang
dipakai dikedua tangan. Poto adalah gelang kecil yang dikenakan di
kedua lengan untuk mengapit gelang besar. Jima Salletto adalah gelang
lebar yang diikatkan pada bahu. Teppang adalah gelang yang diikatkan
di bawah Jima Salletto. Jima maborong adalah gelang pengganti Jima
Salletto yang khusus dikenakan oleh wanita golongan bangsawan.
Kaliki adalah ikat pinggang. Sima-simang adalah gelang yang
bulirannya berjumlah 8 berukuran sebesar kelereng. 2.
2. Pakaian Adat Laki-Laki Sulawesi Barat
Berbeda dengan pakaian adat wanita yang sangat rumit dengan banyak
kelengkapannya, pakaian adat laki-laki Sulawesi Barat khas Suku Mandar
terbilang begitu simpel. Pria mengenakan jas tertutup warna hitam yang
berlengan panjang. Atasan ini dipadukan dengan celana panjang dan kain sarung
yang dililitkan di pinggang sebagai bawahan. Simpelnya pakaian laki-laki ini
melambangkan bahwa laki-laki suku Mandar haruslah gesit dalam bekerja dan
bertindak

D. SENJATA
Senjata tradisional masyarakat Mandar berupa Gayang (keris), doe (tombak), badiq
(badik), jambia (belati), kanda wulo (parang panjang), suppiq (sumpit), panah.

E. KULINER
1. JEPA, makanan pokok suku Mandar. Jepa menggantikan nasi sebagai makanan
pokok kebanyakan orang Indonesia. Jepa berbentuk lempengan tipis bundar
berdiameter sekitar 20 sentimeter dengan tebal setengah sentimeter terhidang di
atas piring. Jepa adalah makanan khas suku Mandar, yang terbuat dari singkong.
2. Apang

Apang ditaburi parutan kelapa muda sehingga empuk di lidah. Cocok untuk disantap
bersama kopi di pagi hari. Kue ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional Sulawesi
Barat.
3. Paso
Di Mandar terdapat kue tradisional bernama Paso. Dalam bahasa Mandar, Paso berarti
paku. Disebut kue Paso karena ujungnya sama-sama lancip. Kue ini menjadi favorit
karena rasanya yang luar biasa. Kua Paso terbuat dari tepung beras, dicampur gula aren
cair, serta santan.

4. Kue Kui-Kui
Kui-kui terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa
muda. Sama seperti membuat buroncong, kue ini pun dituang ke dalam cetakan yang
lebih dulu dipanaskan dengan bara.

5. Tetu
Tetu yang biasanya jadi menu berbuka puasa ini disajikan dengan alas daun pandan
berbentuk persegi. Bahan utamanya adalah terigu yang dicampur dengan gula merah
dan gula pasir secukupnya.

F. UPACARA ADAT
Kalindaqdaq
Kalindaqdaq merupakan sebuah tradisi yang dilakukan orang Mandar berupa
penyampaian perumpamaan saat hendak menyampaikan keinginannya kepada
seseorang. Biasanya penyampaian itu berupa sindiran-sindiran yang bisa membuat
lawan bicara tertegun.
Kalindaqdaq juga terkadang bernuansa sebuah puisi, rayuan kepada wanita, dan
bahkan terkadang juga berisikan motivasi atau semangat kepada pejuang pada
masa perjuangan perebutan wilayah kekuasaan para raja di tanah Mandar.
Sayyang Pattu'du
Tradisi Sayyang Pattu'du atau "kuda menari" adalah tradisi syukuran terhadap
anak-anak yang berhasil mengkhatamkan Alquran sebanyak 30 juz. Syukuran itu
dilakukan dalam bentuk arakan keliling kampung dengan menggunakan seekor
kuda yang menari di bawah lantunan irama para pengiringnya.
Tradisi ini selain dipakai dalam rangkah khataman Alquran, juga bisa dijumpai
pada acara pernikahan (tokaweng). Masyarakat Mandar meyakini khataman
Alquran dan prosesi adat Sayyang Pattudu punya pertalian erat. Bahkan, tidak
sedikit orang Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat rela datang kembali
ke kampung halamannya demi mengikuti tradisi Sayyang Pattu'du.