Anda di halaman 1dari 8

Kornea

Anatomi
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan dengan kandungan air
sebesar 78%, berukuran 11- 12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks
refraksi 1,37. Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 42-43 dioptri dari total
57-62 kekuatan dioptri mata manusia. Meskipun avaskuler, kornea memiliki metabolisme
yang aktif. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus humor dan
oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai
oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas
ujung-ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan
konjungtiva. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 m, diameter horizontalnya
sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm.1,2 Permukaan anterior dan posterior kornea
berdekatan hampir sejajar di zona optik. Namun, jaringan permukaan tersebut mengalami
penebalan secara berkelanjutan, sehingga permukaan anterior dan posterior tidak menjadi
sejajar tetapi menyebar secara terpisah. Rata-rata radius kelengkungan permukaan kornea
anterior adalah 7,8 mm (berkisar 6,8 8,5 mm). Kelengkungan kornea berubah secara
bertahap menjadi datar hingga mencapai limbus.2
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pembiasan kornea, diantaranya adalah
kelengkungan permukaan anterior kornea, perubahan indeks refraktif dari udara menuju
kornea (lapisan air mata), ketebalan kornea, dan kelengkungan permukaan posterior kornea,
serta perubahan indeks refraksi dari kornea menuju aqueous humor.1

Gambar 1. Anatomi Mata

Histologi
Secara histologis, lapisan sel kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan epitel,
lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel. 1,2 Epitel kornea
merupakan salah satu jaringan penyembuhan yang tercepat dalam tubuh. Permukaan anterior
kornea ditutupi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan tanpa papil. Epitel kornea
memiliki fungsi untuk menghalau material asing, seperti debu, air, dan bakteri yang masuk ke
dalam mata serta lapisan kornea lainnya. Epitel kornea juga menyediakan permukaan yang
lembut untk menyerap oksigen dan nutrisi dari air mata untuk disalurkan ke seluruh kornea.
Di bawah epitel kornea terdapat membran limitans anterior (membran Bowman) yang
berasal dari stroma kornea (substansi propia). Stroma kornea menyusun 90% dari seluruh
lapisan kornea. Stroma kornea terdiri atas 78% air dan 16% berkas serat kolagen paralel yang
membentuk lamelar tipis dan lapisan-lapisan fibroblas gepeng dan bercabang. Permukaan
posterior kornea ditutupi epitel kuboid rendah dan epitel posterior yang juga merupakan
endotel kornea. Membran Descemet merupakan membran basal epitel kornea dan memiliki
resistensi yang tinggi, tipis tetapi lentur sekali. Endotel kornea merupakan lapisan yang
paling tipis dan paling dalam di kornea. Sel-sel endotel kornea sangat penting dalam menjaga
kornea agar tetap jernih dengan mempertahankan keseimbangan cairan dalam kornea.
Endotel kornea berfungsi menyalurkan air agar dapat memelihara hidrasi jaringan. Dalam
mata yang sehat, keseimbangan antara cairan yang masuk dalam kornea dan cairan yang
keluar dari kornea sangat penting, dan ini merupakan fungsi dari endotel kornea. Sekali
endotel kornea rusak oleh penyakit atau trauma, endotel kornea tidak dapat kembali seperti
semula.2
Persarafan
Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah limbus, humor aqueous, dan
air mata. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari cabang pertama (ophthalmichus) dan
nervus kranialis trigeminus. Saraf trigeminus ini memberikan sensitivitas tinggi terhadap
nyeri bila kornea disentuh. Saraf tersebut berjalan masuk ke dalam jaringan melalui sklera
melewati saraf siliaris posterior yang panjang. Pada saat saraf tersebut mencapai sentral
kornea, saraf-saraf tersebut bersifat lemah, seperti untaian rambut. Hal ini merupakan fitur
penting dalam kejernihan kornea.2

Gambar 2. Lapisan Kornea


Fisiologi
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler
dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan
oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau
fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan selsel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata
prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini
mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan
membantu mempertahankan keadaan dehidrasi. Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat
bifasik. Substansi larut-lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui
stroma yang utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air sekaligus.

Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam kornea.
Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan membran Bowman mudah
terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur.1,2
Amblyopia
Amblyopia adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada anak-anak, yang
mempengaruhi hingga 4% dari populasi umum.3 Secara khusus, mempengaruhi penglihatan
monokuler pada anak-anak sebesar 1,3% sampai 3,6%.4 Dari 625 juta anak di bawah usia 5
tahun di seluruh dunia, didapatkan lebih dari 15 juta anak mengalami amblyopia, dan lebih
dari setengah populasi tersebut tidak teridentifikasi hingga mencapai usia sekolah. Adapun
konsekuensi yang didapat akibat tidak mengidentifikasi dan mengobati amblyopia ialah
gangguan penglihatan permanen, kurangnya keterampilan motorik halus, dampak buruk pada
kinerja sekolah, interaksi sosial, dan citra diri. 4 Dalam penelitian lainnya, pada 250 anak
berusia kurang dari 3 tahun yang mengalami amblyopia didapatkan persentase sebesar 82%
berkaitan dengan strabismus, 5% berkaitan dengan asniometropia, dan 13% berkaitan dengan
keduanya.4
Secara klinis, amblyopia didefinisikan sebagai penurunan ketajaman visual disertai
dengan satu atau lebih faktor amblyogenik, seperti strabismus, anisometropia, kesalahan
refraksi yang tinggi, ataupun katarak.4 Selain itu, amblyopia juga diartikan sebagai gangguan
neurologis penglihatan yang diyakini berkaitan dengan abnormalitas binokuler. Gangguan
neurologis pada jalur visual ini akan menghasilkan berbagai defisit visual, misalnya;
mengurangi sensitivitas kontras pada frekuensi ruang yang tinggi dan menengah, mengurangi
ketajaman visual, gangguan sensitivitas dalam perubahan bentuk, dan kelainan dalam
pengolahan objek garis.5 Meskipun amblyopia dapat terjadi bilateral, namun, amblyopia
paling sering mempengaruhi hanya satu mata pada anak-anak yang mengalami strabismus,
anisometropia, atau keduanya. Teori lainnya mengatakan bahwa amblyopia menghasilkan
ketidaksesuaian bayangan yang dihasilkan antara masing-masing mata, satu mata memiliki
kualitas yang baik, sedangkan informasi dari mata lainnya ditekan. 4 Lokasi disfungsi yang
terjadi pada amblyopia terletak pada korteks visual dan sebagian besar pada neuron kortikal
yang berkaitan dengan fungsi binokuler.6 Amblyopia dapat diakibatkan oleh kesalahan
refraksi, strabismus, dan deprivasi.3
Amblyopia refraktif atau amblyopia isoametropik biasanya terjadi pada anak-anak
dengan hyperopia lebih besar dari 4,5 dioptri. Pada kebanyakan pasien dengan hyperopia,
akomodasi menyebabkan amblyopia strabismus, tetapi terkadang amblyopia refraktif dapat

berkembang sebagai akibat dari kegagalan untuk berakomodasi. Amblyopia jarang terjadi
pada pasien dengan myopia simetris, karena myopia simetris hanya menurunkan jarak kerja
untuk memfokuskan bayangan. Sedangkan, astigmatisme adalah yang paling mungkin
menyebabkan amblyopia ketika terjadi secara oblique. Selain itu, anisometropia juga dapat
menyebabkan amblyopia ketika satu mata mengalami buram secara kronis, karena akomodasi
yang dibutuhkan jauh lebih besar untuk mendapatkan fokus terbaik. Myopic anisometropia
umumnya kurang amblyogenik dibandingkan dengan hyperopic anisometropia, kecuali ketika
terjadi myopia unilateral tinggi yang mengenai serabut saraf mielin. Myopic anisometropia
dapat menyebabkan amblyopia pada perbedaan 2 dioptri antara kedua mata, hyperopic
anisometropia pada perbedaan 1 dioptri antara kedua mata, dan astigmatic anisometropia
pada perbedaan lebih dari 1,5 dioptri antara kedua mata. Kondisi mata (seperti hemangioma,
kalazion, dermoid, ptosis, dan katarak polaris anterior) dapat menyebabkan amblyopia
refraktif ketika mengganggu kelengkungan kornea atau struktur lensa yang menyebabkan
astigmatisme atau anisometropia.3
Amblyopia strabismus merupakan penyebab yang paling umum terjadi pada
amblyopia. Penekanan korteks yang terjadi dari mata yang mengalami deviasi, disebabkan
oleh adanya penghambatan interaksi neuron pembawa gambar, yang menyebabkan
kekacauan visual. Penekanan pada satu mata tersebut dapat mengakibatkan amblyopia, serta
hilangnya fungsi binokuler dan stereopsis, meskipun bayangan retina difokuskan di kedua
mata.3 Pasien dengan amblyopia strabismus atau anisometropia merupakan gabungan antara
berkurangnya penglihatan monokuler dan berkurangnya atau hilangnya fungsi binokuler.6
Amblyopia deprivasi dihasilkan dari oklusi pupil dan berkurangnya stimulasi gambar.
Hal ini dapat dilihat pada kekeruhan media, ptosis, atau terapi patching yang berlebihan pada
pengobatan amblyopia. Amblyopia deprivasi hanya terjadi pada 3% kasus, tetapi merupakan
yang paling potensial dalam menyebabkan severe amblyopia.3
Binokularitas7
Manusia dan beberapa spesies hewan memiliki binokularitas. Binokuler ini membuat
kedua mata dapat bekerja sama untuk menghasilkan peenglihatan yang lebih baik. Secara
sederhana, kita dapat melihat dunia dalam bentuk tiga dimensi. Binokularitas normal
menghasilkan fungsi tiga dimensi atau stereopsis yang baik dan nyaman. Stereopsis yang
sebenarnya adalah penglihatan tiga dimensi yang hanya dimiliki oleh seseorang dengan
binokularitas normal dan penglihatan normal. Perpaduan merupakan suatu tipe dari

binokularitas, yaitu dengan menggabungkan kedua gambar yang berasal dari masing-masing
mata dan akan menghasilkan satu gambar di otak. Stereopsis dihasilkan karena penglihatan
masing-masing mata memiliki persepsi yang berbeda berdasarkan posisi mata di kepala. Hal
ini dapat dilihat dengan membandingkan fokus mata kanan dan kiri secara bergantian pada
satu objek. Perbedaannya hampir tidak terlihat karena jarak kedua mata di kepala, tetapi
persepsi mata tetap berpadu karena persepsi kedua mata tersebut saling tumpang tindih.
Seseorang yang tidak memiliki fungsi binokuler sejak lahir, tidak benar-benar mengetahui
kekurangan penglihatan mereka karena kemampuan dalam memperkirakan jarak pandang
penglihatan dapat dilakukan tanpa stereopsis. Hal ini dikarenakan adanya petunjuk-petunjuk
visual yang saling tumpang tindih terhadap garis-garis sejajar yang membuat seseorang dapat
merasakan persepsi penglihatan yang dalam tanpa stereopsis. Dengan demikian, seseorang
dengan satu mata dapat mengetahui persepsi penglihatan yang dalam walaupun tidak
memiliki stereopsis yang sebenarnya.
LASIK (Laser in-situ Keratomileusis)
Teknik Lasik pertama kali dilakukan oleh ahli mata Jose Barraquer, sekitar tahun
1950 di klinik di Bogota, Kolombia. Pengembangan pertama yaitu microkeratome, digunakan
untuk memotong tipis flaps di kornea dan mengubah bentuknya, yang disebut keratomileusis.
Pada tahun 1968 di Northrup Corporation Pusat Riset dan Teknologi dari Universitas
California, Lal Mani Bhaumik dan sekelompok ilmuwan bekerja pada perkembangan laser
karbondioksida. Pekerjaan mereka berkembang menjadi Laser Excimer. Laser jenis ini akan
menjadi dasar untuk operasi refraktif pada mata. Dr Bhaumik mengumumkan hasil tersebut
bersama timnya pada bulan Mei 1973 di sebuah pertemuan di Denver Optical Society of
America di Denver, Colorado. Kemudian, Dr Bhaumik segera mempatenkan penemuan itu.
Pada tahun 1980, Srinivasan, bekerja di laboratorium penelitian IBM, menemukan bahwa
suatu Laser Excimer ultra ungu dapat hidup dalam jaringan yang tepat. Hal ini dinamakan
fenomena Ablative Photodecomposition (APD). Selain itu, Stephen Trokel juga menerbitkan
karya dalam American Journal of Ophthalmology pada tahun 1983 mengenai potensi dan
manfaat menggunakan laser Excimer pada bedah refraktif. Hak paten pertama untuk koreksi
kornea menggunakan laser Excimer diberikan kepada Dr. Steven Trokel.
Sedangkan, hak paten pertama untuk Lasik diberikan oleh US Patent Office kepada
Dr Gholam A. Peyman pada 20 Juni 1989, US Patent 4840175, yang meliputi prosedur
operasi dimana sebuah flap dipotong pada kornea dan diambil kembali. Permukaan yang
terkena kemudian dimanipulasi sesuai bentuk yang dikehendaki dengan laser Excimer.

Lasik menggunakan mikrokeratome untuk membentuk pendataran kornea merupakan


prosedur bedah refraktif yang diketahui secara umum. Walaupun Lasik memiliki angka
keberhasilan yang tinggi, namun persentase komplikasi, seperti kehilangan penglihatan,
masih dapat terjadi. Komplikasi-komplikasi yang terjadi ini berhubungan dengan adanya
malfungsi mikrokeratome. Kemampuan mikrokeratome yang beragam dalam mempengaruhi
ketebalan, lokasi, dan sudut yang dipotong dari kornea dapat meningkatkan keamanan yang
lebih baik. Mengganti teknik mikrokeratome, yang menjadi penyebab komplikasi Lasik,
dengan teknik laser berbasis komputer menghasilkan manfaat yang lebih signifikan.8
Pada proses Lasik, lentikuler stroma kornea dibentuk oleh mikrokeratome, lentikuler
tersebut dibentuk selama proses ablasi dan direposisi pada akhir prosedur. Sedangkan, pada
PRK, epitel yang berada dalam zona ablasi sudah dikeluarkan sebelum terjadinya proses
ablasi. Jika proses pengeluaran epitel tersebut menggunakan pisau, maka harus dikerjakan
secara perlahan agar tidak mengenai lapisan Bowman. Proses pengeluaran epitel tersebut
harus dilakukan untuk mengurangi komplikasi astigmatisme ireguler dan penurunan
ketajaman penglihatan setelah tindakan bedah refraktif. Pada akhirnya, laser excimer itu
sendiri dapat digunakan untuk mengikis epitel sesaat sebelum terjadinya proses ablasi
refraksi.9 Tindakan Lasik berbeda secara signifikan dengan prosedur bedah refraktif lainnya
karena flap stroma yang dibentuk dan direposisi lebih tipis. Flap ini memiliki ketebalan 120160 m.9
Sebelum tindakan Lasik, pasien harus melepaskan lensa kontak selama minimal satu
minggu, dan lensa kontak rigid selama minimal tiga minggu untuk mendapat akurasi yang
lebih tinggi. Selain itu, corneal pachymetry, toography, dan pengukuran gelombang harus
dilakukan sebelum prosedur dimulai. Riwayat penggunaan obat-obatan pada pasien juga
harus ditanyakan. Penggunaan asam retinoid, seperti isotretoin harus dihentikan karena
memiliki efek penyembuhan yang buruk. Selain itu, amiodaron juga merupakan
kontraindikasi pada tindakan laser mata. Pemeriksaan oftalmologi lengkap, seperti
manifestasi dan refraksi siklopegik, ukuran pupil, dan pemeriksaan kornea harus dilakukan
sebelum prosedur.9
Setelah tindakan Lasik selesai dilakukan, biasanya penglihatan pasien akan menjadi
buram. Penilaian terhadap pendataran kornea, adanya debris, dan striae dapat dilakukan
dengan slit lamp atau macrofolds. Striae yang berada di mid-perifer flap dapat dikeluarkan
dengan spons yang dibasahi dimulai dari tepi pusat striae sampai ke tepi flap menggunakan
slit lamp. Selain itu, debris yang berada dekat dengan tepi permukaan flap juga dapat
dikeluarkan menggunakan slit lamp. Instruksi post-operatif Lasik ialah pasien harus
menggunakan kacamata pelindung dengan waktu yang bervariasi sekitar 1 sampai 7 hari.

Beberapa ahli mengatakan bahwa kacamata pelindung tersebut hanya dibutuhkan saat malam
hari dan pasien harus diingatkan untuk tidak menggesek mata sembarangan. Selanjutnya
pasie juga diberikan prednisolon 1% dan florokuinolon topikal yang digunakan selama satu
minggu.10 Pada pasien dengan myopia tinggi atau setelah pembedahan kornea, mitomycin C
(MMC) 0,02% dapat digunakan untuk membantu mencegah komplikasi buramnya kornea. 9
Mata berair dan mengalami iritasi umumnya tidak terjadi dalam 2 hari pertama setelah
tindakan operatif. Pasien diperiksa secara teratur pada hari pertama, minggu pertama, satu
bulan kemudian, tiga bulan kemudian, enam bulan kemudian hingga 1 tahun kemudian.10

1. Rajendra AU, Eddie YK, Jasjit SS. Image Modeling of the Human Eye. Norwood:
Artech Hous Inc.2008.h.1-5.
2. Al Lens, Sheila CN, Janice KL. Ocular Anatomy and Physiology. Edisi ke-2. USA:
Slack Incorporated.2008.h.56-9.
3. Carolyn WU, David GH. Amblyopia: Diagnostic and Therapeutic Options. Am J
Ophthalmology.Elsevier Inc.2006.
4. Eileen EB. Amblyopia and Binocular Vision. Progress in Retinal and Eye Research.
Elsevier Inc.2012.
5. Brendan TB, Arthur B, T Rowan C. The Relationship between Anisometropia and
Amblyopia. Progress in Retinal and Eye Research. Elsevier Inc.2013.
6. Robert FH, Benjamin T. New Insight into Amblyopia: Binocular Therapy and
Noninvasive Brain Stimulation. Journal of AAPOS. American Association for
Pediatric Ophthalmology and Strabismus.2013.
7. Virginia CK. A Systematic Approach to Strabismus. Edisi ke-2. USA: Slack
Incorporated.2009.p.60.
8. Sunita A, Athiya A, Amar A. Dr Agarwals Step by Step Lasik Surgery. New Delhi:
Jaypee Brothers Medical Publishers.2005.p.74.
9. Robert AC, Natalie AA. Copeland and Afsharis Principles and Practice of Cornea.
New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers.2013.p.1280-3.
10. Robert SF. The Lasik Handbook A case Based Approach. Edisi ke-2. Chicago:
Lippincott Williams and Wilkins, a Wolters Kluwer business.2013.