Anda di halaman 1dari 11

CEKUNGAN TARAKAN

2.5 Sistem Petroleum Cekungan Tarakan


Dari Gambar 2.4 bawah ini akan dijelaskan komponen petroleoum
system pada cekungan Tarakan: 1. Source Rock Formasi yang berpotensi
sebagai

source

rock

adalah

Formasi

Sembakung,

Meliat,

dan

Tabul

(Sasongko, 2006). Formasi Meliat juga memiliki batuan yang mengandung


material organik yang cukup dengan sebagian formasi temperaturnya cukup
tinggi, sehingga mampu mematangkan hidrokarbon. Batuan Formasi Tabul
merupakan source rock terbaik karena memiliki material organik tinggi dan
HI lebih dari 300, sehingga hidrokarbon telah matang. Ketebalan formasi ini
mencapai 1700 m, sehingga mampu menyediakan hidrokarbon yang
melimpah. Menurut L.J. Polito (1978, dalam Indonesia Basins Summaries
2006), batuan penghasil hidrokarbon di Cekungan Tarakan melampar di
Formasi Tabul, Meliat, Santul, Tarakan dan Naintupo. Wight et al (1992, dalam
Indonesia Basins Summaries 2006) juga memberikan argumen bahwa source
rock berasal dari fasies fluvio-lacustrine. Samuel (1980, dalam Indonesia
Basins Summaries 2006) menyebutkan bahwa dari kematangan termal dan
geokimia, hanya gas yang bisa didapatkan di Formasi Tabul, Santul dan
Tarakan. Migrasi bekerja pada blok-blok yang terbentuk Mio-pliocene.
2. Reservoir
Karakteristik

batuan

yang

terdapat

pada

Formasi

Sembakung,

Meliat/Latih, Tabul, dan Tarakan/Sanjau menunjukkan potensial sebagai


reservoir. Batuan mempunyai kastika kasar dengan geometri sedimen deltaik
yang penyebarannya terbatas. Berdasarkan Indonesia Basins Summaries
(2006), Formasi Meliat, Tabul, Santul, dan Tarakan merupakan seri delta
dengan batupasir berbentuk channel dan bar. Formasi Meliat berisi batupasir
dan shale dengan lapisan tipis batubara. Kualitas reservoir yang ada
termasuk sedang-bagus dengan pelamparan yang cukup luas. Formasi Tabul
berisi batupasir, batulanau, shale dengan lapisan tipis batubara. Tebal
formasi mencapai 400-1500 m dan menebal ke arah timur. Formasi Santul
merupakan fasies delta plain sampai delta front proksimal. Formasi ini

didominasi oleh batupasir dan shale dengan lapisan tipis batubara. Batupasir
mempunyai ketebalan 40-60 m. Pada beberapa titik, ada channel batupasir
yang tebalnya mencapai 115 m. Formasi Tarakan yang berumur Pliosen
merupakan seri delta dengan dominasi litologi berupa pasir, lempung, dan
batubara yang menunjukkan fasies delta plain hingga fluviatil.
3. Seal Rock
Batuan yang menjadi seal atau tudung adalah batuan penyusun
Formasi Sembakung, Mangkabua, dan Birang yang merupakan batuan
sedimen klastik dengan ukuran butir halus. Formasi Meliat/Latih, Tabul dan
Tarakan tersusun oleh batulempung hasil endapan delta intraformational
yang berfungsi pula sebagai batuan tidung
4. Traps
Sistem perangkap hidrokarbon yang terdapat di Cekungan Tarakan
adalah perangkap stratigrafi karena adanya asosiasi litologi batuan sedimen
halus dengan lingkungan pengendapannya delta. Namun pada umur PlioPleistosen, terjadi tektonik yang memungkinkan terbentuknya struktur
geologi dan dapat terjadi perangkap hidrokarbon yang berhubungan dengan
syngenetic fault dan struktur antiklin.
5. Migrasi
Model migrasi yang terjadi di Cekungan Tarakan disebabkan oleh sesar
normal dan sesar naik serta perbedaan elevasi. Samuel (1980, dalam
Indonesia Basins Summaries 2006) menyebutkan bahwa migrasi hidrokarbon
bekerja pada blokblok yang terbentuk Mio-Pliosen. Hal itu juga didukung
dengan waktu yang tepat proses pematangan hidrokarbon pada Miosen
Akhir dari Formasi Tabul dan Tarakan akibat intrusi batuan beku. Pematangan
hidrokarbon terjadi pada kedalaman 4300 m.
CEKUNGAN BARITO
PETROLEUM SYSTEM

Pada area Tanjung raya hidrokarbon terbentuk dari source rock lower Tanjung
dan lower Warukin. Hidrokarbon terjebak pada struktural trap yang
mengandung lower Tanjung dan Upper Warukin sand.
Source Rock
Tahap pertama, Sedimen diendapkan di graben paleogen berupa alluvial
channel dan fan mengalami progradasi hingga ke lingkungan lacustrine.
Sejumlah lapisan tipis batubara diduga diendapkan sepanjang tepi danau.
Lingkung

lacustrine

dalam

terbentuk

pada

bagian

sumbu

graben.

Lingkungan ini menghasilkan lingkungan reduksi yang baik bagi akumulasi


algae. Lapisan source rock berupa Lacustrine alga dapat membentuk prolific
oil.
Carbonaceous clay/ shale dan lapisan tebal batubara lebih dari 10 meter di
temukan sedimentasi tahap 2. Kebnyakan hidrokarbon di Tanjung raya field
diduga terbentuk dari tahap 2 ini.
Maturasi
Dari analisismaturasi Lower Tanjung source rock diketahui :
Pada bagian baratlaut matursi hidrokarbonnya immature early mature, dan
pada

bagian

tengahnya

mature,

sedangkan

dibagian

tenggaranya

maturasinya overmature ( bagian paling dalam basin ini).


Reservoar
Reservoar utama berupa synrift sand tahap 1, post rift sag fill tahap 2 dan 3.
batu pasir synrift pada tahap 1 ( disebut batupasir A dan B atau Z 1015 dan
Z 950 ) diendapkan dilingkungan alluvial fan dan lingkungan delta front
lacustrine. Memiliki ketebalan 30 50 meter.
Batupasir pada tahap 2 ( batupasir c dan d atau Z.860 dan Z.825 ) mewakili
batupair alluvial fan. Reservoar properties pada batupasir Z.860 ini lebih baik
di bandingkan batupasir pada formasi Lower Tanjung, Batupasir ini memiliki
sorting yang bagus dan mineralogy maturity yang bagus, ketbalan 25 30

meter, dengan nilai porisitas dan permeabilitas rata-rata yang bagus. Tidak
seperti Z.860, batupasir Z.825 tipis dan diskontinyu ( melensa ) dengan
ketebalan 3 5 meter.
Tahap 3 reservoarnya terdiri dari Batupasir e ( Z.710 dan Z. 670 ).
Batupasir-E di endapakn pada pantai/ barrier bar pada lingkungan garis
pantau yang terus mengalami regresi.Ketebalan maksimum dari batupasir- E
ini 30 meter.

SEALING ROCK.
Pase postrifting dari transgresi regional/ subsidence setelah pengendapan
dari sag-fill sedimen menghasilikan shallow marine mudstone pada tahao 4
formasi Upper Tanjung. Batuan mudstone marine ini menyediakan sealing
yang efektif bagi reservoir Lower Tanjung. Tersusun atas 800 meter dengan
dominasi neritic shale dan silty shale.
TRAPPING MECHANISM
Hydrocarbon

terbentuk,

bermigrasi

dari

Lower-middle

tanjung

coals,

carbonaceous shales, dan lower warukin carbonaceous shales. Kitchen


utama terletak pada depocentre basin sekarang.

Sealing rocks dihasilkan dari intra-formational shales. Generation, migration,


dan pemerangkapan hydrocarbon terjadi sejak middle early miocene (20
Ma). Barito basin merupakan contoh dari efek interaksi tektonik terhadap
tempat pembentukan hydrocarbon (petroleum system).
Extensional tectonics pada early tertiary membentuk rifted basin, dan
grabennya

diisi oleh lacustrine tanjung shales dan coals. Lingkungan

lacustrine inilah yang akan membentuk tanjung source rocks. Karena


subsidence yang terus berlangsung dan rifted structure makin turun, shale
diendapkan semakin melebar, dan akan membentuk seal untuk reservoir
yang ada dibawahnya. Kondisi ini juga yang menyebabkan penyebaran
pengendapan reservoir rocks. Extensional faults merupakan media untuk
migrasinya hydrocarbon yang terbentuk dibagian terbawah dari graben.
Selama late miocene, basin mengalami permbalikan akibat naiknya Meratus,
membentuk asymmetric basin, Barito basin mengalami dipping kearah NW
dan makin ke SE semakin curam. Akibatnya bagian tengah dari mengalami
subsidence,

sehingga

tanjung

source

rocks

semakin

terkubur,

dan

menghasilkan kedalaman yang cukup bagi source rock untuk menjadi


hydrocarbon.
Hydrocarbon mengisi jebakan melalui patahan dan melalui permeable sands.
Pada awal Pliocene, Tanjung source rocks kehabisan liquid hydrocarbon,
sehingga membentuk gas dan bermigrasi mengisi jebakan yang telah ada.
Lower Warukin shales pada depocentre basin mencapai kedalaman dari oil
window selama plio-pleistocene. Minyak terbentuk dan bermigrasi ke
structural traps dibawah warukin sand

CEKUNGAN KUTAI
Batuan Induk
Menurut Stevano eet.al (2001) daerah Mahakam memiliki tiga jenis
batuan yang dapat menjadi batuan induk antara lain : batubara, lempung
organik dan marine mudstone. Batubara dan lempung organik dapat

berasosiasi dengan lingkungan pengendapan dari fluvial deltai-plain sampai


delta-front,

sedangkan

marine

mudstone

berasosiasi

dengan

dengan

lingkungan dari distal deltafront sampai abyssal plane.


Persentase batubara yang hadir pada Delta Mahakam lebih besar dari
pada lempung organik dan marine mudstone, hal ini sesuai dengan jumlah
akomodasi sedimen gambut yang besar dan Delta Mahakam secara
geografis berada pada daerah equatorial. Lempung organik yang diendapkan
pada lingkungan delta-plain hingga deltafront memiliki material organik yang
berasal dari transportasi sisa-sisa tumbuhan yang berupa debris.
Menurut Peterson and al., 1997, pada Lower Kutai Basin terdapat dua
tipe batubara yang teridentifikasi yaitu tipe lipnitic (lebih cenderung minyak)
dan tipe vitrinic (lebih cenderung gas) . nilai persentase batubara yang relatif
tinggi yang terdapat pada lower kutai basin salah satunya dipengaruhi oleh
jumlah akomodasi sedimen yang cukup besar dan letak geografis dari delta
mahakam yang berada disekitar garis khatulistiwa. Batubara ini memiliki
nilai Total Organic Carbon (TOC) sekitar 65 % , nilai Genetic Potential (GP)
sebesar 175 mg/g dan Hydrogen Indices (HI) lebih besar dari 250. dilihat dari
data di atas, jenis hidrokarbon yang terbentuk pada Lower Kutai Basin
mayoritas adalah minyak.
Migrasi Hidrokarbon
Pada Cekungan Kutai migrasi hidrokarbon yang dominan adalah secara
lateral, tanpa kontrol yang kuat dari pengangkutan regional. Batuan induk
yang berada di lingkungan Delta disalurkan secara efisien dari chanel-chanel
batupasir yang menerus dan beberapa mouth bar. Ketidakmenerusan antara
delta-front

bar

dan

distributary

channel

juga

terjadi

pada

migrasi

hidrokarbon dengan jarak yang relatif luas. Sedangkan pada batupasir yang
terisolasi, hidrokarbon akan terperangkap secara stratigrafi. Stevano Mora
dkk (2001) menulis tentang migrasi hidrokarbon di daerah Semberah
Cekungan Kutai. Kesimpulannya adalah bahwa zona generasi minyak (Ro =

0.6), minyak telah tercapai di bawah kedalaman 700 m. Minyak di sekitar


struktur yang ada pada daerah telitian berasal dari batuan sumber yang ada
di sekitar reservoir dan tepatnya pada bagian sayap-sayap antiklin yang
bermigrasi ke puncak.
Reservoar
Akumulasi minyak dan gas bumi yang terdapat di daerah Mahakam
umumnya ditemukan pada reservoar yang berumur Miosen Tengah sampai
Miosen Akhir, reservoar karbonat tidak terlalu banyak yang mengandung
cadangan hidrokarbon bernilai ekonomis dan secara signifikan akumulasi
hidrokarbon juga dapat ditemukan pada endapan turbidit. Pada lapangan
minyak yang berada di darat (onshore) reservoir pada umumnya terdiri dari
sedimen-sedimen fluvial dan Distributary Channel, dimana jarak distribusi
antara tubuh batupasir dan jumlah akomodasi sedimen sangat mengontrol
konektivitas dari reservoar-reservoar tersebut. Reservoar pada daerah
telitian terdapat pada Formasi Mentawir

Kelompok Balikpapan. Reservoar

pada

(inner

bagian

sedimensedimen

dalam
lower

lepas

pantai

delta-plain

dan

offsshore)

sedimen-sedimen

terdiri

dari

delta-front.

Sedimen-sedimen distributary channel juga hadir dengan dimensi yang sama


dengan reservoar darat, tetapi lebih jarang muncul. Reservoar pada deltafront terdiri dari sedimen-sedimen mouth bar. Reservoar pada daerah lepas
pantai hingga laut dalam biasanya terdiri dari endapan-endapan turbidit
batupasir lempungan.
Perangkap dan Lapisan Penutup
Lapangan-lapangan minyak dan gas yang berada di Delta Mahakam
memiliki perangkap struktur dan stratigrafi. Reservoar-reservoar yang
berupa endapan fluvial, distributary channel dan mouth bar biasanya
terdapat di bagian sayap dari antiklin, dan dapat juga muncul sebagai

perangkap campuran antara struktur dan stratigrafi. Komponen-komponen


stratigrafi muncul di bagian utara dan selatan Sungai Mahakam modern,
dimana paleo-channelnya miring terhadap sumbu struktur. Lapisan penutup
yang berada di Delta Mahakam umumnya berupa batulempung (Shale),
sedangkan di bagian laut dalam umunya didominasi oleh sejumlah besar
mudstone.

Petroleum System Cekungan NatunaBarat


1. Source Rock
Benua/Lama shale, Keras danFormasi Barat dikenal sebagai source
rock yang baik. Kebanyakan dariFormasi tersebut dikelompokkankedalam
tipe I Kerogen dari lacustrineshale. Oil window terbentuk padakedalaman
7000 ft.
2. Reservoir Rock Lower
Gabus Sandstones ketebalan 15-350 ft dengan porositas 10-27%,
Upper Gabus Sandstones merupakan reservoir utama darikebanyakan
lapangan di West Natuna Basin yang diendapkan pada distributaries channel,
channel bars, dan crevasse splay, Lower Arang jugamenjadi reservoir yang
penting dengan porositas sangat baik antara 26%-32%yang ditemui di
Lapangan Belida, Belut,dan Kakap, Middle Arang Sandstone mempunyai
porositas hingga 32%.
3. Seal Rock
Barat shale merupakan effective regional seal rock untuk Lower
Gabus Sandstone. Ketebalan yang besar terbentuk pada bagian tengah dari
basindan menerus hingga Malay Basin hinggake barat (hingga 1000 ft).
Penyebaranyang luas dari Arang shale jugamenyediakan effective regional
seal rock untuk Lower Arang Sandston.
4. Trapping

Perangkap antiklin merupakan perangkap favorit dikarenakan


regimetectonic inversion. Perangkap Stratigrafiditemukan di lapangan Belida
sebagai crevasse splay dan stratigraphic pinch-out. Kombinasi dari
perangkap struktur dan stratigrafi juga ditemukan pada sesar normal di
sepanjang bagian selatan dari basin