Anda di halaman 1dari 49

Jurusan Kesehatan

Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan teknologi merupakan salah satu upaya untuk melakukan
perbaikan atau modifikasi dari berbagai proses yang saat ini sedang
berjalan. Indonesia sedang membangun sektor industri dan juga
sedang berbenah diri dalam menghadapi era perdagangan bebas 2020
dengan semua dampaknya pada semua segi kehidupan kita.
Adanya berbagai resiko serta faktor bahaya ditempat kerja adalah
keadaan yang tidak mungkin dihindari. Artinya tidak ada kondisi tempat
kerja yang tidak mempunyai resiko (zero risk). Timbulnya kecelakaan
kerja serta penyakit akibat kerja dapat merugikan perusahaan baik
kerugian material secara langsung maupun menurunnya moral daripada
pekerja secara tidak lansung. Selanjutnya kondisi seperti ini dapat
menurunkan timbulnya berbagai hal yang dapat menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja maka diperlukan penerapan
praktek-praktek manajemen dengan penekanan berbagai resiko yang
dihadapi dalam tempat kerja. Namun dilain pihak, dengan meningkatnya
perkembangan di sektor industri yang ditandai dengan munculnya proses
baru, bahan baku, produk industri baru dan sebagainya telah membawa
dampak meningkatnya risiko bahaya kebakaran.
Dalam hal ini sistem tanggap darurat merupakan suatu sistem untuk
mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal hal yang tidak diinginkan yang
dapat menimbulkan kerugian fisik maupun material. Oleh karena itu peran
dari emergency response plan sangat penting menggingat banyaknya
kejadian kebakaran yang berakibat fatal dikarenakan belum adanya
penerapan emergency response plan di tempat tersebut.
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
PT. Indonesia Power UP Mrica Banjarnegara mrupaka unit bisnis yang
memanfaatkan air waduk P.B Soedirman menjadi tenaga pembangkit listrik.
Keberadaan pembangkit Mrica sendiri dapat menimbulkan dampak
lingkungan dan Keselamatan dan kesehatan kerja khususnya dalam
penanganan penanggulangan kebakaran. Oleh karena itu penulis ingin
mengetahui program kesehatan lingkungan serta kesehatan dan
keselamatan kerja di PT. Indonesia Power UP Mrica Banjarnegara.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan dan Program
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Indonesia Power UP Mrica
Banjarnegara
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran umum PT. Indonesia Power UP Mrica
b. Untuk mengetahui gambaran umum program kesehatan lingkungan di
PT. Indonesia Power UP Mrica.
c. Untuk mengetahui sarana dan sistem pemadam kebakaran yang
tersedia di PT. Indonesia Power UP Mrica.
d. Untuk mengetahui prosedur tanggap darurat kebakaran di PT.
Indonesia Power UP Mrica.
e. Untuk mengetahui prosedur evakuasi di PT. Indonesia Power UP
Mrica.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Keadaan Darurat Kebakaran
Menurut Departemen Tenaga kerja (2003) Keadaan Darurat merupakan
situasi atau kejadian yang tidak normal yang terjadi tiba-tiba dan dapat
menggangu kegiatan komunitas dan perlu segera ditanggulangi. Adapun
penyebab darurat tersebut antaa lain :
1. Bencana alam (natural disaster) seperti banjir, kekeringan, angin topan,
gempa dan petir.

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 2
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
2. Kegagalan teknis, pemadaman listrik, kebocoran nuklir, peristiwa
kebakaran atau ledakan dan kecelakaan lalu lintas.
3. Huru hara seperti perang, kerusuhan.

B. Kategori Keadaan Darurat

Keadaan darurat dapat dibagi menjadi tiga kategori (Departeement Tenaga


Kerja)
1. Keadaan darurat tingkat I ( Tier I)
Keadaan darurat tingkat I adalah keadaan darurat yang berpotensi
mengancam jiwa manusia dan harta benda (asset) yang secara normal
dapat diatasi oleh personil jaga dari suatu instansi atau pabrik dengan
menggunakan prosedur yang telah dipersiapkan tanpa perlu adanya regu
bantuan yang dikonsiyalir.
Keadaan darurat tipe ini termasuk dalam kategori
kecelakaan kecil yang menempati suatu daerah tunggal (satu sumber
saja), kerusakan asset dan luka korban terbatas, dan penangganan
cukup dilakukan oleh petugas yang ada di perusahaan. Akan tetapi,
pada tipe ini kemungkinan timbulnya bahaya yanglebih besar dapat
terjadi. Untuk itu, program pelatihan yang bermutu, konsisten, dan
teratur sangat diperlukan untuk mencegah bahaya yang lebih besar.
2. Keadaan Darurat Tingkat II (Tier II)
Keadaan tingkat II ialah suatu kecelakaan besar dimana semua
karyawan yang bertugas dibantu dengan peralatan dan material
yang tersedia di instansi perusahaan tersebut tidak lagi mampu
mengendalikan keadaan darurat seperti, kebakaran besar, ledakan
dahsyat, kebocoran bahan B3, semburan minyak atau gas, dll, yang
mengancam nyawa manusia, lingkungan, dan masyarakat
sekitarnya.
Keadaan darurat kategori ini adalah suatu kecelakaan atau bencana
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 3
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

besar yang mempunyai konsekuensi antara lain, sebagai berikut:


a. Terjadi beberapa korban manusia,
b. Meliputi
beberapa unit atau beberapa peralatan besar yang
dapat melumpuhkan kerugian instalasi atau pabrik
c. Dapat merusak harta benda pihal lalin di daerah setempat
3. Keadaan Darurat Tingkat III (Tier III)
Keadaan darurat tingkat III adalah keadaan darurat berupa
malapetaka atau bencana dahsyat dengan akibat lebih besar
dibandingkan dengan Tier II dan memerlukan bantuan, koordinasi pada
tingkat nasional.
C. Pengertian Kebakaran

Kebakaran didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tidak


diinginkan dan kadangkala tidak dapat dikendalikan, sebagai akibat atau
hasil pembakaran suatu bahan dalam udara dan mengeluarkan energy panas
(nyala).
Kebakaran adalah suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian
berypa harta benda, manusia dan juga kerugian lingkungan, kesemua itu dapat
membuta terganggunya proses produksi yang dilakukan manusia.
Pada dasarnya kebakaran adalah api yang tidak terkendalikan, jadi
walaupun api sebesar apapun tetapi dapat terkendali tidak dinamkan
kebakaran.
D. Unsur- Unsur Api
1. Bahan bakar atau material
Bahan bakar dibedakan menjadi 3 yaitu :
a. Benda Padat
Zat padat yang mudah terbakar dalam industri adalah
belerang(sulfur), fosfor, kertas/rayon, hidrida logam, arang, kayu,
kertas, karet, plastik, kapas dan sebagainya.
b. Benda Cair
Kelompok ini adalah yang paling banyak ditemui dalam
industri yang dikenal sebagai pelarut organik. Contohnya adalah

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 4
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Eter, Alcohol, Aseton, Benzene, Minyak Tanah, Bensin, Spiritus,
Solar, Oli dan sebagainya
c. Benda Gas
Gas mudah terbakar dalam industri adalah gas alam hydrogen,
asetilen, etilen oksida, Elpiji, Acetylene, Butane, LNG dan
sebagainya.
2. Sumber-sumber panas
Sumber- sumber panas antara lain:
a. Sinar matahari
b. Listrik
c. Panas yang berasal dari reaksi kimia
d. Komperensi udara
Panas yang berasal dari sumber-sumber tersebut dapat berpindah tempat
melalui 4 cara yaitu :
a. Radiasi : perpindahan panas yang memancarkan ke segala arah.
b. Konduksi : perpindahan panas melalui benda (perambatan panas).
c. Konveksi : perpindahan panas yang menyebabkan perbedaan
tekanan udara.
d. Locatan Bunga Api : suatu reaksi antara energy panas dengan udara
(O2)
3. Oksigen (O2)
Dalam keadaan normal prosentase oksigen (O2) di udara
bebas adalah 21% karena oksigen adalah suatu gas pembakar.
Suatu tempat dinyatakan masih mempunyai tempat keaktifan
pembakaran tidak akan terjadi bila kadar oksigennya lebih dari 15%,
sedang pembakaran tidak akan terjadi bila kadar oksigen kurang dari
12%.
Unsur-unsur yang harus ada untuk terjadinya kebakaran ada 3
unsur yaitu: adanya sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketiga
unsur tersebut biasa digambarkan dalam bentuk segitiga api sebagai
berikut:
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 5
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Panas

Oksigen
Bahan Bakar

Reaksi segitiga api berantai yang berjalan dengan seimbang, bila


keseimbangan reaksi tersebut terganggu, maka reaski akan terhenti atau
api akan padam. Oleh karena itu dasar - dasar system pemadaman
api sesungguhnya adalah pengerusakan keseimbangan reaksi api.

E. Klasifikasi Kebakaran
Klasifikasi kebakaran adalah penggolongan macam-macam kebakaran
berdasarkan jenis-jenis apinya penggolongan kebakaran ini diperlukan,
agar dapat ditentukan sistem pemadaman api yang tepat, sehingga
dapat dipilih alat-alat atau bahan-bahan yang cocok untuk kelas
kebakaran tersebut. Klasifikasi kebakaran di Indonesia ditetapkan melalui
peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transsmigrasi No:04/Men/1980
tanggal 14 April 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan
APAR. Klasifikasi kebakaran di Indonesia pada dasarnya berafiliasi ke
klasifikasi NFPA (National Fire Protection Asosiation) yang didirikan pada
tahun 1896 di Amerika, yaitu :
1. Kelas A : Adalah kebakaran dari bahan benda padat yang mudah
terbakar, misalnya kayu, kertas, plastic, tekstil, busa dan lain-lainnya.
Media pemadaman kebakaran untuk kelas ini berupa: air, pasir, karung
goni yang dibasahi dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) atau racun
api tepung kimia kering.
2. Kelas B : Adalah kebakaran dari bahan cair atau gas yang mudah
terbakar, misalnya: bensin, solar, minyak tanah, bensol, oli, spiritus, dll.
Media pemadaman kebakaran untuk kelas ini berupa : pasir dan Alat
Api Ringan (APAR) atau racun api tepung kimia kering. Dilarang
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 6
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
memakai air untuk jenis ini karena berat jenis air lebih berat dari pada
berat jenis bahan diatas sehingga bila kita menggunakan air maka
kebakaran akan melebar kemana-mana.
3. Kelas C : Adalah kebakaran yang disebabkan karena arus listrik pada
peralatan- peralatan, misalnya: mesin, generator, panel listrik, dan
lain-lainnya. Media pemadaman kebakaran untuk kelas ini berupa:
Alat Pemadam Kebakaraan (APAR) atau racun api tepung kimia.
Matikan dulu sumber listrik agar kita aman dalam memadamkan
kebakaran.
4. Kelas D : Adalah kebakaran dari bahan logam, misalnya : Titanium,
Magnesium, Kalsium, Lithium, Uranium, dan lain-lainnya.

F. Penyebab Terjadinya Kebakaran


Dalam hal peristiwa kebakaran pada umumnya dapat
menimbulkan bahaya terhadap keselamatan jiwa maupun harta benda,
yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran dan peledakan bersumber
pada tiga faktor yaitu faktor manusia, faktor teknis dan faktor alam yakni
sebagai berikut :
1. Manusia sebagai faktor penyebab kebakaran dan peledakan antara lain:
a. Faktor Pekerja
a) Kurang hati-hati dalam menangani beban/.alat yang dapat
menimbulkan api.
b) Kurang kesadaran dan disiplin.
c) Menempatkan barang berupa minyak atau menyusun barang
yang mudah terbakar pada sembarnag tempat tanpa
menghiraukan norma-norma pencegahan kebakaran dan
peledakan.
d) Pemakaian tenaga listrik yang berlebihan.
b. Faktor Pengelola
a) Sikap pengelola yang tidak memperhatikan keselamatan pekerja.
b) Kurangnya pengawasan terhadap kegiatan dalam bekerja.
c) System dan prosedur kerja tidak diterapkan dengan baik
terutama dalam kegiatan penentuan bahaya dan penerangan
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 7
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
bahaya.
d) Tidak adanya standar atau kode yang dapat diandalkan
e) Penerapan yang tidak tegas, terutama yang menyangkut bagian
kritis dari perawatan, system penanggulangan kebakaran, baik
system tekanan udara dan instalasi pemadaman kebakaran tidak
diawasi dengan baik.
2. Faktor Teknis sebagai penyebab kebakaran dan peledakan biasanya
terjadi melalui proses fisik atau mekanis dimana faktor penting yang
menjadi peranan dalam proses ini adalah :
a) Timbulnya panas akibat suhu atau bunga api akibat dari
pengetasan benda- benda maupun adanya api terbuka melalui
proses kimia yaitu terjadi sewaktu pengangkutan bahan-bahan
kimia berbahaya. Penyimpanan dan penanganan (handling) tanpa
memperhatikan petunjuk yang ada.
b) Melalui tanaga listrik pada umumnya terjadi karena hubungan
pendek, sehingga menimbulkan panas atau bunga api dan
dapat menyalakan atau membakar komponen yang lain.
3. Faktor alam sebagai penyebab kebakaran dan peledakan yakni:
a. Petir/ halilintar : akibar Petir/ halilintar sering menyebabkan
kebakaran hutan, juga kebakaran rumah atau gedung-gedung yang
tidak dilengkapi dengan penangkal petir.

b. Sinar matahari : musim kemarau panjang dapat mengakibatkan


kebakaran pada gudang-gudang yang mudah terbakar dan mudah
meledak, misalnya pada gudang mesin, gudang bahan petasan,
gudang bahan kimia dan sebagainya.

c. Letusan gunung berapi : Letusan gunung berapi akan mengakibatkan


kebakaran hutan atau tempat-tempat yang dilalui lava panas.
d. Gempa bumi : gempa bumi yang kuat dapat merobohkan bangunan
atau rumah yang berakibat korsleting listrik, sehingga terjadi
kebakaran.
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 8
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

e. Angin topan : angin topan yang kuat akan menyebabkan korsleting


pada kabel-kabel tegangan tinggi, hingga menimbulkan kebakaran.
4. Faktor penyalaan sendiri
Penyalaan sendiri sering terjadi pada gudang-gudang bahan kimia
5. Faktor Kesengajaan
Pada umumnya mempunyai tujuan tujuan tertentu, misalnya :
a. Sabotase / politis
b. Mencari keuntungan pribadi
c. Untuk menghilangkan barang bukti atau jejak kejahatan
d. Untuk tujuan taktis dalam pertempuran dengan jalan dibumi
hanguskan
G. Tahap Tahap Kebakaran
Umumnya kebakaran/api berkembang melalui tiga tahap
pertumbuhan, tahap pembakaran steady (steady combustion) dan tahap
surut (decay period). Tahap-tahap tersebut ditandai oleh kenaikan suhu
dari suhu rendah kemudian mencapai puncaknya hingga kemudia
berangsur-angsur turun.
a. Tahap awal/ tahap pertumbuhan
Api kebakaran tahap awal adalah tahap kebakaran dini yang
dimulai oleh terjadinya penyalaan. Kebakaran terbatas hanya pada
benda yang tersulut/mengalami penyalaan. Asap dan gas hasil
pembakaran mulai dihasilkan dan terkumpul di langit- langit ruangan.
Temperatur selama periode pertumbuhan ini relatif masih
o
rendah, jarang melebihi 250 C. Lamanya waktu di tahap ini sangat
penting, karena selama masih dalam tahap ini kerusakan yang
ditimbulkan belum parah. Lama waktu ini tergantung antara lain dari
sifat bahan yang terbakar dan faktor-faktor lingkungannya. Pada tahap
ini panas dari nyala api dipindahkan ke bahan-bahan dalam ruangan
sehingga asap yang combustible bila bercampur dengan udara.
b. Tahap kebakaran mantap (Steady-state burning phase)
Pada tahap ini yang sering juga disebut tahap penyalaan bebas
jumlah oksigen dan bahan bakar di dalam bangunan atau ruangan
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 9
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga api dapat menyala
dengan bebas dan membakar seluruh isi ruangan. Pada tahap ini
dapat terjadi peristiwa flashover, yaitu seisi ruangan, karena mempunyai
titik nyala yang hampir sama, akan menyala secara bersamaan. Api
akan terus menyala dengan leluasa sampai salah satu dari oksigen atau
bahan bakar habis.
o
Tahap kebakaran mantap/steady mulai bila suhu 250 C saat
mana bahan-bahan combustible mulai menimbulkan gas-gas/uap-uap
o

flammable. Suhu cepat meningkat hingga 600 C, mulai melibatkan


kebakaran pada seluruh benda dalam ruang, timbul flashover, suhu
makin meningkat tinggi (fully developed fire) hingga tercapai
o

keadaan mantap pada sekitar 1.000 C.


c. Tahap Surut (Decay priod)
Setelah sebagian besar benda-benda habis terbakar, intensitas
berkurang dan suhu berangsur-angsur turun karena menipisnya atau
dipindahkannya persediaan bahan bakar atau oksigen. Mulailah terjadi
apa yang disebut periode surut (decay period).
H. APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
1. Pemeriksaan APAR
Apar harus diperiksa dua kali dalam setahun yaitu enam bulan
sekali dan dua belas bulan sekali. Untuk alat pemadam api yang
menggunakan tabung gas, selain dilakukan pemeriksaan sesuai
pemeriksaan dalam jangka waktu enam bulan, dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut menurut ketentuan sebagai berikut :
a. Isi alat pemadam api harus sampai pada batas permukaan yang
telah ditentukan
b. Pipa alat isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh

tersumbat atau buntu


c. Ulir tutup kepala tidak boleh cacat atau rusak, dan saluran
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 10
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
penyemprotan tidak boleh tersumnbat
d. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak, dapat bergerak
dengan bebas, mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan bak
gasket atau packing masih dalam keadaan baik.
e. Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik
f. Bagian dari alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat

karena karat
g. Untuk jenis cairan busa yang dicampur sebelum dimasukan,

larutannya harus dalam keadaan baik.


h. Untuk jenis cairan busa dalam tabung yang dilak, tabung harus
i.

masih dilakukan dengan baik.


Lapisan pelindung dari gas bertekanan, harus dalam keadaan baik.
Sedangkan untuk pemadam api jenis Hydrocarbon berhalogen

dilakukan pemeriksaan dengan membuka tutup kepala secara hati-hati


dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak, kemudian di teliti
menurut ketentuan sebagai berikut :
a. Isi tabung harus sesuai dengan berat yang ditentukan
b. Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak
boleh tersumbat atau buntu
c. Ulir tutup kepala tidak boleh rusak dan saluran keluar tidak boleh
tersumbat.
d. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak, harus dapat
bergerak dengan bebas, mempunyai sisi yang tajam dan tuas
penekan harus dalam keadaan baik.
e. Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
f. Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik.
g. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai kapasitasnya
Untuk jenis pemadam api ringan jenis tepung kering dilakukan
pemeriksaan dengan membuka tutup kepala secara berhati-hati dan
dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak dan kemudian diteliti
menurut ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 11
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

a. Isi tabung harus sesuai dengan berat yang telah ditentukan dan
tepung keringnya dalam keadaan tercurah bebas.

b. Ulir tutup kepala tidak boleh rusak, dan saluran keluar tidak
boleh buntu atau tersumbat.

c. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak, harus dapat


bergerak bebas, mempunyai rusuk atau sisi yang tajam.

d. Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.


e. Bagian dalam tabung tidak boleh berlubang-lubang atau cacat
karena karat.

f. Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik


2. Teknik Pemadaman dengan APAR

Secara umum teknik pemadaman dengan APAR dapat dilakukan dengan


langkah- langkah sebagai berikut :
a. Turunkan APAR dari tempatnya
b. Cabut pen pengaman dan bebaskan selang
c. Uji di tempat dengan mengarahkan semburan ke atas agar tidak
membahayakan orang lain. Langkah ini tidak perlu dilakukan bila
anda sudah dekat sekali dengan lokasi kebakaran.
d. Menuju lokasi kebakaran. Ambil posisi diatas angin dengan jarak
sekitar 3 meter dari api
e. Sikap posisi kuda-kuda. Arahkan nozzel pada pangkal api. Tekan
tuas penyemprot APAR dengan cara dikibas-kibas.
3. Peletakkan APAR
Untuk peletakannya, APAR mempunyai syarat-syarat khusus dan
a.
b.
c.
d.
e.
f.

persyaratannya adalah sebagai berikut :


Setiap jarak 15 meter
Ditempat yang mudah dilihat dan dijangkau.
Pada jalur keluar atau refleks pelarian
Memperhatikan suhu sekitarnya
Memperhatikan jenis dan sifat bahan yang dapat terbakar
Intensitas kebakaran yang mungkin terjadi seperti jumlah bahan

bakar, ukurannya, kecepatan dan lain-lain


g. Kemungkinan timbulnya reaksi kimia
h. Efek terhadap keselamatan dan kesehatan orang yang
menggunakannya.

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 12
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan praktik kerja lapangan dilaksanakan pada :
Waktu
: 1 Maret 31 Maret 2016
Tempat
: PT. Indonesia Power UP Mrica, Kabupaten Banjarnegara
Jalan Raya Banyumas KM. 8 Banjarnegara 53471.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari kegiatan praktik kerja lapangan mahasiswa program studi
D-IV Kesehatan Lingkungan meliputi program kesehatan lingkungan pada
unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT. Indonesia Power UP
Mrica.
C. Kegiatan yang dilakukan
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan kegiatan awal Praktik Kerja Lapangan
(PKL). Melalui pengumpulan data maka dapat mengidentifikasi masalah
yang terjadi di PT. Indonesia Power UP Mrica. Data masalah kesehatan
lingkungan dapat di peroleh dengan melakukan survey dan observasi.
2. Analisis Situasi Masalah
Data yang sudah ada dikumpulkan untuk di analisis permasalahannya
yang ada di PT. Indonesia Power UP Mrica.

3. Penentuan Prioritas Masalah


Semua masalah yang muncul berdasarkan data yang terkumpul di pilih
masalah yang paling sering terjadi untuk dijadikan sebagai prioritas
masalah,
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 13
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
4. Alternatif Pemecahan Masalah
Masalah yang sudah di temukan sebagai prioritas masalah dibuatkan
alernatif pemecahan masalah sesuai kondisi tempat PKL
5. Lokakarya Mini
Hasil yang didapatkan kemudian di musyawarahkan dengan pihak
Manajemen PT. Indonesia Power UP Mrica yaitu orang-orang yang
berada dalam suatu ruangan saat PKL.
6. Plan Of Action
a. Observasi lingkup kesehatan lingkungan
b. Pengumpulan data sekunder
c. Rekap data sekunder
d. Evaluasi
7. Tindakan Intervensi
Tindakan intervensi dilaksanakan dengan menyesuaikan kegiatan yang
ada di PT. Indonesia Power UP Mrica serta mempertimbangkan teknologi
tepat guna dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di PT.
Indonesia Power UP Mrica.
8. Penulisan Laporan dan Seminar
Penulisan laporan di kerjakan sejak awal PKL setelah tindakan intervensi
dilakukan. Seminar dlakukan setelah laporan selesai dan dihadiri
pembimbing PKL.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Gambaran Umum PT Indonesia Power UP Mrica
a. Sejarah PT Indonesia Power UP Mrica
Sejarah PT INDONESIA POWER berawal pada akhir abad ke-19,
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari riwayat perkembangan
kelistrikan di Indonesia. Saat itu sejumlah perusahaan yang ada yang
bergerak dibidang perkebunan, pabrik gula dan pabrik teh
membangun pembangkit listrik untuk kepentingan sendiri. Selanjutnya
sebuah perusahaan gas swasta Belanda, bernama NV NIGN
(Naamloze Vnnootschap Netherlandsche Indische Gas Maatschappij)
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 14
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
memperluas usahanya dibidang kelistrikan untuk kepentingan umum
dan memperoleh ijin konsesi berdasarkan Ordonansi 1890 No. 190,
tanggal 18 September 1890.
Seiring dengan peningkatan manfaat listrik bagi masyarakat,
pemerintah pada tahun 1927 membentuk Lands Water Kracht
Bedrijven atau perusahaan listrik negara yang mengelola Pusat Listrik
Tenaga Air (PLTA) Plengan, Lamajan, Bengkok Dago, Ubruk, dan
Kracak di Jawa Barat. Pembangit-pembangkit inilah yang dikemudian
hari diserahkan dan dikelola PLN PJB1, di tahun 1995, disamping
beberapa pembangkit lain yang berkapasitas lebih besar. PLN pun
terus berupaya membangun bidang ketenagalistrikan, sedangkan
tugas pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik di Jawa dan Bali
pada waktu itu ditangan oleh PLN Pembangkitan dan Penyaluran
Jawa Barat (KJB) dan PLN Pembangkitan dan Penyaluran Jawa
Timur (KJT).
Pada ahun 1994, status PLN yang semula berbentuk
Perusahaan Umum beralih menjadi Perusahaan Persero. Pada tahun
1995 status baru diikut dengan perubahan struktur PT.PLN (Persero),
yang kemudaian ditindak lanjuti dengan peningkatan fungsi PLN
P2Bdengan tambahan tugas penyaluran, menjadi PLN P3B. Dengan
perubahan fungsi ini maka KJB dan KJT berfokus pada fungsi
pembangkitan. Dua organisasi inilah yang menajdi cikal bakal anak
perusahaan PLN, yakni Pembangkit Tenaga Listrik Jawa Bali 1 (PJB1) dan Pembangkit Tenaga Listrik Jawa Bali 2 (PJB-2). PLN PJB1
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 15
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
mempunyai organisasi sendiri dengan tugas mengelola 8 unit
pembangkit, masing-masing Suralaya, Saguling, Mrica, Priok, Perak,
Grati, Bali, Semarang, Kamojang dan Satu Unit Bisnis Jasa
Pemeliharaan.
Di dirikan pada 03 Oktober 1995 sebagai anak peruasahaan
PT Pembangkitan Jawa Bali 1 (PJB1) merupakan anak perusahaan
PT. PLN Persero yang bergerak dalam usaha pembangkitan tenaga
listrik didirikan pada 03 Oktober 1995. Nama itu kemudian berubah
menjadi PT. Indonesia Powerpada tanggal 03 Oktober 2000.
Perubahan nama tersebut mengukuhkan penetapan tujuan
perusahaan untuk sepenuhnya berorientasi pada bisnis dan
mengantisipasi kecenderungan pasar yang senantiasa berkembang.
Dalam kurun belasan tahun, Indonesia Power telah berkembang
dengan cepat melalui kinerja usaha yang meyakinkan.
Indonesia Power mengoperasikan delapan Unit Bisnis
Pembangkitan (UP) yang tersebar di UBH lokasi-lokasi strategis Jawa
Bali, dan Unit Bisnis Jasa Pemeliharaan, dengan kapasitas terpasang
sebesar 8.996 MW dari 133 unit pembangkit listriknya. Selanjutnya
Perseroan mengembangkan sayap dengan 4 anak perusahaan, yaitu
PT Cogindo Daya Bersama (CDB) pada tahun 1997 untuk
mendukung usaha pembangkitan outsourcing dan kajian energi, serta
PT Artha Daya Coalindo (ADC) pada ttahun 1998 yaang bergerak
dibidang menejemen dan pardagangan batubara serta bahan bakar
lainnya. Sebagai perusahaan terbesar di bidang pembangkitan tenaga
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 16
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
listrik di Indonesia, Indonesia Power siap memasuki era pertumbuhan
baru seiring prospek bisnis yang menjanjikan dan penuh tantangan di
masa depan.
b. Visi dan Misi Indonesia Power
a) Visi
Menjadi perusahaan energy terpercaya yang tumbuh
berkelanjutan.
b) MisI
Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa
terkait yang bersahabat dengan lingkungan
c) Motto
Bersama.Kita Maju

c. Lokasi PT. Indonesia Power UP Mrica


Unit Bisnis pembangkitan Mrica (UP) Mrica merupakan salah
satu dari 8 unit Pembangkitan yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power
yang terletak di hulu sungai Serayu termasuk di wilayah Kabupaten
Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 8 km sebelah barat
kota Banjarnegara atau 175 km Barat Daya Kota Semarang.
d. Manajemen Perusahaan
Sebagai perusahaan professional bervisi kinerja kelas dunia,
Indonesia Power sangat mengedepankan prinsip tata kelola
perusahaan yang baik. Seluruh jajaran direksi dan manajemen telah
berkomitmen untuk prinsip- prinsip Good Corporate Governance
(GCG), yang mencakup aspek transparansi, akuntabilitas, tanggung
jawab, kemandirian dalam operasi perusahaan.
Komitmen penerapan prinsip- prinsip tersebut diyakini akan
meningkatkan nilai Perusahaan sekaligus menunjang pencapaian
keberlanjutan usaha di masa depan. Untuk mendukung
implementasinya, Indonesia power telah menyusun Tatalaksana Kerja
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 17
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Direksi dan Dewan Komisaris (Board Manual), GCG Code dan Code
of Conduct (Etika Perusahaan) dan melengkapinya dengan
membentuk serta mengangkat Komite Audit, Komite Remunerasi, dan
Komite Manajemen Resiko Usaha.
Menyadari akan berbagai resiko usaha yang mungkin
dihadapi, untuk mengendalikan berbagai resiko usaha Indonesia
power telah menusun manajemen resiko korporat (enterprise Risk
Management) secara holistic dan terintegrasi ke semua unit
organisasi. Kebijakan tentang Manajemen Resiko Korporat
diformulasikan dalam Kebijakan Management Korporat, sedangkan
tata cara pelaksanaannya disusun dalam Pedoman Manajemen
Risiko Korporat.
e. Tujuan dan Sasaran manajemen K3 dan Lingkungan
1) Kesehatan Keselamatan Kerja
a) Tersedianya informasi/peringatan/bahaya dan pengendalian
K3 di tempat kerja.
b) Tersedianya SDM yang terampil dalam menanggulangi
kebakaran
c) Semua pegawai tanggap terhadap bahaya (tanggap darurat).
2) Lingkungan
a) Melakukan penyuluhan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan sesuai Program Manajemen Lingkungan (PML)
sekitar Waduk PLTA PB. Soedirman minimal 1 kali dalam 1
semester.
b) Melakukan kegiatan pengembangan Aneka usaha (PAU)
dengan mengoptimalkan aset perusahaan yang ada dengan
target 75% dari laba usaha dalam RKA.
c) Tercapainya target kinerja lingkungan dengan nilai : 98%
d) Terpenuhinya laporan bulana dan triwulan PAU, Laporan
triwulan dan semester lingkungan dengan tepat waktu yakni
paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 18
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

f.

Logo PT. Indonesia Power

Gambar 1 : Logo PT. Indonesia Power


g. Program manajemen K3 dan Lingkungan
1) Kesehatan Keselamatan kerja
a) Melengkapi rambu-rambu K3 di tempat kerja.
b) Menyiapkan SDM yang terampil terhadap bahaya kebakan di
tempat kerja.
c) Budaya K3 selalu diutamakan.
2) Lingkungan
Mengendalikan perkembangan sedimentasi dengan cara :
a) Melakukan sosialisasi kelestarian lingkungan di daerah aliran
sungai Serayu minimal 1 kali dalam setahun dan 2 kali dalam
setahun di sekitar wadk PLTA PB. Soedirman.
b) Penanaman penghijauan di daerah aliran sungai Serayu
minimal 20.000 pohon dalam setahun dan 500 batang pohon
di sekitar waduk PLTA PB. Soedirman.
c) Melakukan flushing secara periodik jika sedimen di depan
intake >+ 187 m.
d) Melakukan pengangkatan sedimen dengan sand pump dan
memberdayakan masyrakat (penambang) produksi minimal
3600 m3/bulan.
h. Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UP Mrica

GENERAL MANAGER

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 19 AHLI TEKNIK DAN AUDIT
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)
SPS PLTA
KEDUNG
OMBO

SPS PLTA
WADAS
LINTANG

MANAGER
SIPIL DAN
LINGKUNG
AN

SPS PLTA
WONOGIRI

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

MANAGER
TEKNIK

MANAGER
ASET DAN
MANAGEMEN

MANAGER
LOGISTIK

SPS
PLTA
JELOKTIMO

SPS PLTA
GARUNG

MANAGER
SIK DAN
KEUANGAN

MANAGER
SDM &
HUMAS

SPS PLTA
KETENGER

Gambar 2 : Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UP Mrica


2. Gambaran Kesehatan Lingkungan di PT. Indonesia Power UP Mrica
Lingkup kesehatan yang perlu diperhatikan dalam menemukan
masalah menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa aspek
yaitu sebagai berikut:
a. Penyediaan Air Minum
PT. Indonesia Power UP Mrica memiliki pabrik produksi air
minum dalam kemasan (AMDK). Perijinan diperoleh dari Dinas
Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral
Kabupaten Banjarnegara. Setiap hari menghasilkan 200 galon
perhari, 125 dus gelas perhari, 24 dus botol berukuran 600 ml dan 510 dus botol berukuran 1500 ml. Sebagian dikonsumsi oleh karyawan
dan sebagian di distribusikan pada para pelanggan. Pemantauan
kualitas harian AMDK meliputi pH, TDS, dan Conductivity sedangkan
pemantauan kualitas mingguan AMDK pH, E.coli, Coliform dan Angka
kuman dengan metode angka lempeng total yang dilakukan oleh
Laboratorium Kesehatan Banjarnegara.
Berdasarkan observasi dilapangan ditemukan karyawan yang
tidak menggunakan alat pelindung diri saat bekerja, temperature
ruangan yang panas di bagian pengemasan, terdapat karyawan yang
membawa makanan dan minuman di filling room, terdapat alat
produksi yang berkarat, belum ada pengujian angka kuman udara
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 20
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

SPS
PLTA
TULIS

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
pada bagian filling room, serta belum ada pengujian parameter
kualitas air baku untuk AMDK.
b. Pengelolaan Air Buangan dan Pengendalian Pencemaran
Air buangan (limbah cair) kebanyakan dihasilkan oleh dapur.
Pengendalian pencemaran limbah dapur sudah dilakukan yaitu
dengan adanya Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang terletak
di dekat dapur. Parameter pencemaran air limbah pada IPAL di ukur
pada setiap semester bekerjasama dengan pihak UNDIP. Parameter
yang diukur antara lain BOD, TDS, minyak lemak dan pH. Semua
parameter yang diukur telah memenuhi syarat baku mutu air limbah
sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5
Tahun 2012 Tentang Baku Mutu Air Limbah.
c. Pembuangan Sampah Padat
Pengelolaan sampah padat dibagi menjadi dua yaitu
pembuangan limbah B3 dan Non B3. Limbah B3 dikumpulkan dalam
gudang penyimpanan khusus limbah B3 selama 90 hari kemudian
menyerahkannya kepada pengolah limbah B3 yaitu bekerjasama
dengan PT. Prima Karya Ayu Mandiri. Limbah B3 dikemas dengan
symbol tengkorak dan di angkut dengan menggunakan mobil khusus
limbah B3. Perpanjagan Tempat Penyimpanan Sementara (TPS)
limbah B3 yang seharusnya diatur oleh pemerintah kabupaten
setempat ternyata belum ada perundang-undangannya sehingga PT.
Indonesia Power masih menggunakan perundang-undangan yang
ditentukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. pada limbah non B3
untuk sampah organic dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk
organik, sampah kertas kantor diolah pada bagian CSR sebagai
kerajinan tangan atau bungkus makanan, dan pada sampah plastik
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 21
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
dan sisa makanan ditampung pada TPS dan diangkut ke
pembuangan akhir setiap minggu.
Berdasarkan observasi dilapangan, tata cara penyimpanan
limbah B3 yang dilakukan oleh PT. Indonesia Power UP Mrica sudah
sesuai dengan Kepka Bapedal Nomor 1 tahun 1995 tentang Tata
Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan
Limbah B3. Namun belum ada penangkal petir pada bangunan serta
belum ada pengendalian vektor dan binatang pengganggu di tempat
penyimpanan. Sedangkan untuk limbah padat (sampah Non B3) pada
proses pemilahan sampah belum dilakukan meskipun sudah
disediakan tempat sampah yang berbeda antara sampah organik dan
anorganik.
d. Pengendalian Vektor
Belum ada pengendalian vektor dan binatang pengganggu di
kantor PT. Indonesia Power UP Mrica. Pengendalian vektor hanya
disediakan di tempat pengolahan air minum dalam kemasana (AMDK
Mrica).
e. Hygiene Makanan
Makanan pada kantin Indonesia Power UP. Mrica dikelola oleh
catering Sari Rahayu 2 dan rumah makan Sri di jamin kesehatannya
karena memiliki sertifikat Laik Hygiene Sanitasi Jasa Boga dari
Menteri Kesehatan yang ditanda tangani Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Banjarnegara tahun 2011. Sertifikat berlaku 3 tahun.
Berdasarkan observasi dilapangan terdapat beberapa
masalah pada tahap penyajian makanan di PT. Indonesia Power UP
Mrica seperti terdapat noda alat makan, penyimpanan alat makan di
tempat terbuka dan tenaga penyaji makanan yang tidak
f.

menggunakan alat pelindung diri saat penyajian.


Pengendalian Pencemaran Udara

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 22
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Pengendalian pencemaran udara dilakukan dengan
penanaman pohon rindang jenis Polyalthea longifolia pendula di
depan kantor sebagai pagar untuk menyaring debu dan mengurangi
kebisingan. Kualitas udara di ukur setiap semester bekerjasama
dengan UNDIP. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa
Tengah Nomor 10 Tahun 2000 tentang baku mutu emisi sumber tidak
bergerakTingkat Provinsi Jawa Tengah, hasil pelaksanaan
pemantauan kualitas udara emisi sumber tidak bergerak yaitu
gensetyang berada di Kantor Induk PT. Indonesia Power UP Mrica,
genset Power House PB Soedirman dan genset Spillway telah
memenuhi baku mutu yang berlaku. Parameter yang diukur antara
lain Nitrogen dioksida (NO2), Sulfur dioksida (SO2), debu/partikel,
opasitas.
Berdasarkan Kep. Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 Tahun
2001 tentang Baku Mutu Udara Ambien Provinsi Jawa Tengah, hasil
pemantauan udara ambien di 6 titik pemantauan (Depan kantor utama
PT. Indonesia Power UP Mrica, taman depan kantin PT. Indonesia
Power UP Mrica, halaman power house PLTA Ketenger IV, lingkungan
Power House PLTA PB Soedirman, lingkungan sekitar PLTM
Plumbungan, lingkungan sekitar PLTM Siteki) telah memenuhi baku
mutu. Pemantauan dilakukan pada bulan September-November 2015
dengan parameter Nitrogen dioksida (NO2), Sulfur dioksida (SO2),
Karbon Monoksida (CO), dan debu.
g. Pengendalian Kebisingan
Pengukuran kebisingan di ukur setiap semester bekerjasama
dengan UNDIP. Pemantauan kebisingan di Power House PB
Soedirman yang dilakukan pada bulan November 2015 di lingkungan
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 23
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
kerja yaitu ruang turbin, ruang control, dan halaman power house.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di ruangan
turbin ketika mesin sedang menyala melebihi NAB yang
dipersyaratkan yaitu 98,2 dB dengan ambang batas 85 dB,
sedangkan kebisingan pada kondisi off memenuhi baku mutu yang
dipersyaratkan. Kondisi off disebabkan karena kekurangan air saat
produksi.
Hal ini sudah diantisipasi dengan cara menggunakan penutup
telinga (ear protection) bagi setiap pekerja di ruang tersebut. Tingkat
kebisingan di ruang kontrol dan halaman Power House semuanya
memenuhi syarat baku mutu yaitu 45,7 dB dan 55,2 dB.
h. Iklim Kerja
Pengukuran iklim kerja di ukur setiap semester bekerjasama
dengan UNDIP. Suatu tempat kerja yang nyaman dapat meningkatkan
gairah kerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktifitas
kerja. Menurut Keputusan Menteri tenaga Kerja RI Nomor : Kep51/MEN/1999, tentang nilai ambang batas faktor fisika tempat kerja
bahwa standard ISBB yang dipersyaratkan sebesar 26,7oC. Hasil
pengukuran terakhir yang dilakukan pada bulan November 2015
menunjukkan bahwa semua ruangan yang diuji parameter ISBB
dibawah nilai ambang batas. Hasil pengujian parameter ISBB di
setiap ruangan berkisar antara 21,4-23,3oC.
Pemantauan suhu ruangan dilakukan di 50 titik dengan
standar yang dipersyaratkan berkisar 18-28oC. Hasil pemantauan
menunjukkan pada beberapa titik melebihi standar. Suhu tertinggi
sebesar 30,1oC berada di ruang bengkel kontrol Power House PB
Soedirman. Nilai ini tidak terlalu besar pengaruhnya karena ruangan
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 24
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
tersebut tidak setiap saat digunakan hanya pada saat perbaikan
mesin digunakannya. Efek suhu menjadi tinggi kemungkinan berasal
dari tidak dibukanya jendela sebagai ventilasi. Ketika pengukuran
dilakukan ruangan ini tidak sedang digunakan. Selain ruang bengkel
kontrol Power House PB Soedirman, lokasi pemantauan suhu
ruangan kerja yang melebihi standar antara lain ruang pengadaan
(28,6oC), ruang sekertariat (29oC), dan ruang Lobby Power House PB
Soedirman (29,2oC).
Standar kelembapan ruang kerja sebesar 40-60%. Beberapa
ruangan memiliki kelembaban yang lebih dari 60%. Ruangan dengan
kelembapan lebih besar dari 60% antara lain : ruang anggaran
(65,7%), ruang pajak (68,3%), ruang akuntansi (63,9%), ruang
manager keuangan dan administrasi (65,4%), ruang sekretaris
general manager (63,7%), ruang manager dan engineering (62,2%),
ruang manager operasional dan pemeliharaan (63,5%), ruang MPRO
(64,3%), ruang PSM (64,3%), ruang ISO/Audit (62,5%), ruang
Engineering 1 (67,1%), ruang engineering 2 (67%), ruang staff
gudang (69,6%), ruang SPS gudang (68,1%), ruang SPS gudang
(69,6%), ruang staf kendaraan (68,3%), ruang diklat (69,2%), ruang
lobby (65%), ruang SPS pengendali niaga (60,7%), ruang rapat 1
(62,6%), ruang proyek (64,3%).
Kondisi kelembaban yang tinggi memiliki dampak yaitu
menghambat proses evaporasi dalam transfer panas tubuh, sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan (discomfort) dalam bekerja dan
meningkatkan jumlah kuman udara di ruangan. Namun ternyata
dampak ini dapat ditekan oleh kondisi temperature udara ruangan
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 25
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
yang masih dibawah ambang batas. Kondisi ini masih memungkinkan
pekerja bekerja secara nyaman dan optimal. Sedangkan pada
kelembaban berapapun dengan suhu dibawah 27oC hal ini tidak
berpengaruh terhadap kenyamanan kerja (Purnomo, 2000).
i.

Kesehatan dan Keselaman Kerja


1) Kebijakan Kesehatan dan Keselaman Kerja
PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Mrica yang bergerak
dalam bidang ketenaga listrikan pusat listrik tenaga air (PLTA) PB
Soedirman bertekat bahwa keselamatan dan kesehatan kerja
merupakan salah satu faktor penting dan menjadi bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan perusahaan.
Manajemen PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit
Mrica dengan ini menentukan kebijakan keselamatan dan
kesehatan kerja yang dicerminkan dalam pernyataan sebagai
berikut :
a. Dalam melaksanakan setiap kegiatan operasional perusahaan,
senantiasa memperhatikan dan mengutamakan keselamatan
dan kesehatan kerja bagi seluruh pegawai yang merupakan
asset utaa perusahaan
b. Manajemen bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan usaha
keselamatan dan kesehatan kerja dengan melakukan
pembinaan dan pendidikan secara berkesinambungan,
menyediakan anggaran yang memadai serta mentaati undangundang maupun persyaratan K3 lainnya untuk mendukung
tercapainya Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
c. Manajemen dan seluruh jajaran pegawai bertanggung jawab
terhadap tugas dan kewajiban masing-masing dalam hal

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 26
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
menjaga keselamatan dan kesehatan kerja, serta berupaya
mencegah terjadinya kecelakaan
d. Berupaya meningkatkan kinerja perusahaan dibidang K3
dengan menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan yang
bersih aman dan nyaman serta menghindari resiko bahaya
kecelakaan, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja
yang dapat menimbulkan kerugian bagi pegawai dan
perusahaan.
e. Memelihara kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja ini,
serta mengkomunikasi keseluruh tingkat organisasi di kantor
Unit Bisnis Pembangkit Mrica dan PLTA PB Soedirman.
Kebijakan ini akan ditinjau ulang secara berkala bila terjadi
perubahan kegiatan utama dan atau perubahan dalam
perundang-undangan. Kebijakan K3 tersedia untuk pihak
eksternal yang membutuhkan.
2) Susunan P2K3 PT. Indonesia Power UP Mrica
Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (P2K3)
merupakan bagian terpenting yang wajib ada dalam suatu
perusahaan kedudukan P2K3 sejajar dengan struktur organisasi PT.
Indonesia Power UP Mrica secara umum.
Tabel 4.1. Susunan P2K3 PT. Indonesia Power UP Mrica
JABATAN
Ketua
Wakil Ketua
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sekretaris
1.
Anggota

KEDUDUKAN/PENANGUNG JAWAB
General manager
Manager Teknik
Manager Enjinering dan Manager Aset
Manager Sipil dan Lingkungan
Manager SDM dan Humas
Manager Sistem Informasi dan Keuangan
Manager Logistik
Supervisor Senior K3.Ahli K3
(Ahli K3)
(Ahli K3)
(Ahli K3)

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 27
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
(Ahli K3)
(Ahli K3)
(Ahli K3)
(Ahli K3)
Sekretaris
2. Supervisor Senior K3.Ahli K3
Anggota
Supervisor Renvai
Supervisor Pemeliharaan Mesin
Supervisor Pemeliharaan Listrik
Supervisor Kontrol dan Instrumen
Supervisor Pengadaan Barang
Supervisor Perencanaan Logistik
Supervisor Gudang
Supervisor Anggaran
Supervisor Keuangan
Supervisor Akutansi
Supervisor Pajak
Supervisor Sistim Informasi
Supervisor Pengembangan
Supervisor Manajemen Aset
Supervisor Administrasi Kepegawaian
Supervisor Pengembangan SDM
Supervisor Sekretariat dan Fasilitas
Supervisor Keamanan dan Humas
Supervisor Lingkungan, Lahan, dan Usaha
Supervisor Hidrologi dan Waduk
SupervisorPemeliharaan Sipil
Ketua Persatuan Pegawai UP Mrica
Supervisor Senior PLTA Ketenger
Supervisor Senior PLTA Garung
Supervisor Senior PLTA Jelok-Timo/Ahli K3
Supervisor Senior PLTA Wadas Lintang
Supervisor Senior PLTA Kedungombo
Supervisor Senior PLTA Tulis/ Ahli k3
Tugas Tugas P2K3
1) Tugas-Tugas Pokok
a) Memberi saran dan pertimbangan, baik diminta maupun tidak
kepada manajemen mengenai masalah K3.
b) Untuk dapat melaksanakan tugas pokok tersebut dalam point
1, P2K3 berfungsi menghimpun dan mengolah data dan/ atau
permasalahan K3 di tempat kerja yang bersangkutan.
2) Tugas Tugas Khusus
a) Ketua dan Wakil ketua
(1) Memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan panitia.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, ketua dibantu oleh wakil
wakil ketua.
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 28
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
(3) Apabila ketua berhalangan, tugasnya dilaksanakan oleh
seorang wakil ketua.
b) Sekretaris
Memimpin dan mengkoordinasikan penyelenggaraan tugastugas secretariat dan melaksanakan keputusan panitia antara
lain :
(1) Menyiapkan segala sesuatunya yanh berhubungan
dengan kegiatan panitia.
(2) Menyampaikan undangan rapat dan bahan rapat kepada
anggota.
(3) Menyelenggarakan dokumentasi.
(4) Melakukan semua pekerjaan ketatausahaan.
(5) Mengelola kerumahtanggan panitia.
c) Anggota
(1) Mengikuti rapat rapat dan melakukan pembahasan atas
persoalan yang diajukan dalam rapat.
(2) Melaksanakan tugas- tugas yang ditetapkan panitia.
d) Setiap anggota berhak untuk mengusulkan diadakannya
pembahasan dan tidak lanjut yang diperlukan mengenai
masalah- masalah K3 yang dianggap perlu.
B. PEMBAHASAN
1. Identifikasi Masalah Kesehatan
Berdasarkan gambaran kesehatan lingkungan di PT. Indonesia Power UP
Mrica dapat diketahui masalah kesehatan lingkungan di PT. Indonesia
Power UP Mrica yaitu :
a. Penyediaan air minum
b. Pembuangan sampah padat
c. Pengendalian vector
d. Hygiene makanan
e. Pengendalian pencemaran udara
2. Prioritas Penentuan Masalah
Tabel 4.2 Penetapan Prioritas masalah Kesehatan Lingkungan di
PT. Indonesia Power UP Mrica
No

Masalah

Kriteria Nilai (1-5)


Importancy (Pentingnya

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 29
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jml

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Masalah)
P

RI

PC

DU

PC

Penyediaan air
minum

28

Pembuangan
sampah padat

29

Pengendalian Vektor

12

Hygiene Makanan

10

Pengendalian
pencemaran udara

Keterangan:
P (Prevalensi) : banyaknya masalah yang ditemukan
S (Severity) : Akibat yang ditimbulkan
RI (Rate of Incrase) : Kenaikan jumlah masalah
PC (Public Concern) : Keprihatinan masyarakat
DU (Degree of Umeet Needs) : Keinginan yang tidak terpernuhi
PC (Poloitic Climate) : iklim politik
T (Technical feasibility) : teknologi yang tersedia
R (Resources availibility) : sumber daya yang tersedia (Dana,
Material, Tenaga)
3. Upaya Tanggap Darurat Kebakaran UP Mrica
a. Susunan Tim Tanggap Darurat PT. Indonesia Power UP Mrica
1) PEMBINA
: General Manager
2) KOMANDAN UNIT
: MOPH
3) WAKIL MOMANDAN UNIT
: MENG & MKAD
4) TIM INVESTIGASI
:
a)
b)
c)
d)

ATKP
SPS KAS
SPS KKK
SPS OPN

e) SPS SIS
f) SPS POI
g) SPS LLK

5) KOORDINATOR UNIT
a) TIM PERAN KANTOR
(1) Komandan Regu :
(a) SPS MUM
(b) SP KAM
(2) Anggota :

: SPS KKK & SPS KAS

(a) Andy A

(b) Sidik Yulianto

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 30
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

(d)
(e)
(f)
(g)
(h)
(i)
(j)
(k)

(c) Andri R.C


Dwi Nurwanto
Kanda S
Deden Evid
As Ary
Wahyu B
Suwikno
Agus Nurfaiz
M. Farhan

(l) Cipto N
(m) M. Riza F
(n) Dian S
(o) Agung Widyanto
(p) Candra B
(q) Sukamto
(r) Anggota Satpam
(s) Pegawai Koperca

b) TIM PERAN PLTA PB. SOEDIRMAN


(1) Komandan Regu :
(a) SPS OPN
(b) SS HAR
(2) Anggota :
(a) Asep Hedy
(b) Anang Rosihan
(c) Bagus Aris
(d) Bayu P
(e) Agus Sulaiman
(f) Eko Setawan
(g) Wahyu Riyanto

(h) Operator
Dispatcher
(i) Operator PBS
(j) Anggota Satpam
(k) Pegawai Koperca

6) KOORDINATOR PENGAMANAN
: SPS KAS
a) TIM PENGAMANAN AREA
(1) Komandan
: SP KAM
(2) Anggota
:
(a) Supriyadi
(b) Candra B
(c) Anggota Satpam
b) TIM PENGAMANAN PERSONIL
(1) Komandan :
(a) SPS KKK
(b) SPS ADK
(2) Anggota :
(a) Andri R.C
(b) Maulida
(c) Anggota Satpam
c) TIM PENGAMANAN ASET DAN DOKUMEN
(1) Komandan :
(a) SPS TAN
(b) SPS GDG
(2) Anggota :
a) Deden Evid
b) Suwikno
7) KOORDINATOR KOMUNIKASI
:
Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica
Page 31
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
a) Komandan : SPS SIS
b) Anggota :
(1) M. Riza
(2) M. Farhan
8) KOORDINATOR MEDIS/P3K
a) Komandan : SPS SIS
b) Anggota :
(1) Maulida C
(2) Sulinda P

(3) Sulastri
(4) Paramedis Poliklinik Mrica

9) KOORDINATOR PRASARANA
a) TIM LOGISTIK
1) Komandan : SPS MUM
2) Anggota :
(a) Tafsir
(b) Trimo
(c) Pet. Pengemudi
b) TIM ANGKUTAN
1) Komandan : Lili Supriyadi
2) Anggota :
(a) Sunarto
(b) Pet. Pengemudi
c) TIM DOKUMENTASI
(a) Budiono
(b) Rina E
10) KOORDINATOR PEMULIHAN SISTEM
(5) TIM PEMULIHAN SISTEM :
a) Komandan : SS HAR
b) Anggota :
(1) Asep Hedy
(2) Syaeful Munir

(3) Yus Nugraha


(4) Anang Rosihan

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Power UP Mrica


Page 32
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Periode Maret 2016)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

(l) Tugas Dan Tanggung Jawab Tim Penanggulangan Bencana PT.


Indonesia Power UP Mrica
1) Pembina
a) Melaporkan keadaan darurat bencana kepada kantor pusat PT.
Indonesia Power dan instansi terkait.
b) Berwenang memberi informasi kepada pejabat terkait dan medis
massa tentang kejadian.
c) Mengadakan komunikasi secara aktif dengan kantor pusat PT.
Indonesia Power.
d) Membuat laporan tertulis kepada kantor pusat PT. Indonesia
Power setelah terjadi bencana
2) Komandan Unit
a) Bertanggung Jawab atas pengendalian seluruh keadaan darurat
bencana
b) Memerintahkan tim komunikasi membunyikan tanda alarm
keadaan darurat bencana dan tanda keadaan alarm telah aman.
c) Membuat laporan tertulis tentang pengendalian bencana setelah
kejadian darurat berakhir kepada Pembina.
3) Wakil Komandan Unit
a) Mengambil alih pimpinan sebagai Komandan Unit bilamana
Komandan Unit berhalangan.
b) Bertanggung jawab atas pengendalian seluruh keadaan darurat
bencana.
c) Memerintahkan tim komunikasi membunyikan tanda alarm
keadaan darurat bencana dan tanda keadaan alarm telah aman.
d) Bersama-sama dengan Komandan Unit didalam pembuatan
laporan tertulis tentang kejadian dan pengendalian darurat
bencana setelah pasca kejadian kepada Pembina.
4) Tim Investigasi UP Mrica
a) Menghitung kerugian akibat bencana yang terjadi.
b) Membuat berita acara hasil investigasi tentang kejadian bencana.
c) Membuat laporan final mengenai seluruh pengendalian bencana
kepada Pembina dengan persetujuan Komandan Unit.

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

5) Koordinator Unit
a) Memonitor/mencari nformasi bila ada bencana susulan serta
(menentukan siaga I, II, III).
b) Menghentikan Unit Pembangkit Pada Siaga I.
c) Bertanggung Jawab di dalam mengamankan personil.
d) Melaporkan perkembangan pasca bencana kepada Komandan
Unit.
e) Membuat laporan tertlis mengenai kejadian kepada Komandan
Unit.
6) Koordinator Pengamanan
a) Mengamnakan area bencana dan system pembangkitan
b) Membuat barikade untuk mengamankan Personil, Aset, dan
Dokumen.
c) Membuat laporan tertulis mengenai kejadian kepada Komandan
Unit.
7) Koordinator komunikasi
a) Menjalin kelancaran sarana komunikasi eksternal dan internal.
b) Melaksanakan kominikasi eksternal dan internal.
c) Membunyikan sirine/ alarm keadaan darurat bencana & tanda
aman atas perintah dari Komandan Unit.
d) Membuat laporan tertulis Tim Komunikasi kepada Komandan
Unit.
8) Koordinator Medis
a) Melakukan pertolongan pertama pada korban
b) Menyiapkan obat obatan dan alat bantu P3K.
c) Mengantar korban ke rumah sakit jika diperlukan.
d) Membuat laporan tertulis Tim Medis kepada Komandan Unit.
9) Koordinator Prasarana
a) Menyediakan konsumsi selama keadaan darurat.
b) Menyediakan sarana angkutan sesuai kebutuhan.
c) Menyediakan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan.
d) Membuat dokumentasi penanggulangan kejadian bencana.
e) Mendokumentasikan kejadian bencana.
10) Koordinator Pemulihan Sistem
a) Menginventarisasi gangguan/ kerusakan system akibat bencana.
b) Membuat rencana pemulihan sistem.
c) Melaksanakan pemulihan sistem.
b. Sistem Tanggap Darurat Kebakaran PT. Indonesia Power UP Mrica

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

(m) Tanggap darurat benca adalah serangkaian kegiatan yang


dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani
dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan
dan evakuasi korban (PP No. 21 Tahun 2008). Kebakaran sangat rentan
terjadi di PT. Indonesia Power UP Mrica yang bergerak dalam bidang
ketenagalistrikan. Kondisi darurat tersebut sampai sat ini belum pernah
terjadi. Risiko yang dapat menimbulkan kebakaran tidak dapat
dihilangkan, namun risiko tersebut dapat diminimalisir bahaya kebakaran
tersebut secara umum antara lain :
1) Melakukan pemeriksaan instalasi listrik secara rutin.
2) Melakukan pemeriksaan peralatan pembangkit secara rutin.
3) Melakukan perbaikan sesegera mungkin apabila terjadi kerusakan.
4) Memisahkan penempatan material sesuai dengan kelompokkelompok tertentu.
(n)

PT. Indonesia Power UP Mrica sendiri sudah beberapa kali

mendapatkan penghargaan antara lain :


a)
b)
c)
d)

Sertfikat ISO 9001: 2000


Sertfikat ISO 14001: 2004
Sertifikat SMK3
Penghargaan bendera Emas sebagai bentuk penghargaan atas

kinerja pegawai melaksanakan SMK3 dengan nilai > 85%


e) Penghargaan Nihil Kecelakaan (Zero Accident Award)
(o)

PT. Indonesia Power UP Mrica sendiri telah memiliki prosedur

tanggap darurat untuk penanggulangan bencana kebakaran, yaitu :

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

1) Orang/pegawai terdekat ke tempat kebakaran berteriak dan orang


yang mampu memadamkan melaksanakan pemadaman dan yang
lain melaporkan ke Komandan/ Wakil Komandan Unit.
2) Bila api berhasil/ tidak berhasil dipadamkan, SPS terkait membuat
laporan kepada Komandan/ Wakil Komandan Unit.
3) Komandan Unit menginstruksikan Tim Penanggulangan Kebakaran
standby di tempat evakuasi terdekat ke area kebakaran.
4) Komandan Tim memastikan sumber dari kabakaran dan menilai
kebakaran
a) Jika kebakaran bisa dipadamkan sendiri, Tim Penanggulangan
Kebakaran melaksanakan pemadaman sendiri.
b) Jika kebakaran tidak bisa dipadamkan sendiri, komandan unit
mengadakan koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Kabupaten Banjarnegara, Polisi, Muspika untuk meminta bantuan
5) Komandan Unit menginstruksikan Tim Komunikasi membunyikan
alarm bahaya kebakaran.
6) Tim Penanggulangan Kebakaran menuju lokasi untuk menanggulangi
kebakaran dan Tim Pengaman Area memasang barikade untuk
mengisolasi area tersebut agar orang yang tidak berkepentingan tidak
memasuki area tersebut.
7) Tim Evakuasi menghitung jumlah karyawan yang sudah keluar dari
tempat kebakaran tersebut.
8) Jika pemadaman telah selesai, Komandan Unit menginstruksikan Tim
Komunikasi membunyikan alarm tanda aman.
9) Tim Operasional, Tim Keamanan, Tim Komunikasi dan Tim Medis
membuat laporan kepada Komandan Unit 1 hari setelah terjadi
kebakaran.
10) Wakil Manager membuat permohonan tindakan perbaikan dan
pencegahan.

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

11) General Manager melapor ke kantor pusat PT. Indonesia Power dan
Instansi terkait lainnya.
c. Peralatan dan Perlengkapan Tanggap Darurat Kebakaran PT.
Indonesia Power UP Mrica
(p)
Peralatan dan perlengkapan tanggap darurat kebakaran
sangat dibutuhkan untuk meminimalisir risiko kebakaran yang mungkin
terjadi. PT Indonesia Power sendiri Alat Pemadam Kebakaran yang
diperiksa dan dipantau secara rutin setiap bulan.
(q)
Peralatan tersebut diletakkan di tempat strategis yang
mudah dijangkau dan tempat yang mempunyai resiko kebakaran.
Peralatan tersebut juga dilengkapi dengan cara penggunaannya. Berikut
merupakan daftar perlengkapan tanggap darurat kebakaran PT. Indonesia
Power UP Mrica yaitu :
1) Daftar Perlengkapan dan Peralatan Kebakaran
a)
b)
c)
d)
e)

AF 11
Dry Chemical
Pompa Hydrant
Nozel
Selang

f)
g)
h)
i)
j)

Tabung O2 Nafas
Baju Tahan Api
Hose Reel
System Alarm Nozel
Tabung CO2

2) Perlengkapan Pendukung Gawat Darurat Kebakaran


a) Pintu Keluar Darurat
b) Rambu Petunjuk Arah
c) Smoke, Flame, Heat Detector
d) Sprinkle
e) Water Supply System
3)
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dibedakan menjadi beberapa
jenis tergantung dari jenis kebakarannya. Berikut merupakan klasifikasi
kebakaran dan Jenis Bahan Pemadaman, antara lain :
1) Kebakaran kelas A adalah kebakaran bahan biasa / benda padat yang
mudah terbakar seperti kertas,kayu, tekstil,dan sejenisnya jenis bahan

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

pemadam yang di pakai adalah air sebagai alat pemadam pokok,


CO2, dan bahan pemadam kimia lainya di pakai secara terbatas
2) Kebakaran kelas B adalah kebakaran cairan dan gas yang mudah
terbakar seperti bensin, solar, avtur, alkohol, LPG, LNG, dan
sejenisnya jenis bahan pemadam yang di pakai adalah busa ( foam )
sebagai alat pemadam pokok, dan jenis pemadam kimia sebagai
pelengkap
3) Kebakaran kelas C adalah kebakaran yang di sebabkan oleh listrik
seperti hubungan pendek jenis bahan pemadam yang di pakai adalah
CO2 sebagai bahan pemadam pokok, dan jenis pemadam kimia
sebagai pelengkap, sedangkan jenis bahan pemadam busa
( foam ) tidak boleh di gunakan karena konduktif terhadap listrik
4) Kebakaran kelas D adalah kebakaran logam seperti magnesium,
alumunium, titanium, dan sejenisnya jenis bahan pemadam khusus /
4)

metal powder
Peralatan dan perlengkapan harus dilakukan pemeriksaan secara

rutin agar alat tersebut selalu dalam kondisi yang baik dan laik pakai dan
berfungsi secara optimal saat akan digunakan. Berikut merupakan prosedur
pemeliharaan peralatan dan perlengkapan tanggap darurat yaitu :
1) APAR
a) Memeriksa keadaan selang tidak pecah dan tidak bocor.
b) Memeriksa keadaan tabung dan pastikan tidak terdapat kotoran yang
memungkinkan dapat menimbulkan korosi.
c) Memeriksa campuran isi tabung dengan cara membolak-balik tabung.
d) Memeriksa tekanan tabung dengan membaca manometer pada skala
tekanan tabung.
e) Pemeriksaan tersebut dilakukan secara rutin setiap sebulan sekali.
2) Hydrant

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

a) Memeriksa tonggak hydrant, pastikan kran dan valve dalam keadaan


baik, membersihkan tonggak hydrant dari kotoran yang dapat
menimbulkan korosi.
b) Memeriksa selang hydrant dalam keadaan kering, tidak pecah dan
bocor, serta gulungan selang dalam keadaan baik.
c) Menyimpan Nozel dan selang pada kotak yang tersedia.
d) Pemeriksaan tersebut dilakukan secara rutin setiap setahun sekali.
3) Sprinkle
a) Periode Harian
(1) Memastikan pipa kerja tidak terdapat kebocoran.
(2) Memeriksa supply udara kompresor. Memastikan katup isolasi
suplai udara tidak terdapat kebocoran.
(3) Memastikan supply air pada tekanan normal dan tetap.
b) Periode Mingguan
5) Memastikan Sight Drip Feed dan air pemancing katup banir kupukupu otomatis tidak ada aliran air yang mengalir
c) Periode Bulanan
(1) Menguji saklar start dan stop kompresor saluran air detector
pada tekanan yang sesuai.
(2) Menguras saluran udara asemli katup banjir kupu-kupu otomatis
(3) Memeriksa detector dan Sprinkle Bola Quartzoid dari debu dan
kotoran lain.
4) Sistem CO2
a) Periode harian
(1) Memeriksa panel alarm CO2
(2) Memastikan indicator Main On pada posisi menyala
(3) Memastikan posisi saklar otomatis, saklar manual, dan saklar
isolasi pada posisi normal.
b) Periode mingguan
(1) Membersihkan tabung CO2 dari debu dan kotoran lain yang dapat
menimbulkan karat dan kerusakan lainnya.
(2) Memastikan tuas manual pada setiap pipa penggerak berada
pada posisi normal dan pena pengamannya terpasang.
(3) Memastikan tekanan tabung nitrogen. Bila tekanan berada di
bawah 50 bar, maka tabung harus segera diisi atau diganti.
c) Periode bulanan

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

6) Memeriksa dan membersihkan nozel, jika rusak maka harus


diganti.
5) Alarm
a) Memastikan panel akarm tidak terdapat gangguan maupun keusakan.
b) Memastikan indikator Suplai On berada pada posisi menyala
c) Memastikan indikator Power On berada pada posisi menyala
d) Memastikan tiap saklar control berada pada posisi normal atau I/R
dengan indikator circuit bolated menyala.
6) Sistem Supply Air
a) Periode Harian
(1) Pemeriksaan motor pompa
(2) Membersihkan lubang-lubang ventilasi dan permukaan luar pada
setiap motor dari debu dan kotoran lainnya.
(3) Pemeliharaan pipa kerja
(4) Pemeriksaan kebocoran dan sambungan- sambungan skrup,
flens, dan las dari pipa kerja yang berisi air, serta memeriksa
posisi dan pengaman penyokong pipa
b) Periode Mingguan
7) Pemeriksaan pengoperasian Pompa Air secara Manual dan
Otomatis
c) Periode 3 Bulanan
8) Pemriksaan dan pembersihan stainer.
d. Upaya Penanggulangan Kondisi Gawat Darurat Kebakaran Di PT.
Indonesia Power UP Mrica
9) PT. Indonesia Power telah melakukan upaya untuk menghadapi
kemungkinan kondisi gawat darurat kebakaran yaitu dengan mengadakan
simulasi dan pelatihan secara rutin, diantaranya :
1) Pelatihan untuk menghadapi kondisi darurat kebakaran
a) Pelatihan Pemadam Kebakaran
10)
Pelatihan pemadam kebakaran ditujukan kepada
Tim Khusus Penanggulangan Kebakaran dan seluruh pegawai PT.
Indonesia Power UP Mrica dalam kurun setahun sekali. Pegawai
PT. Indonesia Power UP Mrica secara bergantian melakukan

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

pelatihan memadamkan api dengan menggunakan Alat Pemadam


Api Ringan (APAR) dan dengan pemadaman secara tradisional.
11)
Pelatihan penggunaan hydrant hanya dilakukan
oleh tim khusus penanggulangan kebakaran. PT Indonesia Power
sendiri sebenarnya telah memiliki tim khusus penanggulangan
kebakaran tetapi anggota tim tersebut sudah pension dan belum
ada penggantinaya, sehingga apabila melakukan simulasi
kebakaran PT Indonesia Power bekerjasama dengan Pemadam
Kebakaran dan BPBD Banjarnegara. Selain pelatihan yang
dilakukan setiap setahun sekali, PT. Indonesia Power juga
mengirimkan tim penanggulangan khusus kebakaran untuk
mengikuti pelatihan di lembaga lembaga pelatihan bersertifikat
guna mengadakan pelatihan kepada tim penanggulangan
kebakaran. Untuk simulasi kebakaran tahun 2016 telah
dilaksanakan pada tanggal 28-29 Maret 2016.
b) Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
12)
Tim Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah
tim yang harus ada pada lokasi kejadian karena memiliki
kemampuan dalam penanganan medis apabila ada korban yang
membutuhkan pertolongan. Peran dari P3K sendiri adalah
memberikan pertolongan dan perawatan pada korban kecelakaan
atau cedera yang memerlukan penanganan medis dasar.
13)
14)
2) Simulasi menghadapi kondisi darurat
15) PT. Indonesia Power sendiri telah mengadakan simulasi
sebagai salah satu upaya mempersiapkan kondisi darurat kebakaran

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

yang mungkin terjadi. Dengan adanya simulasi ini maka pegawai


dapat menghadapi kondisi gawat darurat dengan baik. Simulasi
dilakukan dan hasilnya di evaluasi.
e. Simulasi Tanggap Darurat 29 Maret 2016
16)
Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja dan PP No. 50 tahun 2012 tentang
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3) bahwa perusahaan harus memiliki rencana untuk menghadapi
keadaan darurat yang potensial terjadi di tempat kerja, maka PT.
Indonesia Power Unit Pembangkitan Mrica membentuk tim tanggap
darurat sesuai Surat Pemberitahuan General Manager No:
038.Pt/014/UPMRC/2015 tentang Pembentukan Tim Tanggap Darurat
di lingkungan PT.Indonesia Power UP Mrica. Dengan pembentukan tim
tanggap darurat tersebut, dan sesuai dengan UU No.1 tahun 1970
Pasal 9 ayat (3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan
bagi semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, dalam
pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta
peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam
pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan

serta

KEPMENAKER No Kep 186/Men/1999 Pasal 2 ayat (1)


Pengurus atau pengusaha wajib mencegah, mengurangi dan
memadamkan kebakaran, latihan penanggulanggan kebakaran di
tempat kerja , maka perlu dilakukan pelatihan simulasi tanggap
darurat di lingkungan PT.Indonesia Power UP Mrica. Hal ini
sejalan dengan SK Direksi no SK 41.K/010/IP/2012 Pasal 21 (Kesiapan

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

Peralatan) dan Pasal 22 (Keadaan Darurat) Ayat (4) Pengujian,


Simulasi, dan latihan harus didampingi oleh tenaga kerja atau
penanggungjawab di bidangnya yang sesuai dan memiliki
kompetensi, serta rencana kerja K3 PT.Indonesia Power UP Mrica
tahun 2015.
17)
Pelatihan simulasi tanggap darurat bahaya kebakaran tahun
2015, dilakukan di area rawan kebakaran, yaitu di PLTA PB.Soedirman,
sehingga diharapkan kesiapan tim dan peralatan tanggap darurat dapat
teruji jika terjadi kebakaran.
1) Tujuan
a) Memberikan pelatihan / simulasi tanggap darurat bahaya
kebakaran kepada anggota tim tanggap darurat PT.Indonesia
Power UP Mrica
b) Menguji kesiapan peralatan tanggap darurat PT.Indonesia Power
UP Mrica
2) Ruang Lingkup
18)Pelatihan simulasi tanggap darurat bahaya kebakaran tahun
2016, dilaksanakan di area Trafo 2 PLTA PB.Soedirman,
dengan peran utama dilakukan oleh tim tanggap darurat
PT.Indonesia Power UP Mrica, dan menggunakan peralatan
tanggap darurat yang sudah siap di area trafo.
3) Perencanaan
a) Tim tanggap Darurat
19) Pembentukan Tim tanggap darurat PT. Indonesia
Power UP Mrica beserta tugas dan peran tanggung jawabnya,
sesuai dengan Surat Pemberitahuan General Manager
No:038.Pt/014/UPMRC/2015.
b) Area Simulasi dan Peralatan Tanggap Darurat
20)
Area simulasi tanggap darurat, berada di

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

service bay PLTA PB. Soedirman, dimana disana terdapat


potensi kebakaran pada ceceran oli, namun untuk melaksanakan
simulasi tanpa merusak lingkungan maka area kebakaran
dilakukan di jalan depan service bay. Guna kesiapan
tanggap darurat, di area tersebut telah disiapkan APAR, Box
Hydrant, APAT, dan tempat evakuasi berada di service bay.
21)
Pada lokasi kejadian disiapkan simulasi
kebakaran dan praktek penggunaan APAR (Alat Pemadam Api
Ringan) dan APAT (Alat Pemadam Api Tradisional). Untuk praktek
penggunaan APAR dan APAT telah disediakan drum belah yang
diisi bahan bakar dan dibakar yang kemuadian setiap karyawan
harus belajar memadamkan api tersebut dengan menggunakan
Alat Pemmadam Api Tradisional yaitu karung goni dan juga
menggunakan Alat Pemadam Api Ringan jenis powder dan CO2.
22)
Simulasi kebakaran dengan menggunakan tiang
yang sudah dililitkan kain dan dibasahi dengan bahan bakar yang
kemudian akan dipadamkan dengan menggunakan hydrant dan
dibantu dengan dinas pemadam kebakaran setempat.
4) Pelaksanaan
a) Pelatihan simulasi tanggap darurat diawali dengan
pemberitahuan GM terkait akan diadakannya simulasi tanggap
darurat di lingkungan PLTA PB.Soedirman. Pemberitahuan ini
berguna untuk memberitahukan/ mensosialisasikan kepada
seluruh tenaga kerja, bahwa akan dilaksanakan simulasi dan
diharapkan peran serta pada kegiatan tersebut. Sebelum
melaksanakan simulasi, dilaksanakan terlebih dahulu sosialisasi

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

skenario dan peran tanggung jawab tim tanggap darurat pada

b)

kegiatan simulasi.
Setelah melaksanakan sosialisasi skenario kepada seluruh
tenaga kerja dilingkungan PLTA PB.Soedirman, kemudian
seluruh tenaga kerja kembali ke tempat kerja masing-masing.
Kegiatan simulasi diawali dengan melaksanakan skenario 1, yaitu
operator yang sedang melaksanakan patrol menemukan
kebakaran di area service bay, kemudian mencoba melaksanakan

pemadaman menggunakan APAR yang tersedia di area tersebut.


c) Upaya operator melaksanakan pemadaman menggunakan APAR,
diskenariokan gagal. Sehingga melaksanakan tindakan
selanjutnya yaitu menggunakan fasilitas manual call point service
bay guna membunyikan alarm tanda terjadinya kebakaran di area
tersebut.
d) Setelah alarm berbunyi, komandan pengamanan area
melaksanakan evakuasi dan seluruh tenaga kerja dengan tidak
panic bergerak menuju tempat evakuasi yang telah ditentukan.
e) Sedangkan tim pemadaman melaksanakan pemadaman
f)

menggunakan hydrant yang berada di area terjadinya kebakaran.


Tim pemadam kebakaran sesuai struktur tim tanggap

darurat (Pegawai, Koperca, GPM) melaksanakan pemadaman.


g) Setelah api benar-benar bisa dipadamkan, kemudian komandan
pengamanan asset melaksanakan cek kelengkapan personel di
tempat evakuasi. Seluruh personel dapat dievakuasi dengan
f.

selamat dan pelaksanaan simulasi berakhir.


Rencana Tindakan
23)
Rencana Kegiatan yang dapat dilakukan oleh PT. Indonesia
Power UP Mrica agar pelaksanaan upaya tanggap darurat bisa berjalan

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

maksimal, antara lain :


1) Membuat Tim Penanggulangan Khusus Kebakaran PT. Indonesia
Power UP Mrica yang telah tersertifikasi.
2) Tidak meletakkan APAR di tanah dan harus dibuatkan gantungan
agar mudah diambil dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3) Harus sesegera mungkin mengganti APAR yang sudah kadaluwarsa.
4) Melakukan pengecekan fisik APAR dan melakukan sosialisasi cara
penggunaan APAR pada pekerja, cara penggunaan harus terdapat
pada APAR tersebut, dan apabila gambar petunjuk penggunaan
memudar, harus diberi label cara penggunaan yang baru.
5) Terdapat beberapa APAR yang menggunakan tali sebagai pengaman.
Menggunakan pen pengaman khusus untuk memudahkan
pengoperasian APAR saat terjadi keadaan darurat.
6) Kurangnya antusias karyawan terhadap kegiatan simulasi. Lebih
mensosialisasikan lagi pentingnya simulasi tanggap darurat di PT.
Indonesia Power UP Mrica.
g. Tindakan Intervensi
1) Melakukan pengecekan fisik APAR.
2) Memberikan sosialisasi kepada karyawan dalam penanganan upaya
tanggap darurat.
3) Mengikuti kegiatan tanggap darurat.
4) Membantu menjelaskan kepada sesame teman pkl tentang tanggap
darurat.
5) Berpartisipasi dalam memerikan solusi bagi permasalahan K3 yang
ada di lapangan.
24)
25)
26)
27)
28)
29)
30)

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

31)
32)
33)
34)
35)
36)
37)
38)
39)
40)
41)
42)
43)
44)
45)
46)
47)
48)
49)
50) BAB V
51) KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Susunan Tim Tanggap Darurat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pembina
Komandan Unit
Wakil Momandan Unit
Tim Investigasi
Koordinator Unit
Koordinator Pengaman
Koordinator Komunikasi

h. Koordinator Medis/P3k
i. Koordinator Pemulihan
j.

Sistem
Koordinator Pemulihan
Sarana

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

2. PT. Indonesia Power UP Mrica sendiri sudah beberapa kali mendapatkan


penghargaan antara lain :
a. Sertfikat ISO 9001: 2000
b. Sertfikat ISO 14001: 2004
c. Sertifikat SMK3
d. Penghargaan bendera Emas sebagai bentuk penghargaan atas
kinerja pegawai melaksanakan SMK3 dengan nilai > 85%
e. Penghargaan Nihil Kecelakaan (Zero Accident Award)
3. Perlengkapan tanggap darurat yang dimiliki oleh Indonesia Power UP
Mrica antara lain AF 11, Dry Chemical, Pompa Hydrant, Nozel, Selang,
Tabung O2 Nafas, Baju Tahan Api, Hose Reel, System Alarm Nozel,
Tabung CO2. Dan perlengkapan darurat antara lain Pintu Keluar Darurat,
Rambu Petunjuk Arah, Smoke, Flame, Heat Detector, Sprinkle, Water
Supply System.
4. Pemeriksaan peralatan tanggap darurat :
a. APAR : Periode Bulanan
b. Hydrant : Periode Tahunan
c. Sprinkle : Periode Harian, Bulanan, dan Tahunan
d. Sistem CO2 : Periode Harian, Bulanan, dan Tahunan
e. Alarm : Periode Bulanan
f. System Supply Air : Periode Harian, Bulanan, dan Tahunan
5. PT. Indonesia Power telah melakukan upaya untuk menghadapi
kemungkinan kondisi gawat darurat kebakaran yaitu dengan mengadakan
simulasi dan pelatihan secara rutin, diantaranya pelatihan untuk
menghadapi kondisi darurat kebakaran dan Simulasi menghadapi kondisi
darurat. Pelatihan menghadapi kondisi darurat dibagi menjadi pelatihan
pemadam kebakaran dan pelatihan pertolongan medis yang dilakukan
setiap 6 bulan sekali dan simulasi tanggap darurat dilakukan setiap
setahun sekali.
6. Permasalahan yang ditemukan dalam upaya tanggap darurat antara lain :
a. Terdapat penempatan jenis APAR yang tidak sesuai dengan jenis
kebakarannya.

Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes

b. Terdapat APAR yang tergeletak di tanah.


c. Terdapat APAR yang tidak memakai pen pengaman khusus sehingga
saat APAR akan lebih sulit dalam melepaskan saat akan digunakan
dalam kondisi darurat.
d. Kurang antusias dan serius para pekerja dalam melakukan simulasi
tanggap darurat kebakaran.
e. Belum memiliki tim penanggulangan kebakaran sendiri sehingga
apabila ada kebakaran menggunakan bantuan dari Damkar setempat.
B. SARAN
a. Peletakkan APAR sesuai dengan jenis kebakaran sehingga APAR
tersebut bisa berfungsi semaksimal mungkin.
b. Pemasangan alat pemadam api ringan harus sedemikian rupa sehingga
bagian paling atas (puncaknya) berada pada ketinggian 1,2 m dari
permukaan lantai kecuali jenis CO2 dan tepung kering (dry chemical)
dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat, jarak antara dasar alat
pemadam api ringan tidak kurang 15 cm dan permukaan lantai.
c. Melakukan sosialisasi terhadap pekerja supaya lebih antusias dan lebih
serius lagi dalam melakukan upaya tanggap darurat.
d. Membentuk tim tanggap darurat penanggulangan kebakaran sehingga
ketika keadaan darurat terjadi bisa cepat tertangani.