Anda di halaman 1dari 17

A.

PENDAHULUAN
1. Pengertian
BPH merupakan penyakit degeneratif yang lebih sering terjadi kepada orang dengan usia
alebih lanjut. Pada usia yang lanjut masalah yang mungkin muncul pada kasus BPH aklan
lebih komplek karena psikologis yang menurun, ketahanan tubuh yang menurun.
Setiap pasien yang masuk rumah sakit pastilah mempunyai masalah, dan mereka berharap
besar bahwa masalahnya akan segera terselesaikan. Akan lebih baik apabila kita tidak
hanya berprioritas menyelesaikan maslaahnya saja tetapi juga menyiapkan pasien agar
mampu mengatasai masalah setelah sepulang dari rumah sakit.
Agar hal tersebut bisa dicapai maka pasien BPH memerlukan perawatan yang
komprehensif dan profesional. Agar pasien merasa terlindungi dan terjada dari masalah
yang muncul akibat penyakitnya.
2.
Tujuan
Tujuan dalam penulisan ini adalah :
a. Mengetahui dan memehami tentang penyakit BPH dan penatalaksanaannya.
b. Mengetahui dan memahami masalah keperawatan yang muncul pada kasus BPH
c. Menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien dnegan BPH.
A. TINJAUAN PUSTAKA
1.
Pengertian
BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang
dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra).
2.
Etiologi
Mulai ditemukan pada umur kira-kira 45 tahun dan frekuensi makin bertambah sesuai
dengan bertambahnya umur, sehingga diatas umur 80 tahun kira-kira 80 % menderita
kelainan ini.
Sebagai etiologi sekarang dianggap ketidakseimbangan endokrin. Testosteron dianggap
mempengaruhi bagian tepi prostat, sedangkan estrogen (dibuat oleh kelenjar adrenal)
mempengaruhi bagian tengah prostat.
3.
Faktor Predisposisi/Faktor Pencetus
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga
timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :
a. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
b. Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan
stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.
c. Ketidak seimbangan estrogen testoteron
d. Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan
penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap yang dapat menyebabkan terjadinya
hyperplasia stroma.
e. Interaksi stroma - epitel

f. Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan
transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.
g. Penurunan sel yang mati
h. Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel
dari kelenjar prostat.
i.
Teori stem cell
j.
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
4.
Patofisiologi
BPH terjadi pada umur yang semakin tua (> 45 tahun ) dimana fungsi testis sudah
menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon
testosteron dan dehidrotesteosteron sehingga memacu pertumbuhan/pembesaran prostat.
Makrokospik dapat mencapai 60 - 100 gram dan kadang-kadang lebih besar lagi hingga
200 gram atau lebih. Tonjolan biasanya terdapat pada lobus lateralis dan lobus medius,
tetapi tidak mengenai bagian posterior dari pada lobus medialis, yaitu bagian yang dikenal
sebagai lobus posterior, yang sering merupakan tempat berkembangnya karsinoma
(Moore). Tonjolan ini dapat menekan urethra dari lateral sehingga lumen urethra
menyerupai celah, atau menekan dari bagian tengah. Kadang-kadang penonjolan itu
merupakan suatu polip yang sewaktu-waktu dapat menutup lumen urethra. Pada
penampang, tonjolan itu jelas dapat dibedakan dengan jaringan prostat yang masih baik.
Warnanya bermacam-macam tergantung kepada unsur yang bertambah.
Apabila yang bertambah terutama unsur kelenjar, maka warnanya kung kemerahan,
berkonsistensi lunak dan terbatas tegas dengan jaringan prostat yang terdesak, yang
berwarna putih keabu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan maka akan keluar
caiaran seperti susu. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka tonjolan
berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan seperti halnya jaringan prostat
yang terdesak sehingga batasnya tidak jelas. Gambaran mikroskopik juga bermacammacam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Biasanya yang lebih banyak
berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar dan terbentuk
kista-kista yang dilapisi oleh epitel torak atau koboid selapis yang pada beberapa tempat
membentuk papil-papil ke dalam lumen. Membran basalis masih utuh. Kadang-kadang
terjadi penambahan kelenjar yang kecil-kecil sehingga menyerupai adenokarsinoma.
Dalam kelenjar sering terdapat sekret granuler, epitel yang terlepas dan corpora anylacea.
Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka terjadi gambaran yang terjadi atas
jaringan ikat atau jaringan otot dengan kelenjar-kelenjar yang letaknya saling berjauhan.
Gambaran ini juga dinamai hiperplasi fibrimatosa atau hiperplasi leiomymatosa.
Pada jaringan ikat atau jaringan otot biasanya terdapat serbukan limfosit. Selain gambaran
di atas sering terdapat perubahan lain berupa :
a. Metaplasia skwamosa epitel kelenjar dekat uretra.
b. Daerah infark yang biasanya kecil-kecil dan kadang-kadang terlihat di bawah
mikroskop.
Tanda dan gejala dari BPH adalah dihasilkan oleh adanya obstruksi jalan keluar urin dari
kandung kemih.
Ada tiga cara pengkuran besarnya hipertropi prostat :

a. Rectal Grading, yaitu dengan rectal toucher diperkirakan berapa cm prostat yang
menonjol ke dalam lumen rektum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli kosong.
Gradasi ini adalah :
0 - 1 cm
: grade 0
1 - 2 cm
: grade 1
2 - 3 cm
: grade 2
3 - 4 cm
: grade 3
> 4 cm
: grade 4
Pada grade 3 - 4 batas prostat tidak teraba. Prostat fibrotik, teraba lebih kecil dari normal.
b. Clinical Grading, dalam hal ini urine menjadi patokan. Pada pagi hari setelah bangun
pasien disuruh kencing sampai selesai, kemudian di masukan kateter ke dalam buli-buli
untuk mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc
: normal
Sisa urine 0-50 cc
: grade 1
Sisa urine 50-150 cc
: grade 2
Sisa urine > 150 cc
: grade 3
Tidak bisa kencing
: grade 4
c. Intra Uretral Grading, dengan alat perondoskope dengan diukur / dilihat bebrapa
jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen uretra.
Grade I :
Clinical grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kalau kencing tidak
lancar, pancaran lemah, nokturia.
Grade II :
Bila miksi terasa panas, sakit, disuria.
Grade III :
Gejala makin berat
Grade IV :
Buli-buli penuh, disuria, overflow inkontinence. Bila overflow inkontinence dibiarkan
dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat. Pasien menggigil, panas 4041 celsius, kesadaran menurun.
5.
Tanda dan gejala
Walaupun hyperplasi prostat selalu terjadi pada orangtua, tetapi tidak selalu disertai
gejala-gejala klinik.
Gejala klinik terjadi terjadi oleh karena 2 hal, yaitu :
a. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
b. Retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi kandung kemih,
hipertrofi kandung kemih dan cystitis.
Gejala klinik dapat berupa :
a. Frekuensi berkemih bertambah
b. Berkemih pada malam hari.
c. Kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih.

d. Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih.


e. Rasa nyeri pada waktu berkemih.
Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali tidak dapat berkemih
sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. Selain gejala-gejala di atas oleh karena air
kemih selalu terasa dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan
selanjutnya kerusakan ginjal yaitu hydroneprosis, pyelonefritis.
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai
Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :
a. Gejala Obstruktif yaitu :
1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan
yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama
meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra
prostatika.
2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena
ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai
berakhirnya miksi.
3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan
waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
b. Gejala Iritasi yaitu :
1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam
hari (Nocturia) dan pada siang hari.
3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.
6.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologi
Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk
a. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
c. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat
Hyperplasia atau tidak
Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi,
dipertikel buli.
Indikasi
: disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter
b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko
ureter/striktur uretra.
d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai
pembesaran prostat jinak/ganas
Pemeriksaan Endoskopi.
Pemeriksaan Uroflowmetri

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli
Q max : > 15 ml/detik non obstruksi
10 - 15 ml/detik border line
< 10 ml/detik obstruktif
Pemeriksaan Laborat
a. Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K,
Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)
Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau
PUS.
b. RFT evaluasi fungsi renal
c. Serum Acid Phosphatase Prostat Malignancy
7.
Penatalaksanaan
A. Non Pembedahan
1. Memperkecil gejala obstruksi hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.
2. Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic
mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.
3. Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic, anti histamin,
decongestan.
4. Observasi Watchfull Waiting
Yaitu pengawasan berkala/follow up tiap 3 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung
keadaan klien, Indikasi : BPH dengan IPPS Ringan, Baseline data normal, Flowmetri
non obstruksi
5. Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia
Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan, sedang
dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih terdapat kontra
indikasi atau belum well motivated. Obat yang digunakan berasal dari Fitoterapi,
Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker.
a. Fito Terapi
1. Hypoxis rosperi (rumput)
2. Serenoa repens (palem)
3. Curcubita pepo (waluh )
b. Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen :
1. Inhibitor 5 alfa reduktase
2. Anti androgen
3. Analog LHRH
c. Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretra-prostatika :
Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin
6. Bila terjadi retensi urine
a. Kateterisasi Intermiten
Indwelling
b. Dilakukan pungsi blass
c. Dilakukan cystostomy
7. Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)
B. Pembedahan

1. Trans Uretral Reseksi Prostat : 90 - 95 %


2. Open Prostatectomy
: 5 - 10 %
BPH yang besar (50 - 100 gram) Tidak habis direseksi dalam 1 jam. Disertai Batu Buli
Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.
Mortalitas Pembedahan BPH
0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd
Septikemia dengan Syok
Perdarahan Massive
Kepuasan Klien : 66 95 %
Indikasi Pembedahan BPH
Retensi urine akut
Retensi urine kronis
Residual urine lebih dari 100 ml
BPH dengan penyulit
v Hydroneprosis
v Terbentuknya Batu Buli
v Infeksi Saluran Kencing Berulang
v Hematuri berat/berulang
v Hernia/hemoroid
v Menurunnya Kualitas Hidup
v Retensio Urine
v Gangguan Fungsi Ginjal
Terapi medikamentosa tak berhasil
Sindroma prostatisme yang progresif
Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif
v Flow. Max kurang dari 10 ml
v Kurve berbentuk datar
v Waktu miksi memanjang
Kontra Indikasi

IMA

CVA akut
Tujuan :

Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli

Memperbaiki kualitas hidup


Trans Uretral Reseksi Prostat 90 - 95 %
Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.
Keuntungan :

Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan

Tak perlu insisi pembedahan

Hospitalisasi dan penyebuhan pendek


Kerugian :

Jaringan prostat dapat tumbuh kembali

Kemungkinan trauma urethra strictura urethra.


Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

Perianal Prostatectomy
Pembesaran prostat disertai batu buli-buli
Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif
Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat
8. patway

9.

Pengkajian

a
Sirkulasi :
Peningkatan tekanan darah (efek lebih lanjut pada ginjal )
b
Eliminasi :

Penurunan kekuatan / kateter berkemih.

Ketidakmampuan pengosongan kandung kemih.

Nokturia, disuria, hematuria.

Duduk dalam mengosongkan kandung kemih.

Kekambuhan UTI, riwayat batu (urinary stasis).

Konstipasi (penonjolan prostat ke rektum)

Masa abdomen bagian bawah, hernia inguinal, hemoroid (akibat peningkatan


tekanan abdomen pada saat pengosongan kandung kemih)
c
Makanan / cairan:

Anoreksia, nausea, vomiting.

Kehilangan BB mendadak.
d
Nyeri / nyaman :

Suprapubis, panggul, nyeri belakang, nyeri pinggang belakang, intens (pada


prostatitis akut).
e
Rasa nyaman : demam
f
Seksualitas :

Perhatikan pada efek dari kondisinya/tetapi kemampuan seksual.

Takut beser kencing selama kegiatan intim.

Penurunan kontraksi ejakulasi.

Pembesaran prostat.
g
Pengetahuan / pendidikan :

Riwayat adanya kanker dalam keluarga, hipertensi, penyakit gula.

Penggunaan obat antihipertensi atau antidepresan, antibiotika / antibakterial untuk


saluran kencing, obat alergi.

PRE OPERATIF CARE


Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan
memberikan informasi yang akurat pada klien

Type pembedahan

Jenis anesthesi TUR P, general / spina anesthesi

Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).


Persiapan orerasi lainnya yaitu :

Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit

Pemeriksaan EKG

Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG.

Pemeriksaan Uroflowmetri Bagi penderita yang tidak memakai kateter.

Pemasangan infus dan puasa


Pencukuran rambut pubis dan lavemen.

Pemberian Anti Biotik

Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).


POST OPERATIF CARE
Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap
respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien :
1. Airway
: Bebaskan jalan fafas
Posisi kepala ekstensi
Breathing : Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan
Observasi pernafasan
Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine
pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat.
Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali
Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada
terjadinya perdarahan segera cek Hb dan lapor dokter.
Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau
delir harus waspada terjadinya syndroma TUR segera lapor dokter.
Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh
bekuan darah terjadi retensi urine dalam buli-buli lapor dokter, spoling dengan PZ
tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih
tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling
diteruskan sampai urine jernih.
Bila perlu Analisa Gas Darah
Apakah terjadi kepucatan, kebiruan.
Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.
2. Pemberian Anti Biotika
Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril.
Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 4 jam sebelum operasi.
Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur
urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan
peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah
septicemia.
3. Perawatan Kateter
Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang
(treeway catheter) ukuran 24 Fr.
Ketiga lubang tersebut gunanya :
1. Untuk mengisibalon, antara 30 40 ml cairan
2. Untuk melakukan irigasi/spoling
3. Untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).
Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke
salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 5 kg. Paha ini tidak boleh
fleksi selama traksi masih diperlukan.
Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha
bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian

penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang
diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.
Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher buli-buli
karena mengalami ischemia.
Tujuan pemberian spoling/irigasi :
1. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar.
2. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter
3. Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ
Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan
warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka
spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas.
Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi
penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau
dilakukan uroflowmetri.
Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :
1. Terbentuknya bekuan darah
2. Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi.
10. Diagnosa Keperawatan
a Pre operasi
1. Retensi urin
2. Nyeri kronis
3. Cemas
b Post operasi
1. Nyeri akut
2. Kurang pengetahuan
3. Risiko infeksi

11. Rencana Keperawatan


No
1.

Diagnosa keperawatan

Kerusakan eliminasi urine ur

Definisi :
Pengosongan kandung kemih

Batasan karakteristik :
Distensi kandung kem
Sedikit, sering kencin
Urin jatuh menetes
Disuria
Inkontinentia overflow
Urin residual
Sensasi penuh dari ka

Faktor yang berhubungan :


Infeksi traktus urinaru
Obstruksi anatomik
Penyebab multiple
Kerusakan sensori mo

2.

Nyeri Kronis

Definisi :
Sensori yang tidak menyena

serangan mendadak atau pela

Batasan karakteristik :
Laporan secara verba
Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhatiMuka topeng
Gangguan tidur (mata
Terfokus pada diri sen
Fokus menyempit (pe
Tingkah laku distraks
Respon autonom (sep
Perubahan autonomic
Tingkah laku ekspres
Perubahan dalam nafs

Faktor yang berhubungan :


Agen injuri (biologi, kimia, f

3.

Nyeri akut b/d cidera fisik ak

Definisi :
Sensori yang tidak menyena
serangan mendadak atau pela

Batasan karakteristik :
Laporan secara verba
Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhatiMuka topeng
Gangguan tidur (mata
Terfokus pada diri sen
Fokus menyempit (pe
Tingkah laku distraks

Respon autonom (sep


Perubahan autonomic
Tingkah laku ekspres
Perubahan dalam nafs

Faktor yang berhubungan :


Agen injuri (biologi, kimia, f

4.

Kurang pengetahuan tentang

Definisi :
Tidak adanya atau kurangnya

Batasan karakteristik : memv

Faktor yang berhubungan : k

5.

Resiko Infeksi b/d tindakan i

Definisi : Peningkatan resiko

Faktor-faktor resiko :
Prosedur Infasif
Ketidakcukupan peng
Trauma
Kerusakan jaringan d
Ruptur membran amn
Agen farmasi (imuno

6.

Malnutrisi
Peningkatan paparan
Imonusupresi
Ketidakadekuatan im
Tidak adekuat pertaha
Tidak adekuat pertaha
Penyakit kronik

Cemas b/d perubahan status

Definisi :
Perasaan gelisah yang tak j
antisipasi terhadap bahaya. S
Ditandai dengan
Gelisah
Insomnia
Resah
Ketakutan
Sedih
Fokus pada diri
Kekhawatiran
Cemas

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,
Linda
Jual.
(1995). Rencana
Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Asuhan

&

Dokumentasi

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.


Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press.
Surabaya
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.
Guyton, Arthur C, Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit, EGC Penerbit buku
kedokteran, Jakarta, 1987.
Johnson.,
Mass. 1997.
Nursing
on: www.Minurse.com, 28 Oktober 2009

Outcomes

Classification,

Availabel

McCloskey, Joanne C,. Bulecheck, Gloria M. 1996. Nursing Intervention Classsification


(NIC). Mosby, St. Louise.
NANDA, 2002. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002),
Philadelphia.