Anda di halaman 1dari 27

Case Report Session

ISCHIALGIA PADA PENYAKIT


HERNIA NUKLEUS PULPOSUS ( HNP )

Oleh:
Elsa Giatri 1110313060
Preseptor :
dr. Medi Syaputra, Sp.S

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


RSUP DR M DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Ischialgia menurut bahasa yaitu ischias artinya serangan pangkal paha atau nyeri di
daerah pangkal paha (nervus ischiadicus).1 Prevalensi ischialgia diperkirakan 5%-10% pasien
dengan nyeri pinggang bawah mengalami ischialgia. Prevalensi tahunan ischialgia diskogenik
dalam populasi umum berkisar 2,2%. 2 Ditinjau dari segi anatomik, ischialgia terjadi karena
perangsangan terhadap radiks yang ikut menyusun nervus ischiadicus.

Ischialgia timbul

akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang berasal dari radiks posterior L.4 sampai
dengan S.3.3
Selain anamnesis keluhan ischialgia yang khas, diagnosis ischialgia juga didukung
dengan pemeriksaan fisik khusus seperti lasegue, kontra lasegue, patrick, kontra patrick,
valsava, naffziger, bragard dan sincard.

3,4

Penatalaksanaan pasien ischialgia cukup secara

konservatif dan simtomatik, namun pada keadaan khusus mungkin diperlukan tindakan
operatif. 4, 5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Definisi Ischialgia
Ischialgia adalah gejala nyeri yang timbul akibat perangsangan nervus ischiadicus.6
Pada keadaan ini timbul rasa nyeri dan kesemutan sepanjang cabang saraf yang tertekan.
Secara harafiah ischias artinya serangan pangkal paha atau nyeri di daerah pangkal paha
(nervus ischiadicus).1 Jadi dapat disimpulkan ischialgia sebagai nyeri yang berpangkal pada
daerah lumbosakralis yang menjalar ke pantat dan selanjutnya ke bagian posterolateral
tungkai atas, bagian lateral tungkai bawah, serta bagian lateral kaki.3

Gambar 1.1 Penjalaran nyeri ischialgia7


Nyeri daerah pinggang pada dasarnya dapat berupa:6
1. Nyeri pinggang bawah akibat trauma pada unsur miofasial atau pada komponen keras
susunan neuro musculoskeletal
2. Nyeri pinggang bawah akibat proses degeneratif yang mencakup spondilosus, HNP,
stenosis spinalis, dan osteoarthritis
3. Nyeri pinggang bawah akibat penyakit inflamasi yaitu astritis rheumatoid dan
spondilitis angkilopoetika
4. Nyeri pinggang bawah akibat gangguan metabolisme atau low back pain osteoporotik
5. Nyeri pinggang bawah akibat neoplasma
6. Nyeri pinggang bawah sebagai reffered pain

7. Nyeri pinggang bawah akibat gangguan sirkulatorik


Penderita dengan nyeri radikuler memperlihatkan low back pain serta nyeri radikuler
sepanjang nervus ischiadicus.3
1.2 Epidemiologi dan Faktor Risiko2
Prevalensi ischialgia diperkirakan 5%-10% pasien dengan nyeri pinggang bawah
mengalami ischialgia. Prevalensi tahunan ischialgia diskogenik dalam populasi umum
berkisar 2,2%.
Faktor risiko individu dan pekerjaan telah dilaporkan, termasuk usia, berat badan,
tinggi badan, stres mental, merokok dan paparan getaran kendaraan. Bukti bahwa terdapat
hubungan antara ischialgia dengan jenis kelamin dan aktivitas masih diperdebatkan.
1.3 Etiologi dan Patofisiologi
Ischialgia timbul akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang berasal dari
radiks posterior L.4 sampai dengan S.3. Lesi iritatif dapat mengakibatkan ischialgia pada
tingkat tertentu.3
-

Pada tingkat diskus intervertebral antara L.4 sampai dengan S.1 dapat terjadi

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang menjebol ke dalam kanalis vertebralis.


Pada perjalanan permukaan dalam dari pelvis, n. Ischiadicus dapat terlibat dalam

artritis sakroiliaca atau bursitis m. Piriformis


Disekitar sendi panggul n. Ischiadicus dapat terlibat dalam peradangan
entrapment neuritis

Ditinjau dari segi anatomik, ischialgia terjadi karena perangsangan terhadap radiks
yang ikut menyusun nervus ischiadicus. Dalam hal ini lesi yang paling sering ditemukan
adalah protrusio discus intervertrebralis. Ischialgia semacam ini dikenal sebagai ischialgia
dikogenik. Selain itu ischialgia dapat timbul karena gangguan non diskogenik, yaitu akibat
perangsangan serabut-serabur sensorik perifer yang menyusun nervus ischiadicus sehingga
ischialgia dapat dibagi dalam : 2,3,8
1. Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada penderita hernia nukleus pulposus (HNP)
2. Ischialgia mekanik
a. Spondiloarthrosis defermans
b. Spondilolistetik
c. Tumor cauda
d. Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral

e. Fraktur corpus lumbosakral


f. Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam rongga panggul
sehingga menimbulkan tekanan pada pleksus lumbosakralis.
3. Ischailgia non mekanik (medik)
a. Radikulitis tuberkulosa
b.

Radikulitas luetika

c. Adhesi dalam ruang subarachnoidal


d. Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus
e. Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya
Beberapa jenis ischialgia akibat berbagai lesi iritatif : 2,3
1. Ischialgia sebagai perwujudan lesi iritatif terhadap serabut radiks dapat berupa
nukleus pulposus yang menjebol ke dalam kanalis vertebralis (HNP) atau
serpihannya, osteofit pada spondilosis servikal atau spondilitis angkilopoetika, herpes
zoster ganglion spinale L4 atau L5 ataupun S1, tumor di dalam kanalis vertebralis dan
sebagainya.

Gambar 1.2 Herniasi Nukleus Pulposus

Gambar 1.3 Herniasi Nukleus Pulposus7

2. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis


Dalam perjalanan ke tepi nervus iskiadikus dapat terperangkap dalam proses
patologik di berbagai jaringan dan bangunan yang dilewatinya, berikut beberapa
proses patologik tersebut :
a. Pleksus lumbosakralis dapat diinfiltrasi oleh sel-sel sarkoma retroperitoneal,
karsinoma ovarii atau karsinoma uteri
b. Di garis persendian sakroiliaka komponen-komponen pleksus lumbosakralis yang
sedang membentuk nervus iskiadikus dapat terlibat dalam proses radang
(sakroilitis)
c. Di foramen infrapiriformis nervus iskiadikus dapat terjebak oleh bursitis muskulus
piriformis
d. Nervus iskiadikus dapat terjebak dalam bursitis di sekitar trokanter mayor femoris
e. Nervus iskiadikus dapat terganggu oleh adanya metastasis karsinoma prostat di
tuber iskii
3. Ischialgia sebagai perwujudan neuritis primer
Gejala utama neuritis iskiadikus primer adalah nyeri yang dirasakan bertolak
dari daerah sakrum dan sendi panggul, tepatnya di foramen infrapiriforme atau
insisura iskiadika dan menjalar sepanjang perjalanan n. iskiadikus dan lanjutannya
pada nervus tibialis dan nervus peroneus komunis. Ischialgia ini mudah disembuhkan
dengan NSAID, yang disebut ischialgia beninge. Tetapi tanpa pengobatan pun
ischialgia ini dapat sembuh secara spontan, yang disebut ischialgia rematoid.
1.4 Anatomi Fisiologi 9, 10
Cakupan dari regio pinggang sebagai berikut :
o

Thoraco lumbal ( Th 12-L1 )

Lumbal ( Pinggang Atas )

Lumbal sacral ( Pinggang bawah )

Sacroiliaca Joint ( tulang pantat )

Hip Joint ( Sendi Bongkol Paha )


Adapun komponen komponen dari regio pinggang adalah kulit, otot, ruas, tulang
sendi, bantalan sendi, facet joint. Dan apabila semuanya ini mengalami gangguan maka
sangat berpotensi menjadi ischialgia.

N. ischiadicus akan keluar dari gluteus maximus pada pertengahan antara tuberositas
ischii dan trochanter dan berjalan melalui collum femoris, sepanjang paha bagian belakang
sampai fossa popliteal.

Gambar 1.4 Nervus Iskiadikus8


Perjalanan Nervus Ischidicus di mulai dari L4-S3, dan saraf ini memiliki percabangan
antara lain:
o N. lateral poplital yang terdapat pada caput fibula
o N. Medial popliteal yang terdapat pada fossa polpliteal
o N. Tibialis Posterior yang terdapat pada sebelah bawah
o N. Suralis/Saphenus yang terdapat pada tendon ascilles
o N. Plantaris Yang berada pada telapak kaki
Bagian lumbal merupakan bagian tulang punggung yang mempunyai kebebasan gerak
yang terbesar. Tarikan tekanan dan torsi yang dialami pada gerakan-gerakan antara bagian
toraks dan panggul menyebabkan daerah ini dapat mengalami cedera lebih besar daripada
daerah lain, biarpun tulang-tulang vertebra dan ligamen di daerah pinggang relatif lebih
kokoh. Perbedaan hentakan antara tulang dengan jaringan dalam peranan mereka sebagai
sendi pendukung akan menyebabkan penyakit yang karakteristik unik pada daerah yang

bersangkutan. Sebagian besar lesi pada diskus lumbal adalah mengenai jaringan lunak dan
sering sekali menghasilkan protrusi inti (nucleus) yang kemudian menekan akar saraf.

Gambar 1.5 Pola dermatomal9


N. Ischiadicus mempersarafi:
o

M. Semitendinosus

M. Semimbranosus

M. Biceps Femoris

M. Adduktor Magnus
N. Poroneus Mempersarafi

M. tibialis anterior

M. ekstensor digitorum longus

M. ekstensor halluci longus

M. digitorum brevis

M. poroneus tertius
N. Tibialis Mempersarafi

M. gastrocnemius

M. popliteus

M. soleus

M. plantaris

M. tibialis posterior

M. fleksor digitorum longus

M. fleksor hallucis longus


1.5 Diagnosis
1.5.1 Gambaran klinis
Gejala paling utama adalah nyeri tungkai menjalar dan menyebabkan gangguan
aktivitas. Pola umum ischialgia adalah sebagai berikut:3
1. Nyeri seperti sakit gigi atau nyeri nod-nodoan seperti bisul mau pecah atau linu
nyeri hebat dirasakan bertolak dari tulang belakang sekitar daerah lumbosakral
dan menjalar menurut perjalanan nervus iskiadikus dan lanjutannya pada nervus
peroneus komunis dan nervus tibialis.
2. Semakin distal nyeri makin tidak begitu hebat, namun parestesia atau hipestesia
dirasakan.

Oleh

karena

radikslah

yang

terangsang,

maka

nyeri

dan

parestesia/hipestesia sewajarnya dirasakan di kawasan radiks yang bersangkutan.


Segmentasi dermatoma pada permukaan belakang tungkai tidak mudah dikenal,
akan tetapi di bagian ventral tungkai dan kaki dermatoma murni radikular L3, L4,
L5 dan S1 masih dapat dikenali. Daerah dermatomal itu disebut autonomous
sensory zone.
Yang harus di perhatikan dalam anamnesa antara lain :3,6
1. Lokasi nyeri, sudah berapa lama, mula nyeri, jenis nyeri (menyayat, menekan,
dll), penjalaran nyeri, intensitas nyeri, pinggang terfiksir, faktor pencetus, dan faktor
yang memperberat rasa nyeri
2. Kegiatan yang menimbulkan peninggian tekanan didalam subarachnoid seperti batuk,
bersin dan mengedan memprivakasi terasanya ischialgia diskogenik
3. Faktor trauma hampir selalu ditemukan kecuali pada proses neoplasma atau infeksi
1.5.2 Pemeriksaan Fisik
Adapun data diagnostik fisik yang bersifat umum ialah sebagai berikut : 3,6, 11

1. Inspeksi
Perhatikan keadan tulang belakang, misalnya skoliosis, hiperlordosis atau lordosis
lumbal yang mendatar. Tulang belakang lumbosakral memperlihatkan pembatasan lingkup
gerak
2. Palpasi
Nyeri tekan pada tulang belakang dapat dibangkitkan pada penekanan lamina L4 atau L5
ataupun S1 sesuai dengan lokasi lesi iritatif
3. Perkusi
Rasa nyeri bila prosesus diketok
4. Reflek
- KPR dan atau APR
5. Pemeriksaan Ischialgia
a. Tes Lasegue
Dengan tes ini nyeri di pinggang bagian bawah dan sepanjang tungkai dapat
direproduksikan, sehingga sebabnya dapat ditentukan. Test tersebut dilakukan dengan cara
mengangkat tungkai pasien dalam keadaan lurus, untuk menjamin lurusnya tungkai makan
tangan si pemeriksa yang satu mengangkat tungkai dengan memegang pada tumit pasien
sedangkan tangan lain si pemeriksa memegang serta menekan pada lutut pasien. Fleksi pasif
tungkai dalam keadaan lurus di sendi panggul menimbulkan peregangan nervus iskiadikus.
Apabila salah satu radiks yang menyusun nervus iskiadikus mengalami penekanan,
pembentangan dan sebagai karena HNP atau tumor di kanalis vertebralis, maka test lasegue
membangkitkan nyeri yang berpangkal pada radiks yang terkena dan menjalar sepanjang
perjalanan perifer nervus iskhiadikus.
Tanda lasegue yang positif pada sudut yang dibentuk oleh tungkai yang lurus dengan
permukaan tempat pemeriksa sebelum mencapai 70o adalah pertanda bahwa terdapat protusio
diskus intervertebralis yang merangsang salah satu akar nervus iskiadikus.

Gambar 1.5 Tes Lasegue


b. Tanda Kontra Lasegue
Bangkitnya ischialgia pada tungkai yang terkena dapat diprovokasi dengan
mengangkat tungkai yang sehat dalam posisi lurus
c. Tanda Patrick
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menempatkan tumit atau maleolus eksterna
tungkai yang sakit pada lutut tungkai lainnya yang dapat menyebabkan bangkitnya nyeri di
sendi panggul kalau diadakan penekanan pada lutut yang difleksikan itu. Pada ischialgia
diskogenik test ini adalah negatif

Gambar 1.6 Tes Patrick

d. Tanda Kontra Patrick


Tindakan pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan lokasi patologik di sendi
sakroiliaka jika terasa nyeri di daerah bokong, baik yang menjalar sepanjang tungkai maupun
yang terbatas pada daerah gluteal dansakral saja. Tes ini dilakukan dengan melipat tungkai

yang sakit dan endorotasikan serta aduksikan. Kemudian adakan penekanan sejenak pada
lutus tungkai itu.
e. Tanda Naffziger
Dengan tes ini tekanan intratekal ditinggikan dengan menyuruh pasien mengejan pada
waktu kedua vena jugulare ditekan oleh kedua tangan pemeriksa. Dengan demikian tekanan
intrakranial itu diteruskan sepanjang rongga arakhnoidal medula spinalis. Kalau terdapat
proses desak ruang di kanalis vertebralis (tumor atau HNP), maka radiks yang terbetan atau
teregang mendapat perangsangan pada waktu tes Naffziger dilakukan. Karena itu akan timbul
nyeri radikular yang melintasi kawasan dermatomalnya. Tes ini dapat dilakukan pada waktu
pasien berdiri atau berbaring.
f. Tes Valsava
Tes ini menyebabkan peninggian tekanan intratekal. Bilamana terdapat proses desak
ruang di kanalis vertebralis bagian servikal, maka dengan ditingkatkannya tekanan intratekal
akan bangkit nyeri radikular. Nyeri saraf ini sesuai dengan tingkat proses patologik di kanalis
vertebralis bagian servikal. Caranya dengan menyuruh pasien mengejan sewaktu pasien
menahan nafasnya. Tes ini adalah positif apabila timbul nyeri radikular yang berpangkal di
tingkat leher dan menjalar ke lengan.
g. Tanda Bragard dan Sincard
Tes ini dilakukan dengan mengangkat tungkai dalam sikap lurus kemudian
mendorsofleksikan kaki (Bragard) dan mendorsofleksikan ibu jari kaki (Sincard). Sewaktu
melakukan straight leg raising test peregangan terhadap nervus iskiadikus dapat diperbesar,
sehingga tanda lasegue positif pada derajat yang lebih kecil dan dalam waktu yang lebih
cepat.
1.5.3 Pemeriksaan penunjang
Nyeri pinggang bawah dapat didiagnosa dari manifestasi klinis yang khas, seperti rasa
nyeri, baal, atau parestesia yang mengikuti pola dermatomal. Namun demikian gejala-gejala
tersebut dapat disebabkan oleh banyak hal, sehingga untuk menentukan penatalaksanaan
nyeri punggung bawah diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain : 3,5,6,12,13,
1. Laboratorium
Pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, faktor reumatoid, fosfatase
alkali, kalsium, urin analisis berguna untuk penyakit nonspesifik seperti infeksi.
2. Foto rontgen lumbosakral

Tujuan utama foto rontgen lumbosakral adalah untuk mendeteksi adanya kelainan
struktural. Seringkali kelainan yang ditemukan pada foto rontgen pasien dapat juga
ditemukan pada individu lain yang tidak memiliki keluhan apapun.
3. MRI/CT-scan
MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi kelainan di
diskus intervertebralis. MRI selain dapat mengidentifikasi kompresi medula spinalis
dan radiks saraf, juga dapat digunakan untuk mengetahui beratnya perubahan
degeneratif pada diskus intervertebralis. Dibandingkan dengan CT-scan, MRI
memiliki keunggulan, yaitu adanya potongan sagital dan dapat memberikan gambaran
hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf yang jelas, sehingga MRI merupakan
prosedur skrining yang ideal untuk menyingkirkan diagnosa banding gangguan
struktular pada medula spinalis dan radiks saraf.
CT-scan dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan baik,
dan memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus intervertebra. Namun
demikian sensitivitas CT-scan tanpa myelografi dalam mendeteksi herniasi masih
kurang bila dibandingkan dengan MRI
4. Myelografi
Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomik yang detail, terutama elemen osseus
vertebra. Myelografi merupakan proses yang invasif karena melibatkan penetrasi pada
ruang subarakhnoid. Secara umum myelogram dilakukan sebagai tes proprioseptif,
seringkali dilakukan bersama dengan CT-scan
1.6 Penatalaksanaan
1. Terapi konservatif 6, 14
- Istirahat lebih kurang 2-3 minggu
- Analgetik: (1) paracetamol; (2) NSAID; (3) tramadol; (4)morphin.
- Fisioterapi untuk mencegah atrofi otot-ototdan dekalsifikasi sebaiknya stelah nyeri
hilang
Termoterapi
Obat antireumatika pada medical siatika.
2. Terapi operatif 5
Apabila sering terjadi kekambuhan pada penderita ischialgia yang sudah
-

dilakukan terapi konservatif atau bila kasus ischialgia karena HNP masih baru namun
nyerinya tidak tertahan atau defisit motorik sudah jelas dan mengganggu maka
pertimbangan untuk operasi atau tidak sebaiknya dibicarakan kepada dokter ahli ahli
bedah saraf.

1.7 Prognosis 14
Faktor yang mempengaruhi prognosis berhubungan dengan waktu untuk kembali
bekerja pada pasien ischialgia. Faktor tersebut berupa umur, keadaan umum, riwayat
ischialgia, durasi episode ischialgiua, batas gangguan ischialgia, kecemasan untuk kembalui
kerja, nyeri pinggang dan hasil straight leg raising test. Faktor yang mempercepat masa
untuk kembali bekerja berupa usia muda, keadaan umum baik dengan batas gangguan
ischialgia rendah, ketakutan bekerja sedikit, dan hasil straight leg raising test negatif.
Sementara riwayat ischialgia dengan episode serangan lebih dari 3 bulan, batas gangguan
ischialgia besar, ketakutan untuk kembali bekerja, disertai nyeri pinggang akan memperlama
waktu untuk kembali bekerja, begitupun dengan terapi bedah.

BAB 3

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 62 tahun

Suku bangsa

: Minang

Agama

: Islam

Alamat

: Muaro Paiti

Pekerjaan

: Petani

Tanggal periksa

: 04 Januari 2017

ANAMNESIS
Seorang pasien, Tn. S, laki-laki, usia 62 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RSUD
Adnan WD Payakumbuh pada tanggal 4 Januari 2017 dengan:
Keluhan Utama :
Nyeri punggung bawah menjalar ke tungkai kiri dan kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri punggung bawah menjalar ke tungkai kiri dan kanan sejak 3 bulan yang
lalu. Awalnya pasien merasakan nyeri pada pinggang bawah sejak 6 bulan yang
lalu dimana pasien masih bisa berjalan. Nyeri dirasakan menjalar dari pinggang ke
tungkai. Nyeri pada pinggang dirasakan lebih kuat dibandingkan dengan tungkai.

Nyeri hilang timbul, terasa seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk. Nyeri meningkat
apabila pasien berubah posisi dari berbaring ke duduk, dari duduk ke berdiri, saat
batuk, mengejan dan membaik ketika pasien istirahat.

Pasien merasakan sedikit kebas pada tungkai kanan dan kirinya..


Kelemahan anggota gerak tidak ada

BAB dan BAK tidak terganggu.

Demam tidak ada.

Penurunan berat badan tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat trauma/ kecelakaan/ jatuh terduduk sebelumnya tidak ada.

Riwayat menderita batuk-batuk lama (-)

Riwayat trauma (-)

Riwayat keganasan (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Kebiasaan :

Pasien seorang petani sejak 30 dan semenjak 8 bulan ini sudah tidak bertani
lagi.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah

: 160/90 mmHg

Nadi

: 80x /menit

Nafas

: 20x /menit

Suhu

: 36,8oC

Status Internus :
KGB

Leher, aksila dan inguinal tidak membesar

Leher

JVP 5-2 CmH20

Thorak

Paru

: Inspeksi

: simetris kiri dan kanan

Palpasi

: fremitus normal kiri sama dengan kanan

Perkusi

: sonor

Auskultasi : vesikuler, ronchi (-), wheezing (-)


Jantung

: Inspeksi

: iktus tidak terlihat

Palpasi

: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi

: batas-batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising (-)


Abdomen :

Inspeksi

: Tidak tampak membuncit

Palpasi

: Hepar dan lien tidak teraba, ballotement (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) Normal


Corpus Vertebrae :
Inspeksi

: Deformitas (-), Gibbus (-), Tanda radang (-)

Palpasi

: Nyeri tekan di L4,L5,S1 (+)

Status Neurologis :
1.

GCS 15 : E4 M6 V5

2.

Tanda rangsangan meningeal :


- Kaku kuduk (-)
- Brudzinsky I (-)
- Brudzinsky II (-)
- Kernig (-)

3.

Tanda peningkatan tekanan intrakranial :


- muntah proyektil (-)
- sakit kepala progresif (-)
4. Pemeriksaan nervus kranialis
N. I (Olfaktorius)

Penciuman
Subjektif
Objektif (dengan bahan)
N. II (Optikus) (sulit dinilai)
Penglihatan
Tajam penglihatan
Lapangan pandang
Melihat warna
Funduskopi

Kanan
Kiri
Baik
Baik
Tidak dilakukan

Kanan
Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan

Kiri
Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan

N. III (Okulomotorius)
Bola mata
Ptosis
Gerakan bulbus
Strabismus
Nistagmus
Ekso/endotalmus
Pupil
Bentuk
Refleks cahaya
Refleks akomodasi
Refleks konvergensi

Kanan
Bulat
(-)
Bebas kesegala arah
(-)
(-)
(-)

Kiri
Bulat
(-)
Bebas kesegala arah
(-)
(-)
(-)

Bulat
(+) normal
(+)
(+)

Bulat
(+) normal
(+)
(+)

N. IV (Trochlearis) (sulit dinilai)


Kanan
Gerakan mata ke bawah
Baik
Sikap bulbus
Ortho
Diplopia
(-)

Kiri
Baik
Ortho
(-)

N. V (Abdusen) (sulit dinilai)


Gerakan mata ke lateral
Sikap bulbus
Diplopia

Kanan
Baik
Ortho
(-)

Kiri
Baik
Ortho
(-)

Kanan

Kiri

Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik

Baik
Baik

N. VI (Trigeminus)
Motorik
Membuka mulut
Menggerakkan rahang
Menggigit
Mengunyah
Sensorik
Divisi oftalmika
- Refleks kornea
- Sensibilitas

Divisi maksila
- Refleks masetter
- Sensibilitas
Divisi mandibula
- Sensibilitas

Baik
Baik

Baik
Baik

Baik

Baik

N. VII (Fasialis)
Raut wajah
Sekresi air mata
Menggerakkan dahi
Menutup mata
Mencibir/ bersiul
Memperlihatkan gigi
Sensasi lidah 2/3 depan
Hiperakusis

Kanan
Kiri
Plika nasolabialis simetris
(+)
(+)
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
(-)
(-)

N. VIII (Vestibularis)
Suara berbisik
Detik arloji
Rinne tes
Weber tes
Schwabach tes
- Memanjang
- Memendek
Nistagmus
- Pendular
- Vertikal
- Siklikal
Pengaruh posisi kepala

Kanan
Baik
Baik
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Kiri
Baik
Baik

(-)

(-)

(-)

(-)

Kanan
Baik
(+)

Kiri
Baik
(+)

N. IX (Glossopharyngeus)
Sensasi lidah 1/3 belakang
Refleks muntah (Gag Rx)
N. X (Vagus)
Arkus faring
Uvula
Menelan
Suara
Nadi

Kanan
Kiri
Simetris
Simetris
Simetris
Simetris
Baik
Baik
Reguler, 80x/menit

N. XI (Asesorius)
Menoleh ke kanan
Menoleh ke kiri

Kanan
Baik
Baik

Kiri
Baik
Baik

Mengangkat bahu ke Baik


kanan
Mengangkat bahu ke kiri
Baik

Baik
Baik

N. XII (Hipoglosus)
Kedudukan lidah dalam
Kedudukan lidah dijulurkan
Tremor
Fasikulasi
Atropi

Kanan
Baik
Baik
(-)
(-)
(-)

Kiri
Baik
Baik

5. Pemeriksaan koordinasi
Cara berjalan
Baik
Romberg tes
Baik
Reboundphenome (-)
n
Test tumit lutut
(nyeri +)
6. Pemeriksaan fungsi motorik
a. Badan

Respirasi
Teratur
Duduk
b. Berdiri
dan Gerakan spontan
(-)
Tremor
(-)
berjalan
Atetosis
(-)
Mioklonik
(-)
Khorea
(-)
c. Ekstremitas
Superior
Kanan
Kiri
Gerakan
Aktif
Aktif
Kekuatan
555
555
Tropi
Eutrofi
Eutropi
Tonus
Eutonus
Eutonus

Inferior
Kanan
Aktif
555
Eutrofi
Eutonus

Kiri
Aktif
555
Eutropi
Eutonus

Tungkai kanan : Laseque (+), Kontra Laseque (+), Naffziger (+), Patrick (+),
Kontra Patrick (+)
Tungkai Kiri : Laseque (+), Kontra Laseque (+), Naffziger (+), Patrick (+),
Kontra Patrick (+)
7. Sensorik
- Eksteroseptif : Hipoestesi setinggi dermatom radix L3 S1.
8. Sistem reflex

a. Fisiologis
Kornea
Berbangkis
Laring
Masetter
Dinding perut
Atas
Tengah
Bawah
b.Patologis
Lengan
HoffmannTromner

Kanan
(+)

Kiri
(+)

Kanan

Kiri

(-)

Kiri
++
++
+
+

Babinski
Chaddocks

Kanan
(-)
(-)

Kiri
(+)
(-)

Oppenheim
Gordon
Schaeffer
Klonus paha
Klonus kaki
Tungkai

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Biseps
Triseps
KPR
APR
Bulbokvernosus
Cremaster
Sfingter

(-)

8. Fungsi otonom
- Miksi
: baik
- Defekasi
: baik
- Sekresi keringat
: baik
9. Fungsi luhur : Baik
Kesadaran
Reaksi bicara Baik
Fungsi intelek Baik
Reaksi emosi Sulit dinilai

Kanan
++
++
+
+

Tanda Dementia
Reflek glabella
Reflek Snout
Reflek menghisap
Reflek memegang
Reflek
palmomental

Pemeriksaan Penunjang:

Laboratorium Darah :

Rutin

: Hb
Leukosit

: 13,1 gr/dl
: 7200 /mm3

Trombosit

:-

Hematokrit

:-

LED : 21 mm/ jam

Kimia Klinik : Ur / cr 19 / 1,1 mm%


SGOT/SGPT : 27 / 27 u/L

MRI Lumbosakral

Diagnosis Kerja :

Diagnosis Klinis

: Ischialgia Bilateral

Diagnosis Topik

: Radix L3,L4,L5,S1

Diagnosis Etiologi

: Hernia Nukleus Pulposus

Diagnosis Sekunder : -

Terapi :
Umum :

Tirah baring.
Fisioterapi.

Khusus :

Alpentin 2 x 100 mg
Mecobalamin 2 X 500 mg
Na diclofenat 2 x 50 mg
Neurodex 1 x 1 tab
Ranitidin 2 x 150 mg

Paracetamol 500 mg + Amitriptilin 5 mg + Dizepam 0,5 mg ( 2x1)


Eperison 2 x 1

Rencana : Konsul bedah orthopedi

BAB IV
DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang pasien laki-laki berumur 62 tahun datang ke


Poliklinik Neurologi RSUD Adnan WD Payakumbuh pada tanggal 4 Januari 2017 dengan
diagnosis ischialgia bilateral ec HNP.
Dari anamnesis didapatkan bahwa nyeri punggung bawah dirasakan menjalar ke
tungkai kiri kanan dan kiri terutama saat berjalan sehingga pasien banyak berbaring di tempat
tidur. Nyeri juga meningkat apabila pasien batuk, mengedan dan mengubah posisi dari
berbaring ke duduk, duduk ke berdiri dan saat membungkukkan badan. Akhir-akhir ini nyeri
menjalar dari pinggang bawah ke bagian belakang paha kiri dan kanan, belakang betis serta
punggung kaki. Adapun faktor risiko pada pasien ini yaitu umur tua dan adanya riwayat
pekerjaan sebagai petani. Pada pemeriksaan sensorik, terdapat hipoastesi pada dermatom L3S1. hal ini menunjukkan suatu lesi perifer pada L3-S1, keadaan tersebut diperkuat dengan
menurunnya refleks APR yang menggambarkan suatu manifestasi klinis dari HNP.
Pada pasien dilakukan pemeriksaan penunjang berupa MRI. Dari MRI didapatkan
penonjolan discus intervertebralis pada L3-S1. Terapi umum pada pasien ini adalah istirahat
dan lakukan fisioterapi. Terapi khusus yang diberikan adalah alpentin sebagai anti nyeri
neurogenik, mecobalamin dan neurodex sebagai vitamin B12, natrium diclofenak sebagai anti
inflamasi, ranitidin sebagai penetral asam lambung akibat pemberian natrium diclofenak, dan
eperison sebagai muscle relaxan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kamali A. 1983. Kamus Kedokteran. Penerbit Dian Rakyat: Jakarta


2. Koes B, Tudler MW, Peul WC. 2007. Diagnosis and treatmentof sciatic. British
Medical Journal, 334(7607)
3. Mardjono M dan Sidharta P.2008. Neurologi Klinis Dasar. Penerbit Dian Rakyat:
Jakarta
4. Sidharta, Priguna.2008. Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Dian Rakyat:
Jakarta
5. Award JN, Moskovich R. 2008. Lumbar disc herniations: surgical versus nonsurgical
treatment. Clin Orthop Res, 443.
6. Markam S.2000, Neurologi, Penerbit. EGC: Jakarta
7. Ropper AH and Brown RH. 2005. Adams and Victor Principles of Neurology. Eight
Edition. McGraw-Hill: Medical Publishing Divission
8. Weinstein JN, Lurie JD, Olson PR, Bronner KK, Fisher ES. United States trend and
regional variations in lumbal spine surgey: 1992-2003. Spine, 73
9. Putz, Renate, Pabst R. 2007. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Bagian 2 ed. Ke22.EGC: Jakarta
10. Snell, Richard.2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran ed. Ke-6. EGC:
Jakarta
11. Ratnaningsih, DS, Husni A. 2010. Skripsi: Hubungan Antara Skor Laseques Test
Dengan Skor Modified Schober Test Pada Penderita Klinis Hernia Nuklesus Pulposus
Lumbalis. FK UNDIP : Semarang
12. Jarvik JG, Deyo RA. 2002. Diagnostic evaluation of low back pain with emphasis on
Imaging. Ann Intern Med, 137
13. Govind J. 2004. Lumbar Radicular Pain. Aus Fam Phys, 33.

14. Hagen KB, Jamtvedt G, Hilde G, Winnem MF. 2005. The Updated Cochrane review
of bedrest for low back pain and sciatica. Spine, 30