Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TENTANG

BAHAYA LISAN DALAM KEHIDUPAN

SUKANDRANA ARYA PENIDA


011.06.0006

Fakultas Kedokteran
Universitas Islam AL-Azhar Mataram
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, mari kita panjatkan Kehadirat Alllah SWT yang telah
memberikan rizkinya,berupa baik secara Jasmani maupun Rohani sehingga saya
dapat menyusun Makalah dengan Judul tentang Bahaya Lisan. Tidak lupa
semoga shalawat dan juga salam tetap terlimpahkan kepada junjungan besar
Nabi kita Muhammad saw. yang mana beliau telah mengajak kita menuju Agama
yang diridhai oleh Allah SWT yaitu agama Islam,dan juga kepada seluruh
keluarga dan juga seluruh umat pengikutnya.
Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan
kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginannyakeinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar dari mulut
manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.
Makalah ini berisi tentang Lisan atau perkataan yang keluar dari Lidah
yang mungkin kita mengucapkan perkataan yang salah dalam kehidupan sehari
hari. Dengan bahasa yang singkat, padat, dan mudah dimengerti didasarkan
pada dalil-dalil yang relevan. Makalah ini kami lengkapi dengan pendahuluan
sebagai pembuka yang menjelaskan latar belakang dan tujuan pembuatan
makalah. Pembahasan yang menjelaskan tentang Bahaya Lisan dalam
kehidupan

sehari-hari.

Penutup

yang

berisi

tentang

kesimpulan

yang

menjelaskan secara singkat isi dari makalah saya. Makalah ini juga saya
lengkapi dengan daftar pustaka yang menjelaskan sumber dan referensi bahan
dalam penyusunan.

Mataram, 11 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................

Daftar Isi..................................................................................................

ii

BAB I
PENDAHULUAN.....................................................................................

Latar Belakang........................................................................................
Tujuan.....................................................................................................

1
2

BAB II
PEMBAHASAN.......................................................................................

Bencana Lidah.........................................................................................
Pertengkaran dan Perdebatan................................................................
Bergunjing (Ghibah)................................................................................
Berkata keji, jorok dan caci maki............................................................
Janji Palsu...............................................................................................
Bohong dalam Berbicara dan Sumpah...................................................
Menjaga Lidah.........................................................................................

3
6
7
8
9
9
10

BAB III
PENUTUP...........................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................

14

BAB I
PENDAHULUAN

Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini
menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia
untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman:
Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. Hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagi manusia. ... (QS. 17: 53)
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS. 16:125)
Rasulullah Saw Bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Muttafaq alaih)
Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya maka
dengan ucapan yang baik Muttafaq alaih
Ucapan yang baik adalah sedekah (HR. Muslim)

1.1 Latar Belakang


Menyadari atau tidak bahwa Lidah adalah karunia yang telah diberikan
oleh Allah Yang Maha Pengasih.akan tetapi manusia tidak menyadari akan
hal tersebut. Sering kita jumpai di dalam pergaulan masyarakat,bahwa
manusia sering mengeluarkan kata-kata ejekan dan saling berlokolok,membuka aib sesama manusia,mengucapkan janji palsu,berkata
bohong,dan sebagainya.

Perlu kita sadari bahwa hal tersebut adalah termasuk hal tercela dan
tidak terpuji dan Allah tidak menyukai hal hal tersebut. Sehingga saya
membuat Makalah dengan judul Bahaya Lidah Dalam Kehidupan karena
menurut saya fenomena saat ini sering kita jumpai dalam kehidupan seharihari.

1.2 Tujuan
Makalah ini di harapkan kepada penyusun dan pembaca dapat
memahami dan mengamalkan pada kehidupan sehari - hari isi dari pada
Makalah ini.Sehingga penyusun dan pembaca diharapkan dapat menjadi
contoh bagi lingkungannya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bencana Lidah


Pengertian Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada
dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang
wajib diucapkan.
Abu `Ali ad-Daqqq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:

"Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara,
sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu".
Orang yang berbicara dengan kebatilan ialah setan yang berbicara, ia
bermaksiat kepada Allah Ta`ala. Sedangkan orang yang diam dari
kebenaran ialah setan yang bisu, ia juga bermaksiat kepada Allah Ta`ala.
Seperti seseorang yang bertemu dengan orang fasik, terang-terangan
melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia berkata lembut, tanpa
mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat kemungkaran, dan dia
mampu merubahnya, namun dia membisu karena menjaga kehormatan
pelakunya, atau orang lain, atau karena tak peduli terhadap agama.
Kebanyakan manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang
dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang
yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan
menggunakannya untuk perkara bermanfaat. Bencana lidah termasuk
bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia.

Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam
secara keseluruhan. Termasuk perkara yang mengherankan, ada seseorang
yang mudah menjaga diri dari makanan haram, berbuat zhalim kepada
orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat wanita yang tidak halal
dilihat, dan lainnya, namun dia seakan sulit menjaga diri dari gerakan
lidahnya. Sehingga terkadang seseorang yang dikenal dengan agamanya,
zuhudnya, dan ibadahnya, namun ia mengucapkan kalimat-kalimat yang
menimbulkan kemurkaan Allah, dan ia tidak memperhatikannya.
Padahal hanya dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan
dirinya bisa terjerumus ke dalam neraka melebihi jarak timur dan barat. Atau
ia tersungkur di dalam neraka selama tujuh puluh tahun.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak
menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal
selama 70 tahun di dalam neraka.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu `alaihi wa
sallam bersabda:


"Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu
kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam
kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam
neraka lebih jauh dari antara timur dan barat". (HR Muslim, no. 2988).

Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan
maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orangorang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli
dengan apa yang sedang ia ucapkan. L haula wa l quwwata illa bilhil`aliyyil-`azhm.
Sebagai contoh, ialah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi
Shallallahu `alaihi wa sallam di bawah ini:


"Dari Jundab, bahwasanya Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam
menceritakan ada seorang laki-laki berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan
mengampuni Si Fulan!" Kemudian sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman:
"Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan
mengampuni Si Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan
Aku menggugurkan amalmu". Atau seperti yang disabdakan Nabi. (HR
Muslim, no. 2621).
Oleh karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah Shallallahu
`alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya.



"Dari Sufyan bin `Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: "Aku berkata, wahai
Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan
berpegang dengannya!" Beliau menjawab: "Katakanlah, `Rabbku adalah
Allah`, lalu istiqomahlah". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang

paling anda khawatirkan atasku?". Beliau memegang lidah beliau sendiri,


lalu bersabda: "Ini".
Syaikh Husain al-`Awaisyah berkata: "Sesungguhnya sekarang ini,
sesuatu yang manusia merasa amat tenteram terhadapnya ialah lidah
mereka, padahal lidah yang paling dikhawatirkan Nabi atas umatnya. Dan
yang nampak, lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan
bosan".

2.2 Pertengkaran dan Perdebatan


Pengertian pertengkaran adalah sikap ingin menang dalam berbicara
(ngotot) untuk memperoleh hak atau harta orang lain, yang bukan haknya.
Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari
awal berbicara. Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda :
Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang
bermusuhan dan suka bertengkar (HR. Al Bukhariy). Perdebatan yang
tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerang dan
mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat.
Biasanya orang yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin
menunjukkan kesalahan orang lain agar terlihat kelebihan dirinya. Hal ini
biasanya disebabkan oleh taraffu (rasa tinggi hati) karena kelebihan dan
ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan tersesat suatu kaum setelah
mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan
(HR. At Tirmidziy) Imam Malik bin Anas berkata: Perdebatan akan
mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan

2.3 Bergunjing (Ghibah)


Pengertian Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama.
Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab
para sahabat:Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui. Sabda Nabi:
ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia
mendengarnya ia tidak menyukainya. Para sahabat bertanya: Jika yang
diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi: Jika memang ada itulah ghibah,
jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada (HR Muslim.)
Al Quran menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara
sendiri (QS. 49:12). Ghibah bisa terjadi dengan berbagai macam cara, tidak
hanya ucapan, bisa juga tulisan, peragaan, dsb. Hal-hal yang mendorong
terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini:

Melampiaskan kekesalan/kemarahan
Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
Merasa akan dikritik atau dcela orang lain, sehingga orang yang

dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.


Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya
Hasad/iri dengan orang lain
Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
Menghina dan meremehkan orang lain
Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu

dengan ilmu dan amal.


Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan
dengan

murka

Allah.

Kemudian

mencari

sebab

apa

yang

mendorongnya melakukan itu. Sebab pada umumnya penyakit itu


akan

mudah

sembuh

dengan

2.4 Berkata Keji, Jorok dan Caci maki

menghilangkan

penyebabnya.

Pengertian Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang


dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang
berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang
dilarang

agama.

Nabi

bersabda:

Jauhilah

perbuatan

keji.

Karena

sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji dalam
riwayat lain: Surga itu haram bagi setiap orang yang keji. (HR. Ibnu Hibban)
Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata
keji dan jorok (HR. At Tirmidziy).
Ada seorang Arabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi: Sabda
Nabi:

Bertaqwalah

kepada

Allah,

jika

ada

orang

yang

mencela

kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya.


Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah
kamu mencaci maki siapapun. Kata Arabiy tadi: Sejak itu saya tidak pernah
lagi mencaci maki orang (HR. Ahmad).
Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang tua sendiri
Para sahabat bertanya : Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua
sendiri ? Jawab Nabi: Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu
berbalik mencaci maki orang tuanya. (HR. Ahmad).

Perkataan keji dan

jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang menyakiti orang lain,
atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan dengan orang-orang fasik
(penuh dosa) atau orang-orang durhaka lainnya.

2.5 Janji Palsu


Pengertian Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi
dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda

kemunafikan seseorang. Firman Allah : Wahai orang-orang beriman


tepatilah janji (QS 5:1)
Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: Sesungguhnya ia adalah
seorang yang benar janjinya. (QS 19:54) Rasulullah SAW bersabda : ada
tiga hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun
puasa, shalat, dan mengaku muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji
ingkar, dan jika dipercaya khiyanat Muttafaq alaih dari Abu Hurairah

2.6 Bohong dalam Berbicara dan Bersumpah


Pengertian Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan
cacat

yang

paling

busuk.

Rasulullah

SAW

bersabda:

Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan


kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang
yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai
pembohong Muttafaq alaih.
Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya
di hari kiamat, yaitu: orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang
menjual

dagangannya

dengan

sumpah

palsu,

dan

orang

yang

memanjangkan kain sarungnya (HR Muslim).


Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia,
celaka dia (HR Abu Dawud dan At Tirmidziy).

2.7 Menjaga Lidah


Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisn. Lidah itu sendiri merupakan
anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah
memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena

10

itu, setelah Nabi n memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian


mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah
sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang.
Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Mlik , dari Nabi
Shallallahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah.


Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.
Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, ia
tidak akan masuk surga".[8] Dalam hadits Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa`id
al-Khudri, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:





"Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota
badannya berkata merendah kepada lisan: "Takwalah kepada Allah dalam
menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika
engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari
jalan petunjuk), kami juga menyimpang" [9] Oleh karena itu, seorang mukmin
hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan bagi seseorang yang menjaga
lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam
bersabda:


11

"Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua
rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin
surga baginya." [10]
Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam juga menjelaskan, menjaga lidah
merupakan keselamatan.

"Dari `Uqbah bin `Aamir, ia berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulallah,
apakah sebab keselamatan?" Beliau n menjawab: "Kuasailah lidahmu,
rumah yang luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu". [HR. Tirmidzi, no.
2406].
Maksudnya,

janganlah

berbicara

kecuali

dengan

perkara

yang

membawa kebaikan, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan


ketaatan-ketaatan, dan hendaklah menyesali kesalahan-kesalahan dengan
cara menangis. [11] Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata:
"Ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh)
menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas
maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama
maslahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena
perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau
makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan
itu tidak ada bandingannya.
Diriwayatkan dalam Shahhain, al-Bukhaari (no. 6475) dan Muslim (no. 47),
dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa
sallam, ia bersabda:

12

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata
yang baik atau diam".
Hadits yang disepakati keshahihannya ini merupakan nash yang jelas.
Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan
kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang
timbulnya maslahatnya, maka hendaklah ia tidak berbicara.
Imam asy-Syafi`i berkata: "Jika seseorang menghendaki berbicara,
maka sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika jelas nampak
maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara
sampai jelas maslahatnya".[12] Selain itu, lidah merupakan alat yang
berguna untuk mengungkapkan isi hati.
Jika ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan
lidahnya, isi pembicaraannya, dan hal itu akan menunjukkan isi hatinya, baik
orang tersebut mau maupun enggan. Diriwayatkan bahwasanya Yahya bin
Mu`adz berkata: "Hati itu seperti periuk dengan isinya yang mendidih.
Sedangkan lidah itu adalah gayungnya.
Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena sesungguhnya,
lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya,
manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan
menjelaskan kepadamu rasa hatinya".

BAB III
PENUTUP
Memahami tentang Bahaya Lisan atau ucapan yang sering kita ucapkan
dalam kehidupan sehari-hariyang keluar dari lidah kita tentunya kita harus
menjaga setiap Lisan yang hendak kita ucapkan agar kita terhindar dari
perkataan yang dilarang oleh Allah SWT. Sehingga kita terhindar dari dosa-dosa
lisan.
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah dengan judul Bahaya Lidah. Tentunya masih
banyak kekurngan dan kelemahan, penyusun banyak berharap kepada pembaca
untuk memberikan kritik dan saran agar Makalah ini dapat menjadi lebih baik.
Semoga Makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca
dan diharapkan bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Ghoni Asykur, Abdul. Kumpulan Hadits-Hadits Pilihan Bukhori Muslim.
Bandung: Husaini Bandung, 199.
2. Labib,Mz. Menghindari Bahaya Lisan.Surabaya : Putra Jaya.
3. Tafsir Adh-wa`ul Bayan, karya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi.
Lihat surat ar-Rahman, 55/3-4.
4. Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Da` wad-Dawa`, Tahqiq: Syaikh `Ali
bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.
5. Hasha`idul-Alsun, Penerbit Darul-Hijrah, hlm. 15.

14