Anda di halaman 1dari 27

UNIVERSITAS JAYABAYA

MAKALAH
REAKTOR FIXED BED MULTITUBE

OLEH :
NAMA

: ANISA RACHMAH FAUZIA

NIM

: 201571045E049

NAMA

: TISSA NOVIDA AULIA ZAHRAH

NIM

: 201571045E052

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
JAKARTA
2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ 1
BAB I

PENDAHULUAN ................................................................................... 2
1.1 Kerangka Teori .................................................................................. 2
1.1.1 Jenis-jenis Reaktor ................................................................. 2
1.2 Pemilihan Reaktor ............................................................................. 9
1.2.1 Tujuan Pemilihan Reaktor ...................................................... 9
1.2.2 Faktor Pemilihan Jenis Reaktor ........................................... 10

BAB II

PEMBAHASAN ................................................................................. 11
2.1 Deskripsi ......................................................................................... 11
2.2 Tipe Reaktor Fixed Bed Menurut Bentuk Tumpukan Katalisator ..... 12
2.3 Pemilihan katalisator........................................................................ 13
2.4 Kondisi Operasi dan Reaksi ............................................................. 14
2.5 Gambaran Fixed Bed Multitube ....................................................... 15
2.6 Langkah Operasi .............................................................................. 15

BAB III

PERHITUNGAN NERACA MASSA DAN NERACA PANAS ............ 17


3.1 Neraca Massa .................................................................................. 17
3.1.1 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk .................................. 17
3.1.2 Neraca Massa pada Reaktor............................................... 19
3.2 Neraca Panas ................................................................................... 24

BAB IV

KESIMPULAN ..................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Kerangka Teori


Reaktor kimia adalah sebuah alat industri kimia , dimana terjadi reaksi
bahan mentah menjadi hasil jadi yang lebih berharga.Dalam industri kimia,
reaktor merupakan alat yang sangat vital. Bagaimana tidak, tanpa reaktor atau
reaktornya rusak maka industri tersebut tidak akan menghasilkan .Karena
proses utama untuk menghasilkan produk terjadi di dalam reaktor.

1.1.1 Jenis jenis Reaktor


1. Berdasarkan Bentuknya
a. Reaktor Tangki
Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna,
sehingga komposisi dan suhu didalam reaktor setiap saat selalu
uniform. Dapat dipakai untuk proses batch, semi batch, dan proses
alir.
b. Reaktor Pipa
Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut
Reaktor Alir Pipa. Dikatakan ideal bila zat pereaksi yang berupa
gas atau cairan, mengalir didalam pipa dengan arah sejajar sumbu
pipa.

2. Berdasarkan Prosesnya
a. Reaktor Batch
Reaktor Batch merupakan raktor yang menghasilkan produk
dengan basis tiap satuan batch. Dalam satu kali proses batch,
reaktan dikonversi menjadi produk dalam waktu tertentu hingga
kesetimbangan tercapai atau reaktan habis bereaksi. Dalam reaktor
batch, konversi (X) berubah setiap saat sebagai fungsi waktu
hingga kesetimbangan tercapai atau reaktan habis bereaksi dalam

satu batch. Biasanya untuk reaksi fase cair dan untuk kapasitas
produksi yang kecil.
Reaktor batch ini memiliki keuntungan / kelebihan,
diantaranya adalah:
1. Lebih murah dibanding reaktor alir
2. Lebih mudah pengoperasiannya
3. Lebih mudah dikontrol
Sedangkan, untuk kerugian dari reaktor batch, diantaranya
adalah:
1. Tidak begitu baik untuk reaksi fase gas (mudah terjadi
kebocoran pada lubang pengaduk)
2. Waktu yang dibutuhkan lama, tidak produktif (untuk pengisian,
pemanasan zat pereaksi, pendinginan zat hasil, pembersihan
reactor, waktu reaksi)
b. Reaktor Semi Batch
Reaktor Semi Batch merupakan jenis reaktor yang digunakan
untuk meningkatkan selektivitas reaksi fase cair. Biasanya
berbentuk pengaduk. Sebagai contoh, 2 reaksi simultan berikut ini:
Reaksi pertama menghasilkan produk D
A+B D
Kecepatan reaksinya:rD = kC2ACB.
Reaksi kedua menghasilkan produk U
A+B U
Kecepatan reaksinya:rU= kUCAC2B
Selektivitas
(S D/U) = kD.C^2A.CB / kU.CA.C^2B =

kD.CA / kU.CB

Selektivitas merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar


reaksi membentuk produk yang kita inginkan (D) dibandingkan
produk yang tidak kita inginkan (U), yaitu dengan menjaga
konsentrasi A tetap tinggi dan konsentrasi B rendah, dengan begitu
maka dapat meningkatkan pembentukan produk D dan menurunkan
pembentukan produk U.

c. Reaktor Kontinyu
Reaktor kontinyu merupakan reaktor yang beroperasi secara
terus-menerus dimana reaktan akan terus mengalir dan diikuti
reaksi disepanjang reaktor. Semakin besar/panjang ukuran reaktor
maka kesempatan reaktan untuk bereaksi akan semakin besar
karena waktu reaksinya lebih lama. Dengan kata lain, waktu
tinggal berbanding lurus dengan volume reaktor, sehingga dapat
dikatakan konversi (X) merupakan fungsi volume reaktor.
Ada beberapa macam reaktor yang masuk kedalam reaktor
kontinyu, yaitu:
c.1 RATB (Reaktor Alir Tangki Berpengaduk)
Reaktor RATB yaitu reaktor yang dapat digunakan untuk
reaksi homogen dimana suhu, konsentrasi dan kecepatan reaksi
diantara zat-zat yang bereaksi sama di semua posisi reaktor atau
dapat dikatakan konsentrasi dan kecepatan reaksi bukan fungsi
waktu dan posisi dalam reaktor.
Di RATB, satu atau lebih reaktan masuk ke dalam suatu
bejana berpengaduk dan bersamaan dengan itu sejumlah yang
sama (produk) dikeluarkan dari reaktor.Pengaduk dirancang
sehingga campuran teraduk dengan sempurna dan diharapkan
reaksi berlangsung secara optimal.
Ada beberapa keuntungan dari penggunaan RATB,
diantaranya adalah:
Suhu dan komposisi campuran dalam reaktor sama
Volume reaktor besar, maka waktu tinggal juga besar, berarti
zat pereaksi lebih lama bereaksi di reactor
Tetapi juga terdapat beberapa kerugian dari penggunaan
reaktor ini, yaitu:
Tidak effisien untuk reaksi fase gas dan reaksi yang
bertekanan tinggi
Kecepatan perpindahan panas lebih rendah dibanding RAP

Untuk menghasilkan konversi yang sama, volume yang


dibutuhkan RATB lebih besar dari RAP

c.2 RAP (Reaktor Alir Pipa)


Reaktor RAP merupakan reaktor jenis kontinyu yang
berbentuk pipa, sehingga di sepanjang reaktor terjadi perubahan
konsentrasi, suhu dan kecepatan reaksi baik arah axial maupun
radial. Reaktan masuk kemudian mengalir disepanjang reaktor
dan

bereaksi

sehingga

konversi

meningkat

dengan

meningkatnya panjang reaktor.Dikatakan ideal jika zat pereaksi


dan hasil reaksi mengalir dengan kecepatan yang sama diseluruh
penampang pipa.
Terdapat keuntungan dari reaktor RAP ini, yaitu:

Memberikan volume yang lebih kecil daripada RATB, untuk


konversi yang sama
Selain itu reaktor ini juga memiliki beberapa kerugian,
diantaranya adalah:
Harga alat dan biaya instalasi tinggi
Memerlukan waktu untuk mencapai kondisi steady state
Untuk reaksi eksotermis kadang-kadang terjadi Hot Spot
(bagian yang suhunya sangat tinggi) pada tempat pemasukan.
Dapat menyebabkan kerusakan pada dinding reaktor.
3. Berdasarkan Keadaan Operasinya
a. Reaktor Isotermal
Dikatakan isotermal jika umpan yang masuk, campuran
dalam reaktor, aliran yang keluar dari reaktor selalu seragam dan
bersuhu sama.
b. Reaktor Adiabatis
Dikatakan adiabatis jika tidak ada perpindahan panas antara
reaktor dan sekelilingnya. Jika reaksinya eksotermis, maka panas
yang terjadi karena reaksi dapat dipakai untuk menaikkan suhu

campuran di reaktor. ( k naik dan rA besar sehingga waktu reaksi


menjadi lebih pendek).
c. Reaktor Non Adiabatis
Dikatakan

reaktor

Non

Adiabatis

apabila

terdapat

perpindahan panas antara reaktor dengan sekelilingnya.

4. Reaktor Gas Cair dengan Katalis Padat


a. Packed/Fixed bed reaktor (PBR)
Terdiri dari satu pipa/lebih berisi tumpukan katalis stasioner dan
dioperasikan

vertikal.

Biasanya

dioperasikan

secara

adiabatis.

Kehilangan tekanan (Pressure drop) nya lebih tinggi.


Product stream

Cooling/heating
medium in

Out

Feed

Gambar 1.1. Fixed Bed Reaktor

Keuntungan PBR :
Dapat digunakan untuk mereaksikan dua macam gas sekaligus
Kapasitas produksi cukup tinggi
Pemakaian tidak terbatas pada kondisi reaksi tertentu (eksoterm atau
endoterm) sehingga pemakaian lebih fleksibel

Kerugian PBR :
Transfer massa dan transfer panas rendah

Pemindahan katalis sangat sulit dan memerlukan waktu shut down


alat yang lama

Konversi lebih rendah


Ada kemungkinan terjadi reaksi samping homogen pada liquid
Pressure drop tinggi

b. Fluidized bed reaktor (FBR)


Reaktor dimana katalisnya terangkat oleh aliran gas reaktan.
Dan prosesnya terjadi secara isotermal. Perbedaannya dengan Fixed bed
adalah pada Fluidizedbed jumlah

katalis lebih sedikit dan katalis

bergerak sesuai kecepatan aliran gas yang masuk serta FBR


memberikan luas permukaan yang lebih besar dari PBR.

Gambar 1.2. Fluidized bed reactor

Keuntungan FBR :
Reaktor mempunyai kemampuan untuk memproses fluida dalam
jumlah yang besar
Pengendalian temperatur lebih baik
Pencampuran (mixing) yang bagus untuk katalis dan reaktan
Kerugian FBR :
Rancang-Bangun kompleks sehingga biaya mahal
Jarang digunakan di (dalam) laboratorium
5. Fluid fluid Reaktor
a. Bubble Tank

Gambar 1.3. Bubble Tank Reaktor

b. Agitate Tank

Gambar 1.4. Agitate Tank Reaktor

c. Spray Tower

Gambar 1.5. Spray TowerReaktor


Pertimbangan dalam pemilihan fluid-fluid reaktor.
1. Untuk gas yang sukar larut (Kl <) sehingga transfer massa kecil
maka Kl harus diperbesar.Jenis spray tower tidak sesuai karena kg
besar
2. Jika lapisan cairan yang dominan, berarti tahanan dilapisan cairan
kecil maka Kl harus diperbesar
jenis spray tower tidak sesuai.
3. Jika lapisan gas yang mengendalikan (maka Kg <)
jenis bubble tankdihindari.
4. Untuk gas yang mudah larut dalam air
jenis bubble tank dihindari.

1.2 Pemilihan Reaktor


1.2.1 Tujuan Pemilihan Reaktor
1. Mendapat keuntungan yang besar
2. Biaya produksi rendah
3. Modal kecil/volume reaktor minimum
4. Operasinya sederhana dan murah
5. Keselamatan kerja terjamin

6. Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya


1.2.2 Faktor Pemilihan Jenis Reaktor
1. Fase zat pereaksi dan hasil reaksi
2. Tipe reaksi dan persamaan kecepatan reaksi, serta ada tidaknya reaksi
samping
3. Kapasitas produksi
4. Harga alat (reactor) dan biaya instalasinya
5. Kemampuan reactor untuk menyediakan luas permukaan yang cukup
untuk perpindahan panas

10

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi
Perkembangan industri PTA saat ini berdampak pada tingkat
konsumsi paraxylene yang juga meningkat, dengan Indonesia yang masih
mengandalkan impor untuk menutupi kekurangan suplai paraxylene dalam
negeri. Paraxylene banyak digunakan sebagai bahan baku dasar bagi pabrik
penghasil dimetyl terephtalate (DMT) dan terephtalic acid (TPA) dimana
keduanya adalah perantara dalam produksi polyester. Keduanya digunakan
dalam pembuatan polyethylene terephtalate (PET). Paraxylene digunakan pula
sebagai bahan bakudimethyl terephthalate (DMT) juga digunakan dalam
pembuatan resin polybutylene terephtalate (PBT). Selain itu, paraxylene
banyak digunakan untuk bahan fiber, plasticizer, film, resin, sebagai solvent,
sebagai bahan baku Di-Paraxylene dan Herbisida dan sebagainya (www.the
innovation-group.com).
Pembuatan paraxylene dari toluene dengan proses selektivitas
disproporsionasi toluene merupakan reaksi katalitik fase gas. Reaksi ini
merupakan reaksi eksotermis. Reaksi berlangsung dalam reaktor fix bed
multitube menggunakan katalis HZMS-5 type zeolite pada suhu 400-470C
dan tekanan 21 atm.
Reaktor Fixed Bed dapat didefinisikan sebagai suatu tube silindrikal
yang dapat diisi dengan partikel-partikel katalis dengan menggunakan katalis
padat yang diam dan zat pereaksi berfase gas. Selama operasi, gas atau liquid
atau keduanya akan melewati tube dan partikel-partikel katalis, sehingga akan
terjadi reaksi. Butiranbutiran katalisator yang biasa dipakai dalam reaktor
fixed bed adalah katalisator yang berlubang di bagian tengah, karena luas
permukaan persatuan berat lebih besar jika dibandingkan dengan butiran
katalisator berbentuk silinder, dan aliran gas lebih lancar. Fixed bed reactor
biasanya digunakan untuk umpan (pereaktan) yang mempunyai viskositas
kecil.

11

Bentuk dari fixed bed reaktor dapat dibagi menjadi 2 yaitu single bed
reaktor dan fixed bed multiple. Untuk reaktor single bed Sebagai penyangga
katalisator dipakai butir-butir alumunia (bersifat inert terhadap zat pereaksi)
dan pada dasar reactor disusun dari butir yang besar makin keatas makin kecil,
tetapi pada bagian atas katalisator disusun dari butir kecil makin keatas makin
besar. Sedangkan untuk reaktor multitube bed, katalisator diisi lebih dari satu
tumpuk katalisator, fixed bed dengan katalisator lebih dari satu tumpuk
banyak dipakai dalam proses adiabatic.

2.2 Tipe Reaktor Fixed Bed Menurut Bentuk Tumpukan Katalisator


a. Reaktor dengan satu lapis tumpukan katalisator (single bed)
Pengendalian temperatur dalam reaktor fixed bed yang besar sulit,
karena konduktivitas panas sistem rendah dengan pelepasan atau
penyerapan panas yang besar. Di dasar tumpukan katalis dilengkapi
penyangga. Butir katalisator disusun makin ke atas makin kecil.

b. Reaktor dengan beberapa lapis tumpukan katalisator (multi bed)


Umumnya digunakan pada sistem adiabatik. Jika reaksi sangat
eksotermis, pada konversi yang relatif rendah temperatur campuran
campuran sudah naik sehingga campuran harus didinginkan dulu dengan
mengalirkannya ke alat penukar panas di luar reaktor, kemudian
dikembalikan lagi ke reaktor masuk ke tumpukan katalisator yang kedua,
dan seterusnya sampai diperoleh konversi yang diinginkan. Jika reaksi
endotermis, campuran pereaksi dialirkan ke alat penukar panas untuk
dipanaskan. Tebal tumpukan katalisator pada tiap lapis berbeda.

c. Reaktor yang terdiri dari beberapa pipa pipa kecil (tube) yang berisi
katalisator di dalam sebuah tabung besar (shell), Multitube
Reaktor ini digunakan untuk tujuan memperoleh pengendalian
temperatur yang lebih baik karena perpindahan panasnya besar, sehingga
perpindahan panas ke arah radiasi diabaikan.

12

2.3 Pemilihan katalisator


Pada reaksi Disproporsionasi Toluene menggunakan katalis yang
berpori (zeolite ZSM-5) agar diperoleh konsentrasi paraxylene yang tinggi.

fast

CH3

fast

CH3

CH3

slow
CH3

CH3

fast

CH3

CH3

slow

CH3
fast
Gambar 2.1. Mekanisme isomerisasi xylene dalam katalis zeolite ZSM-5
Reaksi trans-alkilasi toluene akan membentuk benzene, o-xylene, mxylene dan p-xylene. Benzene dapat berdifusi dengan cepat keluar dari katalis
dan xylene yang terbentuk akan mengalami isomerasi dengan cepat dalam
pori-pori katalis. Paraxylene dapat berdifusi keluar lebih cepat dibanding mxylene dan o-xylene karena keduanya sulit keluar dari pori-pori katalis, oleh
karena itu keduanya berisomerisasi membentuk paraxylene agar dapat keluar
dari pori-pori katalis. Fenomena di atas disebabkan oleh efek steotrip
hindrance

pada

masing-masing

struktur

molekulnya

(penghalang

berdasarkan bentuk molekulnya). P-xylene relatif lebih mudah keluar dari


karena struktur molekulnya lebih ramping dibandingkan m-xylene dan oxylene yang mempunyai sisi penghalang pada bagian kiri atau kanannya,
yaitu gugus methylnya.

13

2.4 Kondisi Operasi dan Reaksi


Pembuatan paraxylene dari toluene dengan proses selective toluene
disproportionation dapat dituliskan sebagai berikut :
2C7H8 C6H6 + C8H10
Proses pembentukan paraxylene melalui reaksi diproporsionasi
toluene pada prinsipnya yaitu proses pemindahan gugus metil dari molekul
toluene yang satu ke molekul toluene yang lain. Proses pemindahan gugus
alkyl memerlukan bantuan gas hydrogen untuk membentuk radikal
hydrogenium yang aktif maupun sebagai sumber proton/elektron untuk reaksi
redoksnya. Molekul toluen yang kehilangan gugus metilnya akan menjadi
benzene sedangkan molekul toluene lain yang meneruma gugus metil akan
membentuk xylene.
Xylene yang terbentuk merupakan campuran antara isomer-isomer
xylene (mixed xylene). Paraselectivity adalah jumlah proporsi paraxylene di
dalam total keseluruhan campuran xylene. Kenaikan paraselectivity di dalam
katalis disebabkan karena adanya kontrol difusi secara selektif melalui poripori katalis. Dalam hal ini katalis yang digunakan berupa katalis zeolite ZSM5.
Pada proses disproporsionasi toluene, bahan baku berupa toluen dan
hidrogen mausk ke dalam reaktor fixed bed multitube katalitik dimana terjadi
reaksi pada fase gas untuk membentuk paraxylene sebagai produk utama dan
benzene sebagai produk samping. Berlangsung pada suhu 390-400 C, tekanan
30 atm, pada fase gas menggunakan jenis reaktor Fixed Bed Multitube
Catalytic, menggunakan katalis zeolite ZSM-5. Bentuk reaktor yang dipilih
berupa bejana yang berbentuk silinder yang terdiri dari tube-tube tempat
mengalirkan pendingin reaktor dan terdapat bed yang diisi katalis (zeolite
ZSM-5).

14

2.5 Gambaran Fixed Bed Multitube

Gambar 2.1. Fixed Bed Mutitube Reactor

Gambar 2.2. Penampang dalam Fixed Bed Mutitube Reactor

2.8 Langkah Operasi


Proses pembuatan paraxylene dari bahan baku toluene dapat dibagi dalam
tiga tahap, yaitu :
1. Tahap penyiapan bahan baku
Toluene (C7H8) sebagai bahan baku dengan kemurnian 98% dipompa
menggunakan pompa (P01) dari tangki bahan baku (T01), menuju vaporizer
(V01) untuk diuapkan. Kemudian dari vaporizer ditambahkan hidrogen
dinaikkan tekanannya di kompresor (K01) hingga tekanan 21 atm dan suhunya
15

naik menjadi 212C setelah itu masuk kedalam furnace (F01) hingga suhu 470C
untuk menyesuaikan suhu dan tekanan di reaktor (R 01). Hidrogen tidak ikut
bereaksi dan dipisahkan dari senyawa-senyawa lain di dalam flash drum (FD01).
2. Tahap reaksi dalam reactor
Gas umpan reaktor (R 01) yang bersuhu 470C dan tekanan 21 atm
dimasukkan secara kontinyu ke dalam reaktor fixed bed multitube nonadiabatis
non isothermal yang menggunakan katalis zeolite tipe HZSM5. Reaksi yang
terjadi didalam reaktor reaksi eksotermis.
3. Tahap pemurnian hasil
Tekanan hasil keluaran reaktor (R01) diturunkan tekanannya dengan
throttling valve hingga 1,9 atm sebelum masuk Flash drum (FD01). Flash drum
terjadi pemisahan antara fraksi yang condensable dan non condensable. Fraksi non
condensable yang berupa hydrogen dan metana dimanfaatkan sebagai bahan bakar
boiler. Fraksi condensable di umpankan ke menara distilasi (MD01), yang
sebelumnya di naikkan suhunya dengan heat exchanger (HE01). Dari menara
distilasi 1 (MD01) diperoleh benzene sebagai distilat. Benzene kemudian
didinginkan oleh cooler (CL01) lalu disimpan ditangki penyimpanan produk
benzene (T02). Hasil bawah menara distilasi 1 diumpankan kemenara distilasi 2
(D02). Toluene yang keluar sebagai distilat direcycle kembali ke reaktor (R01),
hasil bawahnya dimasukkan ke cristallizer (CR01) untuk mengkristalkan
paraxylene. Paraxylene yang telah mengkristal dipisahkan dari mother liquor
dengan menggunakan centrifuge (CF01). Mother liquor yang berupa campuran
xylene disimpan pada tangki penyimpanan mixed xylene (T03). Lalu Kristal
paraxylene dilelehkan di melter (MT01) sebelum disimpan di tangki penyimpan
produk paraxylene (T04).

16

BAB III

PERHITUNGAN NERACA MASSA DAN NERACA PANAS

3.1 Neraca Massa


3.1.1 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk
Bahan Baku
a. Toluene
Rumus Molekul : C7H8
Bentuk

: cair

Kenampakan

: jernih

Kemurnian

: min 98 % wt

ImpuritasBenzene

: max 2 % wt

Titik didih

: 110,625C

Titik beku

: 94,97C

Berat Molekul

: 92,13 g/mol

Toluene

: 99,0 %wt

Paraxylene

: 0,50 %wt

Metaxylene

: 0,30 %wt

Ortoxylene

: 0,20 %wt

b. Hidrogen
Wujud

: gas

Berat Molekul

: 2,001 g/mol

Hidrogen

: 99,9 %wt

CH4

: 0,1 %wt

c. Katalis Zeolite HZSM5


Fase

: padat

Bentuk

: granular

Diameter

: 0,738 cm

Ukuran pori pori: 2 4,3


Bulk density

: 0,686 g/cm3

17

Produk
a. Produk Utama
Paraxylene
Rumus molekul : pC8H10
Fasa

: cair

Kenampakan

: jernih

Kemurnian

: min 99,11 %wt

Titik didih

: 242,36C

Titik Beku

: 13,26C

Berat Molekul

: 106,167 g/mol

Paraxylene

: 99,50 %wt

Impuritas
Metaxylene

: 0,30 %wt

Ortoxylene

: 0,15 %wt

Toluene

: 0,05 %wt

b. Produk Samping
Benzene
Rumus molekul : C6H6
Fase

: cair

Kenampakan

: jernih

Kemurnian

: min 99,5%wt

Titik didih

: 80,09c

Titik Beku

: 3,53C

Berat Molekul

: 78, 114 g/mol

Impuritas
Benzene

: 98,0 %wt (BM: 78,11 g/mol)

Toluene

: 2,0 %wt

18

3.1.2 Neraca Massa pada Reaktor

Rasio mol H2 / Feed Toluene = 0,5 : 1


Konversi

= 31%

Yield Mixed Xylene

= 14,7 %wt

Yield Benzene

= 14 %wt

Selektivitas -Paraxylene

= 94,7 %

- Metaxylene

= 4,3 %

- Ortoxylene

= 1%

(Sumber: US Patent No.6,458,736)

Yield Mixed Xylene =

,
,

) (

,
(

) (

= 51,2 %wt

Yield Benzene


) (

,
) (

= 48,8 %wt

Selektivitas : Paraxylene = 51,2 x 0,947 = 48,5 %wt


Metaxylene = 51,2 x 0,043 = 2,2 %wt
Ortoxylene = 51,2 x 0,010 = 0,5 %wt

Kapasitas Produksi = 800.000 ton/tahun


Waktu Produksi

= 24 jam/hari, 330 hari/tahun


= (800000 ton/tahun) x (1000 kg/ton) x (1 tahun/330
hari) x (1hari/24 jam)
= 101010,10 kg/jam

19

Neraca Massa pada Reaktor


Basis Feed toluene = 1000 kg/jam
=

/
,

= 10,854 kmol/jam

Komposisi Feed (toluene):


- Toluene

= 96,049 %wt = 0,96049 x 1000 kg/jam = 960,49 kg/jam

- Paraxylene = 1,791 %wt = 0,01791 x 1000 kg/jam = 17,91 kg/jam


- Metaxylene = 1,671 %wt = 0,01617 x 1000 kg/jam = 16,17 kg/jam
- Ortoxylene = 0,543 %wt = 0,00543 x 1000 kg/jam = 5,43 kg/jam

Rasio mol H2 : Feed Toluene = 0,5 : 1


Maka H2 = 0,5 x 10,854 kmol/jam = 5,427 kmol/jam
= 5,427 kmol/jam x BM Hidrogen
= 5,427 kmol/jam x 2 kg/kmol
= 10,86 kg/jam

Komposisi H2
H2 = 99,9 %wt = 0,999 x 10,86 kg/jam = 10,85 kg/jam
CH4 = 0,1 %wt = 0,001 x 10,86 kg/jam = 0,01 kg/jam
Total Feed = Feed toluene + hidrogen
= 1000 kg/jam + (10,85+0,01)kg/jam = 1010,86 kg/jam

Komposisi Produk :
- Paraxylene = Paraxylene awal + Paraxylene hasil reaksi
= 17,91 + (0,31 x 0,485 x 960,49)
= 162,32 kg/jam
- Metaxylene = Metaxylene awal + Metaxylene hasil reaksi
= 16,17 + (0,31 x 0,022 x 960,49)
= 22,72 kg/jam
- Ortoxylene = Ortoxylene awal + Ortoxylene hasil reaksi
= 5,43 + (0,31 x 0,005 x 960,49)
= 6,92 kg/jam
20

- Benzene

= Benzene hasil reaksi


= 0,31 x 0,488 x 960,49
= 143,92 kg/jam

- Toluene

= Toluene awal Total produk selain toluene


= 1000 (162,32 + 22,72 + 6,92 + 143,92)
= 664,12 kg/jam

Faktor konversi berdasarkan kapasitas produksi :


FK =

/
/

=622,28992
Tabel 3.1 Neraca Massa pada Reaktor
Basis Feed 1000 kg/jam
KOMPONEN

Konversi untuk kapasitas


produksi 800.000 ton/tahun

INPUT

OUTPUT

INPUT (A x

OUTPUT (B

(A)

(B)

622,28992)

x 622,28992)

(kg/jam)

(kg/jam)

(kg/jam)

(kg/jam)

Toluene

960,49

664,12

597703,25

413275,18

Benzene

143,92

89559,97

Paraxylene

17,91

162,32

11145,21

101010,10

Metaxylene

16,17

22,72

10062,43

14138,43

Ortoxylene

5,43

6,92

3379,03

4306,25

H2

10,85

10,85

6751,85

6751,85

CH4

0,01

0,01

6,22

6,22

JUMLAH

1010,86

1010,86

629047,99

629047,99

21

3.2 Neraca Panas


Kondisi Operasi Reaktor:
P

: 30 atm

T in

: 390 C = 663 K

T out : 400 C = 673 K


Neraca Panas Total
Operasi berlangsung secara non-isotermal non-adiabatis, sehingga:
Qtotal = - Qreaktan + Qrx + Qproduk
Dimana,
Qreaktan (panas yang dibawa umpan berupa gas masuk reaktor):
Qreaktan = n

Qproduk (panas yang dibawa produk berupa gas keluar reaktor)


Qproduk = n

Qrx = panas reaksi pada 298 K


Qrx = n Hf 298 produk - n Hf 298 reaktan
.

= ( ) + [(
2

)] + [(
3

)] + [(
4

)] + [(
5

)]

1. Menghitung panas reaktan masuk (Qreaktan)


T= 663 K
Tref = 298 K
Komponen

kmol

CpG.dT

Q = n CpG.dT (kJ)

Toluene

3155,3827

59255,3729

186973379,8621

P-xylene

51,0583

48108,1815

2456323,5356

M-xylene

46,0978

70415,0107

3245980,3079

O-xylene

15,4800

70497,4824

1091297,6010

1628,9633

71845,1687

117033142,5811

0,1889

10661,5508

2013,6196

H2
CH4
Q=

310802137,5091

22

2. Menghitung panas reaksi pada keadaan standar (Qrx)


Qrx = n Hf 298 produk - n Hf 298 reaktan
a. Menghitung enthalpy reaktan
Komponen

kmol

Hf 298

nHf (kJ)

Toluene

3155,3827

50000

157769136,0035

P-xylene

51,0583

17950

916497,0707

M-xylene

46,0978

17240

794726,8624

O-xylene

15,4800

19000

294119,0765

1628,9633

0,1889

-74850

-14136,7263

H2
CH4

159760342,2868

b. Menghitung enthalpy produk


Komponen

kmol

Hf 298

nHf (kJ)

Toluene

2181,7539

50000

109087696,7329

Benzene

557,6382

82930

46244935,5493

P-xylene

462,7461

17950

83062991,6160

M-xylene

64,7708

17240

1116648,3446

O-xylene

19,7277

19000

374826,1701

1628,9187

0,1889

-74850

-14136,7263

H2
CH4

165116261,6866
Qrx = n Hf 298 produk - n Hf 298 reaktan
= 165116261,6866 - 159760342,2868
= 5355919,3998 kJ

23

3. Menghitung panas produk keluar dari reaktor (Qproduk)


Tout = 673 K
Tref = 298 K
Komponen

kmol

CpG.dT

Q = n CpG.dT (kJ)

Toluene

2181,7539

61354,5151

133860454,6763

Benzene

557,6382

49819,4213

27781212,2155

P-xylene

557,6382

72906,7107

33737292,4752

M-xylene

462,7461

72989,8910

4727612,5819

O-xylene

64,7708

74356,6339

1466884,8589

H2

19,7277

10955,9027

17846274,2012

1628,9187

17149,2714

3238,9386

CH4
Q=

219422969,9476

4. Menghitung panas total di reaktor


Qtotal = Qrx + Qproduk - Qreaktan
Qtotal = -86023248,1616 kJ (eksoterm)

24

BAB IV

KESIMPULAN

Pembuatan

paraxylene

dari

toluene

dengan

proses

selektivitas

disproporsionasi toluene merupakan reaksi katalitik fase gas. Reaksi ini


merupakan reaksi eksotermis. Reaksi berlangsung dalam reaktor fix bed multitube
menggunakan katalis HZMS-5 type zeolite pada suhu 400-470C dan tekanan 21
atm.
Digunakan reaktor Fixed Bed karena jenis reaktor tube silindrikal yang
dapat diisi dengan partikel-partikel katalis dengan menggunakan katalis padat
yang diam dan zat pereaksi berfase gas. Selama operasi, gas atau liquid atau
keduanya akan melewati tube dan partikel-partikel katalis, sehingga akan terjadi
reaksi. Reaktor Fixed Bed yang digunakan adalah multitube bed, katalisator diisi
lebih dari satu tumpuk katalisator, fixed bed dengan katalisator lebih dari satu
tumpuk banyak dipakai dalam proses adiabatic
Neraca massa pada reaktor dengan toluene sebagai input sebesar 597703,25
kg/jam, paraxylene 11145,21 kg/jam, metaxylene 10062,43 kg/jam, ortoxylene 3379,03
kg/jam, hydrogen 6751,85 kg/jam, methane 6,22 kg/jam. Dan output masing-masing
komponen toluene 413275,18 kg/jam, benzene 89559,97 kg/jam, paraxylene 101010,10
kg/jam, metaxylene 14138,43 kg/jam, ortoxylene 4306,25 kg/jam, hidrogen 6751,85
kg/jam, methane 6,22 kg/jam. Berdasar perhitungan pada neraca panas Qtotal = -

86023248,1616 kJ , maka reaksi bersifat eksoterm.

25

DAFTAR PUSTAKA
Faith ,W.L., Keyes, D.B., and Clark, R.L., 1975, Industrial Chemicals, 4th
Edition, John Wiley Sons Inc., New York
Kirk, R.E., and Othmer, V.R., 1998, Encyclopedia of Chemical Technology,
4thed, John Wiley & Sons Inc., New York
Kusmiyati, 2015."Reaktor Kimia". Muhammadiyah University Press: Surakarta.
http://www.engin.umich.edu/~CRE/01chap/html/reactors/bp.htm
http://www.igb.fraunhofer.de/WWW/presse/Jahr/1998/en/PI_Fixed-bedreactor.em

26