Anda di halaman 1dari 4

Gejala klinis osteoporosis

Osteoporosis biasa disebut juga silent disease karena tidak menimbulkan gejala pada awalnya
hingga kemudian terjadi patah tulang. Gejala yang dapat timbul :
1. Terjadinya patah tulang akibat trauma atau cedera yang ringan saja, misalnya jatuh
terduduk akibat terpeleset di kamar mandi.
Patah tulang yang biasa terjadi :
a. Patah tulang belakang
b. Patah tulang panggul
c. Patah tulang pergelangan tangan
2. Nyeri punggung akibat patah tulang belakang
3. Nyeri pinggang bawah yang dapat menjalar ke kedua tungkai bawah karena
terjepitnya saraf-saraf tulang belakang akibat pergeseran tulang belakang yang patah
4. bungkuk (kyphosis) sehingga tinggi badan sangat berkurang
sumber : Dr. Harjanto Effendi, SpOT. Patah Tulang Pada Penderita Osteoporosis :
Download from the RS Mitra Keluarga Grup License Web Site at
www.mitrakeluarga.com/bekasibarat/?p=1309. Copyright 2008.
Pencegahan osteoporosis
1. mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian. Jumlah asupan kalsium yang
dianjurkan adalah 1000-1200 gram, sedangkan asupan Vitamin D adalah 600-800 UI.
Kecukupan ini bisa didapatkan melalui asupan makanan ataupun melalui suplemen.
Menurut data BPS, rata-rata konsumsi kalsium orang Indonesia adalah sekitar
254mg/hari, masih sangat jauh dari jumlah yang dianjurkan. Bagi orang Indonesia,
konsumsi Ca berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) tahun 2004, untuk usia 10-18
tahun (laki-laki dan wanita) adalah 1000 mg/hr. Sedangkan untuk usia > 19 tahun
(laki-laki dan wanita) adalah 800 mg/hr. Konsumsi akan meningkat menjadi 950
mg/hr untuk wanita yang sedang hamil dan menyusui . Ada banyak pilihan bahan
npangan yang kaya akan Ca, misalnya susu dan produk olahannya, sayuran berwarna
hijau, kerang, ikan, kedelai dan produk olahannya seperti tahu dan tempe.
2. Rajin berolahraga minimal 3 kali seminggu. Minimnya aktivitas fisik memang
merupakan salah satu faktor risiko osteoporosis.
3. Menghindari asupan bahan-bahan yang dapat menyebabkan osteoporosis, misalnya
merokok, mengkonsumsi kopi berlebih, minuman bersoda, dan minuman beralkohol.
4. Melakukan pemeriksaan BMD secara teratur. Dianjurkan melakukan pemeriksaan
tulang minimal setiap 6 bulan. Dan berobatlah bila terdeteksi menderita osteoporosis.
sumber : Dr. Harjanto Effendi, SpOT. Patah Tulang Pada Penderita Osteoporosis :
Download from the RS Mitra Keluarga Grup License Web Site at
www.mitrakeluarga.com/bekasibarat/?p=1309. Copyright 2008.
Etiologi fraktur kompresi

Penyebab terjadinya fraktur kompresi vertebra adalah sebagai berikut:


1. Trauma langsung ( direct )

Fraktur yang disebabkan oleh adanya benturan langsung pada jaringan tulang
seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan benturan benda
keras oleh kekuatan langsung.
2. Trauma tidak langsung ( indirect )
Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih disebabkan
oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot, contohnya
seperti pada olahragawan yang menggunakan hanya satu tangannya untuk
menumpu beban badannya.
3. Trauma tidak langsung ( indirect )
Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteoporosis, penderita
tumor dan infeksi.
Sumber : http://dokita.co/blog/penyebab-fraktur-kompresi-tulang-belakang/

Gejala klinis nyeri punggung


(ini aku bingung ven gmn gejala klinisnya, jd ku tulis berdasar tipe nyeri ._. )
Tipe-tipe nyeri punggung bawah dapat dibedakan empat tipe rasa nyeri : nyeri
lokal, alih, radikuler dan yang timbul dari spasme muskuler sekunder (protektif).
Gejala nyeri yang khas pada masing-masing nyeri yaitu :
1. Nyeri lokal disebabkan oleh sembarang proses patalogis yang menekan
atau merangsang ujung-ujung saraf sensoris. Keterlibatan struktur yang
tidak mengandung ujung-ujung saraf sensoris adalah tidak nyeri. Sering
dikemukakan sebagai rasa nyeri yang stabil tetapi bisa intermiten dengan
variasi yang cukup besar menurut posisi atau aktivitas pasien. Nyeri dapat
bersifat tajam atau tumpul dan sekalipun sering difus, rasa nyeri ini selalu
terasa pada atau di dekat tulang belakang yang sakit. Gerakan
berlawanan arah secara refleks dari segmen-segmen tulang belakang oleh
otot-otot paravertebralis sering tercatat dan dapat menyebabkan
deformitas atau abnormalitas postur. Gerakan atau sikap tertentu yang
mengubah posisi jaringan yang cedera memperhebat nyeri. Tekanan yang
kuat atau perkusi pada struktur superficial regio yang terkena biasanya
menimbulkan nyeri tekan yang merupakan gejala untuk membantu
mengenali abnormalitas.
2. Nyeri alih terdiri atas dua tipe : yang diproyeksikan dari tulang belakang
ke regio yang terletak di dalam daerah dermatom lumbal serta sakral
bagian atas, dan yang diproyeksikan dari visera pelvik dan abdomen ke
tulang belakang. Nyeri akibat penyakit-penyakit di bagian atas vertebral
lumbal biasanya dialihkan ke permukaan anterior paha dan tungkai ; nyeri
yang berasal dari segmen lumbal bawah dan sakral akan dialihkan ke
regio gluteus, paha posterior, betis serta kadang-kadang kaki. Nyeri jenis
ini, meskipun berkualitas dalam, sakit dan agak difus, cenderung pada

beberapa saat untuk diproyeksikan ke superfisial. Pada umumnya, nyerialih memiliki intensitas yang sejajar dengan nyeri lokal pada punggung.
Dengan kata lain, manuver yang mengubah nyeri lokal mempunyai efek
yang serupa pada nyeri-rujukan, meskipun tidak dengan ketepatan dan
kecepatan seperti pada nyeri radikuler atau nyeri akar. Nyeri-rujukan
dapat dikacaukan dengan nyeri-rujukan dengan nyeri pada viseral, namun
yang belakangan ini dijelaskan sebagai dalam dan cenderung untuk
mejalar dari abdomen menuju bagian belakang tubuh. Juga, nyeri viseral
biasanya tidak dipengaruhi oleh gerakan tulang belakang, tidak membaik
dengan berbaring, dan bisa dimodifikasi dengan aktivitas dari viskus yang
terlibat.
3. Nyeri radikuler atau nyeri-akar memiliki beberapa ciri khas nyeri-alih
tetapi berbeda dalam hal intensutasnya yang lebih besar, radiasi distal,
keterbatasan pada daerah radiks (akar) saraf, dan faktor-faktor yang
mencetusnya. Mekanisme terjadinya terutama berupa distorsi, regangan,
iritasi dan kompresi radiks spinal, yang paling sering terjadi di bagian
sentral terhadap foramen invertrebralis. Meskipun nyerinya sendiri sering
tumpul atau sakit terus, berbagai manuver yang meningkatkan iritasi akar
atau meregangnya bisa sangat memperhebat nyeri, menimbulkan suatu
kualitas menusuk-nusuk. Penjalaran nyeri hamoir selalu berasal dari posisi
sentral dekat tulang belakang hingga bagian tertentu pada ekstrimitas
bawah. Batuk, bersin dan mengejan merupakan manuver pencetus yang
khas, tetapi juga karena meregang atau menggerakkan tulang belakang,
semua kejadian tersebut dapat pula meningkatkan intensitas nyeri lokal.
Gerakan membungkuk ke depan dengan lututndiekstensikan atau
gerakan mengangkat lutut dalam keadaan lurus akan mencetuskan
nyeri radikuler pada penyakit bagian bawah vertebra lumbal yang terjadi
atas dasar regangan, kompresi vena jugularis yang menaikkan tekanan
intraspinal dan dapat menyebabkan suatu pergeseran pada posisi dari
atau tekanan pada radiks, dapat menimbulkan efek serupa. Iritasi radiks
saraf lumbal keempat serta kelima dan sakral pertama yang terutaa
meluas ke bawah hingga mengenai permukaan psterior paha dan
permukaan posterior serta lateral tungkai. Secara khas, pemjalaran rasa
nyeri ini-yang disebut dengan istilah sciatica- berhenti di daerah
pergelangan kaki dan disertai dengan perasaan kesemutan atau rasa baalparestesia-yang menjalar ke bagian yang lebih distal hingga mengenai
kaki. Rasa kesemutan, parestesia dan rasa baal atau kelainan sensoris
pada kulit, perih pada kulit, dan nyeri sepanjang saraf tersebut juga dapat
menyertai nyeri skiatika klasik, dan pada pemeriksaan fisis, hilangnya
refleks, kelemahan, atrofi, tremor fasikuer, dan kadang-kadang edema
stasis dapat terjadi jika serabut-serabut motoris radiks anterior terkena.
4. Nyeri akibat spasme otot biasanya dikemukakan dalam hubungannya
dengan nyeri lokal, namun dasar antomik atau fisiologiknya lebih tidak
jelas. Spasme otot yang berkaitan dengan pelbagai kelainan tulang
belakang dapat menimbulkan distorsi yang berarti pada sikap tubuh yang
normal. Akibatnya, tegangan kronik pada otot bisa mengakibatkan rasa
pegal atau sakit yang tumpul dan kadang perasaan kram. Pada keadaan

ini, penderita dapat mengalami rasa kencang pada otot-ottot sakrospinalis


serta gluteus dan lewat palpasi memperlihatkan bahwa lokasi nyeri
terletak dalam struktur ini.
Sumber : Kurt, J. Isselbacher et al. 1999. Harrison