Anda di halaman 1dari 21

Laporan Puskesmas

LAPORAN STASE PUSKESMAS WENANG

Oleh:
Sammy A Walasary
Jeffking Dudung

15014101044
15014101076

Masa KKM:
21 Maret 2016 1 Mei 2016

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN STASE PUSKESMAS WENANG

Oleh:

Sammy A Walasary
Jeffking Dudung

15014101044
15014101076

Telah dibacakan dan disetujui pada tanggal

April 2016

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

dr. Margareth R. Sapulete, Mkes

dr. B. Lampus, Mkes, PKK, DK

BAB I
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS WENANG
A. Profil Puskesmas Wenang
a. Keadaan Geografis
Puskesmas Wenang terletak di Kelurahan Teling Bawah Lingkungan VI
Kecamatan Wenang Kota Manado. Dengan batas batas wilayah kerja sebagai
berikut :
1. Sebelah Utara

: Kelurahan Tuminting Kecamatan Singkil

2. Sebelah Timur

: Kelurahan Tikala KecamatanTikala

3. Sebelah Barat

: Teluk Manado

4. Sebelah Selatan

: Kecamatan Sario dan KecamatanWenang

b. Kependudukan
Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Wenang sebanyak 38.156 jiwa.
Jumlah Laki-Laki

: 18.768 jiwa

Jumlah Perempuan

: 19.388 jiwa

Jumlah KK

: 9029 KK

B. Visi Misi PuskesmasWenang

Visi
Kecamatan Wenang Sehat menuju Manado Kota Model Ekowisata Dunia

Misi
Mewujudkan masyarakat serta lingkungan kecamatan wenang yang bersih, sehat
melalui pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau.

C. Luas Wilayah Kerja dan Peta Wilayah

Luas Wilayah Kerja


Puskesmas Wenang mempunyai luas wilayah kerja sebagai berikut:
1. Kelurahan Tikala Tumaraka

: 0,21km2

2. Kelarahan Mahakeret Timur

: 0,24km2

3. Kelurahan Mahakeret Barat

: 0,19km2

4. Kelurahan Wenang Utara

: 0,17km2

5. Kelurahan Wenang Selatan

: 0,31 km2

6. Kelurahan Pinaesan

: 0,43 km2

7. Kelurahan Calaca

: 0,16km2

8. Kelurahan Istiqal

: 0,09km2

9. Kelurahan Lawangirung

: 0,27km2

10. Kelurahan Komo Luar

: 0,51km2

11. Kelurahan Bumi Beringin

: 0,40km2

12. Kelurahan Teling Bawah

: 0,36km2

Peta Wilayah

BAB II
ANALISIS UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSKESMAS
DENGAN PENDEKATAN SISTEM
A. Analisis Masukan (Input) Puskesmas
Komponen Input ini diuraikan sumber daya yang dimiliki oleh Puskesmas
(apakah ada, kelebihan atau kekurangan) meliputi:
a. Man
Jumlah Petugas (medis/ paramedis dan non-medis/ paramedis ).
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dokter
Perawat dan Bidan
Perawat Gigi
Gizi
Farmasi
Tenaga Sanitasi

: 4 orang
: 20 orang
: 3 orang
: 2 orang
: 3 orang
: 2 orang

b. Machine
Perlengkapan dan peralatan kesehatan yang tersedia. Keadaan sarana Kesehatan
sebagai tempat pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Wenang, terdiri dari:
1. Ruang Kepala Puskesmas
: 1 ruang
2. Poliklinik Umum
: 1 ruang
3. Poliklinik gigi dan mulut
: 1 ruang
4. Ruang KIA atau KB
: 1 ruang
5. Ruang imunisasi
: 1 ruang
6. Ruang TB dan Kusta
: 1 ruang
7. Tata usaha
: 1 ruang
8. Apotek
: 1 ruang
9. Laboratorium
: 1 ruang
10. Mobil pusling
: 1 unit
11. Puskesmas Pembantu
: 8 buah
12. Posyandu
: 32 buah
13. Komputer
: 1 buah
14. TV
: 1 buah
15. Printer
: 1 buah
c. Money
Sumber-sumber pembiayaan kesehatan yang tersedia. Pembiayaan kesehatan
untuk tahun 2014 dengan anggaran kesehatan bersumber dari APBD kota

Manado melalui program Universal Coverage (UC) dan dari APBN melalui
dana BOK berjumlah serta dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
d. Material
SP2TP terdiridari:
- Catatan: kartu individu, rekam kesehatan keluarga dan buku register
- Laporan: bulanan, tahunan dan KLB
B. Analisis Proses Puskesmas
Planning (Perencanaan)
Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Rencana tahunan
puskesmas dibedakan atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya
kesehatan wajib. Kedua, rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan.
Organizing (Pengorganisasian)
Untuk

terlaksananya

rencana

kegiatan

Puskesmas

perlu

dilakukan

pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus dilakukan.


Pertama, pengorganisasian berupa penentuan para penanggung jawab dan para
pelaksana untuk setiap kegiatan serta untuk setiap satuan wilayah kerja. Kedua,
pengorganisasian berupa penggalangan kerja sama tim secara lintas sektoral.
Actuating (Penyelenggaraan)
Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah
menyelenggarakan rencana kegiatan Puskesmas, dalam arti para penanggung
jawab dan para pelaksana yang telah ditetapkan pada pengorganisasian,
ditugaskan menyelenggarakan kegiatan Puskesmas sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan.
Controlling and Evaluating (Pemantauan dan Penilaian)
Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan pemantauan yang
dilakukan secara berkala. Lalu melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan
kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan
standar pelayanan.
C. Analisis Keluaran (Output) Puskesmas

1. Upaya Promosi Kesehatan


Penyuluhan kesehatan
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
Kerja bakti tiap hari jumat
Pengawasan air, jamban bersih, dan rumah makan
Survei kebersihan di wilayah kerja Puskesmas
Perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga
3. Upaya perbaikan gizi masyarakat
Penyuluhan gizi
Pemberian makanan tambahan (PMT)
PemberianVit A pada bayi dan balita
Penyuluhan tentang Asi eksklusif
Imunisasi
4. Upaya kesehatan ibu dan anak (KIA) & Keluarga Berencana (KB)
Penimbangan berat badan ibu dan anak
Pengukuran tekanan darah untuk ibu hamil
Pemberian tablet Fe
Pemberian vaksin Hepatitis untuk ibu hamil
Suntik TT pada ibu hamil
Penyuluhan KB
Screening high risk pregnancy
5. Upaya Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
Survei penyakit menular seperti DBD
Melakukan Fogging dan abatisasi
Penyuluhan mengenai penyakit menular terbanyak di daerah setempat
6. Upaya Pengobatan

Sumber dari dana APBD (Pemerintah Kota)


Jenis obat terdiri dari 90% obat generik dan 10% obat paten
Mengajukan permintaaan ke Dinkes Depo Farmasi
Membuat dokumen bukti mutasi barang
Disalurkan ke pustu, apotek, poliklinik

Jumlah kunjungan rawat jalan

: 14.450 orang

BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH
A. Masalah Manajemen Kesehatan
Puskesmas merupakan ujung tombak peyanan kesehatan bagi masyarakat karena
cukup efektif membantu masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama
dengan standart pelayanan kesehatan. Peningkatan mutu pelayanan Puskesmas
yang dilakukan oleh pemerintah kini disambut baik oleh masyarakat. Pelayanan
kesehatan yang dianggap murah bahkan gratis menjadikan Puskesmas sebagai
primadona dimata masyarakat khususnya masyarakat yang kurang mampu, namun
keterbatasan sarana-parasarana menyebabkan kurang optimalnya pelayanan yang
diberikan Puskesmas. Contohnya pada poli gigi yang bisa dilakukan hanya tindakan

ekstraksi sebenarnya perawat gigi berkompeten melakukan tumpatan, namun


keterbatasan prasarana menjadi kendala utama.
Hal ini mempengaruhi fungsi Puskesmas yaitu memberikan tindakan preventif
dan promotif daripada kuratif dan rehabilitative dalam pelayanan kesehatan.
Kurangnya perhatian dari pemerintah memberikan dampak yang cukup besar bagi
peran dan fungsi Puskesmas yang pada akhirnya lebih memberikan tindakan
kuratif.
B. Masalah Kesehatan

Mortalitas
Angka Kematian atau Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada
kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat
berupa penyakit ataupun sebab lainnya.
Jumlah kematian yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Wenang ada 3
kasus, di antaranya;
a. Angka Kematian Bayi
Kematian Neonatal yang terjadi di tahun 2014 berjumlah 2 kasus yaitu di
kelurahan Mahakeret barat dan Teling Bawah.

b. Angka Kematian Ibu


Angka Kematian ibu di tahun 2014 dilaporkan berjumlah 1 kasus yaitu di
kelurahan Mahakeret Barat.

Morbiditas
Morbiditas adalah angka kesakitan, Morbiditas menggambarkan kejadian
penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu yang juga berperan
dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.10 penyakit utama
pasien rawat jalan yang datang di Puskesmas Wenang untuk semua kelompok
umur. Di bawah ini adalalah 10 penyakit menonjol yang sudah diurutkan
berdasarkan jumlah kasus terbanyak dari Januari 2015 sampai Juli 2015:
1. Nasopharingitis Akut
2. Dermatitis
3. Hipertensi

4. Diare
5. Gastritis
6. Kelainan refraksi
7. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal
8. Penyakit pada sistem otot
9. Asma
10. Infeksi Mastoid

Status Gizi
Status gizi didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh
keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Status gizi merupakan
ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi. Untuk anak diindikasikan oleh
berat badan dan tinggi badan.Dari hasil penimbangan anak balita yang ada di
Puskesmas Wenang maupun di masing-masing posyandu yang ada tercatat 4
balita dengan BGM (bawah garis merah) di tahun 2014 dan belum ada balita
BGM di tahun 2015. Seluruh anak dengan BGM diberikan makanan tambahan
dalam bentuk sachet oleh Puskesmas.

C. Masalah Pelayanan Kesehatan


Pelayanan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat
(acceptable) serta berkesinambungan (sustainable). Artinya semua jenis pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan masyarakat ditemukan serta keberadaannya dalam
masyarakat adalah ada pada tiap saat dibutuhkan. Tanpa disadari pelayanan
kesehatan tak selamanya memuaskan. Masalah yang ditemukan di Puskesmas
Wenang saat stase berlangsung, meliputi:
Ketersediaan Obat
Ketersediaan obat yang terbatas menjadi kendala dalam layanan pengobatan
penyakit. Kadang, obat yang diresepkan habis stok dan terpaksa harus dibeli
sendiri di apotek luar. Hal ini cukup merugikan pasien dari segi waktu dan

materi.
Alat Kesehatan
Dari segi prasarana, alat kesehatan seperti tensimeter masih menggunakan jenis
digital dalam pemeriksaan tanda vital sehari-hari, padahal lebih baik lagi jika

menggunakan tensimeter air raksa agar lebih akurat dan terpercaya. Selain itu,
tidak tersedia kartu tes ishihara atau buta warna, sehingga pemeriksa harus
mendownload terlebih dahulu dari google. Hal ini sangat disayangkan, sebab
banyak orang sering meminta surat keterangan sehat dari puskesmas.

BAB IV
MASALAH KESEHATAN
A. Prioritas Masalah Kesehatan
Berdasarkan data 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Wenang periode Juli 2015
bahwa hipertensi menempati urutan tiga dan masih perlu mendapat perhatian
khusus. Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia.
Betapa tidak, hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan
kesehatan primer kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan
prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Di
samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang
efektif banyak tersedia.4
a) Definisi
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa

oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi


seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk
penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu
sebagai peringatan bagi korbannya. (Lanny Sustrani, dkk, 2004).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg
pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang.
b) Epidemiologi
Menurut American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang berusia
diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa,
namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi
merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing
individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya.
c) Faktor Risiko
Umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetik (faktor risiko yang tidak dapat
diubah/dikontrol), kebiasaan merokok, konsumsi garam,konsumsi lemak jenuh,
penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minum-minuman beralkohol,
obesitas, kurang aktifitas fisik, stres, penggunaan estrogen.
d) Gejala
Gejala-gejalanya itu adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung
berdebar-debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus)
dan epistaksis.
e) Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VII, 2003
Klasifikasi
Tekanan Darah
Normal
Prehipertensi
Hipertensi Grade I
Hipertensi Grade II

Tekanan Darah Sistol

Tekanan Darah Diastol

(mmHg)
<120
120-139
140-159
160 atau <160

(mmHg)
<80
80-89
90-99
100 atau >100

Adapun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi:


1. Berdasarkan penyebab
a. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial

Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun


dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hid up seperti kurang bergerak
(inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita
hipertensi.
b. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu
(misalnya pil KB).
2. Berdasarkan penyebab bentuk Hipertensi
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension), Hipertensi campuran (sistol dan
diastol yang meninggi), Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension).

/
f) Tatalaksana
Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obatobatanataupun dengan cara modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup dapat
dilakukan dengan membatasi asupan garam tidak lebih dari -1/2 sendok teh (6
gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman berkafein, rokok,
dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita hipertensi,
dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 me nit dengan
frekuensi 3-5 x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan
mengendalikan stress.
Adapun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh pen de rita
hipertensi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa,
gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biskuit,
crackers,keripik dan makanan kering yang asin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, kornet, sayuran
sertabuah-buahan dalam kaleng, soft drink).

4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan


asin,pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber
proteinhewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing),
kuningtelur, kulit ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal,
taucoserta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram
natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.
Kelas obat utama yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah
adalah : diuretik (thiazide, antagonis aldosterone), beta blocker (atenolol,
betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol), inhibitor enzim pengubah angiotensin
(amlodipine, nifedipine), penghambat reseptor angiotensin II, antagonis kalsium
(captopril), alpha blocker, vasodilator.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara puskesmas dalam mengurangi angka kesakitan hipertensi?
C. Identifikasi Penyebab Masalah

Pendekatan Teori Blum


Menurut Hendrik L Blum ada 4 faktor yang mempengaruhi status derajat
kesehatan masyarakat atau perorangan. Faktor-faktor tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
1 Lingkungan
Akses terhadap air bersih

cukup baik namun pengelolaan sampah

masih kurang, karena kesadaran penduduk dalam menjaga kebersihan


terutama saluran air juga masih kurang. Hal ini terlihat dari sampah yang
berserakan di pinggir jalan dan akhirnya masuk ke saluran air.
2

Perilaku
Kebiasaan merokok, konsumsi garam, konsumsi lemak jenuh, kebiasaan
konsumsi minum-minuman beralkohol, obesitas, kurang aktifitas fisik,
stress.

Pelayanan Kesehatan

Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan (balai pengobatan) maupun


rujukan (rumah sakit) dan tenaga kesehatan cukup. Namun, di hari-hari
tertentu hanya ada dua praktik dokter di poli umum walaupun pasien
banyak.
4

Keturunan
Penyakit herediter yang paling mendominasi adalah penyakit hipertensi.

Konfirmasi Penyebab Masalah


Kinerja petugas dalam penyelenggaraan kegiatan puskesmas dalam hal ini
penyuluhan kesehatan tidak berlangsung sesuai dengan perencanaan yang telah
ditetapkan.

D. Penanggulangan Masalah

Alternatif Penanggulangan Masalah


Alternatif yang dipilih adalah home visit. Dengan home visit petugas dapat
melakukan pendekatan dengan masyarakat, sehingga materi yang disampaikan
dapat dengan mudah diterima dan masyarakat dapat leluasa bertanya tentang
materi yang belum jelas tanpa rasa sungkan.

E. Pemecahan Masalah Terpilih

Rencana Penanggulangan Masalah


1 Menyampaikan informasi lengkap saat penyuluhan di tempat umum,
2

misalnya puskesmas/kantor lurah mengenai hipertensi.


Memberikan pengobatan hipertensi sesuai standar kompetensi dan

mengontrol bila ada rujuk balik.


Evaluasi Keberhasilan Kegiatan
1 Masyarakat memahami pengertian dari penyakit hipertensi
2 Masyarakat memahami faktor risiko penyakit hipertensi
3 Masyarakat memahami klasifikasi penyakit hipertensi
4 Masyarakat memahami gejala penyakit hipertensi
5 Masyarakat memahami tatalaksana dari penyakit hipertensi
6 Masyarakat memahami pencegahan dari penyakit hipertensi
Indikator Keberhasilan Kegiatan
Indikator input :
o Puskesmas

o Dokter
o Petugas kesehatan
Indikator proses :
o Penyediaan sarana promosi kesehatan sesuai standar (banner, poster,
brosur/leaflet, papan, LCD projector)
o Mengupayakan pemberdayaan kelompok potensial di masyarakat di
bidang kesehatan.
o Memantau dan mengawasi jalannya kegiatan promosi kesehatan di
wilayahnya.
Indikator output :
o Perorangan: persentase faktor perilaku berisiko (aktivitas fisik, diet/gizi

baik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol) belum dinilai


o Persentase aplikasi pencegahan hipertensi belum dinilai
Hasil Evaluasi Program
Derajat keberhasilan:
o Berhasil apabila angka kejadian hipertensi menurun
o Belum berhasil jika hipertensi masih berada pada 10 penyakit
terbanyak
Faktor penunjang:
o Dokter berupaya memberikan informasi melalui penyuluhan
o Masyarakat mengaplikasikan cara-cara pencegahan penyakit dan
mengubah pola hidup sehat
Faktor penghambat:
o Pemahaman yang masih kurang akibat ketidakpedulian
o Kesadaran diri terhadap perilaku hidup sehat yang kurang

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Upaya kesehatan wajib utama yang termasuk dalam salah satu komponen output
yaitu promosi kesehatan di Puskesmas Wenang kurang berlangsung dengan baik.
Mengingat hal ini sangat esensial karena promosi kesehatan merupakan upaya wajib
utama yang seharusnya rutin dilaksanakan. Belum jelas terlihat, bagaimana jadwal
pelaksanaan kegiatan dan target pencapaian promosi kesehatan dari puskesmas ini.
Selain itu, upaya kesehatan pengembangan dan penunjang sulit dinilai karena
terbatasnya catatan dan laporan yang ada.
B. Rekomendasi
Di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota, perencanaan program-program
puskesmas tidak akan sempurna apabila tidak dilakukan secara komprehensif, terpadu
dan terintegrasi antar Ditjen, bidang dan unsur-unsur terkait yang kewenangannya
berbeda. Sehingga perlu untuk saling membangun kerja sama demi tercapainya
program-program kesehatan yang direncanakan.
Selain itu, perlu kejelasan dan komitmen yang sungguh-sungguh terhadap
kewenangan dan fungsi masing-masing level dalam pelaksanaan program-program
kesehatan prioritas. Perlunya evaluasi dan peninjauan ulang mengenai upaya kesehatan
wajib, upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang untuk seluruh
petugas dan staf yang bertanggung jawab atas upaya-upaya kesehatan di puskesmas
Wenang.

DAFTAR PUSTAKA
1 Anggraeni W. Pembangunan kesehatan. Tersedia dari:
http://eprints.undip.ac.id/33324/1/widya_1.pdf
2 Depkes. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.75
Tahun 2014 tentang Puskesmas. Tersedia dari:
http://www.depkes.go.id/resources/download/peraturan/PMK-No-75Th-2014-ttg-Puskesmas.pdf
3 Perpustakaan Pusdiklat Aparatur. Modul manajemen kesehatan.
Tersedia dari:
http://perpustakaan-pusdiklataparatur.net/index.php?
option=com_phoca download&view=category&id=4:modul
4 Pusat

Data

dan

Informasi

Kementerian

Kesehatan

Indonesia. Hipertensi. Tersedia dari:


www.depkes.go.id/download.php?file...hipertensi.pdf

Republik

Rapat Bersama Kepala Puskesmas


beserta strukturnya