Anda di halaman 1dari 13

LEARNING ISSUE

Skenario E Blok 19 2014


Nama: Alzena Dwi S
04121401009
PDU Non-Reguler 2012

1. Anatomi dan Fisiologi Telinga


Telinga merupakan indra pendengaran, terbagi atas beberapa bagian seperti: telinga
luar, tengah, dan dalam.

I. Telinga Luar => merupakan bagian paling luar dari telinga.


Terdiri dari:
1. Daun

telinga

Pinna/

Aurikula

=>

merupakan

daun

kartilago

=> fungsinya : menangkap gelombang bunyi dan menjalarkannya ke kanal auditori


eksternal (lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm yang merentang dari
aurikula sampai membran timpani).

2. Membran timpani (gendang telinga) => merupakan perbatasan telinga bagian luar
dengan tengah. Berbentuk kerucut, dilapisi kulit pada permukaan eksternal, dilapisi
mukosa pada permukaan internal =>memiliki ketegangan, ukuran, dan ketebalan yang
sesuai untuk menghantarkan gelombang bunyi secara mekanis.
Bagian-bagiannya :
o Bagian atas atau Pars Flaksid (membran shrapnell), terdiri dari 2 lapisan :
o luar : lanjutan epitel telinga
o dalam : epitel kubus bersilia
Terdapat bagian yang diseut dengan atik. Ditempat ini terdapat auditus ad antrum
berupa lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.
o Bagian bawah atau Pars tensa(membran propria), terdiri dari 3 lapisan :
o tengah : terdiri dari serat kolangen dan sedikit serat elastin
Bayangan penonjolan bagian bawah malleus pada membran timpani disebut dengan
umbo. Dari umbo, bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu
pukul 7 pada membran timpani kiri dan pukul 5 pada membran timpani kanan. Pada

membran timpani terdapat 2 serat, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang
mengakibatkan adanya refleks cahaya kerucut. Bila refleks cahaya datar, maka
dicurigai ada kelainan pada tuba eustachius. Membran timpani dibagi atas 4 kuadran
untuk menentukan tempat adanya perforasi :
o atas depan
o atas belakang
o bawah depan
o bawah belakang => tempat dilakukannya miringotomi

II. Telinga Tengah => terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus (canalis
facialis) tulang temporal
Terdiri dari :
1. Tuba Eustachius => menghubungkan telinga tengah dengan faring => normalnya tuba
ini menutup dan akan terbuka saat menelan, mengunyah, dan menguap.
=> berfungsi sebagai penyeimbang tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.
Bila tuba membuka => suara akan teredam.
2. Osikel auditori (tulang pendengaran) => terdiri dari 3 tulang, yaitu : Maleus (martil),
Inkus (anvill), Stapes (sanggurdi) => MIS => berfungsi sebagai penghantar getaran
dari membran timpani ke fenesta vestibuli

3. Otot => bantu mekanisme kompensasi tubuh untuk melawan suara dengan nada tinggi
(peredam bunyi).
o m. stapedius => berkontraksi => stapes jadi kaku => suara dipantulkan
o m. tensor timpani => menegangkan gendang telinga => suara teredam

III. Telinga dalam => berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal
Terdiri dari
1. Labirin
Terdiri dari:
o Labirin tulang => ruang berliku berisi perilimfe (cairan yang serupa dengan
cairan serebrospinal).

Terdiri dari 3 bagian:

o Vestibular => bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan


koklea dengan saluran semisirkular.
o Saluran semisirkularis
o S. semisirkular anterior(superior) dan posterior mengarah pada
bidang vertikal di setiap sudut kanannya.
o S. semisirkular lateral => terletak horizontal
o Koklea => membentuk 2,5 putaran di sekitar inti tulang, mengandung
reseptor pendengaran (cabang N VIII = vestibulokoklear, pemb. darah.
Frekuensi tertinggi berada di bagian depan. Sekat membagi koklea
menjadi 3 bagian :
o duktus koklear (skala medial) => bagian labirin membranosa
yang terhubung ke sakulus, berisi cairan endolimfe
o dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah
skala media => skala vestibuli dan skala timpani =>
mengandung cairan perilimfe dan terus memanjang melalui
lubang pada apeks koklea yang disebut helikotrema.
o membran reissner (membran vestibuler) => pisahkan
skala media dari skala vestibuli yang berhubungan
dengan fenestra vestibuli
o membran basilar => pisahkan skala media dengan skala
timpani, berhubungan dengan fenestra koklear
o skala organ korti=> terletak pada membran basilar, terdiri dari
reseptor yang disebut sel rambut dan sel penunjang. Sel rambut
tidak memiliki akson dan langsung bersinaps dengan ujung
saraf

koklea

o Labirin membranosa => serangkaian tuba berongga dan kantong yang terletak
di dalam labirin tulang berisi cairan endolimfe (cairan yang serupa dengan
cairan intraseluler). Merupakan awal 2 kantong (utrikulus dan sakulus) yang
dihubungkan dengan duktus endolimfe. Setiap duktus mengandung reseptor
untuk ekuilibrium statis ( bagaimana kepala berorientasi terhadap ruang
bergantung gaya grafitasi) dan ekuilibrium dinamis (apakah kepala bergerak
atau diam, berapa kecepatan serta arah gerakan).Utrikulus terhubung dengan
duktus semilunaris. Sakulus terhubung dengan duktus koklear di dalam
koklea.
2. Nervus
o Nervus vestibular
o Nervus koklear
Ekuilibrium dan aparatus vestibular.
Aparatus vestibular merupakan istilah yang digunakan untuk utrikulus, sakulus, dan
duktus

semisirkularis

yang

mengandung

reseptor

untuk

ekuilibrium

dan

keseimbangan.
1. Ekuilibrium Statis => kesadaran akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi jika tubuh
tidak bergerak. Ini juga merupakan kesadaran untuk merespon perubahan dalam
percepatan linear seperti kecepatan dan arah pergerakan kepala dan garis tubuh dalam
suatu garis lurus.
o Makula adalah reseptor ekuilibrium statis. Satu makula terletak di dinding
utrikulus dan satu lagi terletak pada sakulus
o Setiap makula terdapat sel rambut yang mengandung endapan kalsium yang
disebut otolit (otokonia, statokonia).
o Aktivitas reseptor ditransmisikan ke ujunga saraf vestibular (CN VIII) yang
melilit di sekeliling dasar sel rambut.
2. Ekuilibrium Dinamis => kesadaran akan posisi kepala saat respon gerakan angular
atau rotasi

o Ampula merupakan reseptor untuk ekuilibrium dinamis. Setiap saluran


semisirkularis mengandung suatu bidang pembesaran, ampula, yang berisi
krista (teridiri dari sel penunjang dan sel rambut menonjol yang membentuk
lapisan gelatin = disebut kupula)

Fisiologi pendengaran
Energi bunyi ditangkap daun telinga dalam bentuk gelombang > getarkan membran
timpani > melewati tulang pendengaran MIS (maleus, inkus, stapes) > energi
diamplifikasi > diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap jorong sehingga
perilimfe pada skala vestibuli bergerak > getaran diteruskan ke membrana reissner
yang mendorong endolimfe > timbulkan gerak relatif antara membran basalis dan
membran tektoria > terjadi defleksi stereosilia sel rambut sehingga kanal ion terbuka
dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel > terjadi depolarisasi rambut
> lepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps yang akan timbulkan potensial aksi pada
saraf auditorius > lanjut ke nukleus auditorius > korteks pendengaran (area 39-40) di
lobus temporalis.
2. Gangguan Pendengaran (Tuli)
2.1 Gangguan Pendengaran
2.1.1 Definisi Gangguan Pendengaran
Menurut Khabori dan Khandekar, gangguan pendengaran menggambarkan kehilangan
pendengaran di salah satu atau kedua telinga. Tingkat penurunan gangguan pendengaran
terbagi menjadi ringan, sedang, sedang berat, berat, dan sangat berat.
Klasifikasi Derajat Gangguan Pendengaran
Tabel 2.1
Klasifikasi derajat gangguan pendengaran menurut International Standard
Organization (ISO) dan American Standard Association (ASA)
Derajat Gangguan
Pendengaran Normal

ISO
Pendengaran
10-25 dB

ASA
10-15 dB

Ringan
Sedang
Sedang berat
Berat
Sangat Berat

26-40 dB
41-55 dB
56-70 dB
71-90 dB
>> 90 dB

16-29 dB
30-44 dB
45-59 dB
60-79 dB
>> 80 dB

2.2. Jenis Gangguan Pendengaran


Ada tiga jenis gangguan pendengaran, yaitu konduktif, sensorineural, dan campuran.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention pada gangguan pendengaran
konduktif terdapat masalah di dalam telinga luar atau tengah, sedangkan pada gangguan
pendengaran sensorineural terdapat masalah di telinga bagian dalam dan saraf
pendengaran. Sedangkan, tuli campuran disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan
tuli sensorineural. Menurut WHO-SEARO (South East Asia Regional Office)
Intercountry Meeting (Colombo, 2002) faktor penyebab gangguan pendengaran adalah
otitis media suppuratif kronik (OMSK), tuli sejak lahir, pemakaian obat ototoksik,
pemaparan bising, dan serumen prop.
2.2.1. Gangguan Pendengaran Jenis Konduktif
Pada gangguan pendengaran jenis ini, transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai
telinga dalam secara efektif. Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi pada
kanal telinga luar, rantai tulang pendengaran, ruang telinga tengah, fenestra ovalis,
fenestra rotunda, dan tuba auditiva. Pada bentuk yang murni (tanpa komplikasi) biasanya
tidak ada kerusakan pada telinga dalam, maupun jalur persyarafan pendengaran nervus
vestibulokoklearis (N.VIII).
Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Ada riwayat keluarnya carian dari telinga atau riwayat infeksi telinga sebelumnya.
2. Perasaan seperti ada cairan dalam telinga dan seolah-olah bergerak dengan perubahan
posisi kepala.
3. Dapat disertai tinitus (biasanya suara nada rendah atau mendengung).
4. Bila kedua telinga terkena, biasanya penderita berbicara dengan suara lembut (soft
voice) khususnya pada penderita otosklerosis.

5. Kadang-kadang penderita mendengar lebih jelas pada suasana ramai.


Menurut Lalwani, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi, dijumpai ada sekret dalam kanal
telinga luar, perforasi gendang telinga, ataupun keluarnya cairan dari telinga tengah.
Kanal telinga luar atau selaput gendang telinga tampak normal pada otosklerosis. Pada
otosklerosis terdapat gangguan pada rantai tulang pendengaran.
Pada tes fungsi pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar
suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengandung nada
rendah. Melalui tes garputala dijumpai Rinne negatif. Dengan menggunakan garputala
250 Hz dijumpai hantaran tulang lebih baik dari hantaran udara dan tes Weber didapati
lateralisasi ke arah yang sakit. Dengan menggunakan garputala 512 Hz, tes Scwabach
didapati Schwabach memanjang (Soepardi dan Iskandar, 2001).
2.2.2. Gangguan Pendengaran Jenis Sensorineural

Gangguan pendengaran jenis ini umumnya irreversibel. Gejala yang ditemui pada
gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Bila gangguan pendengaran bilateral dan sudah diderita lama, suara percakapan
penderita biasanya lebih keras dan memberi kesan seperti suasana yang tegang dibanding
orang normal. Perbedaan ini lebih jelas bila dibandingkan dengan suara yang lembut dari
penderita gangguan pendengaran jenis hantaran, khususnya otosklerosis.
2. Penderita lebih sukar mengartikan atau mendengar suara atau percakapan dalam
suasana gaduh dibanding suasana sunyi.
3. Terdapat riwayat trauma kepala, trauma akustik, riwayat pemakaian obat-obat
ototoksik, ataupun penyakit sistemik sebelumnya.
Menurut Soetirto, Hendarmin dan Bashiruddin, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi,
kanal telinga luar maupun selaput gendang telinga tampak normal. Pada tes fungsi
pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar percakapan bisik
pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengundang nada tinggi
(huruf konsonan).

Pada tes garputala Rinne positif, hantaran udara lebih baik dari pada hantaran tulang. Tes
Weber ada lateralisasi ke arah telinga sehat. Tes Schwabach ada pemendekan hantaran
tulang.
2.2.3. Gangguan Pendengaran Jenis Campuran
Gangguan jenis ini merupakan kombinasi dari gangguan pendengaran jenis konduktif
dan gangguan pendengaran jenis sensorineural. Mula-mula gangguan pendengaran jenis
ini adalah jenis hantaran (misalnya otosklerosis), kemudian berkembang lebih lanjut
menjadi gangguan sensorineural. Dapat pula sebaliknya, mula-mula gangguan
pendengaran jenis sensorineural, lalu kemudian disertai dengan gangguan hantaran
(misalnya presbikusis), kemudian terkena infeksi otitis media. Kedua gangguan tersebut
dapat terjadi bersama-sama. Misalnya trauma kepala yang berat sekaligus mengenai
telinga tengah dan telinga dalam (Miyoso, Mewengkang dan Aritomoyo, 1985).
Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua komponen gejala gangguan
pendengaran jenis hantaran dan sensorineural. Pada pemeriksaan fisik atau otoskopi
tanda-tanda yang dijumpai sama seperti pada gangguan pendengaran jenis sensorineural.
Pada tes bisik dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima
meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah maupun nada
tinggi. Tes garputala Rinne negatif. Weber lateralisasi ke arah yang sehat. Schwabach
memendek (Bhargava, Bhargava and Shah, 2002).

3.1. Pemeriksaan dan Diagnosis Gangguan Pendengaran


Diagnosis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik atau otoskopi telinga, hidung dan
tenggorok, tes pendengarn, yaitu tes bisik, tes garputala dan tes audiometri dan
pemeriksaan penunjang. Tes bisik merupakan suatu tes pendengaran dengan memberikan
suara bisik berupa kata-kata kepada telinga penderita dengan jarak tertentu. Hasil tes
berupa jarak pendengaran, yaitu jarak antara pemeriksa dan penderita di mana suara bisik
masih dapat didengar enam meter. Pada nilai normal tes berbisik ialah 5/6 6/6.
Tes garputala merupakan tes kualitatif. Garputala 512 Hz tidak terlalu dipengaruhi suara
bising disekitarnya. Menurut Guyton dan Hall, cara melakukan tes Rinne adalah penala
digetarkan, tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. Setelah tidak terdengar penala

dipegang di depan teling kira-kira 2 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif.
Bila tidak terdengar disebut Rinne negatif.
Cara melakukan tes Weber adalah penala digetarkan dan tangkai garputala diletakkan di
garis tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal hidung, dan di dagu). Apabila bunyi
garputala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke
telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah teling mana bunyi terdengar lebih
keras disebut Weber tidak ada lateralisasi.
Cara melakukan tes Schwabach adalah garputala digetarkan, tangkai garputala diletakkan
pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai garputala
segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya
normal. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila
pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya, yaitu
garputala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih dulu. Bila penderita
masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan
pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut Schwabach sama dengan
pemeriksa (Medicastore, 2006).
Tes audiometri merupakan tes pendengaran dengan alat elektroakustik. Tes ini meliputi
audiometri nada murni dan audometri nada tutur. Audiometri nada murni dapat
mengukur nilai ambang hantaran udara dan hantaran tulang penderita dengan alat
elektroakustik. Alat tersebut dapat menghasilkan nada-nada tunggal dengan frekuensi
dan intensitasnya yang dapat diukur. Untuk mengukur nilai ambang hantaran udara
penderita menerima suara dari sumber suara lewat heaphone, sedangkan untuk mengukur
hantaran tulangnya penderita menerima suara dari sumber suara lewat vibrator.
Manfaat dari tes ini adalah dapat mengetahui keadaan fungsi pendengaran masingmasing telinga secara kualitatif (pendengaran normal, gangguan pendengaran jenis
hantaran, gangguan pendengaran jenis sensorineural, dan gangguan pendengaran jenis
campuran). Dapat mengetahui derajat kekurangan pendengaran secara kuantitatif
(normal, ringan, sedang, sedang berat, dan berat) (Bhargava, Bhargava dan Shah, 2002).
3.1.2. Penyakit yang Menyebabkan Gangguan Pendengaran
Penyakit telinga dapat menyebabkan tuli konduktif atau tuli sensorineural. Tuli
konduktif, disebabkan kelainan terdapat di telinga luar atau telinga tengah. Telinga luar

yang menyebabkan tuli konduktif adalah atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen,
otitis eksterna sirkumskripta dan osteoma liang telinga. Kelainan di telinga tengah yang
menyebabkan tuli konduktif adalah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis,
timpanosklerosis, hemotimpanum dan dislokasi tulang pendengaran.
Tuli sensorineural dibagi dalam tuli sensorineural koklea dan retrokoklea. Tuli
sensorineural koklea disebabkan oleh aplasia (kongenital), labirintitis (oleh bakteri atau
virus) dan intoksikasi obat (streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal,
atau alcohol). Selain itu, dapat juga disebabkan oleh tuli mendadak (sudden deafness),
trauma kapitis, trauma akustik dan pajanan bising.
Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut pons
serebelum, myeloma multiple, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan otak lainnya.
Kerusakan telinga oleh obat, pengaruh suara keras, dan usia lanjut akan menyebabkan
kerusakan pada penerimaan nada tinggi di bagian basal koklea. Presbikusis ialah
penurunan kemampuan mendengar pada usia lanjut. Pada trauma kepala dapat terjadi
kerusakan di otak karena hematoma, sehingga terjadi gangguan pendengaran (Maqbool,
2000).